[FF Chaptered] Story About Past, Present, Future / End

Saranghaeyo…

Kata itu memiliki banyak arti semenjak pertemuan kedua kita…

Nan dangshinni saranghamnida…

Kalimat itu bisa memberikan 2 akhir yang berbeda…

MinYoung berusaha menopang keningnya yang mulai terasa berat dengan sebelah tangannya. Hari-hari mendekati fashion show membuatnya bekerja berkali-kali lipat. Ia harus memegang semua event yang diadakan agar fashion show ini menarik banyak perhatian public belum lagi ia juga salah satu model utama.

Gadis itu tidak berniat melirik jam di layar ponselnya. Tampaknya hari inipun ia harus tidur di ruangan kantornya. Untung saja ia mendesign sendiri ruangan ini sehingga cukup banyak spot yang nyaman. Workaholic? Mungkin, tapi entah kenapa ia benar-benar ingin project yang satu ini berhasil.

Pikirannya melayang ke berbagai arah saat mengetahui bahwa YoungMin dan MyungSoo bersikap seakan tidak pernah ada yang terjadi di antara mereka. Seakan mereka masih duduk di bangku kuliah dan menjalankan kehidupan sebelumnya. Bukan dengan intrik dan memori yang bertumpuk di setiap lapisan.

Apa ia harus mengikuti permainan ini? Rasanya aneh bersikap keras di saat ia tidak mendapatkan dukungan dari siapapun, tapi dia sendiri juga tidak bisa membiarkan dirinya melupakan segala hal yang terjadi.

Bunyi message yang masuk di laptop di depannya, membuat MinYoung sedikit terlonjak. Ugh… selarut ini masih ada yang mengiriminya mail? Ia masih harus mengecek laporan keuangan yang baru saja dibuat bawahannya. Sepertinya ini akan menjadi tambahan pekerjaan lagi.

From : L <kimmyungsoo@live.com>

To : Youngie <inminyoungJM@live.com>

 

Apa kau sudah makan malam?

MinYoung mengerutkan keningnya, apa lagi ini? Kenapa namja itu menggunakan email kantornya untuk menanyakan hal seperti itu? Ke mana perginya sms atau account-account pribadi lainnya. Tanpa berpikir dua kali, MinYoung menghapus mail tersebut dan kembali memperhatikan laporannya.

Bunyi mail masuk yang lain membuatnya mendesis kecil, siapa lagi? Apa untuk menghabiskan selembar laporan saja ia tidak diijinkan?

From : L <kimmyungsoo@live.com>

To : Youngie <inminyoungJM@live.com>

 

Apa kau tidak mendapat pesannya? Sudah pukul segini, apa kau sudah makan? Aku mengantarkan makanan di bawah, tapi tidak bisa masuk ke dalam kantormu karena semuanya sudah dikunci. Apa kau tidak takut berada di gedung sebesar ini sendirian?

 

MinYoung memutar bola matanya, sarkasme yang detik ini tidak bisa dilihat siapapun. Apa pedulinya? Memang gara-gara siapa dia begini? Kalau tadi pagi, ia tidak perlu mengikuti gladi kotor fashion show, kemungkinan besar sekarang ia ada di apartemennya. Well, kemungkinan besar juga tidak sih, tapi setidaknya pekerjaan yang selesai jauh lebih banyak daripada yang ia hasilkan sekarang.

From : L

To : MinYoung

 

Aku akan menerobos masuk kalau kau tidak juga menjawab pesanku.

Great, sekarang ponselnyapun tidak luput? Gadis itu memaksakan dirinya berdiri dan menyambar kartu pass idnya yang memang digunakan untuk akses kemanapun di gedung ini. Seharusnya ia mematikan saja semua media yang bisa dihubungi, saying ia terlalu takut akan pesan yang benar-benar penting masuk.

Siluet MyungSoo adalah yang pertama ia lihat begitu turun keluar dari lift, namja itu bersandar santai di salah satu pilar di depan gedung, tersenyum menggoda seakan telah memenangkan sesuatu yang berharga. MinYoung ingin melihat senyum itu, di sisi lain logikanya memberontak atas apapun tindakan yang sekarang ia lakukan.

