Do Man Cry? [Chapter 5]

Gambar

Tittle        : Do Man Cry?

Author    : Mayha Kang

Main Cast :
Choi Sulli f(x)
Oh Sehun (EXO-K)

Support Cast :
Jung Jessica (SNSD)
Hwang Miyoung/Tiffany (SNSD)
Park Chanyeol (EXO-K)
and others

Length    : Chapter

Genre      : Sad, Angst

Inspirated by Davichi’s Song “Do Man Cry”

Happy Reading!

“Apakah laki-laki juga menangis?”

“Apakah mereka juga merasa sakit ketika mereka putus cinta?”

“Apakah mereka menangis ketika mereka sangat merindukan seseorang?”

>>> Do Man Cry? <<<

“Aku mengajak temanku kemari, dia sangat ingin bertemu denganmu.” gumam Jessica pada namja itu.

Tiffany semakin tak sabar melihat wajah seseorang yang telah membuatnya panasaran. Dia mendongakkan tubuhnya yang terhalang oleh Jessica.

“Annyeong-“

Tiffany seketika diam, tidak ada lagi yang terucap dari bibirnya. Matanya terbelalak melihat sosok namja yang sangat ia kenali.

“Se…hun…ah?” gumamnya pelan.

“Nu…nuna?”

Sehun tak kalah kaget mengetahui bahwa Tiffany adalah orang yang datang bersama Jessica.

“Kalian sudah saling kenal?” tanya Jessica heran.

“Oh Sehun, jadi selama ini kau berpacaran dengan Jessica? Apa yeoja yang kau maksud itu Jessica?” tanya Tiffany penuh selidik tanpa mengindahkan pertanyaan Jessica.

Jessica semakin dibuat bingung oleh sikap Tiffany. Tetapi, dia segera membantah pertanyaan Tiffany. Sedang Sehun dengan tegas mengiyakan pertanyaan itu.

“Aniyo.” “Ne.” jawab Sehun dan Jessica bersamaan.

“Ne, aku berpacaran dengan Jessica nuna.” Sehun mempertegas perkataannya.

Jessica melirik ke arah Sehun, “Sehun’ah berhentilah berbohong! Tiffany itu temanku, kau tidak perlu membohonginya. Kau kan sudah janji padaku hanya akan bohong pada Sulli.”

Sehun tertunduk diam, tak berani menatap Tiffany. Tanpa sengaja Jessica mengungkap semua kebohongan yang telah mereka perbuat. Dengan mudahnya ia menyebut nama Sulli di hadapan Tiffany. Walaupun ia tahu Tiffany memiliki seorang dongsaeng, namun ia tidak tahu kalau dongsaengnya itu tidak lain adalah Sulli.

“Sulli?” gumam Tiffany.

“Ka…kau kenal dengannya?” tanya Jessica.

“Ne, dia adikku.” jawab Tiffany.

Jawaban Tiffany berhasil membuat Jessica mengucurkan keringat, membuat tubuhnya terasa dingin. Dia menelan air liurnya. Sungguh di luar perkiraannya jika Sulli dan Tiffany adalah saudara.

Tiffany menatap Sehun dan Jessica bergantian. Akalnya belum bisa mencerna semua kenyataan yang baru saja ia ketahui. Kepalanya terasa berat untuk terus memikirkan hal itu. Dia pun bergegas pergi meninggalkan mereka.

“A…aku ada urusan, aku harus pergi sekarang.” pamitnya.

Sehun tidak akan membiarkan Tiffany pergi tanpa mendengar penjelasannya. Dia takut jika Tiffany akan membeberkan semuanya pada Sulli. Dia segera turun dari ranjang rawatnya dan meraih tangan Tiffany.

“Nuna jamkanman! Dengarkan penjelasanku dulu!”

Tiffany menepis tangan Sehun, “Lebih baik kau langsung menjelaskan semua ini pada Sulli. Neo jeongmal michosso!”

“Aku melakukan semua ini karena aku mencintai Sulli.” pekik Sehun.

Pekikan Sehun berhasil menghentikan Tiffany yang tinggal selangkah lagi sampai pada pintu ruangan itu. Sehun menarik nafas perlahan. Rasa sakit kembali menyerang bagian syaraf kepalanya. Tetapi, ia berusaha untuk menyembunyikannya.

“Penyakitku ini sulit disembuhkan. Jika Sulli mengetahuinya hanya akan membuatnya sedih dan aku tidak mau melihatnya sedih.” tutur Sehun.

“Kau pikir Sulli tidak sedih setelah kau tinggalkan? Itu bahkan sangat menyakitkan baginya.” erang Tiffany.

“Geundae, akan lebih menyakitkan jika nanti dia melihat mayatku.” gumam Sehun.

Tiffany terdiam. Kini tak ada kata maupun suara yang dapat terlontar dari bibirnya. Air matanya pun terasa ingin jatuh, tetapi ia berusaha menahannya.

“Sulli harus bisa melupakanku karena aku akan meninggalkannya untuk selamanya. Dengan membenciku akan mudah baginya untuk melupakanku.” lanjut Sehun.

Bibir Tiffany masih terkatup rapat. Dia bingung harus bersikap baik atau kasar pada Sehun. Sehun tidak semestinya menyembunyikan semuanya pada Sulli. Tetapi, semua yang dilakukan Sehun semata-mata karena dia tidak ingin membuat Sulli sedih. Tiffany kemudian memutuskan untuk tetap pergi dari sana. Dia bergerak secepat mungkin hingga membuat Sehun tidak sempat lagi menahannya.

Sehun menghela nafas menyaksikan Tiffany yang melenggang pergi meninggalkannya. Apa yang harus ia perbuat untuk menghadapi Sulli jika Tiffany benar-benar memberitahukan semuanya? Sehun terus memaksa otaknya berpikir, menghiraukan rasa sakit yang bertubi-tubi menghantam kepalanya. Tiba-tiba tetesan darah keluar dari hidungnya dan jatuh mengenai lantai. Jessica yang melihatnya seketika panik dan langsung menyambar tissue yang terletak di atas meja.

“Sehun’ah neo gwaenchana?” pekik Jessica panik sambil menyumbat darah yang keluar dari hidung Sehun dengan tissue.

“Nan gwanechana nuna.” jawab Sehun.

Jessica menopang tubuh Sehun yang mulai lemas untuk berjalan kembali ke ranjangnya. Dia membaringkan Sehun dengan lembut dan penuh kasih sayang.

“Istirahatlah! Kau tidak usah memikirkan Tiffany, biar aku saja yang membujuknya.” kata Jessica.

“Gomawo nuna, kau sudah sangat baik padaku.” balas Sehun.

