Dear Brother

Author                         : Park Sooyun

Title                             : Dear Brother

Cast                             : Lee Taemin, Kim Jongin

Genre                          : Family/Brothership

Length                         : Oneshot

Rating                         : General

 

“Walaupun aku harus menjadi cacat selamanya,

 itu lebih baik daripada aku sembuh

tapi hyung tidak ada untuk melihat kesembuhanku.”

 

 

Suara berderit terdengar dari sebuah kamar di sudut sana. Seorang lelaki  menegakkan badannya dan melirik jam dinding dengan tatapan lirih. Lalu dengan susah payah ia menggeser badannya ke tepi ranjang, menurunkan kakinya dan menjulurkan kedua tangan untuk meraih kursi roda yang berjarak sekitar sepuluh senti dari tempat tidurnya.

Ketika tangannya berhasil menggapai kursi roda itu, ia mencengkeram pinggiran kursi roda. Dan dengan sedikit dorongan, ia mengayunkan badannya hingga berhasil duduk di kursi roda.

Tanpa membuang waktu, ia segera menggerakkan kursi rodanya menuju dapur. Saat ia baru sampai di ruang tengah, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah. Kebetulan rumah yang ia tempati berukuran kecil dan hanya memiliki sedikit sekat antara satu ruang dengan ruang yang lain. Jadi ia bisa melihat seisi rumah hanya dari ruang tengah.

Dengan segera ia membuang pandangannya dan mendengus kesal. Lalu ia menggerakkan kursi rodanya lagi menuju dapur—lebih tepatnya ke arah kulkas yang ada di sudut dapur.

Ia mengerutkan keningnya ketika melihat sebuah note yang ditempelkan di pintu kulkas.

 

Aku berangkat kerja dulu. Roti dan selai ada di kulkas.

 

Sekali lagi ia mendengus. Dengan sekali sentakan ia menarik note itu, meremasnya dan membuangnya ke lantai. Tanpa memperdulikan hati si penulis note tersebut, ia membuka pintu kulkas dan mengambil roti serta selai kacang. Lalu membawa makanan itu ke meja makan.

Lee Jongin mengoleskan selai kacang ke atas roti dengan tatapan datar. Sekilas ia melirik note yang tadi ia buang dan mendengus. Ia muak, sungguh muak. Hampir setiap hari kakaknya—si penulis note itu—memberikan perhatian tidak berguna lewat note yang ditempelkan di pintu kulkas.

Ya, perhatian yang diberikan Lee Taemin, kakaknya, memang tidak berguna. Oh, bahkan Jongin tidak menganggapnya sebagai perhatian. Ia menganggapnya seperti pengalih tanggung jawab Taemin sebagai kakaknya.

Ia selalu bertanya-tanya; untuk apa Taemin menulis note seperti itu tiap pagi. Untuk mencari perhatiannya? Untuk mengalihkan tanggung jawab yang dia punya? Atau untuk membuat Jongin memaafkan atas semua perbuatan Taemin di masa lalu?

Hah! Pemberian maaf tidak akan merubah semuanya.

Jongin masih ingat dengan jelas kejadian beberapa tahun silam. Ketika dirinya masih akrab dengan Taemin.

Kedua kakak-beradik itu telah menjadi yatim piatu sejak kecil. Mereka pun hidup mandiri di rumah peninggalan orang tuanya dan mengandalkan tabungan warisan orang tua untuk mempertahankan hidup mereka.

Jongin dan Taemin memiliki satu persamaan yang membuat mereka kuat—yaitu sama-sama suka menari. Terkadang ketika musik mengalun dari radio, secara reflek mereka akan menari sesuai irama musik.

Dance membuat mereka bersatu sebagai kakak-adik dan merasakan kesedihan sebagai yatim piatu.

Dan saat tabungan warisan orang tua mereka mulai menipis, mereka memutuskan untuk bekerja kecil-kecilan. Mereka bekerja di sebuah kebun dekat hutan untuk membantu si pemilik kebun dengan membersihkan dan memanen kebun.

