[FF Chaptered] Story About Past, Present, Future 1 of 2

Disclaimer :

FF ini pernah di post di blog pribadiku nickisland.wordpress.com

Sebuah kertas melayang di udara, entah karena angin yang terus berhembus dan membuat benda bermassa ringan itu terus melayang atau karena kertas itu enggan terjatuh ke bumi dan dibaca oleh manusia lain yang menemukannya.

Barisan kata-kata, untaian cerita dan ungkapan rasa terlintas dari baris-baris di atas kertas tersebut. Ini mungkin tentang cinta, mungkin tentang persahabatan, garis lainnya mengatakan tentang luka dan sisanya menangkup kehidupan 3 insan.

1 kalimat yang perlu kau tahu

Aku mencintaimu… nan… saranghamnida, saranghaeyo.

Letter 1

“Jangan tersenyum seperti itu, jangan menatapku. Anggap saja kita tidak pernah mengenal,” gerutu MinYoung saat namja di depannya membawakan kopi pesanan mereka dan menarik kursi di seberangnya.

“Seberapa jauh kau kabur, masa lalu tidak bisa dihapuskan,” jawab MyungSoo dengan tawa renyahnya.

“Tapi bisa dilupakan,” sambung MinYoung pendek, “Kenapa kau harus muncul lagi di depanku?”

“Coincidence MinYoung-ah. Walaupun aku lebih suka menyebutnya takdir.”

MinYoung mengangkat espresso miliknya, menyesap cairan hitam pekat itu masuk ke tubuhnya. Ia butuh kafein dalam kadar tinggi untuk memaksa otaknya bekerja. Hidup itu lucu, penuh dengan lelucon kalau kata JinJi sahabatnya. Banyak hal yang terjadi dan memaksa untuk ditertawakan dengan lirih. Ini salah satunya.

Bagaimana mungkin di tengah rapat penting, orang ini muncul? Kim MyungSoo, model sekaligus pemilik line pakaian online ternama yang kali ini mengajukan tender ke perusahaannya. Not official hers, tapi untuk MinYoung, JM Corp adalah naungan untuk earningnya dalam hidup. Well, dengan posisinya, hidup mati perusahaan itu menjadi titik pusat perhatiannya.

Bagaimana mungkin ia tidak menyadari kalau L adalah fashion line yang dijalankan oleh pria itu? Aniya, setelah kafein merasuki setiap sel otaknya, MinYoung menyadari kalaupun ia tahu tidak akan ada banyak bedanya. Ia tidak mungkin begitu saja melewati kesempatan besar seperti ini.

“Kau tetap menyebalkan seperti dulu,” ujar yeoja itu pendek, ‘dan menawan’ batinnya.

“Thank you… itu artinya selama ini kau masih mengingatku.”

MinYoung memperhatikan gesture L yang begitu tenang. Menyandarkan tubuh tegapnya di sandaran sofa dengan tangan santai mengangkat macchiato pesanannya. No foam as usual, double cream as alwaysナ Berapa kali mereka ada di posisi ini sampai akhirnya MinYoung lelah?

“Profesionalitas. Hanya itu syaratku kalau kau ingin aku yang mengurus ini semua.”

“Aku tidak mengerti soal itu. Yang kutahu YoungMin tidak akan membiarkan pegawai lain yang memegang tender ini.”

“Setidaknya bercoorporate denganku selama sebulan ini.”

“Lunch, dinner, beberapa kali janji dan aku akan bersikap baik.”

“Aku tidak memberikan janji apapun.”

“Maka aku juga….”

***

Entah berapa banyak langkah yang kita jalani

Dan berapa banyak lagu yang kita cetuskan sebagai milik bersama

Desahan nafas yang menjadi embun atau uap

Entah apa yang ditinggalkan

“Jadi, apa yang kau pandangi selama 3 jam setelah jam kerja berakhir?”

MinYoung tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari laptop yang bertengger di meja kerjanya dan tangannya sendiri masih sibuk mencari berkas-berkas yang sesuai. Tanpa aba-aba kursi yang ia duduki berputar ke belakang, memberikan gadis itu sensasi pusing yang singkat namun cukup memaksanya untuk mengalihkan pandangan.

“Aku butuh jawaban atas semua pertanyaan.”

“Aku sedang mengerjakan laporan untukmu. Apa itu bisa membuatku kembali bekerja?”

“Sejujurnya karyawan sepertimu yang membuat budget lembur perusahaan semakin besar.”

“Kalau begitu silahkan tidak membayar uang lemburku.”

Namja itu terkekeh mendengar jawaban ketus dari MinYoung. Sebelah tangannya menarik berkas yang ada di tangan yeoja itu dan tangan yang lain menarik lengan MinYoung agar berdiri. MinYoung hanya bisa menghela nafas panjang dan membiarkan dirinya mengikuti permainan ini.

