Black Pearl [Verse 3]

Summary: Karena bagi mereka, kelima gadis itu sangatlah berharga. Bersinar layaknya mentari, tersenyum layaknya bunga yang bermekaran, memberi melodi indah layaknya nyanyian burung-burung. Because those girls are their beautiful black pearls…

Romance/Drama | SHINee & f(x) | Multichapters

PG rated.

The idea originally came from my head, but the characters are belong to their families and God itself.

Black Pearl © Park Sooyun

Verse three for Keyber

Di hari secerah ini, hal yang paling mudah untuk dilakukan adalah berjalan-jalan. Matahari bersinar tidak terlalu terik, angin berhembus pelan dan udaranya terasa sejuk. Cuaca yang bagus untuk pergi ke luar rumah.  

Seorang pemuda berjalan menuju taman dekat sekolah. Ia memakai kaus putih, celana hitam longgar dan topi merah. Dari pakaiannya menunjukkan bahwa pemuda itu akan berolahraga. Terang saja, Kim Kibum atau yang lebih akrab disapa Key memang ingin berolahraga di taman. Mungkin sekedar joging di sana. 

Kebetulan hari ini adalah hari libur. Semester satu telah usai dan ia melewatinya dengan cukup lancar. Nilai-nilainya bisa dibilang lumayan dan ia masuk dalam peringkat sepuluh besar kelas. Sayangnya, nasib baik tidak berlaku untuk sahabatnya, Jonghyun. Sahabatnya itu mendapatkan nilai buruk di bidang akademik dan sepertinya akan mendapat omelan dari ayahnya. (baca: Verse Two)

Sesampainya di taman, Key melakukan pemanasan. Barulah ia berlari keliling taman. Sepuluh menit berlalu, keringatnya mulai bercucuran. Ia mengusap dahinya menggunakan tangan kanan. Setelah tiga puluh menit, ia berhenti dan duduk di sebuah bangku yang dilindungi pohon rindang.

Ia duduk bersandar dan memandangi langit biru. Hal yang sangat jarang ia lakukan, karena ia memang tidak terlalu memperhatikan hal-hal seperti itu.

“Tolong angkat itu.”

Suara yang terdengar membuatnya melirik ke arah sumber suara. Terlihat seorang pria paruh baya dan seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun berada di depan sebuah toko. Pria tersebut mengarahkan si perempuan dan si perempuan mengangkat kardus yang entah isinya apa ke dalam toko. Dahi Key berkerut.

Tidak seharusnya wanita menerima pekerjaan seperti itu. Wanita ya lebih pantas mengerjakan hal-hal yang anggun dan membutuhkan konsentrasi, bukannya tenaga seperti itu. Misalnya memasak, mengurus rumah tangga, mengajar di sekolah dan hal-hal yang semacamnya. Lagipula, orang-orang pasti akan berbisik―mengapa perempuan seperti itu mau bekerja seperti laki-laki. Tidakkah mereka malu atas apa yang diucapkan orang?

Maklum saja, Key lahir di Daegu, sebuah lingkungan yang kebudayaannya masih lugu. Wanita yang mengerjakan hal-hal yang dilakukan laki-laki dianggap tidak pantas. Mereka sepatutnya mengerjakan hal-hal yang selayaknya hanya dilakukan perempuan. Dan pengaruh kebudayaan tersebut masih membekas di batin Key, bahkan setelah ia dan keluarganya pindah ke Seoul beberapa tahun yang lalu.

Karena itu juga, Key memiliki kepribadian dimana ia menganggap pendapat orang-orang adalah sesuatu yang penting. Dulu di Daegu, masyarakat di sana memiliki kebiasaan untuk membuat rumor tentang seseorang. Bila orang tersebut melakakuan hal yang dianggap aneh, maka masyarakat akan berbisik-bisik, membuat gosip yang tidak enak dan biasanya orang tersebut akan dijauhi karena dianggap aneh.

Itu sebabnya Key sangat memperhatikan pendapat orang-orang. Sebisa mungkin ia bersikap sesuai apa yang dituntut masyarakat. Ia tidak ingin dianggap aneh, walaupun terkadang hal yang dilakukan sebenarnya tidak apa-apa.

Setelah beberapa menit duduk di sana, Key merasa tenggorokannya mulai kering. Ia bangkit dari kursi taman dan mampir ke toko untuk membeli minuman. Di dalam toko, perempuan yang tadi ia perhatikan masih ada di sana―mengangkat kardus-kardus dan menyusunnya di sudut ruangan.

Key mengambil minuman di mesin pendingin lalu menghampiri kasir. Seorang perempuan paruh baya melayani pembeliannya.

“Harganya 1.045 won.”

Ia merogoh uang di saku celananya lalu menyerahkannya pada kasir.

“Terima kasih,” Wanita paruh baya itu berpaling ke perempuan-pengangkat-kardus. “Nyonya Jang, kau bisa duduk dulu jika kau lelah.” Perempuan itu tersenyum lalu mengangguk. Dia menghampiri atasannya.

“Aku ingin tahu Nyonya Jang,” kata si wanita paruh baya. “Kenapa kau mau mengangkat kardus-kardus berisi bahan makanan itu? Bukankah itu pekerjaan laki-laki?”

Perempuan bernama Nyonya Jang itu tersenyum kecil. “Aku harus membantu suamiku. Kurasa melakukan pekerjaan laki-laki itu tidak apa-apa, asalkan tidak melanggar peraturan.”

Key mendengus pelan mendengar percakapan antara atasan dan pekerjanya itu. Walaupun hal yang dilakukan bersifat positif, tetap saja jatuhnya aneh, pikir Key. Tetap saja orang-orang akan membicarakan hal itu. Bahkan atasannya sendiri juga begitu, ‘kan? Apa perempuan ini tidak malu? Dia bekerja melakukan pekerjaan laki-laki seolah-olah suaminya tidak bisa mencari nafkah.

Heh, sudahlah… Daripada Key terus berpikir yang jelek-jelek, lebih baik ia pulang.

***

Liburan yang dirasa sangat sebentar hanya dihabiskan Key dengan berkeliling kota, membantu ibunya membersihkan rumah atau sesekali ia berkunjung ke rumah sepupu jauhnya. Terkadang ia keluar bersama Jonghyun. Sahabatnya itu kini terlihat frustasi dengan hidupnya. Key tahu apa yang terjadi pada sahabatnya. Dia diancam ayahnya sendiri untuk memindahkannya ke Amerika jika nilai akdemiknya jelek. Sebenarnya itu agak keterlaluan, pikir Key.

Hari pertama di semester dua, Key langsung berangkat pagi-pagi. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi sehingga ia memutuskan untuk berangkat lebih pagi. Sampai di kelas, ia langsung masuk dan melihat sesosok pemuda sedang berdiri di dekat jendela. Nampaknya dia sedang melamun.

Sudah ia duga Kim Jonghyun akan menjadi orang pertama yang berangkat sekolah pada hari ini. Jonghyun selalu datang pagi-pagi bila terjadi suatu masalah di rumahnya. Katanya, dia tidak betah, karena itu dia berangkat pagi-pagi supaya bisa cepat pergi dari sumber masalah di rumah.

Key pura-pura tidak melihat dan mengambil bangku di tengah. Tak lama kemudian, Jonghyun datang menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Bagaimana nasibmu?” tanya Key.

Pemuda di sebelahnya nampak frustasi. “Buruk sekali, Key… Buruk sekali… Ayahku mengamuk dan mengancam akan memindahkanku ke Amerika Serikat dalam waktu beberapa bulan lagi.”

