Heal One Another [Part 5]

Summary: Si pemuda adalah seorang playboy kelas kakap, sedangkan si gadis adalah seorang panaroia yang selalu menghindari laki-laki. Ketika mereka berdua terikat dalam suatu pernikahan, dapatkah mereka ‘menyembuhkan’ satu sama lain?

 

Romance/Drama | Choi Minho & Krystal Jung | Chapter

PG-13 rated for safe.

 

The idea came originally from my head, but the characters are belong to their families and God itself.

 

Heal One Another © Park Sooyun

 

 

 

 

Part 5 ― Androphobia

 

Usai kejadian mengerikan itu, Minho segera mengantar Krystal pulang. Ia menelepon Sulli dan menceritakan runtutan kejadian itu, lalu menyuruh adiknya untuk memberitahu pada orangtua mereka. Sementara Minho duduk di kursi pengemudi, Krystal berada di sampingnya. Gadis itu terus menunduk sepanjang perjalanan. Ia tahu bahwa kejadian tadi tidak mudah untuk dilupakan Krystal.

Minho membelokkan mobilnya ke arah kediaman keluarga Jung. Terbayang raut wajah Jung Yunho di pikirannya, penuh dengan emosi. Lalu istrinya, Stephanie, yang menatapnya dengan kecewa. Minho mengepalkan tangannya.

Jikalau nanti ia disalahkan oleh orangtua Krystal, ia tidak keberatan sama sekali. Justru ia merasa pantas mendapatkannya. Kejadian tadi bisa dicegah jika saja ia awas terhadap keadaan dan tetap mengawasi Krystal walaupun saat itu ia tidak berada di dekatnya.

Mobil berhenti di depan rumah keluarga Jung. Krystal buru-buru membuka pintu dan turun. Badannya masih bergetar. Minho menatap punggung gadis itu dengan khawatir, lalu ia berusaha membantu Krystal berjalan. Namun saat ia menggandeng tangan Krystal supaya gadis itu tidak terhuyung, Krystal justru langsung menarik tangannya cepat.

Minho menghela napas. Sepertinya Krystal masih syok dengan kejadian tadi.

Stephanie menyambut kedatangan mereka berdua. Senyum di wajahnya hilang begitu mendengar apa yang telah terjadi pada Krystal. Dia memeluk anaknya dengan erat.

“Kenapa semua itu bisa terjadi?” tanya Stephanie. Krystal telah dibawanya ke kamar. Ia memutuskan untuk membiarkan anaknya sendirian dulu untuk menenangkan diri.

Minho menghela napas lalu menunduk. “Aku juga tidak tahu. Saat itu aku sedang membeli minuman dan Krystal kutinggal sendiri di bangku taman. Ketika aku kembali, dia sudah tidak di sana. Aku mencarinya dan menemukannya hampir―” Dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya. “Semua ini salahku.”

Stephanie berusaha untuk tersenyum. “Jangan salahkan dirimu sendiri, Minho. Kejadian itu murni kecelakaan.”

“Bagaimana keadaan Krystal?”

Pertanyaan itu tidak langsung dijawab  oleh Stephanie. Ia menghela napas. “Krystal masih syok. Aku tidak menyangka kejadian itu akan terulang…”

Alis Minho bertaut. “Apa maksud ahjumma?”

“Ah―bukan apa-apa!” sela Stephanie gugup. Ia keceplosan lagi. “Kurasa kau harus pulang, Minho. Bukannya aku ingin mengusirmu, tapi Krystal akan kuurus dan tidak ada yang bisa kaulakukan di sini.”

“Baiklah,” Minho bangkit dari sofa lalu membungkuk. “Aku permisi dulu, Stephanie ahjumma. Besok aku akan datang lagi ke sini. Sampaikan salamku untuk Yunho ahjussi dan… Krystal. Semoga dia cepat pulih.”

Stephanie mengangguk lalu mengantar pemuda itu keluar. Ia menatap Minho yang masuk ke mobil, menyetirnya keluar dari kediaman keluarga Jung lalu menghilang di belokan. Helaan napas keluar lagi dari mulutnya.

