Untitled Fairytale [Part 1]

Untitled Fairytale

 UF

Author  : Park Minhyun

Cast       : Lee Taemin

                  Bianca Jung (OC’s)

                  Choi Jinri

Genre   : Fantasy,Angst,Romance

Rating   : PG-16

Length  : Chaptered

Poster    : My self

NB          : This is all ma own plot

Note       : Back to laptop (?) saya hadir dengan FF tak berjudul ini. Mudah-mudahan kalian suka wkwkwk… mian terjadi perubahan length cerita karena aku rasa ga mungkin kelar dalam twoshoot sehingga terjadi perubahan hehehe mian ne? okelah dengan kalimat yang sama marilah kita buka dulu…

Karena saya udah kelas 9 nih kawan kawan,saya minta doanya ya buat detik-detik proklamasi UNAS 2013 ya kawan… Saya juga bakal doain kalian yang sudah doain saya kok terlebih readers setiaku yang udah mau komen sama like. Baca doang juga gak papa sih,tapi ntar gak saya kasih permen loh! (?)

Oke,daripada banyak bacot yuk capcus cin ke TKP *eaaa*

 

DON’T BE A SILENT READERS JUSEYO

GOMAPSEU

 Read : PROLOG

***

Ingatannya belum penuh semua. Masih ada sekitar sepersen sekian masih mengudara melayang layang di telinga,di kepala,di baju bahkan di tirai jendela yang terbuka setengah menyisahkan angin semilir mengandung sedikit kelembaban masuk dan menggantikan oksigen yang kurang  bersih di dalam.

Gaya bahasanya santai,tak menyisahkan keformalitasan sama sekali. Lelaki itu bernama Lee Taemin. Rambutnya kini sudah berwarna hitam kecoklatan tak seperti 2 hari yang lalu. Ketika rambutnya dicat pirang dan mengundang banyak pro dan kontra. Kini,hidupnya damai. Bukan berarti karena warna rambutnya itu. Tentu saja karena hari ini masih pagi. Siapapun tak mengharapkan konfrontasi pagi hari. Sungguh,siapapun itu.

 

“Tidak apa-apa.” Matanya mengisahkan bahwasannya ia benar-benar tak berbohong bahwa ia kurang tidur. Semalaman tadi merupakan hal yang membuat tulang punggungmu retak terbelah menjadi dua puluh bagian yang sama dan membuat pupilmu membesar dan mengecil seperti lensa kamera klasik yang ia simpan sejak ia lahir.

“Ini susu pisang.” Syukurlah masih ada orang yang peduli dengan manusia menyedihkan itu. Ia berterimakasih dengan menjunjung tinggi rasa kasih sayangnya. Sesekali menatap lapisan langit-langit yang menguning karena bocor akibat air hujan yang mengguyur. Penasaran,ia menggapainnya menggunakan kursi kayu yang lumayan tinggi. “Jinri-ya,tolong ambilkan pelapis dinding.” Suaranya agak serak namun ia paksakan untuk berbicara agak keras. Ia cukup pintar menyadari suara dan tenggorokkannya yang bermasalah sehingga membenarkan posisi pita suara yang menurutnya lumayan bergeser entah mengapa.

“Ambil sendiri. Kau punya kaki.”

 

Seperti memahami gadis itu,si pria suara serak turun dari kursinya dan berjalan ke ruang gudang. “Terakhir kita membetulkan atap kan pakai pelapis dinding ya? Dimana kau menaruhnya?” sang penerima pertanyaan mendekatinya dengan mulut yang penuh dengan sandwich. Ia jelas tak bisa berbicara dengan jelas dan hanya terdengar seperti orang yang baru bisa bicara. “Hi hitu ho…”

 

“Oh ya disitu.” Lelaki tadi mengambil segera benda berbentuk kaleng dan kuas besar diatasnya. “Mau membantuku tidak?” Jelas sekali dengan gelengan kepala itu menandakan bahwa terdapat ketidaksetujuan dari gadis yang ia anggap sebagai adiknya sendiri.

“Sudahlah,percuma bilang padamu.” Ia mengangkat kedua lengannya santai. “Siapa juga yang mau membetulkan atap pagi-pagi begini.” Gadis bernama Jinri menggumam malas menyelesaikan sandwichnya. “Buktinya aku.”

