THE ZODIAC #1

Author: Gita Oetary as Goetary

Cast: Krystal Jung [F(x)], Kim Jong In [EXO], Han Seung Yun [LUNAFLY]

Genre: Romance, Angst

Rating: Teen Adult, PG+17

Length: Two Shoot

Note: well, ini adalah next story dari Painfully Loving You dan Once Upon A Time. Niat awalnya mau dibikin jadi cerita lepas, tapi entah mengapa rasanya kurang sreg dan saya bisa melihat kalau akan ada after after story yang lain lagi. Alasannya karna saya bener-bener cinta sama Kai dan Yun hehehe~ (bias saya nambah mulu).

Saya bukan orang yang taat pada peraturan dasar tulis-menulis (EYD) loh, jadi bagi para reader baru seandainya ada, tolong gak usah bahas masalah itu, karna gak akan ngaruh apa-apa hehehe :mrgreen: Mohon feed backnya yah, saya masih butuh kritik dan saran dari kalian semua, apapun itu akan diterima dengan baik :D jadi kalo bisa jangan cuma komen satu ampe dua kalimat seperti “bagus thor, lanjutttt, dsb.” Saya bener-bener butuh kritik yang membangun dan saran yang bisa bikin ide di kepala jadi subur. Kalau mau mencela saya juga gapapa, itu kehendak orang masing-masing. Tapi sekedar ngasih tau aja nih yah, kalo ngejelekin selera orang, selera castnya ampe authornya sendiri itu sama aja ngejelek-jelekin diri sendiri. Karna pada dasarnya kita menilai orang lain dari cara kita menilai diri sendiri :P  

After all, semoga kalian bersedia Read, Comment and Like (optional) :lol: Jangan jadi plagiat, itu dosa dan saya gak bakal ridho sampe kapan pun. Jangan copas di manapun, baik di fb, atau forum-forum lainnya tanpa minta ijin dulu (gak janji bakal kasih ijin tapi).

Walau terlambat, Mohon maaf lahir batin yah :D

WATCH MV TRAILER HERE

The Zodiac

Prolog

Palu pengadilan akhirnya diketukkan sebanyak tiga kali. Bunyinya memang tidak terlalu keras. Namun mampu membuat seisi dunia seakan membisu, setidaknya bagi wanita itu. Penglihatan Krystal mendadak gelap gulita. Cahaya dalam kehidupannya seolah padam tak menyisakan setitik pun sinar untuk membuatnya bertahan hidup. Seperti lelaki yang telah menjadi matahari dalam kehidupannya yang akhirnya akan pergi selamanya.

Selamanya… terdengar mengerikan.

Krystal menundukkan kepala dan memejamkan matanya kuat-kuat, berusaha untuk tidak menitikkan air mata yang sedari tadi membayangi pelupuk matanya. Ia telah berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan emosinya,  setidaknya sebelum ia sampai ke rumah. Tapi air matanya jatuh juga dari celah-celah bulu matanya yang lebat.

Setelah hampir setahun menjalani kehidupan rumah tangga bersama Kai. Akhirnya putus sudah tali perkawinan mereka. Hanya satu tahun mereka mengecap kebersamaan sebagai sepasang suami istri. Belum juga Krystal menunaikan janjinya untuk mengabdi pada Kai seumur hidup hingga maut memisahkan mereka, ketika suatu malam Kai minta bercerai. Kini, hari-hari selanjutnya mesti mereka lewati sendiri-sendiri.

Kai tidak pernah memberitahu alasannya meminta cerai sampai hari ini. Namun tanpa diberitahu pun, Krystal merasa sudah tahu jawabannya.

“Maafkan aku, Krys. Tapi aku tak akan bisa membalas perasaanmu.” Itu yang dikatakan oleh Kai saat Krystal mengutarakan perasaannya hampir satu setengah tahun yang lalu. Namun dengan rasa percaya diri yang kuat ia malah berkata itu tidak penting, karena yang ia inginkan hanya berada di samping lelaki itu saja. Sampai sekarang pun perjanjian itu tidak masalah baginya, ia tidak pernah merasa jadi pihak yang dirugikan.

Hanya saja, Krystal tak pernah menyangka kebersamaan mereka hanya akan sesingkat ini.

Setelah persidangan usai, Krystal melangkah keluar dari ruang sidang dengan wajah terpekur. Menyusuri lorong-lorong gedung pengadilan itu sambil menghapus air matanya dengan sapu tangan. Menyadari kini sebelah hatinya telah terbawa pergi meninggalkan sebelahnya lagi dalam kondisi hancur lebur. Rasanya pedih. Pedih sekali.

Kai memang memberinya banyak sekali tunjangan cerai beserta rumah yang ia beli saat pernikahan mereka dan dua buah mobil. Tapi Krystal malah merasa seperti jatuh miskin, yang membuatnya takut menghadapi hari esok. Seperti tidak memiliki tempat tujuan, tempat yang bisa ia anggap sebagai rumahnya. Sehingga jika hari hujan ia akan kehujanan, ketika matahari bersinar terik ia bisa hangus terbakar, atau ketika malam terasa dingin mencekam ia tak bisa berbuat apa-apa karena dirinya hanya sendirian. Tak ada Kai yang membuatnya tenang.