“Aniyo, ini semua salahku. Aku terlalu bodoh menyebut nama Sulli di depan Tiffany. Mianhae Sehun.” hardik Jessica pada dirinya sendiri.

“Aniyo, nuna tidak salah. Nuna tidak perlu minta maaf.” kata Sehun sembari tersenyum pada Jessica.

Jessica membalas senyuman Sehun, “Tidurlah, kau perlu istirahat.”

Sehun mengangguk pelan kemudian mulai memejamkan matanya, berharap rasa sakit di kepalanya akan segera hilang. Dia merasakan tangan Jessica mengelus lembut kepalanya. Perlahan ia pun terlelap dalam tidurnya.

***

Sore hari di akhir pekan yang penuh dengan ketenangan dan kedamaian. Sulli berlari menuruni tangga rumahnya, nampaknya ia sedang terburu-buru. Tampak pula Chanyeol dengan wajah kusutnya berjalan di belakang Sulli.

“Yaa! Aku baru saja datang, kenapa kau sudah mau pergi lagi?” gerutu Chanyeol.

“Eoh, Sulli’ah kau mau ke mana?” tanya Tiffany yang muncul dari arah dapur dengan membawa segelas air.

“Nuna, Sulli mau pergi kencan dengan namjachingunya. Dia tidak mau main denganku.” ujar Chanyeol manja pada Tiffany.

Tiffany menatap Chanyeol dan mengangguk pelan seakan mengerti dengan kekesalan yang dirasakan Chanyeol. Dia lalu melirik ke arah Sulli, menanti sebuah penjelasan darinya.

“Eonnie, aku mau keluar sebentar. Minho oppa sudah menungguku di luar, aku akan segera kembali.” jelas Sulli.

Sulli berjalan mendekati Chanyeol lalu meletakkan tangannya di bahu Chanyeol, “Kau tidak usah khawatir, aku akan segera memutuskan Minho oppa dan bermain denganmu lagi.”

Tiffany tertegun mendengar Sulli, begitu pula dengan Chanyeol. Mereka tidak suka jika Sulli terus mempermainkan perasaan orang lain. Selama ini Sulli sudah mempermainkan banyak namja hanya untuk menghapus luka di hatinya.

“Sulli’ah, hentikan sikapmu yang seperti itu!” gumam Tiffany membuat temperatur suasana meninggi.

Sulli tersenyum miris, “Eonnie, aku hanya ingin bersenang-senang. Apa eonnie tidak suka melihatku senang?”

Emosi Chanyeol mulai terpancing menyaksikan sikap Sulli, tidak seharusnya dia bersikap seperti itu pada kakakknya sendiri. Chanyeol hendak menegurnya. Tetapi, Sulli menyadari kondisi yang mulai memanas dan memutuskan untuk segera pergi.

“Sudahlah, aku tidak ingin bertengkar dengan kalian. Aku pergi.” pamitnya.

“Sulli jamkanman!” pekik Tiffany.

Tiffany menatap lekat mata Sulli, “Sehun! Kau seperti ini karena dirinyakan?”

“Eonnie geumanhae! Aku tidak suka kau menyebut nama orang itu.” erang Sulli.

Perkataan Tiffany sungguh membuat Sulli kesal. Dia tidak menyangka kakaknya akan tega melontarkan nama itu di hadapannya. Dengan kesal ia pun berjalan keluar rumah.

“Kau tidak tahu apa-apa, jadi hentikan sikapmu yang seperti itu sebelum kau menyesalinya.” pekik Tiffany meski Sulli tidak menghiraukannya dan terus melangkah pergi.

Blam! Terduara suara pintu rumah yang dibanting keras oleh Sulli. Tiffany menghela nafas panjang. Dia berusaha untuk tetap sabar menghadapi sikap adiknya.

Chanyeol yang sejak tadi menyaksikan semuanya mulai melirik Tiffany. Dia mengerti Tiffany bersikap seperti itu hanya karena menginkankan Sulli kembali seperti dirinya yang dulu. Tetapi, ia pikir Tiffany tidak perlu mengungkit-ungkit Sehun karena itu akan membuat Sulli sedih.

“Nuna, aku tau kau melakukan semua ini demi kebaikan Sulli. Tapi ada baiknya kalau nuna tidak mengungkit soal Sehun di depannya.” kata Chanyeol.

Tiffany tampak berpikir sejenak lalu menatap Chanyeol, “Chanyeol’ah, ada yang harus ku beritahu padamu.”

***

Sulli memandang sederet pohon yang berbaris rapi membatasi jalan dari balik kaca mobil. Sejak masuk ke dalam mobil Minho ia terus mengunci rapat mulutnya. Perkelahian kecil yang baru saja terjadi antara dirinya dan Tiffany telah membuat suasana hatinya memburuk.

“Kau kenapa chagi? Apa kau sakit?” tanya Minho yang cemas melihat kondisi Sulli.

“Nan gwaenchana oppa.” jawab Sulli tanpa menoleh pada Minho, matanya masih nyaman memandang pepohonan hijau di seberang jalan.

“Mmm…bagaimana kalau kita pergi piknik?” ujar Minho berusaha membuat Sulli kembali ceria.

“Terserah oppa saja.” balas Sulli.

Minho menghela nafas menyaksikan sikap Sulli yang sangat cuek padanya. Mungkin dia benar-benar dalam suasana hati yang buruk. Minho pun kembali memfokuskan dirinya menyetir mobil. Suasana seketika menjadi hening. Keduanya sibuk dengan pemandangan masing-masing. Tiba-tiba ponsel milik Sulli berdering memecah keheningan. Dia segara mengecek ponselnya yang ia simpan di dalam tas. Bukan sebuah panggilan dan bukan pula sebuah pesan untuknya melainkan sebuah alarm pengingat. Sulli tertegun membaca memo singkat yang telah lama menghilang dari memori ingatannya.

Saengil chukkae Sehun oppa!

Tulisan itulah yang terpampang jelas di layar ponsel Sulli. Sebuah tulisan yang berhasil merobek kembali luka yang telah mengering di hatinya. Sehun berulang tahun hari ini dan Sulli sama sekali tidak mengingatnya. Padahal sebelum berpisah dengannya, Sulli tidak pernah lupa akan tanggal itu. Dia bahkan selalu menanti hari itu datang.Sulli segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Hatinya sakit jika terus menatap tulisan itu. Pikirannya pun menjadi kacau. Dia tampak gelisah karena di hantui oleh bayang-bayang Sehun. Kenangannya bersama Sehun seakan menari-nari di alam pikirannya. Semua ini sungguh membuat dadanya terasa sesak.