“Ada apa?” Tanya gadis itu ketus begitu kakinya berhenti melangkah tepat di depan MyungSoo.

“Dinner? Sama seperti di dalam semua pesan yang kukirimkan.”

“Aku tidak pernah makan malam.”

“Aku tahu, tapi kau salah satu modelku, jadi kau harus. Lagipula sekarang pukul berapa? Kau harus pulang dan berisitirahat untuk menghindari kantung mata.”

“Aku sedang mengerjakan laporan keuangan untuk fashion showmu. Kalau kau mau kegiatan 3 hari lagi itu berjalan dengan baik. Biarkan aku bekerja.”

MinYoung mendesah panjang dan membalikkan tubuhnya untuk kembali ke dalam kantor. Ia keras, memang…. Ada banyak hal yang tidak bisa semudah itu ia biarkan terjadi. MinYoung benci melihat dirinya sendiri tidak melakukan hal yang penting. Ia benci membuat banyak alasan untuk tidak melakukan apa yang seharusnya ia kerjakan. Ini hidupnya, ia tidak bisa bergantung pada siapapun.

“Aku tahu kau akan seperti ini, “ desah MyungSoo panjang, “Setidaknya bawa ini,” sambungnya lemah sambil memaksakan paper bag ke tangan MinYoung.

“Apa kau tidak mendengarku?”

“Ambil… kau tidak pernah berubah. Apa salah bersandar kepada orang lain?”

MinYoung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Apakah salah? Entahlah ia tidak pernah benar-benar memikirkannya. Semakin banyak pertanyaan, akan semakin banyak pula jawaban yang bisa ia raih. Dan permasalahannya, tidak semua jawaban menyenangkan untuk masuk ke telinganya.

“Jangan terlalu lelah, kau adalah satu-satunya yeoja yang kukenal tidak mengetahui batas tubuhmu sendiri.”

“Kenapa kau selalu mempedulikan sesuatu yang tidak penting?”

“Prioritas kita hanya berbeda, MinYoung-ah. Itu saja….”

“Kim MyungSoo, kau tidak pernah berubah….” Gumam MinYoung pelan dan membiarkan pintu di belakangnya tertutup.

Gadis itu mengabaikan seluruh keinginannya untuk berbalik dan melihat ekspresi wajah namja itu. Ia menekan segala rasa penasaran yang begitu saja membuncah dengan 1 kalimat.

Kim MyungSoo tidak pernah berubah…

Namja itu sekalipun bahkan tidak pernah memikirkan untuk berubah…

Satu-satunya pertanyaan… apakah dirinya sendiri sebenarnya seperti itu?

***

“Jam berapa kau sampai di rumah?”

“Eh?”

YoungMin mengulangi pertanyaannya lagi sambil menatap layar ponsel di depannya, “Jam berapa MinYoung-ah. Kau bahkan belum menghapus make up di wajahmu. Apa kau langsung mengangkat teleponku begitu masuk ke dalam apartemen?”

“Ani.. tidak juga… Aku sempat mengganti pakaianku kok. Jadi sekitar hmm… sejam yang lalu?”

“Paling cepat kau pulang itu setengah jam. Tidak perlu susah payah membohongiku. Aku mengenalmu terlalu lama, Youngie…”

Namja itu bisa melihat Minyoung yang memutar bola matanya cepat saat mendengar panggilan darinya. Merasakan pemandangan di layar ponsel itu tidak lagi bergerak, sepertinya MinYoung sudah meletakkan ponsel miliknya sendiri di tempat yang datar agar bisa mengerjakan hal yang lain. YoungMin sendiri menyandarkan punggungnya ke posisi yang lebih nyaman di sofanya.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Menghapus make uku dan mencuci muka. Siapa tahu kau akan kabur setelah melihat wajah polosku.”

YoungMin menyumbangkan tawanya yang lepas begitu saja,” Youngi-ah… cari cara lain. Seperti aku belum pernah melihatnya saja. Aku sudah pernah melihatmu dalam keadaan yang lebih parah.”