Awalnya Stephanie mengira bahwa perjodohan ini hampir berhasil. Pada pertemuan pertama Krystal memang tidak menunjukkan tanda positif, namun belakangan ini putrinya terlihat mulai menerima Minho. Tentu saja hal itu membuat Stephanie dan suaminya senang. Putri mereka mulai bisa dekat dengan laki-laki. Tapi kejadian mengerikan yang menimpa Krystal hari ini membuat Stephanie marah dan sedih. Kini ia tak tahu bagaimana Krystal akan menghadapi laki-laki. Ia takut putrinya akan kembali dihantui trauma, bahkan trauma itu makin besar.

Jika hal itu yang terjadi, lalu bagaimana dengan fobia Krystal? Apakah fobia itu akan makin sulit untuk disembuhkan?

Semoga jawabannya tidak.

 

***

Perkataan Stephanie masih terngiang di kepala Minho.

“…kejadian itu terulang lagi.”

Bukankah itu berarti Krystal pernah mengalami hal yang sama di masa lalunya? Kini Minho makin penasaran dan mencurigai gadis itu. Apa yang sebenarnya terjadi pada Krystal?

Minho kembali menelusuri jejak memorinya. Ia mengingat-ingat pertemuan pertamanya dengan Krystal. Saat itu Krystal terlihat seperti alergi dan menjauhi laki-laki. Gerak-geriknya terbaca dengan sangat jelas bagi Minho yang memiliki cukup banyak pengalaman dengan perempuan.

Perlahan gadis itu menyesuaikan diri dengannya. Minho bisa melihat bahwa Krystal mulai memperpendek jarak di antara mereka, walaupun gadis itu terlihat seperti masih menahan diri. Bahwa gadis itu masih gugup dan tidak betah berlama-lama bersama dengan laki-laki, apalagi di ruang tertutup.

Kening Minho berkerut. Ia berpikir semakin keras. Jika apa yang dikatakan Stephanie Jung memang benar, berarti Krystal pernah mengalami kejadian serupa di masa lalunya. Kini ia mulai bisa menyambungkan benang-benang misterius di batinnya.

Mungkin Krystal pernah diperlakukan seperti itu, sehingga menimbulkan suatu trauma dalam hatinya. Lalu trauma tersebut membuatnya tidak suka pada laki-laki dan menjauhi mereka.

Minho menepuk dahinya. Ia benar-benar penasaran dan ingin menyelidiki masa lalu Krystal. Teori yang tersusun di otaknya memang hampir sesuai dengan fakta yang terjadi. Tapi ia berharap bahwa teorinya salah. Jika teori itu benar, maka akan buruk sekali.

Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya nanti.

 

***

Angin sejuk bertiup dari luar jendela, masuk ke dalam kamar yang luas itu lalu berembus keluar melalui ventilasi udara. Keadaan sangat tenang di ruangan itu, tidak seperti biasanya. Padahal sang pemilik kamar biasa mengerjakan sesuatu di kamarnya ketimbang terduduk di atas tempat tidur seperti sekarang ini.

Krystal Jung memandang novel yang dipegangnya. Awalnya ia ingin membaca novel ini untuk membuang semua kegelisahannya. Namun memori buruk itu terus saja mengalihkannya dari hal-hal yang menyenangkan.

Ia tak henti mengutuk kejadian kemarin. Ia menyumpahi si lelaki bejad itu―bagaimana kejamnya dia mempermainkan gadis baik hati sepertinya dan secara tidak sadar telah membangun kembali tembok yang dulu memisahkannya dengan laki-laki.

Air mata menetes dari sudut matanya. Krystal menyekanya dengan punggung tangan. Ia meletakkan novel yang dipegangnya di atas meja, lalu gadis itu kembali termenung. Kini ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia tidak yakin apa yang akan dilakukannya saat berhadapan dengan laki-laki, dengan Choi Minho. Kejadian kemarin membuatnya teringat dengan trauma masa lalunya. Padahal untuk sementara ia bisa melupakannya dan menerima kehadiran laki-laki. Namun sekarang semuanya kacau.

