You Are My Love

Author: Gita Oetary as Goetary

Cast: Kwon Yuri [SNSD], Shim Changmin [TVXQ]

Genre: Angst

Rating: PG (Pariental Guide)

Length: Ficlet

Type: WIP (work in progress) – Stand Alone

Note: Insyaallah fanfic ini bisa punya lanjutan yang pengerjaannya sedang dalam proses. Untuk setiap kelanjutan judulnya bisa sama juga bisa beda, ceritanya akan tetap saling berhubungan meskipun tidak menutup kemungkinan akan muncul pairing berbeda. Dan untuk tiap bagian bisa dibaca tanpa membaca part sebelumnya. Dan hal itu tidak akan mengurangi pemahaman setiap partnya.

GambarCopyright & Cross-Posting by Goetary-

***

Suasana sepi. Hanya ada seberkas cahaya dari kamar mandi yang lampunya dibiarkan menyala dengan pintu sedikit terbuka. Derak suara kursi goyang yang terletak di depan kamar dekat jendela menjadi satu-satunya suara di ruangan berukuran empat kali empat tersebut.

Dalam kamar yang kosong itu, ia termenung lama. Rambutnya panjang tergerai hingga menutupi dadanya. Wajahnya tirus namun tetap cantik. Bahkan dengan penampilan seadanya seperti sekarang.

Perlahan, tetes demi tetes air berguguran di depan wajahnya. Tiba-tiba saja kemarahan meluap di dalam dada.

“Sialan…” gumamnya. Tidak, lebih tepatnya memaki dengan suara yang tak jelas. Saat kembali air yang sama menghiasi penglihatannya, Yuri bangkit berdiri. Ada yang mendesak dalam dadanya. Yang terasa begitu perih. Ngilu.

Ia sadar dari mana asal genangan air tersebut. Bukan dari genteng yang mulai bocor karena hujan dan panas. Bukan pula dari badai yang hampir selalu datang tiap tahun ketika mendekati bulan Desember. Melainkan dari pria bertubuh tinggi itu.

Yang baru saja melewati pintu depan yang tadi tertutup rapat. Seakan menyadari bahwa kehadirannya sedang dinantikan.

Yuri cepat-cepat kembali menduduki kursi goyang lalu memejamkan matanya. Dengan napas teratur ia berpura-pura sudah terlelap, mengabaikan degup jantungnya yang berdegup tak karuan. Sedangkan suara kursi goyang yang terbebani oleh tubuh semampainya masih memenuhi ruangan yang sepi itu.

Dengan langkah-langkah lebar, lelaki itu mengendap-ngendap memasuki ruangan yang gelap. Ia sudah hafal tempat istrinya biasa menunggunya.

Lelaki itu memasuki kamar mandi dan menutup pintu di belakangnya.

Yuri membuka mata. Ia menatap pintu kamar mandi seraya mengerjap malas.

Ia termenung mendengar percikan air dari pancuran. Membayangkan tiap tetes jatuh menerjang kulit putih suaminya. Dan sesaat ia seakan dapat melihat dengan jelas. Ketika lelaki itu membasuh tubuhnya dengan sabun, lalu memenuhi kepalanya dengan sampo, membiarkan busa tetap menempel di tubuhnya sementara ia menyikat gigi.

Tanpa sadar ia memeluk tubuhnya erat-erat lalu kembali terpejam. Dan pertanyaan itu kembali menghantuinya.

Sudah berapa lamakah ia menunggu? Menunggu lelaki itu menyentuhnya? Sudah berapa lamakah waktu berlalu sejak mereka tak lagi saling bicara? Sudah berapa lamakah? Rasanya sudah seperti ribuan tahun.

Semerbak wangi bunga bercampur manisnya vanilla menyentuh indra ciumnya. Yuri tersadar dari lamunannya.

“Kau bisa masuk angin tidur disana. Aku tahu kau sudah bangun.”

Suara yang menegurnya itu tegas dan dingin seperti biasa. Sekejap saja, hatinya terasa pilu.

“Kau dengar aku?” tegurnya lagi.

“Aku baik-baik saja.”

“Aku berkata begitu untuk kebaikanmu sendiri Yul, jangan meremehkan kondisi tubuhmu.”

Lalu suara itu lenyap. Diganti keheningan yang kembali merajalela. Kesepian yang seakan mengambil alih rumahnya. Yang mengambil alih jiwanya.

Yuri menarik napas dalam-dalam. Air mata merembes keluar dari sudut matanya. Bibirnya yang tipis bergetar seiring dengan tubuhnya yang gemetar. Sudah lama ia tak merasakan emosi seperti ini. Perasaan yang ia rasakan sekarang ternyata tidak lebih baik dari kehampaan yang selalu menemaninya.

Ia berdiri dari kursi goyang itu.

Disambut dengan derit pintu kamar yang terbuka.

Lagi-lagi wangi semerbak menyentuh ujung hidungnya.

Dan Yuri mematung disana. Tak sanggup bergerak. Hatinya kembali tercabik-cabik. Sekali lagi. Untuk yang kesekian kalinya.

“Jangan tunggu aku.”

“Mau kemana lagi? Kau baru saja kembali kan?”

“Yuri, berhenti memprotes semua yang kulakukan. Kecuali kau bisa memberikan apa yang kuinginkan.”

Yuri termenung.

Dengan menjinjing tas berisi pakaian lelaki itu berjalan menuju pintu.

Namun tepat sebelum lelaki itu berhasil meraih gagang pintu, Yuri menghentikannya.

Oppa…”

Changmin memutar badannya, dengan malas berdiri bertumpu pada sebelah kaki.

“Aku tahu ini semua salahku. Aku minta maaf sudah mengecewakanmu. Maaf semuanya terlanjur seperti ini. Kau pasti lelah sudah berusaha sekuat itu hanya untuk membuatku hamil.” Yuri terdiam sesaat. Air mata kembali menitik keluar.

“Tapi aku mencintaimu sepenuh hatiku, Oppa. Dan meskipun tak dapat memiliki keturunan, aku akan tetap bahagia bersamamu, jadi aku…”

“Aku tak butuh itu!” potong Changmin tegas. “Aku menginginkan penerus yang bisa kubanggakan pada orang tuaku. Bukan istri yang mandul sepertimu!”

Secepat malam berganti siang, secepat bulan-bulan berganti tahun, secepat masa perkawinan mereka yang singkat, secepat saat Changmin mencuri hatinya ketika mereka di bangku kuliah beberapa tahun yang lalu, secepat itu pula air mata mencuri jalan keluar. Secepat itu pula pintu tertutup di hadapannya ketika Changmin melangkah pergi.

Dan secepat itu pula sembilu mengiris hatinya yang terluka.

Yuri terhempas jatuh ke lantai yang dingin. Namun dinginnya lantai tak lagi mampu membuatnya panik. Kini, lubang dalam yang selama ini menunggunya akhirnya menemukan celah untuk menghisapnya jauh ke perut bumi yang lebih gelap daripada malam.

Dan tak ada lagi yang mampu ia lakukan. Jadi Yuri membiarkan kepedihan itu menguras habis tenaganya, air mata yang bercucuran sudah tak lagi di hiraukan olehnya. Ia membiarkannya jatuh. Bahkan berharap dirinya bisa sekaligus jatuh bersama tiap tetes air mata. Dan tenggelam selamanya dimana perasaan tak lagi dibutuhkan.

-See you next time-

 

8 thoughts on “You Are My Love

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s