Ying Er [part 3]

Ying Er

Title : Ying Er
Author : Park Minhyun
Cast : Tiffany Hwang
Choi Siwon
Jung Yunho

Other Cast :
Luna f(x)
Kim Taeyeon
Kim Jonghyun

Length :
Chaptered

Genre :
Angst,Romance,Family,Sad,AU,Mix

Rating : PG15

Note : This is all my own plot,cast belong to their God kekeke
Ini adalah FF chaptered yang aku buat tahun lalu. Prosesnya sangat sangat sangat lama sehingga para readers juga bosen nungguinnya sampe tumpeh tumpeh lah (?) pokoknya aku berterimakasih banget sama kalian semua yang udah support kelanjutan FF ini dari awal sampai sekarang. Aku jadi terharu melihat komen kalian di part sebelumnya. Maka dari itu dukungan kalian bikin aku bersemangat buat ngelanjutin FF spesialku ini. Gomawo readersku ^^ *kecupsatusatu*

*mengingat length yang aku panjangin dan rating yang aku turunkan,mudah-mudahan readers semua bisa lega sekarang kekeke mudah-mudahan kalian merasa puas dengan apa yang aku kerjakan pingsan-pingsanan (?) akhir-akhir ini dan dengan usahaku itu diharapkan kalian mau kasih jejak sedikit aja di sini,oke? Take it slowly… kekeke

Hope u enjoy it :)

DON’T BE A SIDERS JUSEYO
READ LIKE AND COMMENT AS ALWAYS ^^
read also : part 1 | part 2

***
-previous part-

“Permisi,kurasa kita pernah bertemu?”
Yunho tercekat,tangannya mengenggam garpu kuat,”Appa! Appa kenal unnie ini?”Gadis kecil yang kutahu namanya Sora menunjuk tangannya,”Ne,Sora-sshi… kurasa kami pernah MENGENAL satu sama lain?”kulirik tajam Yunho. Gadis di sampingku tampak tak nyaman. Kurasa ia cemburu.

Jangan,jangan sampai gadis itu cemburu,karena pada akhirnya kau akan ditinggalkan juga.
“Ah,anniya Sora-ya,appa tidak kenal. Jogiyo,mungkin kau salah lihat.”ujarnya singkat. Oh Tuhan,sebegitu bajingannya namja ini?

“Kenapa kau tak sopan sekali agasshi…”gadis itu buka suara,aku tersenyum kecil,”Justru karena Korea negara yang ramah,bukannya harus saring menyapa?”ujarku. Yunho tampak gusar,keringat menetes dari dahinya.

“Jihyun-ah,ayo ditempat lain saja.”Yunho menarik gadis tadi beserta anaknya keluar.
Hyeon ahjussi terpaku melihat apa yang ia lihat sekarang. Tubuhku bergetar,

Kutatap punggung Yunho. Berharap ia sudi walau hanya menengok kearahku.

Aku terlalu banyak berharap bila namja itu akan bertanya

‘bagaimana kondisimu?’

‘sekarang tinggal dimana?’

‘lama tak bertemu.’

Atau satu yang kubutuhkan saat ini.

‘aku merindukanmu’

Dalam pandangan kabur,kurasakan sebuah tangan menarikku paksa. Tubuhku oleng namun tetap menarikku. Aku menangis karena perih ditangan. Tanganku,ditarik. Jemariku beradu teramat perih.

Jariku sakit. Ketika kurasakan beberapa kuku menancap. Aku mengerang keras walau tak digubrisnya. Aku menatapnya geram. Segeram apapun kini,aku masih sempat melihat ke tangannya.

Sebuah cincin di jari manisnya.

***

Aku turun dari bus perlahan. Mataku sembab setelah banyak menangis. Rasanya seperti diketuk ribuan palu yang menghantam kepalaku seketika itu juga. Aku bingung akan melakukan apa bahkan aku tak tahu sedang dimana. Aku merasa bersalah karena meninggalkan kerjaanku dan malah kabur. Aku rasa aku sangat menyusahkan Hyeon Ahjussi karena ini akhir pekan dan semua orang gemar makan di luar. Ya,semua orang bersama keluarganya masing-masing.

“Brengsek…” Aku menyenderkan kepalaku di tiang halte pemberhentian bus. Dadaku terasa memburu namun urung karena beberapa orang yang lewat menatapku heran. Aku duduk tegak kembali tetapi mataku memanas. Aku langsung menangis sejadi-jadinya. Bukankah ini kisah yang kuinginkan? Menjadi orang tua tunggal lalu bersenang-senang bersama anak gadisnya. Berbelanja bersama,main game bersama lalu makan ice cream bersama anakku.

Salahkan aku apabila memimpikan happy ending kisah Cinderella. Salahkan aku apabila semuanya menjadi kisah Geisha. Samakan aku dengan pelacur yang kesepian di malam menjelang musim dingin. Salahkan aku yang menyusahkan semua orang.

“Permisi,bukankah kau Tiffany Hwang agasshi?” Kurasakan sebuah suara bass berada tepat di sampingku. Jujur,aku tak ingin ada siapapun disini. “Yeogi,bisakah kau tinggalkan aku sendirian?” Kuusahakan berbicara dengan nada serak bagaimanapun juga. Aku tidak menoleh sama sekali. Mataku hanya terpejam dan ingin hilang di telan bumi.

“Malam ini dingin agasshi,pakailah ini dulu.” Suara lembut yang langsung masuk ke telingaku membuatku melirik sebentar. Sebuah jaket hangat menutup sebagian badanku. Aku mengenggamnya lemah.”Aku tak perlu jaket.” Kataku mengembalikan jaket tersebut kepada pemberinya.

“Kondisimu lemah,sebaiknya lekas pulang dan gunakan jaket ini. Kalau kau tidak kuat bisa aku antar. Sepertinya rumahmu didekat sini. Akan aku antar.” Kuhentakan tanganku ketika ia memegangnya.
“Tidak perlu.” Kataku dingin.

