Heal One Another [Part 1]

Summary: Si pemuda adalah seorang playboy kelas kakap, sedangkan si gadis adalah seorang panaroia yang selalu menghindari laki-laki. Ketika mereka berdua terikat dalam suatu pernikahan, dapatkah mereka ‘menyembuhkan’ satu sama lain?

 

Romance/Drama | Choi Minho & Krystal Jung | Chapter

PG-13 rated for safe.

 

The idea came originally from my head, but the characters are belong to their families and God itself.

 

Heal One Another © Park Sooyun

 

 

 

Sesuai kebiasaannya, di hari Sabtu ia akan pergi menjemput pacar barunya. Bisa dibilang, setiap Sabtu ia memiliki pacar baru. Ayahnya benar-benar kesal padanya dan ibunya sering berkata bahwa ia memiliki penyakit aneh.

Bahkan seorang playboy pun tidak separah ini. Hm, mungkin julukan yang tepat bagi dirinya adalah womanizer, bukan playboy.

Seluruh orang di kantor sudah tahu tentang penyakit anehnya ini. Orang-orang akan berbisik ketika ia lewat, para wanita akan mencibir melihat dirinya yang tampan namun suka bergonta-ganti pasangan tiap minggu.

Kini, ia sedang menggandeng seorang perempuan cantik berambut panjang. Namanya Kim Hyuna. Ia bertemu dengannya di kafe dekat kantornya bekerja.

Oppa…” Hyuna bergelayut manja. “Minho oppa, belikan aku baju itu~”

Minho melirik pacar barunya lalu mengikuti arah pandangan Hyuna. Tepatnya pada etalase sebuah toko yang memajang baju-baju bagus nan mahal.

“Tentu saja, Hyuna. Ayo kita ke sana.”

Mereka berdua masuk ke dalam toko tersebut. Sementara Hyuna sibuk memilih dan mencoba baju yang ingin dibelinya, Minho justru memperhatikan seorang kasir yang sedang bertugas di sana.

Ia mengeluarkan smirk andalannya lalu berjalan mendekati kasir tersebut.

Im Yoona.

Tertulis nama kasir tersebut di seragamnya. Minho berdehem lalu memulai aksinya.

“Toko ini buka hingga jam berapa?”

Si kasir yang bernama Yoona itu menolehkan kepalanya lalu tersenyum ramah. “Dari jam sembilan pagi hingga jam sepuluh malam. Tapi khusus pada hari Minggu, kami tutup jam sembilan.”

“Hm… Sudah lama bekerja di sini?” tanya Minho.

Yoona memberinya sebuah tatapan tidak menyenangkan. Gadis itu memutar matanya seraya berkata dalam hati semoga laki-laki yang ada di depannya tidak menanyakan atau melakukan hal yang macam-macam.

“Tidak juga. Aku hanya kerja part time di sini.”

“Mungkin jika kau bersamaku, kau tidak perlu bekerja part time lagi.”

Yoona hanya mengangkat bahunya. Dugaannya benar, laki-laki itu adalah seorang playboy. Padahal tadi ia melihat sendiri kalau pemuda itu masuk bersama seorang perempuan yang sepertinya adalah pacarnya. Lalu Yoona pura-pura sibuk supaya Minho merasa bosan dan pergi.

Oppa, aku sudah selesai memilih.”

Minho membalikkan badannya lalu tersenyum. Ia merangkul pundak Hyuna lalu mengeluarkan kartu kredit.

Ya ampun… Si laki-laki adalah playboy tidak tahu diri dan pacarnya seorang perempuan bermata duitan. Dunia hampir kiamat. Yoona membatin sambil menyipitkan matanya.

Ketika kedua orang itu pergi, Yoona hanya mengucapkan sederet kalimat syukur dalam hatinya.

 

***

“Aku benar-benar tidak mengerti. Tidak bisakah kau menghilangkan sikapmu yang sering menggoda karyawati dan calon klien kita?!” bentak ayahnya.

“Choi Minho, jawab ayahmu!”

