Do Man Cry? [Chapter 7]

Do Man Cry

Tittle        : Do Man Cry?

Author    : Mayha Kang

Main Cast :
Choi Sulli f(x)
Oh Sehun (EXO-K)

Support Cast :
Jung Jessica (SNSD)
Hwang Miyoung/Tiffany (SNSD)
Park Chanyeol (EXO-K)
and others

Length    : Chapter

Genre      : Sad, Angst

Inspirated by Davichi’s Song “Do Man Cry”

Happy Reading!

“Apakah laki-laki juga menangis?”

“Apakah mereka juga merasa sakit ketika mereka putus cinta?”

“Apakah mereka menangis ketika mereka sangat merindukan seseorang?”

>>> Do Man Cry? <<<

Alunan musik jazz mengalun indah dari sebuah cafe di seberang jalan. Tampak Sehun bersama Jessica duduk di salah satu kursi dekat jendela. Jessica tengah menyeruput cappuccino miliknya ketika Sehun memulai pembicaraan.

“Noona, aku tidak mau kembali ke rumah sakit lagi.” gumam Sehun.

Jessica tertegun, “Waeyo?” tanyanya sambil meletakkan cangkir cappuccinonya di atas meja.

“Aku baik-baik saja, aku sudah sehat. Aku tidak butuh rumah sakit itu lagi.” kata Sehun.

“Tapi Sehun, kau itu belum sembuh total.”

Sehun mendesah, akhir-akhir ini dia memang menjadi lebih sensitif dan mudah marah, namun ia tak ingin berdebat dengan Jessica, “Aku tau, tapi untuk sementara aku tidak mau kembali ke sana. Aku harap noona bisa mengerti.”

Setelah merasa puas mengutarakan keinginannya pada Jessica, Sehun bergegas keluar dari cafe itu. Jessica tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya menatap sendu pada Sehun yang berjalan meninggalkannya. Dia mengerti dengan perasaan Sehun. Terbaring di kamar rawat memang tidak ada bedanya dengan mendekam di sel tahanan, belum lagi segala macam suntikan dan obat yang masuk ke dalam tubuhnya. Jika dia menjadi Sehun, dia juga pasti akan merasa jenuh. Tetapi, dia juga khawatir penyakit Sehun akan bertambah parah jika tidak menjalani perawatan di rumah sakit.

****

Bel baru saja berbunyi pertanda jam sekolah telah usai. Kebisingan mulai terdengar di sepanjang koridor sekolah, derap langkah kaki para siswa yang bergegas pulang pun turut memecah keheningan. Sulli berjalan keluar sekolah tanpa sedikit pun semangat yang menyertainya. Rupanya ia tidak tahu jika Minho, mantan kekasih yang baru saja putus dengannya sejak tadi menunggunya di depan gerbang sekolah.

“Sulli!” panggil Minho.

Sulli menatap keheranan pada Minho yang berjalan mendekatinya, “Minho oppa, apa yang kau lakukan di sini?”

Bukannya menjawab pertanyaan Sulli, Minho malah mendaratkan sebuah pelukan padanya. Saking bingungnya, dia hanya terdiam kaku dipelukan Minho. Tiba-tiba Sulli membelalakkan matanya. Dia melihat Sehun berdiri pada jarak yang tidak begitu jauh dari mereka. Sehun hanya menatap sekilas padanya kemudian berlalu pergi. Sulli tidak tinggal diam, ia hendak menyusul Sehun. Dia pun berusaha menepis pelukan Minho, namun sulit karena Minho memeluknya sangat erat.

“Sulli’ah sejak putus denganmu aku terus-menerus memikirkanmu dan itu membuatku sadar kalau aku sangat mencintaimu. Tidak apa-apa jika kau hanya ingin mempermainkanku, tapi aku akan membuatmu cinta padaku, jadi ku mohon tetaplah menjadi yeojachinguku.” tutur Minho.

Dengan susah payah akhirnya Sulli bisa melepaskan pelukan Minho, “Mianhaeyo oppa, jeongmal mianhaeyo, aku bukanlah yeoja yang pantas untukmu. Lupakan aku!”

Sulli bergegas pergi menyusul Sehun, tetapi Minho langsung mencegatnya. Dia menarik lembut pergelangan tangan Sulli.