“Padahal baru pekan lalu kita bertemu,agasshi sudah lupa.” Sepertinya ia duduk membelakangiku. Aku menegakan tubuhku berusaha melihat wajahnya. Lampu yang berkedip-kedip sehingga menyusahkanku melihat wajahnya hingga aku perlu memicingkan mataku.
“Masa lupa? Aku dokter Choi.” Ia menyalurkan tangannya. Dengan kikuk,aku membalasnya. “Jwoseonghamnida,sikapku kasar tadi.” Kataku meminta maaf. Dokter Choi mengangguk sambil terkekeh.
“Tidak apa-apa,sungguh bukan apa-apa.”
Aku ikut tertawa kecil melihat tingkahnya yang lucu sambil menggerak gerakan kedua telapak tangannya kearahku cepat. “Wah,akhirnya agasshi tersenyum.”

Aku baru sadar seketika itu juga.
“Padahal dari tadi murung terus kan?”

“Tidak,aku tidak murung.”
“Sungguhan?”

***

“Disini kau tinggal agasshi?” Aku menunduk 90 derajat pada dokter Choi. “Ya,disini.”
“Agasshi tinggal sendirian?” Baru hendak aku menjawab,Luna keluar dari pintu gerbang membawa dua kantong plastik besar yang kurasa akan dibuang ke tong sampah. “Oh! Eonni! Wasseo?” Ia kaget melihatku dan langsung membuang kantong-kantong tersebut ke seberang jalan.
“Ya. Baru saja.”

“Nugu?” Ia mengarahkan dagunya kearah dokter Choi. “Dia dokter Choi,ia yang memeriksaku kemarin.”
Luna bergegas melepas celemek lusuhnya dan berjalan kearah kami. “Jwoseonghamnida Choi uisa-nim,Miyoung eonni merepotkan anda. Terimakasih sudah membawanya pulang selarut ini.” Luna tersenyum polos sembari menunduk kecil.
“Tidak apa-apa kok. Kebetulan tadi aku lewat di daerah ini lalu bertemu Hwang agasshi.” Ucapnya sopan. “Eonni,ayo masuk sudah malam lagipula ini dingin.” Aku memberi salam lalu berjalan masuk ke rumah. Luna menengok kembali lalu menunduk berulang kali kikuk. “Gamshahamida uisa-nim!”

***

-Author POV-

“Lihatlah agasshi,sepertinya perempuan…” Dokter bertubuh tegap itu ikut tersenyum bersama Miyoung yang juga tersenyum kecil. “Aigoo bergerak gerak!” Seru Miyoung menatap layar USG. “Wah,sepertinya bayi anda sudah tidak sabar lagi melihat wajah ibunya.”tandas dokter itu.

“Iya mungkin ingin cepat-cepat bertemu ibunya hahaha…”tawa Miyoung.

“Oh ya Tiffany Hwang agasshi,anda sebaiknya makan dengan teratur supaya saat proses persalinan nanti anda juga bayinya kuat. Ini nanti saya berikan suplemen harap di minum tiap pagi dan sore hari ya.” Dokter cantik itu tersenyum ramah. “Apa ada masalah dengan janin saya?” Miyoung tampak sedikit panik.

“Ah,bukan apa-apa. Hanya sepertinya jantung bayinya lemah. Dengan makan yang banyak saja sudah cukup membantu kok. Anda tak usah khawatir.” Dokter itu menuliskan sesuatu di sebuah kertas.

“Ini resepnya. Kalau ada apa-apa silahkan hubungi saya.”

“Gamshahamida uisa-nim.” Miyoung menerima kertas itu sambil membungkuk. Ia berbalik hendak meninggalkan ruangan itu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Oh ya Kim uisa,waktu pertemuan yang lalu ada dokter pengganti kah?” Miyoung kembali lagi ke kursi pasien.

“Dokter pengganti? Oh… waktu itu ya? Iya kebetulan saya ambil cuti sehari karena waktu itu hari kematian nenek saya di Daegu. Maaf sekali saya tidak memberi tahu agasshi sebelumnya.” Dokter bernama Kim Taeyeon itu membungkuk. “Iya,tidak apa-apa.”

“Apakah Dokter Choi kurang baik pada anda?”

“Dokter Choi? Anniya uisa,beliau sopan sekali. Hahaha…kalau begitu saya pamit dulu ya permisi.” Miyoung tersenyum ramah membalas senyum dokter spesialis kandungan itu.

‘krek’

Terdengar derit gesekan engsel pintu ketika Miyoung keluar dari ruangan yang lebih besar dari kamarnya. Sepanjang mata mengedar hanya terlihat dinding bercat putih. Mungkin ia harus membiasakan dirinya karena ia akan sering-sering datang ke tempat ini dan menyesuaikan datang sendirian. Ia menghela nafas panjang.

Perjuangannya tinggal sebentar lagi. Ketika bayi yang dikandungnya lahir ia akan menitipkannya di panti asuhan dan melihatnya tumbuh besar dari jauh. Miyoung akan melanjutkan hidupnya yang baru sebagai wanita bebas dari tekanan apapun. Ia bisa makan makanan lezat seluruh negeri,tidak. Bahkan seluruh dunia. Berkelana dari satu tempat ke tempat lain dan menikmati hidup sebagai Tiffany Hwang,bukan Hwang Miyoung. Bahkan kalau perlu ia akan mengganti nama keluarganya karena baginya keluarga bukan apa-apa lagi. Sama tak berartinya dengan tumpukkan kantung infus bekas di sudut lorong itu.

“Juno-ya! Ayo makan!” Miyoung menoleh ke sumber suara di ujung koridor lorong rumah sakit. Terlihat seorang bocah kecil dengan pakaian pasien berlari sambil menutup kedua mulutnya dengan kedua telapak tangannya seolah olah takut kalau ada angin yang masuk ke kerongkongannya. “Juno-ya!”