“Cih…. Apa itu bisa diartikan aku sangat jelek kalau tidak memakai make up?”

“Jangan membuat kesimpulan sendiri. Aku mau melihat semua wajah milikmu.”

“Sudah.. aku benar-benar mau mencuci wajahku jadi tidak bisa menjawabmu.”

“Arraseo, tapi jangan dimatikan,” jawab YoungMin santai.

Namja itu menahan senyumnya saat membaca ekspresi baru MinYoung saat melihat wastafel yang penuh dengan barang-barang baru dan beragam food note yang tersebar di cermin di atasnya. Dalam hitungan 1… 2… 3…

“YAH! JO YOUNGMIN! APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN KAMAR MANDIKU?”

“Menaruh semua benda yang kau perlukan. Kau selalu lupa mengisi ulang persediaanmu sendiri. Aku membeli wangi vanilla kali ini. Wangi kesukaanku.”

“Kau seenaknya sendiri. Kapan kau melakukan ini semua?” Tanya MinYoung penasaran sambil mengambil salah satu tube untuk memulai cleansing wajahnya.

“Sebelum kau pulang, tentu saja. Kau ini… kau bahkan tidak akan tahu kalau aku tidak meninggalkan jejak sebanyak itu.”

YoungMin memperhatikan dengan seksama kegiatan yang dilakukan oleh MinYoung. Ia hafal semuanya, maka dari itu ia yakin kalau tidak ada satu produk pun yang ketinggalan. Beberapa orang akan mengatainya bodoh karena menempel sebegitu lama di sisi seorang yeoja.

Tapi untuknya, ini sebuah kebahagiaan kecil yang melengkapi segalanya. Melihat yeoja yang  ia tunggu sedari dulu, pada akhirnya melakukan segalanya dengan sedikit bagian dirinya. Membuat yeoja itu terbiasa dengan kehadirannya. Simple, tapi rasanya ia sudah puas dengan keadaan seperti ini.

“Berapa lama kau ada di apartemenku?”

“Beberapa jam… Ah, ada vitamin wajah yang baru di sana. Kau pasti sudah membaca dari semua post it yang kutempel di cermin.”

“Bagaimana aku tidak membacanya kalau ada sebanyak itu post itnya…” gerutu MinYoung sambil berusaha menghindarkan nada geli yang mau keluar. Gadis itu menutup matanya dan menyemprotkan vitamin yang ada di tangannya.

“Bagaimana rasanya? Kudengar produk yang satu ini cukup disukai.”

“Kau menjadikanku objek percobaan ya YoungMin? Kau harus mencobanya sendiri. Aku tidak akan memberitahu.”

“Asa! Itu artinya aku akan datang ke apartemenmu besok. Ah… aku tahu kau tidak akan makan jam segini, tapi aku tidak punya jaminan kalau kau sudah dinner atau belum. Ada yogurt dan salad buah di samping tempat tidurmu. Kau tidak boleh tidur di sofa malam ini,” celoteh YoungMin panjang sambil menunjuk arah kamar MinYoung.

“Aku sudah makan tadi.”

“Jinjja? Kau makan sendirian? Membelinya sendiri?”

“Ani… MyungSoo yang membawakannya ke kantor.”

“Hyung? Mungkin ia mau mengurus modelnya dengan baik… Bagaimanapun ini.. ah… tinggal 2 hari lagi sebelum fashion show.”

“Kau tidak cemburu?”

YoungMin menggelengkan kepalanya perlahan, namja itu memaksakan senyumnya mengembang agar bisa terlihat dengan jelas di layar, “Aku cemburu Youngie, tapi bukan hal baru aku tahu kalau hyung masih menyukaimu.”

“Kalau begitu kenapa kau membiarkannya muncul lagi di hidupku? Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Kenapa kau tidak mencegahnya?”

“Mencintaimu berarti aku menerima segalanya, Youngie. Dirimu dan orang yang kau cintai. Masa lalumu yang tidak kumiliki, masa sekarang dank au sepenuhnya di masa depan. Maka dari itu aku melakukan ini.”