“Ya ampun… Ayahmu benar-benar keras kepala.”

“Tolong bantu aku, Key,” pinta Jonghyun dengan wajah memelas.

Key menghela napas. “Memangnya apa yang bisa kubantu?”

“Ayah berkata beliau tidak perlu memindahkanku ke Amerika Serikat bila aku mendapatkan nilai delapan untuk Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi. Tapi itu tidak mungkin!”

Key mengangguk-angguk sambil mengelus dagunya. “Itu mungkin-mungkin saja, Jonghyun,” gumamnya.

“Heh? Bagaimana caranya?”

“Kita akan meminta bantuan sepupuku. Dia sangat cerdas, bahkan kecerdasannya hampir sama dengan Onew hyung yang sudah lulus.”

Mata Jonghyun bersinar-sinar. Tapi pemuda itu kembali ragu. “Tapi… apa benar-benar bisa? Walaupun yang mengajariku Fisika adalah Einstein sekalipun, kurasa semuanya akan mustahil.”

“Hei, jangan putus asa begitu, Kim Jonghyun!” seru Key sambil memukul pelan bahu sahabatnya. “Kau bilang musik adalah hidupmu, ‘kan? Sumber kesenanganmu? Kalau itu memang benar, kau harus mengejarnya! Jangan biarkan ayahmu merusak kebahagiaanmu! Buktikan bahwa kau juga bisa dalam bidang akademik walaupun tidak menjadi seorang expert!”

Jonghyun tersenyum. “Kau memang cerewet, Key, seperti biasanya. Tapi apa yang kauucapkan memang benar. Let’s do this!

“Tumben kau bisa berbicara dalam Bahasa Inggris dengan benar,” gumam Key. “Pulang sekolah nanti kita akan langsung menemui sepupuku di kelasnya.”

***

Sesuai yang ia janjikan pada Jonghyun, ia mengantarkan sahabatnya pada sepupu jauhnya. Sepupu Key bernama Luna. Dia bertubuh mungil, berambut coklat panjang dan kepribadiannya cukup ceria. Setelah mengadakan suatu deal dengan sepupunya untuk mengajari Jonghyun, ia pulang ke rumah.

Sepanjang perjalanan ia tertawa saat mengingat wajah Jonghyun yang nampak seperti orang baru mendapatkan harta dan istri cantik, penuh syukur. Ia rasa itulah ungkapan syukur atas kefrustasian yang dialami Jonghyun.

Key mulai melihat rumahnya. Ia mempercepat lajunya karena ia ingin cepat-cepat pergi ke ruang makan dan menyambar apapun yang ada di sana. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat truk pemindah barang-barang berhenti di depan rumah nomor delapan, rumah milik tetangganya yang berada di sebelah rumahnya. Ia tahu bahwa pemilik lamanya telah menjual rumah itu dan nampaknya seseorang telah membelinya.

Tetangga baru, ya? Hm, ia tidak terlalu tertarik dengan orang-orang baru. Biasanya mereka banyak bertanya dan itu agak merepotkan.

Mata Key menyipit ketika ia melihat seseorang keluar dari rumah itu dan membantu pria paruh baya mengangkat barang-barang. Orang itu nampak seperti laki-laki, bisa dilihat dari model rambutnya yang sangat pendek dan pakaiannya―kaus hitam dan celana longgar dengan warna senada. Namun yang membuat mata Key menyipit adalah wajah orang itu jelas-jelas seperti perempuan!

Jadi, sebenarnya tetangga barunya itu laki-laki atau perempuan? Oh, atau jangan-jangan dua-duanya? Key bergidik. Bagaimana bisa ia mempunyai tetangga dengan penampilan aneh seperti itu?

Perempuan yang nampak seperti laki-laki itu tiba-tiba mengangkat wajahnya dan bertemu pandang dengan Key. Key mengerutkan keningnya lalu masuk ke dalam rumah dan segera bergegas pergi ke ruang makan.

“Tumben kau pulang terlambat,” ucap ibunya saat melihat Key.

“Tadi aku mengantar Jonghyun menemui Luna.”

Nyonya Kim menaikkan sebelah alisnya. “Ada apa dengan anak itu?”

“Jonghyun bermasalah lagi dengan nilai-nilainya, jadi dia meminta bantuan Luna.”

“Ah, rupanya begitu. Luna memang anak yang cerdas, jadi maklum saja sahabatmu itu meminta bantuannya. Nah, sekarang lebih baik kau ganti baju lalu makan siang.”

Setelah berganti baju, Key melesat lagi menuju ruang makan. Ia bergabung dengan ibu dan ayahnya yang sepertinya baru pulang kerja.

“Omong-omong, orang di seberang itu tetangga baru kita?” tanya Key.

Tuan Kim mengangguk. “Ya. Kebetulan tetangga baru itu adalah teman ayah di kantor. Bahkan ayah yang menyarankannya untuk pindah ke sini.”

“Apa Ayah tahu siapa anak perempuan yang kelihatan seperti laki-laki itu?”

“Hm, maksudmu Amber? Dia adalah putri tunggal temanku itu. Well, dari luar memang seperti laki-laki, tapi dia baik. Ayah pernah bertemu dengannya dulu.”

Sebelah alis Key terangkat. Daripada mengomentari lebih lanjut, ia lebih tertarik untuk makan.

***

Sore harinya, Key memutuskan untuk berjalan-jalan di lingkungan rumahnya. Tugas dari sekolah telah dikerjakan usai makan siang, jadi tak ada salahnya ia jalan-jalan sebentar. Sepanjang perjalanan ia terus memikirkan tetangga barunya yang nyentrik itu. Jelas-jelas nama dan wajahnya seperti perempuan, namun penampilannya seperti laki-laki. Apa gadis itu tidak malu bila penampilannya dibicarakan orang lain?

Key berbelok di sebuah pertigaan. Ia berjalan terus ke utara, menyusuri jalanan yang dikelilingi berbagai toko. Daerah ini hanya berjarak sekitar dua ratus meter dari rumahnya. Pada sore hari memang tidak terlalu ramai, namun malam harinya tempat ini akan dipenuhi kendaraan dan banyak orang.

Ia terus berjalan menyusuri trotoar. Namun langkahnya terhenti di depan sebuah toko kue. Matanya menyipit dan menyelusuri isi toko tersebut dari luar jendela. Di sana ada tetangga barunya, berdiri di dekat kasir dan membawa kantung plastik besar yang entah apa isinya.

Amber berbicara sebentar pada kasir dan penjaga toko, lalu dia tersenyum dan membuka bungkusan plastiknya. Sebelah alis Key terangkat begitu menyadari bahwa yang berada di dalam kantung plastik itu adalah toples-toples berisi kue kering. Apa yang akan dilakukan oleh Amber dengan kue-kue kering itu?

Tak lama kemudian, Amber menata kembali barang bawaannya dan keluar dari toko. Dia berhenti sebentar saat melihat Key.

“Ah, kau pemuda yang kemarin itu, ‘kan?” Amber tersenyum. “Aku baru pindah di sebelah rumahmu. Namaku Amber Liu.”

Key balas tersenyum. Namun matanya masih memperhatikan gaya Amber yang berbeda dari perempuan-perempuan biasanya. “Aku Kim Kibum. Tapi kau bisa memanggilku Key. Apa yang kaulakukan di sini?”

“Menitipkan kue kering untuk dijual. Jika laku, keuntungannya akan kusumbangkan ke panti asuhan.”