 

“Aku mau kalau membetulkan elektronik.” Taemin mengernyitkan kedua alisnya. “Kau memang aneh Jinri-ya.”

“Apa yang aneh?”

“Yeoja itu menjahit atau menggambar atau apalah itu,tapi kau sukanya elektronik. Sungguh aneh kau tahu?”

“Aku tahu.”

 

“Ya ampun.” Taemin segera memberhentikan percakapan tak jelas mereka dengan menggelengkan kepalanya. Daripada bertengkar dengan hal kecil lebih baik segera menyelesaikan pekerjaan pagi harinya itu.

 

Seusainya ia membersihkan tubuhnya dan beristirahat di ruang tamu. Ia mengantuk lagi,sudah berapa kali ia mengantuk dalam jangka waktu 24 jam ini. Ia melihat arloji di tangannya. Masih pukul 10 pagi.

 

“Ini hari minggu…” Jinri berputar-putar di hadapan kertas lebar berisikan angka angka. “Lalu apa?” Taemin menghampirinya dari belakang. Memperhatikan kertas itu dengan seksama. Tak ada yang janggal tapi kenapa bocah ini bingung sendiri? Begitulah yang dapat disimpulkan dari fikiran Taemin saat ini. “Aku ada kencan buta.”

Bak tersambar petir bertegangan 1000 Volt Taemin hanya mengedip-kedipkan matanya tak jelas. Ia mematung begitu saja. “Kenapa? Oppa cemburu?”

“Ah,siapa yang cemburu dengan adikku sendiri?” Taemin tersenyum palsu menutupi semua kekagetannya. Sudah 10 tahun bersama dengan gadis itu tanpa mengenal pria lain selain dirinya sendiri dan sekarang ia kencan buta? Tanpa pemberitahuan? Rasanya tak rela jua melepasnya seperti seorang ayah yang menyaksikan anaknya menikah dan mereka tinggal berpisah setelah upacara pernikahan.

 

“Apa yang Oppa pikirkan? Oppa pikir dengan kencan membuatku lari darimu begitu huh?” Jinri meninju lengan Taemin pelan sambil terkikik. Tiba-tiba Taemin memegang erat kedua bahu Jinri agar menatapnya dengan benar.

 

“Ingat Jinri! Oppamu hanya aku dan aku adalah Oppamu. Kau Dongsaengku dan aku Oppamu. Tak ada yang lain selain kita. Jika ada namja yang menyakitimu aku yang akan menghadapinya. Jangan terlalu dekat dengan namja diluar sana. Mereka semua sama saja seperti namja-namja brengsek lainnya. Jangan minum bersama karena pada akhirnya kau yang akan terluka. Kau mengerti maksudku kan? Nah,jangan pergi ke tempat yang gelap karena kau tahu yang kumaksud kan? Jangan sampai…”

 

“Ah ne..ne…arasseo Oppa,aku akan kembali pukul 5 sore nanti. Nanti aku akan ke taman bermain,kita akan minum sundae, kita akan naik bus dan tidak naik mobil yang gelap. Kursi kita akan kubatasi dengan tasku. Aku akan pakai blue jins panjang dan baju panjang. Puas? Nah,aku siap-siap dulu. Sekarang Oppa liat TV saja dan duduk manis oke?” Jinri segera memutus perkataan kakaknya yang ia rasa terlalu berlebihan seperti nenek tua depan rumah yang hobinya mencerca apapun yang menurutnya tidak pantas ataupun kurang ia segani.

 

“Ingat itu Jinri-ya,aku tidak akan banyak bertanya lagi kok. Pokoknya ingat saja pokok-pokok itu semua ya.”

“Geurae,iya iya…”

 

“Tapi ngomong-ngomong siapa namja itu?”

Jinri melirik tajam Taemin yang pada akhirnya paham bahwa ia tak boleh bertanya-tanya lagi. Taemin tersenyum polos lalu duduk ke sofa berwarna coklat dan menghadap TV.

“Kau akan tahu karena dia yang menjemputku.”

