In Real Life

Summary: Ia lelah dengan kehidupannya sekarang. Untuk apa dia hidup jika hanya untuk menjadi robot pelaksana perintah orangtuanya? Ia ingin… ketika membuka mata, kehidupannya akan berubah. Namun ia sadar, inilah hidup yang sebenarnya. Dan impian itu harus menunggu entah sampai kapan hingga dikabulkan.

Romance/Fantasy | Kim Kibum & Im Yoona | Oneshot

A little bit fantasy. Sorry for the weird story. -_-

The idea originally came from head, but the characters are belong to their families and God itself.

 

 

In Real Life

Dalam sekejap bayangan mimpi indah yang sempat menghampiri tidurnya lenyap begitu saja. Ketika jari-jari matahari yang nakal mengintip melalui sela-sela jendela, ia hanya mengernyitkan keningnya—lalu mulai menyadari bahwa sekarang sudah lewat waktunya untuk tidur.

Namun ia tidak peduli. Semalam ia begitu disibukkan oleh rencana-rencana dan diskusi tentang perjodohan konyol yang telah dirancang ayahnya. Awalnya ia menolak, tapi ayahnya begitu keras kepala dan terus memaksanya untuk menyetujui perjodohan itu. Karena tak punya kekuatan untuk melawan, ia akhirnya mengangguk setuju.

Dan sekarang ia tengah meringkuk di atas tempat tidurnya yang nyaman—mencoba untuk tidur kembali. Sekali-kali ia ingin melanggar peraturan yang mengikatnya selama dua puluh tahun ini.

Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar—menganggu rencananya yang akan kembali tidur. Lalu disusul oleh sahutan seseorang.

“Putri, aku tahu kau sudah bangun. Cepatlah keluar, Raja memanggilmu.”

Tak ada gerakan yang terlihat dari si Putri. Ia masih diam di bawah selimutnya. Dan ketika pintu diketuk sekali lagi, ia menyerah. Ia menyingkirkan selimutnya, merapikannya dan membuka pintu.

“Kenapa tidak langsung membuka pintu? Aku mengkhawatirkanmu, Putri Yoona.”

Yoona hanya tersenyum kecil. “Aku mau mandi dulu lalu bersiap-siap. Kau tunggu saja aku di bawah.”

“Baik,” jawab si pelayan sambil membungkukkan badannya lalu pergi.

 

***


Suara derap langkah dari sepatu kaca yang khas menggema di koridor istana. Disusul oleh penghormatan yang diberikan pengawal istana dalam bentuk bungkukkan badan. Yang diberi hormat hanya tersenyum kecil—sebagai ucapan terima kasih walaupun sebenarnya ia kurang suka diperlakukan seperti itu.

Dan ketika ia sampai di depan pintu ruang makan kerajaan, ia mendesah. Seakan tak siap untuk masuk ke sana, seakan tak sudi untuk kembali ke kehidupannya yang abnormal.

Sebuah senyuman akhirnya bisa Yoona munculkan di wajahnya—walaupun dengan terpaksa. Lalu ia berjalan ke dalam ruang makan seolah-olah ia bahagia berada di sana. Ayah dan ibunya tersenyum ketika melihatnya duduk di kursi makan. Begitu pula adik laki-lakinya yang duduk tepat di sampingnya.

Sang Putri hanya duduk dalam kesunyian sembari memakan sarapannya. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Tak ada obrolan menyenangkan selayaknya keluarga yang lain. Tak ada candaan atau interaksi hangat antara ia, ayah, ibu atau adiknya. Hanya tata krama yang dituntut di sini, hanya sopan santun yang diperbolehkan di sini.

Yoona merasa sangat jenuh dengan kehidupannya. Menjadi putri kerajaan yang cantik dan dikelilingi pangeran tampan serta harta mungkin impian setiap gadis di negeri ini. Tapi tidak untuk Yoona. Baginya kehidupan seorang putri bagaikan burung merpati yang terkurung dalam sangkar emas. Tak bisa terbang bebas atau mencari pasangan yang sesuai keinginannya.

Ia ingin; ketika ia terbangun dari tidurnya, ia melihat suami yang ia cintai berbaring di sampingnya—tersenyum sambil mengucapkan selamat pagi padanya. Bukan pangeran tampan yang kaya raya, tapi tidak ia cintai dan hanya tertarik pada kecantikannya.

Ia ingin; ketika ia membuka pintu kamarnya, ia melihat anak-anaknya yang masih kecil berlarian dan bermain dengan ceria. Bukan sekumpulan orang-orang yang membungkukkan badannya seperti yang biasa ia temui.

Ia ingin; ketika ia melihat keluar jendela, yang ia lihat adalah hamparan padang rumput indah yang mencerminkan kebahagiaan hatinya. Bukan senyum ayah dan ibunya yang menuntut kepatuhan dirinya atas keinginan-keinginan mereka.

Tapi ia sadar, semua itu hanya mimpi-mimpinya. Dan ketika ia terbangun, ia tahu bahwa kehidupannya yang nyata sangat jauh dari apa yang diharapkannya.

***

“Tuan Putri, kereta kudanya sudah siap untuk mengantar Anda.”

