Ying Er [PART 4]

Ying Er

Original Title       : Yīng’ér (mandarin: 婴儿)

Cast                      : Tiffany Hwang | Choi Siwon | Jung Yunho

Other Cast          :Luna f(x) | Kim Taeyeon | Kim Jonghyun

Length  :

Chaptered

Genre   :

Angst,Romance,Family,Sad,AU

Rating   : PG15

parkminhyun™

artwork and fanfiction

 

READ LIKE AND COMMENTS ARE NEEDED GUYS

PLEASE BE CREATIVE, CALM THEN FLY TO SEOUL ^^;

 

[read also] : PART 1 | PART 2 | PART 3

***

23 March 2013

Seoul-Seorang pria ditemukan tewas setelah menghirup gas freon yang bercampur dengan helium di kediamannya di Cheongdam-dong,Seoul. Mayat dilaporkan mengapung di kolam renangnya pukul 08.38 pm oleh rekan kerjanya Jung Yunho (28). Sang korban bernama Hong Sunhyung (53) merupakan CEO dari sebuah perusahaan G Cosmetic ini tidak memiliki tanda-tanda kekerasan lainnya. Diduga kematiannya merupakan sebuah kecelakaan akibat pipa AC yang bocor bersamaan dengan balon koleksi pribadi Alm.Hong Sunhyung yang berada di sekitar area kolam renang. Hasil dugaan ini masih dikonfirmasikan kembali kebenarannya. Sampai saat ini polisi masih menyelidiki kasus naas tersebut.

“Stephanny,did u see the headline news today?”

“Nope. What was that?”

“President Hong,one of our investor was murdered today. No,maybe just accident. But still…”

“I don’t get it. What do you mean?”

“Hong Sunhyung,president of G Cosmetic.”

“Oh my God…”

“We must visit his funeral. Shall we?”

“Yeah,of course…how can you remain here when the others are grieving? At least we still care…”

“Hm,anyway can I ask you a favor?”

“What like u say? Tell me straight.”

“Yesterday. What did u go?”

“Me? Of course I went to Japan. Didn’t you come after me too?”

“Oh…”

“Hikoki ga Nigawa kuko ni chakuriku suru yotei. Jokyaku ga daun shite junbi o shite kudasai…”
(Para penumpang diharap bersiap. Pesawat akan mendarat di Bandara Internasional Incheon.”

“Hey,our plane will landed soon. How excite! Kyaa~”

“Do you miss your daughter so much?”

“Mochiron,dangyeonhaji (tentu saja *Jepang-Korea)”

Seorang gadis cantik yang mengenakan kacamata hitam itu tersenyum. Ia lalu beralih menatap jendela. Diluar sana terlihat jelas gumpalan-gumpalan awan. Gadis itu lalu tersenyum lagi. Ia berhasil mengukir sebuah senyuman sinis di wajahnya tepat ketika ia melihat arloji mewahnya.

“Hong Sunhyung…” gumamnya.

***

Matahari mulai menyembunyikan rupanya di ufuk barat seolah memberitahu khalayak untuk segera pulang dari jengahnya suatu pekerjaan. Jalanan semakin padat dan sesak begitu pula tempat-tempat pemberhentian transportasi. Mulai dari halte hingga subway. Jam pulang kantor, begitu yang dapat disimpulkan dari pemandangan yang sudah biasa ini. Orang-orang akan lalu lalang pergi dan kembali. Berulang-ulang hingga kita tak akan tahu sampai kapan akan berakhir.

‘diiinn’

“Aish sialan…” Seorang lelaki dengan masih berbalut pakaian jas kerjanya memukul gagang kemudi kendaraan yang ditumpanginya. Ia mendecak kesal seraya membuka jendela mobil itu. “Ya! Ahjussi! Cepat sedikit jalannya!” hardik pria itu entah ditujukan pada siapa sebenarnya sambil mengulurkan kepalanya sedikit dari dalam mobil. Jelas sudah tak ada yang menghiraukankarena memang mereka juga memiliki nasib yang sama yaitu ”terjebak” kemacetan.

“Seharusnya aku tidak mengambil jalan utama…” gerutu pria itu lalu menyenderkan kepala dan tengkuknya di sandaran kursi pengemudi. Manik mata kecoklatannya memperhatikan sebuah benda yang melingkar di jari manis kanannya. Ia tersenyum lalu dengan refleksnya ia memainkan jari-jari tangannya di atas gagang stir kemudi sesaat setelah ia memutar lagu kesukaannya.

‘beep beep’

Pria itu sepertinya telah mengendalikan emosi berkendaranya dengan mendengarkan lagu. Terbukti dari caranya dengan santai mengambil smartphone miliknya seusai terdengar suara pesan. Walau tak ada yang tampak aneh, namun ia mengerutkan keningnya lalu mengetuk layar tersebut dan mendekatkannya ke cuping telinga.

“Ne, ini aku sajangnim…”

“Rumah? Sekarang?”

“Baiklah, saya mengerti.”

Pria itu mengetuk layar handphonenya.

‘tiiiin’

“Ya ampun…masih padat saja!” decak kesalnya lagi sambil mengalihkan pandangannya ke arah luar jalan. Padat dan padat. Luar biasa penduduk Seoul gumamnya dalam hati. Sejenak, perbincangan singkat tadi seakan membawa beberapa pertanyaan di benak pria itu. Pikirannya menerawang apa gerangan hal yang tidak biasa untuk pergi ke rumah kolega saat pulang kerja. Terlebih bukan hanya kolega, tetapi juga atasan—dan sekaligus mertuanya—itu.

“Sunghyun sajangnim benar-benar aneh…” Gumamnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Diliriknya arloji perak di pergelangan tangannya menunjuk arah jarum pendek lima dan panjang di angka 11.