“Jebalyo Sulli, nan jeongmal saranghae.” gumam Minho.

“Mianhaeyo oppa.” Sulli menepis tangan Minho dan berlari meninggalkannya.

Minho terus menatap punggung Sulli, “Sulli’ah, kau hanya akan menjadi milikku.” gumamnya pelan.

Sulli tidak memedulikan Minho dan terus berlari mengejar Sehun. Untungnya dia tidak kehilangan jejaknya.

“Sehun jamkanman!” pekiknya.

Mendengar pekikan Sulli, Sehun menghentikan langkahnya. Tidak ingin membuang waktu, Sulli segera berlari menghampirinya.

“Sehun’ah, aku sudah tidak ada hubungan dengan Minho oppa. Kau jangan salah paham, tadi itu-“

“Cih! Yaa Sulli, dengan siapapun kau berhubungan aku tidak peduli. Itu bukan urusanku, jadi kau tidak perlu menjelaskannya padaku.” potong Sehun.

Sulli terdiam, tidak ada kata yang dapat terlontar darinya. Memang tidak ada alasan bagi Sehun untuk mendengar penjelasannya, hubungan mereka telah lama berakhir.

“Mi…mianhaeyo.” kata Sulli.

Sehun hanya tersenyum miris pada Sulli, kemudian berjalan meninggalkannya seorang diri. Butiran air mulai menggenangi mata Sulli, hatinya terlampau sakit menyaksikan Sehun yang benar-benar tidak peduli lagi padanya.

Drrrtt…drrrtt…drrrtt….

Ponsel Sulli tiba-tiba berdering. Dia segera mengambilnya dari saku bajunya. Ditatapnya layar ponselnya yang masih berdering, sebuah nomor baru tertara di dalamnya. Entah siapa yang menelponnya.

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo, apa ini Sulli?”

“Ne, Sulli imnida. Nuguseyo?”

“Ini aku, Jessica. Apa kau bisa menemuiku di cafe Mocca Fun Fun sekarang”

“Ah, ne, aku akan segera ke sana.”

“Baiklah, aku tunggu. Gomapta Sulli’ah.”

“Ne, cheonmaneyo.”

Setelah mendapat telpon yang ternyata dari Jessica, Sulli pun segera menuju cafe yang dimaksud. Kebetulan cafe itu terletak tidak jauh dari sekolahnya. Dia hanya membutuhkan beberapa menit untuk berjalan kaki ke sana.

****

Sulli memandang Jessica yang duduk dihadapannya. Jessica telah memesankan secangkir cappuccino untuknya. Jika diamati Jessica memang terlihat sangat manis dan dewasa, tidak heran jika Sehun sangat mencintainya. Sulli sungguh merasa iri padanya.

“Mianhae Sulli, aku tiba-tiba menyuruhmu datang ke sini.” kata Jessica.

“Gwaenchana eonnie, nado mianhae karena pernah bersikap kasar padamu.” balas Sulli.

Jessica tersenyum ramah, “Gwaenchana, aku bisa mengerti kenapa kau bersikap seperti itu. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika ada orang yang mencoba merebut orang yang ku cintai.”

“Aniyo eonnie, kau tidak merebut Sehun dariku. Sehun sudah memilih yang terbaik untuknya, yaitu eonnie.” kata Sulli berusaha tetap tegar dihadapan Jessica.

Jessica terdiam sejenak, dia merasa cukup bersalah pada Sulli, “Aniyo, kau salah. Sehun tak pernah sekalipun memilihku, di hatinya hanya ada kau dan tidak ada yang bisa menggantikanmu.”

Jessica pun mulai menjelaskan pada Sulli bahwa sebenarnya Sehun tidak pernah melupakan apalagi membuangnya. Yang dicintai Sehun hanyalah Sulli seorang, tetapi dia selalu menahan dan menyembunyikan perasaannya karena tidak ingin melihat Sulli sedih melihat keadaannya. Awalnya Jessica tidak ingin memberitahukan Sulli tanpa persetujuan Sehun, tetapi jika semakin dibiarkan maka itu hanya akan menyiksa mereka. Nampaknya Sehun juga sudah mulai menyerah melawan penyakitnya. Jessica yakin satu-satunya orang yang bisa membuat Sehun kembali bersemangat adalah Sulli.