Jawaban Amber membuat Key kaget. Ia tidak menyangka, dibalik penampilannya yang boyish, ternyata gadis itu mau membantu orang lain. Well, namun hal itu belum bisa mengubah pemikirannya tentang penampilan gadis itu.

“Aku permisi dulu, Key-ssi,” kata Amber. Dia tersenyum lalu pergi.

Sementara gadis nyentrik itu pergi, Key masih terdiam di tempatnya. Matanya terpaku pada punggung Amber. Lalu ia melirik orang-orang yang berjalan melewati gadis itu. Mata mereka sama seperti matanya saat pertama melihat Amber. Menyipit dengan tatapan aneh, lalu orang-orang itu mulai berbisik-bisik. Namun yang aneh adalah Amber nampak nyaman-nyaman saja dengan hal itu. Dia seperti tidak peduli komentar orang-orang di sekitarnya.

Apa gadis itu tidak malu saat dibicarakan orang-orang seperti itu? Key membatin. Pertanyaan itu terus terulang di batinnya yang memang adalah seorang pemerhati pendapat orang lain.

Berhubung hari sudah semakin sore, Key memutuskan untuk melanjutkan acara jalan-jalannya. Ia tidak mau terlalu peduli pada tetangga barunya itu, bisa-bisa ia menjadi penasaran padanya.

***

Hari Minggu telah tiba. Seperti biasanya, yang Key lakukan pada hari libur adalah membantu orangtuanya kerja bakti di rumah. Ia membersihkan halaman depan, mencabuti rumput yang meninggi serta membersihkan parit. Key sudah terbiasa dengan kegiatan seperti ini sejak kecil.

Ia mengangkat kepalanya saat melihat rumah di sebelahnya terbuka pintunya. Seorang gadis berambut pendek keluar dari dalam sana. Dialah Amber, tetangga baru Key yang begitu nyentrik dan unik. Gadis itu membawa sapu lalu mulai membersihkan halaman depan seperti dirinya.

Key kembali fokus pada pekerjaannya. Ia mengambil pasir yang mengendap di dasar parit menggunakan sekop, mengumpulkan pasir tersebut di dalam kantung plastik besar lalu membuangnya ke tempat sampah.

“Kibum, istirahatlah bila kau sudah selesai,” kata Nyonya Kim.

“Ya.” Key menaruh peralatan yang digunakannya di gudang lalu masuk ke dalam rumah. Ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan, setelah itu ia pergi ke dapur untuk mengambil makanan kecil.

Saat ia berjalan melewati ruang keluarga, matanya menyipit begitu melihat Amber di sana. Gadis itu sedang mengobrol dengan ayahnya. Tak hanya Amber, ada juga sepasang suami-istri di ruang itu. Mereka nampak seperti orangtua Amber.

Yang sama sekali tidak terpikirkan di otak Key adalah penampilan orangtua Amber. Ternyata mereka berbeda dengan anaknya. Ayah Amber berbadan tinggi dan raut wajahnya nampak tegas. Sedangkan ibunya terlihat kalem dan sangat… keibuan.

“Kibum, kemarilah,” kata Tuan Kim.

Key menurut. Ia mendekati ayahnya.

“Perkenalkan, ini putraku, Kim Kibum.”

“Senang bisa bertemu dengan Anda,” Key membungkuk.

Ayah Amber tersenyum. “Ya, Minseok sering menceritakan tentangmu. Seorang pemuda yang jago berbahasa Inggris, ya ‘kan?”

Key tertawa kecil. “Aku belum pantas untuk disebut jago. Well, tapi aku memang suka Bahasa Inggris.”

“Kalau begitu, kurasa kau akan cocok dengan Amber. She has the same passion as you.

Perkataan Tuan Liu membuat Key melirik Amber yang berdiri di belakang ayahnya. Gadis itu hanya menatap balik Key dengan tatapan seolah-olah tidak peduli. Key mendengus dalam hati. Dasar gadis aneh.

***

Sementara keluarganya sedang berbincang-bincang dengan keluarga Liu di ruang tamu, Key pergi ke teras rumah. Ia tidak terlalu tertarik dengan obrolan antar keluarga. Key duduk di depan rumah sambil menyesap jus lemon yang dibawanya dari dapur. Mulanya ia hanya duduk sendiri di sana, namun keadaan berubah saat Amber turut keluar rumah lalu duduk di sampingnya.

Namun hal itu tidak membuat Key peduli. Ia tetap cuek dan sibuk dengan minumannya, sedangkan gadis di sampingnya hanya diam sambil menatap kosong ke arah langit. Walaupun ia berusaha untuk tidak peduli, tapi lama-lama ia tertarik dengan gadis itu. Tepatnya dengan penampilan Amber yang benar-benar kontras dengan gadis seusianya. Sekali lagi, konsep tentang pendapat orang lain yang telah terbentuk di dalam diri Key mulai mengambang ke permukaan.

Ia berdehem.

“Kau pindahan darimana?” tanyanya.

Amber menoleh. “Aku pindah dari Los Angeles. Tapi aku sebenarnya berasal dari Taiwan.”

“Masih bersekolah?”

“Tentu saja.”

What grade?

“Senior high school, third grade.”

“Hm, me too.”

Obrolan yang bersifat basa-basi itu terhenti sejenak. Key kembali menyesap jus lemonnya.

“Nice T-shirt.”

Amber melirik pemuda di sebelahnya dengan tajam. “If that was a compliment, then I will thank to you.”

Tanggapan dari Amber membuat Key tertawa kecil. Oh, gadis ini memiliki perasaan yang cukup sensitif rupanya. Jujur saja, ia sendiri juga tidak tahu perkataannya yang tadi dimaksudkan untuk memuji atau sebaliknya. T-shirt berwarna oranye dengan model baseball itu terlihat konyol bila dipakai perempuan, itu menurut Key.

“Don’t you feel uncomfortable with that T-shirt?”

Sebelum pertanyaan sindiran itu dijawab, Amber tersenyum jengkel dan menggerakkan kakinya sedikit. “It’s REALLY comfortable on me. It’s not thight and I love it.”

“Do you know how people will react when they look that T-shirt on you?”

“I know what you mean,” Nada perkataan Amber menjadi tajam dalam seketika. “Yeah, the people who doesn’t know anything about me will get a fun based on my appearance.”

“So, you really don’t care with it?”

Amber menggeleng dengan tegas. “Yeah. I mean, does it make a sense? People’s reactions will not make me happy or comfort.”  Tiba-tiba gadis itu bangkit dari kursi dan masuk ke dalam rumah keluarga Kim.

Key yang masih duduk di teras hanya memandangi punggung sang gadis yang perlahan menghilang. Dahinya mengerut saat mengingat-ingat perkataan Amber.

People’s reactions will not make me happy. Memangnya komentar orang-orang akan membuat kita bahagia?

***

 

Bisa dibilang, hari yang menyimbolkan sebuah penyiksaan batin terhadap anak sekolah telah tiba. Ya, ini adalah hari Senin―hari dimana banyak anak sekolahan yang masih terpengaruh oleh holiday sindrome dan banyak mengeluh tentang sekolah. Sebagai murid yang netral, Key menanggapi hari Senin dengan biasa, tentunya. Tidak ada kesan buruk ataupun baik tentang hari Senin.