Ucapan si pengawal membuat lamunan Yoona buyar. Ia melirik si pengawal dan mengangguk sembari memberikan senyum palsunya yang biasa. Tanpa banyak bicara, Yoona berdiri dan mengangkat sedikit gaun putihnya supaya tidak membuatnya sulit berjalan.

Ia naik ke dalam kereta kuda dan segera duduk terdiam di sana. Memandangi taman kerajaan yang sebenarnya indah, tapi tak seindah dunia luar—itu menurut Yoona. Ketika dilihatnya ia hampir sampai di tempat tujuan, ia menghela napas berat.

Kali ini ia harus datang ke acara lamaran bodoh yang diadakan ayahnya. Ingat soal perjodohan yang harus dijalani Yoona? Ternyata sang pangeran yang dijodohkan dengannya benar-benar berniat untuk meminang Yoona. Namun tidak bagi sang Dewi Tanpa Senyum itu. Selamanya ia tak akan menerima perjodohan tersebut.

“Ah, anakku! Akhirnya kau tiba, Sayang,” sambut ibunya ketika Yoona turun dari kereta kuda. “Pangeran Changmin telah menunggumu.”

Yoona hanya terdiam ketika ibunya menarik tangannya. Ia memandang dingin Sang Pangeran bernama Changmin yang duduk di sana. Wajahnya memang tampan, tapi Yoona tidak tertarik akan hal itu.

“Putrimu benar-benar cantik, Raja Wooyun,” puji seorang wanita paruh baya yang sepertinya ibu dari Changmin.

Raja Wooyun tersenyum dan ia memandang ke arah Yoona. “Beri salam pada calon mertuamu.”

Kata-kata ayahnya sama sekali tidak membuat Yoona merubah sikap diamnya. Justru ia semakin menambah kadar intimidasi di matanya. Bibirnya semakin melengkung ke bawah dan matanya agak menyipit—menyiratkan penolakan besar dalam dirinya.

“Ayo beri salam pada calon suami dan mertuamu,” bisik ibunya dari belakang.

Dengan kaku Yoona membungkukkan badannya. Lalu dengan cepat ia menegakkan badannya dan berkata tegas, “Maaf sebelumnya. Saya sangat berterima kasih atas kedatangan Pangeran Changmin ke istana ini beserta Anda, ibunya. Tapi saya benar-benar tidak bisa menerima perjodohan ini.”

Seluruh orang yang mendengar pernyataan Yoona sontak kaget. Terutama Pangeran Changmin, terlihat raut kekecewaan yang begitu besar di wajahnya. Ayah Yoona memandangi anaknya dengan tatapan marah. Buru-buru ibunya mendekatinya.

“Yoona, kau bercanda ‘kan?” bisiknya.

Sang putri hanya terdiam.

Melihat tak ada bantahan dari sang putri, Pangeran Changmin bangkit dari kursinya dan buru-buru keluar dari ruangan. Ibunya melempar tatapan kecewa pada ayah dan ibu Yoona, lantas mengikuti anaknya ke luar ruangan.

Segera setelah mantan calon menantunya pergi, Raja menampar pipi putri satu-satunya itu dan berseru, “Beraninya kau lancang seperti itu! Kau akan dikurung dan tidak boleh keluar!”

Dengan keadaan pipi yang memerah dan terasa panas, Yoona berlari menuju kamarnya. Tanpa memperdulikan gaunnya yang bisa rusak atau sepatu kacanya yang bisa membuatnya terjatuh karena berlari terlalu cepat. Ia hanya ingin cepat-cepat sampai di kamarnya dan menumpahkan segala emosi yang telah ia pendam selama ini.

Ketika sampai di kamarnya, ia membanting pintu dan menguncinya erat. Lalu merebahkan badannya ke atas tempat tidur dan menenggelamkam air matanya dibantal. Dalam sekejap ruangan itu menjadi saksi bisu atas kesedihan yang telah dibungkamnya selama bertahun-tahun.

 ***

Pagi itu hanya kesunyian yang dapat dirasakan Yoona. Ia hanya diam dibawah selimutnya yang tebal. Tak berbicara karena tak ada yang ingin ia bicarakan. Tak bergerak karena ia terlalu lelah dengan hidupnya. Tak menangis karena seluruh air matanya telah habis untuk menangisi hal yang sia-sia.

Ambang kesabarannya dirasanya telah habis. Bukannya ia membangkang dan tak mau menuruti keinginan orang tuanya—tapi ia merasa kalau dirinya telah terlalu banyak berkorban demi keinginan egois orangtuanya.

Dulu Yoona suka sekali menari, tapi ayahnya memarahinya dan berkata bahwa menari adalah hal yang dilakukan oleh rakyat bawah. Tak pantas dilakukan—apalagi disenangi—oleh anggota bangsawan seperti dia.

Dulu Yoona ingin belajar memasak, tapi ibunya berkata bahwa mereka sudah punya pembantu dan tak perlu mengerjakan hal-hal yang hanya dilakukan para pelayan. Ibunya berkata—jika ingin belajar memasak, maka jadilah anak tukang masak atau pemilik kedai makan di pinggir jalan.

Dulu Yoona ingin sekali pergi keluar istana dan mencari teman, tapi ibunya berseru bahwa ia tidak pantas bermain dengan anak-anak petani yang dekil itu. Bermain di lumpur, bermandikan keringat, berpayung cahaya matahari siang dan berkawan dengan debu jalanan dapat membuat kulitnya rusak dan tak ada pangeran tampan yang mau dengannya—sang ayah menimpali perkataan sang ibu.