Kini, yang ada hanyalah sebuah hembusan besar nafas yang lelah.

***

“Suster Nam, coba nanti anda cek kondisi pasien bersama Dokter Oh di ruangan 34 sampai 40 paviliun anak. Aku mau pulang dulu… kurasa tugasku sudah selesai hari ini.” Namanya Siwon, Choi Siwon. Dokter yang lumayan populer dikalangan pasien juga karyawan rumah sakit itu melepas jas putihnya dengan long coat coklat dengan warna hitam di sekitar garis leher sambil menerangkan sesuatu kepada seorang suster. “ne, gamshahamida Choi Uisa…”

Dokter muda itu tersenyum manis. Siapapun yang melihatnya pasti ikut tersenyum bak malaikat. Kepribadian ramahnya seolah tak pernah luntur dari budi luhurnya. Dari luar ia tampak seratus persen sempurna tanpa cacat sedikitpun. Tipe pria idaman sejati, begitulah kata orang yang menyimpulkan dirinya.

“Oppa, kau ingat hari ini hari apa?”

“Hari? Hari Sabtu .”

“Aigoo… bukan itu!”

“Lalu apa?”

“Sungguh kau tak ingat?”

Tiba-tiba Siwon mengingat percakapannya tadi pagi dengan yeojachingu sesama dokternya,Kim Taeyeon yang antusias bertanya berulang kali. Ingat? Ingat apa? Seingatnya memang hari ini adalah hari Sabtu. Sedangkan hari jadi rumah sakit pun masih dua minggu lagi. Ingat? Mungkin memori otak Siwon terlalu penuh untuk mengingat obat-obatan beserta fungsi dan komposisinya.

“Ah sudahlah…” hela Siwon sejenak. Ia pun menaiki lift untuk pergi ke basement rumah sakit. Tempat dimana ia menaruh mobilnya.

***

‘tuk…tuk…tuk…’

Basement rumah sakit tampak sangat sepi dan hanya derap langkahnya yang terdengar nyaring di telinga, ya memang hanya sepasang permukaan alas sepatu pantofel hitam yang beradu dengan lantai berbahan dasar semen itu.

Dia—dokter Choi—mengusap kedua telapak tangannya cepat dan memasukannya kedalam saku long coat miliknya. Ia tampak sedikit linglung untuk menemukan dimana mobilnya tadi diparkir karena hampir keseluruhan kendaraan di sekitarnya tampak mirip-mirip, lantai parkir khusus staf rumah sakit tentunya.

“Padahal baru jam enam tapi sudah sepi saja…” Siwon menggerutu tak jelas lalu pada akhirnya ia berhenti mendadak. “Apa aku yang terlalu cepat pulang duluan ya?” Ia menggeleng heran dan meneruskan langkah kakinya santai. Dalam keheranannya, tanpa sengaja ia mengadah dan mendapati sebuah cahaya kecil berwarna merah di pojok langit-langit.

“Rupanya ada CCTV juga disini…” gumamnya dalam hati. Setahunya, ia tak pernah melihat benda itu sebelumnya. Apakah baru dipasang? Ah mungkin saja.

Dokter itu terus berjalan lurus dan menekan sebuah tombol dari kunci mobilnya sehingga terdengar suara ‘beep’ dari sebuah mobil Tucson XG hitam di ujung basement. Ini dia, tuturnya dalam hati.

‘tuk…tuk…tuk…’

Ia berjalan mendekati mobil miliknya. Berjalan mendekati. semakin cepat ia melangkah, keringat dingin mengucur dari wajah rupawan dokter muda itu. Bahkan cara berjalannya berubah menjadi larian kecil.

Ketika hendak membuka pintu mobil tiba-tiba Siwon berbalik.

“Siapa disana!?” Hardiknya namun tak menghasilkan apapun. Suara beratnya menggema ke seluruh lantai basement itu. Sama sekali tak ada respon –entah dari siapa—sama sekali. “Mungkin firasatku saja.”gumamnya tegang dan akhirnya ia benar-benar masuk ke dalam mobil.

“Aish~ ada apa dengan hari ini eoh?” Siwon menyalakan mobilnya lalu melaju pelan menuju pintu keluar yang berada di ujung koridor utama. Sambil menahan rasa kesalnya, ia melihat sesuatu—dan mungkin hanya sepersekian detiknya—terlewati olehnya.

“Eh?”

***

“Aku pulang!” Seorang pria bertubuh pendek dengan bebasnya memasuki ruang tamu sebuah rumah tanpa melepas alas kakinya dan melempar tas punggungnya sembarang arah hingga terjatuh tepat di atas sofa berwarna putih. “Ahjumma! Aku mau mandi air hangat!” teriaknya untuk yang kedua kali.

“Eomma, kau dimana?”

“Appa! Kau di…” ketika akan berteriak lagi ia mengurungkan niatnya. “Mungkin masih di rumah sakit.”gumamnya pelan.

“Apa semua orang sedang mati sementara huh? Sepi sekali ini rumah… membosankan.”ucapnya lantang. Dengan berbekal sehelai handuk yang tergeletak tak tahu darimana itu ia berjalan malas ke kamarnya yang terletak di lantai dua.

‘plak’

Sebuah pukulan keras di kepalanya tiba-tiba membuatnya terhuyung dari atas tangga dan akhirnya ia dapat menyelamatkan tubuhnya dengan cara berpegangan pada pagar anak tangga. “YA! KIM JONGHYUN!”

“Aish!! APPO EOMMA!” Bocah pendek berwajah sedikit tengil itu menungkas tangan wanita yang sama pendeknya dengan dia yang seolah akan melakukan “serangan” kedua ke kepalanya. “Geumanhae! Cukup sakit tahu!” Ia meringis mengusap kepalanya yang terasa seperti baru saja di benturkan ke lemari baja dan beberapa burung pipit berputar di atas kepalanya.

