Junior’s Diary -BEFORE STORY of Rare Plot- (Chapter 1) (SeoHun Ver)

Title : Junior’s Diary • Author : Egadorks (@ega_ssi) • Main Casts : Seo Joo Hyun & Oh Sehun • Length : Multichapter • Genre : Romance, School-Life, Friendship, Drama • Rating : T

150th,Junior

Quote : Well, this is about my junior high school’s story

AN : Hai~ aku kembali lagi kan dengan FF Before Story dari ‘Rare Plot’. Seluruh isi yang ada disini merupakan cerita yang pernah aku alami. Tapi untuk menjaga nama dan menyempurnakannya, isinya sedikit aku ubah namun dengan poin yang sama dengan kenyataannya. Sorry for typo, wrong grammar and too ooc, ini untuk kepentingan FF juga.

Thanks to : Temen-temen aku, dia, keluarga dan semua yang terlibat dalam FF ini. Karena tanpa mereka FF ini gak bakal ada. Tanpa mereka konfliknya nggak terbentuk. Kedua, makasih buat Athena (http://exoshidaefanfic.wordpress.com/gallery/request-form/request-to-nathaniathena/) , posternya bagus sekali >.<. Ketiga makasih buat readers setia aku yang kadang-kadang nagih FF ke aku. Baik lewat post, sms, facebook atau twitter. Keempat makasih buat siders, ya walaupun kalian nggak kasih komentar seenggaknya makasih udah bikin statistikanya menunjukan angka yang memuaskan (?) cuma aku berharap kalian bakal bertobat dan mau menjadi warga negara baik dengan mengapresiasikan karya seseorang.

Yep, makasih untuk kalian semua! Oke, give me a C, O, double M, and single E, N, T with !

Happy reading ;)

•••

Well, aku akan mengawalinya dengan perkenalan diriku, gadis lugu dan bodoh yang memiliki kebiasaan mengunci mata pada seseorang. Seorang laki-laki yang ‘tega’ membuatku jatuh cinta, jatuh bertekuk lutut dihadapannya. Tanpa kesengajaan dan tanpa unsur materi yang menghalangi jalanku untuk melangkah.

 

Perkenalkan diriku, Seo Joo Hyun. Gadis lugu, bodoh, aneh dan berlebihan. Sering mempermalukan kakakku dihadapan teman-temannya, mengunci mata fokus pada seseorang, dan tidak memiliki sesuatu yang menonjol selain posisi adik perempuan dari kakakku tercinta—yang merupakan siswi tenar, populer, cantik dan digemari di seluruh kalangan sekolah. Well—Itu saja tidak cukup membuatku bisa setenar kakakku. Tapi toh, aku tidak mencari ketenaran. Apalagi ketenaran yang dimiliki kakakku, yang jujur saja didominasi dari hal yang kurang diperlukan—menurut pendapatku. Dia unggul dalam penampilan, kecantikan, tubuh yang indah, kharisma, pesona dan selera fashionnya yang tinggi. Maksudkukita masih di bangku SMP, jadi kurasa semua itu tidak begitu penting bagi kita—untuk sekarang.

Aku sendiri sangat jauh berbeda dari kakakku. Penampilanku—sederhana, kecantikan—kurasa aku biasa saja, tubuh yang indah—banyak yang mengatakan aku rata dari atas sampai bawah, kharisma—tentu saja aku tidak berkharisma, pesona—well—aku tidak pernah menebarkan pesona, selera fashion—sangat buruk dan itu sudah jelas dari semua model pakaianku yang sudah ketinggalan jaman. Tapi apa peduliku dengan semua itu?

“Unnie…” Rengekku dengan suara pelan kepada kakakku, Miyoung. Yang kini sedang menyantap makanannya. Sayangnya, rengekanku justru dibalas dengan lirikan mata Miyoung Unnie. Lantas saja aku cemberut. Kualihkan pandangan ke arah meja pojok yang terletak jauh dari posisiku saat ini. “Kau menyebalkan.” Sungutku dengan suara pelan agar hanya aku dan Miyoung Unnie yang mendengarnya. Ya—saat itu aku ada di antara kakakku dan teman-temannya.

Selesai menyungut aku langsung beranjak dari tempat dan pergi menuju meja dipojok tadi. Dimana terdapat teman-temanku disana.

“Bersabar Seo Hyun-ya, aku tahu Miyoung Unnie sangat sebal denganmu.” Krystal Jung terkekeh. Aku mengangguk lemas, mengiyakannya.

“Salah apa aku? Aku kan hanya datang dan meminta bantuan padanya.” aku terus merengut membalas kekehan dari Krystal. Lantas saja kubuang jauh-jauh usikanku, dan beralih pada sesuatu yang terhidang di depanku.

