Heal One Another [Part 6]

Summary: Si pemuda adalah seorang playboy kelas kakap, sedangkan si gadis adalah seorang panaroia yang selalu menghindari laki-laki. Ketika mereka berdua terikat dalam suatu pernikahan, dapatkah mereka ‘menyembuhkan’ satu sama lain?

 

Romance/Drama | Choi Minho & Krystal Jung | Chapter

PG-13 rated for safe.

 

The idea came originally from my head, but the characters are belong to their families and God itself.

 

Heal One Another © Park Sooyun

 

 

 

 

PART 6 ― Trust

 

Hubungan ini seharusnya sudah menapaki jenjang yang jauh. Namun karena suatu hal buruk di masa lalu, mereka terpaksa memulai segalanya dari awal. Mungkin terasa melelahkan, tapi Minho tidak akan menyerah tentang hal itu. Selama ia masih memiliki kepercayaan dari Krystal, maka semuanya akan berjalan dengan baik-baik saja. 

Karena semuanya diulang dari awal, maka hal paling mendasar yang harus dilakukan adalah kencan. Dan itulah yang dilakukan Minho. Keadaan Krystal makin stabil, perlahan gadis itu mampu beradaptasi dengan orang lain.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Minho begitu Krystal masuk ke dalam mobil.

Gadis itu tersenyum. “Baik. Bagaimana denganmu, Minho-ssi?”

“Aku juga baik. Siap untuk berangkat?”

“Tentu.”

 

***

Rasanya semua ini seperti dalam mimpi. Krystal tak pernah mendambakan kencan semacam ini. Terutama setelah kencan pertamanya berakhir tragis. Atau setidaknya nyaris tragis. Namun ia adalah tipe yang belajar dari masa lalu. Berbeda dengan sebelumnya, kini ia berusaha untuk memandang segala sesuatunya dengan positif. Ia tak mau hanya karena masa lalunya, kemudian ia menjadi orang yang cenderung anti-sosial. Ia juga ingin hidup normal layaknya perempuan lain seusianya.

Tempat yang dituju Choi Minho adalah tempat yang umum bagi warga Seoul. Sungai Han. Krystal hanya pernah ke sini bersama keluarganya, jadi momen kali ini benar-benar istimewa baginya. Senyuman tak kunjung pudar dari wajahnya.

“Kau suka?”

Krystal membalikkan badannya. “Ya. Terima kasih sudah mengajakku ke sini.”

Minho turut tersenyum. Ada sesuatu yang meletup di hatinya tatkala melihat ekspresi bahagia Krystal. “Sama-sama.”

“Kau adalah laki-laki pertama yang mengajakku ke sini. Selain ayahku, tentu saja.”

“Benarkah? Wow, kalau begitu aku benar-benar beruntung,” canda Minho.

Tiba-tiba saja, Krystal merasa pipinya menghangat dan ia tak dapat menyembunyikan rasa malunya. Ia hanya menatap sekelilingnya dan berpura-pura tidak mendengar Minho.

“Ingin berkeliling?”

“Tentu.”

Krystal mengikuti langkah Minho. Mereka berjalan sejajar, namun masih ada secuil jarak yang sengaja dibuat Krystal. Gadis itu menatap tangan kiri Minho yang dimasukkan ke dalam saku celana. Ia merasa agak menyesal. Pasti Minho mengharapkan kencan ini benar-benar sesuatu yang dinamakan kencan. Maksudnya, mana ada kencan jika si perempuan menjaga jarak dari laki-laki yang dikencaninya?

Jika saja ia berani, maka Krystal akan memperkecil jarak di antara mereka dan melingkarkan tangannya di lengan Minho. Sayangnya, ia belum mampu melakukan hal itu.

“Kau kenapa?”

Krystal mengerjap kaget. Rupanya ia tak sadar jika tadi ia barusan mendesah. “Aku baik-baik saja.”

“Kau ingin makan sesuatu?” tawar Minho. “Aku akan membelikanmu burger atau fish and chips jika kau mau.”

“Bu-bukan itu…”

“Lalu?”

Krystal mendesah. “Aku hanya… ingin meminta maaf.”

Alis Minho bertaut. “Untuk?”

“Karena ini bukan kencan yang kau harapkan,” jawab Krystal pelan. “A-aku minta maaf jika kencan ini terasa canggung.”

“Tidak apa-apa. Jangan memaksakan dirimu.”