Pemuda bernama Minho itu menatap datar ayahnya. “Ini sangat kekanak-kanakan. Untuk apa Ayah dan Ibu mengajakku berkumpul di sini dan berdiskusi seperti anak kecil?”

“Kau yang anak kecil,” sahut ibunya. “Bergonta-ganti pacar sama saja seperti anak kecil yang cepat bosan dengan mainannya.”

“Aku memang cepat bosan,” kata Minho sambil memutar matanya.

“Minho!” seru ayahnya. “Sebaiknya kau ubah sikapmu itu.”

“Memangnya ada apa dengan sikapku?”

“Mungkin aku masih bisa tahan dengan kelakuanmu yang suka bergonta-ganti pacar tiap minggu. Tapi aku tidak bisa mentoleransi lagi sikapmu yang mulai menggoda karyawati dan calon klien kita! Kemarin aku sudah mendapat komplain dari sekretarismu, Kwon Yuri, karena kau sudah berkata yang macam-macam. Tadi pagi calon klien kita yang bernama Nona Seo Joohyun memutuskan kontrak hubungan perusahaannya dengan perusahaan kita karena menganggap sikapmu yang flamboyan sebagai ketidakprofesionalan.”

Tuan Choi Siwon―ayah Minho―menatap anaknya dengan tajam. “Ke-playboy-anmu harus dihilangkan. Kau adalah anak dari Choi Siwon yang nantinya akan mewarisi perusahaan Choi Corporation. Jika kau tidak bisa, maka sebelum nama perusahaan ini hancur, aku akan menyita segala gadget dan kartu kredit yang kau miliki. Tanpa kecuali.”

Sontak Minho terkejut dengan perkataan ayahnya. Ia berdiri lalu mengerang, “Ayah bercanda, ‘kan? Aku tidak mungkin bekerja tanpa gadget.”

“Yang betul itu―kau tidak bisa mencari pacar baru tanpa kartu kredit,” balas ayahnya dengan sengit. “Berhenti atau kau harus keluar dari keluarga Choi.”

“Sayang…” Istri Siwon menatap suaminya dengan cemas. “Apa itu tidak terlalu berlebihan?”

Siwon menghela napas. “Tiffany, aku sudah terlalu lama memberikan toleransi padanya. Jika kini aku tidak tegas, maka semuanya akan hancur.”

“Ayah… tidak bisakah kita mendiskusikan hal ini lagi?”

“Kau sendiri yang bilang berdiskusi adalah hal yang dilakukan anak kecil. Jika kau mau barang-barang milikmu tidak berpindah nama, ubah sikapmu. Diskusi selesai!”

Kedua suami-istri itu keluar dari apartemen mewah milik Minho.

Si pemilik apartemen terkulai lemas di sofa. Ia tak mungkin bisa menjalani kehidupannya tanpa gadget, tanpa kartu kredit. Semua itu sumber penghasilannya! Ia juga tidak bisa meninggalkan keluarganya begitu saja. Tapi rasanya untuk mengubah sikap juga sulit.

Argh!

Minho mengacak rambutnya.

Hei, apa yang salah dengan sikapnya selama ini? Ia hanya menggoda para wanita cantik, itu saja. Ia tidak berbuat lebih. Dan kenapa Kwon Yuri serta Seo Joohyun sangat sensitif padahal mereka baru menerima gombalan dari Minho? Bahkan pacar-pacarnya yang dulu merasa senang jika ia gombali.

Namun ia tahu―pilihan yang ada di hadapannya ada dua. Menghentikan sifat flamboyannya atau keluar dari keluarga Choi.

 

***

“Apa yang harus kulakukan untuk ‘menyembuhkan’ Minho?”

Tiffany menatap suaminya dengan lembut. Ia mendekat dan duduk di sebelahnya. “Kita akan mencari tahu nanti. Sebagai ibu aku juga ingin supaya Minho kembali normal.”

Siwon mengusap wajahnya dengan gusar. “Aku tidak tahu kenapa anak itu bisa menjadi seperti itu. Entah dari siapa dia mendapatkan sifat itu. Bahkan adik perempuannya, Sulli, adalah anak yang baik dan penurut. Lalu kenapa ia tidak bisa meniru adiknya?”