Krystal mengangkat kepalanya ketika mendengar suara ketukan pintu. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan terlihat wajah ibunya. Sang ibu tersenyum.

“Krysal, baru saja Minho datang ke sini. Ia membawakan buah-buahan untukmu. Namun ia tidak mau menemuimu karena takut menganggu.”

Perkataan ibunya membuat Krystal menghela napas. Setidaknya ia tak perlu bertemu dengan Minho untuk sementara waktu.

“Tolong sampaikan terima kasihku padanya,” ucap Krystal sambil tersenyum kecil.

Stephanie membuka pintu makin lebar lalu masuk dan duduk di sebelah anaknya. Dia mengelus rambut Krystal. “Aku tahu ini berat untukmu, Krystal. Tapi yakinlah bahwa semuanya akan baik-baik saja.”

Krystal hanya mengangguk pelan, walaupun ia tidak yakin.

 

***

Sudah beberapa hari sejak peristiwa yang nyaris membutakan masa depan Krystal terjadi. Minho setiap hari datang ke rumah keluarga Jung untuk melihat bagaimana keadaan gadis itu. Ia belum bertatap muka dengan Krystal. Terakhir kali ia melakukannya adalah saat di hari peristiwa tersebut terjadi.

Menurut pengakuan Stephanie, Krystal masih syok dan mengurung dirinya di kamar. Dia tidak mau keluar dan belum siap untuk bertemu dengan orang-orang selain keluarganya sendiri. Jelas hal itu membuat Minho frustasi. Dan bingung.

Ya, Minho memang dibuat bingung oleh gadis itu. Ia sudah berulang kali mengenang pertemuan pertamanya dengan Krystal dan bagaimana sikap gadis itu padanya. Saat itu ia mengira bahwa Krystal hanyalah gadis yang canggung dengan laki-laki. Hanya canggung. Namun sepertinya kesimpulannya itu salah. Karena sikap yang ditunjukkan Krystal bukanlah sikap yang sering ditunjukkan gadis canggung.

Seperti yang telah kalian tahu, dulu Minho sering berhadapan dengan berbagai macam tipe perempuan. Ia tahu betul seperti apa tabiat gadis yang memang canggung untuk didekati. Biasanya mereka merasa risih dan tidak nyaman bila berada di dekat laki-laki, serta tidak mudah untuk diakrabi. Yang terjadi pada Krystal memang tiga hal di atas, namun saat pertemuan kedua diadakan, Minho menyadari bahwa bukan hanya itu yang terjadi pada Krystal.

Ia merasa bahwa gadis itu takut berdekatan dengannya.

Canggung dan takut jelas dua kata berbeda yang maknanya juga berbeda pula. Minho meneliti sikap Krystal saat mereka berada di ruang musik keluarga Choi. Sebelum masuk ke dalam ruang musik, Krystal tertahan di ambang pintu dan nampak ragu untuk masuk. Minho juga dapat melihat suatu kekhawatiran yang aneh di mata Krystal. Gadis itu menatap seisi ruangan yang memang agak remang dan tertutup. Baru setelah ia membuka tirai sehingga ruangan itu menjadi lebih terang, Krystal berani untuk melangkahkan kakinya ke dalam ruangan tersebut.

Dan Minho akhirnya berhasil mengambil satu kesimpulan, yaitu Krystal tidak berani berada dalam satu ruangan tertutup dengan laki-laki. Oke, ia mengerti jika itu merupakan bentuk kekhawatiran yang biasanya dirasakan hampir semua wanita. Tapi bagaimana dengan kilatan takut yang ia seringkali lihat di mata Krystal? Itu bukan manifestasi dari kecanggungan, kekhawatiran atau hal semacam itu. Takut adalah kata yang berdiri sendiri dan tidak memiliki relasi dengan rasa canggung.

Pemikiran itu masih berputar-putar di otak Minho, namun ia tidak tahu apa kesimpulan yang jelas dari pemikiran itu.

