Rare Plot (Taemin-Sulli Version)

Title : Rare Plot || Author : egadorks (@ega_ssi) || Rating : T, PG13 ; Length : Oneshot ; Genre : Romance, Drama, Friendship, School-Life || Main Cast : Sulli – Taemin || Other Cast : Find ‘em by yourself

Version : SeoHun Version | YoonKai Version | MyungSom Version

rare-plot-taeli

Quote : I was your past. She’s yours now. Then can I be yours again in the future | Now I’m regreting this. I feel like a fool. I can’t fix this. And of course there’s no time machine

Author’s Note : Anyway, thanks to Ila for the great poster ^^ I never met artworker who created poster as gorgeous as yours. :) For recommendation, if you need poster for your stories you can request it to Ila. Visit her blog >>> http://superdaebakdreamer.wordpress.com/ Cuma mau bilang aja kalau FF ini tersedia dalam 4 versi dengan cerita yang benar-benar sama! SeoHun, YoonKai, TaeSull dan MyungSom. Jadi jangan salah sangka ya? Oiya, sekalian ngingetin yang ditulis tebal itu flashback. Pesan aku terakhir, tolong komentar! ^^ Happy reading

***

Deretan gigiku menggigit keras bibir bawahku. Aku bisa merasakan panas yang menjalari  sekujur tubuhku, terutama wajahku. Badanku sedikit bergetar. Nafasku tercekat—rasanya  sesak sekali. Hatiku sakit, bahkan tenggorokanku terasa perih hanya untuk mengeluarkan erangan kecil atau mengeluh barangkali. Ditambah mulutku yang menganga kecil. Mataku mulai berair melihat adegan menyakitkan disana. Di depan sana.

Teman-temanku yang barusan ada di belakangku—duduk melihat adegan di depan itu, kini berdesakkan turun ke bawah agar lebih jelas melihat adegan yang mungkin bagi mereka sangat romantis, tapi tidak bagiku. Beberapa bahkan menabrakku, hingga tubuh kecilku goyah, apalagi sedari tadi adegan itu dimulai, kakiku serasa lemas tak kuat menopang tubuh kurusku. Akibatnya pun sukses membuatku jatuh dengan lutut yang menghantam keras permukaan bertegel keras ini.

Makin sakit apalagi saat sang lakon namja itu menggenggam tangan si lakon yeoja. Dan hendak mengatakan sesuatu atau barangkali menanyakan pendapat dengan senyum malu-malunya. Ditambah sekarang aku merasakan sakit dibagian lututku berkat tubrukan tanpa kesengajaan dari temanku tadi. Tapi tetap saja sakit di luka ini tidak sebanding dengan sakit yang ada di depan sana.

Bisa kulihat semua teman-temanku sudah berkumpul di depan sana. Hanya aku yang masih bertahan dan tetap disini. Dan tiba-tiba saja teman-temanku bersorak menggoda kedua lakon itu. Tapi diriku, hanya tersenyum kecut dan menonton adegan itu seakan aku adalah penonton dalam sebuah drama panggung.

“Ya! Jinri-ah, kemari!” panggil teman-temanku nyaris serempak. Membuatku sedikit terkejut dan memaksa tubuhku berdiri dari posisiku saat ini. Dan dengan terpaksa aku melangkahkan kedua kaki ini menuju tempat dimana kejadian tadi berlangsung. Walaupun otak dan hatiku memaksa untuk tidak pergi dan tetap dalam posisi semula saja.

Dengan sedikit tertatih dan terseok-seok karena lutut yang sakit, aku berjalan dan menuruni beberapa anak tangga. Namun, belum sampai di tujuan, langkahku berhenti. Aku tidak sanggup terus berjalan lebih dekat dan melihat adegan itu lebih jelas— aku tidak mau.

“Ya! Kemari!” seru seorang temanku, Kwangmin.

“…” aku hanya membalasnya dengan gidikkan dan senyum yang kupaksakan.

“Waeyo?” tanya beberapa dari temanku.

Hendak saja aku menjawab, Krystal, salah sahabatku yang bermulut pedas menyela “Jangan bilang kau cemburu! Ingat kan, dulu kau yang memutuskannya!”

Aku mengerjap mendengar ucapannya. Mungkin tidak begitu pedas, tapi bagiku, kata-kata itu berhasil menohok keras salah satu organ yang ada didalam tubuhku. Dan sukses membuatku merasakan sesuatu yang meraung marah dari dalam diriku. Aku jadi salah tingkah karena ini. Kepalaku menunduk—tak berani menatap teman-temanku. Dan bisa kudengar samar-samar teman-temanku menegur Krystal dengan suara lirih mereka. Jujur saja, aku merasa malu dan serba salah.

“Kau ini…”

“Hush kasian dia!”

“Hati-hati kalau bicara, Krys!”

Setidaknya itulah yang bisa kudengar, namun aku juga tidak begitu yakin karena mungkin barangkali  pendengaranku salah. Molla. Saat ini pikiranku sedang kacau berkat ucapan Krystal yang sukses membuatku merasa  awkward. Those words were success made me feeling more guilty.

“Wae? Memang benar kan? Kalau tidak cemburu kenapa takut melangkahkan kakinya lebih dekat? Kau cemburu melihat Jiyeon dan Taemin jadian?” Kalau saja Krystal bukan sahabatku aku mungkin sudah menghantamkan sebuah bola besi ke wajahnya.

Merasa diriku tersindir begitu dalam, aku mendongakkan kepala menunjukkan ekspresi ‘baik-baik saja’, lalu berjalan lebih dekat ke arah mereka. Didepanku bisa kulihat, Lee Taemin dengan Park Jiyeon berpegangan tangan. Oh tidak, bukan berpegangan. Karena kulihat hanya Taemin yang menggenggam tangan Jiyeon, yang kulihat tangannya tidak melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Taemin.

Yang kutatap pertama adalah Taemin, namun namja itu, seolah aku bisa membaca pikirannya—dia  sakit karena diriku. Sudah kentara sekali dari dirinya yang enggan untuk membalas tatapanku. Sementara Jiyeon, sahabatku menatapku dengan tatapan seolah mengatakan permintaan maafnya padaku. Bisa kulihat rautnya cemas menatapku. Dan sejujurnya, aku merasa sakit dengan raut yang diutarakannya untukku. Harusnya aku tidak perlu kau kasihani Park Jiyeon. Aku sejenak bingung hendak membalasnya dengan tatapan apa. Dan pada akhirnya, aku menggeleng lembut dan tersenyum ke arahnya—seolah mengatakan “aku baik-baik saja”. Well, I’m wearing a mask to hiding my destroyed self, from now on.

Hening. Semua diam.

“Jiyeon-ah…” dan akhirnya suara Taemin memecahkan atmosfir yang dipenuhi kebingungan saat ini.

Jantungku berdetak keras, terkaanku mungkin benar tentang apa yang akan terjadi. Lebih tepatnya, kata Taemin selanjutnya setelah namja itu memanggil Jiyeon. “Maukah kau menjadi yeojachingu-ku?”