Tidak ada Kai lagi…

Tapi sekuat tenaga Krystal menyeret kakinya yang gemetar. Tak ingin menatap ke belakang, karena ia yakin Kai pasti sedang berdiri di sana. Ia tak butuh tatapan iba dari siapa pun, terutama dari Kai yang sudah membuangnya. Berusaha meredam keinginan untuk memandang wajah lelaki yang masih sangat dicintainya itu untuk terakhir kalinya.

 

2013 present

Copyright&Crossposting by Goetary

With all standard disclaimer applied

T H E   Z O D I A C

 

Sore itu ketika pulang ke rumah, Kai mendapati Krystal sedang memberi makan ikan-ikan di pekarangan rumah mereka. Ia lalu menghampirinya.

Krystal tersenyum saat menyadari kehadiran Kai, “kau terlihat capek, ingin kuambilkan sesuatu?” tanyanya.

Kai menggeleng. “Tidak perlu, duduklah disini.” Kai menahan tangan Krystal ketika gadis itu beranjak bangun, ia lalu mengambil bungkusan dari tangannya dan menyebar isinya ke permukaan kolam yang beriak. Ikan-ikan mereka ternyata masih belum kenyang, karena dalam sekejap butiran yang diberi Kai habis dilahap sekawanan tersebut.

Krystal memandangi wajah suaminya lekat-lekat. Menyadari ada sesuatu yang mungkin sedang ia sembunyikan. “Maukah kau memberitahuku, Oppa?”

“Soal apa?” Kai balik bertanya.

“Bagaimana kalau tentang Taemin Oppa?”

Kai menarik napas dalam, “apa yang ingin kau ketahui?”

“Semuanya jika kau tidak keberatan.”

“Itu sudah tidak penting lagi, Krys.”

“Tapi aku masih tertarik untuk mendengarnya.”

Kai memandang Krystal bimbang. Matanya yang menawan menyipit, mencari tahu apa motif di balik pertanyaan istrinya.

“Kau tidak keberatan?”

Krystal menggeleng, “tidak.”

“Kurasa karena Taemin sering di tindas sejak kami satu sekolah,” Kai memulai. “Secara tidak sadar aku hampir selalu ada untuk membelanya. Aku sadar Taemin memiliki fisik yang lemah, karena pertama kali mengenalnya, Taemin sering sakit-sakitan. Bukan penyakit yang serius memang, tapi tetap saja mengkhawatirkan. Suatu hari dia bilang lulus audisi, aku kaget dan cemas.”

“Itu sebabnya kau juga mengikuti audisi?”

Kai mengangguk. “Aku tidak ingin dia sendirian, sesuatu mungkin terjadi padanya ketika aku tidak ada.” Kai mendesah, “dulu aku tidak mengira inilah yang kuinginkan, menjadi idola, menari dan bernyanyi bersama sebelas sahabat baru. Tapi sekarang, aku senang sudah melakukannya.” Kai tersenyum mengingat betapa senang ia memiliki sebelas orang tersebut dalam hidupnya walau terkadang ia ingin memiliki waktunya sendiri.

Diam sejenak sebelum Krystal kembali bertanya, “Oppa, mengapa Ibu Taemin membencimu?”

“Sebenarnya Krys, aku juga tidak mengerti. Tapi setahuku Ibu Taemin memang membenci keluargaku, saat kami pertama pindah ke sebelah rumah Taemin aku sering melihat cara wanita itu memandangku. Memandang Omma juga Appa. Dan caranya menatap kami sama sekali tidak menyenangkan.

“Ketika sadar tiba-tiba saja permusuhan antara orangtuaku dengan Ibu Taemin memuncak. Aku ingat, itu adalah hari pemakaman Ayah Taemin, Orangtuaku datang kerumah mereka untuk melayat, tapi saat melihat Omma, Ibu Taemin melempar sendal ke wajahnya, sambil menghardik ia bilang Orangtuakulah yang membunuh suaminya.”

Wajah Kai terlihat sedih saat Krystal memandangnya.

“Maaf Oppa, seharusnya kita tidak perlu membicarakan hal ini.”

Kai menggeleng seraya memandangi istrinya dengan seksama, “tidak apa-apa, aku juga ingin tahu. Mungkin belum sekarang, tapi suatu saat nanti.” Kai berdiri dan menuntun Krystal bersamanya, mereka berjalan lambat sambil bersisian.

Mendadak Kai menarik pergelangan tangan Krystal tepat sebelum mencapai anak tangga menuju pintu depan, memaksanya berhenti. “Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”

Krystal tidak menjawab, tapi matanya memberikan isyarat agar Kai meneruskan.

“Aku ingin bercerai.”

 

Krystal diam sesaat. Berusaha menyusun kata-kata yang akan ia lontarkan dari bibirnya yang kemerahan. Gadis itu menarik napas dalam. “Aku tahu aku tak berhak, Oppa. Tapi aku ingin diberi satu kesempatan, itu saja.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Aku bisa menjadi pengganti Taemin untukmu. Aku bisa melakukan apa saja.”

Kai membuang muka. “Tak ada seorang pun yang bisa menggantikannya. Kau sekali pun!”