“Dalam kamusku, membayar karyawan itu kewajiban. Hanya saja aku menemukan cara baru.”

MinYoung tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat merasakan tubuhnya tertarik ke dalam pelukan namja di depannya, memaksanya untuk berjinjit menapakkan kedua kakinya ke atas pantofel namja itu yang entah berapa harganya.

“Just counted as lucky, aku sudah melepaskan heelsku.”

“Aku sudah melihatnya aggassi.. Makanya aku berani melakukan hal ini,” jawab namja itu diwarnai dengan nada geli, ” tapi kau benar-benar tidak boleh bekerja terlalu keras.”

“Aku harus menyelesaikan ini tepat waktu.”

“Kau bisa menyelesaikannya kalau tidak keluar dari kantor terlalu lama siang tadi. Jam kerja tidak boleh dibalik.”

“Apa kau marah?” Tanya MinYoung pendek sambil membenamkan wajahnya.

“Seharusnya, tapi kenapa aku tidak bisa?”

“Aku juga tidak punya jawaban untuk itu.”

“Yang bisa kulakukan adalah seperti yang selama ini terjadi, bersabar.” Pria itu merenggangkan pelukannya agar bisa menatap jelas wajah MinYoung,” tapi yang perlu kau ketahui, aku tidak akan melepaskanmu.”

Namja itu mengatakan kalimat penting tersebut dengan senyuman dan MinYoung hanya bisa perlahan kembali membenamkan wajah dalam pelukannya, berusaha menyeimbangkan diri mengikuti gerakan dansa sepihak yang sedang berlangsung.

Entah senyum itu yang membuatnya bertahan

Entah pelukan ini yang membuat dirinya terperangkap

Yang manapun, gadis itu tidak tahu apakah semuanya cukup untuk menangkap hatinya.

“Aku tidak peduli apapun, yang aku tahu. Aku mencintaimu, MinYoung-ah.”

“Arraseo.. Nado….”

***

MyungSoo menatap yeoja yang sedang berdiri dengan wajah enggan di depannya. Muse pribadinya selama ini walaupun gadis itu sama sekali tidak tahu. Ah.. atau lebih tepatnya sempat tahu kemudian mengingkarinya. Apapun itu, MinYoung tidak pernah berubah. Gambaran yang selama ini hanya tertanam di kepala namja itu, sekarang berdiri jelas di hadapannya.

“Muncul dalam fashion showmu tidak masuk dalam pekerjaanku,” gerutu MinYoung tanpa sekalipun berniat melirik pantulannya di cermin sekelilingnya. Mereka hanya tinggal berdua di ruangan ini, bukan tidak mungkin MyungSoo bisa membaca semua ekspresimu- kalau namja itu belum berusaha melakukannya sedari tadi-

“Berputarlah aggassi. Aku harus melihat hasil karyaku dengan jelas,” sergah MyungSoo berusaha menyusupkan ketegasan dalam suaranya walaupun ia sadar nada menggoda tidak akan pernah hilang. Apalagi begitu MinYoung mengikuti perintahnya.

“Sudah selesai bermainnya? Kau punya puluhan model yang bahkan rela berpose nude untukmu. Kenapa harus menggangguku?”

Tawa renyah melesat dari bibir MyungSoo. Namja itu tahu kalau tertawa saat MinYoung sedang kesal sama sekali bukan tindakan yang bijaksana. Gadis itu siap meledak kapan saja. Ini MinYoungnya… MinYoungnya yang tidak pernah berubah.

Perlahan sebelah tangannya mengangkat dagu MinYoung agar pandangan gadis itu bertubrukan dengan cermin di depannya. Sebelah tangannya yang lain mencekal kedua pergelangan tangan MinYoung agar tidak bisa membalikkan tubuh dan berjalan pergi.

“Kim MyungSooナ ” gumam MinYoung lemah, ia benar-benar tidak berminat bermain kali ini, “Lepaskan aku.. Ini bukan masa lalu di mana kau memegang kendali atasku.”

“Tapi kau tetap MinYoung yang sama,” bisik MyungSoo tepat di telinga yeoja itu, ia menopang dagunya di pundak MinYoung dan ikut mengarahkan pandangannya ke cermin, ” Sebenarnya kau lari dari apa? Tatap pantulanmu MinYoung. Dirimu yang kubuat dengan sempurna dari tanganku.”

“Aku tidak bisa hidup hanya dari tanganmu.”

“Tapi akuilah, kau menyukainya.”

Dan keheningan panjang menyambut kalimat terakhir MyungSoo. Pria itu tersenyum, tahu dengan jelas dampak dari ucapannya. Pantulan MinYoung di cermin memberikan gambaran jelas kalau ia sedang berpikir. Hal itu juga berarti kalau perhatian yeoja itu sudah berhasil ditangkapnya.