Bocah kecil itu terus berlari mendekati Miyoung. Miyoung heran karena tiba-tiba bocah itu bersembunyi di balik punggungnya. “A..ada apa ini?”
“Ahjumma,bilang kalau kau tak melihatku ne?” Miyoung hendak tertawa mendengar celoteh anak laki-laki yang bersembunyi di belakangnya,jelas-jelas terlihat mana mungkin berbohong tidak melihatnya?

“Jun… ah jwoseonghamnida.” Seorang wanita paruh baya yang sedang membawa mangkuk plastik itu berhenti setelah setengah berlari. “Juno-ya,ppaliwa ayo makan nanti baru minum obat…” wanita itu berbicara seolah berbisik sambil mengajukan sebelah tangannya untuk memanggil bocah kecil itu.

“Shireo! Aku benci obat! Pahit!” Serunya. Miyoung hanya diam tak berkutik. Apa yang harus aku lakukan?
“Permisi nona,anak ini agak merepotkan…”Wanita paruh baya itu menunduk 90 derajat seakan malu atas perbuatan bocah tersebut. “Kau Juno bukan? Nah kembalilah ke ibumu ya nak…”ujar Miyoung pelan. “Shireo! Nanti aku disuntik lagi!”

“Ya! Kim Juno! Kau nakal sekali! Sini biar bibi jewer!”

Oh,jadi wanita itu bukan ibunya? Pantas kurang mirip…

“Wee~ tangkap aku!”
“Ya! Kim Juno!”

***

“Maaf Juno sangat merepotkan anda…” Kini wanita paruh baya itu sedang bersama Miyoung di sebuah taman atap rumah sakit. Keduanya memegang segelas plastik teh hangat. “Tidak apa-apa, aku senang ada anak kecil yang begitu aktifnya. Hahaha.” Ujar Miyoung.
“Padahal amanat ibunya sudah kupegang baik-baik…hiks aku memang buruk dalam mendidik anak…”kata wanita itu sambil menyeka ujung matanya yang berair.

Apa maksudnya?

“Maksud anda nyonya?” Miyoung merasa penasaran. “Malangnya Juno kecilku… ia tak mempunyai ayah dan ibu,kasihan sekali…” Miyoung mengernyitkan kedua alisnya.
“Sewaktu ia dilahirkan,ibunya menitipkan anaknya kepadaku. Katanya ia muak dengan yang namanya keluarga termasuk anaknya sendiri. Ibunya bahkan belum menikah dan hamil entah dengan siapa. Sayang sekali,ibu Juno bahkan memberikan anaknya yang tanpa nama itu dan langsung menghilang begitu saja. Oh Tuhan,kuatkanlah Juno kecil itu…”

Miyoung menunduk. Ia merasa sangat bersalah saat ini. Ia tak mampu berkata apa-apa selain menepuk pundak wanita itu. “Sekarang apa? Anaknya sakit saja tak ada yang menengok. Orang tua macam apa mereka?” Seketika itu tubuh Miyoung menegang. Tangannya bergetar namun berusaha ia tutupi. Iya benar,orang tua macam apa dirinya.

“Itu…kalau boleh tahu Juno mengidap penyakit apa?”

Spinocerebellar disease degeneration…entah apalah namanya aku tak tahu. Susah sekali,ada-ada saja ilmuwan memberi nama…”ujar wanita itu lemah. Miyoung menutup mulutnya tak percaya. Seingatnya waktu sekolah dahulu penyakit itu merupakan penyakit yang menyerang saraf motorik sehingga sang penderita lambat laun akan lumpuh dan akibatnya adalah kematian.

“Su..sungguhan?”

“Entahlah,aku bosan menjelaskan apa itu. Kenapa sih orang-orang selalu terkejut mendengarnya? Cih,seperti tidak ada harapan untuk sembuh…”Wanita itu memalingkan wajahnya. Mungkin beberapa tetes air dari bola matanya telah jatuh tapi malu untuk dipertunjukkan.

“Nyonya tak perlu khawatir. Asal kita percaya bahwa kesehatan akan datang pada mereka yang berbuat kebajikan,tak ada salahnya kan kalau kita percaya Juno akan sehat kembali?” Miyoung memegang tangan wanita itu dengan kedua tangannya. “Aku percaya itu semua,Tuhan adil nyonya.”

Ya,walaupun keadilan itu masih belum diberikan kepadaku

***

-Tiffany POV-

“Aku pulang.” Kataku singkat. Semakin hari perutku semakin berat saja. “Unnie? Sudah datang? Istirahat saja dulu. Untung Hyeon ahjussi hari ini sakit jadinya toko tutup. Hore! Libur!”

“Ya! Hyeon ahjussi sakit kenapa kau malah senang? Seharusnya kau rawat dia!” Ujarku meninju pelan lengan Luna. Ia hanya tersenyum penuh arti. “Apa? Kau ada kencan buta?” Selidikku.
“Hehe rahasia! Unnie di kamar saja ya istirahat nanti kalau ada apa-apa call me maybe kekeke…aku pergi dulu!”

“Hei! Aku kan baru pulang!” Aku berteriak kesal ia malah menunjukkan tanda O dengan jarinya. Membelakangiku pula. Cih,menyebalkan. “Unnie,kau suka pink kan?”
“Iya! Terus?” Jawabku kesal.

“Strawberry.coklat,pisang?”

“Gochujang(pasta cabai Korea).” ujarku sewot. Ia tertawa,”Mudah-mudahan tidak tersedak.”