“Ya! Ya! Ya! Dasar bocah nakal!” Kini giliran dada bidangnya yang menjadi sasaran pukulan tiga kali wanita paruh baya itu, namun tak sekuat tadi. “Aish~”

“Kalau merasa tidak punya rumah pergi saja!”

“Aigoo…yang penting kan aku sudah pulang. Bereskan? Ah sudahlah aku mau mandi dulu…” Ucap pria bernama lengkap Kim Jonghyun seraya melanjutkan “perjalanan” naik tangganya yang terhenti akibat serangan makian dari ibunya itu. “Ya! Dengarkan aku anak bodoh!”

“Lalalalala…” Jonghyun melenggang sambil menutupi kedua telinganya sambil bersiul tak jelas. Ia Dengan ekor matanya melirik ekspresi ibunya yang hanya bisa menghela nafas panjang dan memijat kening kepalanya.

“Kalau sudah tahu begini dari kecil anak itu sudah aku buang saja.”gerutu sang Ibu kesal.

“Aigoo…uri Eomma sedang ngambek rupanya” Tiba-tiba sebuah backhug dadakan datang dari Jonghyun yang kembali turun menyusul ibunya. “Dasar kurang ajar.” Tukas nyonya Park—ibu Jonghyun—sambil mencubit kulit lengan anak pria satu-satunya itu. “Tuhkan, eomma tidak jadi marah? Ayo? Ayo? Kelihatannya tadi marah-marah? Eoh? Uh?” Goda Jonghyun sambil mengeratkan pelukannya. Ia memejamkan matanya seakan menikmati betul pelukan hangatnya.

“Aku masih marah tahu!”

“Wae?” Tanya Jonghyun. Ia melepas pelukannya dan menatap wajah ibunya. Entah mengapa hanya dengan melihat wajah ibunya, ia merasa sangat bersalah. Beberapa helai rambut wanita paruh baya itu mulai memutih dan kulit wajahnya tak secantik saat berusia dua puluh tahunan lagi. Keriput-keriput berdatangan menghiasi sisi-sisi bagian mata, pipi, dan rahangnya. Ia sudah tidak muda lagi, begitulah kesimpulannya.

“Wae?” tanya Jonghyun untuk yang kedua kalinya. Namun sang Ibu hanya diam saja. Sorot mata kesedihan bercampur rasa kecewa membuat suasana hati Jonghyun semakin bersalah. “Sudahlah. Aku mengerti.” Jonghyun menyerah untuk bertanya lebih lanjut. Ia melepaskan bahu ibunya dan berlalu melewatinya.

“Kenapa kau tidak bertanya pada dirimu sendiri eoh anakku?” sahut Ibunya pelan. Jonghyun berhenti sepersekian detiknya, “Arrayo. Aku tahu apa yang akan kau katakan Eomma…”

“Seandainya kau bertanya padaku sekali lagi, mungkin akan Eomma jawab.”

“Anniyo. Sudah cukup dan aku lelah. Jonghyun mengadahkan wajahnya mantap dan berbalik dengan ekspresi 180 derajat berbeda dari sebelumnya, ekspresi ceria—namun kentara sekali bahwa itu palsu—dan berjalan mendekati Ibunya. “Besok kita bicara lagi ne? Hehehe aku mau cari toppoki dulu buat cemilan…” Jonghyun menepuk bahu Ibunya dan berlalu.

“Ne…”

Jawab sang ibu teramat pelan. “Seandainya kau bertanya pada eomma sekali lagi, eomma akan memintamu untuk tidak mendekati wanita itu…” batinnya dalam hati ketika ia melihat punggung anaknya menghilang dari balik pintu.

“Semua orang disini sibuk akan pekerjaannya masing-masing.”gumam wanita itu sambil mengambil segelas air putih. Ia mendudukan tubuhnya di kursi makan. Tatapannya kosong seakan tak memiliki gairah hidup. Ia melamun sehingga tak sadar tangannya menyenggol setumpuk koran tadi pagi dan terjatuh di lantai. “Omo!” serunya karena kaget.

“Aigoo, merepotkan saja.” Gerutu nyonya Park.

“Ige mwonde?” Mendadak nyonya Park yang sedang sibuk memungut lembaran koran itu merasa tertarik dengan sebuah berita yang terpampang di salah satu halaman.

“Ah beruntung sekali nasib wanita itu.”ucap nyonya Park setelah membaca sekilas isi dari koran.

‘klek’

“Taeyeon-ah coba liat ini!” Seru nyonya Park tanpa mengalihkan pandangannya dari permukaan koran.
“Aku malas.” Ucap seorang gadis yang baru keluar dari ruangan di ujung sana. “Hei, kau kenapa Taeyeon-ah?”

“Ash~ molla molla!” Geram Taeyeon sambil menendang-nendang lantai bergantian secara cepat seperti orang yang sedang kesal tiada dua. “Wae? Wae? Kau sakit? Ckckck sama saja seperti Jonghyun tadi!” ejek nyonya Park.

“huh? Jonghyun dirumah? DIMANA DIA BIAR AKU HAJAR!!” Tiba-tiba raut wajah gadis bernama Kim Taeyeon itu berubah menjadi wajah yang penuh dengan amarah ketika kalimat terakhirnya meninggi mengisi kekosongan seluruh ruangan rumah yang ada. “Eits… eomma hanya bercanda!”

“ANNIYO!! TADI AKU JUGA DENGAR JONGHYUN!! DASAR BOCAH SIALAN KABUR DARI RUMAH SEENAKNYA!” Omel Taeyeon dengan mata yang membara. Ia menyisingkan kaos lengan panjangnya sampai siku dan mengepal-kepalkan jemari tangannya—siap untuk memukul—

“Aigoo…dia tidak ada dirumah! Sabar-sabar!!”