Lalu kini, Yoona ingin punya kehidupan sendiri yang dipilih atas pilihannya sendiri. Bukan pilihan dari orangtuanya. Mungkin bagi ayah dan ibunya pilihan mereka adalah yang terbaik. Tapi bukan mereka yang akan menjalani pilihan itu, justru Yoona yang merasakannya. Jika Yoona tidak bahagia dengan pilihan mereka, maukah mereka bertanggung jawab? Maukah mereka menangis melihat anaknya menderita karena pilihan tersebut?

Terkadang Yoona merasa bahwa kehidupannya di dunia ini sia-sia saja. Ia diciptakan bukan sebagai manusia, tapi sebagai mesin yang menjalankan perintah-perintah dari orangtuanya. Dan ia tidak bisa melawan, karena sang orangtua memegang kendali penuh atas dirinya. Jika ia melawan, maka mesin itu akan dimatikan seketika dan tak bisa hidup lagi. Dalam sekejap nyawanya putus.

Ia ingin berteriak agar seluruh orang tahu bahwa dirinya tak mau jadi korban pemaksaan harapan orangtua. Ia tak ingin selamanya menjadi penurut, ia juga ingin menjadi egois. Egois demi kebahagiaan yang selama ini tak pernah ia raih.

Yoona mendesah lalu menggeser badannya ke kiri. Sekilas ia melirik ke arah pintu yang membatasi kamarnya dengan balkon sedikit terbuka. Tak ayal ia mendudukkan badannya dan mengerutkan kening. Seingatnya semalam pintu itu telah ia kunci rapat-rapat. Tapi kenapa sekarang terbuka?

Tiba-tiba saja Yoona merasa ada yang menarik tengkuknya dari belakang dan membekapnya dengan selembar kain berbau aneh. Obat bius—itu tebakan Yoona.

Ia memberontak sekuat tenaga. Mengayun-ayunkan tangannya secara membabi buta dan berusaha untuk melepaskan bekapan orang asing tersebut. Sayup-sayup ia mendengar sederet kalimat dengan bahasa yang tidak ia mengerti sebelum akhirnya ia pingsan.

Allez dormir, déesse O la plus belle. Une bonne nuit de sommeil dans mes bras ce. Ouvrez vos yeux et de dormir à l’aube, droit vers lui[1].”

 

 ***

Cahaya menyilaukan adalah hal pertama yang dilihat sang gadis saat membuka matanya. Ia mengerang pelan lalu menutup matanya lagi. Rasa pening menguasai kepalanya. Begitu kuat hingga ia tak mampu bergerak. Dirasakannya ada sesuatu yang membelit tangannya. Bertekstur kasar dan memiliki serabut. Mungkin itu tali yang mengikat kedua tangannya.

Im Yoona berusaha untuk membuka matanya dan melihat apa yang sesungguhnya terjadi. Saat ia membuka matanya, ia menyadari jika ia tidur di lantai kayu yang nampak jelek dan warnanya telah memudar. Sayup-sayup ia mendengar suara seperti pisau sedang diasah.

Rasa takut dan ngeri muncul di dalam benaknya. Siapa sebenarnya orang yang telah menculiknya? Bagaimana dia bisa menerobos pengawal yang menjaga pintu kamarnya 24 jam?

“Rupanya kau sudah sadar.”

Suara berat itu membuat Yoona memutar kepalanya. Ia melihat seorang pria berjubah hitam berdiri di sana sambil memainkan pisau belatinya. Yoona meringis ketika melihat pisau itu. Si Pria Berjubah tertawa lalu memasukkan pisaunya ke dalam tempatnya.

“Tak perlu takut. Aku takkan membunuhmu sekarang. Mungkin… satu jam lagi.”

Pria itu membuka tudung jubahnya. Yoona terlonjak sedikit ketika melihat wajah si penculik. Tampan dengan senyum jahat di wajahnya—yang anehnya bagi Yoona hal itu terlihat memesona.

“Seperti yang diceritakan Changmin. Wajah dan tubuh yang sempurna. Hm, idaman seluruh lelaki,” ujarnya yang terdengar untuk dirinya sendiri.

Nama Changmin tersangkut di kepala Yoona. Ia berusaha untuk mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk. Lalu memandangi si penculik sambil bertanya, “Changmin? Maksudmu Pangeran Changmin?”

“Ya, Tuan Putri,” jawab pria itu. “Shim Changmin—pangeran tampan dengan segala kekayaan dan kesempurnaannya yang telah ditolak olehmu.”

“Apa sangkut pautnya dia denganmu?”

“Dia telah membayarku untuk menculikmu dan membunuhmu di Hutan Terlarang,” gumam si pria. “Dia terlihat sangat marah dan putus asa karena lamarannya telah ditolak olehmu. Kurasa dia adalah tipe pria yang tidak pernah menerima kata ‘tidak’ dari orang lain.”

Yoona terpana dengan penjelasan si pria. Jadi semua ini karena ulah si Changmin? Ia mendengus dalam hati. Beginilah calon menantu pilihan ayah dan ibunya—seorang pangeran tampan nan bengis yang tega memerintah orang lain untuk membunuhnya.