Suatu hari ketika mereka tengah bekerja, Taemin tiba-tiba meninggalkan Jongin. Jongin yang saat itu  masih berumur sepuluh tahun mencari ke seisi kebun. Lalu pencariannya itu ia lanjutkan ke hutan. Ketika ia melihat Taemin sedang mengambil jamur di pinggir jurang, ia meneriaki kakaknya untuk menjauhi jurang karena takut Taemin akan terjatuh. Namun Taemin mengacuhkannya dan tetap mengambil jamur-jamur yang tumbuh di pinggir jurang.

Akhirnya Jongin berjalan menghampiri Taemin dan menariknya untuk kembali ke kebun. Taemin tetap menolak dan berusaha untuk melepaskan tangan Jongin. Tanpa sengaja, Jongin terdorong ke jurang yang dalamnya hampir sepuluh meter.

Jongin meringis kesakitan ketika melihat darah keluar dari luka di kakinya dan kakinya sulit untuk digerakkan. Ia berteriak meminta pertolongan, namun ketika ia melihat ke atas, Taemin sudah menghilang.

Setelah beberapa jam terjebak di dalam jurang, ada seorang backpacker yang kebetulan sedang lewat datang untuk menolongnya. Jongin pun dibawa ke rumah sakit.

Jongin memang selamat—dan ia amat bersyukur akan hal itu. Namun dokter berkata bahwa kedua kakinya tidak bisa digerakkan karena syaraf kakinya mengalami masalah yang cukup serius.

Akhirnya Jongin harus menggunakan kursi roda. Dan ketika ia duduk muram di atas kursi rodanya, tiba-tiba Taemin datang dan meminta maaf padanya. Sebenarnya Jongin bisa menerima permintaan maaf  kakaknya, namun ia segera menarik kata-kata maaf itu ketika melihat Taemin berubah.

Seingatnya, Taemin adalah sosok kakak yang baik, perhatian dan bertanggung jawab. Namun semuanya berubah. Sejak mengalami kecelakaan itu dan kakinya cacat, Taemin tidak memperhatikannya lagi.

Setiap hari, Taemin pergi dari rumah sejak pukul enam pagi dan pulang hampir pukul dua belas malam. Dan dia menggunakan alasan ‘bekerja’ untuk kebiasaannya itu. Namun yang membuat Jongin terheran-heran adalah, jika Taemin memang bekerja dari pagi hingga larut malam seperti itu, mengapa uang bulanan yang diberikan Taemin selalu dibawah standar? Bukannya ia tidak bersyukur, hanya saja uang bulanan itu tidak pernah lebih, selalu nge-pas bahkan terkadang kurang.

Dulu ia sempat mendengar cerita dari tetangganya bahwa tetangganya itu melihat Taemin berada di sebuah bar saat jam sebelas malam.

Dan hal itulah yang membuat Jongin geram dan memutuskan untuk tak memperdulikan Taemin—seperti yang kakaknya lakukan padanya. Jadi selama ini Taemin pergi dari pagi hingga larut malam hanya untuk bekerja lalu menghabiskan gajinya di bar? Dan memberikan sisa gajinya yang sedikit itu pada adiknya sendiri?

Perubahan sifat Taemin itulah yang membuat Jongin membenci kakaknya. Sangat benci.

 

 

Angin bertiup kencang dan hujan turun dengan derasnya. Kilatan cahaya beberapa kali terlihat. Kilatannya dapat terlihat dari dalam jendela rumah. Lee Jongin tak henti-hentinya menghitung detik dalam hatinya. Sesekali ia melirik jam dinding yang hampir menunjukkan pukul satu dini hari.

Ia tak tahu apa yang sedang ia lakukan. Sebenarnya, ia bisa saja langsung meringkuk di atas tempat tidurnya yang nyaman, melalang buana di dunia mimpi dan melupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan hidupnya. Namun entah kenapa, ketika hujan turun dengan deras dan cuaca seketika berubah drastis, ia memutuskan untuk menunggu kakaknya. Sepertinya ia… khawatir.

Tidak biasanya Taemin belum pulang hingga selarut ini. Ditambah lagi dengan cuaca buruk yang melanda. Seharusnya kakaknya sudah berada di rumah saat ini.