‘pluk’

Kulempar wajahnya dengan handuk kecil yang tergeletak didekatku. Sejak kapan ruangan ini begitu berantakan? Pasti gara-gara wanita bernama Luna itu. Benar-benar…
“Sudah pergi sana,sana.”
“Kau mengusirku unnie?”
“Iya. Lalu?”
“Hiks teganya…”Ia menggerutu dan berpura-pura menangis dengan dramatis. Hahaha bagus sekali akting burukmu itu Luna. Nilaimu 10 out of 10,aku jadi bangga mempunyai teman dengan akting seburuk dirimu.

“Ah sudahlah,aku pergi dulu. Annyeong unnie tercinta mwah!”
“Eeyy~”

Aku memalingkan wajahku jijik. Bisa-bisanya dia memberiku flying kiss andalannya?
“Baiklah,hati-hati dijalan.”

Setelah beberapa saat Luna menghilang dibalik pintu. Ruangan ini terasa sepi senyap kembali. Aku sedikit menyesal karena menyuruhnya cepat-cepat pergi begitu saja. Padahal aku menginginkan teman mengobrol pada hari-hari beratku ini. Kuhembuskan nafasku panjang dan menghirupnya kembali dalam-dalam. Suasana tetap sama dari waktu kewaktu. Dinding disekitarku menguning mungkin karena usia cat dindingnya yang sudah lama,ada pula lapisan yang keropos karena air hujan. Iya benar,musim semi tiba dan membawa banyak tangisan langit.

“Ahjumma,apakah ada adik kecil di situ?”

Aku tertawa kecil sendirian mengingat kembali perkataan polos bocah yang kutemui di rumah sakit tadi. Ia sempat mendekatkan telinganya di perutku. Kurasa ia penasaran betul dengan apa yang ada di dalam perutku ini. “Ahjumma,adik itu bisa main bola kan disana? Apa cukup luas untuknya bermain? Ah,atau ada playstation disana jadi adik kecil betah di dalam? Wah,aku ingin playstation…” Seketika kuingat kembali ketika wajahnya yang polos itu berubah murung. Ia berkata bahwa di rumah sakit makanannya tidak seperti dirumahnya yang serba enak. Sayang sekali, anak itu tidak mengerti penyakit apa yang di deritannya. Andai ibunya tahu…

“Aku juga ibu yang buruk…” Rencana awalku seakan goyah ketika mengetahui fakta menyedihkan tentang Juno kecil itu. Aku tak mungkin membiarkan anakku terlantar dan menderita sendirian tanpa ibunya. Aku tak seharusnya menjadi salah satu dari ‘manusia brengsek’ termasuk sang ayah dari bayiku ini. Aku tak mungkin mampu dikelompokkan dalam manusia-manusia seperti itu. Tidak boleh. Sepertinya Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya dengan menurunkan pesannya kepadaku dengan cara itu. Aku tak mau pada akhirnya bayiku berakhir sebagai ‘Juno kedua’ yang tak pernah merasakan hangatnya tangan ibunya,indahnya suara ayahnya dan bahagianya sebuah keluarga.

Entah hal ini membuatku kepalaku terasa pening berat.

***

-Author POV-
“Aduh kasihan sekali wanita itu,eh katanya ia belum menikah?”

“Wah? Sungguhan? Ckck tidak dapat dipercaya…”

“Kalau aku jadi dia lebih baik aku mati.”

“Iya benar. Memalukan keluarga saja.”

“Dimana harga dirinya itu ya? Benar-benar memalukan.”

“Kok sudi ya si Hyeon Woonsik pemilik restoran jajangmyeon yang terkenal itu memungutnya…aduh kasihan…”

Beberapa para wanita tua yang tampak seperti ibu rumah tangga itu menggeleng-geleng tidak percaya sambil tak henti-hentinya mendecakkan lidah. Mereka melirik tajam Miyoung yang berjalan tertatih-tatih seolah dia adalah bom rudal yang akan membunuh mereka apabila mereka mendekat,bukan atau lebih tepatnya tumpukan sampah busuk yang bahkan enggan dihinggapi lalat satupun.

Miyoung hanya menunduk lemah. Ia lalu berjalan pelan dan masuk ke sebuah toko serba ada. “Permisi apa kau punya lotion anti nyamuk?” Pegawai yang sedang berdiri di depannya mengangguk,”Nona minta berapa?”

“Aku minta 2 sachet saja. Oya apa kau ada obat sakit kepala juga?” Pegawai itu berhenti sejenak lalu melirik perut Miyoung yang membuncit. Apa tidak apa-apa kuberikan padanya batin pegawai toko itu.
“Iya ada,untuk siapa?”

“Saya.”

“Ini. Anda butuh apa lagi?”

“Um…dan air mineralnya satu botol saja. Sudah. Berapa yang harus kubayarkan?” Miyoung mengambil dompetnya dan membayarkan barang belanjaannya. Sebelum keluar dari toko itu Miyoung segera membuka bungkus obat pereda sakit kepalanya dan meminumnya di tempat.

“Iya,kudengar pemilik restoran itu juga tergoda rayu wanita itu…”

“Keterlaluan sekali sikapnya. Apa dia tidak punya orang tua? Biasanya buah tak jauh dari bibit begitu katanya.” Para wanita tadi masih saja berkumpul di pinggir jalan. Mereka saling berbisik seolah tak menyadari bahwa Miyoung berada tepat dibelakang mereka.

“Permisi ahjummonim,maaf mengganggu obrolan anda tapi perlukah anda di pinggir jalan dengan omongan-omongan buruk anda itu?” Miyoung mengepalkan kedua tangannya. “Huh? Jadi kau wanita jalang itu beraninya berbicara rendah terhadap orang yang lebih tua? Cih,aku tidak percaya…”

“AHJUMMA!!” Miyoung berteriak sarkas. “Perlu kutegaskan disini bahwa tak ada pihak yang dirugikan dengan adanya anakku itu. TITIK.” Miyoung membulatkan kedua matanya lalu berbalik dan berjalan cepat.

“Apa-apaan dia!”

