FICLET: Last Day Of My Life

image

Title
Last Day Of My Life

Author
Yoo Jangmi

Genre
Teen-romance; Drama; Sad (maybe); AU

Length
Ficlet

Rating
PG14

Cast
Baekhyun (EXO-K); Sulli (f(x) (as Kim Jinri); Suho (EXO-K); etc

Disclaimer
Cast not mine. This FF purely mine. No plagiarism and Silent Readers please~

Note
Entah kenapa terinspirasi bikin sad =_= dan Baekhyun lagi castnya lol. Saya lagi seneng bikin FF castnya dia XD. Ya udahlah ga banyak ngomong…Happy Reading! :3
[Recomended Song: As OneWhite Love Story]
— — — — — — — — — — — —

Baekhyun menatap foto yeoja di layar ponselnya sambil tersenyum. Hari ini ia akan menemui yeoja itu lagi di rumah sakit. Temannya, Chanyeol, menepuk bahunya dan menggelengkan kepalanya. “hey, banyak yeoja di sekolah ini yang menyukaimu, kenapa masih tertuju padanya?” kata Chanyeol. Baekhyun menyimpan ponselnya dalam saku dan tersenyum lagi. “aku hanya menyukainya saja. Aku tidak mau yeoja lain” kata Baekhyun. “tapi ia…kau tahulah sakitnya parah” ujar Chanyeol. Baekhyun mengangguk mengerti. Ia tahu Kim Jinri, yeoja di foto itu mengidap penyakit serius yang mungkin tidak dapat di sembuhkan lagi, tapi ia tidak peduli. “arayo. Tapi aku tetap mencintainya” kata Baekhyun. Chanyeol menghela napas dan mengangguk “baiklah, terserah kau saja. Aku pulang duluan ya, annyeong!” kata Chanyeol. Ia melambai pada Baekhyun lalu berlari ke gerbang sekolah.

Baekhyun sendiri pergi naik bus ke rumah sakit. Ia berharap kondisi Jinri sudah lebih baik saat ia datang nanti. Perjalanan dari sekolah ke rumah sakit menghabiskan waktu sekitar 15 menit. Baekhyun turun dari bus lalu berjalan ke rumah sakit.
Sesampainya di sana, ia cepat-cepat menuju kamar rawat Jinri. Di depan kamar itu, oppa-nya Jinri, Joonmyeon sedang berdiri seperti menunggu sesuatu. Baekhyun kenal baik dengan Joonmyeon, ia sudah menganggap Joonmyeon sebagai hyung-nya sendiri. Ia berjalan menghampiri Joonmyeon dan menanyakan apa yang terjadi.

Hyung, kenapa berdiri di luar? ada apa dengan Jinri?” tanya Baekhyun. “tidak ada apa-apa. Dokter sedang memeriksanya. Makanya aku berdiri di luar” kata Joonmyeon. “kau sudah makan siang?” tanya Joonmyeon lagi. Baekhyun menggelengkan kepalanya. “belum, aku langsung ke sini tanpa ingat makan siang” kata Baekhyun.

Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruangan Jinri, ia bilang tidak ada perkembangan besar. Kondisi Jinri masih sama. Joonmyeon hanya menghela napas lalu membungkuk pada dokter. Baekhyun ikut membungkuk. Setelah dokter pergi, mereka berdua segera masuk ke ruang rawat.
Jinri sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Yeoja itu sedang menatap ke jendela rumah sakit. Makanan rumah sakit di meja tidak ia sentuh sama sekali. Joonmyeon duduk di samping ranjang adiknya, lalu mengelus kepala adiknya itu. “Jinri-yah, makanlah sedikit” kata Joonmyeon, Jinri menggeleng pelan “Oppa, buat apa aku makan, sebentar lagi aku akan mati” kata Jinri pelan. “siapa bilang kau akan mati? kau akan hidup” ujar Joonmyeon berusaha memberi semangat hidup pada adiknya. “kenyataannya memang begitu” kata Jinri lagi. Joonmyeon menghela napas lalu melihat ke arah Baekhyun, ia berdiri dari kursinya, lalu meminta Baekhyun menjaga Jinri, sementara ia pergi untuk mengambil pakaian.