“Jadi ku mohon padamu agar tidak menyerah pada Sehun. Tetaplah di sisi Sehun dan buat dia luluh pada perasaannya.” kata Jessica.

Sulli terdiam mendengar semua penjelasan Jessica, hanya air mata yang terus-menerus keluar dari sepasang matanya.

“Aku tau kau pasti merasa sangat sakit mendengar berbagai perkataan kasar dari Sehun, tapi percayalah semua itu bohong. Apa yang dikatakan Sehun berbeda dengan hatinya.” tutur Jessica.

“Aku benar-benar yeoja yang sangat egois, aku bahkan selalu berpikir untuk menyerah tanpa memikirkan sakit yang diderita Sehun.” isak Sulli.

“Aniyo Sulli’ah, aku malah kagum padamu, kau sungguh yeoja yang tegar,” kata Jessica, “Mungkin yang ku katakan  ini cukup egois, tapi tetaplah di sisi Sehun meski dia selalu bersikap kasar padamu. Jangan biarkan dia menyerah melawan penyakitnya!”

Sulli mengangguk sembari tersenyum, “Ne eonnie, aku janji akan terus di sisi Sehun. Mulai sekarang aku tidak akan peduli dengan sikapnya yang kasar, aku tidak akan menyerah.”

Jessica tersenyum lega melihat semangat Sulli. Cinta Sulli untuk Sehun belum padam, begitu pun sebaliknya. Mereka masih memikili setumpuk harapan untuk kembali bersama.

****

Kicauan burung-burung menemani Sulli menelurusi lorong-lorong kecil yang masih nampak sepi. Jam tangan biru muda yang melingkar di tangannya baru menunjukkan pukul enam pagi. Kedua tangannya memeluk sebuah tupperware manis berisi berbagai macam makanan lezat dan bergizi buatannya sendiri. Dia memang suka meluangkan waktu luangnya untuk mencoba berbagai resep makanan bersama kakaknya di rumah.

Sulli terus berjalan dengan senyum yang terpancar dari wajah cantiknya, sambil sesekali bersenandung kecil. Dia sengaja berangkat lebih pagi karena hendak melakukan suatu hal yang menyenangkan, dan tentunya hal itu melibatkan Sehun.

Sebuah rumah yang cukup besar dengan pagar putih yang dipadukan dengan pagar tanaman yang mengelilinginya. Hamparan taman hijau membentang luas di halaman, menambah keasrian rumah itu. Sulli melangkah masuk ke halaman rumah itu dan melihat sosok wanita paruh baya sedang menyirami beberapa pot bunga besar.

“Eomoni, annyeonghaseyo!” sapa Sulli ramah.

“Eoh Sulli’ah, annyeong!” balas wanita itu yang tidak adalah lain adalah ibunda Sehun, “Kamu pasti mau menemui Sehun? Tapi, sepertinya dia masih tidur.”

Sulli senang karena ibu Sehun masih menganggapnya sebagai kekasih anaknya. Meski hubungan mereka telah kandas, namun ibunya masih memperlakukannya sama seperti dulu sewaktu mereka masih berpacaran.

“Eomoni, bolehkah aku membangunkannya?” tanya Sulli malu-malu.

Ibu Sehun memegang pipi Sulli, “Aigoo kiyowo! Sulli’ah, kau sangat manis, aku sangat menyukaimu. Hhmm…Sehun terlalu bodoh memutuskan yeoja sepertimu.”

“Aniyo eomoni,” balas Sulli, “Eomoni eotte? Apa aku boleh membangunkannya?”

“Tentu saja boleh.” kata ibu Sehun.

“Gamsahamnida eomoni.”

Ibu Sehun mengelus lembut kepala Sulli. Sulli beberapa kali membungkuk di hadapannya kemudian bergegas menuju kamar Sehun.

Sulli kini telah berdiri tepat di depan kamar Sehun. Dia memutar knop pintu kamar itu pelan-pelan. Tidak sulit baginya untuk masuk ke dalam kamar Sehun, karena Sehun memiliki kebiasaan tidak mengunci kamarnya ketika tidur. Sulli mengendap-endap masuk seperti seorang pencuri yang takut ketahuan oleh sang pemilik rumah. Dilihatnya Sehun yang tertidur pulas di atas ranjangnya. Dia berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya.