“Sulli’ah waeyo? Gwaenchana?” Minho kembali angkat bicara karena cemas pada Sulli.

“A…aniyo, gwaenchan oppa.” jawab Sulli, “Oppa hentikan mobilnya di sini!” pintanya tiba-tiba.

“Wae?” tanya Minho.

“Sudah, hentikan saja!” pekik Sulli.

Minho pun mendekatkan mobilnya pada trotoar kemudian menghentikannya.

“Oppa mianhae, kita pikniknya lain kali saja. Aku sedang ingin sendiri.” kata Sulli sambil melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya.

Minho meraih tangan Sulli, “Neo gwaenchana? Kalau kau ada masalah katakan padaku!”

Sulli menggelengkan kepalanya, “Nan gwaenchana oppa. Geundae, bisakah kau membiarkanku sendiri saat ini? Jebalyo!”

Minho nampak sedang berpikir. Dengan ragu ia melepas genggamannya dari tangan Sulli. Sikap Sulli sungguh membuatnya khawatir. Dia yakin Sulli tengah dirundung masalah. Tetapi, tidak ada yang bisa ia lakukan selain membiarkan Sulli sendiri. Mungkin dengan menyendiri Sulli akan merasa lebih baik.

“Baiklah! Geundae, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku!” pinta Minho.

“Ne oppa.” balas Sulli.

Ia pun melangkah turun dari mobil Minho dan langsung menaiki sebuah taxi. Taxi itu kemudian melesat pergi meninggalkan Minho.

***

Sulli melangkah turun dari taxi yang ia tumpangi. Setelah ia menyelesaikan transaksi dengan sang supir, taxi itu pun segera melesat pergi. Sulli kini menatap hamparan taman yang luas nan asri. Bunga bermekaran di mana-mana, pohon-pohon rindang berbaris rapi di setiap sudut taman. Sulli terus melangkah mengitari taman itu hingga membawanya pada salah satu bangku taman yang ada di sana. Dia menatap sendu bangku taman itu, tepatnya menatap sebuah tulisan yang tertera di permukaan bangku itu.

“Sehun ~ Sulli yongwonhi”

Sulli duduk di bangku itu dan mengusap lembut tulisan itu. Sebelah tangannya memegang dadanya yang terasa perih. Dia lalu memejamkan matanya perlahan.

Flashback –

“Sulli’ah beli es krimnya nanti saja. Kita istirahat dulu, aku lelah.” keluh Sehun.

Sehun mengistirahatkan tubuhnya di salah satu bangku taman yang berpayungkan sebuah pohon rindang. Cuaca siang itu terasa begitu menyengat kulit.

“Yaa kau kan namja, aku saja yang yeoja tidak merasa lelah.” gerutu Sulli.

“Geurae kalau begitu kau saja yang jadi namjanya, biar aku yang jadi yeojanya.” gurau Sehun dengan ekspresi wajah yang dibuat malas.

“Sehun’aahh ~” rengek Sulli sambil menarik-narik tangan Sehun agar kembali berdiri.

Sehun berbalik meraih tangan Sulli. Dia menarik Sulli ke arahnya sehingga membuat Sulli terduduk tepat di sampingnya. Tidak ada sedikit pun celah yang memisahkan mereka.

“Yaa apa kau tidak sayang dengan namjachingumu yang lelah ini? Biarkan aku istirahat sebentar, setelah itu aku akan membelikan es krim yang banyak untukmu.” kata Sehun.

“Yakseok?” Sulli mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Sehun.

Sehun melingkarkan jari kelingkingnya di jari kelingking Sulli, “Eoh, yakseokhe.”

Sulli tersenyum manis pada Sehun. Sehun pun membalas senyuman manis dari kekasihnya itu. Karena merasa sangat lelah ia langsung menyandarkan kepalanya di bahu Sulli. Hal ini jelas membuat Sulli terkejut. Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang. Sehun bukanlah tipikal kekasih yang romantis, baru kali ini dia bersikap manja seperti itu pada Sulli. Biasanya hanya Sulli yang bermanja-manja padanya.

“Aigo, ternyata sandaran bahu yeojachinguku yang cantik ini lebih nyaman daripada ranjang tidurku di rumah.” goda Sehun sambil memejamkan matanya.

“A…aku tidak akan termakan gombalanmu.” kata Sulli.

Sehun kembali membuka matanya dan mendekatkan wajahnya pada Sulli, “Buktinya kau jadi gugup sekarang.”

Sulli memalingkan wajahnya dari Sehun karena kesal telah diledek olehnya. Sehun semakin dibuat gemas oleh sikap Sulli. Tanpa izin terlebih dahulu, dia langsung mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi Sulli. Sulli terkejut, wajahnya seketika memerah.

“Yaa apa yang kau lakukan?” pekik Sulli.

“Waeyo? Memangnya tidak boleh? Kau kan yeojachinguku.” balas Sehun.

“Yaa neo-“

Tangan Sehun segera membungkam mulut Sulli, dia sedang tidak ingin mendengar berbagai celotehannya, “Sstt! Diamlah sebentar, aku mau tidur! Pinjamkan bahumu padaku.”

Sehun kembali menyandarkan kepalanya di bahu Sulli dan mulai memejamkan matanya, “Gomawo Sulli, saranghae.”

Sulli tertunduk diam. Meski Sehun tengah memejamkan matanya, namun ia tetap berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah agar tak terlihat oleh Sehun. Dia terlalu bahagia mendengar kalimat yang terlontar dari kekasihnya itu. Cukup lama dia terdiam sambil menunduk. Saat kembali menoleh pada Sehun ternyata dia telah tertidur pulas. Sehun terlihat sangat tampan bahkan ketika sedang tidur.

“Nado saranghae.” bisik Sulli.

Sulli tidak sengaja melihat sebuah pulpen di kantong seragam Sehun dan mengambilnya. Sulli bergerak sangat pelan karena tidak ingin membangunkan Sehun yang tertidur di bahunya. Dia membuka penutup pulpen itu dan mulai menoreh tinta pada bangku taman yang mereka duduki.

“Sehun ~ Sulli yongwonhi”

Sebuah senyuman terkembang di wajah Sulli saat menatap tulisan yang baru saja ia ukir di bangku itu. Dia lalu kembali menoleh pada Sehun. Tangannya kini membelai lembut kepala Sehun. Dia sangat mencintai namja yang tertidur pulas di bahunya itu.

Flashback end

Sulli memegang dadanya yang terasa perih. Tetesan air mata mulai berjatuhan membasahi pipinya. Hatinya sakit mengingat kenangan indah yang telah dilaluinya bersama Sehun.

