Black Christmas

Judul                     : Black Christmas

Author                 : Park Sooyun

Genre                  : Family, Hurt/Comfort

Rating                  : General

Cast                      : Kai EXO-K

 

 

Suara tawa terdengar dari ruangan itu. Beberapa anak nampak bermain dengan dekorasi khas Natal, terkadang mereka melemparnya ke arah satu sama lain dan pengurus panti asuhan akan memarahi mereka. Suasana nampak ceria. Namun Kim Jongin lebih memilih menghindar dari suasana itu. Ia kembali ke kamarnya.

Gema kebahagiaan menyambut Natal tidak mempengaruhi perasaan Jongin terhadap salah satu hari sakral umat Kristen tersebut. Ia tetap membenci Natal. Baginya, anak-anak itu tidak tahu apa-apa tentang Natal. Mereka hanya tahu bahwa Natal adalah hari yang dipenuhi tawa dan kebahagiaan.

Ingin rasanya Jongin berteriak supaya tertawaan yang menganggu dirinya itu berhenti. Karena suara tawa itu justru membuatnya kembali teringat pada kejadian kelam dalam hidupnya.

Masih jelas dalam ingatannya, ketika suasana Natal yang khidmat dan penuh dengan doa, berubah menjadi mengerikan. Gumaman doa-doa seketika berubah menjadi teriakan-teriakan yang memekakkan telinga.

Jongin menutup matanya—berusaha untuk menghentikan rekaman masa lalu yang akan bermain di otaknya. Namun rekaman itu tetap memaksa untuk ‘bermain’.

 

Ini adalah Natal yang sangat berkesan bagi Jongin kecil. Anak yang baru berusia delapan tahun itu menerima hadiah ‘pertamanya’ dari sang ayah. Sebuah miniatur mobil. Meskipun berlabel harga murah, anak tersebut tidak peduli. Ia tahu keadaan ekonomi ayahnya yang membuatnya hanya bisa memberikan miniatur itu sebagai hadiah Natal.

Berbeda dengan ibunya. Sang ibu memberikan Jongin sebuah syal merah rajutannya sendiri. Jongin memakai syal tersebut di hari Natal ini, ia juga membawa miniaturnya ke gereja.

Di dalam gereja keadaannya sangat khidmat. Nyanyian-nyanyian khas gereja mengalun di bangunan yang tidak terlalu besar itu. Gumaman-gumaman doa mengiringi upacara sakral itu.

Jongin duduk bersama kedua orangtuanya di bangku yang berada di ujung belakang. Mereka datang agak terlambat tadi, sehingga mendapat tempat di belakang.

Sambil menggenggam erat miniatur mobil miliknya, Jongin kecil berdoa dalam hati. Ia juga bersyukur, atas apa yang telah ia terima selama ini—sebuah keluarga kecil yang sederhana, namun mau menyayangi dirinya.

Tiba-tiba suasana khidmat tersebut berubah total. Yang terdengar bukanlah gumaman-gumaman doa, namun teriakan histeris dari hampir seluruh jemaat gereja.

Jongin membuka matanya, dan ia melihat seorang lelaki paruh baya berdiri di tengah-tengah sambil mengacung-acungkan pistol yang ia bawa.

“Hyesin, bawa Jongin pergi! Cepat!” seru ayah Jongin.

Buru-buru ibu Jongin menarik lengan Jongin dan mereka berlari ke arah pintu gereja. Jongin hanya memandangi ayahnya yang tiba-tiba terjatuh. Lalu ia sadar, ayahnya telah ditembah oleh pria paruh baya itu.

“Ayah!” teriak Jongin. “Ayah!”

Kaki Jongin tiba-tiba terantuk kaki ibunya—bersamaan dengan suara tembakan yang kembali terdengar. Ia terjatuh dan mengaduh dengan cukup keras. Lalu ia membalikkan badannya, dan menemukan sang ibu sudah terbaring di lantai dengan darah yang mengalir dari perutnya.

“Ibu?! Ibu!!”

 

“Bagaimana hasil penyelidikannya?”

“Kami sudah mengetahui bagaimana kronologi kejadian itu. Penembakan terjadi sekitar pukul 07.48 ketika seluruh jemaat sedang berdoa. Tiba-tiba si pelaku mengambil pistol yang ia sembunyikan di dalam jaketnya, lalu menembaki jemaat secara membabi buta. Setelah melakukan penembakan, ia menembak dirinya sendiri. Tidak diketahui motif penembakan itu, namun diduga si pelaku mengalami depresi berat.”