Damn! Diriku seakan ditohok dengan besi, dan tubuhku seakan terhempas begitu jauh. Walaupun pada kenyataannya—adalah tubuhku yang kian melemas. Namun, aku tetap mencoba seolah kuat dan menunjukkan kalau diriku sudah tidak memiliki perasaan dengan namja itu—yang pernah menganggapku sebagai yeoja kedua setelah ibunya tercinta. But that just a memory.

Sekali lagi, Jiyeon menatapku. Memberikan sinyal permintaan maaf. Dan sekali lagi pula, aku menunjukkan ekspresi baik-baik saja. Yang sebenarnya merupakan topeng palsu yang aku kenakan untuk menutupi diriku yang hancur.

“Ne.” Singkat, sederhana, jelas, tapi memiliki arti yang begitu membahagiakan bagi Lee Taemin serta makna sebuah persetujuan—keluar dari mulut manis Jiyeon. Seluruh temanku bersorak gembira, seolah merasakan kebahagiaan yang dirasakan Lee Taemin. Teman-temanku mulai mengejek dua pasangan baru itu dengan godaan yang membuat mereka tersenyum malu-malu. Sebagian juga berbondong memberi selamat kepada pasangan baru itu. Tapi diriku terlalu takut dan malu untuk sekadar memberi selamat—bahkan menggoda mereka.

***

Karma. Ya ini karma dari Tuhan untukku. Setelah dulu, aku mengejarnya, hingga rela melakukan hal konyol, gila, tak masuk akal, dan bodoh, hanya untuk mendapatkan perhatiannya—yang sayangnya, tak pernah digubrisnya—dan yang kuterima darinya waktu itu adalah tatapan aneh—dan dirinya yang berusaha keras menghindariku. Hampir membuatku putus asa karena tidak bisa mendapatkannya. Waktu itu aku hanyalah gadis lugu dari angkatan kelas junior di sekolah ini, tak ada yang menonjol dalam diriku. Kecuali kemampuanku dalam sastra, seni terutama vocal dan kemampuanku dalam bahasa asing—yah setidaknya itu yang sering teman-temanku katakan. Tapi waktu itu, aku percaya dengan doa dan sebuah miracle. Because I believe in God and always believe that everyone have their miracle, aku terus berdoa. Berdoa, membayangkan dan berusaha mengurangi tingkah konyolku padanya. Hingga akhirnya, sebuah miracle tiba-tiba datang—dimana disaat aku benar-benar nyaris putus asa karena tak sedikitpun Lee Taemin melihatku, tiba-tiba aku mendapatkan pesan yang mengatakan dia tertarik denganku. Dan memintaku menjadi yeojachingunya. Tentu saja aku senang. Apalagi kata-kata yang dirangkainya yang ditujukan untukku. Membuatku semakin menyayanginya. Namun belum ada dua minggu, hubunganku dengannya kandas begitu saja. Karena orangtuaku yang tidak mengizinkan. Aku terpaksa memutuskannya.

Andai saja saat itu kami tidak ketahuan. Pasti saat ini, Lee Taemin masih bersamaku. Dan mungkin saja posisiku sebagai yeoja kedua setelah ibunya tidak akan tergeser atau tergantikan oleh Park Jiyeon—sahabatku sendiri.

***

Aku mendengus nafas setengah kasar. Kemudian aku meletakkan kepala menempel pada meja kayu didepanku. Aku mengingat flashback tadi setelah Park Jiyeon dan Lee Taemin resmi jadian. Aku ingat tadi saat Jiyeon menghampiriku kemudian menangis dan meminta maaf. Bahkan yang membuatku terkejut adalah saat aku mendengarnya mengatakan bahwa dirinya sudah mencintai Lee Taemin sejak dia putus dengan Kim Ryeowook.

Padahal, seminggu terakhir ini aku terus berkirim pesan padanya. Mengeluhkan sikapku sendiri kepadanya. Yang termasuk aku telah melukai hati Lee Taemin. Padahal aku telah mencurahkan isi hatiku padanya, tentang Lee Taemin. Tapi yang aku ketahui setelah kejadian pagi ini adalah dia telah mencintainya jauh sejak beberapa bulan lalu.

Jika aku terus mengingatnya, aku berani menjamin mataku akan segera panas dan mengeluarkan bulir air matanya.

Aku menggeleng kepala keras. Berusaha untuk tidak mengingat kejadian tadi. Kemudian berusaha memikirkan sesuatu yang lain. Tapi gagal karena mataku menangkap pemandangan menyedihkan buatku—dimana Park Jiyeon dan Lee Taemin sedang bercengkrama sembari menggenggam erat tangan masing-masing. Dan hal itu langsung membuatku berpikir, baru sehari sudah seperti ini? Sepertinya hubungan mereka lebih langgeng daripada denganku dulu.

Aku jadi risih sendiri dan merasa terganggu pula. Akhirnya aku mengalihkan pandangan menuju papan tulis putih yang sedikit kotor. Memang saat ini aku sedang di kelas. Kebetulan jam sedang kosong dan sebentar lagi bel akan berbunyi dan aku akan segera pulang dan melemparkan tubuhku ke kasur, kemudian menangis sepuasnya. Atau kalau tidak, mungkin aku akan menghantamkan tubuhku sendiri ke dinding—menyakiti diriku sendiri dan memaki diriku atas kebodohan yang dulu aku lakukan untuknya.

“Whoa, kau kenapa, eh?” Aku mendengar Jang Wooyoung mengeluarkan suara. Kutolehkan kepala ke sisi yang berlawanan dengan masih menempel pada meja. Dan kulihat, namja keren itu tengah duduk disampingku. Langsung, aku mendengus nafas kemudian merotasikan bola mataku. Sungguh, aku masih unmood dan tidak bernafsu untuk mencurahkan isi hatiku pada sahabatku yang satu itu.

“Ish, kumohon pergi Wooyoung-ah…” Aku menyelundupkan kepala diantara dua tanganku yang melipat.

“Waeyo? Kalau ada masalah ceritakan saja padaku. Bukankah kita sahabat?” Oke, aku tipe seorang gadis yang tidak enak menolak seseorang.

Aku bangun dari telungkupan dengan poni beracakan dan ekspresi lesu. “Wooyoung-ah, aku menyesal.” Setidaknya dua kata terakhir itu mampu membuat Wooyoung mengerti dan tidak perlu mencerna lagi maksudku.

“Jinri-ya, aku tidak akan menyalahkanmu lagi. Hanya saja, saranku, sebaiknya kau melupakannya saja. Cari namja lain. Aku pikir kembali dengan Kris membuatmu lebih baik.”

Jujur, aku kurang sependapat dengan persepsinya kali ini. Lantas, aku membuang nafas lesu. “Kau tau Wooyoung-ah, kurasa aku hanya sebatas menyukai Kris selama ini. Mungkin lebih tepatnya perasaan sesaat.”

“Mwo?” Wooyoung tersentak. “Ya, menurutku kau jauh lebih menyukai Kris daripada Taemin.”