Setelah Joonmyeon pergi dari ruangan itu, Baekhyun duduk di sebelah ranjang Jinri. “Jinri-yah” panggil Baekhyun. “annyeong oppa” kata Jinri sambil tersenyum kecil. Baekhyun ingin Jinri bisa tersenyum ceria seperti dulu, bisa tertawa, mau makan, tidak lemah seperti ini. “kenapa kau tidak makan siang?” tanya Baekhyun. Jinri memanyunkan bibirnya lalu berkata “setiap aku makan, aku muntah”

Baekhyun mengangguk mengerti. “Oppa, bagaimana kalau hidupku tinggal 3 hari lagi?” tanya Jinri pada Baekhyun. “aku akan memberimu tiga permintaan terakhir” ujar Baekhyun dengan suara bergetar. Jinri memegang tangannya, tangan yeoja itu dingin seperti es. “kalau begitu beri aku tiga permintaan terakhir itu” pinta Jinri. Baekhyun menggelengkan kepalanya. “jangan aneh-aneh, sekarang lebih baik makan dulu makan siangmu itu” ujar Baekhyun. Jinri cemberut lalu menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. “shireo. aku tidak mau makan” rengeknya pelan. Baekhyun menghela napas lalu mengelus kepala Jinri perlahan. Rambut yeoja itu rontok banyak sekali bergumpal-gumpal di tangannya. “baiklah, aku beri tiga permintaan terakhir” ujar Baekhyun. Jinri tersenyum senang “ah oppa kau baik sekali, gomawo” kata Jinri, lalu ia melanjutkan lagi “boleh aku minta permintaan pertama sekarang?” Baekhyun mengangguk. “aku ingin…hmm pergi jalan-jalan dan makan es krim” kata Jinri. “hanya itu? yakin? kau tidak mau menggantinya?” tanya Baekhyun memastikan. “hmm baiklah aku ganti” ujar Jinri, lalu ia berpikir lagi. “aku ingin foto bersama oppa dan Joonmyeon oppa lalu foto itu di pajang di bingkai foto yang kupilih sendiri”

Entah kenapa saat Jinri mengatakan itu, Baekhyun merasa Jinri ingin membuat sebuah kenangan manis sebelum ia pergi… untuk selamanya.

“hmm baiklah, kita tunggu Joonmyeon hyung datang” kata Baekhyun sambil tersenyum pada Jinri.

Beberapa saat kemudian, Joonmyeon datang. Ia meletakan tas berisi pakaian di atas sofa, lalu ia mengambil kursi dan duduk di sebelah Baekhyun.

oppa, ayo kita foto sekarang!” kata Jinri senang. “foto apa?” tanya Joonmyeon bingung. “Jinri ingin foto bersama kita” ujar Baekhyun pelan. Joonmyeon mengangguk mengerti, ia berdiri lagi dari kursinya lalu berdiri di sebelah kiri ranjang adiknya, sementara Baekhyun di sebelah kanan. Mereka meminta salah seorang perawat untuk memotret mereka.

“nanti aku akan mencetak foto ini untukmu” kata Baekhyun berjanji pada Jinri. Jinri mengangguk sambil tersenyum.

Permintaan pertama sudah terkabul.

.

.

.

.

.
Besoknya…

Permintaan kedua Jinri adalah, melihat salju turun dari balkon rumah sakit. Sungguh permintaan yang sederhana, tapi untuk mencapai balkon rumah sakit, harus menaiki banyak tangga. Jinri sangat lemah, ia harus memakai kursi roda, atau Baekhyun harus menggendongnya sampai ke balkon.

“bagaimana caranya naik ke balkon? ganti saja permintaannya” kata Baekhyun. Jinri merengut dan memukul-mukul lengan Baekhyun tanpa tenaga. “oppa~ ayolah aku mohon, jebal” rengek Jinri. Ia sangat ingin melihat salju. Dan yang paling bagus terlihatnya tentu saja di balkon. Baekhyun menghela napas tapi akhirnya ia mengangguk, ia membantu Jinri berdiri dan memapahnya.