Helaan napas keluar dari mulut Krystal. Ia menundukkan kepalanya. “Kau benar-benar tidak keberatan untuk memulai semuanya dari awal?”

“Tentu saja tidak. Asalkan kau percaya padaku, tak apa-apa bila harus kulakukan dari awal,” kata Minho. Dia tersenyum. “Berhentilah merasa bersalah. Ini bukan salahmu.”

“Ya,” sahut Krystal. Aku akan berusaha untuk mengalahkan fobia ini, tambahnya dalam hati.

 

***

Sehubungan dengan trauma Krystal yang nampaknya bertambah buruk, keluarga Choi dan keluarga Jung sepakat untuk menunda pernikahan. Sejujurnya Choi Siwon ingin cepat-cepat melihat anaknya menikah, tapi ia tak dapat memaksakan keadaan calon menantunya. Bagi Siwon, yang terpenting saat ini bukanlah pernikahan―hal itu bisa diurus nanti. Yang penting Minho mulai menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Ia tak tahu apa yang terjadi antara Minho dan Krystal, kisah-kisah romantis yang mungkin terjadi di antara mereka atau bahkan kecanggungan yang mereka rasakan saat pertama kali bertemu. Tapi ia sangat berharap pada kedua anak itu.

“Kudengar keadaan Krystal makin baik.”

Tiffany Choi duduk di sebelah suaminya lalu tersenyum. “Ya. Kejadian itu sempat membuat kita semua khawatir. Tapi perlahan Krystal mulai membaik. Kurasa dia benar-benar ingin ‘sembuh’ dari fobianya dan Minho juga terlihat sabar dalam menangani Krystal.”

Siwon menghela napas. “Aku tidak menyangka anak itu akan menjadi dewasa seperti ini. Jika aku tahu untuk mendewasakan Minho adalah dengan mempertemukannya dengan Krystal, aku sudah melakukan itu sejak lama.”

Tertawaan keluar dari mulut Tiffany. Dia memukul pundak suaminya pelan. “Ada-ada saja.”

Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan terlihat sepasang pria-wanita yang masuk ke dalam rumah.

“Ah, sudah pulang rupanya,” kata Siwon. “Bagaimana kabarmu, Krystal?”

Gadis itu membungkuk lalu tersenyum. “Baik-baik saja, ahjussi.

“Dari tadi Sulli mencarimu, tapi kubilang padanya untuk tidak menganggu kencan kakaknya,” sahut Tiffany sambil tersenyum.

“Begitu, ya? Dimana dia sekarang?”

“Ada di kamarnya. Kau bisa langsung ke sana.”

Krystal membungkuk. “Terima kasih,” Sebelum pergi, dia menatap Minho dan berkata, “Aku pergi menemui Sulli dulu. Nanti aku akan ke sini lagi.”

“Tentu saja,” balas Minho sambil tersenyum. Gadis itu pergi ke lantai dua.

“Sepertinya hubunganmu dengan Krystal makin baik,” kata Siwon.

Minho hanya mengangguk-angguk. Senyum tetap tersungging di wajahnya.

“Seberapa jauh hubungan kalian?”

Pertanyaan itu membuat Minho melirik ayahnya dengan tatapan aneh. “Kenapa Ayah begitu penasaran?”

Siwon mengangkat bahunya. “Aku hanya ingin tahu. Lagipula, semakin jauh hubungan kalian, maka semakin cepat pernikahan itu ditetapkan.”

“Aku baru saja mulai, Ayah,” kata Minho. “Ini tidak semudah yang Ayah kira. Aku mau ke kamar dulu.”

Melihat kelakukan anaknya yang langsung nyelonong pergi, Siwon mendecih. Menyesal karena ternyata kelakukan anaknya belum sepenuhnya berubah. “Ternyata anak itu masih suka bersikap asal di depan orangtua.”

“Kau sendiri juga salah,” sahut Tiffany. “Mana ada anak yang mau menceritakan tentang kisah cintanya pada ayahnya sendiri?”

Siwon menatap istrinya. “Memangnya salah jika aku ingin tahu?”

Tiffany menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau ini mengingatkanku saat kita pertama kali kencan dulu.”

 

***

“Soojung-ah! Lama tidak bertemu!”

Si empunya nama hanya tersenyum. Ia berjalan mendekati gadis manis itu dan duduk di tempat tidurnya.