“Aku pikir juga begitu. Tapi aku tak tahu juga.”

“Kau labil sekali.”

Kali ini aku diam. Ya benar mungkin. Aku memang labil. And I think I chose the wrong decision.

***

Sedari masuk kedalam bus dan turun dari bus, aku tetap diam dan tidak menggubris pertanyaan teman dekatku yang kebetulan pulang bersama denganku dalam satu bus. Diriku bahkan masa bodoh dengan mereka yang berteriak dan berseru memanggil namaku. Mungkin mereka menganggapku sudah tuli, atau kalau tidak—pasti mereka mengira aku terlalu larut dalam kekecewaan dan kesedihan. Kalau memang iya, berarti mereka benar.

Berlanjut aku memasuki rumahku, sambutan hangat dari ibuku bahkan hanya kujawab dengan dehaman lembut. “Hmmm…”. Dan itu sukses membuat ibuku mengernyit kebingungan atas tingkahku.

Sampai di kamar aku benar-benar melakukan niatanku : melemparkan tubuh ke kasur kemudian menangis sekencangnya atau menghantamkan diriku ke dinding dan merutuki ketololanku. Kedua-duanya akhirnya kulakukan. Walaupun tidak ada gunanya aku melakukannya, tapi kurasa ini bisa kulakukan untuk membalas perlakuanku dulu kepadanya : dimana saat aku mengacuhkan dan memakinya, dia tetap teguh dan tersenyum seolah baik-baik saja. Setelah tadi pagi aku merasa sakit akibat karmanya, kini aku menambahnya sendiri dengan menyakiti fisikku.

“Ya Tuhan… apa ini karma darimu?” gumamku disela-sela tangisanku.

Sekarang aku bisa merasakan sakitnya. Sakit saat aku memperlakukannya sebegitu keterlaluan, tapi yang kulihat adalah dia yang terus tersenyum…

Kudengar suara kursi sedikit bergeser, membuatku penasaran dan menoleh ke arah belakang tempat dudukku. Dan bisa kulihat namja itu duduk manis sambil tersenyum manis kemudian menyapaku lembut “Hai Jinri-ya! Apa kabarmu?”.

“Apa kabarku? Baik. Tapi melihatmu datang aku jadi tidak baik.” Jawabku pelan, mengecilkan suara agar teman-teman yang lain tidak mendengarku.

Kulihat dia tetap tersenyum, membuat serentetan kalimat tanya berputar di otakku. Yang benar saja, kenapa namja ini terus tersenyum padahal aku terus mengacuhkannya? ; Apa jawaban yang kukeluarkan gagal sukses membuatnya beranjak pergi? ; Apa dia hanya pura-pura tersenyum? Aku yakin dirinya sedang bersedih. Hanya saja dia berusaha menunjukkan ekspresi baik-baik saja. Seolah dia masih tetap semangat untuk mendapatkanku kembali.

Dia yang terus tegar dan kuat walaupun aku terus menyakitinya.

Kelas saat ini sedang riuh dengan suara teman-temanku. Sungguh tidak merdu bagiku. Bagiku memekakkan telinga. Walaupun ini benar-benar menggangguku, tapi aku bersikap biasa saja dan memilih pura-pura sibuk mengerjakan soal yang tersuguh didepanku dengan rumus dan angka rumit. Tentu saja aku tidak mengerti dan tidak tahu cara mengerjakan soal ini. Tapi toh aku tetap melakukannya, berharap mereka semua bakal lelah dan berhenti mengeluarkan pekikkan falls mereka. Namun yang terjadi selanjutnya adalah aku sendiri yang menyerah. Andai saja aku masih bersama Taemin, bisa kumanfaatkan kepintarannya untuk mengajariku soal rumit ini.

“Ayolah~ dia masih menyukaimu Jinri. Lee Taemin masih menyukaimu.” ejek Choi Minho kepadaku.

Aku merotasikan bola mataku seolah tak peduli kemudian kembali memelototi soal-soal rumit itu. Sial, aku tidak bisa berkonsentrasi.

“DIAM!” pekikku dengan suara tinggi. Bersyukurlah diriku, mereka akhirnya diam.

Segumpal kertas putih mendarat tepat di atas soal-soalku. Aku menatapnya sejenak sebelum memalingkan muka mencari siapa bocah yang melemparkan kertas itu. Dan pencarianku berhenti pada satu titik dimana aku melihat seorang temanku dengan senyuman menyengirnya kearahku. Son Naeun.

Aku meraih segumpal kertas itu, membukanya dan membaca isinya. Aishh… puisi ini lagi? Aku merutuk surat berisi puisi ini. Sejujurnya, puisi ini indah. Hanya saja tak tahu kenapa aku jadi sewot menanggapi dan membacanya. Tapi, sebagian dari hatiku sedikit geli dan senang menerima puisi ini. Molla… aku tidak tahu pasti. Rasanya campur aduk membaca puisi ini.

            Yeoja kedua dihatiku setelah ibuku tercinta…

Kalimat itu membuatku merasakan jutaan kupu-kupu tengah terbang di dalam perutku. Antara mulas dan bahagia. Tapi juga geli dan aneh membaca kata-kata itu. Kemudian kulanjutkan lagi membaca puisi—yang sebenarnya sudah kuhafal seluruh isinya. Karena berkali-kali pula Lee Taemin mengirimkan ini untukku.

Namun ada satu larik yang membuat alisku terangkat. Apa dia baru saja mengubah puisinya? Terkaku dalam hati.

            Singgasana ini masih ditempati olehmu…

Hanya sampai disitu aku membaca suratnya. Takut kalau-kalau ada kata-kata lain yang bakal membuatku semakin merasa tidak nyaman serta membuat frustasiku meledak. Kertas itu ku remas-remas lagi membentuk sebuah gumpalan kemudian aku hendak membuangnya ke sembarang. Tapi sebelum aku sempat melakukannya, pikiran licik membersit di otakku. Aku akan membuatnya menyerah.

Kertas yang kugumpalkan itu kurapikan kembali. Kemudian aku merobek-robek kertas itu menjadi serpihan kecil. Dan saat itu, seketika seisi kelas menjadi hening. Aku keherananmemutuskan untuk menatap teman-temanku satu persatu. Sebuah kalimat muncul di atas otakku, kalimat yang kira-kira berbunyi “Syukurlah mereka tidak mengomeli ulahku.”.

Tapi… “YA! Kau kejam sekali Jinri-ah!” omel Krystal. Lagi-lagi si mulut pedas itu. Aku benar-benar menyesali kalimat yang berputar di otakku tadi. For god shake you did the wrong thing.

Mworagu?” tanyaku memasang wajah polosseolah tak berdosa. Yang pada kenyatannya sebenarnya aku telah melakukan kesalahan. Aku jadi salah tingkah begitu menyadari tatapan teman-temanku yang diutarakan untukku. Sebanyak 28 pasang mata minus aku dan Taemin sedang menatapku garang. Oh sebentar, minus aku dan Taemin?