Kali ini, ia berangkat agak terlambat. Lima menit sebelum bel berbunyi. Seperti biasanya, ia akan duduk di sebelah Jonghyun. Ia menduga akan menerima serangkaian komplain dan ungkapan kekesalan Jonghyun tentang sekolah atau keluarganya. Namun pagi itu diawali oleh ketenangan yang tidak pernah ditunjukkan Jonghyun sebelumnya. Malah temannya itu sedang menekuni sebuah buku Biologi. Key hanya menggeleng-geleng.

Waktu berlalu hingga tiba saatnya untuk istirahat.

“Kau mau ke kantin?” tawar Key.

Jonghyun menggeleng. “Nanti saja. Aku sedang belajar. Tanggung.”

Sebuah smirk muncul di wajah Key. “Wah, wah. Tak kusangka pengaruh Luna bisa sedahsyat ini. Oke, selamat belajar.”

Akhirnya, Key pergi ke kantin sendirian. Ia agak kesal saat mengetahui pergi sendirian, karena ia sendiri bukanlah orang yang suka menyendiri. Tapi apa boleh buat? Secara pribadi ia juga lebih setuju Jonghyun belajar ketimbang pergi ke kantin. Untung saja di perjalanan ia bertemu Minho.

Kedua sahabat itu mengambil tempat di sudut kantin dan memesan makanan.

“Jonghyun hyung kemana?” tanya Minho sambil mengunyah sandwich pesanannya.

Key menyesap jus jeruknya sebelum menjawab. “Sedang belajar di kelas.”

“HAH?! Belajar katamu?” Hampir saja Minho tersedak. Sedetik kemudian dia tertawa. “Aku sudah mendengar situasinya, tapi aku benar-benar tidak menyangka Jonghyun hyung akan berusaha sedemikian keras.”

“Aku juga…”

Kedua orang itu kembali menikmati makanan mereka masing-masing. Awalnya Key sedang memakan roti sambil memandangi kerumunan murid yang sedang mengantri. Namun alisnya terangkat sebelah saat melihat sesosok orang yang dikenalnya keluar dari kerumunan tersebut sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.

Smirk muncul lagi di wajah Key. Ia melambai-lambai ke arah orang itu dan membuatnya bingung.

“Amber-ssi! Bergabunglah dengan kami!”

Terlihat Amber menyipitkan matanya. Namun gadis itu tak mau ambil pusing dan langsung menghampiri meja Key dan Minho. Dia duduk berseberangan dengan dua pemuda itu.

Well, terima kasih,” kata Amber. “Mejanya penuh semua.”

Key hanya mengangguk. Matanya memperhatikan penampilan Amber. Gadis itu menata rambut pendeknya lebih rapi dari kemarin dan mengenakan seragam rok seperti siswi-siswi lainnya. Agak kontras sebenarnya, namun rambut yang rapi itu membuat penampilannya terlihat lebih baik.

“Jadi kau bersekolah di sini?”

“Ya. Aku tidak menyangka kau juga bersekolah di sini, Key-ssi.”

“Panggil Key saja,” sanggahnya. Key menepuk pundak Minho. “Perkenalkan, ini temanku.”

Minho tersenyum lalu membungkuk sekilas. “Choi Minho imnida. Aku dari kelas 2-B. Senang berkenalan denganmu.”

Amber membalas senyum itu. “Namaku Amber Liu dari kelas 3-D. Aku baru pindah dari Los Angeles.”

“Wow. Sepertinya kau sudah akrab dengan Key hyung, ya?” Minho melirik Key.

“Dia tetangga baruku,” balas Key dengan nada penuh ketidakminatan.

Amber hanya mengangguk sambil memakan rotinya. Begitu pula dengan Minho dan Key. Ketiga orang itu sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Beberapa saat kemudian, sekumpulan pemuda melewati mereka.

“Heh, berkumpul dengan sejenismu, ya?” tanya salah seorang pemuda tersebut.

Telinga Key langsung berdiri. Ia tahu pasti apa yang sedang terjadi di sini. Pem-bully-an terhadap siswa baru. Karena ia tidak suka pem-bully-an, ia menolehkan kepalanya dan menegur adik kelasnya itu.

“Jangan berkata kasar pada perempuan,” kata Key datar.

Pemuda yang lain langsung menimpali, “Memangnya orang seperti dia pantas disebut perempuan?”

Begitu ucapan tersebut dilontarkan, Amber bangkit dari kursi. “Terserah apa kata kalian. Aku hanya ingin makan dengan tenang, tapi nampaknya kalian tidak akan membiarkanku melakukan hal itu. Jadi aku akan pergi. Lagipula kedua temanku ini akan terganggu.”

Dan gadis itupun pergi.

Ya! Pergi sana!” usir Minho.

Key hanya terdiam di tempatnya. Ia memperhatikan punggung Amber yang hampir tidak kelihatan. Dalam hati ia memuji sikap Amber yang sangat tenang saat menghadapi ejekan yang sesungguhnya sangat keterlaluan seperti itu. Namun idealismenya memaksanya untuk mengingat bahwa setiap hal yang berbeda dengan pandangan masyarakat pasti akan berbuah pada ejekan.

***

Karena Jonghyun sedang asyik dengan hobi barunya (yaitu belajar), maka kini Key lebih sering bersama Minho. Terkadang mereka pergi ke kantin bersama. Atau Key akan mengajak Minho ke perpustakaan untuk membantu sahabatnya itu beberapa materi yang ketinggalan. Karena Minho adalah tipe murid yang hampir sama seperti Jonghyun. Tapi setidaknya dia lebih baik dalam pelajaran Matematika dan Kimia.

Kini kedua sahabat itu tengah berada di perpustakaan. Usai pulang sekolah, mereka langsung ke sini. Minho memiliki problem dalam salah satu materi Biologi dan meminta bantuan Key.

“Maksudnya bagaimana, sih?” tanya Minho sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Perbedaan sel prokariotik dan eukariotik terletak pada membran inti. Tapi aku tidak paham.”

“Jadi, sel prokariotik itu tidak memiliki membran inti sehingga inti selnya tidak terlihat dengan jelas karena menyebar. Sedangkan sel eukratiok memiliki membran inti. Itu sebabnya sel eukariotik memiliki inti sel yang jelas karena ada dinding membran yang membatasinya.”

“Ah, begitu ya~” Minho mengetuk-ngetukkan dagunya menggunakan pulpen. “Eh, tapi aku juga tidak mengerti tentang kompleks Golgi. Di buku ini strukturnya terlihat seperti tulang belakang manusia.”

Key mengangguk. “Memang. Kompleks Golgi terdiri dari tiga bagian, yaitu sakula, mikrovesikel dan vesikel sekretoris.”

“Hah? Vesikel sekretaris?”

Key menatap Minho dengan datar. “Yang benar itu vesikel SEKRETORIS!”

Minho tertawa. “Hehehe, maaf ya. Lalu sebenarnya kompleks Golgi itu fungsinya apa?”

“Sebagai alat sekresi.”

“Oke, oke.” Minho menuliskan beberapa penjelasan Key di buku catatannya.

“Hei, aku melihat buku itu lebih dulu!”

Suara yang terdengar akrab itu membuat Key menolehkan kepalanya. Ia melihat Amber sedang berdebat dengan dua orang laki-laki. Sepertinya gadis itu sedang mengalami pem-bully-an. Lagi.

Tanpa buang waktu, Key bangkit dari kursinya dan menghampiri gadis itu.

“Kenapa kalian membuat keributan di perpustakaan?” tanya Key datar.

