Mr. D E S T I N Y – [End]

Author: Gita Oetary as Goetary

Cast: Han Soo Eun, Shim Ji Ho, Shim Changmin, Lee Yeon Hee, Jung Yunho [Only Mention]

Genre: Romance, Friendship

Rating: PG+15

Length: One Shoot

Teaser & Part1

Mr Destiny 2

2012-2013© Special Present & CrossPosting

Mr. D E S T I N Y

By Gita Oetary

___________________________________________________________________________________________

Ada kalanya kita harus rela melepas cinta yang kita punya

Seperti awan ketika melepas hujan turun ke bumi

Agar langit kembali cerah

Terang dan bahagia.

2nd Part

Matahari pagi mengintip dari kisi-kisi jendela. Menandakan satu hari lagi yang telah terlewati.

Tangan Jiho merayap ke samping, mencari belahan jiwa yang semalam telah ia temukan. Dengan seulas senyum di bibir, ia merentangkan tangannya lebar-lebar, melewati batas tempat tidur di sebelahnya.

Namun tak ada yang berhasil diraihnya. Tangan Jiho mencoba menggapai lebih jauh lagi. Kosong. Bahkan seprai di sebelahnya terasa dingin, seperti telah lama ditinggalkan.

Terkesiap Jiho membuka matanya lebar-lebar dan menemukan kenyataan yang ingin diingkarinya. Tak ada seorang pun di sisinya, ia hanya seorang diri.

Ia duduk di atas ranjangnya, dan melirik jam di atas meja yang baru menunjukkan pukul setengah delapan. Secarik kertas terselip di bawah jam tersebut. Jiho meraihnya dan membaca sebuah kalimat di sana.

Seakan tersadar dari halusinasi ia segera menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang. Dan mengulum bibir lalu menatap sendu ruangan kamarnya. Entah mengapa tiba-tiba rasanya kamar itu menjadi sangat luas. Diam-diam lelaki itu melirik tulisan tangan Sooeun di secarik kertas di tangannya dan kembali mendesah berat.

‘Gomawo…’

 

 

Mr. D E S T I N Y

Sooeun masih tidak ingin pergi kemana-mana. Seharian ini ia ingin tinggal di rumah. Tadi Changmin meneleponnya menanyakan keadaannya dan Sooeun tidak berbohong ketika ia bilang sedang tidak enak badan.

Sudah tiga hari sejak ia pergi meninggalkan rumah Jiho dengan hanya meninggalkan secarik kertas berisikan kata ‘Terima Kasih’. Sekarang jika ia memikirkan hal tersebut Sooeun merasa muak dengan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia bersikap begitu murahan pada laki-laki yang jelas-jelas tidak menginginkannya?

Sooeun memang sudah berkali-kali memikirkan hal tersebut. Tapi ia tak pernah menemukan jawaban logis selain betapa ia mencintai lelaki itu. Saat ia berkata ingin menyimpan kenangan tentang Jiho, ia memang bersungguh-sungguh.

Hari demi hari Sooeun merasa dirinya semakin rapuh. Tubuhnya sering gemetar dan ia merasa sama sekali tidak bertenaga. Ia sendiri heran bagaimana sebenarnya ia dapat bertahan. Meski pada hari-hari selanjutnya pikirannya sama sekali tidak tertuju pada apa yang ia lakukan.

Sooeun bergerak secara otomatis tanpa menaruh perhatian sedikit pun pada pelajarannya di kampus. Tiap datang ke perpustakaan bersama Changmin ia hanya berpura-pura sibuk agar lelaki itu tidak melihat gelagatnya yang kacau. Karena ia tak ingin Changmin mengetahui kegundahan hatinya. Lebih mudah berpura-pura kalau ia baik-baik saja ketimbang harus menjelaskan bagaimana perasaannya setelah berpisah dengan Jiho.

Jika siang hari terasa begitu panjang, maka malam hari terasa tak pernah ada habisnya.

Tapi Sooeun telah berusaha sebaik mungkin. Ia memang masih melihat Jiho di mana-mana meskipun lelaki itu tak benar-benar ada di sana. Tiap kali teringat tentang lelaki itu ia bisa saja menangis, namun ia berkeras untuk tidak mengeluarkan air mata setitik pun, dan menyimpannya sampai ia berada di rumah.

Waktu berlalu begitu lambat, hari demi hari ia lewati dengan sama. Tak ada yang berbeda baginya. Ia tak bisa merasakan apapun selain yang ia rasakan menusuk jantungnya tiap kali ia menarik napas. Hingga seminggu berlalu, semuanya seperti baru saja terjadi.

­­­­­­­­

 

Mr. D E S T I N Y

Yeonhee nampak begitu bahagia saat memilih baju-baju berukuran lima kali lebih kecil dari miliknya. Ia tersenyum riang tiap kali ada yang terlihat lucu.

“Bagusan yang hijau, atau biru?” tanya Yeonhee kebingungan memilih warna selimut untuk calon jabang bayi mereka.

Jiho menatap dua selimut di tangan Yeonhee. Diam membisu.