Mereka berjalan bersama menaiki tangga, belum sampai diatas, Jinri tiba-tiba mimisan. Itu bukan hal aneh, hampir setiap hari yeoja itu mengeluarkan darah dari hidungnya. “ayo kita kembali ke bawah saja, aku takut kau tidak kuat” kata Baekhyun khawatir sambil memberikan sapu tangannya pada Jinri. Jinri mengelap hidungnya lalu tersenyum. “aku mau lihat salju, ayo oppa kita naik lagi” kata Jinri. Baekhyun tidak dapat berkata apapun kecuali menurut pada Jinri. Ia sangat menyayangi gadis itu.

Sesampainya mereka di atas, tepat saat salju mulai turun. Jinri memandangi kepingan-kepingan putih lembut salju yang berjatuhan dari langit sambil tersenyum. Ia sangat suka melihat salju turun. “aku harus melihat salju turun, untuk terakhir kalinya sebelum aku pergi” batin Jinri. Ia mengulurkan tangannya berusaha menyentuh salju-salju itu. Badannya gemetar kedinginan.

Baekhyun melepas mantelnya dan memakaikannya pada Jinri, setelah itu ia memeluk gadis itu dari belakang. “waeyo oppa?” tanya Jinri bingung (?). “ani, aku tidak mau kau kedinginan” kata Baekhyun beralasan. Sebenarnya ada alasan lain, ada sesuatu, entah apa, yang membuatnya ingin memeluk gadis itu. Jinri hanya mengangguk pelan. Ia kembali terfokus pada salju yang turun. Ia kelihatan begitu bahagia.

Sementara itu di kamar Jinri, Joonmyeon sedang menatap foto yang baru diambil kemarin—yang sekarang dipajang di meja kecil di sebelah ranjang Jinri—sambil memikirkan kata-kata dokter padanya pagi ini. Dokter bilang, kondisi Jinri semakin buruk, umurnya tinggal menghitung hari. Joonmyeon tidak mau memikirkan bagian ‘tinggal menghitung hari‘ ia yakin adiknya akan sembuh, tapi tetap ada rasa takut kehilangan dalam hatinya.

Pintu kamar dibuka, terlihat Baekhyun masuk menggendong Jinri yang pingsan. “kenapa dia?” tanya Joonmyeon, “aku…eumm…ia ingin melihat salju di balkon, aku sudah bilang jangan, tapi ia merengek jadi aku membawanya ke atas, mianhae” jelas Baekhyun. “gwaenchana, ia pasti terlalu lelah, baringkan saja ia di tempat tidur, aku akan memanggil dokter” kata Joonmyeon. Mengingat umur adiknya yang katanya tinggal menghitung hari, ia rasa tindakan Baekhyun menuruti setiap permintaan Jinri ada benarnya. Ia menghela napas dan berjalan keluar dari kamar untuk memanggil dokter.

Baekhyun meletakkan Jinri di atas ranjang rumah sakit, lalu duduk di kursi, di sebelah ranjang itu. “kau anak nakal” gumam Baekhyun sambil memainkan rambut panjang Jinri yang semakin tipis karena rontok begitu banyak setiap harinya.

Ia memandangi wajah pucat yeoja itu lalu menggumam lagi. “kau tidak akan meninggalkanku kan? saranghae Jinri-yah”
Baekhyun mengelus pipi Jinri, lalu ia mendekat dan mencium bibir gadis itu.

Besok Jinri akan memberitahunya permintaan ketiga, atau mungkin permintaan terakhir. Ia tidak tahu apa yang akan atau bisa terjadi dalam 24 jam, mungkin saja yang tadi itu ciuman pertama sekaligus terakhirnya dengan Jinri. Ia tidak mau kehilangan gadis itu selamanya. Tapi apa yang bisa ia lakukan? ia hanya bisa berharap.

.

.

.

.

.

*the next day…

Hari ini dokter bilang kondisi Jinri agak membaik. Mendengar itu, Baekhyun dan Joonmyeon mendapat sedikit harapan kalau Jinri bisa sembuh.