Sesungguhnya, Jongin tidak ingin memikirkan kakaknya. Untuk apa ia memikirkan orang yang bahkan tidak pernah memikirkannya? Namun perasaan khawatir itu muncul seiring berjalannya waktu. Mungkin itu adalah naluri seorang adik yang sempat terpendam beberapa tahun terakhir ini.

Jongin melirikkan matanya ke arah pintu ketika mendengar suara derap langkah. Beberapa saat kemudian, pintu itu terbuka dan terlihatlah seorang lelaki memakai jaket abu-abu. Sekujur tubuhnya basah kuyup.

Lelaki itu—Lee Taemin—masuk ke dalam rumah dan menutup kembali pintu. Ia segera melepas jaketnya dan melemparnya ke lantai dengan asal. Jongin yang melihat hal itu hanya diam karena ia sudah terbiasa.

Namun bukan hal itu yang menjadi perhatian Jongin. Sedari tadi ia memperhatikan wajah pucat Taemin yang nampak kelelahan dan bekas luka gores di lengan kakaknya.

“Lenganmu… kenapa?” tanya Jongin—hanya untuk sekedar basa-basi.

“Tidak apa-apa,” Taemin menjawab tanpa ekspresi. Ia segera pergi ke kamarnya.

“Kau tidak apa-apa?”

“Aku baik-baik saja, Jongin,” jawab Taemin dari kamarnya.

Sudah ia duga. Menaruh rasa khawatir pada kakaknya memang tidak ada gunanya. Yang ada hanyalah respon pendek tanpa ekspresi dan dipenuhi nada datar.

Akhirnya Jongin memutuskan bahwa ini adalah kali terakhir ia memperhatikan kakaknya. Selanjutnya ia tidak akan melakukannya. Apapun yang terjadi, ia tidak akan peduli.

 

 

Beberapa saat yang lalu, Jongin menerima telepon dari salah satu teman Taemin. Teman kakaknya itu berkata bahwa Taemin mengalami kecelakaan di tempat kerjanya dan sekarang berada di ruang ICU rumah sakit.

Setelah mendengar kabar itu, Jongin tak lantas segera pergi ke rumah sakit. Mulanya ia terdiam di atas kursi rodanya. Memikirkan tentang perubahan sifat kakaknya. Barulah ia memutuskan untuk ke rumah sakit—sebagai simbol atas ikatan darah antara ia dan kakaknya.

Sesungguhnya, ia ingin mengatas namakan alasannya itu sebagai bentuk rasa khawatir dan sayang untuk kakaknya. Namun ia tidak mau; setelah ia menunjukkan hal tersebut, yang didapat dari kakaknya hanyalah sikap acuh tak acuh.

Jongin turun dari taksi yang ia tumpangi—dengan bantuan si supir, tentu saja. Lalu ia menggerakkan kursi rodanya menuju ruangan tempat Taemin dirawat. Untung saja ruang ICU terdapat di lantai bawah, sehingga ia tidak perlu repot-repot menaiki lift. Mengingat keadaan kakinya, ia akan kesulitan untuk melakukan hal itu.

Ketika sampai di depan ruang ICU, ia melihat teman kakaknya duduk di bangku pengantar pasien. Ia menghampiri teman kakaknya itu.

“Terima kasih sudah memberitahuku kalau Taemin hyung mengalami kecelakaan, Tuan…”

“—Shin Dongho.”

Jongin tersenyum kecil. “Ah ya, terima kasih banyak, Dongho-ssi.”

Lelaki itu balas tersenyum. “Sama-sama. Kau pasti Jongin. Taemin sering membicarakanmu, tahu.”

Kening Jongin berkerut. Taemin sering membicarakan dirinya pada temannya? Apa ia tidak salah dengar? Ingin rasanya Jongin tertawa. Karena hal itu sangat lucu.

“Oh ya? Memangnya apa yang ia katakan tentang diriku?” tanya Jongin dengan nada sedatar mungkin.