Hidangan yang kini tersuguh didepan mataku tampak menggugah selera. Walaupun tidak mahal dan sederhana. Tapi meatballs ini sungguh lezat di mataku. Hendak aku menggarpu gilingan daging berbentuk bola itu, namun sesuatu datang menggagalkanku. Ketika aku mendengar suara lembut namun terkesan berat yang sudah menjadi lagu favoritku selama beberapa bulan ini. Gugup. Itu yang aku rasakan. Apalagi pemiliknya sedang berdiri di sebelahku. Sebelahku!

Ibu, apa rambutku sudah rapi? Aduh—kenapa harus sekarang? Eh—kenapa aku selalu memanggil ibuku padahal ibu sedang tidak ada disini? Bagaimana ini?

Sial! Aku akan mendadak gila lagi. Teman-temanku tampak biasa saja, justru berbanding terbalik denganku yang kini tengah bergelut dengan perasaan hingga mengefek membuatku seolah lupa cara memegang garpu. Kentara sekali dari cara tanganku menggerakan garpu. Terlihat kikuk dan gugup.

“Krystal-ah, guru Song memanggilmu. Ke ruang BP.”

“Apa? Aish-mau apa guru itu? Aku bosan keluar masuk ruangan pengap itu.”

Kulirik yang lain, semuanya tengah menatap Krystal dan si pemilik suara serta pembawa amanat itu bergantian. Sementara diriku sibuk sendiri dengan hati yang tidak bisa kukontrol dengan baik. Bagaimanapun, gadis yang sedang jatuh cinta bila didekatnya ada pangerannya pasti akan salah tingkah. Garis bawahi, mungkin tidak akan seberlebihan sepertiku.

Garpuku jatuh menghantam lantai putih menghasilkan bunyi dentingan tunggal yang lumayan nyaring. Benar kan? Sempat kulirik teman-temanku—mereka tersenyum penuh arti. Kuyakini mereka telah membaca pikiran dan tingkah lakuku. Aku membungkuk dan mencari garpuku yang jatuh. Namun telisikkan mataku berhenti tepat di dekat sepatu milik si pembawa amanat tadi. Batinku, kenapa harus jatuh di dekat sepatunya?

Kuberanikan diri menggapai tangan mengambil garpu yang tergeletak itu. Gemetaran. Setelah aku mengambilnya aku kembali membenarkan posisi. Sama seperti tadi, teman-temanku hanya menatapku penuh arti. Salah tingkahku makin besar berkat mereka. Kuputuskan untuk menarik sebuah gelas plastik berisi susu coklat dingin yang sudah menjadi langgananku selama tiga bulan di cafeteria sekolah ini.

“Uhuk uhuk—” Jiyeon terbatuk-batuk. Aku tahu dia hanya mengalihkan perhatianku dari kesalah tingkahan. Aku makin bingung harus bertingkah bagaimana. Kutatapi mereka satu persatu. Lantas kuberikan mereka sinyal berupa tatapan yang menyiratkan bisakah-kalian-tidak-menatapku-seperti-itu dan berhenti-tersenyum-kepadaku.

Srak

Suara yang barangkali hanya di dengar olehku. Terlalu sibuk diriku memberi mereka sinyal dan mengabaikan sebuah garpu yang aku pegang, hingga tiba-tiba kurasakan sakit yang menusuk salah satu lubang hidungku. Tawa teman-temanku pun meledak.

“Hahaha”

Kumohon, Oh Sehun, pergilah! Kau memberi efek bodoh padaku! Tahu apa yang terjadi? Sedotan yang harusnya masuk ke mulutku salah alamat masuk ke dalam salah satu lubang hidungku.

“Diam!” Rengekku pada mereka. Mataku menatap sekilas Oh Sehun, si pemilik suara dan pembawa amanat itu. Melengos aku begitu menyaksikan sendiri tatapannya padaku. Sakit, itu yang kurasakan. Yang kuterima darinya saat itu adalah tatapan aneh seolah memandangku sebagai gadis bodoh.

Perasaan merasa bodoh, malu, sakit dan sedih saat itu bercampur menjadi satu. Lebih-lebih saat menyadari tatapan dari orang yang aku sukai, terkesan memandangku aneh. Ditambah gelakan tawa dari teman-temanku, sama sekali tidak membantu namun justru makin membuatku semakin bodoh di hadapannya.

 

Tapi siapa tahu, gadis kerpal sepertiku mudah saja putus asa? Seakan keras kepala saat menghadapinya. Tatapan meremehkan, aneh bahkan menusukpun aku terima. Barangkali hanya merasa sedih sesaat namun setelah itu aku bakal kembali seperti semula. Seolah dia tidak pernah melayangkan tatapan-tatapan itu padaku.