***

“Kau sudah telepon dia?” Seorang lelaki memegang stir mobil berbicara sambil tetap fokus dengan jalanan di depannya. “Ini aku sedang telepon. Sepertinya ia keluar dengan meninggalkan handphonenya dirumah.”

“Apa kita kembali saja.” Gadis disampingnya langsung menggeleng. “Andwae! Bagaimana dengan rencana kita Jonghyun-ah? Pokoknya tidak. Ayo kembali ke rencana awal!”
“Hahaha…baiklah kajja!”

Mobil yang mereka tumpangi melaju lebih cepat di tengah keramaian hiruk pikuk kota Seoul. Dimana pejalan kaki menyeberang ketika lampu hijau mereka muncul,dimana mereka yang bekerja berlarian karena mendapat telepon dadakan, dimana mereka yang lapar sedang asyik mencari tempat makanan yang pas.

***

Siwon baru saja selesai memeriksakan salah satu pasiennya. Hari ini ia pulang lebih awal karena memang tidak ada janji perawatan lainnya dan mungkin saja memang ia sedang tidak ada kerjaan atau lebih tepatnya sedikit menganggur. “Oppa!” Siwon berbalik dan melihat seorang gadis berperawakan mungil dengan jas putih khas dokter itu datang padanya. “Sudah kubilang jangan memanggilku dengan sebutan ‘oppa’ di rumah sakit.” Siwon mengacak rambut gadis itu pelan.

“Baiklah Siwon-ssi hohoho,kau sudah makan siang? Aku tahu tempat makan siang yang enak. Tapi lumayan jauh dari sini. Kau mau ikut?”
“Bagaimana ya. Sepertinya aku sibuk sekali…”gumam Siwon sambil tersenyum nakal melirik jam tangannya lalu ia terkekeh.

“Eyy~ jangan berbohong pada seorang Kim Taeyeon kau tahu. Aku melihat seorang dokter pengangguran yang sedang menunggu kekasih cantiknya mengajaknya makan bersama. Betulkan?”

“Um,tidak sepenuhnya…”goda lelaki itu. “Baiklah apa kata putri Kim uisa sajalah.”
“Apa-apaan kau ini. Bagaimana bisa membubuhkan kata ‘putri’ dan ‘uisa’ bersama sama huh? Cari mati?” Taeyeon lalu mengamit tangan Siwon. Jujur baru pertama kali ini mereka berpegangan tangan di rumah sakit.

“Hei kau…”
“Tidak apa-apa. Toh aku juga populer di kalangan dokter dan perawat laki-laki bukan kau saja kan. Iya kan?”

“Huh kau populer?”

“Apa? Kau cemburu?”

“Tidak. Banyak wanita cantik lainnya yang sampai bersujud sujud melihat ketampananku.”

“Kau percaya diri sekali.”

“Seharusnya kau bangga memiliki diriku.”

“Apa yang harus dibanggakan? Memangnya kau piala Gobel Awards? Memangnya kau bisa dijual lagi? Coba lihat berapa harganya…”

“Kau ini menyamakan pacarmu dengan barang-barang.”

“Tentu. Soalnya kau kan berharga.”

“Dalam arti apa huh?”

“Hahaha…”

Pembicaraann mereka terus melantun di sepanjang koridor ruang bernuansa putih itu. Beberapa orang heran melihat kedua insan,adapula yang mengedipkan matanya seolah apa yang mereka lihat itu bukan ilusi.

Jadi issue selama ini benar?

***

“Nona,sebaiknya kau memesan paling tidak satu minuman. Apa mau kupilihkan untukmu?” Seorang pelayan menunduk menghampiri seorang gadis yang tak salah lagi yaitu Hwang Miyoung. “Tidak perlu.”
“Apa kau menunggu seseorang?”

Ya. Aku menunggu takdir. Gumam Miyoung. “Tidak ada.”
“Kalau begitu saya permisi dulu…”

‘tring’

Lonceng yang berbunyi setiap pelanggan masuk restoran itu berbunyi nyaring. Seorang lelaki dan perempuan masuk dan langsung mendapat tempat duduk yang strategis di pinggir jendela yang menghadap langsung ke sungai Han.
“Kau mau apa? Aku mau shirmp soup,tolong tambahkan sedikit rosemary diatasnya,kau Oppa? Mau sama denganku?”

“Apa kau gila? Kau mau membunuhku dengan menu itu? Jogiyo,aku pesan sphagetti lada saja.” Siwon melotot ke arah Taeyeon. “Baiklah silahkan tunggu 25 menit.”

Setelah pelayan itu pergi Siwon dan Taeyeon berbincang-bincang hangat. Mulai dari lelucon dan hal sepele hingga hal yang berbau tentang kedokteran dan penyakit. “Bagaimana dengan adikmu itu?”
“Oh si Jonghyun? Kurasa ia sedang dekat dengan seseorang tapi aku juga tidak tahu. Aku tidak tertarik mengetahuinya.” Ujar Taeyeon sambil menyedot orange juicenya dari sedotan.

“Begitu…”

“Kalau hyung-mu juga bagaimana?”

Siwon langsung terdiam. Senyumnya memudar juga bibirnya terkatup rapat,Taeyeon yang menyadari hal itu akhirnya angkat suara. ”Maaf aku salah bicara…”
“Tidak apa-apa kok.”ujar Siwon singkat.

Tiba-tiba terdengar suara benturan dari meja lain. Siwon dan Taeyeon langsung menoleh ke sumber suara. “Ada a..Omo!”
Siwon bergegas berlari mendekati wanita yang terkulai lemas di lantai restoran.”Dia hamil…”desis Taeyeon. Insting dokternya langsung muncul. “Nona,kau tidak apa-apa?”
Gadis yang meringkuk memegangi perutnya itu mengangguk namun keringat dinginnya tak bisa menjadi indikator penunjuk bahwa gadis itu benar-benar tidak apa-apa.