*

Yeonhee melipat semua baju dan perlengkapan lainnya dengan semangat. Ia mengaturnya di lemari sesuai warna dan keperluan.

Yeonhee baru saja akan memulai melipat kain pembungkus ketika perhatiannya teralihkan. Ia menatap Jiho dan merasakan keanehan itu. Entah sudah berapa lama Jiho diam mematung, tidak tergugah sedikit pun untuk membantunya.

Yeonhee cepat-cepat menepis pikiran buruknya, barangkali Jiho sedang letih. Membagi konsentrasi antara urusan pekerjaan dengan kewajiban menjaga dirinya, sudah pasti hal tersebut menguras pikiran dan tenaganya.

Oppa, kau tak apa?” tanya Yeonhee cemas. “Kau baik-baik saja kan? Kuperhatikan sejak tadi kau diam saja seperti mayat hidup. Kau sakit?”

Jiho menggeleng lemah.

Ia terlalu lelah untuk tersenyum.

“Ranjang bayi pesanan kita akan di kirim besok siang. Kurasa semua yang kita beli sudah cukup. Tapi nanti aku akan bertanya pada Omma, siapa tahu ada yang kurang.”

Jiho menoleh menatap Yeonhee. Dan seketika rasa bersalah menjalari hatinya.

Saat itu entah bagaimana, tiba-tiba saja ada sebuah keberanian yang mendesaknya. Seakan berjanji kalau ia akan baik-baik saja.

Kalau mereka pasti baik-baik saja.

“Yeonhee-ya…”

“Ya?”

“Aku tak bisa meneruskan pernikahan ini…”

 

 

Mr. D E S T I N Y

Hari ini Changmin sedang ada rekaman, sehingga lelaki itu pulang saat mata pelajaran kedua siang tadi setelah memastikan Sooeun akan baik-baik saja tanpa dirinya. Sebenarnya Sooeun merasa heran dengan perhatian Changmin yang berlebihan. Namun ia bersyukur ada lelaki itu yang selalu bersedia menemaninya. Sooeun menghabiskan waktu di perpustakaan sendirian, tapi bukan untuk benar-benar belajar. Alasan sebenarnya karena ia tak ingin pulang ke rumah.

Saat pikirannya terus terobsesi dengan Jiho, Sooeun akhirnya mengakui kalau dirinya benar-benar sudah gila.

Seperti biasa selama tiga minggu terakhir, ia keluar dari pintu gerbang dengan murung. Angin musim gugur yang hampir berakhir bertiup menyambutnya. Rambut Sooeun berantakan. Ketika ia mendongak untuk menyingkirkan rambut di wajahnya, ia mematung seketika.

Napasnya tertahan. Trotoar di hadapannya mengingatkan dirinya pada sesuatu. Ketika Jiho menunggunya hari itu di sore seperti sekarang. Lelaki itu mondar-mandir seraya terus-terusan menatap ujung sepatunya.

Ia ingat langkah Jiho yang langsung terhenti saat ia melihatnya berdiri dengan tas di dada seperti sekarang. Ia ingat betapa tampannya wajah Jiho sore itu. Kulitnya yang putih kontras dengan suasana langit yang mendung. Senyumannya yang cerah kontras sekali dengan suasana hatinya saat itu.

Lalu ketika Jiho mengatakan kalau ia rindu kepadanya, Sooeun serasa hampir meledak saking senangnya. Dan saat ini ia termangu menatap trotoar yang sepi. Tak ada yang menunggunya di sana. Tiba-tiba saja rasa sesak menjalari seluruh tubuhnya.

Mengapa kepergian Jiho terasa begitu menyakitkan? Sejak awal ia seharusnya sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk. Tak mungkin laki-laki setampan, sebaik dan semanis Jiho akan menyukainya. Tak mungkin. Benarkan?

Sooeun bergegas menyusuri trotoar dengan pandangan kabur akibat air mata. Sebelum ia sempat menangis tersedu-sedu lagi.

Mr. D E S T I N Y

Karena tak sanggup fokus dengan lalu lintas Seoul yang padat. Lelaki itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar.

Jiho yakin sekali ia sedang tidak memikirkan apapun, ketika tiba-tiba saja mobilnya sudah melewati jalur di depan kampus Sooeun. Dan ketika ia memandang pagar kampus tersebut, ia melihat sosok Sooeun yang berjalan dengan kepala tertunduk lesu. Hatinya pun terasa sakit seakan diremas-remas.

Jiho menghentikan mobilnya di pinggir trotoar yang jauh dari halte. Dengan begini Sooeun tidak akan menyadari kehadirannya.

Ia hanya ingin melihat gadis itu sekali lagi. Sekali lagi saja untuk meredakan sakit yang senantiasa bersarang di dadanya. Jika ia tak di ijinkan mencintai gadis itu seperti yang ia mau, maka hanya ini satu-satunya yang ia harapkan sekarang. Walau cuma bisa memandanginya dari kejauhan. Bagi Jiho tak apa.