Seperti biasanya, Minho kembali mendatangi kediaman keluarga Jung. Kini ia sedang duduk berhadap-hadapan dengan kedua orangtua Krystal. Ia menjelaskan kembali apa yang terjadi pada gadis itu kepada Jung Yunho.

“Terkadang ada beberapa hal buruk yang tidak bisa dicegah,” ucap Yunho bijak. “Kau sudah berusaha untuk menjaga putriku.”

“Tapi aku tetap merasa bersalah,” ujar Minho sambil menundukkan kepalanya.

Stephanie tersenyum kecil. “Jangan begitu. Kami tahu kejadian kemarin adalah bencana.”

Minho terdiam. Sebenarnya ia datang ke sini bukan hanya ingin menyampaikan permintaan maaf pada orangtua Krystal. Ada suatu hal yang telah mengganjal pikirannya, sudah berada di otaknya begitu lama dan itu sangat menganggu. Karena setiap kali memikirkannya, maka ia tidak mendapatkan jawaban apa-apa. Buntu.

Sepertinya tidak ada cara selain bertanya langsung pada yang bersangkutan. Tapi, apa hal itu tidak melanggar norma kesopanan? Ia bukan anggota keluarga Jung, belum. Namun pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya tanpa henti―apa yang sebenarnya terjadi pada Krystal? Rasanya tidak mungkin gadis itu tiba-tiba takut berdekatan dengan laki-laki. Pasti ada alasannya.

“Sebenarnya, ada sesuatu yang terus kupikirkan…” gumam Minho.

“Apa itu?” tanya Stephanie.

Minho menatap suami-istri yang ada di hadapannya. Ia tidak yakin untuk menyuarakan pertanyaan di benaknya.

“Katakan saja,” tambah Yunho.

“Aku tahu pertanyaan ini akan sangat lancang bagi seseorang yang bukan anggota keluarga Jung. Aku tidak mau dianggap ikut campur urusan orang lain, tapi hal ini benar-benar mengangguku…”

Yunho dan Stephanie menunggu perkataan Minho.

“Saat aku pertama kali bertemu dengan Krystal, aku mengira jika dia adalah gadis yang canggung dengan laki-laki. Tapi lama-lama aku merasa… kalau itu bukan rasa canggung,” Minho berhenti sejenak lalu mengusap belakang lehernya. Ia benar-benar ragu untuk menyuarakan pemikirannya. Namun setelah ia menatap orangtua Krystal yang nampak ingin supaya ia melanjutkan perkataannya, akhirnya ia kembali berbicara. “Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Aku merasa kalau Krystal bukan canggung padaku, tapi takut.”

Tanpa Minho sadari, kekakuan telah menyerang tubuh Yunho dan Stephanie. Suami-istri itu saling berpandangan dan melemparkan pertanyaan lewat pandangan tersebut.

“Contohnya ketika Krystal berkunjung ke rumahku,” lanjut Minho. “Aku mengajaknya ke ruang musik keluarga. Sebelum masuk, Krystal tertahan di ambang pintu dan nampak meneliti ruangan tersebut. Ruang musik kami memang agak remang dan tertutup karena letaknya di ujung. Saat itu aku melihat kekhawatiran dan… entahlah―rasa takut mungkin?―di mata Krystal. Aku tidak tahu apakah itu hanya perasaanku atau Krystal memang merasa begitu. Lalu aku menyimpulkan bahwa Krystal tidak nyaman berada di ruangan tertutup bersama laki-laki.”

Tiba-tiba atmosfer di ruang keluarga Jung berubah drastis. Yunho dan Stephanie kembali berpandangan, sedangkan Minho duduk sambil menatap lantai. Lalu pemuda itu menghela napas.

“Aku minta maaf bila aku mengatakan hal yang kurang ajar,” gumamnya. “Aku tidak bermaksud menuduhkan prasangka pada Krystal, aku hanya merasa aneh. Menurutku tidak mungkin bila tiba-tiba Krystal takut padaku. Tapi kenapa?” Sesaat kemudian, Minho menghela napas dengan keras dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Pertanyaanku benar-benar lancang. Aku… minta maaf. Mungkin lebih baik aku pulang―”

“Kau ingin tahu kenapa?” tanya Stephanie tiba-tiba.