Kai beranjak berdiri dan berjalan menjauh saat Krystal kembali mengutarakan sesuatu.

“Kai…”

Mendengar namanya disebut, dengan marah Kai menoleh. “Cuma Taemin yang boleh memanggilku seperti itu.”

Krystal tidak menggubris ketidaksukaan yang tergambar jelas di wajah tampan Kai. “Aku cinta padamu Oppa.”

“Maafkan aku, Krys.” Kai menggeleng. “Aku tak akan bisa membalas perasaanmu.”

“Tak masalah. Aku tak peduli. Kau tak perlu membalas perasaanku. Kau tak perlu balik mencintaiku,” ujarnya bersikeras.

Kai memutar badannya. “Jadi apa yang kau inginkan dariku Krys?”

“Hanya mengijinkanku untuk tinggal disisimu. Itu saja. Semua itu sudah cukup bagiku.”

“Kau pasti akan bosan padaku.”

Krystal tersenyum lembut, “tak akan, Oppa.”

“Bagaimana jika aku yang merasa bosan?”

Ia menarik napas, menahan air mata yang membuat matanya perih. “Maka aku bersedia untuk menghilang dari hidupmu, selama apapun yang kau inginkan. Sejauh apapun yang kau minta. Tapi kau harus ingat, aku tak akan pernah melakukannya jika bukan kau yang memintanya.”

 

Krystal memejamkan matanya dan tersenyum sedih ketika kilasan memori membobardir ingatannya. Kai masih menunggu jawaban. Ia tahu itu. Tapi rasanya seperti ingin mengulur waktu lebih lama, supaya kebersamaan mereka yang rasanya baru sekejap mata tidak direnggut darinya.

Mata Krystal yang berkaca-kaca, jelas terlihat oleh Kai. Saat ini gadis itu sedang berperang dengan emosinya sendiri. “Aku mengerti.” Gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya, berusaha memastikan dirinya sendiri. “Bukankah aku sudah pernah berjanji, Oppa? Asal kau yang minta, akan kupenuhi.” Krystal memaksakan bibirnya tersenyum, namun jangankan Kai, langit pun tak bisa dibohongi. Betapa sakit hati gadis itu saat ini.

Di akhir musim dingin, sebelum matahari bersembunyi di balik bulan dan malam, hujan jatuh berderai. Serentak dengan air mata yang sejak tadi berusaha dibendung oleh Krystal.

Angin bergemuruh dengan suara menakutkan, memecah petir yang sahut-menyahut. Air hujan terasa menyakitkan di kulitnya yang telanjang. Krystal ingin berlari masuk ke rumah, berlindung dari badai yang menghantam rumahnya, yang memporak-porandakan kehidupannya. Namun setelah usaha yang kesekian kalinya, ia masih tak sanggup bergerak. Seakan kakinya ikut tenggelam terhisap tanah basah.

Kai masih menjulang di hadapannya. Tapi itu tidak lagi penting. Toh tak lama lagi lelaki itu akan segera menjadi orang asing baginya. Namun, meski kemarahan bergolak di hatinya, ia masih berharap Kai mau memeluknya. Sekali saja. Untuk yang terakhir kali.

Sebagai ucapan perpisahan.

 

©G O E T A R Y

Sembari menenteng kantong belanjaan dengan cap nama toko dua puluh empat jam di tangannya, gadis itu berjalan menembus hujan beratapkan sebuah payung berwarna hitam. Malam bulan January yang gelap dan basah oleh hujan yang turun hampir seharian di alun-alun kota Osaka itu sepi. Kawasan yang biasanya dipenuhi oleh pejalan kaki serta warung-warung tenda nampak lengang dan mencekam pada jam segini.

Ano… Onegai shimasu (mohon bantuannya).

Di kejauhan terdengar suara seseorang memanggil, karena takut Krystal meneruskan jalannya. Tapi suara itu kembali terdengar, lebih lirih. Krystal menoleh dan menemukan sesosok pria muda menggigil kedinginan di bawah atap sebuah kedai tutup.

“Boleh aku menumpang sampai di depan? Aku lupa membawa payung, dan teman-temanku membawa mantelku pergi bersama mereka.”

Bahasa Jepang lelaki yang gemetaran itu terdengar fasih. Krystal mengerti yang diucapkannya, tapi bukannya menjawab ia hanya mengangguk menyanggupi. Rasanya tidak mungkin laki-laki itu seorang penjahat. Tampangnya justru seperti anak kucing yang sedang tersesat.

Saat laki-laki tersebut berlari menerobos hujan untuk mencapai bawah payung yang sama dengan Krystal, ia bisa melihat tas gitar yang di sampirkan di bahu lelaki itu. Cukup heran mengapa dia bisa melupakan jaketnya tapi tidak melupakan gitar yang nampaknya berat. Tapi Krystal tidak bertanya apa-apa.

Mereka berjalan bersisian selama beberapa menit. Dari kejauhan, lampu-lampu sebuah kelab malam di ujung jalan bersinar samar dibawah hujan lebat. Mereka menuju kesana.

Osewani narimasu (saya telah merepotkan anda). Boleh kutraktir makan atau minum sesuatu?”