Mr. D E S T I N Y

Langit mulai gelap. Sooeun sempat mengangkat kepalanya untuk melihat guratan merah yang tadi mewarnai awan perlahan memudar dan membuat langit nampak kelabu.

Sooeun mengira sebentar lagi akan turun hujan. Dan ia tersenyum.

Ia selalu benci dengan hujan. Karena guyuran air dari langit itu selalu membuat suasana hatinya jelek. Namun hari ini ia malah mengharapkannya. Sampai-sampai tak menyadari ketika bus berhenti di depan wajahnya dan semua orang yang menunggu di halte segera naik tanpa dirinya.

Mungkin ia harus berjalan pulang ke rumah. Pikirnya dan membiarkan bus itu berlalu pergi.

Beberapa tetes hujan pertama berjatuhan. Sooeun bergeming.

Derasnya hujan seperti ribuan jarum yang ditumpahkan ke tanah. Sooeun tersenyum di tengah rinai hujan yang membuatnya basah kuyup. Tak di perdulikannya lagi buku-buku yang sedang di peluknya. Ia bersyukur hari ini lupa membawa laptopnya, dengan begitu ia tak perlu menangis sampai di rumah karena kehilangan benda yang begitu berharga tersebut.

Siramannya terasa menusuk-nusuk kulitnya. Rasanya sakit. Tapi anehnya, bukan kulitnya yang terasa perih. Melainkan jauh di dalam dadanya.

Sooeun sesaat mengangkat wajahnya menatap langit di kejauhan. Dan berharap Tuhan dapat  mendengar jeritan hatinya.

Lalu secara tiba-tiba hujan berhenti.

“Hujan-hujanan begini, kau bisa sakit.”

Sooeun tersentak dari lamunannya dan menoleh.

Shim Ji Ho…

Laki-laki itu sedang tersenyum seraya memayunginya dengan payung yang sama dengannya. Ya Tuhan… Sudah berapa lama ia tidak melihat senyum itu?

Mata Sooeun tak dapat lepas dari tatapan Jiho. Ia seakan di undang masuk ke dalam sana. Di kedalaman yang menjanjikan rasa aman yang abadi.

Namun tiba-tiba Sooeun kembali sangsi. Ia tak mungkin melihat Jiho saat ini. Tak mungkin lelaki itu berdiri di hadapannya saat ini. Tak mungkin…

Tapi dalam hati ia justru berdoa. Sekali lagi. Walau ia tahu doanya tak akan pernah di kabulkan. Walau ia tahu ia hanya sedang bermimpi. Ia berdoa sepenuh hati. Berharap dengan sungguh-sungguh. Meminta, dengan begitu lelaki yang saat ini ada di hadapannya benar-benar Jiho. Lelaki yang telah menguasai malam-malam sejak pertama kali mereka bertemu ada disana, bernapas dan berwujud.

“Apa yang kau lakukan di sini? Bus sudah pergi sejak tadi.”

Jiho membuka mulut dan Sooeun merasa sepertinya jantungnya akan tumpah ke luar. Lelaki itu masih memajang senyum di wajahnya.

Senyum yang paling Sooeun rindukan di dunia ini.

Selama beberapa saat mereka berdiam diri. Di bawah payung berwarna merah itu mereka membiarkan diri mereka tetap saling bertatapan. Karena lagi-lagi, Sooeun harus puas jika ini cuma mimpi dan ia akan segera terbangun sebentar lagi di kamarnya yang sepi.

“Kau bisa masuk angin di sini terus. Mau kuantar pulang?” tanya Jiho lembut.

Pandangan Sooeun kembali mengabur. Tubuhnya bergetar. Seakan memberi respon pada tiap ucapan Jiho.

“Sooeuna, kau tak apa?”

Sooeun tidak menjawab.

Jangan menangis… Jangan menangis sekarang… Kumohon…

Kedua tangan Sooeun mencengkram erat buku-buku di dadanya dan ia mengigit bibirnya kuat-kuat. Untuk sesaat jantungnya serasa berhenti berdetak.

Jiho menatap Sooeun seksama. Setelah sempat bimbang ia menyentuh bahu Sooeun.

Kehangatan mengalir dari tangan Jiho ke setiap sel tubuhnya. Membuat dirinya semakin kacau. Ia tak bisa melepas pegangan itu. Tak bisa bergerak. Satu-satunya yang ia inginkan adalah melemparkan dirinya dalam pelukan Jiho. Namun ia sadar itu tak boleh lagi di lakukannya. Sekali saja cukup.

Ragu-ragu Jiho menarik tubuh Sooeun mendekat. Sementara Sooeun masih terlalu kaget untuk bisa menyadari apa yang ingin di lakukan lelaki itu.

Jiho merangkul pundak Sooeun dengan sebelah tangan. Bulu kuduk Sooeun meremang. Seakan baru sadar dari mimpi buruk ia meronta. Jiho yang terkejut segera melepaskan pelukannya, dan yang pertama ia lihat adalah kilatan di mata Sooeun. Meskipun tak dapat mengartikan tatapan itu.  Hatinya terluka.

Tak tahu sebabnya.