“Jadi… kau akan membunuhku?” tanya Yoona dengan ekspresi ambigu.

Pria itu terdiam sambil memandangi Yoona.

“Jika itu yang diperintah Changmin, maka bunuhlah aku.”

Keputusan mengejutkan itu keluar dari mulut Yoona begitu saja. Tanpa pikir panjang ia memutuskan untuk mati. Lebih baik begitu daripada ia hidup dalam kekangan orang-orang yang ia panggil ayah dan ibu. Daripada ia hidup ditemani oleh keterpaksaan dan harus berkawan dengan kesabaran yang selalu menyiksanya. Kesabaran yang tak pernah bisa mengabulkan keinginannya akan hidup bebas.

“Kalau begitu aku tak akan membunuhmu,” putus si pria.

Kedua bola mata Yoona membulat. Mulutnya ternganga dan dalam sekejap rentetan kalimat protes keluar dari mulutnya. “Kenapa begitu? Kau telah diperintah Changmin! Bunuhlah aku sekarang, cepat!”

Pria itu berjalan mendekati Yoona dan menarik dagunya kasar. “Dengar ya, Tuan Putri. Aku memang dibayar untuk membunuhmu. Tapi asal kau tahu saja, aku tak pernah membunuh orang-orang yang telah kuculik. Aku hanya bercanda tadi dan aku tak akan melakukannya.”

“Lalu akan kau kemanakan diriku jika kau tak membunuhku? Tidak mungkin kau mau membiarkanku berada di sini!”

“Kau ini cerewet sekali!” bentaknya. Yoona terdiam dan memandangi iris si pria yang nampak indah jika dilihat dari dekat. “Biasanya aku menyihir korban-korbanku dan mengubah mereka menjadi hewan atau tumbuhan, lalu kutinggal di hutan.”

“Kau… penyihir?”

Dengan cepat si pria memutar bola matanya. “Tak perlu diperjelas. Itu memang pekerjaanku… atau kutukanku,” gumamnya pelan.

“Tidak mungkin!” seru Yoona. “Ini abad ke-17 dan penyihir hanya ada di abad ke-16.”

Nampaknya si pria mulai tidak sabar dengan kecerewetan Yoona. “Baiklah, Nona Sok Pintar. Anggap saja aku ini penyihir satu-satunya yang tersisa di abad ke-17 ini. Aku mewarisi darah dan kemampuan ibuku yang juga seorang penyihir. Beliau dibakar oleh rakyat-yang-sok-tahu dan meninggalkanku di rumah tua nan peyot ini. Puas?”

Penjelasan panjang lebar dari mulut Si Penyihir nampaknya tak membuat Yoona puas. Setelah dikagetkan oleh kenyataan bahwa Changmin ingin dirinya mati, sekarang ia dibingungkan oleh fakta bahwa ada orang gila yang mengaku kalau dirinya adalah seorang penyihir terakhir di abad 17.

Memang, menurut cerita kakeknya dulu ada banyak penyihir. Namun mereka semua sudah musnah karena diburu oleh para penduduk desa pada akhir abad ke-16. Dan sekarang adalah abad ke-17, seharusnya sudah tidak ada penyihir yang tersisa di dunia ini.

“Nampaknya kau belum puas ya,” decak Si Penyihir. “Jika aku bukan penyihir, mana bisa aku berteleportasi langsung ke kamarmu dan melewati penjagaan yang super merepotkan itu?”

Yoona terpana. Ragu-ragu ia bertanya, “Siapa namamu?”

Si Penyihir memutar matanya sekali lagi. “Kau ini memang cerewet ya. Lagipula untuk apa kau menanyakan namaku jika sebentar lagi kau akan kuubah menjadi ular?” Penyihir itu berhenti lalu mengelus dagunya seolah-olah sedang berpikir. “Atau kuubah menjadi rusa saja, ya?”

Kelakuan labil sang penyihir membuat Yoona tersenyum. Setidaknya pria ini bukanlah orang yang penuh dengan kebohongan dan pura-pura hormat padanya yang notabene seorang putri raja. Pria ini begitu natural, tingkahnya keluar begitu saja.

“Kenapa kau tersenyum?” tanya Si Penyihir sambil memicingkan matanya.

Bukannya menjawab, Yoona justru tertawa—membuat Si Penyihir mengerutkan keningnya. Melihat ekspresi kesal Si Penyihir, Yoona menghentikan tertawaannya.

“Ah, maaf… Aku tak keberatan jika akan kau ubah menjadi ular, rusa, kucing atau yang lain. Tapi aku ingin satu permintaan. Tolong ijinkan aku untuk tinggal bersamamu, hanya seminggu saja. Setelah itu kau boleh mengubahku sesuka hatimu.”

Permintaan itu membuat Si Penyihir bertambah heran. Namun Yoona hanya menahan senyumnya. Ia tahu keputusannya mungkin terdengar aneh, tapi memang ini yang diinginkannya. Selama ini ia selalu tinggal dengan orang-orang yang mengaku sebagai keluarganya tapi mengekang dirinya. Kini ia tengah bersama orang asing yang sama sekali tidak ia kenal, dan ia ingin mencoba merasakan bagaimana hidup bersama orang lain.