“Berapa jumlah korban selamat?”

“Empat orang. Dua wanita, seorang lelaki tua, dan anak kecil itu.”

Polisi itu menunjuk seorang anak kecil yang sedang duduk. Ia hanya terdiam sambil mengelus syal merahnya dan menggenggam erat miniatur mobil yang ia pegang.

“Siapa namamu?” Si polisi bertanya.

“Kim Jongin.”

Polisi itu lalu beralih ke rekannya. “Keluarganya yang lain sudah ditemukan?”

“Kami sudah mengeceknya. Tapi ia tidak punya keluarga selain orangtuanya yang menjadi korban.”

Si polisi kembali beralih ke Jongin. “Maaf, Nak. Kurasa kami akan mengantarkanmu ke panti asuhan.”

 

Kenangan itu terhenti. Jongin memang tidak berniat untuk melanjutkan rekaman itu. Karena hal itu hanya akan membuat lukanya semakin dalam. Dan membuatnya semakin membenci Natal.

Ia benci Natal. Ia menyalahkan Natal seolah-olah Natal yang telah membuat orangtuanya terbunuh. Membuat orang-orang yang ia cintai pergi. Membuat kehidupannya menjadi kelam…

Air mata menetes dari sudut mata Jongin. Lelaki itu belum juga melepas semua luka masa lalunya; walau waktu telah berlalu hingga ia berusia tiga belas tahun.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seorang anak laki-laki seusia Jongin berdiri di depan pintu.

“Jongin-ah, ayo merias pohon Natal bersama kami!” kata anak itu.

“Pergilah, Baekhyun!” usir Jongin kasar. “Aku ingin sendiri.”

Anak bernama Baekhyun itu hanya tersenyum masam. Lalu pergi meninggalkan Jongin tanpa menyahut apa-apa.

Dulu Jongin adalah anak yang ceria, baik dan ramah terhadap semua orang. Namun semuanya berubah, setelah kejadian itu. Dalam sekejap ia menjadi anak yang dingin dan suka menyendiri.

Ia masih ingat. Ketika dulu pertama kali sampai di panti asuhan ini—tepat di hari orangtuanya terbunuh. Raut wajah datar yang ia tunjukkan ketika si pengurus panti mengenalkannya pada anak-anak panti asuhan yang lain.

Ketika anak-anak yang lain bermain, ia hanya termenung sendirian di kamar. Bermain-main dengan miniatur mobil pemberian ayahnya atau sekedar melilitkan syal buatan ibunya ke sekeliling lehernya.

Ketika semua anak meributkan hadiah Natal apa yang akan mereka terima, ia hanya diam di dekat perapian.

Atau ketika semua anak merasakan kebahagiaan Natal yang sesungguhnya, ia hanya merasakan berjuta sakit dan pedih atas apa yang telah terjadi dalam hidupnya.

 

 

Rasa antusias yang dimiliki anak-anak lain sama sekali tidak dimiliki Jongin. Lelaki itu hanya duduk di tepi tempat tidurnya sambil memandangi salju yang menempel di jendela kamar. Ia menghiraukan obrolan-obrolan hangat Suho dengan Kyungsoo, banyolan-banyolan konyol khas Baekhyun, tertawaan keras Chanyeol, atau pertengkaran kecil yang dilakukan Yixing dengan Sehun karena meributkan sepatu mereka yang tertukar.

Suasana hangat itu dihiraukan begitu saja oleh Jongin. Suasana kekeluargaan itu dianggapnya angin lalu. Padahal, suasana itu bisa menyembuhkan luka di hatinya. Bisa menghapuskan kenangan masa lalu yang selama ini membuatnya tersiksa.

Namun ia terlalu egois. Ia terlalu gengsi. Jika kamar yang tidak pernah dibuka saja terasa pengap, apalagi dengan hati? Itulah yang terjadi pada Jongin. Egoisme yang ia miliki terlalu besar. Ia terlalu berorientasi pada masa lalu.

“Hei, cepat kalian keluar! Kita akan ke gereja sebentar lagi!” Tiba-tiba seorang anak berwajah imut datang.

Anak-anak yang lain menghentikan kegiatan mereka lalu segera keluar ruangan, namun Jongin tidak menggerakkan badannya sedikit pun. Suho yang melihatnya memutuskan untuk menghampiri Jongin.

“Jongin-ah, ayo kita keluar. Sebentar lagi kita akan ke gereja. Kau tidak ingin ditinggal sendiri, ‘kan?”