Wajah Sehun memang terlihat sedikit pucat, tetapi tidak menghapus sedikit pun ketampanannya. Bagi Sulli dia masih sangat tampan, sama seperti pertama kali bertemu. Sulli mengelus lembut rambut Sehun lalu mengecup keningnya penuh kasih sayang.

Sehun mulai merasakan keberadaan seseorang di dekatnya. Dia membuka matanya perlahan dan mencoba menerawang siapa yang duduk di ranjangnya. Matanya langsung membelalak ketika melihat sosok Sulli tersenyum manis ke arahnya. Dia terbangun dan segera menjauh darinya.

“Yaa, apa yang kau lakukan di kamarku?” pekiknya.

Sulli dengan penuh semangat memperlihatkan bekal makanan yang dibawanya, “Sehun’ah kajja, hari ini aku sengaja bolos sekolah karena ingin piknik bersamamu.”

“Mwo! Yaa geumanhae, harus ku bilang berapa kali padamu, berhenti menemuiku!” erang Sehun.

Sulli sudah menduga Sehun tidak akan senang dengan kedatangannya. Oleh karena itu, dia telah menyiapkan hatinya, tidak peduli sebanyak apapun makian Sehun dia tidak akan menyerah. Sehun mendengus kesal melihat Sulli yang sama sekali tidak bergerak dari ranjangnya. Dia pun bergegas pergi meninggalkannya, tetapi ada apa dengan pintu kamarnya? Berkali-kali ia memutar knopnya tetap saja tidak terbuka.

“Sehun’ah igeoyoo…” seru Sulli seraya memperlihatkan evil-smile miliknya. Dia menggantungkan kunci pintu kamar Sehun di jari telunjuknya dan menggerak-gerakkannya ke kiri ke kanan.

“Yaa! Aku tidak mau main-main denganmu, lagian kau siapaku, lancang sekali masuk ke kamarku!” bentak Sehun yang mulai naik pitam.

“Aku? Aku mantan yeojachingu sekaligus orang yang mencintaimu!” tegas Sulli, rupanya dia sudah tidak mempan dengan ucapan Sehun yang terbilang kasar.

Sehun tertegun menyaksikan perubahan sikap Sulli, biasanya dia akan menyerah dan menangis saat dibentak olehnya. Kenapa dia tiba-tiba menjadi sangat keras kepala? Mengapa dia masih saja mengharapkan cinta darinya?

“Aku hanya ingin piknik denganmu, kau jahat sekali!” gerutu Sulli, “Ya sudah, kalau kau tidak mau pergi denganku aku juga tidak mau keluar dari sini.”

“Yaa, berikan kuncinya padaku!” pekik Sehun.

“Shireo!”

Sehun mulai kesal dengan sikap Sulli. Dia segera mengampirinya untuk merebut kunci kamarnya kembali, tetapi Sulli malah menghindar. Mereka akhirnya saling kejar di sekitar ranjang. Saat Sehun berhasil meraih tangan Sulli, kakinya tersandung dan jatuh menimpa Sulli di atas ranjangnya.

Degh…degh…degh…

Pandangan mereka saling bertemu, jarak antara wajah mereka juga sangat dekat. Sulli bahkan sulit menggerakkan tubuhnya yang ditindih tubuh Sehun. Sehun bergegas berdiri, tetapi dia tiba-tiba menjadi kaku. Matanya membelalak lebar, sungguh mengejutkannya. Sulli tiba-tiba mengecup bibirnya sembari memejamkan mata. Meski terkejut, namun tidak bisa dipungkiri dia juga sangat menikmati ciuman manis itu. Ciuman itu memang bukan yang pertama lagi bagi mereka, tetapi baru pertama kalinya Sulli yang memulai duluan. Selama berpacaran Sehunlah yang selalu memulainya duluan.

Sulli membuka matanya dan melihat Sehun yang masih terhanyut dalam kecupan manisnya.

“Eyih…ternyata kau juga menikmatinya.” ejek Sulli.

Sehun tersadar, dia segera menjauh dari Sulli, “Y-y-yaa! Ka…kau yang duluan!”

Sulli tertawa geli. Meski Sehun berdiri membelakanginya, dia tahu saat ini Sehun sedang malu dan tidak berani menatap wajahnya sekalipun. Dia lalu berjalan menghampiri Sehun. Dia langsung melingkarkan tangannya ke lengan Sehun.