Awalnya Krystal menolak, tetapi si kucing tersesat terus-menerus memaksanya masuk. Krystal tahu kalau ia menolak untuk kesekian kalinya, akan ada keributan di kelab ini. Suara merajuk lelaki di depannya cukup keras untuk membuat orang-orang berpaling pada mereka.

“Kenalkan, ini Sam dan Teo,” ia menunjuk dua pria yang duduk di depan bar dan beralih ke teman-temannya yang lainnya yang ia perkenalkan satu-persatu. “Astaga, aku lupa memperkenalkan diriku sendiri. Panggil saja aku Yun.”

“Aku Krystal, Jung Soo Jung. Tapi tolong panggil Krystal saja.”

“Kau orang Korea?” pekik Yun tak percaya.

Krystal mengangguk.

“Ya ampun! Kenapa tidak bilang dari tadi. Aku juga orang Korea,” Yun menepuk jidatnya dan kembali tertawa.

Krystal tersenyum tipis, lelaki ini cukup aneh, batinnya. Dalam sekejap ia merasa nyaman berada di antara Yun dan teman-temannya yang ternyata juga datang dari Seoul.

 

©G O E T A R Y

Terkadang ia bertanya-tanya, bagaimana ia bisa melewati satu hari lagi setiap hari tanpa Taemin…?

Suara musik dari mesin pemutar berhenti. Kai menghentikan tariannya dengan napas tersengal tidak beraturan. Ia berjalan mengambil handuk yang ia letakkan di sudut ruangan bersama tas dan sebotol minuman, Kai segera meraih minuman tersebut dan meneguknya hingga habis. Dadanya naik turun ketika ia menyodorkan minuman itu pada seseorang.

Gadis itu merebut botol minuman dari tangan Kai dan meneguk udara di dalamnya. Ia mengerling marah pada Kai yang tertawa geli.

“Kau berharap kusisakan ya?” tanya Kai sambil cekikikan.

“Aku juga haus!” wajah gadis itu merenggut.

Kai menarik bahu Krystal hingga dekat sekali dengannya. Dengan nada suara dibuat-buat, ia berbisik menyebut nama gadis itu di dekat telinganya, membuat tubuhnya yang masih dalam pelukan Kai menggelenyar. “Kau dehidrasi, Krys,” godanya lalu segera melepas tubuh gadis itu. Krystal sempoyongan dan hampir terjengkang ke belakang.

Bukannya merasa bersalah, Kai lagi-lagi menggodanya, “jangan berpikir yang nggak-nggak deh Krys, aku ini masih normal. Tidak mungkin menyukai wanita berdada rata sepertimu!”

Kai tergelak. Sementara wajah Krystal semakin tertekuk.

Faktanya, ia senang sekali menggoda Krystal. Gadis itu… selalu enak di permainkan.

Kai tersenyum dalam lamunannya. Ketika tersadar, ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari-cari sumber sumber suara tawa yang tidak asing tersebut. Namun ruangan mendadak senyap. Tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Krystal dengan wajah tersinggungnya lenyap. Satu-satunya suara yang bisa ia dengarkan hanya suara napasnya sendiri. Dan, yang ia lihat hanya pantulan dirinya di cermin.

Kai duduk di lantai kayu ruang studio, menyandarkan punggungnya hingga ia berbaring terlentang. Dengan sebelah tangan ia menutupi matanya, merasa lelah sekali. Sesuatu terasa menusuk dadanya.

Perlahan, dari balik punggung tangannya air mata mengalir.

 

©G O E T A R Y

Sejak hari perceraian diputuskan secara resmi oleh pengadilan, Krystal merasa ia butuh waktu sendiri sejenak. Jadi ia memutuskan untuk pergi ke Jepang. Meski tak tahu apa yang akan ia lakukan kemudian.

Ketika memutuskan untuk bersama Kai, Krystal telah mengubur mimpinya untuk menjadi seorang penyanyi. Promosi yang akan ia terima ditolaknya tanpa sepengetahuan Kai. Dengan begitu, Kai akan mendapatkan kesempatan yang lebih besar. Walau kini Kai telah menjadi seorang idola, Krystal tak pernah menyesali keputusannya waktu itu satu kali pun. Karena ia tahu, yang paling ia inginkan di dunia ini adalah mengabdikan hidupnya pada satu-satunya lelaki yang ia cintai.

Krystal tahu ia tak butuh bekerja. Karena uang tunjangan dari Kai bisa cukup ia pakai hampir seumur hidupnya, apalagi ia hanya sendirian. Namun ia tak ingin terus-terusan berada di rumah tanpa memiliki kegiatan, sendirian membuatnya selalu melihat Kai. Dan itu tidak sehat baginya.

Dulu gadis itu punya banyak sekali mimpi. Namun mimpi terbesarnya adalah terbangun di pagi hari dengan sosok Kai di sampingnya. Kini mimpi tersebut sirna, di ikuti oleh mimpi-mimpi yang telah hilang lainnya.