“Aku merindukanmu, tahu~!” sahut Sulli sambil memeluk Krystal. “Sejak kemarin aku ingin bertemu denganmu, tapi Minho oppa tidak mengijinkan.”

Kening Krystal berkerut. “Kenapa?”

“Katanya keadaanmu masih belum stabil dan dia takut bila aku menganggumu,” jawab Sulli. Lalu dia tersenyum lebar. “Tapi aku senang keadaanmu sudah baik sekarang.”

Jawaban Sulli membuat Krystal tersenyum. Meskipun pada awal pertemuan ia sama sekali tidak percaya pada Minho, namun sekarang kepercayaan itu terbangun makin kokoh. Ia tahu Minho tidak berusaha untuk membuatnya percaya, pemuda itu melakukan semuanya secara natural. Krystal dapat membaca semua itu dengan jelas dari mata Minho yang memang menyiratkan ketulusan.

“Bagaimana kencannya? Apakah menyenangkan?”

Rasa gugup tiba-tiba menyerang diri Krystal. “E-eh, begitulah. Cukup menyenangkan.”

“Wah, pasti enak ya punya waktu luang untuk berkencan. Taemin oppa sedang sibuk dengan proyek barunya dan aku juga makin sibuk dengan klien-klien yang cerewet.”

Krystal tertawa kecil. “Itulah risiko pekerjaan yang dimiliki editor seperti kita. Well, kecuali untukku karena aku mendapat ‘perlakuan khusus’ di perusahaan sehingga tidak perlu bertemu langsung dengan klien.”

Sulli mengangguk-angguk. “Ya. Aku tahu.”

“Seperti apa rasanya bekerja dengan klien?” tanya Krystal tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Sulli mengangkat sebelah alisnya. “Awalnya sih sulit, apalagi jika bertemu klien yang royal dan memiliki banyak permintaan. Tapi rasa puas dan senang akan langsung mengganti rasa lelah begitu klien pulang dengan wajah yang puas,” Sulli memiringkan kepalanya. “Kenapa kau bertanya begitu?”

Krystal termenung sebentar. “Aku hanya… penasaran. Lagipula, aku ingin memperbaiki hubunganku dengan orang lain dan mencoba untuk terjun langsung ke pekerjaanku.”

Mata Sulli membulat. Perlahan gadis itu tersenyum lebar. “Wow, itu sangat bagus, Soojung-ah! Menjadi editor di kantor dan di rumah tentu saja merupakan hal yang sangat berbeda. Memang menyusahkan bertemu klien, apalagi saat kau menjadi editor-in-chief yang harus memimpin orang-orangmu. Tapi setelah pekerjaan itu selesai, rasanya luar biasa.”

Seulas senyum muncul di wajah Krystal. “Aku benar-benar ingin mencoba menjadi editor yang sesungguhnya. Sudah beberapa minggu sejak aku cuti kerja, tapi kurasa dalam beberapa hari ke depan aku akan langsung turun ke perusahaan.”

“Aku sangat senang mendengarnya! Tenang saja, aku akan membantumu sebisa mungkin,” Perkataan Sulli terhenti sebentar. Dia menatap mata Krystal dan berkata dengan hati-hati. “Sebenarnya, aku berpikir setelah kejadian itu kau akan makin menutup diri dan semakin trauma. Tapi ternyata pikiranku salah dan aku sangat bersyukur akan hal itu.”

Awalnya memang ia akan seperti itu. Tentu saja Krystal sangat benci kenyataan yang mengatakan bahwa kejadian itu nyaris terulang dan membuatnya semakin takut. Namun ia begitu ingin bebas dari trauma yang selama ini menjeratnya. Dan keinginan itu membuatnya berani untuk melawan fobia yang ia hadapi, mencoba untuk tidak lari dan berusaha untuk memiliki hidup normal layaknya gadis lain.

Itulah alasan mengapa kini ia berubah menjadi lebih terbuka dan ramah pada orang lain, terutama laki-laki.

“Satu-satunya untuk menghilangkan fobia adalah dengan menghadapi sumber fobia tersebut,” kata Krystal. “Itu yang dikatakan ayahku saat aku mengetahui kenapa aku dijodohkan. Kurasa perkataan Ayah memang benar. Selama ini fobia itu terkurung di dalam diriku karena aku tak mau menghadapinya. Dan kini aku ingin melepaskannya.”