“Aku ingin meminjam buku ini, tapi malah perempuan aneh ini merebutnya dariku,” adu salah seorang siswa laki-laki tersebut.

“Aku yang melihatnya lebih dulu,” kata Amber.

Ya! Kami yang mengambilnya dulu. Siapa cepat dialah yang dapat!”

“Sudah, sudah,” lerai Key. “Lebih baik kalian pergi!”

Kedua siswa laki-laki itu pergi dengan senyum puas di wajah mereka. Amber yang kalah dari perdebatan itu hanya menghela napas.

“Apa kau benar-benar membutuhkan buku tadi?” tanya Key.

“Tentu saja,” sahut Amber. “Jika tidak, maka aku tidak mau repot-repot berdebat dengan dua orang tadi.”

“Kebetulan aku punya buku dengan judul yang sama. Wanna borrow it?”

Amber melebarkan matanya. “Oh, benarkah? I will be glad if you don’t mind to do it.”

“Of course. Come to my house at 5 p.m.”

Sebuah senyum merekah di wajah Amber. “Wow, terima kasih banyak, Key. You help me a lot.”

“No problem.”

Gadis itu membungkuk lalu pergi dari perpustakaan. Key memandangi punggung gadis itu untuk sesaat lalu kembali ke tempat Minho berada.

“Wah, wah. Sepertinya hyung tertarik dengan dia.”

Key melirik Minho tajam. “Kenapa kau bisa berpikir begitu?”

“Habisnya hyung jarang mengurusi perempuan, sih,” sahut Minho. “Apalagi dengan perempuan seperti Amber yang berbeda dari perempuan-perempuan lainnya.”

Perkataan Minho tidak ditanggapi oleh Key. Ia duduk di sebelah sahabatnya dan pura-pura sibuk dengan buku.

“Sebenarnya hyung merasa tidak ‘sreg’ dengan cara berpakaiannya, ‘kan?” tebak Minho. “Aku tahu bagaimana sifat hyung yang tidak suka melihat sesuatu yang berbeda dari biasanya. Hyung merasa ingin ‘membenarkan’ penampilan Amber, tapi kau tidak tahu caranya.”

“Kenapa sekarang malah kau yang membicarakan Amber, hah?” Key menyahut dengan kesal. “Biasanya kau paling anti membicarakan perempuan.”

Minho mencibir. “Itu karena Amber adalah perempuan kedua yang tidak bertingkah seperti fans idiot saat bertemu denganku.”

“Yang pertama adalah gadis itu, ‘kan? Siapa namanya―ahk! Aku ingat. Jung―”

“Sudahlah…” Minho memotong ucapan Key. “Aku tidak mau membicarakan gadis itu.”

“Memangnya kenapa?” goda Key. “Kulihat dia baik dan berteman akrab dengan adikmu.”

Minho memanyunkan bibirnya saat melihat senyum kemenangan di wajah Key. Dalam hati ia menyesal telah menggoda sahabatnya itu lebih dulu. Ia memang tak akan pernah menang bila berdebat dengan seorang Kim Key Kibum.

***

Sesuai dengan janjinya, Amber mendatangi rumah Key pukul lima tepat. Pemuda itu terlihat antusias untuk meminjamkan bukunya pada Amber. Meski raut wajahnya nampak datar-datar saja, tapi pemuda itu telah duduk di teras rumah sejak pukul setengah lima sore dengan sebuah buku yang tergeletak di sampingnya.

Amber menyeberang jalan lalu memasuki halaman rumah keluarga Kim. Ia tersenyum pada Key yang melambaikan tangannya.

“Terima kasih banyak,” kata Amber setelah menerima buku itu dari Key.

“Sama-sama,” balas Key. “Hm, hari-hari pertamamu di sekolah sepertinya terasa berat, ya?”

Amber tertawa. “Tidak juga kok. Kebanyakan murid-murid yang lain memang seperti itu.”

Sebuah kerutan terbentuk di kening Key. “Kau tidak sedih dengan perlakuan mereka? Atau setidaknya marah.”

“Tidak,” jawab Amber sambil menggeleng pelan. “Yah, ada sedikit perasaan sedih sih. Tapi hanya sedikit. Lagipula aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan perlakuan mereka.”

Key terdiam sejenak. “Tapi kau tidak bisa hanya menerima perlakuan dan ejekan mereka, ‘kan? Seharusnya kau berbuat sesuatu.”

“Berbuat apa? Dengan mengikuti kemauan mereka sehingga aku berhenti diejek?” tanya Amber. Ia tertawa kecil. “Hell no. Aku tidak berbuat kesalahan apapun dan aku ingin menjadi diriku sendiri.”

Sebuah bantahan ingin keluar dari mulut Key, namun nyatanya pemuda itu tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia tetap terdiam meskipun jantungnya berdebar dengan kencang karena konsep pemikirannya tengah didebat oleh seorang perempuan.

Akhirnya, Key dapat mengatakan sesuatu. “Lalu jika kau terus diejek dan diperlakukan seperti itu, apa kau akan tetap bertahan?”

Amber mengangguk mantap. “Ya. Keluargaku saja tidak ada masalah dengan hal itu, lalu kenapa orang-orang di sekitarku begitu menganggapnya sebagai sesuatu hal yang patut untuk diejek?”

“Aku benar-benar heran denganmu.”

“Kenapa begitu? Kurasa perkataanku cukup mudah untuk dipahami.”

Key mengendikkan bahu. Ia terlalu malas untuk menjelaskan. Sejujurnya ia heran dengan Amber. Tidakkah gadis itu merasa sakit hati atas apa yang dilakukan teman-temannya? Lagipula, dia tahu apa yang membuat orang-orang itu mem-bully-nya, yaitu karena penampilannya yang seperti laki-laki.

“Aku tidak tahan melihat orang lain di-bully dan kurasa kau tahu kenapa mereka mem-bully-mu. Jika kau sedih, ubah saja penampilanmu. Setelahnya mereka akan berhenti mem-bully.”

Mata Amber menyipit. “That advice only happen to a loser.”

Perkataan gadis itu membuat Key tersinggung. “What did you mean with that?! Are you trying to say that I’m a loser?!”

“If you feel so, then you can think like that.”

Key baru saja akan mendebat Amber sebelum gadis itu membalikkan badannya dan pergi begitu saja. Tanpa berbalik, Amber mengangkat tangan kanannya dan berseru, “You’re really annoying. But thanks for your book.”

Pandangan Key menajam. “Cih. What a troublesome girl!”

***

Bel tanda pulang sekolah tak lantas membuat Key langsung meninggalkan kelasnya. Ia mengerjakan tugas-tugasnya dulu sehingga di rumah ia tinggal meringkuk saja di tempat tidur. Setelah selesai, ia membereskan buku-bukunya lalu pergi ke luar kelas.

Saat sedang menyusuri koridor sekolah, Key melihat sesosok orang yang dikenalnya sedang duduk di depan teras kelas. Ia menghampiri orang tersebut.

Are you not going home?”

Amber menolehkan kepalanya dan tersenyum. “Yeah. I want to stay here for a minute.”

Key menatap gadis di hadapannya. Perlahan, ia duduk di samping Amber.

“Is there something happen?”

“Nothing.”

“Is this about those brats?”

Tertawaan keluar dari mulut Amber. “No, no, no. Definetely not. I will not get angry just with that.”

Sebelah alis Key terangkat. “Those brats said really bad thing to you and you didn’t angry with them? Jarang sekali ada orang seperti itu.”

Well, I’m used to it. Sudah banyak orang yang berkata begitu.”