Hari ini, ketika matahari pagi menyingsing dari timur, dengan tubuh lelah ia meninggalkan sofa yang tidak nyaman di tempati berjam-jam. Krystal sudah beberapa jam tidak tidur semalam. Selama datang ke Jepang, malam-malam ia lewati tanpa pernah tertidur. Ia takut bermimpi, karena di dalam mimpinya Kai selalu muncul.

“Cantik sekali kau Krys!” gerutu Krystal pada bayangannya yang terpantul di cermin kamar mandi. Wajahnya bengkak, dan bayangan hitam mengitari matanya. Ia menepuk-nepuk matanya dan membungkukkan badan untuk membasuh wajahnya dengan air dingin sebelum memutuskan untuk mandi.

Air hangat mengucur jatuh dari pancuran di kamar mandi. Krystal termenung. Bukan karena banyaknya hal yang berkecamuk di pikirannya, sebaliknya, ia tak bisa memikirkan apapun lagi. Sekeras apapun ia berusaha, hatinya terasa kosong. Sebanyak itukah bagian hatinya yang dibawa pergi oleh Kai? Sampai-sampai ia tak lagi merasakan bagian hatinya yang lain. Yang seharusnya masih ia miliki.

 

©G O E T A R Y

Sudah berkali-kali Kai gagal menyelesaikan koreografi terakhir dalam single utamanya untuk album baru. Gerakannya memang cukup sulit. Dalam gerakan tari terakhir, Kai dituntut untuk meloncat di udara sambil berputar-putar, kemudian menjejakkan kakinya ke tanah sebelum melakukan split sebagai tarian penutup. Setelah mencobanya berkali-kali dan gagal, pergelangan kaki kanannya justru terkilir.

Frustasi, Kai menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai kayu dengan bunyi bedebam. Ketika itu seseorang masuk kedalam studio tari.

“Sudah bisa?” tanya suara pria paruh baya bersetelan jas lengkap kepadanya.

Kai melompat berdiri dan memberi hormat pada pemimpin perusahaan agensi tempat ia dan Krystal di orbitkan pertama kali. “Sedikit lagi,” Kai meringis saat ia memaksa kakinya untuk menopang seluruh berat badannya, merasakan tulang kakinya bergeser.

“Apa yang terjadi dengan kakimu?” tanya Lee Soo Man.

Kai menggeleng, “aku baik-baik saja, Seosangnim,” kata Kai menimpali seraya tersenyum.

Lelaki paruh baya itu tersenyum hangat dan mengangguk. “Jangan terlalu keras pada diri sendiri, kalau kakimu terkilir panggil seseorang untuk mengantarmu ke dokter.”

“Aku mengerti.” Kai sekali lagi membungkuk saat CEO itu berjalan pergi.

Setelah kepergian Lee Soo Man. Perlahan-lahan Kai berbalik dan menyandarkan punggungnya ke pintu. Lama ia hanya termenung di sana.

*

Sore harinya Kai pulang ke rumah kontrakan. Penat menghampiri ketika ia melangkahkan kaki ke dalam rumah yang gelap. Dengan perut keroncongan Kai berjalan menuju dapur, membuka penutup saji di atas meja makan.

Biasanya tiap ia pulang bekerja, di atas meja makan ada makanan hangat yang lezat yang tersimpan di sana. Biasanya Krystal selalu menyambutnya di depan pintu bahkan sebelum ia memasukkan kuncinya ke lubang kunci.

Tapi kini tidak ada apa-apa di meja itu. Jangankan makanan, air minum saja tidak ada. Hanya udara kosong. Yang menganga di bawah penutup saji seakan siap mengolok-olok dirinya. Seakan itulah yang disajikan istrinya untuk ia santap malam ini.

Kai memasak ramen dan membawa sekaligus pancinya ke depan televisi. Ia mendesah berat. Tayangan di tv tidak ada yang menarik minatnya, tapi ia tak ingin sendirian. Kalau biasanya Krystal selalu berisik menggodanya dan membuat rumah terasa ramai, kini suara itu tidak lagi terdengar. Suara penyiar di tv tidak sebagus suara Krystal, penyiarnya juga tidak secantik istrinya.

Kai hampir tersedak oleh air matanya sendiri. Tanpa sadar ia selalu membandingkan saat Krystal masih ada dengan ketiadaannya sekarang. Dan ia sampai pada kesimpulan, ia merindukan Krystal.

 

***

Krystal baru saja terbangun dari tidurnya ketika menyadari hari sudah malam. Ia mendesah lalu beranjak dari atas ranjang menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhnya.

Dengan rambut basah, gadis itu kembali ke kamar. Ia duduk di depan meja rias, menatap wajahnya di pantulan cermin untuk waktu yang lama. Seolah mencari sesuatu, yang mungkin kurang sempurna. Tapi siapa pun tahu, wajah Krystal cantik. Ia tak butuh membuang-buang waktu untuk mencari ketidaksempurnaan di wajahnya.

Krystal mengambil sisir dan mulai menyisir rambut panjangnya. Masih dengan ekspresi dingin ia memandangi wajahnya di cermin. Lalu teringat sesuatu.

Ia memandangi selembar kertas kartu nama yang ia letakkan sembarangan di atas meja rias, kemudian segera teringat undangan kucing tersesat yang ia temukan seminggu lalu di bawah hujan deras.