Aku menjuruskan kedua mataku pada Taemin. Dan saat itu aku merasa bersalah. Kulihat dia menunduk ke bawah sementara teman lelakinya, Xi Luhan mengelus punggungnya yang kini juga tengah menatapku garang. Aku menatap namja yang pernah mengisi hatiku sejak tahun pertama hingga tahun kedua itu dengan tatapan bersalah. Aku hendak berdiri dari kursiku dan mendekati kursinya, namun tiba-tiba mejaku nyaris terjungkal menubrukku. Aku mengalihkan pandanganku lagiJang Wooyoung sengaja mendorongkan mejaku entah karena alasan apa tapi yang pasti ada hubungannya dengan tindakanku sebelumnya.

Bodoh! You surely a fool Choi Jinri! Diriku jadi semakin buruk di mata teman-temanku. Ingin aku menangis saat itu, tapi pastilah jika aku melakukannya, seluruh teman akan semakin memandangku buruk. Untuk itu aku memilih kembali memalingkan muka menatap Lee Taemin—diluar dugaan—dia tersenyum ke arahku.

Aku terkesima dengannya. Bukan terkesima tapi tertegun melihatnya. Sebesar apakah rasa sayangnya kepadaku sampai-sampai aku menyakitinya seperti ini dia masih sanggup tersenyum? Andaikan akulah yang memerankan dirinya, aku pasti sudah bertindak dengan beranjak dari kursi kemudian menghampiri gadis jahat itu dan memakinya habis-habisan kemudian meluapkan seluruh kekesalan dan kemarahannya kepada si gadis jahat. Yang kumaksud gadis jahat adalah diriku sendiri.

Setidaknya itu yang benar-benar melekat di dalam memori. Walaupun sebenarnya masih banyak hal lain yang melekat dalam memori pula. Tapi kedua peristiwa itu yang sering menjadi bayangan. Karena kedua hal itu terus membuat rasa bersalahku pada Lee Taemin semakin besar.

***

Hubungan mereka langgeng. Sudah memasuki bulan keenam. Itu berarti sudah berlangsung selama setengah tahun. Aku merengut menyadari hal itu. Karena dulu aku dan dia hanya berlangsung selama sepuluh hari. Paling lama aku menjalin hubungan adalah dengan Kris Wu, temannya yang pada akhirnya baru aku sadari hanya kugunakan untuk—semacam pelarian. Itupun hanya berlangsung satu bulan kurang. Aku tidak pintar dalam urusan cinta memang. Mungkin itulah mengapa aku tidak bisa bertahan dalam hubungan dalam waktu lama.

Bagiku waktu berjalan begitu cepat. Memori saat mereka resmi berpacaran juga masih terlekat dalam pikiran. Yang jika aku rasakan seperti baru saja terjadi beberapa minggu lalu. Tapi pada kenyataannya kejadian itu sudah lama berlangsung dan aku juga baru menyadarinya tadi pagi—saat Jiyeon menghampiriku dengan senyum cantiknya, berkata mereka akan merayakan 6th month anniversary mereka. Walaupun kabar yang dibawanya itu sukses membuat hatiku kembali sakit, tapi toh aku tidak bisa berbuat apa-apa. Karena sekarang mereka satu. Park Jiyeon adalah milik Lee Taemin, mantan kekasihku. Begitu pula Lee Taemin adalah milik Park Jiyeon, sahabat sedari sekolah dasar yang telah kuanggap dia sebagai kakakku dan dia menganggapku sebagai adiknya.

Ada rasa sakit saat melihat mereka berdua bermesraan. Apalagi mereka satu kelas denganku. Dan hanya kemungkinan kecil aku tidak melihat mereka terus bermesraan tiap hari. Tapi seiring dengan berjalannya waktu aku bisa menetralisir rasa sakit yang ada dan membuat ini semua terasa lebih enjoy daripada waktu awal mereka menjalin hubungan. Tapi yang disayangkan adalah, kabar Jiyeon tentang 6th month anniversary itulah yang membuatku kembali merasa sedih. Dan lagi, aku masih tetap berusaha menetralisir ini. Sedikit sulit dari biasanya, tapi untungnya segerombolan anak perempuan yang notabene adalah para sahabatku, mengajakku bermain-main di halaman sekolah yang kosong saat itu, dan sukses membuat aku melupakan kesedihan tadi.

Disini, aku duduk diatas salah satu batang  pohon di siang hari—pohon ini tengah mengeluarkan zat gas yang merupakan unsur golongan kalkogen  yang sering dikenal dengan rumus O2sembari menikmati semilir angin yang menerpa kulit dan menerbangkan helaian rambut lebatku.

“Aku akan merindukan ini.” gumamku dengan suara halus. “Rasanya cepat sekali eh? Aku pikir baru beberapa minggu lalu aku mengisi formulir pendaftaran memasuki sekolah ini di salah satu ruangan kelas tujuh. Aku bahkan masih ingat dimana aku membuang sebungkus nasi berlaukkan terung dan kacang panjang mentah saat masa orientasi, yang kemudian ketahuan oleh salah satu kakak OSIS. Dan aku dihukum melakukan tarian dan nyanyian yang akhirnya sukses membuat seisi ruangan tertawa terbahak-bahak dan bertepuk tangan. God this embarrased me.” Aku menggumam sendiri bermaksud mengingat-ingat memori pertama memasuki sekolah ini yang pada akhirnya membentuk sebuah rangkaian cerita bagiku. “Kemudian disaat hari pertama memulai perlajaran—aku menemui seorang namja yang merupakan bintang fisika dan matematika. Aku kagum dengan kemampuannya menghitung dan menyelesaikan rumus rumit soal dari kedua mapel itu—bahkan tanpa menghitungnya secara manual! Aku masih ingat saat dia maju kedepan dan diminta menjawab sebuah pertanyaan rumit yang tidak aku mengerti, kemudian dia memejamkan matanya—terlihat sedang berpikir, lalu menjawabnya dengan begitu mudah. Dan ini membuatku dan teman-temanku kagum begitu guru itu mengatakan jawabannya benar. Aku juga senang saat menyadari ternyata aku dan dia sama-sama menjabat sebagai seksi olahraga di kelas kami. Harusnya aku tidak menjabat posisi itu karena aku sama sekali tidak tahu menahu tentang seluk beluk dan praktek dalam olahraga.” Cerocosku sendiri mengingat memoriku tentang kekagumanku pada Lee Taemin itu.

“Kemudian disaat aku mengalami kecelakaan di depan sekolah. Aku bersumpah akan merutuki temanku yang membuatku berubah pikiran dan akhirnya menjadi seperti itu. Tapi, di waktu sore, aku mendapatkan sebuah pesan singkat darinya. Darinya! Dan saat itu, aku diam-diam berterimakasih kepada temanku. Kalau saja dia tidak mengejekku dan membuatku pulang tergesa-gesa dan berakhir dengan tubuhku yang terpental karena sebuah truk lalu terluka, pasti aku tidak akan mendapatkan perhatian khusus dari Lee Taemin! Hahaha”dan kali ini aku bercerocos tentang aku yang bersyukur mendapatkan kecelakaan. Aku aneh memang. Tapi waktu itulah sebegitu besarnya aku menyayangi namja itu.