“Wae? Kenapa aku harus mengingatmu lagi? Oh Sehun kau benar-benar membuatku gila!” isaknya.

“Neo nappeun namja! Aku sangat membencimu!”

***

Sehun tengah memfokuskan pandangan serta konsentrasinya pada sebuah buku. Lembaran demi lembaran dibukanya, ia cermati dengan seksama tulisan-tulisan yang tertera di dalamnya. Sejak divonis mengidap penyakit kanker darah, ia menjadi gemar membaca buku-buku mengenai kesehatan. Meskipun penyakitnya sudah parah, namun ia masih berharap dengan pengetahuan yang ia miliki saat ini bisa membantunya menghambat pertumbuhan virus-virus ataupun bibit penyakit dalam tubuhnya.

Tok! Tok! Tok!

Konsentrasi Sehun seketika buyar saat mendengar suara ketukan pintu yang berasal dari pintu kamar rawatnya. Dia segera membawa pandangannya ke arah pintu itu. Pintu itu perlahan terbuka dan sosok yeoja muncul dari baliknya.

“Tiffany nuna.” sapa Sehun.

“Eoh, annyeong.” sahut Tiffany.

Tiffany berjalan ke arah Sehun dengan membawa sekeranjang buah-buahan segar kemudian meletakkannya di meja dekat ranjang Sehun. Sehun semakin terkejut ketika melihat sosok namja yang bertubuh lebih tinggi berjalan di belakang Tiffany.

“Cha…chanyeol?” gumamnya.

“Mianhaeyo, aku menceritakan semuanya pada Chanyeol.” kata Tiffany.

Tiffany telah menceritakan semuanya pada Chanyeol. Dia tidak sanggup jika harus menyembunyikan perkara ini seorang diri. Untungnya Sehun mau memaklumi keadaannya.

“Yaa kenapa kau melakukan semua ini? Kau membuat semua orang menganggapmu sebagai nappeun namja.” erang Chanyeol.

Sehun lebih memilih diam daripada harus berdebat dengan Chanyeol. Berdebat dengannya tidak ada gunanya dan tak akan ada habisnya.

“Meskipun kau ingin menyembunyikannya dari Sulli setidaknya kau harus mengatakan yang sebenarnya padaku. Lihatlah kondisimu sekarang! Haish jinja!” Chanyeol kembali berceloteh kesal.

Sehun sedikit kesal melihat sikap Chanyeol yang cerewet, tetapi ia juga merasa senang. Setidaknya setelah mendengar celotehan Chanyeol ia menjadi tahu bahwa Chanyeol peduli padanya.

“Yaa sejak kapan kau peduli padaku?” ledek Sehun.

“Karena kau namjachingu Sulli berarti kau juga temanku, dan tentu saja aku peduli dengan temanku.” jelas Chanyeol.Sehun terdiam sejenak.

Setelah mendengar ucapan Chanyeol raut wajahnya menjadi murung, “Geundae, aku bukan namjachingunya lagi.”

“Haish! Terserah kau saja!” kesal Chanyeol.

Tiffany yang sejak tadi membungkam mulut menjadi kesal menyaksikan adu mulut di antara mereka, “Yaa kalian berhentilah berkelahi! Kalian sudah dewasa, bersikaplah seperti orang dewasa! Sikap kalian sangat kekanak-kanakan.”

“Arraseo nuna.” kata Chanyeol sambil memanyunkan bibirnya. Sedang Sehun hanya menundukkan kepalanya.

“Lalu bagaimana dengan kondisimu sekarang Sehun’ah?” tanya Tiffany.

“Seperti yang nuna lihat, aku baik-baik saja.” jawab Sehun.

Tiffany mengangguk mendengar jawaban Sehun. Yah, dilihat dari kondisinya sekarang Sehun sudah mulai membaik. Sehun mengangkat kepalanya dan menatap Tiffany.

“Nuna…nuna masih menyembunyikan semuanya dari Sullikan?” tanyanya ragu.

“Eoh, kau tenang saja hanya Chanyeol yang ku beritahu. Sulli tidak mengetahuinya.” jawab Tiffany.

Sehun lega mendengar jawaban Tiffany yang meyakinkan dirinya. Dia lalu melirik pada Chanyeol. Chanyeol pun membalas lirikan Sehun dengan melototkan matanya.

“Geundae nuna, apa orang yang berdiri di sampingmu itu bisa dipercaya?” tanya Sehun yang terdengar sedikit meledek.

Chanyeol semakin melototkan matanya pada Sehun, jari telunjuknya ia hadapkan tepat ke arah Sehun, “Haish jeongmal! Yaa neo!”

Tiffany menepis tangan Chanyeol dan memukul lengannya, “Yaa, sudah ku bilang berhenti berkelahi!”

“Tapi dia yang mulai duluan. Dia mengejekku nuna.” gerutu Chanyeol.

Sehun tersenyum puas menyaksikan Chanyeol yang dimarahi oleh Tiffany. Dia senang karena secara tidak langsung Tiffany menunjukkan ia berada di pihaknya. Dan itu menandakan dia menang dalam perdebatannya dengan Chanyeol.

Pintu kamar rawat Sehun kembali terbuka. Seorang yeoja cantik dengan rambut coklat terurai indah masuk dengan penuh riang ke kamar Sehun. Yeoja itu adalah Jessica.

“Sehun’ah saengil chukk-”

Jessica terdiam, ia nampak terkejut. Rupanya ia tidak tahu Sehun sedang kedatangan tamu. Semua orang yang berada di sana melempar pandangan pada Jessica yang tiba-tiba muncul.

“Fany’ah?” gumam Jessica.

“Eoh, sica’yah. Mian, aku lupa mengabarimu kalau aku akan ke sini menjenguk Sehun.” jelas Tiffany.

Jessica mengangguk mengerti. Dia lalu menatap bingung pada namja tinggi di samping Tiffany. Chanyeol pun turut memandangnya. Entah mengapa dia tidak dapat memalingkan tatapannya dari wajah cantik Jessica. Dia terlihat seperti boneka barbie milik adiknya di rumah.

“Perkenalkan dia Chanyeol teman Sehun dan Sulli.” kata Tiffany memperkenalkan Chanyeol pada Jessica.

Sehun segera membantah perkataan Tiffany, “Aniyo, dia bukan temanku.”

“Haish, neo!” kesal Chanyeol tetapi Tiffany langsung menatapnya tajam sehingga ia memilih untuk tidak melanjutkan makiannya.

Jessica tertawa geli melihat sikap Sehun dan Chanyeol. Mereka sangat kekanak-kanakan dan lucu.