“Cepat bawa ke rumah sakit!”

***

Suasana lorong itu tampak gaduh. Siwon membantu beberapa perawat mendorong ranjang pasien itu dengan khawatir sedangkan Taeyeon berharap-harap cemas sambil memegangi tangan seorang wanita yang ada di ranjang itu.

“Agasshi,apa kau barusan minum alkohol?” Siwon bertanya panik,gadis itu menggeleng. “Ada kemungkinan kau keracunan kehamilan. Anda tak usah khawatir karena kami para ahli akan menyelamatkan anda termasuk bayi anda arrasseoyo?”

***

“Untunglah bayinya masih bisa diselamatkan.” Taeyeon memasuki kamar pasien dengan lega. “Tiffany Hwang agasshi,apa kau mendengarku?” Taeyeon heran lalu mendekati gadis yang ternyata adalah Miyoung.
“Ne.” Jawab Miyoung singkat. “Kalau begitu saya pamit dulu. Istirahatlah. Saya sudah mengabari kerabat anda.” Taeyeon tersenyum lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Tak berselang lama munculah Siwon dari balik pintu. Ia menatap punggung Miyoung dengan tidak sabar.

“Agasshi,berapa dosis yang kau minum tadi?” Ujar Siwon to the point. Miyoung melemparkan tatapan—untuk apa kau kesini—untuknya. “Kutanya tadi berapa butir obat yang agasshi telan tadi?”

“Dua.”

“Wae? Kenapa harus dua! Apakah agasshi tau efek samping dari obat yang mengandung acetaminophen dosis tinggi? Satu butir saja sudah membahayakan kandungan apalagi dua? Apa anda benar-benar ingin mati bersama bayi anda?” cerca Siwon bertubi-tubi. Miyoung mengehela nafas lalu menatap Siwon tajam. “Lalu aku mau bagaimana lagi dengan kepalaku yang rasanya seperti terbelah menjadi dua itu!” Miyoung berteriak kencang meluapkan emosinya sedari pagi.

“Entah terserah agasshi mau bagaimana yang jelas agasshi harus dirawat di sini sampai benar-benar sembuh. Perhatikan kesehatan bayi anda itu.”
Siwon menjauh dan membalikkan badannya.

“Uisa tak tahu apapun tentangku apakah berhak mengatur-atur hidupku sendiri…”desis Miyoung. Siwon langsung memutar kepalanya. “Apa agasshi bilang? Aku mengatur hidup anda? Tolong redam emosi anda terlebih dahulu baru berbicara dengan jelas padaku. Terimakasih.” Cetus Siwon.

***

Hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun Miyoung terus-terusan menolak untuk makan. Semua orang tahu pasti gadis itu sedang lapar,tapi nafsunya seakan hilang terbawa angin malam yang masuk lewat celah jendela yang terbuka.
“Unnie,ayo makan.” Sudah kesekian kalinya Luna menyodorkan bibimbap untuk Miyoung. “hm… gumam Miyoung.

“Unnie,aku tahu kau stress. Arraseo. Tapi pikirkan juga bayimu Unnie,jebal dengarkan aku.”

“Ne,ne geurae aku pulang…”terdengar suara orang menelepon dari luar ruang pasien. “Luna-ya aku ada acara di rumah,nanti aku telepon ya! Jaga unniemu itu dengan baik. Bye!”

“Jonghyun Oppa! Gomawo sudah menemaniku!” Sahut Luna.

“Oke.”
Secepat kilat Luna beralih pada Miyoung kembali
“Unnie,jebal hanbonman ayo makan…”

“Luna-ya…”

“Wae unnie?”

“Biarkanlah aku berdosa dan masuk neraka. Biarkan Tuhan mencelaku dan mengutukku. Kumohon apabila suatu saat kita bertemu kembali anggap kita tak pernah saling kenal.”

“Ma..maksud Unnie?”

“Aku ingin memainkan peranku dalam opera sabun.”

“Huh?”

“Sudah seharusnya seorang putri salju mendapatkan kebahagiaan.”

“Mwo?”

Miyoung tersenyum getir. Pandangannya kosong menembus kedepan. Seakan sesuatu telah menantinya. “Sudah kupastikan itu.”

***

Spring 2013

Ponsel itu berdering terus menerus namun tak ada satupun insan yang menghentikan deringannya. Salahkan air keran yang mengalir dan bunyi shower itu. Karena pada dasarnya sang pemilik rumah hanya ada satu orang.

“Aish~siapa yang mengganggu acara mandiku sih!” Seorang pria bertubuh semampai keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk putih. “Yeoboseyo!” Ucapnya tak sabaran.

“……”
“Yeoboseyo?”
Pria itu menyernyitkan kedua alisnya. Ia lalu menelisik layar ponselnya. Disana hanya tertera ‘uknown number’

“Yeoboseyo?”

***

23 March 2013

Seoul-Seorang pria ditemukan tewas setelah menghirup gas freon yang bercampur dengan helium di kediamannya di Cheongdam-dong,Seoul. Mayat dilaporkan mengapung di kolam renangnya pukul 04.38 pm oleh rekan kerjanya Jung Yunho (28). Sang korban bernama Hong Sunhyung (39) merupakan CEO dari sebuah perusahaan G Cosmetic ini tidak memiliki tanda-tanda kekerasan lainnya. Diduga kematiannya merupakan sebuah kecelakaan akibat pipa AC yang bocor bersamaan dengan balon koleksi pribadi Alm.Hong Sunhyung yang berada di sekitar area kolam renang. Hasil dugaan ini masih dikonfirmasikan kembali kebenarannya. Sampai saat ini polisi masih menyelidiki kasus naas tersebut.

“Stephanny,did u see the headline news today?”

“Nope. What was that?”

“President Hong,one of our investor was murdered today. No,maybe just accident. But still…”

“I don’t get it. What do you mean?”