Sooeun memutar tubuhnya secara tiba-tiba. Ia ingin secepatnya pergi dari sana. Menghilang dari hadapan Jiho.

Bahkan walaupun ia sedang bermimpi. Ia tak boleh mengharapkan lelaki itu untuk memeluknya. Bahkan walau saat ini hanya sebuah mimpi, ia tak boleh memimpikan Jiho seperti sekarang.

Sooeun berusaha mengangkat kakinya. Yang terasa seperti tertancap di tanah. Ia memacu sekuat tenaga supaya bisa berlari dari sana. Tetapi lagi-lagi ia masih berdiri di tempat. Tak bisa bergerak barang sesenti pun.

Sooeun memandang mata Jiho putus asa. Ia ingin lelaki itu tahu betapa ia sudah menghancurkannya. Ia ingin lelaki itu tahu betapa besar cintanya. Ia ingin Jiho mendekapnya. Tak melepaskannya lagi. Ia ingin Jiho menciumnya…

Kaki Sooeun mendadak lemas dan tidak bisa menopang tubuhnya. Tubuhnya limbung. Napasnya putus-putus. Ia merasa kedinginan. Dingin sekali. Dengan panik Sooeun mencengkeram mantel Jiho. Karena ia tak bisa merasakan sentuhan lelaki itu. Hal itu membuatnya semakin panik.

Pandangannya buram. Pendengarannya tidak jelas, seakan telinganya di sumbat. Kepalanya berdenyut-denyut. Sooeun mencoba menarik napas sekali lagi. Hal terakhir yang di dengarnya sebelum kesadarannya menghilang seluruhnya adalah namanya yang disebut Jiho. Setengah menjerit. Lalu segalanya berubah menjadi gelap. Ia tak bisa melihat.

Kesadarannya menghilang.

Mr. D E S T I N Y

Pintu kamar berderit. Jiho mendorongnya dari luar hingga terbuka.

Lelaki itu melongok masuk ke dalam. Tiba-tiba napasnya tercekat.

Jiho merasakan sudut matanya basah saat melihat rambut panjang Sooeun nampak berkilau indah di terpa cahaya matahari yang menerangi kamar rawat gadis itu. Wajahnya masih sedikit pucat, namun warna bibirnya telah kembali seperti biasa, semerah ceri. Dan Sooeun nampak seperti putri salju dalam dongeng.

Namun apa yang dilihatnya tidak seperti yang diharapkannya. Sooeun telah mengganti piyama rumah sakit dengan baju miliknya yang sudah dikeringkan oleh Jiho di binatu semalam.

“Jangan pergi, Sooeuna…” cetus Jiho memelas.

Tanpa sadar Sooeun melangkah mundur ketika melihat tampang Jiho yang berantakan. Ini pertama kalinya Sooeun melihat penampilan Jiho yang mengenaskan seperti sekarang. Kemejanya kusut, mantelnya tidak terkancing. Rambutnya sudah jauh lebih panjang dari yang terakhir di lihat Sooeun, dan modelnya acak-acakan serta kumis dan janggut yang tidak dicukur.

“Jangan pergi. Kumohon…” Jiho memandang Sooeun dengan pandangan terluka.

Sooeun membalas tatapan Jiho dengan tersinggung. Ia mengedarkan pandangan. Sekuat mungkin berusaha untuk tidak menatap mata lelaki itu.

Sooeun lalu cepat-cepat meraih tas dan buku-bukunya yang keriput karena basah dan berhambur keluar. Namun Jiho telah menangkap pergelangan tangannya tepat sebelum gadis itu bisa melewatinya.

“Lepaskan.”

Jiho tidak mendengar ucapan Sooeun barusan. Dan semakin memperkuat cengkramannya.

“Kau gila! Lepaskan! Mengapa kau lakukan hal ini, Oppa?” tanya Sooeun hilang kesabaran.

Jiho tak menjawab.

“Mengapa kau seperti ini? Jawab aku! Apa yang sudah aku lakukan padamu!? Apa hakmu hingga kau perlakukan aku begini?” sembur Sooeun murka.

Sooeun mundur ke belakang. Membentang jarak sejauh mungkin dari Jiho yang masih termangu menatapnya.

“Maafkan aku,” bisik Jiho pelan. “Ini semua salahku.” Jiho menarik napas panjang. Matanya kembali berair. “Kembalilah padaku Sooeuna. Maukah kau?”

Cih! Kau pikir siapa dirimu? Seenaknya menyuruhku datang dan pergi dalam hidupmu? Siapa kau sebenarnya hingga berani-beraninya bersikap seperti itu?”

“Aku memang bukan siapa-siapa, Sooeun,” desisnya pilu. “Tanpamu, diriku semakin tidak berharga….”

Jika sekarang Sooeun menangis. Bukan karena kebencian yang melanda dirinya. Bukan karena harga dirinya yang terkoyak. Melainkan karena ia sadar, sangat sadar, apa yang di katakan Jiho barusan adalah apa yang paling mencerminkan dirinya. Ia pun bukan siapa-siapa tanpa Jiho.