Tatapan datar menghiasi wajah Jongin. “Justru aku akan senang bila ditinggal di sini sendiri.”

Suho tidak kaget dengan jawaban yang diberikan Jongin. Ia tahu, Jongin selalu berada dalam masa-masa sulit, terutama ketika Natal datang. Ia tetap berusaha untuk membujuk Jongin. “Sendirian itu tidak enak. Terjebak dalam kesunyian juga tidak membuat nyaman.”

Oh, ayolah Kim Jongin. Yang dikatakan temanmu itu benar. Sendirian itu tidak enak, begitu juga dengan kesunyian. Seharusnya kau tahu itu, seharusnya kau sadar itu…

Perlahan Jongin bangkit dari tempat tidurnya. “Baiklah…”

Suho hanya tersenyum kecil melihat Jongin yang berhasil ia bujuk.

 

 

Perjalanan menuju gereja dihiasi oleh keceriaan Natal yang terpancar dari anak-anak itu. Kyungsoo, Baekhyun dan Jongdae dengan bangga memamerkan suara indah mereka. Yixing, Sehun dan Minseok asyik bergoyang. Luhan dan Suho ikut menyanyi, namun dengan asal; sementara Tao, Kris dan Chanyeol menyanyikan lagu Natal versi rap. Hanya Jongin yang sibuk dengan pikirannya sendiri.

Lelaki itu menyandarkan bahunya ke bangku bus. Ia tidak memperdulikan Yixing yang duduk di sebelahnya sedang asyik menggoyangkan kedua jempolnya. Ia hanya peduli pada dirinya sendiri.

Ketika bus berbelok dan hampir sampai di tempat tujuan, anak-anak itu bersorak. Dengan malas Jongin mengangkat kepalanya. Dan ia mengerjap kaget, ketika tahu bahwa gereja yang dituju adalah gereja tempat penembakan itu dulu terjadi. Jongin memang pernah mendengar bahwa gereja itu kembali dibuka sebulan setelah peristiwa itu terjadi. Namun ia tidak menyangka akan kembali ke sana.

Seluruh badan Jongin bergetar. Keringat mengucur dari dahinya. Ia menatap kaku bangunan itu—tempat dimana terakhir kali ia melihat orangtuanya.

Bus berhenti tepat di seberang gereja itu. Semua anak turun dari bus—begitu juga dengan Jongin. Seorang pengurus panti sibuk memberi arahan kepada anak-anak panti yang lain supaya tertib.

Dengan tertib semua anak panti asuhan itu memasuki gereja dan menempati bangku yang berada di barisan depan. Jongin hanya menatap lantai; matanya tidak berani menjelajahi isi gereja tersebut. Ia sempat terantuk oleh Kris dan Kris menatapnya heran, namun ia tidak peduli. Buru-buru ia mengambil tempat, di sebelah kanan Sehun.

Acara Misa Natal itu akhirnya dimulai. Suara-suara nyanyian khas gereja mulai terdengar. Dan hal itu membuat Jongin terganggu. Ia menatap sekelilingnya dengan pandangan seperti orang ketakutan. Sinar matanya menyiratkan sebuah fobia yang selalu menyiksa dirinya.

Badan Jongin semakin bergetar. Keringat semakin deras mengucur dari badannya. Tiba-tiba suasana hangat gereja berubah menjadi mencekam. Suara-suara nyanyian khas gereja pun ikut menghilang. Yang terdengar hanya suara tembakan dan teriakan orang-orang yang berusaha melarikan diri.

Rekaman di otak Jongin kembali berputar, memainkan sebuah film pendek yang sangat menakutkan. Jongin dapat melihat semuanya dengan jelas; saat seorang lelaki paruh baya menembakkan pistolnya ke seisi gereja, saat ayahnya terjatuh karena terkena tembakan, dan saat ia melihat darah yang mengalir dari perut ibunya.

Tidak! Ia harus pergi dari sini. Atau ia akan bertambah gila.

Jongin segera bangkit dari tempat duduknya, melesat begitu saja ke arah pintu gereja, dan meninggalkan teman-temannya yang berusaha untuk mengejarnya.

 

 

Ia hanya berlari. Terus berlari hingga rasa sakit di dadanya hilang. Namun bukannya menghilang, justru luka itu semakin menghunuskan pedang ke dalam batinnya. Dan ketika rasa sesak memenuhi dadanya, ia memutuskan untuk berhenti.

Setidaknya sudah cukup jauh dari gereja itu.