Minho yang sudah berdiri dari sofa menatap wanita itu. Lalu ia kembali duduk. “Jangan pedulikan pertanyaanku yang tadi. Aku hanya berpikir yang aneh-aneh.”

“Tidak juga,” potong Yunho. “Kau adalah pemuda yang cerdas, Minho. Sampai-sampai kau tahu kenyataan yang selama ini berusaha untuk kami sembunyikan.”

“Kami paham bahwa suatu saat kau akan tahu. Dan kurasa inilah waktunya,” sambung Stephanie. “Karena kami telah merancang perjodohan ini, tidak adil bila kau tidak tahu keadaan Krystal yang sesungguhnya.”

Minho menatap suami-istri itu satu persatu. Sebenarnya rahasia apa yang dimiliki Krystal?

Yunho menghela napas lalu menatap pemuda di hadapannya. “Krystal menderita androfobia.”

 

***

Rasanya Minho tidak ingin mempercayai apapun yang dikatakan oleh Jung Yunho. Namun, mau tak mau, terima atau tidak terima, perkataan Yunho merupakan fakta nyata mengerikan yang pernah terjadi di masa lalu.

Minho menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia mencoba untuk tenang. Ia sedang mengemudi sekarang dan kendali diri adalah sesuatu yang benar-benar dibutuhkannya. Jika saja konsentrasinya melenceng, maka semuanya akan berakhir menjadi kecelakaan lalu lintas. Walaupun Minho berusaha untuk mengendalikan diri, namun nyatanya hingga sekarang jantungnya masih berdebar keras ketika mengingat perkataan Jung Yunho.

“Krystal menderita androfobia.”

Itu adalah kalimat yang pertama kali menyambut kekagetan Minho. Ia tahu apa itu androfobia karena dulu pernah membaca artikel tentang itu di internet. Androfobia adalah fobia aneh yang dimiliki wanita. Penderita androfobia biasanya takut untuk berdekatan laki-laki. Fobia itu bisa disebabkan oleh trauma atau masa lalu yang pernah berkaitan dengan laki-laki, misalnya saja perceraian orangtua.

Namun yang lebih mengagetkan Minho adalah bagian setelahnya.

“Seperti yang kau bilang, Krystal tidak memunculkan fobia ini secara tiba-tiba. Dia pernah mengalami suatu kejadian yang kurasa hingga saat ini masih menjadi mimpi buruk baginya. Saat Krystal berusia dua belas atau tiga belas tahun, dia diculik oleh laki-laki pengidap pedofilia. Laki-laki itu juga menculik dua anak perempuan lain seusia Krystal. Yang paling buruk adalah laki-laki itu memperkosa dua korbannya―di hadapan Krystal. Aku bersyukur putriku tidak diapa-apakan karena saat itu polisi datang tepat waktu. Namun kejadian itu meninggalkan trauma mendalam.”

Tak heran bila Krystal selalu terlihat was-was saat bersama laki-laki. Trauma masih menghantui gadis itu. Pasti Krystal merasa tersiksa saat berhadapan dengan laki-laki. Dan Minho yakin, perjodohan yang diatur ayahnya pasti membuat dia frustasi karena dipaksa untuk menghadapi sumber ketakutannya. Tentu saja hal itu bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan.

Minho memberhentikan mobilnya di tepi jalan yang sepi. Ia benar-benar tidak bisa berkonsentrasi karena hal yang terus dipikirkannya. Kembali ia teringat perkataan Yunho.

“Kami tidak asal dalam merancang perjodohan ini, Minho, karena kami tahu akan sangat fatal akibatnya bila kami memilih calon suami yang sembarang untuk Krystal. Kulihat Krystal makin terbiasa denganmu dan itu membuat kami senang. Namun kejadian ini membuat semuanya nampak kabur. Kami sangat takut jika Krystal kembali seperti dulu―menghindari laki-laki dan trauma terus menghantui hidupnya.”