“Terserah kau saja,” balas penyihir itu sambil mengibaskan tangannya lalu melepaskan ikatan ditangan Yoona. “Tapi jangan menyesal jika kau kuubah menjadi cacing,” tambahnya sarkatis. “Dan omong-omong namaku Kibum. Salam kenal, Putri Aneh.”

Yoona hanya tersenyum simpul.

 ***

Bulan nampak di keheningan malam—bergantian shift yang telah dilakukan matahari sepanjang pagi hingga sore hari. Entah sudah jam berapa ini, namun yang pasti malam sudah sangat larut. Angin malam yang dingin berdesir membuat kulit siapapun menjadi menggigil. Suara jangkrik yang teratur menjadi peneduh irama alam yang menenangkan tidur.

Namun bukannya tidur, Kibum hanya berdiri di sudut ruangan. Sembari menatap semu langit-langit rumahnya ditemani temaram sinar lampu minyak. Sesekali ia melirik gadis yang sedang lelapnya tertidur di atas kursi panjang di tengah ruangan. Gadis itu tentu saja Im Yoona—yang baru ia temui dua hari lalu saat menculiknya di istana.

Sebenarnya Kibum merasa heran pada dirinya sendiri. Ia tidak terlalu suka pada perempuan karena menganggap makhluk yang terkenal akan keindahannya itu memiliki tingkat kecerewetan yang merepotkan. Namun entah mengapa, permintaan Yoona diturutinya begitu saja.

Mungkin ada beberapa alasan yang mendasari persetujuan Kibum. Pertama, ia tidak suka berdebat dan menurutnya Yoona gadis yang cerewet, banyak bertanya pula. Kedua, tak ada salahnya jika gadis itu tinggal di sini. Kebetulan ia membutuhkan juru masak karena sudah bosan dengan masakannya yang tak berbentuk dan tak berasa itu. Sebenarnya ia bisa saja menggunakan sihirnya untuk membuat makanan, tapi tetap saja makanan yang keluar dari mantra sihir tak seenak makanan yang dibuat dari tangan ahli.

Tiba-tiba saja Kibum merasakan motivasi yang aneh hingga ia menatap lurus ke wajah Yoona. Tak ada apapun di sana. Hanya ekspresi polos seperti anak kecil yang penuh ketenangan. Berbeda sekali ketika ia menyelinap ke dalam kamar Yoona. Saat itu sang gadis tertidur dengan ekspresi penuh kecemasan, seolah tak ada hari esok yang menyambutnya. Bahkan gadis itu sering menggerakkan bibirnya seolah sedang berbicara. Tidurnya nampak tak tenang.

Ia merasa heran pada gadis itu. Ketika berpura-pura akan membunuhnya, dia dengan senang hati menyerahkan nyawanya. Berbeda dengan korban-korbannya yang dulu. Ketika pura-pura akan dibunuh mereka berteriak dan memohon ampun supaya dilepaskan. Sebenarnya ada apa dengan gadis itu?

Tak dapat menahan rasa penasarannya lagi, Kibum berjalan mendekati Yoona. Ia menggenggam tangan kanan Yoona dan sekilas melihat kehidupan sang gadis. Ia dapat melihat kekecewaan, kesedihan dan keputus asaan atas hidup yang Yoona jalani. Setelah merasa mendapat jawaban, Kibum melepas genggaman tangannya.

Sekali lagi ia menatap Yoona. Gadis itu memang memiliki wajah yang sempurna bak Dewi Venus. Memikat dan memesona—bahkan Kibum yang tak peduli soal wanita pun mengakuinya. Dan rasanya… ia mulai terjerat akan hal itu.

Oh, sial. Ini bukan hal yang bagus.

Ia hanya merutuk dalam hati.

 ***

Hari ini Yoona bersiap-siap untuk membersihkan rumah. Selama tinggal di sini ia hanya merasa numpang tempat dan ingin melakukan lebih untuk si pemilik rumah. Ia akui saja, ini adalah pertama kalinya ia memegang sapu. Sapu yang digenggamnya itu ditemukannya di depan rumah Kibum, dekat pot bunga.

Sambil mengumpulkan semangat dalam dirinya, Yoona menguncir rambutnya ke belakang. Ia mengeratkan apron putih kusam yang ia pakai. Lalu mematut dirinya di depan cermin besar yang ada di sudut ruangan.

Ia nampak lucu dengan pakaiannya. Dress selutut berwarna merah marun dengan hiasan renda berbentuk bunga di bagian pinggangnya yang ditambah dengan apron kusam dan sandal tidur yang ia pakai saat diculik Kibum. Sebenarnya dress yang ia gunakan berbau agak aneh, mungkin karena terlalu lama ditaruh di dalam lemari. Kibum mengaku bahwa itu adalah dress lama milik ibunya dan memberikannya pada Yoona.

Bayangan yang terpantul di cermin itu membuat Yoona terkikik. Lalu ia mulai berjalan ke tengah ruangan dan menyapu. Saat ia mengayunkan sapunya dari belakang ke depan, tiba-tiba saja sapu itu bergetar. Lalu terlepas dari tangan Yoona dan terbang meliuk-liuk ke seisi rumah.

Tak ayal Yoona memekik keras. “Kyaaa! Ada apa dengan sapunyaaaa?!”