“Hong Sunhyung,president of G Cosmetic.”

“Oh my God…”

“We must visit his funeral. Shall we?”

“Yeah,of course…how can you remain here when the others are grieving? At least we still care…”

“Hm,anyway can I ask you a favor?”

“What like u say? Tell me straight.”

“Yesterday. What did u go?”

“Me? Of course I went to Japan. Didn’t you come after me too?”

“Oh…”

“Hikoki ga Nigawa kuko ni chakuriku suru yotei. Jokyaku ga daun shite junbi o shite kudasai…”

(Para penumpang diharap bersiap. Pesawat akan mendarat di Bandara Internasional Incheon.”

“Hey,our plane will landed soon. How excite! Kyaa~”

“Do you miss your daughter so much?”

“Mochiron,dangyeonhaji (tentu saja *Jepang-Korea)”

Seorang gadis cantik yang mengenakan kacamata hitam itu tersenyum. Ia lalu beralih menatap jendela. Diluar sana terlihat jelas gumpalan-gumpalan awan. Gadis itu lalu tersenyum lagi. Ia berhasil mengukir sebuah senyuman sinis di wajahnya tepat ketika ia melihat arloji mewahnya.

“Hong Sunhyung…” gumamnya.


-To be Continued-

Kyaa~ apa-apaan ini -_-
Mian ya readersku T.T bahasa Inggrisnya ngaco sedikit wetsaah sok kebarat-baratan wkwkwk
Bagaimana? Ini sengaja aku buat lebih panjang daripada part sebelumnya hahaha
Kalau ada masukkan plot atau cast atau apalah silahkan komen dibawah ini *tunjukcelana*
Hahaha,gak kok gak silahkan komen di kolom komentar yaa

Waduh? Gak bisa komen ya? Error? Pending?
Nah contact me on :

FB : Alifia Rahayu Lestari
Twitter : @zoompia

Ingat kata pepatah : komenmu,kebahagiaanku (?) hahahaha

46 thoughts on “Ying Er [part 3]

  1. Annyeong chingu ~
    aku bru bca ff ini dri chap 1-3, jd komen’y aku satuin d’chap ini yah :D hehe

    Deabek! Ff’y seru, bkin gregetan bca’y…
    Ksian Tiffany, hdup’y mndrita bgt :(
    next chap’y d’tunggu yah chingu ~

  2. APAAPAAN INI?! Huh hah huh! sudah seabad nunggu ini ff baru sekarang muncur:(/sobs/ thor lo dapat ilham darimana muka fany yg sepolos itu akhirnya dijadiin peran yg bahkan lebih malang dari tikus got omygod malah tibatiba berubah tengil licik gtu yasalam itu yunho berpulang beneran? Garagara siapa itu dibalik semuanya? Ada campur tangan balas dendam fany kah? Aduh cepetan thor next chap nya penasaran ntar ceritain flashbacknya ya bingung sama katakata fany untuk luna yg pas di RS itu,ga mau tau pokoknya next chap hrus dijelasin apa maksudnya,buatin sifany juga next chap lol ini gue jadi reader sadis bener maksanya hehe yg penting next chap jgn lama lagi ya author sayang muuu u.u kasihani km para readers yg penasaran sm next chap nya huhuT_T eh tp ini mksd judulnya Ying Er apaan sih thor?:s

    • Huh hah huh tarik napas buuk ya hembuskaan nah selamat bayinya ganteng /eh/ maap ya seabad jadinya /.\ akhir akhir ini sibuk jadi kekasih gelapnya siwon (?) alhamdulilah dapet ilham dari pilm paporit saya,Putri yang Ketuker di Gambir (?) maunya sih si fany pe n jadiin bangsa elit etapi abis authornya sengsara jadi ga tega ngasi peran elit -_- oyaa~ si Yunho belom berpulang qaqa, dia masi dirumah gue bantuin cukur rumput ‘-‘)/ cie yang penasaran nih ye *poke* tunggu aja lah next part wkwkwk fany ga bisa campur tangan,bisanya campursari apalagi yang Layang Swara *dordordor* terus tadi tanya Ying Er kan? Nah Ying Er artinya “anak” ato “bocah” ato juga “bayi” di dalam bahasa Mandarin *sokcina* /plak/ ntar kalo part 4 ente ga komen sepanjang buntut berang-berang awas loh! Kasi zempak (?) gomawo… Muah muah *bow*

  3. Wah bayi gue ganteng ternyata *meratapi Luhan sambil nazar* dikeluarga gue kok cuma gue sendiri yg hancur bagaikan ayam ketabrak semut yaaaa jadi rada sableng-_-anak gue luhan suami sehun kurang ganteng apa cobaaaak? Anak sendiri jadi pen gue comot ahhh:3 Kekasih gelap siwon? Ah masa siwon ngechat gue lewat walkie talkie tadi katanya lo cuma selundupan doang thor tabah ya*kasih pil syrup penenang(?)* Wah Putri ketuker di Gambir? Pilm keluaran taun 45 masih diinget wooo pilim sekarang tuh yg ngetrend “Gitar Tua Rhoma Irama” jangankan anak muda eyang subur aja demen ama tuh pilim :3 ga heran lo sengsara min abis dicerein sih ama eyang subur gue turut berduka riaaa(?) thor enak amet tuh Yunho jadi tukang cukur bulu ketek lo *eh cabut rumput._. Padahal bulu ketek dia aja belum pada dicabut-__- seriusan yunho belum berpulang? *hidung mbledos* emang iya tuh SriFANYastutsi emang jago campursari,campur madu campur garam campur gula aduh semuanya deh sangkin ahlinya sampe2 tu muka mirip bumbu dapur! YING ER ARTINYA BAYI?? Aih gue banget masih polos suci binti imutimut gitcuuu:3 Thor gue nunggu sih nunggu tapi jangan buat gue lumutan juga,kurang sabar apa gue nunggu 1 1/2 abad demi kelanjutan ni ff T_T oke part 4 gue comment panjang sepanjang bontot berangberang sodara lu min tapi awas klo ni ff lanjutannya lama gue gentayangin tuh pintu hati lo thor biar ga tenang u.u eh tunggu itu buntut berang2 perasaan pendek deh berarti gue klo comment di part 4 nanti tinggal bilang ” bagus thor, lanjutannya tumben ga lelet, suka bangeddddz , lanjut,sekian & terimakasih yasalam” cukup kan?:p eh tapi seriously ya thor updatean nih ff part 4 jgn lamalama loh pakein otak lo modem speedy noh biar ga lemot mikirin jalan ceritanya jgn pakein modem esia hidayah jadi lelet hasilnya yasalam comment-an gue panjang bener ni jari udah keriting siapsiap dulu mau smoothing jari bye cyinnnn:*