Rasa heran makin menumpuk di hati Key. Ia tidak tahu kenapa gadis ini begitu entengnya menanggapi gunjingan-gunjingan orang yang tidak enak didengar itu. Sekali pun sudah terbiasa, bukankah hal itu tetap terdengar menyakitkan?

“Lagipula aku tipe orang yang tidak terlalu peduli pada komentar orang lain,” tambah Amber.

“Bagaimana bisa kau tidak peduli?” tanya Key cepat. “Maksudku, kita hidup di masyarakat dan komentar orang-orang pasti adalah sesuatu yang selalu kita dengar. Jika mereka berkomentar negatif, tidakkah kau merasa resah?”

Amber mengedipkan matanya beberapa kali. “Resah? Untuk apa resah pada hal konyol seperti itu?” Perlahan Amber menyipitkan matanya. “Don’t tell me if you listen to those people.”

“Yeah, I do,” sahut Key.

So, what’s the matter?”

“I don’t know why you look so comfortable with those pranks. When they make a fun based on your appearance, you really don’t care,” Key mengerutkan keningnya heran. “Kenapa?”

“Karena komentar mereka tidak akan membuatku bahagia,” jawab Amber. “Kurasa membicarakan hal ini akan sia-sia saja, Key. Jelas sekali kita memiliki idealisme yang berbeda. Ini sama saja seperti acara debat antara penganut atheisme dan maniak agama. Tolong jangan picu perdebatan yang sama seperti saat aku meminjam bukumu.”

Gadis di sebelahnya menghela napas lalu memalingkan wajah. Suasana canggung kembali menyeruak di antara mereka. Key menggerak-gerakkan kakinya, namun dia tidak berbicara apapun. Ingin sekali perdebatan tadi ia lanjutkan. Tapi raut wajah Amber yang nampak kesal tidak akan membantu. Justru hal itu akan membuat suasana bertambah panas.

“Kita pulang saja, yuk,” ajak Key.

“Sudah kubilang aku ingin di sini dulu.”

Key berdecak. “Ini sudah hampir sore hari. Ayo. Aku akan mentraktirmu bubble tea di jalan.”

Merasa tidak bisa menolak, Amber hanya memutar matanya lalu bangkit dan mengikuti langkah Key.

***

“Kenapa kau mentraktirku?”

Key melirik gadis di sebelahnya dari sudut matanya. “Memang kenapa? Sudah untung ditraktir.”

“Bukan begitu,” sahut Amber jengkel. “Bukannya kau ini orang yang begitu memperhatikan komentar orang-orang? Lalu kenapa kau masih mau berjalan bersamaku? Orang-orang pasti akan melihatku dengan pandangan yang aneh. Dan kau yang berada di sebelahku pasti akan kena getahnya juga.”

Perkataan Amber lama-lama membuat Key jengkel karena perkataan gadis itu ada benarnya juga. Jika ia begitu memperhatikan pendapat orang-orang, lalu kenapa ia masih bertahan berada di dekat Amber saat orang-orang di sekeliling mereka memandangi mereka dengan aneh?

Kini Key mulai mempertanyakan idealismenya sendiri.

“Don’t start a fight with me.”

“I’m not! I just aksed you.”

Meskipun menunggu hingga beberapa saat, namun pertanyaan itu tidak kunjung dijawab oleh Key. Pemuda itu justru semakin asyik meminum bubble tea­-nya.

“Kau bilang kau sudah terbiasa dengan komentar sinis orang-orang tentangmu,” kata Key. “Tapi kenapa kau bisa terbiasa dengan itu? Bukannya itu menyakitkan?”

Untuk sesaat Amber terdiam. Dia menyesap bubble tea-nya lalu menghela napas. Perlahan, gadis itu tersenyum. “Pada awalnya memang menyakitkan. Tapi memang inilah apa yang membuat diriku nyaman. Dulu aku sering menangis bila teman-temanku meledekku. Namun aku hanya berusaha untuk sabar. Toh yang kulakukan bukanlah sesuatu hal yang melanggar hukum, meskipun itu bertentangan dengan pandangan kebanyakan orang. Lagipula, jika aku mengikuti pandangan orang lain yang tidak sesuai dengan kehendakku, itu hanya akan membuat diriku tidak nyaman. Bila hal itu yang terjadi, maka pendapat orang-orang tidak terasa penting bagiku.”

Perkataan Amber terasa menohok konsep hidup yang selama ini melekat di batin Key. Pemuda itu hanya diam sambil memikirkan baik-baik perkataan Amber.

Tidak selamanya apa yang dikatakan orang-orang itu begitu penting dan harus dijadikan pedoman hidup. Dan bukannya kebahagiaan diri sendirilah yang terpenting? Bukan apa yang diminta orang-orang.

Masyarakat seringkali meminta kita untuk menjadi ini dan berbuat itu. Jika hal tersebut tidak sesuai dengan keyakinan kita, maka pantaskah hal itu untuk tetap dilaksanakan? Apapun keputusan yang kita buat dan berasal dari keinginan sendiri―meskipun berbeda pandangan dengan masyarakat―tidak apa-apa untuk dilakukan. Asalkan hal tersebut tidak melanggar asas dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Key merasa di hatinya terpercik seberkas cahaya. Seolah-olah ia menemukan hal baru yang menggantikan konsep lama dalam hidupnya. Seolah-olah otaknya ter-restart oleh perkataan Amber.

Menjadi diri sendiri adalah hal yang paling penting. Jauh lebih penting dibanding menjadi seseorang yang diinginkan masyarakat.

Jadi, konsep yang selama ini diketahuinya ternyata salah?

***

“Terima kasih.”

Ucapan datar nan cuek itu membuat Key mengalihkan pandangannya dari novel yang sedang ia baca ke gadis yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Ia menutup novelnya, menatap langit dan mendesah.

“Kau ini benar-benar tidak tahu sopan santun, ya? I borrowed you my book so you can worked on your assignments. And you only said ‘thank you’ in a flat way…”

Amber hanya menggumam tidak jelas sambil menyerah buku milik Key yang dipinjamnya beberapa hari lalu.

“Kenapa sendiri?” tanya gadis itu.

“Minho sedang mengikuti turnamen basket, sedangkan temanku sekelasku, Jonghyun, pergi untuk melakukan kegiatan barunya.”

Kedua orang itu terus mengobrol sepanjang jam istirahat di teras kelas. Sesekali Key memicingkan matanya saat beberapa siswa berjalan melewati mereka dan menimpali Amber dengan tatapan yang aneh. Bahkan ada gerombolan siswi yang sangat kentara sedang membicarakan Amber, karena sedari tadi mereka terus berbisik-bisik sambil melirik ke arah gadis itu. Namun sekali lagi, Amber tetap cuek.

Dan Key merasa kagum dengan gadis itu. Dia mampu mempertahankan kepribadiannya walaupun dalam kondisi ter-bully seperti ini.

“Kau tahu murid baru yang bernama Amber Liu?”

Telinga Key langsung berdiri saat mendengar siswi-siswi yang berada tak terlalu jauh darinya sedang bergosip.

“Tentu saja. Semua murid di sekolah ini tahu. Gadis aneh yang penampilannya seperti laki-laki, ‘kan?”

“Ya. Aku penasaran apakah dia pernah berpacaran atau belum. Maksudku, apa ada laki-laki yang mau dengannya?”

“Heh, aku sih justru penasaran dengan orientasi seksualnya. Biasanya perempuan tomboy itu menyukai sesama, lho.”