“Annyeonghaseyo Chanyeol’ah, jeoneun Jessica imnida. Aku teman Tiffany sekaligus nuna Sehun.” kata Jessica.

Chanyeol tertegun, bagaimana mungkin Sehun memiliki nuna secantik Jessica, “Ne? Sehun nuna?”

“Aniyo, maksudku aku sudah menganggap Sehun seperti dongsaengku sendiri.” jelas Jessica.

“Aaah ~” Chanyeol mengangguk lega, “Jeoneun Chanyeol imnida, bangapseumnida nuna.” sambungnya.

Sehun menatap kesal pada Chanyeol, apa maksudnya ia berkata seperti itu, “Memangnya kenapa kalau Jessica itu nunaku?”

“Sangat tidak pantas.” ledek Chanyeol.

“Mwo?” Sehun melototkan matanya pada Chanyeol, namun Chanyeol tak segan-segan membalasnya dengan ikut melotot.

“Sudah, sudah, kalian jangan bertengkar.” pinta Jessica lembut.

Jessica berjalan mendekati Sehun dan langsung mengelus kepala Sehun, “Saengil chukkae Sehunie.”

“Gomawo nuna.” balas Sehun sembari tersenyum ramah.

Hari ini adalah hari ulang tahun Sehun. Meski ia harus tetap berada di rumah sakit untuk menjalani perawatan, tetapi dia mendapat perlakuan khusus dari pihak rumah sakit. Jessica baru saja menemui dokter yang menangani penyakit Sehun. Dia meminta izin agar bisa membawanya pulang dalam tiga hari ke depan. Melihat kondisi Sehun yang semakin hari semakin membaik dan juga karena dokter yang menangani Sehun adalah paman Jessica, membuatnya tidak sulit mendapatkan izin.

“Jinjayo? Chukkae Sehun’ah.” seru Tiffany ikut senang, “Bagaimana kalau sebentar malam kita merayakannya bersama-sama?” lanjutnya.

“Ide yang bagus Fany’ah.” kata Jessica.

Sehun sangat senang dan bahagia. Meski kesembuhannya tidak memungkinkan lagi, ia masih memiliki orang-orang yang peduli dan sayang padanya. Mereka bahkan mau merayakan ulang tahunnya yang mungkin saja merupakan ulang tahun terakhir baginya.

***

Siang telah berganti malam. Matahari pun telah berganti dengan bulan. Sehun kini tidak berbalutkan pakaian rumah sakit lagi, ia tampak lebih rapi dan tampan dengan kaos putih sederhana yang dipasangkan dengan  mantel hitam. Wajahnya pun tidak terlihat pucat lagi. Sejak memasuki salah satu cafe yang diusulkan oleh Tiffany senyum bahagia tidak pernah padam dari wajahnya.

“Sehun’ah eotte? Apa kau suka dengan tempat ini?” tanya Tiffany.

“Ne nuna, aku sangat menyukainya. Gomapseumnida nuna” jawab Sehun sembari membungkukkan badan.

Tiffany mengajak Sehun, Jessica, serta Chanyeol untuk duduk di bagian tengah cafe. Jessica juga telah menyiapkan kue tart yang cukup besar untuk merayakan ulang tahun Sehun. Di permukaan kue itu tertancap lilin dengan angka 18 yang apinya telah siap ditiup oleh Sehun. Mereka pun bersorak menyanyikan lagu ulang tahun.

Saengil chukka hamnida, saengil chukka hamnida
Saengil chukka Sehun’ah, saengi chukka hamnida ~

Sehun memejamkan matanya sejenak hendak membuat sebuah harapan dalam batinnya. Meski hidupnya tidak lama lagi, namun ia masih memiliki sebuah harapan yang mungkin cukup konyol baginya. Tetapi itulah harapannya.

“Meskipun aku sendiri yang membuatnya membenciku, tetapi aku tidak ingin dibenci olehnya. Aku hanya ingin dia merelakanku pergi, bukan membenciku.”

Sehun membuka matanya perlahan, menghirup napas panjang dan hendak menghembuskannya pada api yang membakar lilin itu. Tetapi, tiba-tiba dari salah satu sudut cafe terdengar keributan. Bukannya segera meniup lilin, Sehun malah menolehkan perhatiannya pada sumber keributan itu.

***

Sulli meneguk vanilla latte miliknya. Dia kemudian memandang Minho yang tersenyum padanya. Dia pun membalasnya meski dengan senyuman cukup dipaksakan. Karena teringat oleh Sehun rencana piknik Sulli dan Minho gagal. Setelah meninggalkan Minho tadi pagi tanpa alasan yang jelas, Sulli merasa sedikit bersalah. Dia pun mengajak Minho bertemu kembali di salah satu cafe favorit Tiffany. Setidaknya bertemu dengan Minho bisa membuatnya kembali melupakan Sehun.

“Sulli’ah gwaenchana?” tanya Minho cemas.

“Eoh gwaenchana. Mianhae tadi pagi aku meninggalkanmu begitu saja.” gumam Sulli.

“Gwaenchana, tidak usah dipikirkan.” balas Minho ramah.

Disela – sela perbincangan mereka, tiba-tiba Taemin muncul bersama seorang yeoja. Yeoja itu menarik Taemin mendekati mereka.

“Yaa, apa kau yang bernama Sulli?” yeoja itu menatap tajam pada Sulli.

“Ne, aku Sulli” jawab Sulli.

Byuurr! Yeoja itu menyambar segelas air putih dan langsung menyiramnya tepat di wajah Sulli. Sulli terkejut dan ikut menatap tajam pada yeoja itu.

“Dasar yeoja brengsek! Kau pikir kau cantik? Berani sekali kau mempermainkan oppaku!” hardik yeoja itu.

Taemin menarik-narik yeoja itu yang ternyata adalah adiknya sendiri, “Soojung’ah geumanhae, jangan membuat keributan di sini.”

Mengetahui yeoja itu adalah adik Taemin, Sulli langsung menatap rendah pada Taemin, “Yaa Lee Taemin, apa kau mengadu pada dongsaengmu sendiri? Tidakkah itu terbalik? Cih!”

“Mwo? Kau pikir aku yang menyuruhnya ke sini? Aku bahkan tidak rela mempertemukan dongsaengku dengan nappeun yeoja sepertimu!” balas Taemin, nampaknya ia mulai naik pitam.

Minho pun mulai terpancing emosinya mendengar perkataan Taemin, “Yaa jaga mulutmu! Neo nuguya?”

“Aku? Aku salah satu korban nappeun yeoja ini. Yeoja ini bukanlah yeoja baik-baik, jangan tertipu oleh wajah polosnya! Kau juga akan segera dibuang olehnya.” tutur Taemin.