“Karena Minho adalah Minho. Dia bukan Choi Sulli,” jawab Tiffany. “Aku tahu itu bukan jawaban yang bijak. Tapi kita harus yakin bahwa Minho bisa mengubah sikapnya.”

Sambil menghela napas, Siwon menyandarkan punggungnya ke sofa. Masalah bertambah rumit saja. Ia sudah cukup dipusingkan oleh anak perusahaannya yang membutuhkan seorang direktur baru, masalah putusnya kontrak dengan perusahaan lain karena ulah anaknya dan beberapa jam ke depan ia harus mengadakan rapat dengan rekannya.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Hei, Tiff,” panggil Siwon pada istrinya.

“Hm?”

“Masih ingat dengan temanku yang bernama Jung Yunho?”

“Ah, temanmu yang dulu sering datang ke sini untuk berdiskusi masalah bisnis, ‘kan?”

Siwon mengangguk. “Seminggu yang lalu aku sempat bercerita padanya tentang masalah Minho. Kemudian dia menanggapi bahwa kami punya masalah sama dalam mengurus anak, yaitu tidak tahu bagaimana cara mengubah sikap anak.”

Tiffany mengerjap bingung. “Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu.”

Tiba-tiba, Siwon menegakkan badannya. “Yunho hanya menceritakan soal permasalahan anaknya padaku karena aku adalah teman terdekatnya. Mungkin… aku bisa meminta bantuan Yunho.”

Dahi Tiffany berkerut karena ia sama sekali tidak mengerti maksud perkataan suaminya.

 

***

Dengan gelisah Jung Yunho menaruh koran yang tadi dibacanya. Ia berpaling ke arah anak perempuannya yang sedang duduk di balkon sambil mengerjakan pekerjaannya di laptop.

Ia bingung bagaimana menceritakannya pada Krystal―putrinya. Kemarin ia menerima telepon dari Siwon. Temannya itu menceritakan semua permasalahan yang dia miliki lalu meminta bantuannya.

Yunho tahu persis masalah yang dimiliki Siwon. Masalah itu berpangkal dari anak laki-lakinya sendiri, yang katanya adalah seorang playboy kelas kakap dan kini membuat reputasi perusahaan Choi menjadi turun karena sifatnya.

Siwon berkata bahwa dia benar-benar tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Kelakuan anaknya semakin menjadi-jadi dan sepertinya tak ada hal lain yang bisa dilakukan kecuali satu. Menyeret anaknya pada perjodohan.

Yang maksudnya perjodohan antara anak Siwon dan anaknya.

Kini Yunho ikut bingung.

Anak perempuannya juga memiliki sifat yang sulit diubah. Hampir sama seperti Minho, tapi berbeda versi. Jika Minho memiliki masalah tidak bisa menghentikan sikap playboy-nya, maka masalah Krystal adalah gadis itu terus menghindari laki-laki.

Yunho tahu bahwa Krystal memiliki trauma. Dan yang namanya trauma agak sulit untuk dihilangkan. Namun jika anak gadisnya terus menghidari laki-laki, maka sikap itu bukanlah sikap yang bijaksana.

Semua orang diciptakan secara berpasang-pasangan. Dan pasangan untuk wanita tentu saja adalah laki-laki. Yunho hanya khawatir, ia dan istrinya pasti suatu hari nanti akan pergi selamanya. Dan jika mereka sudah pergi, siapa yang akan mengurus Krystal?

Gadis itu bahkan tidak betah dengan pamannya sendiri. Satu-satunya laki-laki yang dekat dengan Krystal adalah ia sendiri, ayahnya.

Istrinya―Stephanie―juga mengungkapkan kekhawatirannya beberapa minggu yang lalu.

“Apa Krystal tidak memikirkan tentang pacar? Bagaimana jika nantinya dia tidak mau menikah? Lalu siapa yang akan menjaganya nanti selain suaminya sendiri? Kita tidak mungkin bisa terus menjaganya. Dan Krystal tidak bisa selamanya menjaga dirinya sendiri. Dia juga butuh penjaga.” Istrinya berkata sambil berkaca-kaca. “Aku hanya ingin Krystal bahagia. Berdekatan dengan laki-laki tidak membuat Krystal nyaman, namun melihatnya terus menjauhi laki-laki juga tidak membuat Krystal senang.”