“Kajja kita piknik!” rengeknya, dia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Sehun, “Kalau kita pergi piknik, kita bisa melakukan yang lebih dari ciuman tadi.”

“Yaa michosso! Kau pikir aku laki-laki macam apa?” erang Sehun.

Sulli kembali tertawa geli. Dia tahu Sehun bukanlah laki-laki seperti itu. Sehun sangat menghargai Sulli. Dia tidak akan mengizinkan dirinya sendiri melakukan hal lebih pada Sulli, cukup sebatas ciuman saja. Kecuali jika Sulli telah menjadi miliknya sepenuhnya, tetapi hal semacam itu tidak akan pernah terjadi mengingat umurnya yang tidak lama lagi.

“Sehun’ah kajja kita piknik, jebalyo!” rengek Sulli.

Sehun terdiam sejenak, “Ba…baiklah, kalau begitu tunggu di luar, aku mandi dulu.”

Sulli sangat senang dan bahagia. Dia sudah menahan dirinya dari makian dan erangan Sehun. Dia bahkan bertindak lebih agresif, padahal itu bukanlah sifatnya. Namun, semua usahanya itu membuahkan hasil, dia berhasil meluluhkan hati orang yang sangat ia cintai. Dia juga akan berusaha lebih keras lagi agar Sehun kembali mencintai dan menyayanginya seperti dulu.

****

Hamparan laut biru mengilau diterpa sinar sang mentari. Ombak kecil menggulung bibir pantai. Pohon-pohon bergoyang dihembus angin sejuk siang itu. Tempat itulah yang menjadi pilihan Sulli untuk piknik bersama Sehun. Mereka duduk dibawah pohon rindang dengan beralaskan tikar sederhana.

Sulli mendesah pelan. Sejak tiba di pantai Sehun terus menutup rapat bibirnya. Dia bahkan duduk di ujung tikar, seakan sengaja menjauh dari Sulli. Suasana menjadi sangat kaku dan hening. Sulli sangat merasa kesal, namun dia berusaha untuk meredamnya. Dia membuka tupperware-nya dan menyodorkan pada Sehun.

“Makanlah ini! Gara-gara aku paksa ke sini kau jadi tidak sempat sarapan. Aku sengaja membuatkannya untukmu.” ujarnya.

“Makan saja sendiri, aku tidak lapar. Lagian aku tidak menyuruhmu membuatkan untukku.” kata Sehun sinis.

Sulli menarik napas kesal, sepertinya dia memang harus bersikap lebih tegas menghadapi Sehun. Dia memicingkan pandangannya pada Sehun yang tatkala itu sedang memandang lautan. Dengan sigap dia mendekatinya. Tangannya langsung memegang wajah Sehun agar beralih menatapnya. Sehun terkejut, matanya mengedip-ngedip menatap Sulli.

“Geurae, kalau tidak mau makan aku akan menciummu.” kata Sulli sembil tersenyum nakal.

Sehun membelalakkan mata dan segera menjauh dari Sulli, “Neo michosso! Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?”

“Kau sendiri yang membuatku seperti ini. Makanya kau harus makan masakanku. Aku sudah susah payah menyiapkannya umtukmu.” gerutu Sulli.

Sehun merasa tidak enak hati mendengar ucapan Sulli yang terakhir. Dia seharusnya lebih menghargai usaha Sulli yang telah membuatkannya makanan.

“Arraseo, arraseo, akan ku makan.” ucapnya sambil meraih tupperware di sampingnya.

Sulli sangat senang menyaksikan Sehun mencicipi masakan buatannya. Dia memakannya dengan lahap.

“Sehun’ah, aaaaaaa…” kata Sulli membuka mulutnya.

“Mwo?” tanya Sehun bingung.

“Aku juga lapar, suap aku!” jawab Sulli manja sambil menarik-narik lengan baju Sehun.

Tingkah manis Sulli membuat Sehun tersipu malu. Dia memang bukanlah orang yang ahli dalam bersikap romantis.

“Sehun’ah palli!” rengek Sulli kembali membuka mulutnya.