Latar tempat di ruang kelas, yeah ini salah satu favoritku yang kebetulan menjadi kebencianku-untuk saat ini-karena latar suasana yang tidak mendukung. Mata pelajaran Fisika! Ini yang aku benci dari seluruh mata pelajaran, disamping Matematika, Elektronika dan semua yang berhubungan dengan angka dan rumus rumit. Ditambah dengan tokoh yang terlibat saat ini. Siapa lagi kalau bukan guru Soo? Dia guru paling killer di sekolahku. Hobbynya memukuli pantat siswa dan siswi dengan penggaris kayu panjang-bagi mereka yang tidak bisa menjawab pertanyaannya bab pelajaran Fisika. Aku sendiri pernah merasakan sensasi ciuman antara pantat dan penggaris mumpuninya itu. Ya- satu dua tiga empat kali. Sebanyak itu. Harusnya lima kali, hanya saja saat kesempatan kelima itu, aku sengaja berbohong pada guru Soo, mengatakan diriku sedang mengalami menstruasi. Haha-alasan paling ampuh agar terhindar dari senjatanya itu.

Huh-saat ini aku tengah sibuk bermain dengan dua buah bolpoin, tiga penghapus yang aku tumpuk, serta sebuah penggaris besi. Malas aku mengerjakan soal yang sama sekali tidak aku mengerti ini. Padahal dari tadi bisa kulihat teman-temanku tenang sedang mengerjakan soal yang diberikan guru Soo. Sewaktu-waktu juga bisa kudengar desahan dan desisan dari classmates yang tidak bisa mengerjakan soalnya-menyerah. Hanya aku sendiri yang ricuh dengan keenam benda di hadapanku saat ini. Bermain jungkat-jungkit. Yah-konyol mungkin tapi apa peduliku?

“Ada yang bersedia mengerjakan soal di papan tulis?” Guru Soo mengeluarkan kalimat introgatifnya-ditujukan untuk seluruh murid sembari mengacungkan sebuah spidol. Langsung saja diriku mengemasi jungkat-jungkit itu dan menyembunyikannya dalam laci meja.

Tak ada yang bergeming. Semoga saja tebakanku saltot alias salah total tentang apa yang akan dilakukan guru Soo kalau saja tidak ada yang bisa mengerjakan soal ruwet di papan tulis.

Mataku menelisik ke arah kanan, dimana posisi Oh Sehun sedang duduk. Berharap semoga namja itu berdiri dan mengerjakan tugas-untuk menyelamatkan kami-lebih tepatnya menyelamatkanku. Eh?

Oh tidak-guru Soo berjalan mendekati meja. Meraih sebuah buku absen dan membacanya.

“Seo-” matilah aku! Di kelas hanya ada dua murid marga Seo disini.

Bunyi geser sebuah kursi membuat setengah kelas menoleh, termasuk diriku. Oh Sehun! Aaa-kau benar-benar menyelamatkanku.

Namja manis itu berjalan menuju ke arah guru Soo. Aku menatap kagum kepadanya. Dalam hati aku sudah bersorak bahagia. Oh Sehun hendak mengerjakan tugasnya! Dia menyelamatkanku dari ciuman penggaris kayu!

Setelah kulihat guru Soo mengangguk, Sehun merotasikan badannya dan berjalan ke arah pintu. Apa? Harusnya dia berjalan ke arah papan tulis!

“Seo Joo Hyun, kedepan. Kau mengerjakan soal ini.” Aku merutuki semuanya. Tebakanku justru bental  alias benar total. Dengan linglung aku beringsut dari duduk dan berjalan letih ke arah papan tulis.

AAAA! OH SEHUN KAU TUKANG PHP!!!

Dan inilah salah satu kenangan paling menggelikan dimana aku yang pada saat itu masih duduk di angkatan junior di SMP. Aku memang dikenal memiliki percaya diri yang tinggi. Hingga aku salah mengartikan tindakan ‘dia’ yang berdiri dari kursi itu pas si guru Fisika mau manggil nama aku. Malu sekali saya -_- Dan apalagi, dia ternyata hanya pamit izin ke belakang mau BAK -_-

To Be Continued

Nah itu chapter pertama! Wkwk gimana? Ancur kah? ._.a aku gabisa bikin fluff masa. Jadinya kaya gini deh. Wkwkwk, komentar jangan lupa ya?

9 thoughts on “Junior’s Diary -BEFORE STORY of Rare Plot- (Chapter 1) (SeoHun Ver)

  1. Just pengen ninggalin jejak onn.. sebenarx blum baca hax nyimpan buat bacaan nanti.. tpi pasti ff’y keren apalagi castx seohun.. ahh my favorit couple.. itu aja fighting..

  2. author-nim, aku suka ide cerita nya ..
    ada beberapa kata yang perlu diperbaiki sih..
    overall it’s nice..
    ditunggu next chap nya

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s