“Tidak ada jaminan sama sekali.”

“Tidak ada… aku hanya tahu kalau aku mencintaimu. Itu cukup untukku.”

MinYoung terlihat mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya dan menyandarkan dirinya di tempat tidurnya, “Satu-satunya hal yang tidak bisa kukendalikan adalah orang yang mencintaiku. Aku tidak bisa mengontrol perasaan orang lain dan aku tidak bisa mengontrol jumlahnya.”

“Jangan dipikirkan… jalani saja. Aku termaksud orang yang takut dengan hasil pemikiranmu,” ujar YoungMin mencoba mencairkan keadaan, “tatap mataku, Youngie… bolehkah?”

Perlahan tapi pasti YoungMin kembali menemukan mata yang sedari tadi dicarinya, ia menemukan sejuta kergauan dan ketakutan di sana. MinYoung takut menyakiti dirinya sendiri, dan jauh di dalamnya, gadis itu juga takut kalau sampai menyakiti siapapun di sekitarnya.

Tapi cinta, memang tidak memberikan jaminan apapun kepada orang yang jatuh ke dalamnya kan?

“Apapun yang terjadi aku akan selalu mendukungnya, aku akan terus ada di sampingmu. Baik aku ataupun hyung tahu konsekuensinya, tinggal kau yang membuat keputusan.”

“Sebentar lagi semua ini akan berakhir,” gumam MinYoung pelan dan membiarkan dirinya terlarut oleh rasa lelah yang membawanya ke alam mimpi.

“Ne, Youngie… sebentar lagi. Untukku, kau sudah berubah. Hal itu yang kupercaya….”

***

“Oh crap… seharusnya dari awal aku tidak pernah menyetujui ini.”

MinYoung berusaha mengenakan heels dengan setengah berlari. Menjadi bagian dari fashion show sekaligus mengurus beberapa hal di belakangnya sama sekali bukan keadaan yang menyenangkan. Ia mau semuanya terlihat sempurna. Yang jadi masalah adalah, ia bagian dari kesempurnaan itu.

“Lightingnya! Apa semuanya sudah di cek ulang? Ah dan bagaimana dengan speech pembukanya nanti?”

“Youngie, kau itu bukan penanggungjawab lapangan. Tidak perlu sepanik itu,” ujar YoungMin berusaha menenangkan. Namja itu yang akan memberikan speech utama nanti sebagai pihak perusahaan yang menyelenggarakan pameran. Sedangkan MyungSoo mendapat giliran terakhir sebagai desaener yang menampilkan koleksinya.

“Tetap saja kedudukanku masih berada di bawah kalian berdua jadi hanya aku yang mengontrol semuanya,” gerutu MinYoung.

“Kau duduk di tempatmu. Kau akan muncul di puncak acara. Kau perlu make up yang paling detil dan mental yang paling berkilau. Aku akan memperlihatkan di mana tempatmu sebenarnya,” sambar MyungSoo sambil menarik sebelah lengan MinYoung secara paksa dan mendudukan gadis itu di sofa yang berada persis di depan meja rias utama.

“Aku yakin kau tidak mengecek lagi koleksimu kan Kim MyungSoo ssi,” sindir MinYoung. Begitu duduk, ia tidak bisa bergerak lagi karena beberapa stylish segera mengelilinginya dan memakaikan apapun yang harus menempel di kepalanya.

MyungSoo sengaja menyimpan gown yang akan digunakan oleh MinYoung sebelum  show dimulai. Karya terbaiknya itu hanya akan dilihat oleh MinYoung tepat sebelum gadis itu naik ke atas panggung. Ia sudah menambahkan beberapa detil dari yang sudah dilihat oleh MinYoung sebelumnya.

Sesuatu yang ia rancang khusus untuk MinYoung….

“Berikan speech terbaikmu, YoungMin,” kelakar MyungSoo santai saat melihat pria yang merupakan saingan sekaligus sahabatnya itu bersiap keluar dari backstage menuju kerumunan orang banyak.

“Kau tidak perlu khawatir. Aku selalu melakukan bagianku dengan baik.”