“Ia bilang padaku bahwa kau adalah satu-satunya keluarga yang tersisa untuknya. Karena itu, ia sangat menyayangimu dan bekerja sekeras mungkin agar dapat menghidupimu dengan layak.”

Jongin terdiam.

“Dulu ia juga pernah bilang,” lanjut Dongho. “kalau ia merasa sangat menyesal karena membuat kakimu—maaf—menjadi seperti itu. Seharusnya ia tidak meninggalkanmu sendirian, tapi ia memutuskan untuk mencari bantuan orang. Ketika ia menemukan seseorang yang mau membantunya, ia kembali untuk menjemputmu, tapi kau sudah tidak ada. Dan ia mendengar kabar bahwa kau sudah berada di rumah sakit.”

“Taemin hyung… berkata seperti itu?” tanya Jongin setengah tidak percaya.

“Ya. Perlu kau tahu, aku dan Taemin adalah sahabat dekat. Ia sering curhat padaku, jadi tak usah heran jika aku tahu banyak tentang dia.”

Rasanya Jongin mulai tertarik dengan pembicaraan ini. “Menurut Anda, Taemin hyung orang yang seperti apa?”

Dongho menarik sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan kecil. “Satu hal yang dapat aku simpulkan: ia adalah orang yang suka bekerja keras. Ia bekerja dari pagi hingga malam hanya untuk mengumpulkan uang. Ia bilang, uang itu ia kumpulkan untuk membiayai operasi kakimu. Terkadang ia merasa menyesal ketika menyerahkan gajinya yang tinggal sedikit padamu. Ia ingin menghidupimu dengan hal-hal yang enak, namun ia tahu bahwa ia harus menyisihkan sebagian besar gajinya untuk ditabung sebagai biaya operasimu mendatang. Mungkin kau kaget mendengar hal ini, namun Taemin menyembunyikannya darimu karena tidak ingin membuatmu khawatir.”

Perlahan Jongin tahu sebuah sisi dari kakaknya yang selama ini hilang dan sengaja disembunyikan dari dirinya. Kini ia tahu mengapa Taemin sering pulang larut malam; kakaknya ternyata bekerja sangat keras dari pagi hingga malam. Mengapa uang bulanan yang ia terima dari Taemin jumlahnya tidak seberapa; karena Taemin menyisihkan sebagian besar gajinya untuk membiayai operasi kakinya.

“Jika saja ia tidak bekerja terlalu keras… Jika saja ia tidak memikirkanmu—adik yang sangat ia sayangi, mungkin ia tidak akan mengalami kelelahan dan terjatuh dari tangga ketika ia bekerja,” gumam Dongho. Lalu ia menatap Jongin. “Jangan jadikan ucapanku tadi sebagai beban, ya. Aku hanya merasa kalau… Taemin sangat menyayangimu. Aku jadi ingin punya kakak seperti dia.”

Penjelasan panjang dari Dongho membuat Jongin tersenyum. Senyum yang selama ini tidak ia munculkan di wajahnya sebagai rasa sayang pada sang kakak.

“Taemin hyung… memang kakak yang sangat baik,” sahut Jongin. Baru kali ini ia merasa bersyukur punya kakak seperti Taemin.

“Ya, aku setuju denganmu. Ah maaf, aku harus pergi sekarang. Masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan.”

“Silahkan, Dongho-ssi. Terima kasih telah menjaga Taemin hyung ketika aku belum berada di sini.”

Dongho tersenyum. “Oh,” Sepertinya Dongho ingat akan sesuatu. Ia menyerahkan bungkusan plastik yang ia pegang kepada Jongin. “Ini barang-barang milik Taemin. Untung saja aku tidak lupa. Aku pergi dulu, ya. Permisi.” Ia bangkit lalu segera pergi.

 

 

Sudah hampir setengah jam Jongin berada di luar ruang ICU. Namun ia belum melihat dokter yang merawat kakaknya. Ia ingin sekali masuk ke dalam ruangan itu, namun sayangnya ia tidak diperbolehkan oleh suster rumah sakit.

Jongin meremas kantung plastik berisi barang-barang Taemin yang tadi diberikan Dongho. Ketika pintu ruang ICU terbuka, Jongin mendongakkan kepalanya dan melihat seorang dokter berdiri di sana.