“Tapi aku tak mungkin kembali kepadamu, Oppa,” balas Sooeun melunak. “Bagaimana dengan anak yang sedang di kandung istrimu?”

Jiho tidak menjawab pertanyaan barusan. Ia sendiri tak tahu jawabannya.

“Tetaplah disisiku…”

Sooeun menggeleng kuat-kuat. Seakan menghapus jejak yang akan menariknya mendekat pada Jiho.

“Aku tak ingin tersakiti lagi,” ujarnya gusar. “Aku tak ingin menderita lagi.”

“Aku akan menebus semua itu, Sooeun. Aku akan mengurus semuanya, kau tak perlu khawatir. Aku janji akan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin.

O ya? Lalu mengapa kau tak melakukannya dari jauh-jauh hari?”

Karena aku pengecut, Sooeun…

“Bagaimana kau akan menyelesaikan semua?” pekik Sooeun.

Dan ketika ia merasakan air mata mengalir di pipinya. Seketika rasa benci menerjang dirinya.

“Aku sudah melakukannya dengan baik, Oppa,” seru Sooeun lemah. “Sekuat tenaga aku berusaha menjalani hari-hari yang terasa begitu menyiksa tanpamu. Aku sudah melakukannya dengan sangat baik. Tiga minggu bukan waktu yang singkat, setiap hari rasanya seperti setahun, setiap detik rasanya seperti di neraka.

“Bukankah ini yang kau inginkan? Melihatku baik-baik saja tanpamu? Nah, sekarang aku sudah berhasil melakukannya. Mungkin memang tidak sempurna. Aku masih belum bisa kembali menjadi diriku seperti saat sebelum kau masuk ke dalam kehidupanku. Tapi aku melakukannya dengan sangat baik.

“Kau tahu bagaimana rasanya saat aku melewati satu hari lagi setiap harinya untuk bertahan? Kau tahu betapa sulitnya aku mempertahankan pikiran warasku kalau kau tidak sedang ada di tempat di mana aku melihatmu?” Mata Sooeun membelalak. “Tidak! Kau tak tahu! Karena aku sendirian saat semua itu terjadi.”

“Lalu kau ingin aku bagaimana, Sooeun?”

“Tinggalkan aku!” pekik Sooeun gemas. “Tinggalkan aku sendiri. Jangan pernah kembali lagi. Bahkan meskipun aku memohon-mohon padamu, jangan kembali lagi. Jangan berdiri terlalu dekat denganku lagi. Karena kalau kau tetap melakukannya, artinya kau sedang berusaha untuk membunuhku secara perlahan.”

“Itukah yang kau inginkan?”

“Tidak! Bukan itu yang kuinginkan.” Sooeun menyeka air matanya dengan geram. “Aku ingin memelukmu. Tiap saat aku ingin mendengar suaramu. Tiap detik aku mengecek ponselku dan berharap melihat ada namamu tertera disana.” Sooeun menarik napas panjang. “Tapi aku tahu aku tak boleh berharap terlalu banyak. Aku sudah meminta satu malam darimu, semua itu sudah cukup bagiku. Sekarang, sudah waktunya bagimu untuk melepaskan diriku, Oppa.”

“Bagaimana jika aku tak mau?” jawab Jiho keras kepala. Karena ia tahu, sedikit saja ia terlambat, maka ia akan kehilangan Sooeun untuk selamanya.

“Maka aku akan mati saat ini juga.”

Tiba-tiba saja Sooeun telah memegang pisau buah di tangannya dan menempelkannya tepat di atas urat nadi di pergelangan tangan. Jiho tak sadar kapan gadis itu mengambilnya.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku tidak bercanda,” ancam Sooeun bengis.

Jiho memandang Sooeun seakan untuk yang terakhir kalinya. Wajahnya pucat menahan gejolak di dadanya. Ia tampak sakit hati dengan jawaban Sooeun, namun juga iba kepada gadis itu, kepada dirinya. Lalu tanpa berkata sepatah kata pun, Jiho berbalik memunggungi Sooeun. Dengan segenap kendali dalam dirinya, ia melangkah keluar dari kamar rawat Sooeun.

Dia tidak meninggalkan gadis itu karena ia kecewa padanya. Bukan. Tapi ini satu-satunya cara untuk melindungi Sooeun dari egonya. Ia tak boleh terus-terusan menguras apa yang dimiliki Sooeun tanpa membalasnya. Ia tak ingin Sooeun kembali harus belajar caranya memisahkan diri darinya.

Karena kenyataannya, Jiho tahu benar bagaimana neraka yang dimaksud Sooeun tadi.

*

Rasa nyeri menghantam dadanya.

Sooeun tidak mendengar tangisannya sendiri. Yang begitu keras. Membahana ke seluruh ruang kamar rawat yang di dominasi warna putih. Ia sudah pernah merasakan ketidakberdayaan sebelumnya. Tepat di hari Jiho berkata ingin memperbaiki pernikahannya yang sempat rusak selama beberapa saat.