Minho melirik Sulli, “Benarkah itu Sulli?”

Sulli tersenyum masam, nampaknya Minho telah terhasut oleh perkataan Taemin. Di mata Sulli semua namja di dunia ini sama jahatnya. Mereka tidak tahu cara menjaga perasaan seorang yeoja, yang mereka tahu hanya bagaimana cara membuat yeoja yang mencintai mereka menangis.

“Eoh majayo. Aku tidak pernah mencintai namja setulus hatiku, aku hanya ingin bermain-main saja. Kau tau kenapa? Karena aku tidak mau membuang-buang air mataku hanya untuk menangisi mereka.” jelas Sulli.

Soojung tidak dapat lagi membendung emosinya. Menurutnya Sulli sudah keterlaluan. Dia sungguh tidak berperasaan. Soojung pun mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan di wajah Sulli.

“Neo jeongmal-“

“Geumanhae!”

Tiba-tiba seorang namja datang dan menahan tangan Soojung yang hampir saja mendarat di pipi mulus Sulli. Namja bertubuh tinggi itu berdiri tepat di samping Sulli. Sulli segera menoleh padanya dan betapa terkejutnya ia ketika melihat wajah namja itu.

Soojung menepis tangan namja itu dari tangannya, “Nuguya? Aah . . . apa kau juga korban nappeun yeoja ini? Cih!”

Soojung kembali menatap tajam Sulli, “Yaa Choi Sulli berhentilah mempermainkan perasaan orang lain sebelum kau terkena karma dari perbuatanmu sendiri.”

Keributan yang mereka buat berhasil menarik perhatian beberapa pengunjung di cafe itu. Soojung mulai merasa tidak nyaman diperhatikan seperti itu. Dengan langkah kesal ia berjalan keluar dan langsung diikuti oleh Taemin. Sedang Minho masih tepaku diam menatap Sulli.

“Aku…aku benar-benar kecewa padamu.” lirih Minho lalu berjalan pergi meninggalkan Sulli.

Sulli tidak peduli pada perkataan Minho. Tidak masalah jika Minho mengetahui semuanya karena dari awal Sulli memang tidak memiliki perasaan padanya. Alasan mengapa ia hanya terdiam mematung saat ini adalah kemunculan Sehun. Beraninya dia menampakkan sosoknya setelah dua bulan lebih dia menghilang, setelah meninggalkan bekas luka di hati Sulli yang hingga kini tak kunjung terobati. Sulli terus diam dan berusaha menahan dirinya untuk tidak menatap Sehun.

“Apa selama ini kau hidup seperti ini? Mempermainkan perasaan orang-orang yang mencintaimu? Kenapa kau melakukannya? Neo jeongmal baboya!” erang Sehun.

Plak! Tamparan Sulli tepat mengenai pipi Sehun dan berhasil meninggalkan bekas kemerahan. Kini butiran-butiran air mulai mengalir dari mata Sulli.

“Majayo, aku memang mempermainkan perasaan mereka. Bukankah kau juga melakukan hal yang sama padaku? Apa hanya kau yang boleh mempermainkan perasaan orang yang mencintaimu? Apa aku tidak boleh? Geurae, aku memang bodoh!”

“Karma? Cih! Kenapa harus aku yang terkena karma? Kenapa bukan kau? Kau yang menyakitiku! Kau yang membuatku seperti ini!” lanjut Sulli.

Sehun tertegun. Ternyata dirinyalah yang menjadikan Sulli sebagai nappeun yeoja. Dia tidak menyangka Sulli melakukan semua ini hanya karena ingin menghapus luka di hatinya akibat dirinya.

“Mianhae.” gumam Sehun pelan.

Sulli tersenyum pahit. Kepalanya terasa seperti akan meledak. Sehun benar-benar membuatnya ingin segera berhenti bernapas. Sulli menarik napas panjang seraya memejamkan matanya. Berusaha menghentika butiran air yang terus mengalir dari matanya. Dia pun mencoba menghadapi Sehun seperti menghadapi namja-namja yang telah ia permainkan.

“Gwaenchana, aku sudah tidak mencintaimu lagi. Rasa benciku telah menghapus semua cintaku untukmu. Selama ini aku menganggap dirimu sudah mati!” gumam Sulli.

Perkataan Sulli sungguh menusuk dada Sehun. Sulli telah membenci dirinya, tidak ada lagi cinta baginya. Bukankah ini sesuatu yang bagus? Bukankah dari awal memang ini yang ia inginkan? Tetapi, mengapa hatinya begitu sakit saat mendengar Sulli mengatakannya?

“Kau sudah melakukan hal yang benar. Aku memang pantas kau benci. Dan juga tetaplah menganggap diriku sudah…” Sehun terdiam sejenak.

“mati.” lanjutnya dengan suara agak parau.

Jessica yang menyaksikan semuanya menjadi naik pitam. Ucapan Sulli berhasil memancing emosinya. Awalnya dia tidak ingin mencampuri perdebatan mereka karena akan memperkeruh suasana. Tetapi, perlakuan Sulli sudah tidak bisa ia tolerir lagi.

“Sulli geumanhae! Namja yang kini berdiri di hadapanmu adalah Sehun, tidak seharusnya kau mengatakan hal seperti itu padanya.” tutur Jessica.

Sulli baru menyadari keberadaan Jessica. Dan ternyata bukan hanya Jessica, Tiffany dan Chanyeol juga turut bersamanya.

“Mwoya? Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Sulli.

Chanyeol berusaha meluruskan kesalahpahaman Sulli, “Mianhae Sulli’ah, kami tidak bermaksud-“

“Cih! Jadi selama ini kalian saling bertemu di belakangku? Geurae, kalian memang sudah memperlakukanku seperti orang bodoh!” potong Sulli.

“Sulli’ah jangan marah pada mereka! Kau sudah salahpaham, mereka tidak pernah menganggapmu seperti itu.” kata Sehun berusaha mencairkan amarah Sulli.

“Diamlah! Jangan bicara padaku! Bagiku kau adalah orang yang sudah mati!” erang Sulli yang terlanjur kesal pada Tiffany dan Chanyeol, tetapi ia malah melampiaskannya pada Sehun.

Sehun terdiam, sepasang matanya menatap lekat Sulli. Sehun lalu tersenyum pahit.

“Apakah kau begitu ingin aku mati? Geurae, ini tidak akan memakan waktu yang lama, kau hanya perlu bersabar.” ucapnya lirih.

Emosi Jessica telah lepas control. Sulli tidak tahu bagaimana sulitnya Sehun berjuang melawan penyakit, namun dengan mudahnya ia melontarkan kata “mati” dari bibirnya. Jessica tidak akan diam lebih lama lagi, dia berjalan mendekati Sulli sambil menatapnya tajam.