“ANNI! MANA DIA!!”

“Aish~ tidak ada tidak ada!”

“Ya! Kim Jonghyun! Keluar kau!”

“Kau jangan begitu, dia kan adikmu juga!”

“Eomma! Ini sudah kelewatan!”

“Sabarlah sedikit! Dia kabur kan gara-gara kau pukuli terus!”

“Eomma!”

“Kim Taeyeon!”

“Ah molla!!”

Dua insan itu beradu mulut dengan teriakan-teriakan yang mungkin bisa membangunkan anjing tetangga yang sedang tidur. Bukan hanya itu, setidaknya sang Eomma mulai lupa akan hal yang seharusnya ia lakukan lebih awal—dan seharusnya akan menjadi lebih baik—

“A Korean leading fashion company cooperate with a talented new mysterious designer that claimed will takes over the company soon. Her name is Stephanny and announced to be arrive in Seoul tomorrow…”

Di samping baris berita itu, sebuah foto seorang wanita dengan long dress hitamnya tampak tersenyum menampilkan eyesmile khas nya ke lensa kamera seperti menggambarkan suasana red carpet yang mewah dan glamour.

“…Her name is Stephanny…”

***

‘ting tong’

“Sajangnim! Ini aku Jung Yunho!” Pria jangkung itu menekan sebuah tombol dengan layar intercom yang menempel di dinding pagar sebuah rumah besar dua lantai tersebut. “Sajangnim! Ini aku…”

Tak berlangsung lama, pintu setinggi dua setengah meter itupun terbuka secara otomatis. Yunho tersenyum lalu memasuki halaman utama rumah itu.

“Seharusnya rumah ini untukku…” gerutu Yunho sembari mengamati pemandangan taman mewah sekelilingnya. Tanpa sengaja ia membuka handphonenya dan mengambil sebuah gambar di taman itu. Ekspresiku lucu sekali Yunho membatin sambil tertawa kecil memperhatikan layar handphonenya.

“Yunho-ya!” Yunho tersentak mendengar sebuah suara memanggilnya dari jauh. “Ah ne Sajangnim!” tanpa abaan sedikitpun Yunho langsung berlari mendekati sumber suara. “Kau sedang apa?”

“Anniyo. Hahaha…”

“Masuklah. Diluar pasti dingin.” Pria yang baru berulang tahun sebulan yang lalu itu menepuk bahu Yunho dan mendorongnya pelan untuk segera masuk ke dalam ruang tamu yang tak kalah mewahnya dengan halaman depan. Ornamen-ornamen Asia-nya kentara di setiap sudut ruangan begitu juga langit-langitnya.

“Maaf ya menganggumu padahal baru jam pulang kerja. Kau pasti bekerja keras.”puji Ketua Hong disela-sela perbincangan ringan mereka. “Ah tidak juga, ini semua berkat Sajangnim…” tawa Yunho dengan awkward-nya.

“Oh ya bagaimana dengan Jihyun dan cucuku? Mereka dan kau hidup sejahtera kan?”

“Ne. Um…begitulah hahaha…”

“Baguslah, tak ada yang perlu aku risaukan. Hohohoho lain kali kalau kau berkunjung kemari tolong ajak sekalian istrimu dan anakmu. Aku sepertinya semakin rindu. Ohya, kapan ya aku terakhir bertemu mereka? Dua hari yang lalu ataukah dua minggu yang lalu ya? Entahlah…”

“Sajangnim. Bukannya kali terakhir kalian bertiga bertemu itu sebulan yang lalu ketika upacara kematian ibu ketua?” Yunho tersenyum heran sembari mengingatkan perkataan Ketua Hong dengan ramah.

“Sungguh? Hmm…tidak. Seingatku aku bertemu dengan anakmu baru-baru ini.” Ketua Hong meluruskan kedua kakinya yang semula ditekuk sesuai dengan postur sofa. “Heung?”

“Ada pepatah yang mengatakan bahwa hidup itu bagai segitiga, jika kau ingin mencapai titik teratas dalam segitiga itu kau harus menginjak titik lain yang berada di bawahmu.” Raut wajah Ketua Hong berubah menjadi serius.

“Maksud Sajangnim?” Celah Yunho tak paham.

Sementara itu Ketua Hong tertawa dan ia menaikkan sebelah bibirnya dan membentuk sebuah senyuman licik. “Kau…tidak akan bisa menginjak titik yang lain kan? Makanya kau memerlukan garis untuk mencapai titik segitiga teratas?” Ujar Ketua Hong sambil menyatukan jemari-jemarinya seolah sedang mengintrogasi Yunho yang ada tepat di depannya.
“Maksud Sajangnim apa? A..aku benar-benar tidak mengerti. Hahaha…” tawa garing Yunho membuatnya tampak memang orang yang sedang diintrogasi.

“Ayahmu diplomat negara kan? Kudengar akhir-akhir ini pekerjaannya sedang tidak mulus?”

Tutur Ketua Hong yang mampu membungkam mulut Yunho seketika.

“Sebenarnya apa tujuanmu mendekati Jihyun putriku?” Tanya Ketua Hong to the point. Matanya menelisik tak kala kemungkinan Yunho akan berbohong kali ini. Namun ternyata tak ada jawaban. Yunho hanya terdiam dan mulai merundukkan wajahnya.

“Aku tanya sekali lagi karena kau tahu aku tidak suka mengulang pertanyaan. Apa tujuanmu merayu Jihyun sehingga kau bisa jadi menantuku padahal kau tahu Jihyun memiliki penyakit kronis dan sewaktu-waktu bisa meninggal kapan saja eoh?”