“Apa ada yang melihat keluarga Lee Taemin?”

“Aku adiknya,” sahut Jongin.

Dokter itu menatap Jongin sekilas lalu mendekatinya. “Jadi… ada beberapa hal yang harus kusampaikan terkait kondisi Lee Taemin.”

Rasa was-was menyelimuti hati Jongin. “Ada apa dengan kakakku?”

“Ia mengalami pendarahan yang cukup parah dan harus segera dioperasi. Tapi operasi tersebut membutuhkan biaya dan izin dari anggota keluarga. Jadi, aku ingin menanyakan kepada Anda, apakah operasi akan tetap dilaksanakan?”

Pertanyaan dokter tersebut membuat Jongin terdiam. Ia ingin berkata ‘ya’, namun ia sama sekali tidak punya uang. Lalu ia teringat barang-barang Taemin yang dititipkan Dongho. Ia membuka kantung plastik yang dipegangnya dan melihat isinya. Ketika ia melihat sebuah buku tabungan, ia meraih benda tersebut dan membukanya.

Mata Jongin membulat ketika melihat nominal yang tertera di buku tabungan milik Taemin. Seratus ribu won lebih adalah uang yang berhasil dikumpulkan Taemin  dengan kerja kerasnya.

Air mata turun dari sudut mata Jongin. Sebegitu sayangnyakah Taemin pada dirinya? Sampai-sampai kakaknya membanting tulang dari pagi buta hingga larut malam dan mengumpulkan uang sebanyak ini.

Rasa penyesalan muncul di hati Jongin. Ia merasa bersalah telah men-jugde kakaknya dengan prasangka-prasangka buruk. Hingga ia kehilangan rasa sayang pada kakaknya dan menggantinya dengan ketidak pedulian—bahkan kebencian.

“Segera lakukan operasi itu, Dok,” kata Jongin pada akhirnya. Ia mencengkeram erat buku tabungan itu.

Sang dokter mengangguk lalu kembali masuk ke dalam ruang ICU.

 

 

Operasi telah dilakukan sejam yang lalu dan berhasil. Kini keadaan Taemin mulai stabil—dan Jongin bersyukur akan hal itu.

Jongin mendekati kakaknya yang terbaring lemah di tempat tidur. Ia menatap wajah sang kakak yang terlihat pucat lalu ke keningnya yang terbalut perban. Dokter berkata bahwa Taemin kemungkinan akan sadar beberapa jam setelah operasi. Jika keadaannya membaik dengan cepat, dalam sejam pun dia bisa sadar.

Air mata kembali menetes dari sudut mata Jongin. Ketika ia memikirkan kakaknya yang selama ini bekerja keras untuknya, ia merasa sedih. Merasa tak berguna karena ia membenci kakaknya sendiri yang ternyata sangat menyayangi dirinya.

Sebuah suara rintihan membuat Jongin terkejut. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat Taemin telah membuka mata.

“Jongin…” panggil Taemin dengan suara serak. “Ini… dimana?”

Melihat kakaknya sudah sadar membuat Jongin tersenyum kecil. Ia menghapus air matanya lalu menggerakkan kursi rodanya ke arah tempat tidur Taemin. “Sekarang hyung berada di rumah sakit. Beberapa saat yang lalu, hyung mengalami kecelakaan di tempat kerja dan teman hyung yang bernama Shin Dongho membawa hyung kemari.”

Taemin hanya mengerjapkan matanya beberapa kali—berusaha untuk mengingat-ingat apa yang terjadi dalam hidupnya. “Ah, ya… Kecelakaan itu.”

“Kenapa hyung bisa sampai mengalami kecelakaan seperti itu?”

“Aku…” Taemin seperti ingin berujar sesuatu, namun tidak jadi. Ia mengalihkan pandangannya dari Jongin ke selang infus yang menancap di pergelangan tangannya. “Seberapa parah kecelakaan yang aku alami?” tanyanya.

Jongin menghembuskan napasnya. “Cukup parah. Kecelakaan itu membuat hyung mengalami pendarahan hebat dan harus dioperasi.”