 

“Baiklah,nanti akan aku teliti. Hahaha…”

***

“Ne annyeong!” Taemin melambaikan tangannya kearah dua insan yang berjalan menjauh dari pandangan. Mungkin habis hujan jadi perlahan kabut turun. Dinginnya berhembus dari angin yang lewat. Taemin segera menutup pintu dan mengusap-usap kedua telapak tangannya. “Dingin…dingin…”

Selepas itu semua Taemin masih menyisihkan sedikit senyum kelegaannya karena menurutnya ia telah bertemu dengan namja yang cocok ia beri kepercayaan menjaga adiknya. Berfikir bahwa sekarang adalah saat untuk melihat seorang Jinri kecil yang beranjak dewasa berkencan pada hari minggu merupakan hal luar biasa yang ada dalam hidupnya.

“Tadi namanya siapa ya? Aku cepat lupa.”

 

Sekedar mengingat kembali bahwasannya namja yang ia temui tadi bisa dibilang lumayan atau sangat tampan. Ia tinggi semampai dengan dandanannya yang rapi dan tidak mencolok. Mungkin kalau tak salah dan bisa dibilang benar namja itu bernama Choi Minho? Ya benar namanya Choi Minho dan sepertinya ia pernah mendengar nama tersebut.

 

“Ah sudahlah.” Apa boleh buat. Berjuta manusia di luar sana memiliki nama yang sama. Anggap saja seribu orang bermarga Choi dan dua ribu orang memiliki nama tengah Min dan ratusan ribu orang memiliki nama belakang Ho. Bukankah hal itu tak dapat dihitung? Apa harus ia melakukan sensus penduduk sekarang juga?

 

“Kenapa pikiranku aneh sekali hari ini.” Taemin menggumam kesekian kalinya lagi. Tatapannya tertuju pada jam dinding yang bersuara ditengah segala keheningan yang ada. Ia menghitung kancing bajunya sendiri salah-salah ada yang terlepas karena tersangkut namun tak satupun absen dari cardigan hijau lumutnya. Ia menoleh kesana kemari dan hanya mendapati perabotan usang peninggalan kakek dan neneknya. Dipojok ruangan ada radio tua,di sebelah utara terdapat rak-rak buku yang berdebu tebal beserta sarang laba-laba yang menjadi aksesorisnya. Semua tampak klasik mengingat betapa gemarnya kakeknya dulu mengoleksi barang-barang antik. Hampir tidak teringat dan samar-samar kenangan masa kecilnya. Taemin kecil dulu suka sekali digendong di belakang dan bermain dengan kucing persia milik tetangga. Namun kucing itu mati karena kecelakaan 13 tahun yang lalu. Ia tak tahu apapun dengan kejadian itu karena ia terbangun 2 minggu kemudian. Tahu-tahu semuannya berubah.

 

“Girin sudah mati. Gara-gara kau bocah kecil.”

 

Begitulah kata si pemilik kucing tersebut. Taemin masih berasa bersalah atas kelalaiannya itu. Bukannya mengkhawatirkan dirinya sendiri fasa kecelakaan,ia malah merengek mencari ‘Girin’ si kucing persia berbulu putih susu yang ia sayangi. Nenek dan kakeknya bahkan sudah meminta maaf pada pemilik kucing dan menggantinya dengan kucing yang baru tapi tetap saja Taemin berusaha mencari Girin.

 

“Girin belum mati,aku tahu ia masih hidup!”

 

Pada saat itu Taemin masih berusia tujuh tahun dengan bodohnya meninggalkan rumah demi mencari seekor kucing betina. Ia sangat marah pada nenek dan kakeknya yang menganggap Girin sebagai kucing ‘mati’ dan tidak harus diperhatikan. Ia kabur dari rumah sambil membawa sebuah surat peninggalan orang tuanya yang isinya hanya dapat ia baca pada usia 20 tahun. Begitulah hingga pada akhirnya usia 10 tahun ia bertemu dengan Jinri yang bernasib sama sepertinya di stasiun kereta bawah tanah. Mengingat itu ia merasa bahwa kebodohannya membawa Jinri pulang seakan hilang terbawa waktu.

 

“Aku dulu masih bocah. Cih memalukan sekali rupannya.”Ia mengambil sebuah pigora kecil di atas meja kayu berukiran naga dan mawar. Difoto tersebut tampak Taemin kecil dan Jinri kecil berpose bersama dengan lugunya di hari kelulusan SMP. Semua foto tersusun apik mulai dari usia dini sampai terakhir mereka berfoto pada hari valentine pekan lalu dengan polaroid mini miliknya.