Osaka masih juga di selimuti musim dingin. Meskipun salju perlahan mencair, langit terang berbintang, udara masih terasa beku di kulit. Krystal mengunjungi kelab menggunakan celana panjang, bot selutut serta baju hangat rajut yang dilapisi mantel panjang di bagian luar berwarna merah. Walaupun selalu ingin tampil cantik, malam itu Krystal memutuskan tidak perlu berdandan berlebihan, ia tak ingin Yun memiliki prasangka lain terhadapnya. Jika lelaki itu masih ada di sana tentu saja.

“Krys…! Krys…!” panggil Yun sambil melangkah tergopoh-gopoh menghampiri Krystal. Wajahnya tampak demikian lega ketika akhirnya ia bisa melihat Krystal sebelum malam itu berakhir. Meskipun sebelumnya Yun sudah menyanyikan tiga buah lagu. “Aku menunggumu, kupikir kau tak akan pernah datang.”

Krystal terlihat sedikit bingung dengan sambutan Yun seperti itu. Seingatnya ia tak menjanjikan apapun kepada lelaki ini saat mereka bertemu seminggu yang lalu. Tapi kemudian ia tersenyum kikuk, tak kuasa merasa tersanjung di perlakukan seperti demikian.

Yun bersama Teo dan Sam menyanyikan sebuah lagu ciptaan mereka yang berjudul Superhero. Saat mendengarnya Krystal merasa lagu tersebut tidak terlalu asing di telinganya. Belakangan ia baru tahu dari hasil curi dengar obrolan sekumpulan gadis remaja yang duduk di meja tak jauh darinya, bahwa Yun dan kedua sahabatnya itu adalah grup akustik pendatang baru Korea Selatan yang sukses meluncurkan album pertama mereka di pasaran, kedatangan mereka ke Jepang sendiri untuk konser. Nama grup mereka terdengar lumayan, LUNAFLY.

Sekali lagi Krystal tersenyum kikuk mengakui ketidak pekaannya terhadap industri musik belakangan ini. Ketika gadis-gadis seumurannya masih sibuk membangun karir, ia justru berada di rumah untuk melayani suaminya. Tapi meskipun begitu, tak ada satu pun dari masa lalunya yang ia sesali bersama Kai.

Tiba-tiba saja Krystal merasa sedih. Nama Kai belum sepenuhnya hilang dari ingatannya, justru setelah hampir sebulan mereka berpisah terkadang Krystal masih mengira bahwa hubungannya dengan Kai baik-baik saja. Perceraian mereka tak pernah terjadi. Dan kedatangannya ke Osaka hanya untuk berlibur. Mungkin jauh di dasar hatinya, ia sendiri belum siap menerima keputusan pengadilan.

Senyum menghiasi wajah tampan Yun ketika tatapan mereka bertemu, Krystal terkesiap dengan apa yang tadi menarik perhatiannya meski sebentar. Yun memang sudah tampan saat mereka bertemu pertama kali seminggu yang lalu, tapi malam ini seolah ia baru saja sadar dengan apa yang dilihatnya. Dan yang dirasakannya.

Wajah Krystal bersemu merah, ia berusaha mengusir pikiran yang tadi menyelinap jauh-jauh dari kepalanya. Tapi sebelum ia benar-benar lepas dari pengaruh tatapan Yun, lelaki itu telah berada tepat di depannya sambil menyeringai.

“Apa yang lucu?” tanya Yun penasaran seraya duduk di kursi sebelah gadis itu.

Krystal menggeleng. “Bukan apa-apa,” jawabnya dengan wajah pias.

Untungnya sama seperti Kai, Yun termasuk orang yang pendiam sehingga tidak terus-terusan mendesak Krystal untuk menjawab rasa penasarannya. Mereka berdua sama-sama senang membuat lelucon, tapi tidak selalu cerewet seperti Teo. Ketika melihat persamaan itu, Krystal sama sekali tidak menaruh perhatian dan menganggap kalau hal tersebut hanya sebuah kebetulan, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan karena hal itu.

 

©G O E T A R Y

Krystal sadar kalau dirinya sudah terlalu lama bersembunyi di Jepang. Pada akhirnya ia harus pulang ke rumah. Menjelaskan duduk permasalahan antara ia dan Kai kepada kedua orangtuanya di Seoul yang sedang merasa cemas bukan main. Dari sekian telepon mereka baru sekali Krystal menjawabnya, dan alasan yang ia berikan hanya bisa membuat orangtua dan kakak sulungnya lega selama beberapa hari saja. Ia tidak bisa terus-terusan bersembunyi, sebagai wanita dewasa sudah saatnya ia melanjutkan hidupnya dan berusaha mandiri. Meski tanpa Kai.

Kepulangannya ke Seoul disambut dengan suasana haru di rumah orangtuanya. Krystal yakin sekali seluruh anggota keluarganya sudah berusaha semaksimal mungkin agar ia bisa nyaman pulang ke rumah, dan Krystal tak bisa menyembunyikan penderitaan yang di alaminya.