“Itu…”

“Kuberi waktu tiga hari untuk menjawabnya sebelum rapat pemegang saham dilaksanakan. Sebaiknya kau mencari jawaban yang baik agar aku tidak mengeluarkan namamu dari daftar holder.” Tutur Ketua Hong singkat. “N..ne gamshahamida.” Yunho berdiri dan membungkuk 90 derajat.

“Oya, ingat sekali lagi. Bawa istrimu dan anakmu kalau kau berkunjung kembali!” Ketua Hong menunjuk-nunjuk dengan jarinya seolah menggaris bawahi perkatannya untuk direkam dengan baik oleh otak Yunho. “N..n..ne sajangnim. Saya mengerti.” Jawab Yunho terbata.

“Bawa anakmu yang bernama Hwang Byul, bukan yang Jung Sora.” Kalimat itu membuat Yunho yang tadinya hendak berjalan keluar mendadak berhenti. Lidahnya kelu seolah tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.

skakmat.” Tutur Ketua Hong. Senyumannya berubah menjadi datar dan jemarinya saling mengetuk satu sama lain. “Bukankah aku sudah pernah bilang…untuk jadi titik teratas pada segita, diperlukan titik=titik lain dibawahnya untuk menjadi yang teratas,” Ujar Ketua Hong lalu meneruskan perkataannya,”Dan syukurlah kau termasuk titik-titik dibawahku. Terimakasih telah membantuku Jung Yunho.”

Sebuah smirk muncul dari wajah keduanya entah itu Ketua Hong ataukah Yunho. Ketua Hong menyipitkan kedua matanya agar dapat melihat jelas ekspresi yang hadir di wajah Yunho. Ia sedikit terkekeh ketika Yunho mengepalkan sebelah tangannya. “Pulanglah. Aku rasa jam kunjung ke rumahku telah selesai.”

“Sampai jumpa di rapat pemegang saham lusa.”

***

Siwon menutup pintu mobilnya dan berjalan memasuki sebuah minimarket yang letaknya tak jauh dari rumah sakit tempat ia bekerja. Tepat setelah dua kali pertigaan dan di perempatan Bonghwa-dong lah minimarket itu berdiri. Menurut Siwon, ini merupakan minimarket langganannya karena alasan tempat parkir yang strategis.

“Ososeyo!” (selamat datang)

“Annyeong ahjumma!” Siwon masuk ke dalam toko itu dan langsung disambut meriah oleh pemiliknya yang merangkap sebagai kasir pula. “Aigoo kemana saja uisa lama tak mampir!” Seorang wanita berusia 40-an menepuk-nepuk lengan Siwon dengan dialek khas saturi[1]nya yang terdengar lumayan lucu.

“Aku sibuk ahjumma hahahaha seperti biasanya yang tolong bungkuskan dua.”

“Siap Dokter! Hahaha” Tawa Siwon ikut pecah ketika wanita tua di hadapannya menaikan telapak tangannya di atas alis seperti seorang tentara militer yang memberikan hormat pada atasannya. “Oh ya bagaimana dengan dokter Kim? Apa hubungan kalian baik?” Siwon tertegun dengan ucapan ahjumma satu ini. Mungkin seseorang telah mengadukannya kepada orang ini.

“Baik. Seperti biasanya.” Siwon tersenyum hangat. Siapapun yang melihatnya pasti akan meleleh tak terkecuali si penjaga minimarket ini. Ia juga membalas senyum hangatnya dengan tawa. “Tapi aku lihat kalian sibuk dengan perkerjaan masing-masing?”

“Ya. Begitulah.” Ucap Siwon sekenanya. Sudah menginjak tahun ketiga setelah mereka resmi mengungumkan hubungan mereka di depan umum ditambah satu tahun kisah backstreet mereka dimulai. Tak banyak yang telah mereka lakukan—tidak seperti pasangan lainnya—mereka hanya makan diluar disaat lapar, minum bersama ketika haus, dan pergi berbelanja bersama bila ada sesuatu yang ingin di beli. Secukupnya saja, seperti perasaan sebenarnya Siwon kepada Taeyeon yang secukupnya pula.

“Baik-baiklah padanya Siwon-ssi…” Tegur ahjumma kasir itu dan membuyarkan lamunan Siwon. “Ah ne terimakasih.”

“Oh ya ini sari gingseng merahnya.”

“Berapa harganya?”

“Ah sudahlah anggap saja hadiah dariku.” Ahjumma itu menolak ketika Siwon mengeluarkan beberapa lembar won dari dalam dompetnya. “Ini Ahjumma…”

“Tidak, tidak usah. Sudah ini bonus dariku!” Siwon bersikeras meraih tangan Ahjumma yang menolak mati-matian uang pemberiannya. Toh membayar barang yang dibeli adalah pantas-pantas saja?
“Ahjumma, jebal aku jadi tidak enak hati padamu.”

“Aigoo sudah kubilang tidak usah ya tidak usah. Kau dan dokter Kim sama saja aduh…”

“Anniya ini juga buat kelangsungan minimarket. Aku akan sedih kalau ahjumma tiba-tiba menutup tempat ini gara-gara bangkrut.”

“Aish~tidak usah..”

Ditengah-tengah perdebatan mereka, pintu toko terbuka dan menyuarakan lonceng mungil yang akan berbunyi ‘ting’ apabila seseorang masuk kedalam toko. “Ah ososeyo…” Ahjumma tadi tiba-tiba melepaskan eratan Siwon yang sibuk memberinya uang dengan membukuk menyapa pembeli. Siwon pun ikut membungkuk dan tersenyum. Hebat sekali pembeli ini mengalihkan perdebatan mereka?