 

“Aigoo…kyeopta.” Batinnya sambil terus menggurat senyum tak henti-henti. Jinri yang memakai bandana kelinci tampak ingin memakan kepala Taemin yang sedang memamerkan coklat berbentuk hati di depan kamera. Pose mereka benar-benar seperti pasangan kekasih. Banyak yang bilang begitu namun Taemin selalu menyergahnya. Baginya,Jinri adalah wanita nomor 3 setelah nenek dan kekasihnya kelak walaupun sampai sekarang Taemin enggan berhubungan dengan yeoja lain selain Jinri.

 

“Uri Jinri sudah dewasa dan aku juga sudah berusia 20 tahun. Ingin sekali mengajak Haraboeji minum bersama namun Haraboeji curang meninggalkan aku duluan. Oya Halmoeni,sayang sekali… baju rajutan halmoeni sekarang sudah tidak muat untuk Jinri tapi tenang saja ia masih menyimpannya kok. Haraboeji dan Halmoeni jangan sering bertengkar ya gara-gara kue coklat. Aku sudah bisa membuatnya sendiri kok. Aku ingat kebiasaan Halmoeni menaburkan wijen diatas kue sedangkan Haraboeji akan marah-marah kalau yang ditabur bukan gula halus. Hahahaha… aku mengerti sekarang. Jinri suka sekali wijen dan aku suka gula halus. Ternyata kita mirip juga!”

 

Ucap Taemin panjang lebar di depan pigora besar. Ia tersenyum tulus dan memberi jeda ucapannya untuk mengambil nafas panjang.

“Halmoeni,Haraboeji…sehat selalu ya! Kudoakan kalian tentram di surga.” Taemin membungkuk 90 derajat pada foto tersebut. Entah mereka mendengarnya atau tidak yang penting Taemin sudah memberikan yang terbaik doa dan harapannya.

 

“Eh? Apa ini?” Separuh membungkuk ia kini mendapati sesuatu yang janggal dari dinding di depannya. Apa yang aneh dari sebuah dinding dengan warna yang agak berbeda. Sebelah kusam dan sebelahnya lagi berwarna agak terang. Taemin menekan salah satu sisi dinding tersebut dengan telunjuknya dan alangkah teerkejutnya dia melihat segaris celah disana.

“Apa ini?” Lagi lagi ia bertanya pada diri sendiri. Keheranan itu jelas tersirat dari kedua bola matanya yang tampak linglung seperti orang yang baru pertama kali melihat dinding. “Apakah ini retak ya?” Tanyanya pada keheningan. Ia mendorong dinding itu lebih dalam sehingga terdengar gemuruh halus dari dalam sana.

 

“Mwoya?”

 

Sebuah lubang persegi seperti cerobong angin gelap yang entah berujung dimana terbentuk dibawah pigora besar kakek dan neneknya. Ia mencoba menelaah apa yang ia lihat kini karena menurut sepemikirannya hanya ada pada cerita fiksi lelucon anak-anak dimana ada ruang rahasia setelah kau masuk ke lubang itu. Taemin tertawa kecil karena hal ini merupakan hal yang pertama kali ia temui setelah hidup selama 20 tahun siam. “Lelucon apa lagi ini?” hembusan angin yang hangat kian terasa dari celah itu.

Mendadak ia berhenti tertawa bukan karena suatu yang tidak lucu. Ia berhenti tertawa karena baru menyadari bahwa ini semua bukan trik kamera atau variety show yang menjebak seseorang. Ia berhenti tertawa karena baru menyadari bahwa ini semua nyata dan dapat dirasakan. Semuanya dapat disentuh hingga ia menampar pipinya sendiri dan hasilnya? Cukup sakit.

“Halmoeni,haraboeji…bukankah ini lucu?”

 

Ia menatap heran kedua nenek kakeknya bergantian. Dalam foto itu sang nenek sedang tersenyum walau guratan keriput menghiasi kelopak matanya begitu pula dengan sang kakek. Menatap bergantian itu membuat hal gila di otaknya berkembang pesat seperti tersirat bahwa -kau harus masuk kedalam lubang itu atau tidak kau akan menyesal- dan kembali pada waktunya sebelum pukul lima. Ketika Jinri datang,Taemin akan keluar dari lubang itu. Apabila memungkinkan,Taemin akan mengajak Jinri masuk bersamanya lain waktu. Selesai. Itulah rencananya.