Ketika akhirnya ia bertemu ayahnya, Krystal segera berhambur memeluk beliau, dan menangis tersedu-sedu. Selama beberapa jam, ayah Krystal mendengarkan semua yang dibicarakan putri bungsunya dengan sabar. Sesekali Krystal bisa melihat mata ayahnya berkaca-kaca namun ayahnya selalu menenangkannya tiap kali Krystal terlihat khawatir.

“Bukan kamu yang harusnya khawatir melihatku menangis, Uri Ttal. Akulah yang seharusnya merasa sedih melihatmu terluka.”

Krystal hanya tersenyum. Lalu kembali memeluk ayahnya lama. Ia senang sudah pulang.

Ibu dan kakak perempuan Krystal yang bernama Jessica tidak menanyakan apa-apa, mereka terlihat sedang berusaha tidak mengungkit masalah perceraian Krystal. Walau Krystal tahu, mereka sebenarnya masih punya banyak pertanyaan walau sudah mendengar pembicaraan Krystal dengan ayahnya di kamar.

 

©G O E T A R Y

Krystal sempat berpikir untuk memulai karir musiknya lagi. Terakhir kali sebelum bercerai dengan Kai, CEO agensi tempat ia dulu di orbitkan mengajaknya untuk bergabung lagi. Umur Krystal bukan masalah, toh ia masih sangat muda. Namun membayangkan harus setiap hari bertemu dengan Kai membuatnya bergidik ngeri. Bagaimana jika suatu hari ia melihat Kai bersama orang lain, harus separah apa ia menghancurkan hatinya sendiri sebelum kapok dan berhenti  berharap dari lelaki itu?

Kadang kala, Krystal masih penasaran apakah Kai makan dan istirahat secara teratur. Apakah kakinya tidak terkilir saat sedang menari. Apakah tenggorokannya tidak perih setelah kebanyakan menyanyi. Terlebih lagi apakah Kai pernah merindukannya seperti ia merindukan lelaki itu. Krystal sadar kalau ia tak seharusnya selalu mengingat Kai, namun hidupnya tidak semudah itu. Dengan mengingat kebiasaan dan kesukaan Kai, baru ia mampu menjalani hari demi hari yang menyiksanya. Hanya dengan mengingat-ingat wajah dan suara Kai baru ia sanggup bangun dari tempat tidur untuk menghadapi dunia nyata yang tengah menanti untuk membuatnya lebih menderita.

Sepulangnya Krystal dari Jepang, ia memutuskan untuk kembali melanjutkan kuliah untuk mendapatkan gelar di bidang hukum. Ia belum tahu pasti apa yang akan ia lakukan setelah menjadi sarjana nanti, tapi ia masih punya banyak waktu untuk memikirkannya.

Selama berbulan-bulan, Krystal hidup dengan baik. Awalnya ia terpikirkan Kai hampir setiap detik, bahkan kesibukan tidak menghalangi otaknya untuk mengirimkan kenangan-kenangan yang pernah terjadi di antara mereka, lalu menjadi lebih jarang dan akhirnya saat ini pikiran tentang Kai dan kerinduan untuknya hanya datang sesekali waktu. Yang tidak begitu menyakitkan lagi.

Ternyata apa yang di katakan orang-orang memang benar. Waktu bisa menyembuhkan semua luka. Bahkan menghapus cinta jika sudah terlalu lama terlupakan. Tapi Krystal tak ingin melupakan Kai, meskipun ia harus melakukannya suatu hari nanti, atau waktu akan merenggut semua kenangan lelaki itu dari dirinya. Krystal akan tetap mencari cara untuk mengingat lelaki itu, dan menjaga rasa cintanya. Karena ia pernah berjanji pada Kai, bahwa ia akan mencintainya untuk selamanya.

Tapi selamanya… tidak lagi terasa terlalu lama.

 

©G O E T A R Y

Krystal sedang duduk di bangku taman di depan universitas, ketika seseorang datang menyapanya. Ia mendadak membeku saat melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya. Sepertinya sudah lama sekali mereka tidak bertemu, lelaki itu kini kembali membawa serta kenangan yang mulai terlupakan. Dengan senyumnya yang memikat, lelaki itu mendekat. Wangi cologne yang ia pakai menyergap indra penciuman Krystal bahkan sebelum lelaki itu mencapainya.

“Ohisashiburi desu! (Lama tidak berjumpa).”

Krystal tersenyum lebar, “Yun Oppa!?” pekiknya terkejut.

*

Yun kembali dengan membawa dua gelas kopi hangat. Yun tersenyum, manis seperti biasa saat memandang Krystal.

“Bagaimana kabarmu?” tanyanya sambil menuntun Krystal berdiri.

“Aku baik-baik saja, Oppa sendiri?”

Yun mengangguk, menyesap kopinya lalu menjawab, “aku juga baik-baik saja. Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan disini? Waktu keluar tadi aku sebenarnya ragu untuk datang menyapa, takut kalau-kalau salah lihat.”

Mereka berjalan menyusuri trotoar di sekitar taman.

“Aku mengambil kuliah hukum.”

Rambut Krystal yang panjang tertiup angin. Refleks Yun mengambil sejumput rambut yang tertiup angin itu dan menyelipkannya di telinga Krystal. Wajah gadis itu seketika memerah. Sentuhan Yun terasa familiar baginya.