“…operasi, katamu?”

Pertanyaan itu hanya dijawab Jongin dengan anggukan.

“Dengan apa kau membayar operasi itu?”

“…aku memakai tabungan milik hyung,” Jongin menjawabnya dengan ragu.

Ya, Lee Jongin!” delik Taemin. “Seharusnya kau tidak menggunakan tabungan itu! Kau tidak tahu untuk apa aku bersusah payah mengumpulkan uang dan menabungannya!”

“—Aku tahu, hyung!” sahut Jongin sambil menunduk. “Aku tahu kau bekerja keras untuk mengumpulkan uang. Demi membiayai operasi kakiku, ya ‘kan?”

Ekspresi terkejut jelas tergambar di wajah Taemin. Ia menatap Jongin dan bertanya, “Darimana kau tahu?”

“Dongho yang memberitahuku.”

Taemin menghembuskan napas dengan keras. Ia mengepalkan tangan kanannya walaupun sulit untuk menggerakkan badannya sekarang. “Jika kau tahu aku mengumpulkan tabungan itu untuk membiayai operasimu, kenapa kau menggunakannya untuk operasiku? Kau tidak menghargai kerja kerasku, ya?!”

Perasaan emosi mulai menyelimuti hati Jongin. Namun pemuda itu berusaha keras untuk meredamnya. Ia mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Aku bukannya tidak menghargai kerja keras hyung.”

“Lalu kenapa?” tanya Taemin sekali lagi. “Kau tidak ingin sembuh? Bukannya impianmu adalah menjadi seorang dancer yang hebat? Impian itu tidak bisa kau raih jika kakimu tidak sembuh!”

“Aku lebih memilih cacat ketimbang kehilangan hyung!” seru Jongin. Mata sang pemuda mulai berkaca-kaca. “Kehilangan ayah dan ibu sudah membuatku cukup menderita. Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi lagi…” Akhirnya butiran yang sedari tadi ditahannya itu jatuh juga. “Walaupun aku harus menjadi cacat selamanya, itu lebih baik daripada aku sembuh tapi hyung tidak ada untuk melihat kesembuhanku.”

Sang kakak yang sedari tadi terbaring di atas ranjang rumah sakit itu memandangi adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kombinasi antara rasa marah, kecewa, sayang dan haru atas apa yang telah diucapkan adiknya.

Air mata turun dari sudut mata Taemin. Ia menyuruh adiknya untuk mendekati ranjang yang ia tempati. Dan ketika sang adik berada di sebelah kanan ranjangnya, ia menggenggam erat tangan sang adik.

Hyung minta maaf… Hyung sudah membuatmu jadi begini. Jika saja dulu hyung mendengarkan perkataanmu, mungkin sekarang kau sudah menjadi apa yang kau inginkan. Menjadi seorang dancer hebat yang memiliki banyak fans. Maaf karena telah merenggut semua itu darimu…”

Tak ada kata yang bisa keluar dari mulut Jongin. Karena emosi kini sedang mengikat dirinya seutuhnya. Dan emosi itu juga yang mempertemukan kembali dirinya dengan sosok sang kakak yang sesungguhnya.

Ia bahagia—sungguh bahagia. Walaupun setelah mengetahui kebenaran yang sengaja dipendam kakaknya membuatnya menyesal karena selama ini tidak menyadari perasaan sang kakak yang sesungguhnya.

Karena selama ini ia tidak menyadari, bahwa dibalik sosok dingin itu ada sisi yang selalu mengkhawatirkannya. Bahwa dibalik sikap menyebalkan itu ada pekerjaan melelahkan yang dilakukan hanya untuknya. Bahwa dibalik ketidak pedulian itu ada sebuah perasaan sayang dan cinta untuknya.

 

 

Suara denting pisau terdengar dari arah dapur. Seorang pemuda dengan kursi rodanya sedang memotong sayuran. Ia menaruh sayuran yang telah dipotongnya ke dalam mangkuk dan membawanya ke dalam air mendidih untuk dijadikan sup.