“Jogiyo, apakah orang itu pernah datang kesini ahjumma?” Siwon mendekati kuping sang ahjumma dan berbisik sambil melirik pembeli yang baru datang dengan pakaian anehnya. “Entahlah, aku juga tidak yakin. Sepertinya pernah tapi mungkin hanya perasaanku saja.”

Siwon mengangguk dan memperhatikan si pembeli itu. “Itu perempuan atau laki-laki sih?” tanyanya dalam hati. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, mengenakan jaket coklat gelap, topi beserta kacamata dan maskernya. Mungkin dia artis, batinnya. Tanpa mengetahui apa yang dibelinya, Siwon sedikit menyingkir dari meja kasir dan mempersilahkan si pembeli itu untuk membayar barang-barangnya.

Siwon semakin mengerutkan keningnya ketika si pembeli aneh menggerak-gerakan jemarinya seolah berbicara dengan gesturnya. “6700 won…” Siwon beralih memperhatikan ahjumma kasir yang seakan mengerti apa yang ditanyakan si pembeli. Lalu si pembeli memberikan uangnya dan pergi begitu saja.

Beberapa saat berlalu namun suasana di dalam sana tak sehangat tadi. Semua berubah jadi sunyi. “Ehem…” Siwon berdehem.”ahjumma, kau kenal orang tadi?”

“Tadi? Yang mana?”

“Yang tadi berpakaian aneh itu!”

“Anni. Aku hanya mengerti saja.”

“Ia bisu?”

“Sepertinya iya. Sepertinya juga tidak. Tergantung darimana kau bisa melihatnya.”

“Oh…” Siwon mengangguk walau tak sepenuhnya ia paham. Ia lalu berpamitan dan keluar dari toko itu segera. Senyumnya yang biasanya merekah lalu memudar ketika ia mengamati dua botol sari gingseng merahnya yang baru saja ia beli dan berpindah ke arah jarum jam arlojinya. Pukul tujuh malam tepat. Ia pun tersenyum miris dan mengadahkan wajahnya untuk menghadap langit malam. Dihirupnya kuat-kuat angin yang ada di sekitarnya seolah esok tak akan pernah ada oksigen lagi dan menghembuskannya seolah ia tak butuh yang namanya cadangan udara di paru-paru.

“Aboeji, inikah yang kau inginkan?” Siwon mengangkat kedua botol sari gingseng merahnya dan membuat sebuah suara denting dengan menabrakan kedua botol seperti gerakan bersulang. Tapi ia melakukannya dengan kedua tangannya. Sendirian.

“Siwon-ah, anakku. Good job!” Ujar Siwon dengan suara yang dibuat-buat seperti laki-laki tua. “Siwon-ah, aku bangga padamu.” Ujarnya sekali lagi. Siwon tersenyum kemudian menatap langit kembali.

“Aboeji, kau lihat aku kan? Aku baik-baik saja. Aku tetap sehat seperti biasanya.” Kata Siwon dalam diamnya. Tak tahu sejak kapan matanya mulai berkaca-kaca. Ia lalu kembali pada pandangan lurusnya dan berjalan kembali ke mobilnya. Ia menaruh barang beliannya di kursi penumpang lalu kembali keluar melalui pintu kiri.

“Ah bukannya itu orang pembeli tadi ya?” Tiba-tiba Siwon menangkap bayangan seseorang di seberang jalan raya. Rasa penasaran luar biasa pun menghantuinya. Tanpa pikir panjang, Siwon keluar dari mobilnya dan menyebrang guna mengikuti orang itu dan sebut saja ketika lampu penyebrang menyala, terlalu banyak orang yang menyebrang dari lawan arah sehingga Siwon kesulitan untuk membuntutinya. Ia pun memutuskan untuk berlari.

“Permisi,kalau boleh…”

Siwon menepuk seseorang dari belakang. “Huh? Siapa kau?”. “Jwoseonghamnida.” Siwon membungkuk dan sedikit malu ketika ia salah menebak orang. Ia menggelengkan kepalanya heran karena ia biasanya tak pernah salah menebak orang. Kalau tebakannya benar, orang aneh itu pasti orang yang pernah bertemu dengannya sebelumnya.

“Ya ampun banyak sekali sih orang-orang yang berpakaian serba hitam.” Siwon semakin dibingungkan dengan masa yang ada di trotoar itu. Dari kejauhan samar-samar akhirnya ia menemukan orang tersebut. Secepat kilat ia mengejar orang itu. Tapi meskipun begitu, Siwon tampak hati-hati dalam mengejarnya. Penasaran, hanya itu saja alasannya.

Di ujung trotoar, orang itu berbelok ke sebuah gang berukuran sedang yang berada diantara dua gedung besar. Siwon dengan sangat hati-hati mengikutinya pula. “Bukankah ini jalan singkat ke arah Chungdam-dong?” batinnya mengira-ira. Dalam lamunannya ia jadi tak sadar bahwa buntutannya telah menghilang. Ia kehilangan jejak atau lebih tepatnya. “Ah! Aku kehilangan!” Kini Siwon berada di pertigaan gang. Kedua gang kanan dan kiri sama-sama sempitnya bahkan hampir tidak ada penerangan kecuali bulan yang bersinar terang pada malam itu.

“Choi Siwon…sadarlah ayo kembali ke mobil…” ujar Siwon menyugestikan dirinya untuk menurut pada pikirannya sendiri tapi ternyata hati kecilnya sangat membandel. Tanpa fikir ia langsung berbelok ke gang sempit di sebelah kanan. Keberanian pun dikumpulkannya. Keringat dingin muncul begitu saja tanpa ia sadari. Tempat ini sunyi dan lembab. Hanya suara hembusan nafasnya yang tidak teratur terdengar begitu lantang di gendang telingannya.