Aku menghembuskan nafas pelan sebelum melanjutkan cerocosanku. “Kemudian di tahun kedua, adalah dimana aku mengalami peristiwa pembullyan yang dilakukan oleh tiga serangkai gadis di kelasku. Setiap pulang sekolah aku selalu menguras air mata dan mengunci diri di kamar akibat perlakuan mereka kepadaku.”

“Tapi kemudian, di hari Minggu, aku mendapat pesan lagi dari Lee Taemin. Tak kusangka saat itu dia menyukaiku dan memintanya menjadi yeojachingunya—” Sampai mengucapkan kata itu aku tidak meneruskannya lagi. Karena setelah itu aku teringat kejadian dulu. Dan sialnya pula bulir air mata jatuh dari pelupuk dan menelusuri kulit wajahku. Untunglah aku ada jauh dari teman-temanku. Apalagi dimana posisiku saat ini, rasanya kemungkinan kecil aku bakal kepergok menangis. Dan untuk mengantisipasinya, aku menghapus air mata itu. Akan tetapi, semakin tanganku bergerak menghapus pipiku yang basah, air mata makin banyak keluar.

Aku memang milikmu dulu. Dan sekarang dialah milikmu. Tapi adakah mungkin, di masa depan aku menjadi milikmu lagi? Adakah mungkin di masa depan kau menjadi milikku lagi? Walaupun untuk sementara, aku akan bersyukur. Untuk memperbaiki kesalahanku and treat you nicely.

Gila memang aku menginginkanmu lagi. Jelas-jelas dulu aku yang mengharapkanmu. Kemudian membuangmu. Dan saat kau benar-benar melupakanku dan pergi dengan orang lain, justru disitulah saat aku benar-benar membutuhkanmu.

***

Disini aku bersama para sahabatku sedang berpelukan untuk terakhir kalinya—mungkin. Hari ini kami menghadiri acara perpisahan dan itu artinya setelah ini kami akan berpisah. Ahh—bagiku ini berlangsung begitu cepat. Begitu banyak yang sudah kami lalui bersama. Hingga saat ini, kami sama-sama menumpahkan air mata sambil berpelukan erat. Menandakan sekali bahwa kami tidak siap untuk meninggalkan satu sama lain.

Tapi untungnya, setelah ini nanti mungkin kami bisa bersenang-senang untuk sehari. Kami berencana berlibur bersama satu kelas kemanapun itu. Kami sendiri belum tahu karena ini masih rahasia wali kelasku. Yah—kemana saja asal kami masih diberi kesempatan bersama seharian. Dan aku yakin, pada hari itu tiba, hari itu akan terus teringat di otakku. Menjadi memori yang tidak akan pernah aku lupakan. Karena disinilah, aku pertama kali menemukan teman yang benar-benar teman bagiku.

***

7 tahun kemudian…

Tak henti-hentinya aku melemparkan senyumanku kepada semua orang yang aku temui di gedung perusahaan ini. Ya—sudah tujuh tahun berlalu, sama seperti kataku waktu itu—waktu berjalan cepat sekali. Tak terasa, aku yang dulunya hanyalah gadis dengan level akademik menengah hampir kebawah, lugu, talkative dan suka susah diberi nasihat, kini telah bekerja di sebuah perusahaan asing yang berdiri di negara ini. Dimana posisiku merupakan salah satu posisi penting—sebagai programmer. Jujur saja aku bangga dengan diriku sendiri, usiaku sekarang 22 tahun, dan aku sudah bekerja dan menghasilkan uang sendiri. Ditambah jobku sebagai programmer yang memang merupakan komponen penting di perusahaan ini—membuatku seperti merasa seperti melakukan mandi uang setiap aku berhasil membuat sebuah program. Dan tentu saja pekerjaanku ini sangat membantu keluargaku yang dulu pernah mengalami krisis ekonomi—hampir saja rumah kami disita.

“Choi Jinri.” Panggil suara nyaring yang lantas membuatku mengentikan langkahku menaiki tangga ini. Aku menoleh kepala dan mendapati Park Hyo Jin, gadis cantik yang berposisi sebagai manager disini.

“Ne?” balasku padanya.

“Ada yang menghubungimu.” Jawabnya sambil tersenyum manis. Aku terpana melihatnya.

“Oh—ne? Dari siapa?” tanyaku.

“Orangtuamu.” Balasan dengan suara lembut itu membuatku semakin menarik sebuah ukiran senyum di wajahku. Sebenarnya—bukan karena nada dan cara bicaranya, tetapi kata “orangtua”lah yang membuat moodku makin cerah.

“Oh—ne. Aku akan ke bawah.” Aku berbalik arah menuju ke bawah.

“Hey—“ panggilan Hyo Jin lagi-lagi membuat langkahku terhenti dan lagi-lagi pula membuatku menolehkan kepala.

“Ne?”

“Ngomong-ngomong, chukkae atas kerja kerasmu. Kau tau, seisi ruanganku terus saja mengagumi kejeniusanmu dalam membuat software.”

Aku tersenyum mendengarnya. “Ne, gomawoyo.”

***

“Tapi Eomma—“ aku menggantungkan kata-kata penolakanku di telepon ini—dengan Eommaku di seberang sana.

Diam. Aku diam. Begitu pula Eommaku. Aku sedikit—tidak bukan sedikit—tapi sangat tidak setuju dengan keputusan yang diberikan Eomma dengan Appa.

“Wae?” akhirnya, suara Eommaku memecah keheningan dalam hubungan komunikasi point to point itu.

Aku diam lagi sebelum akhirnya melanjutkan penolakan halusku. “Eomma, aku belum siap—untuk menikah.”

“Wae? Eomma dan Appa yakin, kau akan bahagia. Ini bakal menjadi kejutan besar bagimu dan bagi calon suamimu.” Ujaran Eomma membuatku menggigit kecil bibirku.

“Eomma, kenapa bukan Victoria Eonnie saja yang menikah? Dia lebih tua dariku. Kenapa aku yang lebih muda harus menikah lebih dulu darinya?” tanyaku. Yah—aku tak tahu ini ucapan yang menusuk, menyakitkan atau apalah itu. Tapi pikiran dan hatiku memaksa untuk mengatakannya.

“Hmmm… Eonniemu sudah memiliki namjachingunya sendiri. Kalau yang menikah itu adikmu, Ara ini makin tidak mungkin. Dia masih di bangku sekolah, Jinri-ya.”

Aku berpikir ulang. Apa aku harus menerima ini? Tapi percuma saja jika aku menolaknya, akan ada benak rasa bersalah yang menerpa. Dan mungkin juga mereka akan terus mempertanyakan ini hingga aku lelah dan menurutinya. Ditambah pula, aku sampai sekarang masih belum bisa menemukan namja lagi selain Lee Taemin.