MyungSoo tidak memberikan jawaban apapun. Ia bahkan tidak lagi menyadari saat YoungMin sudah selesai memberikan speechnya dan ketegangan di backstage mulai melesat naik sebagai tanda show sudah berjalan. Namja itu memperhatikan wajah MinYoung yang sedang dirias. Berusaha menahan seberapa besar keinginannya untuk menelusuri jemarinya di atas garis rahang gadis itu.

Sebentar lagi…

Setelah ini semua selesai, ia bisa kembali memiliki MinYoung. Mendengar dengan telinganya sendiri bahwa selama ini gadis itu tetap bertahan sebagai miliknya. Ia tidak peduli YoungMin akan disebut sebagai apa selama masa kepergiannya.

Yang ia ingin tahu ia tetap merupakan namja satu-satunya yang selalu memenuhi pikiran MinYoung.

“L ssi… ada masalah.”

MyungSoo mengerutkan keningnya saat seorang asistennya membisikkan kata yang paling ia benci selama ini. Masalah… apa yang bisa terjadi di keadaan seperti ini? Show sudah berjalan, tinggal setengah jam sebelum acara puncak.

“Masalah apa? Apa kau tidak bisa mengurusnya?” bentak MyungSoo tanpa berusaha mengecilkan suaranya. Ia bisa melihat dari sudut matanya kalau MinYoung sudah bergerak gelisah mendengar kata masalah. Kabar itu juga pasti sampai kepadanya kalau dilihat dari salah satu yeoja asisten MinYoung berdiri di belakangnya.

Dengan tergesa , derapan langkah kaki terdengar bergerak cepat ke arah ruangan pribadi MyungSoo.  Tempat namja itu menaruh gown milik MinYoung dan beberapa perlengkapan lainnya. Saat itu juga, namja itu merasakan ada yang salah dengan ruang kerjanya.

Bagian butterfly besar yang seharusnya ada di border sepanjang pinggang terlihat tidak berbentuk sama sekali. Ada banyak helaian-helaian kain di sekitarnya yang hanya menjelaskan kalau gaun itu dirusak oleh sayatan pisau.

Tapi MyungSoo lebih fokus terhadap sebuah kotak yang ada di atas mejanya. Sesuatu yang mirip seperti serpihan cincin yang sebelumnya juga berbentuk blue butterfly besar bertebaran di sekitar meja.

“Siapa… SIAPA YANG MELAKUKAN INI SEMUA?”

MinYoung hanya bisa melangkah perlahan, berusaha mencerna apa yang terjadi. Semua yang seharusnya ia kenakan setelah ini tertinggal tanpa bentuk yang jelas. Hanya seonggok gaun biasa tanpa sentuhan khusus yang membuatnya terlihat gemilau.

Sesuatu yang tadinya miliknya.

Apa ini gambaran dirinya saat ia akhirnya memutuskan bersandar pada YoungMin?

“Apa? Apa yang terjadi? Aku dengar ada masalah….” Terdengar suara panik YoungMin yang disusul oleh sosok namja itu memasuki ruangan.

“Berakhir… semua berakhir…” racau MyungSoo pelan sambil menatap kosong sisa-sisa karyanya.

“Ani… semua ini belum berakhir, kita masih punya waktu untuk memperbaikinya,” ujar MinYoung tegas. “Ini tanggung jawabku.”

“Hentikan… aku tidak akan menampilkan apapun yang tidak terlihat sempurna.”

“Dan karena hal ini, kau akan menghancurkan seluruh show yang sudah dirancang sejauh ini?” bantah MinYoung, “YoungMin-ah. Ambilkan heelsku yang tadi kupakai ke sini,” perintah yeoja itu cepat, sedangkan tangannya yang lain sudah sibuk memegang gunting untuk membuat pola dari bahan-bahan yang tersisa.

Gadis itu menarik begitu saja butterfly dari bahan beludru yang menjadi penghias tas yang dibawanya dan melakukan semua hal yang bisa ia lakukan. Begitu YoungMin kembali dengan heelsnya, MinYoung melakukan hal yang sama terhadap 2 benda itu.