Lalu Stephanie menambahkan, dengan nada sangat memohon, “Jika kau bersedia, tolong sembuhkan Krystal…”

Kini Minho benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

 

***

Seminggu telah berlalu dan ia belum mau keluar dari kamarnya. Bukan karena kamarnya terasa begitu nyaman, namun karena ia belum siap menghadapi dunia luar. Batinnya masih terguncang atas peristiwa itu.

Krystal menghela napas lalu berjalan menuju jendela. Ia menatap keluar, memandangi langit yang tampak cerah dan seolah-olah mengundangnya untuk keluar. Jika saja ia berani, ia akan keluar sekarang juga. Berada di dalam kamar seharian tidak membuatnya merasa betah. Namun sayangnya ia masih ragu untuk pergi keluar rumah. Yang dilakukannya selama ini hanyalah sebatas berkeliling rumah.

Kemarin Sulli dan ibunya sempat datang kemari untuk melihat keadaannya. Sulli menangis saat diceritakan kejadian mengerikan itu sedangkan Tiffany hanya menggeleng-geleng sedih. Mereka sangat menyesal dan memberi dukungan yang sangat banyak pada Krystal. Mendapat dukungan dari orang di sekitarnya tentu membuat Krystal senang. Namun ada satu hal yang terus mengusik pikirannya, yaitu kehadiran Minho.

Ia yakin, dengan adanya kejadian tersebut, Minho perlahan akan menyadari fobia yang ia miliki. Dan ternyata, keyakinannya itu benar. Krystal tak tahu bahwa Minho adalah tipe pemuda yang benar-benar mengamati orang-orang di sekitarnya. Ia tak menyangka, bahwa dari pertemuan pertama mereka pemuda itu sudah bisa mengira bahwa ia berbeda dari perempuan biasanya.

Beberapa hari yang lalu, Stephanie bercerita pada anaknya apa yang sudah terjadi. Seperti yang Krystal duga, Minho memang pemuda yang jeli dan sering memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Tak heran jika Minho menanyakan sesuatu yang janggal yang terlihat pada dirinya. Namun bukan hal itu yang menjadi perhatiannya kini. Ia bertanya-tanya bagaimana reaksi Minho setelah mengetahui rahasia terbesarnya.

Pemuda itu pasti menyerah, pikir Krystal. Logikanya berkata bahwa tak ada pemuda yang mau mendekati gadis pengidap fobia aneh. Bayangkan saja―mana ada seorang lelaki yang mau bersusah payah mendekati perempuan yang takut dengan laki-laki? Hal tersebut ibarat menawarkan selai kacang pada orang yang alergi kacang-kacangan. Dan orang normal pasti akan berpikir itu adalah hal yang sia-sia dan hanya membuang waktu.

Kemungkinan yang dipikirkan Krystal adalah Minho akan mengajukan pembatalan perjodohan pada orangtuanya. Jika itu yang terjadi, Krystal merasa sangat buruk. Meskipun pada awal pertemuan ia menolak perjodohan tersebut, namun setelah dijalani perlahan ia merasakan sebuah kenyamanan yang terasa aneh. Perlahan gemetaran di tangannya berhenti saat ia berdekatan dengan Minho. Lalu ia mulai merasa terbiasa dengan kehadiran laki-laki, meskipun rasa gugup belum hilang sepenuhnya dari dirinya. Namun itu merupakan suatu kemajuan pesat.

Bukan hanya orangtuanya yang akan kecewa bila perjodohan tersebut batal, dirinya juga pasti akan kecewa. Krystal tahu bahwa hidup dalam kungkungan trauma masa lalu sangatlah tidak enak dan ia berharap supaya ia bisa terlepas dari hal itu. Supaya ia sepenuhnya bisa melupakan sumber fobianya. Bila perjodohan ini gagal, maka kemajuan yang dirasakannya juga akan sia-sia saja. Mungkin ayahnya akan merancang perjodohan lagi dan mengenalkannya dengan lelaki lain.