 

“Geurae,aku mau masuk dulu. Halmoeni,haraboeji…aku akan ikut permainan kalian berdua.” Ujarnya mantap seolah hidupnya dipertaruhkan detik ini juga. Alih-alih masuk terlebih dahulu ia memilih untuk memberi pandangan ke penjuru ruangan berwarna coklat klasik itu. Dihirupnya dalam-dalam udara yang ada disekitarnya untuk memastikan bahwa ia masih bisa menenangkan hatinya yang ragu akan sebuah keputusan.

 

“Jinri,tunggu aku. Aku tidak akan lama lalu kembali.” Taemin menjulurkan tangannya ke mulut celah itu. Jari-jarinya meraih permukaan lubang yang lembab dan sedikit berlumut. Meskipun demikian tak mengurangi niatnya untuk tetap masuk. “Kkaja.”

 

Tiba-tiba suara gemuruh datang mendekatinya seolah menghisapnya hidup-hidup dengan tarikan angin yang kuat.

***

‘Ssswoooh….’

 

Jinri berhenti mendadak di tengah keramaian manusia yang lalu lalang di pusat perbelanjaan. Ia seperti mencari sesuatu yang hilang disekitarnya. Angin tadi menerpa barang yang ada di kepalanya menjauh dan terjatuh di seberang jalan. “Minho-ssi,topiku terjatuh disana!” Jinri berseru keras pada seorang pria di belakangnya. Pria itu berjalan mendekatinya yang sedang menunjuk sesuatu. “Kau mau aku ambilkan?”

 

“Apa tidak merepotkan?”

 

“Tidak apa-apa. Kau tunggu disini saja.” Minho berlari kecil setelah lampu jalan untuk menyebrang berganti warna menjadi hijau. Itulah tanda bahwa saat itu waktu yang tepat untuk berjalan mengambil topi lebar berwarna tosca itu. “Minho-ssi! Gomawo!” Meski topi miliknya masih belum berada di tangan Jinri, ia sudah berterimakasih terlebih dahulu sambil melambaikan tangannya di seberang jalan.

 

“Kurasa akan hujan.” Gumam Jinri menghadap langit yang agak mendung. Ia tahu bahwa sedari tadi kabut masih saja menyelimuti jalan namun tak seperti ini juga sehingga ia kurang jelas melihat sosok teman kencannya yang baru saja ia lihat. “Kok tak terlihat?” Ia mencari-cari sosok itu walau bertubrukan dengan pejalan kaki yang menyebrang.

 

“Minho-ssi?” Jinri berusaha mencari pemilik tubuh tinggi itu tetapi tetap ia tak melihatnya di seberang sana. Jinri berjalan perlahan menyebrangi jalanan besar itu. Kabutnya masih tebal samar-samar dan terlihatnya sosok yang ia cari. “Minho-ssi?”

Sosok itu tak bergeming. Jinri memperhatikan benda yang berada di tangannya. Benar sudah topinya ditemukan. Tapi ada yang aneh.

 

“Minho-ssi?” Tanyanya setelah mencapai trotoar seberang. Ia mendekati sosok itu tetapi bukan Minho yang ia cari melainkan orang lain yang sedang membawa tas tenteng mirip dengan warna topinya. “Ah,jwoseonghamnida.” Ujar Jinri memohon maaf atas kesalahannya.

 

“JINRI-SSI!! DISINI!!” Jinri merasakan sebuah kelegaan begitu mendengar suara Minho memanggilnya dari belakang. Jinri menoleh dan mendapati Minho melambai dari balik pohon. “TOPINYA DISINI!” Teriaknya lagi. Jinri berlari kecil menghampirinya.