“Aku akan membantumu,” ujar YoungMin pelan dan mulai mengcopy apapun yang MinYoung kerjakan.

Beruntung, hampir seluruh barang pribadi milik MinYoung memiliki bentuk butterfly. Ah… ani… bukan beruntung. Hal lucu yang ia sadari, show ini memang dibuat untuk dirinya. Dan butterfly adalah gambaran dirinya yang paling jelas.

Dengan cepat MinYoung memakai gaun itu di tubuhnya dan kembali berkutat dengan beberapa bagian yang tidak terlalu terlihat pada saat benda itu masih terpampang di mannequin. Tinggal beberapa menit sebelum gilirannya keluar dan untuknya satu-satunya alasan ia tidak menangis adalah karena ia harus tampil di atas panggung.

“Hentikan!” bentak MyungSoo, sebelah tangan namja itu menahan gerakan MinYoung yang sedang berusaha menyatukan cincin butterfly dengan corsage yang baru saja ia buat.

“Sudah kubilang, aku akan membuat show ini berakhir sempurna.”

“Aku tidak mau melakukannya lagi.”

“Aku tidak melakukannya untukmu, aku melakukannya agar semua ini berakhir untukku.”

Sebelum MyungSoo sempat menjawab apapun, MinYoung sudah melangkahkan kakinya ke arah panggung. Tidak ada yang bisa menghentikan langkah kaki gadis itu. Hanya bunyi tapak heelsnya yang tertinggal. Sedangkan gadis itu melangkah dengan kepercayaan dirinya ke arah siraman cahaya.

Im MinYoung, muse sempurnanya…

Gadis miliknya… yang membuat kesempurnaan hari ini.

***

MinYoung menarik nafas lega saat tepukan dari seluruh penjuru ruangan terdengar untuk dirinya. Setelah kegilaan yang baru saja ia lakukan. Muncul di atas panggung , mengangkat dagunya tinggi demi menampilkan pesona terbaiknya.

Sebuah senyuman yang menandakan hal yang ia lakukan memang benar membuatnya merasa nyaman. Tanpa aba-aba tubuhnya tertarik ke dalam tangan-tangan lain yang kokoh dan mengaburkan pandangan gadis itu dari senyum yang sedari tadi dipandangnya.

MyungSoo? L?

Yeoja itu menggeliatkan tubuhnya untuk melepaskan diri. Ani… bukan pelukan dari namja ini yang mau diterimanya, melainkan dari si pemberi senyuman, orang yang mendukung semuanya… YoungMin.

MyungSoo merasakan pelukan di tubuhnya melonggar. Pria itu berusaha mengeratkan kedua lengannya di pinggang yeoja di depannya, tapi MinYoung menolak dengan tegas sembari mengangkat kepala menatapnya.

“Kau tahu satu hal yang membuatku tidak mengejarmu saat kau memutuskan pergi ke Paris?”

“Karena kau juga punya hal penting di sini. Karirmu, segala kehidupanmu yang berharga.”

“Ani…” MinYoung menjawab lirih sambil menggelengkan kepalanya perlahan, “Bukan itu… sampai sekarang kau masih belum juga mengerti. Memang sepertinya itu yang menandakan kau tidak berubah.”

“Tapi itu masa lalu.”

“Yang menentukan masa depan kita…. Aku melakukannya bukan karena aku tidak mencintaimu lagi, Kim MyungSoo.”

“Kau masih mencintaiku?” Tanya MyungSoo perlahan, “Aku selalu mengetahuinya… itulah kenapa aku berani kembali ke sini.”

MyungSoo benar-benar merasakan MinYoung bergerak menjauh darinya. Sekarang di antara mereka berdua terdapat jarak beberapa langkah yang semuanya dibuat oleh MinYoung. Bukan mustahil baginya untuk mengenyahkan jarak itu, tapi ia merasa jarak yang tidak terlihat di antara mereka malah semakin besar.

“Kau masih juga tidak mengerti. Aku bukannya tidak mencintaimu, MyungSoo-ah… tapi kau yang memaksaku berhenti melakukannya. Kau tidak pernah sekalipun mencoba mempertahankanku.”