“Baik Eomma. Aku mau. Aku akan pulang minggu depan. Dan aku akan menikah dengan—“ lagi—aku mengentikan kalimatku. “Aku akan menikah dengan namja pilihan Eomma dan Appa.”

Setelah percakapan yang cukup panjang itu, Eommaku menutup telepon. Seharusnya yang kulakukan setelah ini adalah beringsut dan menuju ruang labku. Tapi tidak, aku terus diam mematung di dekat meja receptionist. Dengan telepon yang masih kupegang tapi sudah terputus dengan seberang sana. Mataku menatap kosong ke arah buku seorang receptionist. Jujur saja, benda itu tidak memiliki daya tarik yang mampu membuatku tertarik. Maka dari itu, aku hanya menatapnya kosong. Seakan organ mataku tidak melakukan apapun selain menatap kosong, justru otak dan hatiku yang bergelut. Seakan otak dan hatiku berargumen tentang keputusan tadi. Otak seakan menerima keputusan itu. Tapi hati tidak menerimanya, karena aku tidak mencintai namja yang akan dijodohkanku. Apalagi pula, aku juga tidak tahu siapa namja itu. Dan ini membuatku bingung. Antara benar atau tidak keputusanku.

Lama aku diam. Hingga aku merasakan tangan yang menepuk bahuku. Ini membuatku terlonjak kaget dan hampir melempar gagang telepon itu.

“Joseonghamnida—aku tidak bermaksud mengagetkanmu.” Suara berat yang aku yakini suara seorang pria—meminta maaf padaku.

“Ooo—ne. Gwenchana.”

“Jinri-ssi, selamat atas keberhasilanmu. Kau tahu, kami bangga memilikimu di perusahaan ini.”

“Ooo—ne. Kamsahamnidah. Aku juga senang bekerja disini.”

Dia adalah Kim Hyun Sik, putra pertama presiden perusahaan ini. Yang barangkali sebentar lagi akan menggantikan posisi ayahnya. Kami mengobrol sebentar. Jika kulihat dari rautnya aku yakin tebakanku benar kalau dia ingin mengobrol lebih lama lagi denganku. Hanya kulihat saja—rautnya menandakan banyak kalimat introgatif yang siap ditujukan kepadaku. Untung saja seorang karyawan yang bekerja satu ruangan denganku, Taeun, memanggilku untuk segera ke lab. Dan ini betul-betul membuatku bersyukur. Kim Hyun Sik mengobrol sangat cepat sekali. Satu pertanyaan ditujukan, pertanyaan lain akan muncul. Membuatku sedikit kewalahan dan jengkel menjawab satu persatu pertanyaannya.

***

Aku kembali memijakkan kaki di tanah kelahiranku. Dan ini menuju perjalanan pulang kerumah. Setelah berpisah dengan keluargaku dalam waktu yang lumayan lama. 3 tahun—bagiku lama tapi juga cepat. Aku sudah tidak sabar kembali kerumah. Yang pasti akan berawal dengan mengetuk pintu, kemudian orangtua atau kedua saudari atau saudaraku membukakannya, kemudian berhamburan memeluk mereka, meneteskan air mata, dan yang akan terjadi selanjutnya, aku yakin adalah hidangan Eommaku yang sudah tersaji di depan mata yang selalu menggugah seleraku kemudian memakannya secara lahap dan cepat seperti aku tidak pernah makan seumur hidupku. Aku jadi membayangkannya. Ahh—ini terlalu berlebihan.

Dan yang aku bayangkan terjadi. Kini aku mengetuk pintu rumahku. Benar sekali dugaanku. Tak ada yang berubah disini. Pintunya, jendela, dinding dan cat yang melekat ini. Hanya saja, bila kuperhatikan lantai rumah ini sedikit berubah. Ada retakan kecil dimana-mana. Barangkali karena sudah tua—mengingat rumah ini telah dibangun sejak 1960-an. Atau barangkali karena bencana yang mengakibatkan gempa kecil beberapa tahun lalu. Entahlah aku tidak tahu pasti.

Cukup lama aku menunggu di luar. Pikirku, apa aku datang terlalu pagi? Ini masih pukul 5. Biasanya, jam segini Eommaku sudah di halaman. Menyapu, menyirami bunga atau sekedar menghirup udara segar. Atau apakah seisi rumah masih tidur? Aku ragu mengetuknya kembali. Bisa saja mereka memang masih larut dalam mimpi jadi kuputuskan untuk duduk di salah satu kursi luar rumah. Sambil menunggu beberapa menit. Berharap semoga ibuku segera bangun, membukakan pintu, menyambut lalu memanggil anggota keluarga yang lain.

Aku sandarkan punggungku kepada kursi daru plastik yang keliatannya kuat ini. Aku merapatkan sweater untuk menghangatkan tubuhku dari udara dingin pagi ini. Pandangan kulempar di depan sana. Tak ada yang menarik sebenarnya. Hanya ada deretan rumah dan pekarangan kecil dengan bunga yang ditata sedemikian rapinya. Maka dari itu—tidak beberapa lama aku memejamkan mata. Tidur sebentar barangkali dapat mengembalikan energiku yang tadi terkuras banyak berkat perjalananku dari Seoul menuju Incheon.

Clek

Suara pintu lantas tiba-tiba menggagalkan rencana tidur sebentarku. Dan ini pula membuat sumsum tulang belakangku bekerja cepat hingga saraf motorik bekerja membuatku menolehkan kepala kearah pintu yang terbuka, hasil dari gerak refleks. Dan yang terjadi adalah, dua orang yeoja yang sama-sama terpaku. Satunya adalah aku, dan satunya adalah ibuku yang kini berdiri tak bergeming sambil menatapku. Cukup lama kami sama-sama diam, hingga aku memutuskan untuk beringsut dan menghambur memeluk tubuh ibuku yang sudah tua itu.

“Eomma…” aku terisak. Aku memeluknya erat. Aku menenggelamkan wajah diantara sela-sela bahu dan lehernya.

“Jinri-ya…” Eommaku menyuarakan isakan dan panggilannya padaku. Tangannya bergerak mengelus lembut punggung kecilku.

***

Selesai makan bersama keluargaku, aku dihadapkan kepada kedua insan yang pada dua puluh dua tahun lalu telah bekerja sama dan membuatku terlahir di dunia. Haha aku jadi ingin tertawa dengan kalimatku yang begitu berlebihan. Tapi sungguh, jika mereka tidak bekerja sama, mungkin aku tidak akan lahir di dunia. Maka dari itu aku sungguh sungguh berterimakasih kepada mereka. Dan tentunya Tuhan yang telah memberikan nyawa di dalam tubuh seorang gadis labil sepertiku.

“Jadi, malam ini kau akan bertemu dengan calon suamimu.” kalimat itu terlontar dari bibir ayahku. Dalam hati aku sedikit kesal dengan kata-katanya. Namun, sebisa mungkin aku bersikap seolah menerima dengan hati keputusan ini.

“Ne Appa.” Jawabku singkat.