Kim Jongin mengedarkan pandangannya. Ia melihat sebuah tempat sepi di sudut sana. Akhirnya ia menyeret kakinya ke tempat itu—tepatnya ke bawah sebuah pohon rindang. Dengan napas tersengal, ia memeluk kedua kakinya. Menenggelamkan wajahnya di balik tangannya—seolah berusaha untuk menyembunyikan dirinya yang kini sedang menangis.

Badan Jongin menggigil hebat. Bibirnya bergetar dan air mata terus mengalir dari sudut matanya. Dadanya terasa sesak. Luka masa lalunya kembali terbuka dan menimbulkan rasa sakit yang hebat.

“Ayah… Ibu… Kembalilah, kumohon…” isak Jongin.

Ya Tuhan… Kenapa ia harus mengalami hal seperti ini? Ia hanya seorang anak polos yang butuh kasih sayang, yang butuh pelukan hangat dari sebuah keluarga. Ia terlalu kecil untuk menanggung penderitaan seberat ini.

Lelaki itu kembali terisak. Ia semakin erat memeluk kakinya.

“Ternyata kau di sini…”

Suara itu membuat Jongin mengangkat kepalanya. Ia dapat melihat teman-temannya sedang berdiri di hadapannya. Teman-temannya terlonjak sedikit—mungkin mereka kaget melihat Jongin yang sedang menangis. Mungkin mereka kaget dengan perubahan sikap Jongin. Tak percaya bahwa lelaki yang sangat dingin dan agak kasar itu kini tengah menangis… dan butuh sebuah pelukan hangat yang dapat menyembuhkan luka masa lalunya.

“Kami tahu seberapa besar penderitaan yang kau tanggung selama ini, Jongin-ah,” Yixing mulai bersuara. Ia mendekati Jongin dan berjongkok di hadapannya. “Karena itu, jangan menyimpan penderitaan itu sendirian. Kami akan selalu bersamamu—untuk menjadi tempatmu berbagi. Karena kami adalah keluargamu…”

Jongin terdiam dan mulai menyadari kebodohannya. Ya, ia bodoh. Bodoh karena terlalu berorientasi pada masa lalunya. Bodoh karena memelihara luka lama itu. Bodoh karena ia tidak menyadari, bahwa ia punya masih punya keluarga… yaitu teman-temannya.

Teman-teman yang selalu ada untuknya. Teman-teman yang tak kenal lelah untuk menghiburnya, walau telah berkali-kali ia tolak dengan kasar. Ia masih ingat semuanya. Suho yang sering mengajaknya bermain catur, Kyungsoo yang sering menawarkannya makanan, Baekhyun dan Chanyeol yang selalu melawak di depan dirinya, Yixing yang sering mengajaknya untuk sama-sama mempelajari tarian Jazz, serta teman-temannya yang lain…

Keegoisannya telah membelenggu dirinya sendiri untuk mendapatkan penyembuh luka masa lalunya. Ia seharusnya tahu; ia sudah terlalu jauh berlari. Berlari dari rasa sakit dan tidak berusaha untuk menyembuhkannya.

Jongin kembali menangis dan ia memeluk Yixing yang berjongkok di depannya. Yixing terlonjak kaget, namun beberapa detik kemudian ia membalas pelukan Jongin dan ikut menangis. Tak lama kemudian Luhan ikut menangis, disusul Kyungsoo, Baekhyun, Jongdae dan semua teman-temannya. Hanya Kris dan Suho yang tidak menangis—walau mata mereka telah berkaca-kaca.

Suho mendekati Jongin dan menepuk pundak lelaki itu. Jongin melepas pelukannya dan menatap Suho.

“Jangan buat dirimu menderita. Kami ada di sini untuk menghiburmu. Kami juga keluargamu ‘kan?” katanya sambil tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya, Jongin tersenyum. Senyum pertamanya sejak peristiwa kelam dalam hidupnya.

Hm, tidak selamanya Natal itu buruk ‘kan, Kim Jongin? Walaupun di hari Natal kau kehilangan kedua orangtuamu, setidaknya di hari Natal pula kau bertemu kesebelas temanmu ini—yang bersedia untuk menjadi penyembuh luka masa lalumu.

 

The End

11 thoughts on “Black Christmas

  1. Wihh kerenn thor, daebakk!! :D suka sama ff-nya, gimana ya, brothership, sama story life-nya kerasa banget hehe keren2, nyesek juga sih ya kalo jadi kai T.T nice ff thor, ditunggu ff selanjutnya ya :D

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s