“Permisi…apa ada orang disana?” Siwon tersenyum ketika mendapati sebuah cahaya di ujung gang. Halelujjah! Jalan keluar! Batinnya. Ia pun semakin mempercepat cara ia berjalan. Setiap langkahnya tak urung ia mengingat bagaimana ayahnya tertawa dan siap memeluknya ketika ia sampai di ujung sana. “Aboeji, aku datang…” Siwon tersenyum bodoh karena ia membayangkan sesuatu yang mustahil.

‘bruk’

Siwon  tertelungkup. Tatapan nanarnya akan pelukan ayahnya membuat genangan air mata mengapung di pangkal mata dan menetes di tanah lembab itu begitu saja. Lutut, badan jatuh secara runtut kemudian kepalanya. Ia hanya bisa mengais tanah berusaha membangkitkan tubuhnya namun pukulan hebat yang kedua mematahkan kesadarannya. Anyir, bau anyir.

-to be continued-

[1] Saturi = bahasa dialek orang Busan (seperti dialek Jung Eunji APINK di drama Reply 1997)

Next chapter preview:

“Hancurkan.”

 “Stephanny! Stephanny!”

“Terimakasih. Aku jadi mempunyai alasan mengapa aku mendekatimu.”

 “Jangan diam saja! Jawab aku bodoh!”

 “Hormat! Annyeonghaseyo joneun detektif Byun Baekhyun imnida!”

 “Kau berubah pikiran?”

“Putrimu dalam bahaya!”

 “Saranghae.”

Huweeeee T.T part ini akhirnya jadi juga *claps* bener-bener aku ini apa banget ya FF kok sampe menahun *nangisunyu* (?)  padahal ini buatnya juga baru 4 hari yang lalu dan selesai hari ini. LOLOLOLOLOL jadi maksudnya saya gak bikin selama beberapa bulan karena lagi gak mood *jleb* dan hasilnya jadi begini ;_;  ada beberapa permintaan maaf yang pengen aku sampein.

  1. Terlalu banyak orang tua (?) dan yang tua-tua (?) hadir dalam part ini dan sebetulnya gak penting-penting amet ;_;
  2. Postingan FF ini jadinya SANGAT CEPAT seperti jaringan 3G (?) dari waktu terakhir part 3 yaitu sampai +/- 4 bulan
  3. Aku juga malah mengganti usia tokoh Hong Sunhyung sama waktu kematiannya T.T
  4. Mian SiFany couple enggak aku masukin ke sini dulu dan BAHKAN Tiffanny-nya aja enggak ada. OH HELL WHERE IS MY TWIN TIFFANY?! Pertanyaan itu silahkan disimpen dulu ya readers, saya open gampar kok silahkan gampar saya silahkan ;_;

(?)

By the way aku sisipkan calon suami saya disini *lirikbebek* karena seingatku ada yang pernah request supaya Baek dimasukin jadi cast juga dong dan TADAA~ entah masuk apa enggak aku sumpel-sumpelin aja gitu :3 ohya aku juga me-remake poster FF ini dengan yang versi 2013 (?) karena aku merasa poster FF ku yang lama itu we o we rempong sekali sebagaimana authornya yang gak kalah rempong cyiin (?)

Untuk kedepannya, aku bener-bener butuh dukungan kalian buat melanjutkan beberapa FF ku yang gak kelar-kelar. Terutama FF collab project Kimil Paensi yang aku janjikan bakal aku post tiap dua minggu sekali jadi delay gara-gara MOS, Ponram dan kaum-kaumnya *hiks* termasuk comeback-comeback bias bias ane yang segelondong akhir-akhir ini *prouds*

Yeah… saya tahu saya kebanyakan curhat ;_;

Ok then, if you have any question, wanna chat or suggestion, contact me on…

Twitter                   : @zoompia

Facebook               : Alifia Rahayu Lestari

E-mail                     : parkminhyun@ymail.com

It will be great if we know each other as a friend not as an author and readers C: but don’t forget to leave a comment juseyo ^^

32 thoughts on “Ying Er [PART 4]

  1. Akhirnyaa dilanjutkan jugaa..
    Bertaun taun aku nunggu chingu.. hahahaha..

    Tp sampe part 4 ini aku blm bisa nangkep gambaran ceritanya.. lanjutkan chingu..
    Jgn lama2 yah.. trus buat yg panjang juga ..

    Gumawo chingu..

    • hahaha mian baru dilanjutkan sekarang hehehe miaaan :’)
      mian juga aku buat jadi alur mundur di part ini soalnya aku masih bikin gambaran ending cerita tapi masih belum ada rencana sama sekali makanya dibuat alur mundur T.T ne mudah-mudahan aku sempet bikin yang panjang hehehe gomawo ne chingu udah mau kasi masukan sama mau komentar disini *bow*