“Appa dan Eomma yakin, habis ini kau akan bahagia dengannya.” Lagi—ayahku melontarkan kata-katanya. Kali ini dengan rasa antusias. Aku jadi penasaran dengan alasan kenapa ayahku sebegini antusiasnya.

“Ne… bersikap baik nanti didepan calon mertua dan suamimu.” Ibuku membuka suaranya. Aku mengangguk sembari menguntai senyuman tipis dan termanis begitu mendengarnya.

Selanjutnya, mereka memberikan kata-katanya kepadaku. Entahlah—mungkin sebuah kata-kata untuk nasehat, atau usulan, atau tips, atau apalah barangkali. Aku benar-benar tidak mendengarkan ucapan mereka. Yang aku lakukan hanyalah mengangguk dan mengeluarkan deheman seolah menyetujuinya semacam “Hmmm…” dan “Ooh…” kadang “Yaa…” atau “Neeee…”.

Mereka sepertinya terlalu menghayatinya hingga mungkin tidak menyadari aku yang sebenarnya mengacuhkannya. Karena sekarang yang ada di otakku adalah ‘keraguan’. Ya—aku ragu. Bagaimana mereka bisa mengatakan “kau akan bahagia menikah dengannya.” Sementara aku sendiri tidak tahu siapa dia? Bertemu saja tidak pernah apalagi kenal. Apalagi sekarang—yang ada di dalam hatiku hanyalah Lee Taemin. Ini aneh memang—tapi aku juga tidak mengerti. Kami saja sudah tidak bertemu selama kira-kira 7 tahun. Tapi dirinya di hatiku tetap menduduki urutan atas setelah ayahku—selama 9 tahun. Memori tentangnya masih terputar begitu jelas selama 7 tahun ini. Entah itu saat aku sedang melamun tidak ada kerjaan, dia akan muncul dalam pikiranku. Saat aku sedang sedih dan unmood, dia seolah sebagai moodboosterku dan membuatku kembali ceria dan moodku menjadi baik. Saat aku sedang tidur, dia muncul dalam mimpiku. Dirinya selalu mengusik dimanapun aku dan kapanpun itu. Walaupun kami sudah tidak bertemu cukup lama.

***

Ya Tuhan—kenapa pukul 7 begitu cepat? Matta—aku tidak siap dengan ini. Kini aku sedang duduk di sisi pinggir kasur. Beberapa menit lalu aku sempat mengintip dari celah kunci pintu. Dan bisa kulihat sedikit, semua anggota keluarga yang sedang mondar-mandir kesana kemari dengan memakai pakaian mereka. Sedangkan aku? Sampai sekarang masih gugup sendiri. Dengan masih menggunakan t-shirt dan celana pendek hitamku.

Aku merengek di kamar. “Aku tidak siap dengan ini.”

BUK

Suara pintu yang dibanting membentur dinding kamarku sukses berat membuatku terlonjak kaget dan melayangkan pandangan kearah pintu. Junhee. Adik perempuanku.

“Aish kau ini. Kenapa dari kecil kebiasaanmu membanting pintu tidak berubah?!” omelku pada Junhee.

“Unnie-ya, kau ini! Ganti bajumu! Kenapa kau masih santai?” Junhee malah membalas omelanku dengan perintahnya. Sialan—selalu saja.

“Aku malas Junhee-ya.” Celetukku kemudian membaringkan tubuhku di kasur empuk milikku. Sedetik setelah itu, aku merasakan sesuatu menarik tubuhku. Memaksaku beringsut dari ranjang. Siapa lagi kalau bukan Junhee?

“Unnie—“

“Junhee-ya—“

***

Yah—pada akhirnya aku pasrah dengan segala paksaan, rayuan dan bujukan dari adikku tercinta, Junhee. Ditambah tadi omelan dari adik laki-lakiku, Junhong dan Eommaku.

“Eomma…” bisikku tepat di telingan Eommaku.

“Wae?”

“Boleh aku keluar sebentar?” begitu aku bertanya demikian, Eommaku menatapku. Tatapannya seolah berkata apa-kau-mencoba-kabur-? Lekas aku menggeleng. “Ani, aku hanya bosan disini. Setidaknya berjalan-jalan di sekitar rumah bisa membuat bosanku pergi.”

Bingo! Eommaku mengangguk.

Sedari sepuluh menit lalu sejak aku pergi meninggalkan ruang tamu milik keluarga ini, kepalaku sibuk menolah-noleh melihat banyaknya buah-buahan dan tanaman yang menghiasi taman milik keluarga ini. Kebanyakan didominasi dengan semangka dan mangga. Aku mulai bertanya-tanya, apakah keluarga ini berkebun?

Pastilah iya. Eh—tunggu dulu. Semangka? Aku jadi ingat dengan Lee Taemin. Lagi. Taemin, kenapa kau terus muncul dipikiranku? Dulu aku tahu, saat masih berpacaran, Taemin selalu membawa semangka di sekolah. Untuk dimakan dengan teman-temannya. Juga yang aku tahu, Taemin memiliki banyak buah semangka di tamannya. Aku jadi membayangkan, bagaimana jika yang akan dijodohkan denganku adalah Taemin? Aish—tidak mungkin. Taemin pasti sudah bahagia dengan Jiyeon. Atau mungkin dengan gadis lain. Tapi kalau memang iya, aku yakin pasti Taemin akan menolak mentah-mentah perjodohan ini begitu mengingat apa saja yang telah aku lakukan padanya dulu.

Aku merengut. Dalam hati aku menyesali semuanya. “Aku bodoh ya?” tanyaku, tak ayal pada diriku sendiri.

“Taemin—ah!” rengekku dengan suara keras. Kutujukan untuk seorang Lee Taemin. Kekasihku saat itu.

“Waeyo Jinri—ah?” balas Taemin yang kini berjalan mendekatiku yang sedang kesusahan menyulam.

Aku menyodorkan hasil sulamanku padanya. “Aku tidak bisa menyulam.”

Taemin terkekeh kemudian mengambil kursi dan menariknya disampingku. “Perempuan harusnya bisa menyulam atau paling tidak menjahit. Bagaimana nanti kalau sudah menikah kau bisa memjahit bajuku?”

Pertanyaannya lantas membuatku mengernyitkan dahi. Mencerna lebih dalam kalimat introgatifnya yang diutarakan padaku. Walau sebenarnya aku tahu point dari pertanyaan itu. “Ya—kita masih kecil. Kita masih di kelas 8. Kau sudah memikirkan menikah? Apa sudah yakin kita akan menikah nanti?”

“Ya—kenapa kau bilang begitu? Aku ingin hubungan kita bisa awet nanti. Kau tahu, aku ingin kita menikah nanti.”

Aku mencubit hidung mancungnya keras. Membuatnya mengaduh kesakitan dan memohonku untuk melepas cubitanku. “Aw—sakit ya!”

“Ya—kita masih kecil Taemin-ah. Kenapa kau sudah berpikir seperti itu?”

“Wae? Aku ingin hubungan kita forever. Kau tidak mau?”