Perkataan Stephanie memang seratus persen benar. Satu-satunya tempat dimana Krystal tersenyum adalah di hadapan orangtuanya. Di depan orang lain, maka hanya tampang datar yang dipasang gadis itu. Bahkan Krystal hanya tersenyum samar jika bertemu sahabatnya.

Lagipula, Yunho dan istrinya juga memikirkan masa depan Krystal. Setelah anak pertamanya yang bernama Jessica pindah ke Amerika Serikat bersama suaminya, Krystal selalu sendiri. Yunho sibuk bekerja dan Stephanie terkadang kerepotan mengurusi bisnis tokonya yang baru.

“Ayah…”

Yunho tersadar dari pemikirannya. Ia melihat Krystal berdiri di hadapannya. “Ada apa, Sayang?”

“Bisakah Ayah memberitahu Direktur Jungshin jika aku ingin cuti? Hanya dua hari. Tiba-tiba aku merasa tidak enak badan.”

“Kenapa tidak memberitahu sendiri?”

Seketika badan Krystal menjadi kaku. Gadis itu menggerak-gerakkan badannya dengan gelisah dan tangannya bergetar. “A-Aku…”

Yunho menghela napas lalu tersenyum kecil. “Tidak usah kau ceritakan, Sayang. Ayah sudah tahu. Ayah akan memberitahu Direktur Jungshin nanti.”

“…terima kasih.”

“Ya.”

Krystal membungkuk sekilas lalu beranjak dari hadapan ayahnya. Tapi Yunho segera menghentikan langkah anaknya.

“Krystal?”

Gadis itu berbalik. “Ya?”

Keraguan sempat terlintas di benak Yunho. Namun rasanya tidak ada lagi yang bisa dilakukan. “Ayah dan ibu ingin membicarakan sesuatu padamu. Nanti jam tujuh malam, datanglah ke ruang keluarga.”

“Tentu.”

 

***

“Apa kau yakin dengan rencana perjodohan ini?”

Yunho mengangguk. “Tentu saja. Bukankah ini juga keinginanmu? Stephanie, kau pernah berkata jika kau ingin Krystal supaya memiliki kekasih. Menurutku ini kesempatan yang bagus bagi Krystal. Dia akan membiasakan dirinya dengan laki-laki.”

Kekhawatiran tetap terlihat di wajah Stephanie. “Tapi kau bercerita padaku bahwa Minho adalah seorang playboy. Bahkan ayahnya sendiri juga berkata begitu! Bagaimana jika setelah menikah, Minho tetap menjadi playboy dan justru menyakiti Krystal?”

“Perlu kau tahu, bukan hanya kita yang berharap. Siwon dan istrinya juga berharap adanya perubahan pada anak mereka karena perjodohan ini. Mereka berharap Krystal bisa menyembuhkan Minho. Dan kita berharap Minho bisa menyembuhkan Krystal,” Yunho berusaha menjelaskan. “Krystal adalah anak yang baik dan penurut. Ia bisa menjadi istri yang baik. Mungkin saja semua itu bisa membuat Minho berubah. Minho sendiri adalah seorang playboy seperti yang dikatakan ayahnya. Mungkin dia bisa membuat Krystal jatuh cinta padanya.”

Namun rasanya penjelasan itu belum bisa meyakinkan istrinya.

“Dengar, aku memang bukan psikolog. Namun aku tahu―satu-satunya cara untuk menghilangkan phobia adalah dengan menghadapi sumber phobia itu sendiri,” tambah Yunho. “Jika Krystal trauma dengan laki-laki, maka cara untuk menghilangkan traumanya adalah dengan membuatnya berhadapan langsung dengan laki-laki.”

Stephanie terdiam. Beberapa saat kemudian ia mengangguk. “Kurasa… kau benar. Tidak ada salahnya mencoba.”

Yunho tersenyum.