Tapi kini sakit yang bersarang di hatinya, yang menyakiti seluruh tulang rusuknya terasa berbeda buat Sooeun. Kali ini ia menangis hingga terasa hampir sekarat. Sooeun telah berusaha mengeluarkan semua usahanya untuk tidak menangis saat Jiho masih ada, dan sekarang semua air mata yang di bendungnya menerobos keluar sekaligus.

Ia memang tak berdaya…

Five months later…

Lima bulan berlalu sejak ia melihat wajah Jiho terakhir kali.

Kini, Sooeun sudah dapat menjalani aktifitasnya dengan normal. Dirinya baik-baik saja, walau ada sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa kembali seperti semula. Cinta itu memang masih ada. Ia tak yakin bisa menghapus kepemilikan Jiho atas dirinya, tapi Sooeun tidak lagi pernah mengeluh akan hal itu.

Sooeun menikmati masa kesendiriannya tanpa benar-benar berencana mencari lelaki baru yang bisa menempati kekosongan di hatinya. Biarlah ia menjaga separuh perasaan yang tersisa untuk Jiho sebelum ia siap memberikan sisanya kepada orang lain.

Gadis itu mengerti ada kalanya ia harus melepas orang-orang dalam hidupnya dan membiarkan mereka menjadi hanya sebatas kenangan. Seperti yang terjadi pada Yunho.

Sesaat yang lalu, ia berharap Jiho adalah takdirnya. Namun kini ia mengerti, lebih dari apapun. Karena Jiho telah mengajarkan banyak hal kepadanya, dan ia akan tetap mempertahankan semua itu. Sementara ia belajar melupakan Jiho dan menerima kenyataan bahwa lelaki itu memang hanya di takdirkan untuk menulis sedikit bagian di buku hariannya, bukan orang yang akan memiliki seluruh sisa lembaran buku tersebut.

Bel pintu digital berdenting nyaring saat Sooeun mendorongnya. Tapi tak seorang pun di dalam toko buku tersebut yang mengalihkan pandangannya kepadanya selain seorang gadis di belakang meja kasir.

Sooeun berjalan mengitari jejeran rak-rak buku, sesekali ia meraih buku di atas rak, membaca sinopsis di bagian belakang atau membuka lembarannya dan menaruhnya lagi ketika buku tersebut kurang begitu menarik minatnya.

Sooeun sampai di deretan buku pengembangan diri. Dan tiba-tiba saja ia tersenyum memikirkan Changmin.

Sooeun dengan serius mencari sesuatu yang mungkin di inginkan Changmin—Ia yakin persediaan buku yang belum dibaca Changmin sudah habis dilahap olehnya—hingga tak menyadari kalau ada seseorang yang sedang berdiri di belakangnya.

Lelaki itu mengenakan setelan jas abu-abu tua dengan kemeja putih dan dasi berwarna sama dengan jasnya. Kulitnya yang putih nampak kontras dengan warna bajunya. Lelaki itu berdiri tepat di belakang punggung Sooeun, membelakangi gadis itu. Perawakannya tinggi, tiga belas senti meter di atas puncak kepala gadis itu.

Lelaki itu lebih dulu berjalan ke samping, tepat di saat Sooeun mundur ke belakang sehingga menghindarkan punggung mereka saling berbenturan.

Langkah Sooeun seketika berhenti. Ia menatap punggung lelaki yang baru saja berlalu dan berjalan kearah kasir dengan tatapan bingung. Sosok lelaki itu nampak akrab baginya…

*

Setelah membayar dua buku yang di belinya, Sooeun berjalan keluar dari toko tersebut dan sekali lagi suara bel digital terdengar.

Udara di penghujung musim dingin masih terasa membeku. Gumpalan salju yang jauh lebih sedikit dari sebelumnya membentuk undakan-undakan tak beraturan di atas trotoar, mengelilingi bagian bawah pohon yang berdiri kokoh.

Sooeun berjalan dengan memeluk bungkusan buku di dada—yang sudah menjadi kebiasaannya. Senyumnya terus-terusan merekah ketika melewati pohon-pohon yang mulai di tumbuhi bakal bunga baru karena sebentar lagi musim semi.

Angin berhembus. Rambut Sooeun berkibar tertiup angin. Matanya sempat terpejam beberapa saat, menikmati sensasi lembut angin dingin tersebut dengan sedikit menggigil.

Sooeun merasakan dadanya berdesir. Ini jelas bukan karena angin dingin. Melainkan karena lelaki yang sedang berdiri di hadapannya. Dengan senyum hangat yang masih di ingatnya. Lelaki yang memakai setelan jas yang sama dengan yang di lihatnya di dalam toko tadi.

“Lama tak bertemu, Sooeuna…”

Dan dalam sekejap senyum yang tadi menghiasi sudut-sudut bibirnya yang indah lenyap sudah.

*

“Bagaimana kabarmu?” tanya suara tak asing itu.

Sooeun mendongak, memandang sosok lelaki di hadapannya dari bagian atas cangkir kopinya. “Aku baik-baik saja.”