“Err—apa kau diracuni oleh kata-kata teman-temanmu itu? Aish—mereka terlalu kekanak-kanakan. Kenapa kau meniru mereka? Forever, selamanya, sampai mati. Aish.”

“Jadi maksudmu tidak boleh?”

Namja ini, kenapa selalu membuatku berpikir lebih matang untuk menjawab pertanyaannya. “Taemin-ah. Kau tahu, aku tertawa saat membaca twit teman kita. Entah itu ‘saranghae yeongwonhi’ atau sejenisnya. Aku selalu menganggapnya lucu. Karena apa? Kita masih kecil. Kita belum tahu apa yang akan terjadi nanti—“

Cepat-cepat Taemin memotong ucapanku, “Jadi kau maksud, kita akan putus suatu hari nanti?”

Aku memasang wajah datar. “Aniyo—maksudku—“ benar,kan? Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya yang terlalu bertubi-tubi itu.

Tangan Taemin bergerak mendekati tanganku. Mengelusnya lembut. Membuat otakku memerintah saraf-saraf membuatku menolehkan kepala menatapnya. “Err—aku tahu. Kita memang masih kecil. Jinri-ah, aku sangat menyayangimu.” Kata itu membuatku tersenyum bahagia. “Aku tahu kebanyakan pasangan di usia kita ini akan putus nantinya. Tapi aku mau, jika suatu saat kita putus, dan melewati jalan sendiri, kita akan bertemu lagi, kemudian menikah, dan hidup lagi bersama.” Oh God—he said that words  antusiasly. This much big his conviction about our future? Marrying me? Sudah—aku lelah jika harus menjabarkan semuanya tentang persepsiku. Sementara namja itu tersenyum geli sambil menatapku, aku hanya membalasnya dengan anggukan lemah. Aku harap begitu.

“Bohong.” Aku berceletuk begitu selesai memutar kembali memoriku dengannya. Baru kusadari aku tengah meremas kuat jari-jari tanganku sendiri. Saking jengkelnya mungkin. “AISH—LEE TAEMIN KAU BERBOHONG!!” pekikku.

“Aku tidak pernah berbohong.” Tersentak. Ya—aku tersentak. Ada orang lain selain aku disini? Oh—suaranya aku rasa familiar. Tapi mana mungkin?

Aku membalikkan badan. My jaw dropping. It’s impossible. Aku kaget bukan main. Didepanku. Seorang laki-laki, tampan, tinggi dan satu hal yang tidak berubah sejak tujuh tahun lalu, ekspresinya. Kelu lidahku untuk sekedar memanggilnya gunaku untuk memyakinkan apa yang sedang aku lihat.

“Jinri-ah, aku tidak berbohong.” Suaranya masih sama seperti dulu. Hanya saja lebih berat. Lagi—aku tidak membalas atau menimpalinya. Masih kelu dan tercekat.

“Aku benar membuktikan ucapanku tujuh tahun lalu kan? Jika kita putus, dan melewati jalan sendiri, kita akan bertemu lagi.” Ucapannya berhasil menohok hatiku. “Kemudian menikah.” Jantungku berpacu lebih cepat. Makin kelu dan tercekat juga bergemuruh didalam tubuhku. Tak tahu itu apa. Yang jelas, aku terkejut.

“M-mwo?” dan kudapati diriku bersuara.

END

Hahaha /smirk/ akhirnya selesai juga. Otte? Bagaimana? How? Kepiye? (?). Endingnya aneh ya? Sengaja sih aku bikin kaya gini, soalnya aku niat bikin before story sama after story cerita ini. Sama kaya yang aku bilang di author note, cerita ini (dari awal sampai lulus SMP) itu bener-bener kejadian nyata. Dan kejadian itu yang aku alamin. Ya, walau bukan semua yang aku alami aku tuangin disini. Karena aku masih memilah-milah adegan yang aku rasa bikin cerita ini bagus. Juga terlalu panjang kalau semua kejadianku aku tulis disini. Niatku kan bikin oneshot. Sedikit curhat, boleh kan? FF ini ceritanya tentang patah hati aku, pas aku lihat mantan aku sendiri nembak sahabat aku. Kretek ya? Apalagi aku baru aja nyadar kalo aku masih sayang sama mantan aku itu T__T. Walaupun kadang aku pengen banget nonjok atau nendang pantatnya, dia yang selalu ngumbar kemesraannya sama sahabat aku itu, didepan aku! Sakit. Tapi aku tahu, akar dari masalah ini ya karena aku sendiri. Juga karena faktor masalah yang muncul beberapa minggu setelah aku putus sama dia :( Sedangkan scene setelah lulus SMP itu, itu murni karangan aku sendiri. :( lebih tepat, FF ini semacam kenangan buat aku juga imajinasi belaka yang gak mungkin bisa terjadi huweee T___T

24 thoughts on “Rare Plot (Taemin-Sulli Version)

  1. oh God! T.T unyu sekaliii (?) konflik batin yang digunain dalam FF ngena banget. Hebat hebat *two thumbs* kadang yang paling susah (menurutku ya) itu penggambaran situasi dalam suatu adegan dan….ini bagus banget! aku suka gimana chingu jelasin emosi yang ada. Sip lah ^^ good job ne? Keep writing! n_n

  2. authooor ><
    errgh fictnya cukup menguras emosi (?) konfliknya banyaak, but, yes, it's daebak fict!

    dan bersyukur endingnya bikin saya senyum senyum sendiri bayanginnya. how could that sweet? ah, sweet pokonya endingnya~

    dan errgh kejadian taemin nembak jiyeon dan kejadian-kejadian setelah mereka punya hubungan, sukses sakit hatinya ya/?

    and waktu Jinri mengingat-ingat masa SMPnya, hahhaha makin me remember high school moment~
    abis grad jadi gini banget eh aku /apadeh ini/

    sekian xD
    hahahaha keren fictnya

  3. annyeong new reader here^^ keyni imnida,
    ffnya ngena banget, apalagi pas sulli ngerasain cemburu waktu taemin jadian sm ji yeon,
    aku bisa ngrasain itu *jadi inget masa lalu juga hiks #lupakan
    ffnya keren gaya bahsanya ngena banget. ini ada lanjutnyakah min? end’a kurang nih..
    karna aku reader baru disini boleh keliling2 kan.. hehe
    good job !

  4. Wuaaaaa mau teriak.
    Taelli~ ya ampun, taemin disini gentle (?) abis . >,<
    Bikin sequel nya donggggs . huhu. Udah lama banget nih ngga baca taelli.
    Dimana-mana Minsul T_T

  5. So sweeeeeeeeet ceritanya bagus banget sediiiiih top banget authornya menggambarkan sosok taemin disini (kebetulan taemin itu biasku) hahahaha

  6. Weew~ aku suka nihh ff kamu, bahasanya mudah dibaca ringan gitu, alurnya juga ga tibatiba gitu… hehe, ih pasti sebel yaa kalo ngeliat dia sama si dia itu barengan mulu edeeehh… tapi inilah hidup gitukan wkwk.. love your ff, keep writing yaa ^v^9 mangaat~~

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s