“O ya? Terus, apa sekarang kau juga bekerja?” tanya Yun.

Krystal menggeleng, masih berusaha meredam debur di dada, “hanya kuliah.”

“Aku belajar di fakultas musik. Mungkin kapan-kapan kau mau mampir kesana,” Yun menambahkan.

Mata Krystal berbinar-binar saat mendengarnya, ia menjawab dengan semangat, “tentu aku mau.”

Yun tersenyum lagi. Dan tiba-tiba saja Krystal merasakan sesuatu yang aneh menjalari tubuhnya. Setiap kali Yun tersenyum, ia bisa melihat Kai disana. Anehnya, mereka berdua sama sekali tidak mirip. Mungkinkah ia salah lihat?

“Krys.”

“Hmm?” Krystal menoleh.

“Kau cantik sekali,” akunya dengan senyum mengembang di wajah tampannya.

 

©G O E T A R Y

Air mata akhirnya mengalir di pipi lelaki itu. Untuk pertama kali selama masa latihan yang lama dan melelahkan, koreografi yang akan ditampilkan di konser solonya beberapa hari lagi berhasil ia lakukan. Jelas ia terlalu senang, karena beberapa saat kemudian ia segera mencobanya lagi, kali ini melakukan keseluruhan gerakan dalam waktu lima menit tanpa jeda.

Di penghujung lagu, Kai melompat setinggi yang ia bisa sembari memutar badannya di udara. Seharusnya ia melakukan split saat turun, namun kaki kanannya yang sempat terkilir beberapa saat lalu kembali terasa sakit. Karena panik, ketika ia terjengkang ke belakang salah satu telapak kakinya itu terdorong. Lagu berhenti tepat saat bahu Kai terhempas di atas lantai yang dingin oleh pendingin ruangan. Peluh membasahi seluruh tubuhnya.

Dengan napas tersengal-sengal Kai menarik sebelah lututnya dengan bantuan tangannya, berusaha mencari lihat keadaan pergelangan kakinya. Mungkin ia baik-baik saja, karena ia tak merasakan apa-apa selain degup jantungnya yang berdentam-dentam tak karuan. Ketika Kai mengangkat kakinya lebih tinggi, ia melihat sesuatu yang membuat segala keberanian lenyap seketika.

Telapak kaki kanannya terkulai lemas ketika ia mengangkat tinggi-tinggi, Kai tak tahu apa yang terjadi. Tapi sedetik kemudian wajahnya memucat dan ia segera kehilangan kesadaran.

 

-To Be Continued-

9 thoughts on “THE ZODIAC #1

  1. uwaaa…what was that? O.O
    aduh like like like :D hahaha gak biasanya loh saya baca ff author lain disini *eh* kekeke dan sepertinya kamu beruntung chingu masuk list author kesukaan aku walau baru sekali baca hehehehe… ini keren sungguh! Kalimatnya sederhana dan baku, and i like this kind of genre. Buat readers jadi tau bener-bener petunjuk lakuannya karena emang dijabarkan tapi enggak berat-berat yah easy-reading lah gak kayak ff ku yang gak jelas T.T

    tapi kenapa judulnya the zodiac? apa nanti ada hubungannya sama film the zodiac? ah atau mungkin ada sedikit bumbu fantasy? sci-fi? ah siapalah saya ini kok sok tahu sekali hehehehe :D keep writting ya chingu! anyway aku juga mau rencana bikin ff dengan trailer mv dari dulu tapi yah sekali lagi siapalah saya ini gak jago main video editor tapi maksa T.T love trailer, ff and ur poster! so epic chingu ^^

    • Wah terima kasih, rasanya saya emang beruntung hehehe :mrgreen:
      karna saya juga gak suka baca ff yang tulisannya berantakan, jadi klo bikin ff selalu usahain pake bahasa baku.
      Fantasy gak ada, sci-fi apalagi hahaha :P
      Saya juga baru sekali ini nyoba bikin video kok pake aplikasi movie maker yang gratisan. Gomawo sekali lagi, jangan lupa baca part 2nya nanti yah :D

  2. Baru pertamakali ini lho kak Git, baca fanfic nya LUNAFLY apalagi yang ada KaiStal nya. Aku sih ga begitu update dan heboh soal Yun CS tapi bytheway favorit kita sama kak, aku juga suka Yun. Nyess aja kak, kenapa series sekeren ini jadi minim komen? Aku baru pertama kesini niatnya hunting fanfic f(x) dan lucky banget bisa ketemu THE ZODIAC dan kakak juga, anw sbentar lagi aku mau hunting dan baca marathon fanfic kakak yang lain. Fighting kak! ^^ cabut ke chapter 2, yiihii

    • emang Lunafly masih jarang yang kenal sih, mereka sendiri kebanyakan ngecover lagu2nya orang, jadi kesannya seperti band indie doank. padahal satu agensi sama BEG :)
      yah gimana yah, udah nasib jadi author yang gak terkenal hehehehe~ lagipula saya sukanya bawa pairing2 yang kurang biasa, jadi kalo ada yang baca kebanyakan cuman penasaran aja, niat awal pengen baca satu paragraf akhirnya keterusan :D
      gomawo ^^

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s