Sapu sialan itu berkali-kali menabrak dinding serta langit-langit, menghancurkan lukisan-lukisan, patung, botol-botol kaca yang nampaknya peralatan percobaan milik Kibum serta benda-benda aneh yang dikoleksi Kibum.

Mendengar ada keributan di dalam rumahnya, Kibum yang tertidur akhirnya terbangun dan buru-buru berlari menuju ruang tengah. Ia membulatkan matanya dan mulutnya menganga lebar.

“Apa yang terjadi?!” Ia berteriak. Membelalakkan matanya melihat kekacauan yang menghancurkan isi rumahnya. “Hei, kau! Apa yang telah kau lakukan, hah?!” serunya pada Yoona.

Gadis itu meringis lalu menjawab dengan takut, “Aku hanya ingin menyapu dan tiba-tiba saja sapu itu terbang.” Ia menunjuk si biang keladi yang tengah terbang menukik.

“Itu bukan sapu untuk bersih-bersih, Bodoh! Itu sapu terbangku yang sudah rusak dan lepas kendali!” sahut Kibum frustasi. Ia menunjuk sapu terbangnya. “Balai arrêté[2]!”

Mantra itu tidak berfungsi dan membuat Kibum semakin frustasi. Lalu ia berteriak lebih kencang. “Balai arrêter stupide[3]! Melihat tak ada reaksi, Kibum menyambar tongkat sihirnya lalu mengacungkannya ke arah sapu tersebut. Cahaya kemerahan keluar dan seolah-olah menyambar si sapu. Sapu itu langsung berhenti, terjatuh ke lantai dengan bunyi keras dan sekarat.

Yoona bernapas lega ketika melihat sapu itu berhenti bergerak. Namun ia segera meneguk salivanya ketika menerima tatapan membunuh dari Kibum.

“Ma-maaf. Aku tidak tahu kalau itu sapu terbangmu,” ujar Yoona gugup.

“Ya sudah,” Kibum mengibaskan tangannya lalu segera pergi. “Seharusnya dia langsung kuubah menjadi kucing,” gerutunya pelan. Yoona yang mendengar gerutuan itu mematri keyakinan bahwa ia harus lebih hati-hati lain kali. Ada banyak benda sihir nan aneh di sini yang bisa melakukan hal-hal aneh diluar nalar manusia. Contohnya sapu sialan itu.

***

“Sebenarnya ini daerah mana?”

Pertanyaan itu membuat Kibum mengangkat pandangannya dari buku mantra yang sedang dibacanya ke wajah gadis yang duduk di hadapannya.

“Pokoknya jauh dari istanamu,” jawabnya cuek lalu kembali ke bukunya.

“Apa tidak ada orang lain yang tinggal di daerah ini?”

Kibum mengangkat pandangannya lagi dan menyipitkan matanya. Kenapa gadis ini begitu penasaran dan selalu menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupannya? Sepertinya gadis itu tidak menyadari makna tatapan tajam Kibum. Akhirnya Kibum mendesah dan menjawab dengan malas, “Tentu saja ada. Ada daerah pertanian yang berjarak sekitar 200 meter dari sini. Lalu apa yang mau kau tanyakan lagi, Putri Yang Penasaran?”

“Aku hanya ingin tahu; karena kau tidak jadi membunuhku, hanya akan mengubahku menjadi hewan, apakah Changmin tidak akan marah? Bagaimana jika dia datang ke sini dan tahu kau berbohong?”

“Itu masalah mudah,” jawab Kibum. “Aku tinggal menunjukkan sebotol darah rusa dan berkata padanya jika itu adalah darahmu. Dia pangeran yang bodoh, jadi dia pasti percaya begitu saja. Kalau dia tak terima, aku akan menyihirnya dengan mantra Penghilang Ingatan.”

Mata Yoona berbinar-binar. “Waaa~ Sihir bisa menyelesaikan segala masalah, ya?”

Perkataan polos gadis itu membuat Kibum tersenyum. Kini ia heran pada dirinya sendiri. Gadis itu terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupannya dan ia menjawabnya tanpa ragu. Padahal ia paling tidak suka ditanya-tanya hal yang seperti itu.

Dan yang lebih aneh, kini ia terus memperhatikan iris yang menyiratkan kebahagiaan itu.

Oh, ini gawat. Rasanya ia telah jatuh cinta.

 ***

“Ma-maaf kalau masakannya tidak enak.”

Perkataan itu hanya ditanggapi Kibum dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebelum menyuap sup tomat yang ada di hadapannya, ia melirik sang koki—Yoona—yang nampak was-was akan hasil masakannya.

Ini adalah hari keempat Yoona tinggal di sini. Saat pertama kali memasak, masakan Yoona sama sekali tidak memiliki rasa. Hambar. Meskipun dari penampilannya cukup menarik. Namun kemampuan memasaknya perlahan mulai meningkat.

“Lumayan.”

Komentar singkat nan padat itu membuat Yoona menghela napas lega. Ia senang hasil kerjanya kali ini disukai Kibum. Meskipun masakan pertamanya membuat Kibum mual dan mengalami sakit perut, setidaknya kali ini pria itu baik-baik saja.

Hah… Ia hanya berpikir bahwa lelaki itu terlalu baik.