“Aku sedang berusaha melakukannya MinYoung-ah. Aku sedang mempertahankanmu.”

“Setelah beberapa tahun meninggalkanku? Setelah kejadian hari ini, aku semakin mengerti kau tidak pernah berjuang sama sekali. Kau selalu memulai, tapi tidak pernah sekalipun berjuang menjaganya.”

“Apa…”

“Show ini dibuat untuk mendapatkan perhatianku kembali kan? Dan apa yang terjadi? 1 masalah dan kau berniat menutupnya begitu saja. Aku mencurahkan seluruh perhatianku ke dalamnya, dan entah berapa banyak orang lain yang melakukan hal serupa, tapi yang kau pikirkan hanya dirimu.”

“Aku memang sudah berubah MyungSoo-ah. Kau harus mengakui itu. Aku berubah bukan karenamu, aku berubah karena aku lebih mencintai diriku sendiri semenjak kau meninggalkanku. Dan untuk itu, aku lebih memilih YoungMin yang lebih mengutamakanku,” tutup MinYoung sambil menyusupkan jemarinya ke dalam genggaman YoungMin.

Akhirnya, ia menyelesaikan cerita masa lalunya, keluar dari mulutnya sendiri kesimpulan yang ingin didengar oleh semua orang. Atau lebih tepatnya, kesimpulan yang ia sendiri ingin dengar.

“Aku kehilangan dirimu karena YoungMin?” ujar MyungSoo pelan.

“Ani… kau kehilangan diriku karena keputusanmu sendiri. Dan keputusanku memilih YoungMin tidak ada hubungannya sama sekali dengan semua ini. Jadi L ssi, silahkan nikmati hari ini… hadiah dariku dan YoungMin adalah show yang berakhir dengan sukses. Hubungan kerja kita resmi selesai.”

Dan segala hubungan kita di masa lalu juga berakhir di sini…

***

YoungMin memperhatikan dengan seksama setiap gerak-gerik yang MinYoung lakukan setelah gadis itu memasuki apartemennya. Tidak banyak yang gadis itu bicarakan selama di perjalanan. Ia bahkan tidak membahas sedikitpun tindakan yang baru saja dilakukannya setelah show.

Gadis itu… baru saja memilihnya. Dan entah kenapa YoungMin merasa kalau ia masih bermimpi. Pengakuan itu keluar dari bibir yang selama ini dinantikannya. Dari sosok yang beberapa tahun ini selalu ada di sampingnya, tapi ia sendiri menahan diri untuk sepenuhnya menganggap MinYoung miliknya.

Tanpa suara YoungMin melingkarkan kedua tangannya ke pinggang MinYoung dan menaruh dagunya di pundak gadis itu. Ia tidak bisa melihat ekspresi MinYoung karena melakukan back hug dari belakang punggung gadis itu, tapi sepertinya gadis itu mengerti apa yang ia rasakan dengan menyandarkan dirinya sepenuhnya kepada YoungMin.

“Gomawo…” bisik YoungMin kecil.

“Untuk?”

“Memilihku dan mengatakannya,” sambung namja itu masih dalam bisikan. YoungMin membenamkan wajahnya ke jenjang leher MinYoung, mengeluarkan senyuman yang sedari tadi tertahan.

“Aku sudah memilihmu dari dulu. Hanya saja kau yang tidak pernah mempercayainya.”

“Mianhae… gomawo… saranghae…. Saranghae MinYoung-ah….”

Dan YoungMin bisa merasakan jawaban serupa yang digumamkan oleh bibir MinYoung yang bergerak bersamaan dengan bibirnya. Ini bukan ciuman pertama mereka, tapi untuk YoungMin, rasanya lebih bermakna daripada sebelumnya.

Karena di saat ini, ia bisa menerima masa lalu mereka. Bahagia dengan masa yang sekarang sedang mereka jalani dan tidak ada setitikpun ketakutan dari masa depan yang akan mereka hadapi. Ia sudah memiliki kepastian…

2 thoughts on “[FF Chaptered] Story About Past, Present, Future / End

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s