 

“Awas ada orang!” Jinri terlanjur menabrak seseorang dengan kursi rodanya. Kakinya terbentur bagian keras kursi itu. Bukan sang pengguna yang terjatuh melainkan malah Jinri yang terpental. Buru-buru Minho menghampiri mereka berdua. “Maaf,maafkan temanku ini…”

 

“Gwaenchana. Tak apa-apa.” Ternyata seorang wanita cantik dengan rambut yang menjuntai lurus berkulit putih pucat itu tak mempersalahkan kelalaian Jinri itu. “Aku benar-benar minta maaf.” Minho berulang kali meminta maaf namun gadis cantik tersebut hanya tersenyum sambil mengadahkan kedua telapak tangannya. “Lain kali hati-hati ya…” Pesannya singkat kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.

 

“Aish~apa dia tak punya mata.” Gumam Jinri pelan namun masih bisa didengar Minho. Minho hanya tersenyum kecil dan menghampiri Jinri. “Kau tidak apa-apa kan? Mana yang sakit?”

“Tak apa-apa kok.” Ucap Jinri singkat,”Minho-ssi aku mencarimu dari tadi tapi kau menghilang dengan cepat.”

 

“Aku tidak tahu kemana larinya topi tadi. Kabutnya terlalu tebal.”

“Baiklah. Lain kali jangan menghilang lagi. Aku takut.”

“Kau takut? Syukurlah…”

 

Jinri mengernyitkan sebelah alisnya,”Maksudmu?”

“Ah tidak. Aku hanya bersyukur kau masih memperdulikan aku. Hahahaha… ayo kita ke Myungdong. Aku ingin membelikan sesuatu untuk Hyung.”

“Hyung?” Tanya Jinri lagi, “Maksudnya kakakmu itu.”

“Bukannya kau lebih tua dari kakakku?”

 

“Oya ya? Hahaha…”

 

Jinri tertawa lepas bersama pria itu. Dipakainya topi yang lepas terhempas angin tadi. Udara semakin dingin dan rasanya oksigen disekitarnya semakin menipis juga. Ia tiba-tiba merasa cepat lelah padahal baru berapa meter mereka berjalan. Jinri tak menghiraukan itu semua. Ia mengeratkan syalnya sampai ke ujung dagu. “Kau kedinginan? Masukan sebelah tanganku ke jaketku saja.” Jinri mengikuti saran Minho. Ini lebih baik. Begitu batinnya.

 

“Aneh…” Ujar Jinri dalam hati. Ia memperhatikan sekelilingnya dengan seksama. Kenapa pada musim semi terjadi kabut? Peristiwa ini langka dan pastinya akan disiarkan di seluruh televisi. Jinri segera mengambil telepon genggamnya dan masuk ke situs TV nasional. “Kalau sedang berjalan sebaiknya masukkan handphonemu Jinri-ssi…”

 

Jinri tetap tak menggubris perkataan Minho. Ia tetap berkutat pada layar handphonenya yang menunjukkan berita terkini di internet. Apa hanya dia saja yang merasakan keanehan ini. “Jogiyo,apa hari ini berkabut?” Ia menyempatkan untuk bertanya pada orang yang lewat dan semua mengatakan iya. “Aneh…” Ia memperhatikan layar handphonenya dan memasukan beberapa kata kunci yang berkaitan dengan ‘kabut’ namun tak satupun menampilkan hasil yang ekuivalen.

 

‘grep’

 

Minho mengambil handphone Jinri mendadak dan memasukkannya ke saku dalam long coatnya. “Tak ada kata handphone selama kita bersama.”

Ucapan itu membuat Jinri diam tak berkutik. Ia ingin marah namun tertahan. Entah kenapa yang ia fikirkan saat ini adalah kembali pulang.

“Ayo pulang.”

 

Percuma. Kata itu hanya tertahan dalam benaknya. Ia tak tahu mengapa menjadi begini menurutnya dengan sosok disampingnya. “Pulang.” Kata itu yang terus berputar sedari tadi.

 

Perlahan,sosok mereka menjauh dari keramaian.

 

“Pulang…”

***

Langitnya berwarna ungu keemasan. Tanahnya liat seperti berlapis lumut yang licin. Aromanya juga aneh,seperti sabun cuci yang dicampur dengan pasta ikan. Cuacanya juga buruk ditambah tetesan air hujan yang turun bersamaan. “Uhuk…” Pria itu terbatuk setelah terlempar dari suatu tempat. Matanya masih menerawang tempat berpegangan yang tepat. Ia menemukan sebuah batu besar yang seolah teronggok liar dibalik semak belukar. “Uhuk uhuk…” Ia berbatuk lagi mungkin karena meminum banyak air dan tersedak. “Eodini?” Herannya memainkan bola mata ke penjuru tempat aneh dan luar biasa baginya itu.