Cekalan tangannya sudah terlepas dan tanpa menunggu apapun berpindah ke pinggang MinYoung. Hal yang pernah menjadi posesinya. MyungSoo menggiring perlahan gadis itu semakin mendekati cermin.

“Sebutkan… ” ujarnya tidak lebih daripada sebuah bisikan, “Sebutkan 1 saja bagian yang tidak sesuai dan aku akan menyerah.”

MyungSoo merasakan tubuh yang ada dalam genggamannya lebih rileks. Kali ini MinYoung benar-benar mengobservasi dan senyuman di wajah MyungSoo menandakan kalau namja itu punya lebih dari cukup stock kepercayaan diri. Tidak mungkin ada detil yang dapat membuat yeoja itu merasa tidak puas.

Brokat dan lace berwarna putih gading merupakan komponen terbesar dari dress ini. Potongan lilac terbaik denganm racks pada bagian bawahnya. Taburan payet dengan tekstur Sabrina mengekspos begitu saja leher jenjang yeoja itu. Mata MyungSoo ikut menelusuri semua detil yang ada. Lemah dan kuat… classic dan modern… sederhana dan glamour… miliknya.

“Aku menyukainya,” desah MinYoung tertahan.

“Aku tahu, karena itu yang kupikirkan selama aku membuatnya.”

***

Mungkin aku benar pernah mencintai

Tapi diantara 2 cinta mana yang akan berjalan

Cinta seperti api yang mendebarkan, membara dan membakar segalanya

Atau cinta seperti air yang mengalir, menghanyutkan dan menenggalamkan segalanya

“Aku membenci kalian berdua.”

YoungMin terkekeh setelah berusaha menebak apa yang akan MinYoung katakana kalau ia menculik gadis itu untuk melakukan hiking bersamanya. Menghabiskan seharian untuk menguras keringat dan berusaha menstabilkan nafas berdasarkan keinginan sendiri tidak akan pernah masuk list pilihan gadis itu.

“Ani, yang lebih mungkin ia katakana adalah ‘ aku akan membunuh kalian berdua.‘” Tambah MyungSoo tanpa berusaha mengecilkan tawanya, ” Gadis itu tidak pernah berubah.”

“Kau salah hyung, MinYoung berubah dalam beberapa aspek. Kau hanya belum mau menerimanya.”

“Dan kau hanya menghibur dirimu sendiri dengan mengatakan itu.”

“Sebenarnya percuma saja kita bertengkar di sini. Semua jawaban ada di gadis itu,” tutup YoungMin lugas.

Maka dari itu mereka berdua setuju untuk melakukan tender ini. Baik YoungMin maupun MyungSoo menyadari kalau mereka merasa memiliki MinYoung dengan cara mereka masing-masing, tai semua itu harus berakhir. Demi ketenangan mereka dan demi MinYoung sendiri.

“Kenapa kita tidak bisa kembali saja ke masa lalu?” Tanya MyungSoo reotris, ” Keadaan dimana kita bertiga adalah sahabat, bersama- sama tanpa memikirkan banyak hal.”

“Kau yang tidak berpikir saat itu hyung. MinYoung ada sebagai kekasihmu dan sebagai sahabatku. Sedangkan aku berpikir, aku berpikir bagaimana caranya bisa tetap tersenyum di depan kalian.”

“Dan kenapa kau tidak bertahan saja dalam keadaan itu? Lagipula kau memang sudah terbiasa.”

“Tanyakan pada dirimu yang meninggalkannya tanpa penjelasan waktu itu, hyung.”

“Aku tidak melakukan kesalahan. Kalau aku tidak pernah meninggalkannya, aku tidak akan tahu seberapa berharganya dirinya.”

“Begitulah kita bertiga, masing-masing punya persepsi sendiri. Yang jelas hyung memberiku kesempatan. Kita berdua pernah masuk ke dalam hatinya.”

“Aku yang memilikinya lebih dulu.”

YoungMin merenggangkan tubuhnya dan mulai berjalan turun dari tempat hiking, “Benar, kau pernah hyungナ dulu. Masalahnya, the past is a good place to see but not to stay,” ujar namja itu tanpa berbalik sama sekali.

Ia tidak ingin berbagi soal MinYoung. Untuk itulah ia mempertahankan rencana ini juga. Karena ia berharap hati dan pikiran MinYoung pada akhirnya benar-benar terfokus pada 1 orang di masa kini, di masa depan. Dan yeah, ia jelas berharap namanyalah yang keluar dari bibir gadis itu.

To Be Continue

4 thoughts on “[FF Chaptered] Story About Past, Present, Future 1 of 2

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s