“Kau sudah keterlaluan! Kau hanya memikirkan rasa sakit yang kau rasakan, kau tidak memikirkan rasa sakit yang selama ini Sehun tanggung sendiri.” bentak Jessica.

“Nuna geumanhae, nan gwaenchana.” gumam Sehun pelan.

Sehun tidak akan membiarkan Jessica membeberkan semuanya. Sulli sudah melupakannya, dia bahkan sudah menganggapnya sebagai orang yang sudah mati. Bisa dikatakan bahwa usahanya hampir berhasil.

“Aniyo, dia tidak merasa sakit sedikit pun. Buktinya dia lebih memilih yeoja yang ia cintai daripada yeoja yang mencintainya.” balas Sulli.

“Kau salah! Sehun tidak mencintaiku, yeoja yang dia cintai itu kau bukan aku! Alasan dia meninggalkanmu bukan karena dia memilihku, tetapi karena-”

“NUNA GEUMANHAE!”

Mereka tersentak kaget mendengar erangan Sehun. Sehun menatap tajam pada Jessica. Dia bukannya ingin memarahi Jessica, tetapi ia tidak ingin Sulli tahu semuanya. Mengetahui semuanya hanya akan menambah luka di hati Sulli.

Perlahan mata indah Jessica meneteskan butiran-butiran air. Dia menangis bukan karena sedih Sehun memarahinya. Tetapi karena dia kasihan pada Sehun. Ini semua tidak adil, mengapa Sehun harus menanggung semuanya? Dia tahu Sehun sangat menginginkan Sulli di sisinya untuk menyemangatinya. Tetapi, dia lebih memilih mengubur keinginannya itu daripada membuat Sulli sedih setelah mengetahui penyakitnya.

Tiffany memandang mereka bergantian. Dia akhirnya menyadari bahwa apa yang dilakukan Sehun selama ini salah. Sulli harus mengetahuinya.

“Sehun meninggalkanmu karena dia tidak ingin kau mengetahui penyakitnya.”

To Be Continued . . .

A/N :
Annyeonghaseyo ^^ Woah, long time no see readerduel >,<
Akhirnya sy bisa kembali mengupdate ff ini, mianhae kalo kelamaan, soal’y kmren2 itu sy fokus sm un sy :'(
mmmm … readerdeul yg baik hati, mhon doa’y yah supaya aku lulus dgn nilai yg memuaskn ^^ Amin
Buat chingudeul yg mrasa baik hati, tlong dong kalo udh bca niggalin spatah dua kata biar aku’y g’ ptus semangat nulis klanjutan ff ini :( Buat readers baik hati yg udh komen jeongmal jeongmal gomawo, semoga Tuhan mmblas kebaikan klian smua ^^

For my lovely readers keep RCL, no bashing and plagiarism! Okay ^_~

>>> Cek klanjutan chapter’y disini!

47 thoughts on “Do Man Cry? [Chapter 5]

  1. AAAAAAA EONNIIII !!!!
    Akhir’ny keluar juga chap 5 nya, ya ampun tiap hari aku nengok kewp ini cuman buat ngeliatin ff eonni udh nongol atau belom.. Ehh akhir’ny udh nongol.. Huuuaaa eonni aku seneng bgt !!! XD
    Hiks hiks.. Mulia bgt yah eonni hati’ny Sehun oppa dia rela ngorbanin perasaan’ny demi Sulli..
    Syukur aja skrng tiffany ama Chanyeol udh tau ttg penyakit’ny Sehun :’)
    Eoniii.. Discene terakhir Sulli kok jdi nyebelin bgt sihh tega2’ny dia bilang Sehun oppa itu udh mati.. Hiks kasihan bgt Sehun oppa :'(
    Yahh lgi2 tbc itu suka bgt yah bikin penasaran itu ntar Sulli’ny udh tau belom klo Sehun oppa pnya penyakit??
    Ditunggu bgt yah eonni next chap’ny.. Ohh iya selamat yah buat UN nya aku doain eonni dpet nilai yg terbaik yahh.. Eonni kan udh kerja keras bgt tuh jdi aku yakin psti hasil’ny bagus ^^
    Semangat terus yah eonni ^^

    • AAAAAA SSAAAEENGGI :D
      mianhae, aku update’y klamaan, soal’y kmaren2 aku fokus ke ujian & smpat d’buat glau gara2 20 paket -_- alhasil otakku mampet buat lnjutin ff ini :'(

      sehunkn maknae polos, baik hati, rajin menabung + unyu2 :D khekhe
      tp kdang rada2 bego *plak* #abaikan

      iya, sulli tega bgt sih ngomong kyk gitu, tp kn dia g’ tau kalo sehun skit ._. jd dia g’ bs d’salahin jg sih ~
      hehe, mian, soal’y tbc itu hrus d’letakin d’tmpat yg tepat kalo g’ crita’y jd g’ seru saeng ^^

      Amin ya rabbal alamin ~
      mkasih atas doa’y yah saeng baik hati ^^
      gomawo …

      • EONNIIIII !!!!! XD
        G’ papa kok eonn aku ngerti’in aja, emng tahun skrng aneh bgt ujian’ny udh 20 paket pake ditunda pula –”
        Ehehehe, iyaa dong eon Sehun oppa gitu loh ^^ Haduhh Sehun oppa emng gitu eonn sma bgt kayak Zelo –”
        Betul juga sihh eon mereka berdua itu g’ bisa disalahin..
        Iyaaa smaa2 eonniii ^^
        Cheonma ^^

  2. Beneran deh thor, aku kebawa suasana
    Aku pingin bela Sehun, tapi di sisi lain Sulli juga kasihan
    Campur aduk deh baca ff ini ._.
    Lanjutnya jangan lama” ya thor
    Oh iya, Semoga author lulus yaa~
    Fighting ^^

    • iya, dua2y g’ ada yg bs d’salahin, dan mreka jg sma2 kasihan :'(
      sip sip chingu, aku usahain next chap’y bs d’update sesgra mngkn ^^
      Amin ya rabbal alamin ~
      mkasih ats doa’y yah chingu baik hati :)

  3. Unnie.. Sedih banget… Mataku sampai panas gara-gara nangis.. Hahaha.. Bikin penasaran.. Gimana sikap Sulli pas udah tahu Sehun punya penyakit ya?? Semoga nilai UN Unnie bagus.. Aku juga bentar lagi UN (aku kan kelas 6).. Cepetan dilanjut ya unnie… Fighting!