 

Taemin berusaha bangkit dari posisinya. Ia bingung setengah mati hendak bertujuan kemana nantinya. Portal tadi menghubungkannya pada dunia yang serba aneh ini sudah tak terlihat lagi. Taemin basah kuyup mencari tempat berteduh. Badannya bergetar akibat kedinginan dan menggigil. Sejurus kemudian ia menemukan sebuah pohon besar yang riup dengan akarnya yang besar-besar muncul di permukaan.

 

Taemin berlari menuju pohon itu. Digunakannya cardigan itu untuk sekedar menghangatkan tubuhnya walaupun tak terasa menghangatkan sama sekali. Ia mengusap beberapa kali telapak tangannya dan meniupkan hembusan nafasnya untuk mencoba sedikit kehangatan.

 

“Sial,dingin sekali. “ Gerutunya kesal. Perlahan ia mencoba memperkecil jaraknya dengan batang pohon. “Kurasa disini aman.” Hendak berbicara itu tiba-tiba terdengar suara raungan disekitarnya. Taemin terperanjat. Sepersekiannya tubuhnya telah terkunci oleh akar-akar pohon yang mengikat erat tubuhnya hingga tak dapat bergerak sedikitpun. Taemin mengerang kesakitan ketika tubuhnya terhempas bidang itu. “ARRGGHH!!”

***

TBC (?)

Bwahahaha,otak sarap tiada tara muncul lagi.

Komen yuk kawanku sayang…

Lanjutnya mungkin bakal lama (lagi) jadi mohon kesabaran menantinya ya ^^

note : Poster diatas dibuat dengan sangat buru-buru sekali mohon kemaklumannya (?)

Kpop connecting us!

Follow me          : @zoompia

FB                     : Alifia Rahayu Lestari

 

Gomawo *bow*

7 thoughts on “Untitled Fairytale [Part 1]

  1. FIRSTT !! FIRST!!
    ada lorong rahasia di rumh taemin?
    dan minho? apa kabutnya itu ada hubungannya antara minho ato taemin?
    ato jgn2 minho itu juga ada hubungannya sma taemin dan sulli yg pas dibagian prolog? duh sumpah aku penasaran bggttt ::D
    aku penasaran bgt!!! kira2 ini ada berapa chap? xD
    ini gila kerennnn!!!

    • Wah first ya? Chukkae!!! *tebarbalon*
      lorong? Kayaknya bukan deh tapi apa ya? Aku juga gak tau /plak/ kan asal nulis (?)
      kan kalo kasi kabut kan biar kayak efek2 “Bleach” gimanaa gitu ya ulala membahana (?)
      Ntar minho nya ada deh di chap selanjutnya hehe. Perkiraan chap juga masi belum tau sih soalnya juga wktunya mepet sama ujian ujian. Jadi paling ngga partnya ga banyak :”)

      Gomawo ya udah mau baca XD
      baca ff ku yang fantasy (?) lain deh biar ga bosen nungguin ff ini hehehe
      gomawo *bow*

      • jadi authornya juga gak tauu?? hahahaa
        tpi pendeskripsiannya itu bagus lhoo aku sukaa xD
        fantasy? wah hebat :D okdeh tunggu commentku di ff author yg lain :p
        btw, panggilannya siapa? aku lbh suka manggil pake namaa :-)

        • Iyanih gak tau ._.
          Ohaha makasi ya jadi gimanaa gitu kalo ada yg suka ff abal ini :”) tengkyu ya *bow*
          Panggil aja Min ato Fia ato Pia juga ga masalah,asal jangan panggil Yeobo wkwk ntar masalah (?) sip sip di tunggu ya gomawo ^^

    • aih kamu jaekwon (?) muah muah saranghae yeoboku <3 (?) :) kalau bikin sehun yoona gimana? hehehehe gomapseu iya nanti insyaallah aku buatin. Genrenya mau apa? perang ya? hehehe sip sip gomawo *bow* sering sering mampir ya sayang :)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s