Bayangkan saja, Kibum bahkan tidak menolak saat ia meminta waktu untuk tinggal di rumahnya selama seminggu. Tidak marah meski ia telah membuat berantakan seisi dapurnya karena sibuk latihan memasak. Tidak mengomel—meskipun sedikit ‘mengkritik’—saat ia menari-nari di tengah ruangan dengan gembira. Ya, ia gembira. Karena tak ada yang melarangnya untuk melakukan hal yang memang diinginkannya.

Yoona tersenyum melihat pria yang ada di hadapannya. Jika saja pria yang dijodohkan dengannya adalah pria yang berperangai seperti Kibum, ia mau menerimanya. Eh, tunggu dulu. Bukankah itu artinya ia mengharapkan Kibum untuk…

Dengan segera Yoona menggelengkan kepalanya, membuat Kibum keheranan.

“Eh, biar kuambil minum untukmu,” sahut Yoona.

“Tidak usah,” balas Kibum cepat sambil mengangkat tangannya. Beberapa saat kemudian, segelas cangkir dan sebuah teko berisi teh melayang dari dapur menuju meja makan. Dengan santai Kibum meraih cangkir dan teko itu lalu menuang isinya dan meminumnya. Yoona yang melihatnya hanya terpana.

Wow, sihir yang menakjubkan.

***

Ketika batas waktu perjanjian tinggal sehari lagi, Yoona membuang waktunya untuk melamun. Memikirkan, kira-kira ia akan diubah menjadi apa oleh Kibum. Ia sih berharapnya menjadi rusa saja atau hewan herbivora lain. Ia tak ingin menjadi serangga atau hewan karnivora.

Sebenarnya Yoona lebih berharap jika ia punya batas waktu yang lebih lama lagi. Ia mulai betah berada di sini. Sikap Kibum yang terang-terangan dan membolehkannya memasak atau menari sesuka hati membuat hatinya hangat. Ia mulai bisa tersenyum dan tertawa sekarang—berbeda saat ia masih berada di istana.

Sihir yang dimiliki Kibum—dalam arti klise maupun sebenarnya—membuatnya dapat menikmati hidup yang selama ini ia impikan. Walaupun semuanya akan berakhir besok, walaupun nanti ia tak tahu apa yang harus dilakukannya.

***

Sesuai perjanjian, Kibum membawa Yoona ke Hutan Terlarang dekat rumahnya. Ia berjalan lima langkah di depan Yoona. Terkadang ia berpikir, tak menyesalkah jika ia memenuhi janjinya? Pria memang harus menepati janji, tapi persetanlah dengan hal itu.

Mereka berhenti di tengah hutan.

“Kau ingin kusihir jadi apa?” tanya Kibum.

“E-eh…” Pertanyaan itu membuat Yoona tergagap. “Terserah kau saja. Tapi jika boleh, tolong rubah aku menjadi hewan pemakan rumput saja.”

Sesungguhnya Kibum tak ingin melakukan ini. Entah kenapa, semenjak Yoona tinggal di rumahnya ia merasakan sebuah rasa empati yang aneh. Yang membuatnya tiba-tiba peduli pada gadis itu.

Ia akui saja, belum pernah ada yang mengurusnya sebaik Yoona. Bahkan almarhum ibunya dulu tak terlalu peduli padanya. Beliau hanya sibuk mengurusi segala tetek bengek sihir di ruang bawah tanah. Barulah saat akan ditangkap, beliau menyembunyikan Kibum di ruangan yang telah diberi mantra khusus. Sembari meminta janji supaya Kibum mau belajar sihir dan mewarisi apa yang akan ditinggalkannya. Akhirnya sang ibu berhasil ditangkap penduduk desa dan dibakar di pinggir hutan.

Setelah ibunya meninggal, Kibum menepati janjinya. Ia mempelajari sihir hingga benar-benar ahli, namun tidak menggunakannya untuk kejahatan sebagaimana yang dilakukan ibunya. Eh, ya―kecuali jika ia dibayar untuk menculik orang dan mengubahnya menjadi hewan atau tumbuhan.

Akhirnya Kibum menetapkan suatu pilihan dalam hatinya.

“Kuputuskan untuk melepasmu,” ujarnya―membuat Yoona kaget sekaligus bingung.

“Apa maksudmu?” tanya si gadis.

Mata si penyihir menelisik iris indah yang dimiliki Sang Dewi. “Kau berbeda dari orang-orang yang selama ini kuculik, Yoona. Mereka adalah orang-orang yang memang jahat dan tak peduli dengan orang lain. Berbeda denganmu. Kau adalah gadis manis yang bahkan masih berusaha untuk menuruti keinginanmu, meski tidak sesuai dengan hatimu. Kau hanya terlahir di tempat yang salah dan arus kehidupan yang tak sesuai. Hanya itu.”

Yoona berkali-kali mengedipkan matanya.

“Jika aku diberi pilihan untuk mengubahmu menjadi hewan,” lanjut Kibum. “maka aku akan mengubahmu menjadi anak anjing. Karena anjing adalah hewan setia yang selalu mengikuti tuannya hingga akhir hayat. Aku ingin―dengan mengubahmu menjadi anjing, kau akan mengikuti orang yang telah mengubahmu dan menemaninya hingga mati.”

Kini iris indah itu hanya menatap mata sang penyihir. Seolah-olah menuntut penjelasan lebih lanjut atas perkataan yang terakhir tadi. Ia hanya tak ingin berharap dengan maksud dari perkataan Kibum.