Hening sesaat. Baik Jiho maupun Sooeun sama-sama melempar pandangannya keluar. Ke tempat yang tak di ketahui orang lain.

Jiho menyesap minumannya sesaat, ia bergerak-gerak tak nyaman di atas sofa yang di dudukinya. “Aku dengar dari Changmin, kau mendapatkan beasiswa ke Prancis.”

Sooeun mengangguk, kali ini membawa senyuman yang sudah lama di kenal Jiho. “Masih banyak prosedur yang harus kujalani,” ujarnya bersemangat. “Tapi semuanya justru membuatku lebih semangat. Aku ingin sekali memiliki pekerjaan di bidang fashion, di Paris aku bisa belajar banyak.”

Jiho mengiyakan ucapan Sooeun. Dan mereka kembali di selimuti keheningan.

Oppa…”

Suara Sooeun nyaris seperti berbisik namun Jiho mendongak ketika mendengarnya.

“Hmm?”

“Bagaimana kabar istrimu?”

“Sepertinya Yeonhee baik-baik saja.”

Sooeun menatap heran. “Sepertinya? Apa maksudmu?”

“Kami memutuskan untuk tidak melanjutkan pernikahan kami lagi.” Jiho mengangkat bahu sekilas lalu melanjutkan, “pada kenyataannya memang tak ada yang perlu di perbaiki.”

“Lalu anakmu?”

“Laki-laki, namanya Shim Jae-In.”

Saat menyinggung persoalan Jae-In, wajah Jiho berubah berseri-seri. Sooeun senang melihat perubahan mencolok tersebut. Jiho tampak jauh lebih tampan dari sebelumnya, rambutnya dibiarkan tumbuh lebih panjang tapi tidak sampai gondrong, dan Sooeun sedikit banyak merasa bersyukur dengan hal tersebut. Di mata Jiho, Sooeun melihat pancaran kasih sayang seorang ayah. Membuatnya tanpa sadar ikut tersenyum.

Sooeun tak lagi ingin mengungkit masalah Yeonhee, mantan istri Jiho. Meskipun ia sangat penasaran tentang hal tersebut. Namun ia yakin, diam adalah sikap paling tepat untuk menyikapi keadaan saat ini.

Beberapa saat berlalu. Kekakuan di antara mereka perlahan-lahan mulai mencair. Baik Sooeun dan Jiho sama-sama mulai bisa merasa nyaman dengan perbincangan mereka.

Seperti saat-saat awal mereka berkenalan dulu. Yang entah sudah berapa lama berlalu. Sooeun selalu merasa Jiho adalah teman yang enak di ajak ngobrol. Setelah sekian lama berpisah, mereka mulai melihat diri mereka masing-masing bisa dengan bebas menceritakan hal-hal yang terjadi setelah kejadian di rumah sakit lima bulan yang lalu.

*

Sooeun tiba-tiba mendesah berat saat ia sudah merasa yakin kalau Jiho tidak akan lagi melihatnya. Air mata membuat matanya basah. Namun Sooeun berbohong pada dirinya sendiri kalau itu hanya karena cuaca yang terasa sangat dingin.

Sooeun berjalan menelusuri trotoar yang terbentang di sepanjang deretan pertokoan. Ketika tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggil namanya.

“Sooeuna…”

Sooeun menoleh. Terkejut melihat Jiho yang tampak terengah-engah mengejarnya. Gumpalan udara sedingin es keluar masuk dari hidungnya yang terpahat sempurna.

Oppa?

Baru saja kata itu hendak meloncat keluar, Jiho sudah berjalan dengan langkah-langkah panjang kearahnya. Hampir tidak memerdulikan apapun. Tatapannya hanya terpusat pada Sooeun.

Hanya untuknya.

Jiho mengulurkan lengannya yang panjang dan segera merengkuh leher Sooeun bahkan sebelum ia benar-benar sampai di hadapan Sooeun. Sementara tangan kirinya menarik pinggang Sooeun, tangan kanannya menarik kepala Sooeun.

Sooeun tampak terlalu terkejut. Dengan mata membelalak ia merasakan bibir Jiho menekan bibirnya.

Bibir Jiho menyapu lembut bibir Sooeun. Bergerak-gerak malas namun cukup panas untuk membakar seluruh tubuh Sooeun. Tubuh mereka.

Sooeun merasakan tangannya bergetar di atas perut Jiho. Dan perutnya ikut bergelenyar merasakan sensasi yang di timbulkan secara terlalu tiba-tiba oleh lelaki itu. Seakan tak menghiraukan tempat mereka berdiri saat ini, Jiho merapatkan tubuh Sooeun semakin erat pada tubuhnya. Menghimpit tubuh gadis itu diantara lengan dan dirinya sendiri. Dan dalam sekejap keduanya berada di dunia mereka sendiri.

Udara masih sedingin es. Namun tubuh mereka cukup hangat satu sama lain. Terengah-engah Jiho menghentikan ciumannya yang bertubi-tubi dan menyaksikan bibir ranum Sooeun yang merekah. Lalu merasakan kerinduan yang teramat dalam menggerayangi seluruh aliran darah serta saraf di dalam tubuhnya.