Jika itu yang terjadi, maka Krystal tak dapat melakukannya. Terbiasa dengan satu laki-laki bukan berarti terbiasa dengan semua lelaki.

Krystal mendesah. Ia menggerak-gerakkan jarinya dengan gelisah. Semua pemikiran itu benar-benar membuatnya resah dan bingung. Ia berjalan menjauhi jendela lalu pergi ke lantai bawah.

Keadaan di lantai bawah benar-benar sepi. Ayah dan ibunya sama-sama sedang bekerja. Krystal pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin. Mungkin saja meminum minuman segar dapat membuat pikirannya kembali segar. Saat ia sedang mengambil minuman di lemari pendingin, suara mobil terdengar dari luar. Krystal mengerutkan dahinya. Ini baru pukul dua belas siang. Biasanya ayah dan ibunya pulang paling cepat pada pukul empat sore.

Bel rumah berbunyi. Krystal pergi menuju ruang tamu. Saat berada di ambang pintu yang masih tertutup, ia terdiam lalu mengintip lewat sela-sela jendela yang ada di sebelahnya. Ia mengerjap saat tahu bahwa tamu tersebut adalah Minho.

Oh, tidak! Ia sama sekali belum siap untuk bertemu dengan pemuda itu. Apalagi setelah Minho tahu tentang rahasianya.

Sekali lagi bel rumah dibunyikan. Kini si tamu turut mengetuk pintu.

“Apa ada orang di rumah?” tanya Minho dari luar.

Krystal terdiam di balik pintu.

“Ini aku, Choi Minho. Aku ingin menitipkan makanan untuk Krystal.”

Perkataan Minho membuat Krystal terenyak. Setelah mengetahui bahwa ia adalah gadis yang mengidap fobia aneh, pemuda itu masih saja peduli padanya?

“Terima kasih, Minho-ssi…” balas Krystal. Suaranya serak. “Tapi tidak ada orang di rumah. Aku―”

“Tidak apa-apa,” potong Minho. “Jika kau tidak mau, lebih baik aku di luar saja. Pintunya tidak usah dibuka. Tapi kau tidak keberatan jika aku ingin berbicara denganmu, ‘kan?”

“Tentu.”

Keheningan sempat terasa untuk beberapa saat. Krystal meremas jari-jarinya, menunggu perkataan Minho dari balik pintu.

“Soal fobia itu… aku turut sedih, Krystal. Peristiwa itu benar-benar mengerikan dan kemarin kau nyaris mengalaminya. Aku merasa bersalah atas hal itu. Seharusnya aku bisa menjagamu lebih baik lagi.”

Berhentilah peduli, teriak Krystal dalam hati. Berhentilah seolah-olah kau peduli padaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu hingga kau sepeduli ini…

“Itu hanya kejadian tragis yang salah mampir,” sahut Krystal.

“Aku harap kau akan baik-baik saja…”

Walaupun begitu, nyatanya Krystal tidak merasa baik dengan keadaannya yang sekarang. Kejadian kemarin jelas membuat semuanya terasa buruk. Ditambah dengan rahasianya yang terungkap.

“Kenapa kau masih datang ke sini?” tanya Krystal dengan pelan.

“Apa maksudmu?”

Krystal mendesah lalu mengusap dahinya yang berkeringat. “Jelas-jelas kau sudah tahu bahwa aku adalah pengidap androfobia―takut pada laki-laki. Tidakkah kau berpikir itu hal yang sia-sia bila kau mendekati gadis yang takut pada lelaki?”

“…tidak juga.”

“Kenapa?” seru Krystal frustasi. “Kenapa kau begitu peduli padaku? Aku jarang memperlakukanmu dengan baik. Bahkan pada pertemuan pertama, aku membiarkan pikiran-pikiran buruk tentangmu berkembang di otakku. Lalu kenapa?”

Dapat Krystal dengar pemuda itu mendesah dengan cukup keras.

“Aku juga tidak tahu. Entahlah. Aku hanya berpikir kau berbeda dengan gadis lain. Selama ini aku mendekati gadis-gadis dengan begitu mudah. Dan saat aku berhadapan denganmu, aku merasakan sesuatu yang lain.”