Baekhyun masuk ke kamar rawat Jinri, gadis itu sedang makan siang. Ia tersenyum pada Jinri, lalu duduk di sebelah ranjangnya seperti biasa. “kau mau memberitahu permintaan ketiganya?” tanya Baekhyun. Jinri mengangguk dan tersenyum “setelah kuhabiskan makananku” katanya, lalu memasukan sesendok nasi ke mulutnya.

Setelah selesai makan, Jinri terlihat memikirkan permintaan ketiganya. “ini permintaan terakhir…harus paling berkesan” pikir Jinri, memikirkan permintaan terakhir membuatnya ingin menangis, tapi ia menahan air matanya dan tetap tersenyum.

oppa, aku ingin…ke…taman rumah sakit” kata Jinri. “itu permintaannya?” tanya Baekhyun bingung. “bukan, bawa aku ke taman. Di sana aku akan meminta permintaan ketiganya” kata Jinri sambil tersenyum. Baekhyun merasakan keganjilan entah apa dalam senyum Jinri. “baiklah, ayo naik ke punggungku, aku akan membawamu ke taman rumah sakit” kata Baekhyun lalu duduk di atas ranjang Jinri dengan punggung menghadap gadis itu. Jinri naik ke punggungnya perlahan.

Baekhyun menggendong gadis itu ke taman rumah sakit. Sepanjang jalan menuju taman, Baekhyun terus mengajak Jinri bicara. “memangnya apa permintaanmu?” tanya Baekhyun, “nanti dulu oppa, nanti akan kuberitahu” kata Jinri pelan. Gadis itu merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya. Ia mimisan lagi, tapi ia tidak mengatakannya pada Baekhyun.

oppa, sebenarnya kondisiku sama sekali tidak membaik. aku minta Dokter Shin bilang begitu pada oppa, dan Joonmyeon oppa, supaya kalian tidak mengkhawatirkanku” ujar Jinri pelan. Baekhyun hanya menghela napas “kau ini, kenapa tidak jujur saja?” tanya Baekhyun. Jinri tidak menjawab, ia hanya tersenyum.

Mereka sampai di taman rumah sakit, Baekhyun mendudukkan Jinri di kursi taman, lalu ia duduk di sebelah Jinri, supaya gadis itu bisa bersandar padanya.

Jinri bersandar pada bahu Baekhyun lalu menarik napas dalam-dalam. “oppa, aku ingin mengatakan permintaan terakhirku” kata Jinri pelan. “maksudmu yang ketiga, bukan yang terakhir” kata Baekhyun, ia takut mendengar kata ‘permintaan terakhir’ seolah Jinri akan meninggalkannya.

Jinri tersenyum namun air matanya menetes. “oppa, aku ingin mengatakan…saranghae oppa, boleh kan? itu permintaan terakhirku” kata Jinri lirih. Baekhyun hanya mengangguk, ia sedang menahan air mata, perasaan buruk menyelimuti dirinya sekarang.

saranghae oppa” kata Jinri pelan. “nado, Jinri-yah” kata Baekhyun sambil mengelus kepala yeoja itu. Setelah itu segalanya hening. Tidak terdengar Jinri bicara apa-apa lagi. “mungkinkah ia tertidur? tapi..” pikir Baekhyun.

“Jinri-yah, hei Kim Jinri, bicara padaku! Jinri-yah…” Baekhyun memanggil nama Jinri, tapi tidak ada respon dari Jinri.

Saat itulah ia tahu, gadis yang paling ia cintai itu sudah pergi meninggalkannya…

“At the last day of my life, i just wanna tell you that i love you”

-END-

— — — — — — — — — — —

apa ini x_x kkkk *ditampol. mian gaje~ tetep RCL ya~

BTW B.A.P itu sesuatu (?) (w’0′)w wow lol. I’m addicted to Rain Sound x_x kkk *okesip ini fangirlingan* *plak *abaikan*

Dan kapan EXO bakal kambek?!!! (wT0T)w lumutan nunggunya wkwkwk udah ah bye *ngacir*

12 thoughts on “FICLET: Last Day Of My Life

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s