Jiho membelai lembut wajah Sooeun dengan sebelah tangannya sementara satu tangan masih mendekap tubuh Sooeun merapat dengannya.

Wajah Jiho terlalu dekat. Sangat dekat. Sehingga Sooeun sulit menatap kedua bola mata lelaki itu secara bersamaan. Ia harus mengalihkan matanya dari mata Jiho satu-persatu seraya berjuang keras memahami maksud Jiho.

Oppa…” bisikan itu kasar dan intim. Sooeun dapat dengan jelas meneliti reaksi di wajah Jiho saat mendengar suaranya yang pecah karena gairah.

Perlahan-lahan Jiho melepaskan pelukannya. Ia menjatuhkan tangannya ke udara. Selama beberapa saat hanya memandangi wajah Sooeun dengan seksama.

Kilatan di dalam mata itu masih sama persis dengan yang ada dalam ingatan Sooeun, dalam mimpi-mimpinya. Hanya saja jauh lebih lembut. Lebih mengikat. Dan Sooeun sadar sepenuhnya kalau ia tak ingin tatapan Jiho menjauhinya walau hanya sekejap atau dia akan kembali merana. Seperti hari-hari yang berlalu minggu, dan minggu-minggu menjadi bulan-bulan yang panjang yang terasa sudah lebih dari seratus tahun berlalu hingga sekarang.

Sedetik berlalu begitu lambat. Jantung Sooeun tak berhenti berdegup kencang. Bahkan setelah ketukan yang kesepuluh di jantungnya, waktu  sedetik masih berlangsung lama. Jiho masih menatapnya. Seakan mencari kesalahan dalam dirinya. Atau apalah.

Mungkin Jiho pun ragu, mengapa ia sampai disini.

Mengejarnya.

Menciumnya.

Memeluknya.

Mungkin Jiho pun telah di bohongi perasaannya. Mungkin. Dan pikiran-pikiran tersebut tanpa sadar pelan-pelan mulai menggerogoti sisa hatinya yang masih utuh setelah sebagiannya hancur berkeping.

Jiho mengerjap. Sekali, dua kali.

“Sooeun…”

Sooeun terperangah. Ia sudah menatap wajah Jiho lebih lama dari yang seharusnya. Namun mendengar suara Jiho mulai menemukan jalan keluar ternyata masih bisa membuatnya tertegun.

“Sooeun…”

Sooeun tak menjawab. Ia yakin Jiho hanya sedang memastikan dirinya sendiri saja.

“Aku cinta padamu.”

Sooeun menatap tak percaya. Jantungnya serasa berhenti berdetak.

“Aku cinta padamu. Aku cinta padamu. Perasaanku tak pernah berubah. Masih sama, Sooeun. Bahkan saat ini perasaanku…”

Oppa…”

Bibir Sooeun bergetar. Ia hanya bisa memandang wajah lelaki itu lekat-lekat. Berusaha mengabaikan kabut yang menaungi matanya.

“Aku cinta padamu, Sooeun.”

Setitik embun berubah menjadi air mata dan mengaliri pipi Sooeun. Bibirnya yang gemetar berusaha tersenyum. Sooeun menggeleng berkali-kali tanpa mengalihkan pandangannya.

“Aku…  aku cinta padamu, Oppa…” pekiknya dengan perasaan bercampur-aduk.

Jiho segera merengkuh tubuh Sooeun dengan senyum mengembang, dan hati bahagia. Ia mencium kepala Sooeun lalu mendekap gadis itu semakin erat ketika menyadari Sooeun balas memeluknya.

-The End-

Catatan kaki penulis: Sebelumnya terima kasih mau baca lanjutan Mr. Destiny setelah vakum selama hampir dua bulan :) Semoga ini bukan fanfic terakhir dari saya, dan juga bukan fanfic terakhir yang diberi komentar, kritik, saran dan jempol :mrgreen:See you guys on the next fanfic ;) Sama seperti autor-author lainnya, saya juga berharap fanfic ini tidak dipenuhi oleh silent readers. Ciaooo~ ;-)

5 thoughts on “Mr. D E S T I N Y – [End]

  1. huaaaah… Kirain bakal sadis akhirnya… Ternyata tidak… Bnar2 akhir yg keren… authornya daebak.. Perasaanq seperti tercabik-cabik… TT~TT!! Tp ikut snang karena akhirnya mreka bisa bersama… Mian kgk kmen2 satu2 alx satu kali baca smuax… Bnar2 DAEBAK! Keep writing yah… Author XDXDXD

  2. br bisa koment di chapter ke2,pas bc yang 1 n mw koment,,sinyalnya error..:(
    aku kira Sooeun bakal jadi sama changmin..ga taunya balik lagi yaa sm JiHo..Daebaakkk thor..^^
    feelnya berasa bgt..ikut terbawa suasana’nyaa..^^
    ditunggu next ff nya yaa thor.. :D

  3. Unnie please bikin after storynya yah?? Your fanfict totally amazing!!! You really have to make after story of this fanfiction.. :)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s