“Serius?!”

Sesuatu di dasar perut Key rasanya ingin meledak. Perkataan siswi-siswi itu kelewat kasar. Bagaimana bisa mereka bergosip bahwa Amber menyukai sesama? Itu sama sekali tidak masuk akal. Key melirik Amber yang duduk di sebelahnya. Gadis itu hanya tertunduk menatap lantai. Sudah pasti Amber mendengarnya.

Key merasa kasihan padanya. Ingin rasanya ia bangkit dari kursi, menghampiri siswi-siswi yang doyan bergosip itu seraya berkata, “Memangnya salah jika dia berpenampilan seperti yang dia inginkan? Bukankah hal itu tidak menyebabkan kerugian apa-apa bagi kalian? Lalu kenapa kalian mempermasalahkannya?”

Tiba-tiba Amber bangkit lalu pergi meninggalkannya. Key tidak melakukan apa-apa. Satu hal yang ia ketahui tentang wanita: jangan pernah mengganggu mereka disaat perasaan mereka sedang memasuki tahap sensitif. Dan Amber jelas-jelas sedang berada dalam tahapan itu.

***

Langit sedang cerah-cerahnya, berbanding terbalik dengan mendung yang sangat kentara di wajah gadis itu walaupun dia berusaha untuk menyembunyikannya. Ia harus mengakui, gadis itu adalah perempuan tertangguh yang pernah ditemuinya. Pernah ia berkata pada gadis itu bahwa penampilannya begitu aneh dan jelas membuat gadis itu tersinggung. Namun keesokan harinya, kekesalan seolah hilang dari batinnya dan dia dengan gayanya yang khas kembali menyapanya dan orang-orang lain, bahkan murid yang pernah mem-bully-nya.

Dan ia sangat kagum dengan hal itu. Bagaimanapun juga, Amber tetap memelihara sikapnya yang easy going dan ramah walau orang-orang terus mengolok-oloknya. Jujur saja, ia sendiri tidak mampu untuk bersikap seolah tak ada apa-apa terhadap sekelilingnya.

Key menunduk sebentar, lalu kembali memandangi punggung Amber. Dengan pelan ia berjalan menghampiri gadis itu dan duduk di sebelahnya.

Ia berdehem. “Bagaimana keadaanmu?”

Ada sedikit jeda sebelum Amber menjawab. “Aku berusaha untuk merasa baik.” Dan sebuah senyum kecil menghiasi wajah itu.

“Sebaiknya kau jangan pedulikan perkataan konyol mereka. Itu sama sekali tidak masuk akal.”

“Memang itu yang kulakukan…” Amber termenung dan mengetuk dagunya dengan jari. “Apa kau juga…?”

Sebelah alis Key terangkat. “Apa?”

“Apa kau juga berpikir bahwa aku ini… menyukai sesama?”

Mata Key membulat. Ia menggeleng cepat. “Tentu saja tidak! Dengar, meskipun aku pernah berpikir bahwa penampilanmu sangat aneh, tapi ‘homoseksual’ tidak pernah mampir di kepalaku saat aku melihatmu.”

Senyum Amber melebar. “Syukurlah masih ada yang menganggapku normal. Terkadang orang-orang benar-benar membalikkan punggung mereka seratus delapan puluh derajat terhadapku.”

“Dan kau tidak boleh menyerah hanya karena hal itu,” sambung Key.

Amber menoleh dan memperhatikan Key lekat-lekat. “Kurasa baru seminggu yang lalu kau menyuruhku untuk mengubah penampilanku. Dan sekarang kau malah berkata supaya aku tidak menyerah? Heh, dasar pemuda labil.”

Key mendengus. Namun ia tidak berkata apa-apa, karena perkataan Amber memang benar. Pemikirannya berubah hanya dalam waktu satu minggu? Apa itu artinya?

“Tapi, aku sangat berterima kasih padamu.”

“Untuk apa?”

Amber tersenyum lalu tertawa pelan. “Well, walaupun dari awal pemikiran kita benar-benar berbeda, tapi kau adalah teman pertamaku di Korea. Yang kutahu adalah kau merupakan tipe konservatif―kuno dan selalu memperhatikan pendapat orang lain. Tapi entah kenapa aku bisa berteman dengan orang sepertimu, yang berbeda pemikiran denganku.”

Perkataan Amber membuat Key tercengang. Ia menatap mata gadis yang duduk di sampingnya, tanpa berkedip hingga matanya terasa kering. Samar-samar ia dapat mendengar detak jantungnya sendiri yang terus naik kecepatannya.

Ia sendiri merasa heran. Bagaimana bisa ia dekat dengan seseorang yang benar-benar berbeda pemikirannya dengannya?

Sedetik kemudian, Key mengumpat dalam hati saat ia mengetahui jawabannya. Rasa penasaran memang dapat membawa perasaan ke arah tak terduga, bahkan mengubah pemikiran menjadi seratus delapan puluh derajat. Hm, sialan.

***

Entah kenapa, kini semuanya terasa berbeda. Semenjak ia bertemu dengan Amber Liu, mengenalnya lebih lanjut dan mengerti alasan kenapa gadis itu begitu tegar saat orang-orang membalikkan punggung mereka terhadapnya…

Key termenung di kamarnya, memandang buku Kimia yang tadi dibacanya dengan tatapan kosong sambil memangku dagunya menggunakan tangan. Mata Key melirik kalender meja dan dalam hati ia menghitung. Sudah lebih dari sebulan sejak ia bertemu dengan Amber. Meskipun kesan pertemuan pertama mereka lebih banyak negatifnya, namun mereka bisa berteman dengan baik.

Ingatan Key mundur ke satu hari sebelumnya, hari dimana ia melihat sisi diri Amber yang berusaha untuk tetap kuat. Bahkan disaat topik paling sensitif disinggung, gadis itu tidak menampakkan kemarahannya. Dia hanya pergi dan mengabaikan komentar orang-orang di sekitarnya.

What a strange girl. She’s so strong, independent type. Believe in herself, not the people.

Agaknya Key menyadari perbedaan sifat antara dirinya dengan Amber. Jika Amber adalah gadis yang tetap memegang teguh kepribadiannya dan membalas ejekan orang lain dengan senyuman, maka yang ada di dalam diri Key adalah sebaliknya. Memicingkan mata saat orang-orang membicarakan dirinya, menuruti apa kemauan masyarakat. Intinya, ia adalah orang yang bahkan tak mampu mempertahankan keinginannya sendiri karena bergantung pada keinginan masyarakat.

Key tersenyum kecut. Menyedihkan sekali dirinya. Kini ia baru menyadari jika ternyata konsep yang selama ini dipegangnya hanya membuatnya menjadi pengecut.

Ia melirik jam dinding yang ternyata menunjukkan pukul delapan. Tugas sekolah masih ada yang harus diselesaikan dan Key ingin menuntaskannya segera karena tak mau mengorbankan jam tidurnya yang berharga.

Kebosanan mulai menggerogoti dirinya dan ia berhenti sejenak untuk merenggangkan otot-ototnya yang mulai terasa kaku. Key menatap keluar jendela. Matanya menyipit saat melihat sesosok orang yang berada di kamar di sebelah sana tengah melambaikan tangan ke arahnya.

Tanpa sadar, Key tersenyum.

Amber melambaikan tangannya sekali lagi. Gadis itu mengambil buku dan menuliskan sesuatu lalu memperlihatkannya kepada Key.

Aku bosan. Kau mau tidak jalan-jalan denganku?