    • mianhae saeng, ff ini udh buat km nangis :'(
      sikap sulli? entahlah! mungkn dia mnyesal udh ngtain sehun kyk gitu ._.
      Amin ya rabbal alamin ~
      mkasih ats doa’y saeng yg baik hati :) wah, km jg mau un? sma dong kyk ade aku ^^ brarti ujian’y lusa dong?
      yg smangat yah ujian’y, rajin bljar! Fighting!

  4. akhirnya update juga chapter 5…… sumpah makin oke aja ceritanya… aku sampe nangis bacanya.. sumpah kereeeeennn.. aku kasian banget sama sehun sumpaah… dia nanggung semuanya sendirian, sulli juga ga salah karna dia gatau yg sebenernyaa… hikksss, hueeeee TT.TT

    aku tunggu kelanjutannya yaaaa~~~

    • iya, akhir’y bs d’update jg ^^ mian yah chingu kalo kelamaan …
      hehe :D gomawo ching ~
      ksihan sehun :'( bner, sulli jg g’ bs d’salahin krna dia g’ tau yg sbenar’y ._.

      ne chingu, aku usahain next chap’y bs d’update ssgera mungkn :)

  5. sekian lama aku menunggu, akhirnya keluar juga chapter 5 nih….

    sedih banget thor…. jadi pengen nangis >_,<

    oyeah… yg bilang kalo sehun sakit itu tiffany yaa.??

    next chapternya juseyo ^^

  6. sekian lama aku menunggu, akhirnya keluar juga chapter 5 nih….

    sedih banget thor…. jadi pengen nangis >_,< kalo aja gag ada minhyuk oppa di samping ku, mungkin aku uda nangis #plak

    oyeah… yg bilang kalo sehun sakit itu tiffany yaa.??

    next chapternya juseyo ^^

    • mianhae chingu, aku publish klmaan :( soal’y kmaren2 aku fokus ke ujianku …
      waduh, minhyuk d’smping km pas lg bca ff ini? :D khekhe, mau’y km nangis aja trus baju’y minhyuk km pke lap air mata km :D *abaikan*

      yup! yg bilang itu tiffany abis dia udh g’ tahan jg liat sikap’y sulli ._.
      okesip chingu, next chap”y sgera publish ^^ d’tunggu yah ~

  7. eonni kereeen ^^b
    wlaupun bca dr chapter 4 udh ngrti jalan critanya dpet bnget :’) *hrus di rekomendasiin nih am tmen2,bgus sih XD

  8. Eon kok aku nyesek ya bacanya ??? #SEDOTINGUS (T•̩̩̩̩̩̩̩̩̩̩̩̩̩̩̩ •̩̩̩̩̩̩̩̩̩̩̩̩̩̩̩̩ T)
    Tapi aku cuman pnasaran. Orang tua Sehun Sulli itu di mana??????? (۳º̩̩́Дº̩̩̀)۳

    Cepetan update next chap nya eonnnnn. Ciusannnn aku nunggu bgt ini EpEp. :(((((

    • hahaha :D mian yah saeng kalo ff’y bki nyesek …
      orng tua mreka mngkn ada d’rumah :D haha, aku emg g’ prnah munculin mreka, mles saeng takut crita mkin ribet kalo mreka mncul >_<

      sipokeh saeng, aku usahain next chap'y update ssgra mngkn ^^

  9. huwaaaaaa, akhirnya ada juga chap.5 nya.. Aku udah galau nunggu lama banget, akhirnya muncul juga. Omonie, kenapa chap ini bikin nyesek ya? :-( Sehunnya kasiaaaan :-( Buat chap.6 jangan kelamaan ya thor jebaaaal :-( oh iya buat nilai UN-nya semoga bagus ya thor, author fighting!! ;-)

    • iya, akhir’y bs publish jg ^^ mianhae aku publish’y klamaan :'( mianhaeyo ~
      nyesek yah chingu? khekhe, emg tjuan aku jg gitu sih, mau buat chap ini nysek *plak* :D
      sip sip chingu, aku usahain next chap’y bs publish ssgra mngkn :)

      Amin ya rabbal alamin ~
      mkasih yah chingu yg baik hati ^^ fighting!

  10. EONNIEE!!!! Akhirnya chap 5 keluar juga, mian aku baru komen disini.

    Kasian ya jadi Sehun hrus menanggung penyakitnya sendirian untung ad Jessie Eonnie yg bisa perhatiin Sehun.

    Next chap update soon penasarn banget nih sama reaksinya sulli waktu tau Sehun sakit :)

    • SAENGII ~ gpp koq, aku jg mian yah kalo update’y klamaan :(

      iya ksihan sehun :'( ya udh, dia buat aku aja *plak* :D
      sipokeh saengi, aku usahain next chap’y bs update ssgra mngkn ^^
      gomawo saeng yg baik hati ^^

  11. “Apakah kau begitu ingin aku mati? Geurae, ini
    tidak akan memakan waktu yang lama, kau
    hanya perlu bersabar.” ucapnya lirih.

    Ngebayangin sehun ngomong gituuuu aku mewekkkkk ahhhh saeng ur so DAEBAK ! TT_TT
    Next chap cpetan yaaaaaaa.

  12. Wow, chapter 5 akhirnya di post, ceritanya juga keren, gak sia-sia deh udah nunggu lama . *100 jempol buat author* . Buat happy ending dong thor, soalnya gak tega banget sama Sehun, Sehun nya poor banget T.T .
    Oh iya, aku doain ya author biar nilai UN-nya bagus dan authornya lulus .!
    Aku tunggu ya thor next chapternya .

    • iya chingu, akhir’y bs publish jg ^^ mianhae kalo publish’y klamaan :(
      hehe, gomawo chingu yg baik hati :D smoga aja happy ending yah chingu ^^ iya, aku bru nyadar kalo d’ff ini sehun poor bgt, nth knpa aku suka buat ff yg menistakn sehun O.O *plak*

      Amin ya rabbal alamin ~
      mkasih yah chingu :) sip ~ next chap’y akn sgra d’update ^^

  13. Oh iya, author juga yang buat ff Oppa, Give Me Your Love kan ? Aku juga suka banget ff itu karena cerita nya bagus banget dan gak ngebosenin tapi mian ya thor aku gak coment. Oh iya nanti kalau boleh aku request ff ya thor *ngarep soalnya aku suka banget alur cerita yang author buat

    • iya, itu ff prtama aku loh :D hehe
      gpp koq chingu ^^ mkasih yah udh d’bca ~
      mmmm … aku liat kondsi dlu yah, soal’y aku msih punya bnyk ff yg mesti d’slesaiin >_< mianhaeyo chingu …

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s