“Kurasa itu bukan alasan yang cukup kuat,” sanggah Krystal.

Hening menyeruak.

“…memang,” Minho menyahut pelan.

“Kukira kau akan menyerah,” kata Krystal. Ia menunduk. “Kukira kau tidak akan datang ke sini lagi.”

“Kenapa harus begitu?”

Krystal mendesah. “Karena aku adalah gadis yang hampir tidak mungkin untuk didekati… Biasanya laki-laki akan menyerah bila berhadapan dengan perempuan yang takut dengannya.”

“Kau bilang biasanya, ‘kan? Masalahnya, aku bukan laki-laki biasa,” sahut Minho. “Aku tidak akan menjauhimu hanya karena ini, Krystal. Aku memang bingung dengan apa yang harus kulakukan di hadapanmu, tapi percayalah… aku akan tetap ada di sini. Aku baru akan pergi jika kau memang tidak mau berhadapan denganku lagi.”

Jawaban Minho yang terdengar dramatis tersebut membuat jantung Krystal berdebar dengan keras. Sepertinya ia dapat menangkap sesuatu yang tersirat di jawaban Minho. Sesuatu yang berhubungan dengan perasaan. Namun ia belum mau berspekulasi apapun. Kini otaknya terasa kacau dan jantungnya terus berdebar hingga membuatnya tak mampu berpikir.

Setelah bertahan lama pada kebisuan, Krystal mulai menggerakkan badannya. Tangannya terayun pada gagang pintu. Perlahan, ia membuka pintu tersebut.

Di depan rumah keluarga Jung, berdirilah sesosok pria tinggi. Choi Minho agak tercengang saat mendapati Krystal membuka pintu. Dia mengira gadis itu tak mau bertemu dengannya.

“Terima kasih…” ucap Krystal yang lebih terdengar seperti gumaman. “Terima kasih karena kau sudah begitu peduli padaku.”

Minho tersenyum.

“Jika kau bisa, aku ingin meminta bantuanmu…” tambah gadis itu.

“Apa?”

Rasa gugup kembali menyerang Krystal. Keraguan sempat merayapi hatinya. Namun demi apapun di dunia, memang bantuanlah yang ia butuhkan sekarang. Karena ia tidak mampu menanganinya hanya dengan seorang diri.

“Tolong bantu aku menghilangkan fobia ini…”

 

To Be Continued

A/N: Finally, part 5 akhirnya keluar juga. Saya sempet dibuat stress sama part yang ini. -_-

Alur ceritanya semakin kompleks dan otak saya semakin buntung. Luckily, saya berhasil mengumpulkan segenap kekuatan hingga bisa menyelesaikan part 5. Itu juga berkat f(x). Comeback mereka membuat saya makin semangat. :D

Namun satu hal yang saya sesalkan―kenapa comeback f(x) harus barengan sama promosi lanjutannya EXO? Huhuhu, kan kasihan dompet saya T.T /abaikan/

Sebelumnya, saya minta maaf kalo part yang ini lebih pendek dari yang kemarin. Saya mulai disibukkan oleh sekolah dan kegiatan les. Waktu luang saya jadi berkurang. Mungkin saya bakalan update HAO part 6 dan BP verse 3 saat libur lebaran nanti. Tapi, itu juga baru kemungkinan sih… /slapped/

Pada komen ya? /bow/

 

 

Park Sooyun~

16 thoughts on “Heal One Another [Part 5]

  1. Krys! Ayo terima minho!! Ini couple favkuu XD minho aja udh bisa ngehilangin penyakit gilanya, klee pasti bisa! Lanjut thorr^^

  2. Aku depresi sendiri baca part ini T.T kenapa? Aku juga enggak tahu, entah internetnya rusak atau memang begitu #plak karena banyak kata-kata hilang dan itu membuat saya depresi #lebay okey walaupun begitu FF ini keren banget!! Aku tunggu Chapter 6-nya hehe :)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s