  4. Wah bayi gue ganteng ternyata *meratapi Luhan sambil nazar* dikeluarga gue kok cuma gue sendiri yg hancur bagaikan ayam ketabrak semut yaaaa jadi rada sableng-_-anak gue luhan suami sehun kurang ganteng apa cobaaaak? Anak sendiri jadi pen gue comot ahhh:3 Kekasih gelap siwon? Ah masa siwon ngechat gue lewat walkie talkie tadi katanya lo cuma selundupan doang thor tabah ya*kasih pil syrup penenang(?)* Wah Putri ketuker di Gambir? Pilm keluaran taun 45 masih diinget wooo pilim sekarang tuh yg ngetrend “Gitar Tua Rhoma Irama” jangankan anak muda eyang subur aja demen ama tuh pilim :3 ga heran lo sengsara min abis dicerein sih ama eyang subur gue turut berduka riaaa(?) thor enak amet tuh Yunho jadi tukang cukur bulu ketek lo *eh cabut rumput._. Padahal bulu ketek dia aja belum pada dicabut-__- seriusan yunho belum berpulang? *hidung mbledos* emang iya tuh SriFANYastutsi emang jago campursari,campur madu campur garam campur gula aduh semuanya deh sangkin ahlinya sampe2 tu muka mirip bumbu dapur! YING ER ARTINYA BAYI?? Aih gue banget masih polos suci binti imutimut gitcuuu:3 Thor gue nunggu sih nunggu tapi jangan buat gue lumutan juga,kurang sabar apa gue nunggu 1 1/2 abad demi kelanjutan ni ff T_T oke part 4 gue comment panjang sepanjang bontot berangberang sodara lu min tapi awas klo ni ff lanjutannya lama gue gentayangin tuh pintu hati lo thor biar ga tenang u.u eh tunggu itu buntut berang2 perasaan pendek deh berarti gue klo comment di part 4 nanti tinggal bilang ” bagus thor, lanjutannya tumben ga lelet, suka bangeddddz , lanjut,sekian & terimakasih yasalam” cukup kan?:p eh tapi seriously ya thor updatean nih ff part 4 jgn lamalama loh pakein otak lo modem speedy noh biar ga lemot mikirin jalan ceritanya jgn pakein modem esia hidayah jadi lelet hasilnya yasalam comment-an gue panjang bener ni jari udah keriting siapsiap dulu mau smoothing jari bye cyinnnn:*

  5. Onnie. Chinguuu. Autorrr ato apa lah aku manggilnyaa.
    Lanjutkan secepatnya aku dah nunghu bertahun tahunloh #lebay..
    Aku suka cast nya.
    ceritanya jg bagus.
    Aku tunggu terus yah kelanjutannya ..

    • Hahaha iya nih FF nya menahun (?) panggil aku apa aja juga boleh chingu hahaha aku 97’line jadi terserah mau manggil apa hehehe :)
      suka cast nya ya? Uwaaa makasih ya hehe jadi seneng nih,gomawo duh aku tersanjung nih :) silahkan ditunggu ya chinguuuuu :)

  6. Aku baca ini jadi miris sama kehidupannya Miyoung. Sedih, lebih hina daripada tikus. Kasihan banget. Katanya kalau sudah terlambat bulan, minum obat peluntur sama pembersih asalkan tidak lebih dari 6 bulan. Boleh promosi gak? http://www.terlambatbulan.org

    Miyoung kok gak minum obat peluntur aja? Biar Miyoung gak malu…
    Tapi bagus kok ceritanya. Daebak!

    • itu masih belum say hehehe karena memang di part ini aku skip-skip gitu sedangkan adegan dimana dia di pesawat itu sama berita headline newsnya ceritanya udah beberapa tahun kemudian :D mian buat bingung readers ne ^^ gomawo udah mampir disini part 4 udah aku post kok silahkan dibaca :D

    • hahaha insyaallah :D tapi aku masih belum ada rencana buat masukin leeteuk dalam FF ini chingu ._. lain waktu mungkin bakal aku bikin side story dari FF ini. Gomawo ya udah mampir baca ^^

  7. Aku dong Unnie di fallback @TiffyStep31
    hadoh,aku jadi bolak balik ke terjemah google buat ngartiin #maklum org indo#

    tapi soal cerita makin seru makin menantang hohoho

    Next chapter please

    • next chapter sudah saya publish chinguuu :D hehehe mian lama bingit publishnya. Saya juga orang indo kok dan saya juga berteman dengan google translete setiap saat *loh kok* gomawo ya udah comment XD

  8. Lagi-lagi penderitaan fany bertambah,malang banget sih nasibnya.
    Siwonnya udah punya taeyeon,sayang sekali padahal siwon baik banget n sepertinya juga perhatian ke fany tapi entah perhatian sbg dokter atau pria
    Ada apa dengan fany,seperti merencanakan sesuatu
    Siapa juga itu yg mati,apa hub’y dengan fany atau yunho ?
    Penasaran baca part selanjutnta

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s