Key membalas pesan itu dengan cara serupa.

Memangnya kau sudah selesai belajar?

Tentu saja sudah. Kau belum ya?

Tinggal sedikit lagi, sih. Tapi aku juga bosan. Aku akan ke rumahmu.

Tanpa buang waktu, Key bangkit dari kursinya dan meninggalkan meja belajarnya yang masih berantakan.

***

“Memangnya kita mau kemana?”

Gadis di sebelahnya tersenyum. “Aku ingin berkunjung ke panti asuhan. Tidak apa-apa, ‘kan?”

Mata Key melebar. Lantas, ia turut tersenyum. “Tentu saja.” Lalu ia menambahkan dalam hati. Gadis ini memiliki sisi yang sangat berbeda dengan penampilannya.

Kedua orang itu berjalan menyusuri trotoar dan melewati beberapa blok sebelum akhirnya sampai di sebuah panti asuhan. Amber tersenyum lebar saat melihat beberapa anak kecil yang sedang berlarian di teras. Anak-anak kecil itu bersorak saat melihatnya.

“Lihat! Ada Amber nuna!”

“A-yo!” sapa Amber. “Apa kabar?”

Nuna kemana saja?” tanya seorang anak. “Kami merindukanmu.”

“Hehehe~ Sekolahku baru saja mulai dan aku agak sibuk dibuatnya. Maaf karena aku baru datang.”

Key hanya memperhatikan gadis di hadapannya yang sedang berurusan dengan anak-anak kecil. Dari jauh ada seorang pengurus panti yang tersenyum ke arah mereka. Amber menceritakan lelucon konyol dan anak-anak tertawa dibuatnya.

Merasa ini adalah momen milik Amber, Key memutuskan untuk mundur sejenak. Ia berjalan ke arah pohon yang tak jauh dari tempat Amber dan anak-anak bermain, lalu duduk di bawahnya. Matanya tak henti mengikuti arah Amber pergi dan senyum terus saja terpasang di wajahnya.

Beberapa saat kemudian, Amber melambaikan tangannya pada anak-anak dan mereka bersorak sedih. Amber tersenyum lalu menghampiri Key yang duduk di bawah pohon.

“Hanya sebentar?”

“Ya,” Amber duduk di sebelahnya. “Lagipula besok aku akan datang ke sini.”

“Bolehkah aku ikut?”

Pertanyaan itu membuat Amber menoleh. “Kau serius?”

Key mengangguk. “Tentu saja. Omong-omong, kau sering datang ke sini, ya?”

“Begitulah. Aku sudah melakukan hal semacam ini setiap bulan sejak aku masih tinggal di Los Angeles.”

“Oh…”

Keadaan hening sejenak. Key menatap langit berbintang, merenung seolah memikirkan sesuatu. Sedangkan Amber dari tadi hanya memainkan tali sepatunya, mencopotnya lalu memasangkannya kembali.

“Sudah berapa lama sejak kita pertama bertemu?” tanya Key tiba-tiba.

“Uhm, kukira sudah lebih dari satu bulan.”

“Berarti hitungku benar.”

“Memangnya kenapa?”

Perlahan, Key memutar badannya sehingga duduk menghadap Amber. Ia menatap mata gadis di hadapannya dengan serius. “Hanya satu bulan lebih beberapa hari, tapi kau bisa mengubah konsep pemikiranku dengan begitu cepat.”

Amber mengerutkan dahinya. “Apa yang kaukatakan?”

Namun Key tidak mempedulikan pertanyaan itu. “Aku selalu bertanya-tanya kenapa kau bisa menjadi sekuat ini dan bertingkah seolah-olah tak ada yang terjadi. Kau menghadapi olokan dari mereka dengan senyuman dan aku tak tahu kenapa. Seharusnya hal itu menjadi sesuatu yang menyakitkan,” Nada bicara Key menurun. “Aku selalu bertanya begitu pada diriku sendiri. Namun sekarang aku sudah tahu kenapa. Kau ingin menjadi dirimu sendiri. Dan itu berbeda denganku.”

Amber terdiam.

“Aku akan membayar atas ‘pelajaran’ yang telah kau ajarkan padaku tentang kemauan diri sendiri. Jika orang-orang brengsek itu kembali mendatangimu dan mengatakan hal-hal berbau omong kosong, aku akan menghadang mereka. Kau tidak perlu lari seperti kemarin karena aku akan menjagamu.”

Perkataan itu membuat Amber tercengang. Mata gadis itu melebar dan balik menatap Key untuk mencari apakah ada celah-celah kebohongan di balik perkataannya. Perlahan, gadis itu tersenyum.

Tanpa menyadari apa yang sedang terjadi, Key terpaku pada tempatnya saat Amber mulai bergerak ke arahnya. Ia hanya diam saat bibir gadis itu menyentuhnya dengan lembut. Amber menarik dirinya kembali dan senyum masih melekat di wajahnya.

“Terima kasih. Kau adalah satu-satunya lelaki yang berbuat seperti itu. Selain ayahku tentu saja.”

Key turut tersenyum. Ia meraih tangan kanan Amber dan menggenggamnya erat. “Shall we go home now?”

“Sure.”

Mereka bangkit dan berjalan beriringan di bawah naungan bulan dan bintang yang seolah tersenyum pada mereka. Tangan mereka tetap saling bertaut mesra dan tak ada kecanggungan saat mereka melewati orang-orang yang menatap mereka dengan pandangan aneh. Sekarang, Kim Kibum alias Key telah belajar apa makna hidup yang sebenarnya. Bahwa apa yang dinilai masyarakat sebagai baik belum tentu menjadikan diri kita yang baik pula. Justru menjadi diri sendiri adalah nilai yang jauh lebih penting.

“Apa kau tertarik untuk berpacaran?” tanya Key.

Amber pura-pura berpikir. “Hm, kurasa itu tawaran yang cukup menarik.”

“Great.”

Gadis itu tertawa.

Don’t need a map as my guide
My heart will find the right direction
Don’t care about the road ahead
No matter how rugged or how many stops along the way

I raise my sails for a long voyage
And control the wind until the very end
I’ll make the rough sea quiet and gentle
Flowers bloom in the dark
A ray of moonlight is on the sea

When the storm suddenly strikes and roars perilously
Don’t reverse your course, don’t let your trek be stopped
If just because of this you become scared and flinch back
Don’t worry, you still have me to block for you
Oh, my beautiful pearl…

(EXO – Black Pearl)

End of Verse Three

 

 

A/N: Akhirnya setelah lama menunggu inspirasi yang tak kunjung datang, verse 3 telah selesai!! /sujud syukur/

Saya minta maaf kalo membuat para readers nunggu lama. /bow/

Seperti yang kalian tahu, karakter di sini saya buat memiliki pemikiran kuat dan mereka cenderung kolot atas pemikiran mereka. Apalagi karakter Key yang konservatif, untuk membuatnya kelihatan benar-benar kolot, itu membutuhkan waktu sekitar tiga minggu bagi saya untuk membangun karakternya. Yah, walaupun kayaknya malah kelewat OOC. -_-

Udah deh, lewatkan aja bagian curhatnya.

Oh ya, kalau grammar-nya ada yang salah, tolong beritahu saya ya. Walaupun saya ini anggota English Club di sekolah, tapi terkadang grammar saya masih dodol. XD

Jangan lupa buat RCL ya~ ^_^

Park Sooyun

4 thoughts on “Black Pearl [Verse 3]

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s