“Tapi kau yang menceritakan perjodohan ini dengan Krystal,” tambah Stephanie. “Aku benar-benar tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada dia.”

“Tenang saja, Steph. I will handle it.”

Beberapa saat kemudian, pintu ruang keluarga terbuka. Terlihat seorang gadis cantik dengan kemeja denim lengan pendek dan rok hitam selutut masuk ke dalam.

“Hai, Ayah, Ibu.”

“Hai, Krystal,” balas Stephanie sambil tersenyum.

Krystal duduk di hadapan orangtuanya. “Ada apa?”

“Begini…” Yunho memulai. “Kami tahu ini akan menjadi berat untukmu. Tapi percayalah, Krystal… Kami melakukan ini demi kau sendiri.”

Krystal masih terlihat tenang.

“Masa lalu mungkin terlihat menyeramkan bagimu. Membuat semua laki-laki terlihat buruk di matamu. Namun trauma itu tidak akan hilang jika kau tidak berusaha untuk menghadapinya.”

Badan Krystal terlihat bergetar. “A-Apa maksud Ayah?”

“Kami akan menjodohkanmu dengan seorang pemuda.”

“HAH?!” Krystal bangkit dari sofa. Matanya menyiratkan sebuah ketakutan. “A-aku tidak mau! Pokoknya tidak mau!”

Stephanie bangkit lalu memeluk anak gadisnya. “Tenangkan dirimu, Krystal.”

“Dengarkan Ayah. Kami melakukan ini pasti ada alasannya, karena itu tolong dengarkan Ayah.”

Dan Krystal mendengarkan.

“Selama ini kami hanya melihat kau menghindari ketakutanmu. Hal yang benar adalah―kau harus menghadapinya, bukan lari dan melupakannya. Itu tidak akan membantu.”

“Kau juga ingin supaya trauma itu hilang, ‘kan?” tanya Stephanie lembut. Ia mengelus rambut panjang Krystal.

“A-Aku memang ingin supaya aku tidak trauma lagi,” ucap Krystal. “Ta-tapi… rasanya me-menakutkan jika aku harus menghadapinya.”

Yunho bangkit dan turut memeluk anaknya.

“Ini akan sangat sulit bagimu; kami tahu itu. Tapi akan bertambah sulit jika trauma itu tidak hilang darimu.”

 

***

Krystal Jung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk. Otaknya kembali memutar kejadian beberapa saat yang lalu. Di ruang keluarga, saat ayah dan ibunya membuat keputusan untuk menjodohan ia dengan orang lain.

Badan Krystal merinding.

Ia benar-benar tidak nyaman dengan laki-laki. Kecuali ayahnya, tentu saja. Bayangan masa lalu masih menghampirinya. Meski ia tidak merasakannya secara langsung, namun tetap saja. Kejadian itu berlangsung tepat di depan matanya. Jeritan itu terdengar di gendang telinganya. Dan sialnya otaknya juga turut merekam kejadian tersebut.

Krystal menutup matanya. Ia mencoba untuk tenang. Namun bukannya tenang, yang muncul justru rekaman kejadian itu.

 

“Tolong! Sa-sakit!”

“Lepaskan kami! Jangan sakiti dia!” seru Krystal.

Namun pria brengsek di hadapannya tidak mau berhenti. Justru dia menampar pipi Krystal.

“Kau juga akan dapat giliran nanti!”

Dan perbuatan pria itu terus berlanjut. Krystal hanya bisa menangis, menyaksikan korban yang seumuran dengannya tengah diperlakukan layaknya wanita yang tak punya harga diri.

Krystal merasa tangannya ditarik.

“Sekarang giliranmu!”

Mata Krystal menyiratkan sebuah ketakutan yang sangat besar. Ia berteriak, meronta-ronta dan menangis. Lalu tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi. Dibarengi dengan pintu yang dibuka dengan paksa.

“Polisi! Angkat tanganmu dan lepaskan anak itu!”

 

Buru-buru Krystal membuka matanya. Ia bernapas dengan terengah-engah. Dahinya berkeringat dan badannya tak bisa berhenti menggigil.