Sesendok nasi goreng lezat pun mendarat ke dalam rongga mulut Sulli. Dia sangat bahagia Sehun kembali memperlakukannya hangat. Dia akan terus berusaha agar Sehun mau membuka hatinya kembali. Membiarkan cinta mereka terus berlabuh hingga ke pelabuhan takdir mereka. Tidak peduli pada apa yang akan terjadi esok, baginya waktu yang diberikannya bersama Sehun hingga saat ini adalah hal yang begitu berarti.

****

Siang telah berganti dengan malam. Matahari telah berganti dengan bulan. Udara sejuk telah pergi digantikan oleh udara malam yang cukup dingin. Sehun dan Sulli telah menghabiskan waktu mereka sehari penuh. Keduanya terlarut dalam rasa bahagia hingga lupa akan kepahitan yang telah menerpa mereka di hari-hari kemarin. Mereka bagaikan telah berhasil melewati badai yang memporak-porandakan mereka di tengah lautan kelam.

Cahaya audi putih Sehun menerangi jalan-jalan sunyi. Dia tampak konsentrasi mengemudikan mobilnya sambil sesekali melirik Sulli yang terlelap di sampingnya. Dirinya tersadar, setinggi apapun dia membangun dinding pemisah, tetapi gadis itu tetap berhasil merobohkannya. Hatinya telah mengusai dirinya agar kembali merajut kasih bersama Sulli. Dia telah menyerahkan segalanya kepada takdir. Biarlah takdir yang menuntukan akhir kisah cinta mereka. Selama ini dia salah, dia telah menyia-nyiakan banyak waktu hanya untuk membuat gadis yang ia cintai menangis.

Pagar putih rumah Sehun telah tampak. Akhirnya mereka sampai juga setelah menghabiskan waktu seharian. Sejam lamanya dia menghabiskan waktu mengendarai mobilnya dalam perjalan pulang dan membuatnya sedikit lelah. Stamina yang dia miliki memang tidak sepadan dengan orang-orang sehat lainnya. Semakin hari dia merasa semakin cepat lelah jika beraktivitas, tetapi tidak masalah karena ada sosok bidadari yang selalu setia di sisinya.

Sulli terbangun dari tidurnya saat menyadari mobil yang ia tumpangi telah berhenti total. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Sehun’ah, apa kita sudah sampai?” tanyanya.

“Eoh, kenapa kau tidak mau aku mengantarmu pulang? Inikan sudah malam, bahaya kalau kau pulang sendirian.” tutur Sehun.

Sebelum terlelap dalam perjalanan, Sulli meminta untuk dibawa ke rumah Sehun saja. Padahal Sehun sudah menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, tetapi dia melarang. Dia tidak ingin Sehun mengemudi sendirian saat sudah mengantanya. Dia paham betul bahwa Sehun pasti sudah lelah.

“Nan gwaenchana, akukan bisa dijemput Chanyeol. Pokoknya aku akan mengantarmu sampai ke tempat tidurmu.” kata Sulli.

Sehun menyentil pelan dahi Sehun, “Berhenti menyusahkan Chanyeol, sahabat macam apa kau ini.”

“Anak itu memang tidak pernah susah, kalau bukan karena aku, dia tidak akan tau bagaimana rasanya susah.” kata Sulli membela diri.

“Kau cerewet sekali.” desah Sehun.

“Tapi kau menyukaiku.” sergah Sulli.

Sehun mengelus pelan pucuk kepala Sulli kemudian merangkulnya memasuki rumahnya. Sulli memang kekasih yang sangat pengertian. Dia cukup bersyukur Sulli tidak meminta diantar pulang karena dia merasa kepalanya benar-benar pening saat itu. Dia berusaha menahannya karena tidak ingin membuat Sulli cemas, tetapi rasa sakit itu benar-benar menyerangnya.

“Bagaimana kalau sekarang aku menghubungi Chanyeol, supaya dia bisa segera menjemputmu.” ujar Sehun.

“Gwaenchana, aku bisa menghubunginya nanti. Aku masih ingin bersamamu di sini.” kata Sulli.

Sehun mendesah pelan, namun desahannya itu bukan kesal karena Sulli, melainkan karena rasa sakit di kepalanya yang tidak mau berhenti menyerangnya. Sakit itu datang pada waktu yang kurang tepat. Dia tidak mau terlihat lemah di depan Sulli.