  2. Halo thor *tatapmataauthor*
    #mendadakgakuat *lambai2tangankekamera*
    wkwk xD thor ini ff lo blg cepet ?! Asdfghjkl gue sampe sawan duluan nunggu kelanjutannya *kezangkezang* x_X
    okay masuk ke tahap loncat indah *eh maksudnya cerita , gue baca sekali belum nancep diotak jengg,2x ya lumayan,3x baru ngerti tapi tetep aja belum bisa nebak siapa pelaku sebenarnya masih samarsamar ._. Itu tuan hong yg terbunuh dibunuh sama yunho atau ppani sih ane nebak yunho jeng karna tabiat asli dia udah terkuak kan itu hwang byul yg dimaksud buah hatinya si yuyun*re:yunho* ama ppani kan ye?._. Tapi kok pas baca sekali lg si ppani kenapa senyamsenyum kayak kunti pas tau si hong udah inaillahi:/ apajanganjangan ppani darijauh2 hari udh plg ke korea buat ngerencanainnya bongkar rahasia yuyun ke mertuanya terus diemdiem ngerencanain ssuatu yg berbuah kematian hong,buat seolah menyudutkan yuyun?! Ahh complicated gue seolah detektif sok iye ya-,- itu si siwon maksudnya apa kayak orang semprul ngingat babenya?apa babenya udah berpulang ke rumah author*eh. Itu pas dia ngejar manusia berwujud ninja hatori ke jalan cheongdam-dong? Tempat kejadian si hong meninggal? Nah itu orang misterius siapa dah? Klo yuyun? TIDAK TIDAK,BISA JADI BISA JADI*ala escetepe* eh tapi di atas pan katanye perawakannya ga terlalu tinggi,ppani? IYA IYA BISA JADI BISA JADI! Eh tapi bisa jg itu suruhan pihak yg merencanakan ini semua ahhh i dunno lah kepala taylorswift pening>< itu genrenya ada romance tapi kaga ada romantisnya sama sekali perasaan thor,masa iye lo kate siwon megang botol terus senyum2 ingat babenya itu termasuk romantic scene? *pingsannn*
    dikarenakan kepala barbie udah pusing maka berakhirlah komen yg singkat ini saya barbie binti taylor swift pamit undur diri kita berjumpa lagi setelah adzan maghrib yg 1 ini!
    Eh tunggu dulu bisa kali ye apdet ni ff ga pake bulanan, ini bukan sebulan lagi malah setahun sekali kayak nunggu thr beuhhh update per minggu kek min biar gue doain dapet ranking 3 besar biar dapet jalur undangan di Institut Tambal Ban.
    Nah kali ini gue bener2 pamit,seperti janji di chap sebelumnya coment di part ini udah panjang kan? Wkwk udah bisa disebut FF juga kali ye kkk *bow*

    • aduh tiba tiba sakit perut liat komentar kamu chingu XD
      maaf ya seribu maaf chingu sampe sawan nungguinnya :D hahay emang sengaja aku buat nge blur gitu pelakunya biar greget *maksudnyasayamasihbelomkepikiransiapapembunuhnya* biasalah kata guru saya kalo bikin cerita itu yang misteri (?) supaya mencerdaskan cara berfikir pembaca *eaaa* dan ternyata dikau memang cerdas sekali! *tepukkaki* oyaya romancenya siwon sama bokapnya duh hahahaha lawak ah XD kenapa gak kepikiran yak? ya ampun demi Luhan banget dah gak kuat baca komennya…. pokoknya bisa jadi ya ya tidak tidak bisa jadi :D makasih yah udah menuh-menuhin comment box saya (?) di next part komen sampe tumpeh tumpeh yaa MAKASIH GOMAWO ARIGATOU CHINGUUUU :’)))))

  3. Mian nggak comment dari chapt 1 ne #bow di chapt ini banyak misterinya. Semuanya masih jadi misteri
    ditunggu chapt selanjutnya :-)
    Keep write ya!

    • gomawo chinguu *bow* gak papa kok yang penting chingu suka FF abal ini :’) mian gak mengikut sertakan romance sama sekali disinii hiks gomawo pokoknya ne ditunggu kelanjutannya :D

    • hahaha its okay chingu :D miaan disini aku buat alur mundur T.T *bow* mungkin di part selanjutnya aku buat lebih jelas lagi supaya chingu paham nee miaan mian miaan :D tapi aku juga terimakasih ya udah mau komentar disini mudah-mudahan suka :D

  4. aku kurang ngerti critanya di part ini masa :( tiffanynya mana? mana sifanynya thor? u.u lanjot dah.critanya, yg nyambung yah/? wkkw masukin sifany dong peliss ‘3’ gomawo kkk /reader cerewet/ xD

    • jinjja? Ah maaf karena alurnya aku buat alur mundur disini. Tiffany masih jadi teka teki disini soalnya emang aku buat agak misterius dan next part insyaallah aku masukan sifany moment deh ehehehhehe gak papa kok chingu cerewet disini :D gomawo udah mau comment :))

  5. sebenernya bagus… tp ng… aku masih agak bingung…ini alur mundur ya? apa flashback sebelum kejadian ‘itu’ di chapter 1? Semoga bisa dicampur alur maju lagi di chap depan untuk menjelaskan semuanya… aminnn

    • ne mian baru balas sekarang. Mian ya bingung *bow* sebenarnya di part ini itu flashback sebelum Hong Sunhyung meninggal yaitu malam sebelum beliau ditemukan meninggal. Coba perhatikan tanggal kejadian deh chingu :D and sebenarnya aku udah mau post chap selanjutnya karena overall sudah jadi tapi laptopku yang isinya fanfict2 ku rusak dan datanya hilang semua jadi ya terpaksa nyari cadangan laptop dan buat plot yang baru lagi *curcol ne*

      ne amin mudah-mudahan cepet jadi yaaa :D gomawo

  6. Authoorrr!!!! Gyaaaa!!!!
    Sebelumnya aku minta mangap/?*maap kale* karna aku baru komen di part ini…
    Soalnya aku ngebut bacanyaa huaaa seru banget authooorr, bikin penasaraaannn d(>w<b
    Sekian comment aku ._. Maap kalo gaje ._.v *wusshh*terbang*ngilang/?

  7. Thor di part ini aku malah ga ngerti sama sekali jln ceritanya,emg terlalu banyak tokoh yg masukin
    Siapa n kenapa ayah siwon sebenarnya ?
    Yunho juga punya anak hwang byul,marganya hwang sama kaya tiffany.
    Terus stephany model yg sepertinya familiar dengan tuan hong.
    Aku jd bingung ;D

  8. *telat baca.
    tp Ff ini dr part 1-3 baguss bgt
    tp mian part 4 nya kok jd kaya beda cerita gini ya? aku gapaham.-. yg tdny critain tiffany,sekrg nyeritain siapa, :)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s