Krystal memeluk kedua kakinya dengan erat. Lalu ia mulai menangis.

Ia ingin supaya trauma bisa hilang dari dirinya. Ia ingin supaya rekaman masa lalu itu berhenti menghantu hidupnya. Ia ingin… supaya bisa berinteraksi dengan orang lain, dengan laki-laki dan merasakan yang namanya jatuh cinta.

Tapi, trauma itu membuat segalanya terasa sulit.

Namun yang dikatakan ayahnya memang benar. Jika ia ingin berubah, maka ia harus menghadapi sumber ketakutannya secara langsung. Hanya itu.

Mungkin, ide tentang perjodohan itu bukanlah hal buruk. Krystal hanya berharap laki-laki yang dijodohkan dengannya bukanlah laki-laki kasar, bermata keranjang ataupun seorang playboy.

 

***

Minho membelalakkan matanya tatkala mendengar perkataan ayahnya.

“Itu tidak mungkin, Ayah. Aku tidak mau dijodohkan dengan siapapun.”

“Hanya ini satu-satunya cara supaya kau berubah!” bentak Siwon. Kesabaran pria itu benar-benar sudah habis. Apa susahnya bagi Minho untuk menurut?

“Tapi bagaimana dengan Hyuna?”

Sebuah pertanyaan bodoh. Siwon menghela napas ketika menyadari pikiran pendek anaknya.

“Putuskan saja! Kau biasa melakukannya, ‘kan? Kau sudah memutuskan Sunhwa, Gayoon, Hara, Minri, Bora, serta mantan-mantanmu yang lain. Pasti tidak susah bagimu untuk memutuskan Hyura.”

“Namanya Hyuna,” potong Minho dengan nada datar.

“Aku tidak peduli siapa namanya!” sahut Siwon. “Putuskan pacarmu atau aku yang akan memutuskan hubunganmu dengan keluarga Choi.”

Oppa, tolong jangan emosi,” Tiffany menyentuh pundak suaminya. “Minho hanya kaget. Mungkin ini terlalu cepat baginya.”

“Jawabanmu hanya ada dua, Minho. Ya atau tidak,” kata Siwon sambil berusaha untuk meredam emosinya.

Minho menyipitkan matanya. Rahangnya mengeras lalu akhirnya ia berseru, “Baik, baik! Terserah apa yang akan Ayah lakukan! Ayah bebas menjodohkanku dengan siapapun!”

Setelah itu, Minho bangkit dari sofa, meninggalkan kedua orangtuanya dan membanting pintu dengan tidak sopannya.

“Anak itu benar-benar kurang ajar,” desis Siwon. “Kuharap dia tidak mengacau kali ini.”

 

End or TBC…?

A/N: Wohooo~! Akhirnya saya bisa balik lagi! :D

Udah lama saya gak nulis fanfic chapter. Awalnya saya takut kalo nulis fanfic chapter, nanti malah gak bisa update. Tapi saya tahu kalau saya terus-terusan takut, saya gak akan maju sebagai penulis. Lagian, menurut saya dengan menulis fanfic chapter sama saja seperti melatih rasa tanggung jawab. ^_^

So, how about this fic? Do you like it? Hehehe, I hope you do.

And please give your response. Any response will be appreciated. The story will be continued if you give your response. So, please… Leave your comment or hit the like button. :D

 

 

Park Sooyun~

11 thoughts on “Heal One Another [Part 1]

  1. Kereeennn..
    Suka sm ide cerita’a n konflik’a jg g terlalu lebay..
    Tp mungkin penceritaan’a taw alur’a rada kecepetan kalo buat aku..
    Keep writing ya, n aku hrp ff ni harus ending. Jgn putus di tengah jln kaya kebanyakan ff chapter yg lain..
    Ok..
    Fighting..

    Jia Jung

  2. hihi… telat bngett yh aku baru comment :) gppa ya thor, dri pd jd sider kan xixixixi ^^ aku ska minho jadi bad boy disini,, feelnya dapet bnget thor. oww… masa lalu krystal kyk.a menakutkan deh,, ampe gk mau dket sm cwo. baru part 1 aja udah seru :)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s