Dengan telaten Lee Jongin memasak sup itu. Ia menambahkan beberapa bumbu untuk menambah rasa sup buatannya. Diaduknya sup itu, dan beberapa saat kemudian sup buatannya telah matang. Ia mengambil pot tempat memasak sup buatannya dengan hati-hati. Lalu ditaruhnya di atas meja.

Ia mengambil beberapa peralatan makan. Sup itu dituangnya ke dalam dua buah mangkuk. Setelah benar-benar jadi, dibawanya sup itu ke meja makan.

“Sudah jadi?”

Jongin tersenyum dan mengangguk.

“Hah, seharusnya kau tidak perlu repot-repot memasak. Aku tidak memintamu, kok,” desah Taemin.

Tertawaan kecil keluar dari mulut Jongin. “Anggap saja ini sebagai perayaan atas keluarnya hyung dari rumah sakit.”

“Hm… Kau hanya membuat satu sup, ya?”

“Tidak. Aku buat dua. Punyaku ada di belakang. Hyung tahu sendiri ‘kan aku tidak bisa membawanya dengan kedua tanganku?” canda Jongin.

Tanpa diduga Taemin beranjak dari kursinya dan mengambil sup jatah milik Jongin.

“Ini milikmu.”

“Hah, aku ‘kan tidak meminta hyung untuk mengambilkannya.”

“Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku atas sup buatanmu ini,” sahut Taemin sambil tertawa.

Tanpa basa-basi lagi, kedua kakak-beradik itu memulai sarapan bersama mereka yang pertama. Taemin terlihat bersemangat untuk mencicipi masakan adiknya, sedangkan Jongin merasa sedikit was-was karena ini pertama kalinya ia memasak masakan serumit sup.

Binaran terpancar dari mata Taemin, “Wah, enak sekali!”

“Heh? Benarkah?” tanya Jongin tak yakin.

“Ya! Enak sekali, Jongin-ah! Waaaa~ Kurasa kau cocok menjadi koki.”

“Hmm~ Koki tidak memerlukan kaki yang normal ‘kan?”

“Kurasa begitu~”

Sebuah senyum lebar muncul di wajah Jongin. Pemuda itu lalu mengepalkan tangannya erat-erat. “Baiklah! Kini kuputuskan kalau aku ingin menjadi koki.”

“Lalu setelah kau menjadi koki yang hebat, aku akan mendirikan restoran. Kau jadi kokinya, aku jadi manajernya,” sambung Taemin.

Dan kedua kakak-adik itu tertawa menanggapi impian baru yang mereka rajut secara bersama untuk pertama kalinya.

 

The End

 

 

Huweeee… Kok endingnya gak seperti yang saya harapkan, sih? T_T

Bayangannya sih, ff ini punya bahasa yang ‘lebih berat’ dan bisa menguras emosi pembaca. Tapi yang ada sih bukan pembacanya yang nangis, tapi authornya.

Saya gak bohong kalau saya bilang saya nangis pas bikin ff ini. Biasalah, jiwa author lagi kumat. Kalau terlalu menghayati perasaan si tokoh (di sini saya menghayati banget perasaannya si Jongin) akhirnya yang ada jadi nangis tersedu-sedu, bahkan sampe meler -_- #buka aib

Oke, abaikan epilog yang tidak jelas itu.

Saya minta maaf kalau ff ini tidak sesuai dengan hati para readers, terutama dengan alurnya yang agak gaje -_-a

Tapi komen ya??? #pasang aegyo  #readers muntah-muntah

 

 

Park Sooyun~

17 thoughts on “Dear Brother

  1. Hueee keren koq keren.. T,T
    Aku juga sampe nangis bacanya..
    Baru pertama kali baca si kembar dalam satu ff yg brother2an (?) kayak gini…
    Huaaa keren lah thor :D

  2. Aaaahhh… Gue suka ff ini, jarang2 gue ketemu yg gender Brothership, asli kata2 yg ditulis begitu berasa buat para readers yg benar2 menghayati.. *menurut gue *plaaaak cuz gue sndri terbawa suasana ..
    TOP dah buat aouthornya..
    Trus berkarya n tetap semangat ya :D

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s