Sulli melingkarkan tangannya pada lengan Sehun. Mereka kemudian menaiki tangga menuju kamar Sehun yang terletak di lantai dua. Saat sampai di atas Sehun tiba-tiba terdiam kaku. Dia memejamkan matanya sembari mengigit bibirnya menahan sakit.

“Sehun’ah waegeurae?” tanya Sulli panik.

Sehun menghembuskan napas panjang, “Nan gwaenchana, lebih baik kau pulang saja sekarang.”

Darah segar tiba-tiba menetes dari hidung Sehun. Sulli seketika panik dan mengambil tisu dari dalam tasnya. Dia hendak menyumbat hidung Sehun agar darahnya berhenti keluar, tetapi Sehun malah menepis tangannya.

“Nan jeongmal gwaenchana Sulli’ah.” kata Sehun sambil mendongakkan kepalanya ke atas agar darah dari hidungnya berhenti keluar.

Air mata mulai menggenangi mata Sulli. Sehun selalu bersikap tegar di hadapannya, padahal dia sama sekali tidak mengharapkan hal itu. Dia ingin Sehun jujur padanya jika dia merasa sakit atau semacamnya. Dia mulai merasa bersalah pada Sehun karena telah mengajaknya piknik seharian.

“Mianhae Sehun, gara-gara aku kau jadi seperti ini. Jeongmal mianhae.” kata Sulli, tangannya memegang wajah Sehun hendak membersihkan darah di hidung Sehun.

Sehun kembali menepis tangan Sulli dan kali ini cukup kasar hingga Sulli terdorong ke belakang.

“Nan gwaenchana! Aku bisa mengurus diriku sendiri termasuk penyakitku! Kau tidak perlu ikut campur!” erangnya.

Sulli bergeming kaku di tempatnya sambil terisak kecil. Air mata terus berjatuhan dari kelopak matanya. Melihat air mata itu membuat Sehun marah, bukan pada Sulli melainkan pada dirinya sendiri. Inilah yang menjadi alasannya selama ini menjauhi Sulli. Dia tidak mau Sulli menitikkan air mata karena mencemaskan dirinya. Apalagi menyalahkan dirinya atas penyakit Sehun yang tiba-tiba kambuh. Sulli harus bisa menjadi gadis yang kuat dan tak gampang menangis karena cepat atau lambat dia pasti akan meninggalkannya.

“Mi…mianhae, lebih baik kau pulang sekarang.” pinta Sehun, dia langsung masuk ke kamarnya tanpa menunggu balasan Sulli.

Sepasang telinga Sulli hanya mendengar pintu kamar yang dibanting keras oleh Sehun. Dia sangat merasa bersalah pada Sehun. Dia merasa tidak berguna bahkan ketika Sehun kesulitan menghadapi penyakitnya. Dengan langkah lemas di berjalan menghampiri kamar Sehun yang tertutup rapat.

“Jeongmal mianhaeyo Sehun’ah.” ucapnya sambil menyeka air matanya.

“Besok akan ku buatkan sarapan yang lezat, jadi kau istirahatlah, arraseo? Aku akan pulang sekarang. Selamat malam, semoga mimpi yang indah.” tutur Sulli berusaha agar terdengar ceria.

Beberapa menit berlalu namun tidak ada balasan dari Sehun. Suasana menjadi hening. Sulli menghela napas panjang. Dia kemudian melangkahkan kakinya menuruni tangga rumah Sehun.

Sehun hanya tertunduk diam di balik pintu kamarnya.  Dia benar-benar kesal pada dirinya sendiri. Dia kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya, hendak menghubungi Chanyeol agar segera menjemput Sulli.

“Aaaaarrrrgggghhh!!!! Tolong aku!!!!”

To Be Continued . . .

For my lovely readers keep RCL, no bashing and plagiarism! Okay ^_~

>>> Cek klanjutan chapter’y disini!

7 thoughts on “Do Man Cry? [Chapter 7]

    • Hehe, mksih yah chingu ^^ maaf kalo update’y klmaan :(
      mmmm… akn ktahuan d’next chap :D hehe

      Next chap’y udh ada koq chingu, silahkn cek d’wpku yah..
      Mkasih ~

  1. keren thorr.. kenapa ff hunli banyak yg sad ya??? T^T aku berharap banget ini ff gak sad ending. tp kayanya gak mungkin ya karna sehun sakit.

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s