Jujur saja, Kibum adalah orang pertama yang benar-benar ‘menganggapnya’. Menganggapnya sebagai manusia bebas. Bukan sebagai tahanan istana yang harus mengikuti segala peraturan konyol dan impian-impian menyebalkan orangtuanya.

Akhirnya Yoona buka suara. “Tapi jika kau melepaskanku, aku tak tahu harus pergi kemana. Aku tidak mungkin kembali ke istana―itu sama saja dengan bunuh diri. Kerabat lain aku tak punya, jikalau aku punya aku tak mengenal mereka dengan baik.”

Kibum mendesah. “Segala sesuatunya terasa rumit, ya?” Dia memandangi langit yang nampak sangat cerah. Lalu kembali mengembalikan arah pandangannya pada Yoona. “Jika memang tidak ada yang mau menerimamu, kau tahu tempat yang akan memperbolehkanmu melakukan apapun yang kau senangi,” ujarnya sambil tersenyum. Kibum berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Yoona.

Yoona awalnya terdiam. Namun gadis itu perlahan memahami maksud perkataan Kibum. Ia melangkahkan kakinya dan mengikuti Kibum dari belakang sambil tersenyum.

Merasa diikuti, Kibum berbalik dan menatap Yoona dengan kesal. “Kau ini memang senang mengikutiku, ya?”

Aih, dasar. Yoona mengerucutkan bibirnya. Tadi laki-laki itu bilang kalau ia boleh mengikutinya dan tinggal di rumahnya. Tapi sekarang dia malah membalikkan kata-katanya. Dasar lelaki gengsi!

Tanpa malu-malu, Yoona mengangkat kedua tangannya di depan pipinya dan bertingkah selucu mungkin. “Aku adalah anak anjing yang akan mengikuti Tuan kemanapun,” katanya dengan nada imut.

Tanpa diduga, Kibum tertawa. Ia menghampiri Yoona lalu merangkul bahunya erat. Dan membawa bibir gadis itu ke bibirnya. Mengecupnya lembut―penuh kejujuran dan tanpa menuntut apa-apa. Dengan senang hati Yoona membalas ciuman itu.

“Terima kasih.” Si Penyihir tersenyum. Hatinya senang, setelah sekian tahun menjadi penyihir, ia baru bisa menyihir hati seorang gadis.

 ***

Secercah cahaya yang mengintip dari sela-sela jendela membuat si wanita mengenyitkan keningnya dan menyadari bahwa hari baru telah dimulai. Ia memijit kepalanya yang terasa agak pusing. Desahan keluar dari mulutnya setelah rasa pusing itu mulai hilang. Ia membalikkan badannya dan melihat sang suami yang berbaring di sebelahnya sedang tersenyum.

“Selamat pagi, Putri Yoona.”

Wanita bernama Yoona tersebut hanya tertawa kecil. “Sudah lama tak ada yang memanggilku begitu.”

“Jika kau mau, aku akan memanggilmu Putri seterusnya.”

“Tak usah, Kibum,” ujar Yoona lembut. “Aku lebih suka dipanggil Yoong ketimbang Putri.”

Kibum terkekeh. “Ya sudah. Terserah kau saja. Mau apa saja panggilanmu, kau tetap Yoona―istriku yang cantik dan sangat kucintai.”

“Kau selalu saja menggombal,” kata Yoona. Tiba-tiba saja ia merasakan mual di perutnya. Lekas ia mendudukkan badannya dan akan berlari ke kamar mandi. Namun rasa mual itu hilang sebelum ia menginjakkan kakinya ke lantai.

“Kau tak apa-apa, Sayang?” Sang suami merangkul bahu istrinya dengan khawatir. “Setiap pagi kau selalu mual-mual begini.”

“Aku tak apa-apa, kok,” senyum Yoona. “Ini sudah biasa bagi ibu hamil.”

Sebuah senyum muncul di wajah Kibum. Ia mengelus perut istrinya yang mulai membesar. “Jangan nakal ya, Kibum kecil. Tetaplah tenang di sana.”

Tertawaan keluar dari mulut Yoona. Ia hanya tak menyangka, jika mimpinya mulai terkabul satu persatu. Ia memiliki suami yang mencintainya apa adanya. Memiliki kehidupan dimana ia bebas melakukan apa yang diinginkannya. Serta memiliki buah hati yang beberapa bulan lagi akan lahir di dunia ini dan semakin melengkapi mimpi-mimpinya.

The End


[1] Tidurlah wahai Dewi Maha Indah. Tidurlah dalam dekapanku yang damai ini. Tidurlah dan bukalah matamu saat fajar ‘kan menyongsong.

[2] “Sapu berhentilah!”

[3] “Berhentilah sapu bodoh!”

15 thoughts on “In Real Life

  1. Sumpah ini keren banget, ganyangka ada yang bisa bikin ff sebagus dan se rapi ini (‘; thanks sudah cukup menghibur~

  2. Waahhh… Nice ff… Dongeng fantasi unik… Aq kira kibum oppa adalah pangerannya ternyata changmin oppa ruPanya… Tapi aq sangat suka ma critanya,..^^v

  3. wah so sweet , keren bgd ya kibum di sini jd penyihir tapi kocak wkwkwkwkwkw
    sequel dong………………….

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s