Sulli mengedipkan matanya beberapa kali. Lalu gadis itu tersenyum dan memeluk Krystal sekali lagi. “Aku sangat senang dengan hal itu. Kami akan membantumu, Krystal. Jangan menyerah ya.”

Krystal turut tersenyum. “Aku akan berusaha.”

 

***

Sesungguhnya tempat ini membuatnya sangat tidak nyaman. Orang-orang yang berlalu lalang, sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing dan bahkan terkadang ada beberapa dari mereka yang meliriknya. Seorang staf perempuan berjalan melewatinya. Dia mengangkat wajah dan bertemu pandang dengannya. Sontak, perempuan itu terkejut lalu tersenyum dan menunduk sedikit. Diperlakukan seperti itu, ia hanya tersenyum. Meski hampir tak pernah hadir secara langsung di perusahaan, namun anak buahnya tahu siapa yang memimpin mereka dibalik layar.

Ingin rasanya ia segera pulang. Duduk di belakang meja yang ada di kamarnya sepertinya akan terasa jauh lebih baik dibanding ia harus menemui pimpinannya sekarang. Alarm secara alami berbunyi, memperingatkan dirinya akan suatu memori yang tersimpan di bawah alam sadarnya. Namun batinnya juga turut mengingatkan, bahwa secepatnya ia harus melepas memori itu. Membiarkannya larut bersama ribuan memori lain yang tak ingin dikenang, menerima kenyataan bahwa itu adalah kejadian di masa lalu yang tak bisa diubah. Sekaligus tetap bersyukur karena kejadian itu tidak mengambil keutuhannya sebagai seorang perempuan suci.

Seulas senyum muncul di wajah Krystal Jung. Sebisa mungkin ia mengatur mimik wajahnya supaya terlihat wajar. Ia berjalan dengan cukup percaya diri, melewati deretan meja kerja beserta pada staf yang sedang mengerjakan sesuatu. Beberapa orang meliriknya, terkejut karena baru kali ini mereka melihatnya datang ke kantor. Krystal hanya tersenyum ramah pada mereka dan melanjutkan langkahnya menuju ruangan direktur. Di sana ia bertemu dengan seorang lelaki paruh baya sedang memeriksa kumpulan berkas.

“Selamat pagi, Direktur.”

Pria itu mengangkat muka dan tak dapat menyembunyikan rasa keterkejutannya. “Ah, Nona Krystal Jung. Lama tidak bertemu. Aku mendengar kau mengalami kecelakaan dan mengambil cuti selama hampir sebulan.”

“Ya. Saya minta maaf karena sudah begitu lama saya meninggalkan perusahaan dan anak buahku.”

“Tanpamu keadaan di sini menjadi agak kacau. Meski selama ini kau bekerja dibalik layar, namun keempat anak buahmu menerima perintah yang sangat jelas darimu, meski mereka mengetahui dari e-mail dan telepon.”

Selama bekerja di perusahaan, Krystal merupakan salah satu dari sekian editor yang bekerja di sana. Ia memiliki kelompok kerja berjumlah lima orang termasuk dirinya dan ia juga yang memimpin kelompok tersebut. Selama ini ia hanya berkomunikasi kepada rekan-rekannya secara tidak langsung.

“Jadi, apa kau datang ke sini karena siap untuk bekerja kembali?” tanya Direktur Jungshin tanpa basa-basi.

Krystal mengangguk mantap. “Saya siap.”

Seulas senyum menghiasi wajah Direktur Jungshin. “Syukurlah kalau begitu. Aku sempat kekurangan beberapa tempat di sini. Bahkan posisi editor-in-chief sedang kosong karena pegawai yang lama dimutasi ke perusahaan lain,” Tiba-tiba pria itu berhenti sejenak. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Krystal. “Kenapa kau tidak mengambil posisi itu saja, Krystal-ssi?”

Mata Krystal melebar. “Saya? Menjadi editor-in-chief?”

“Tentu saja,” sahut Direktur Jungshin sambil mengangguk-angguk. “Kurasa kau pantas mendapatkan promosi. Lagipula selama ini hasil kerjamu sangat bagus, meskipun kau mengerjakannya di rumah.”

“Tapi apa Anda yakin untuk memberi posisi itu kepada saya? Maksud saya, selama ini saya bekerja di belakang layar dan tidak menghadapi klien secara langsung.”

“Aku tidak perlu meragukan kemampuanmu,” kata Direktur Jungshin. “Aku sangat mengenal ayahmu dan dedikasinya terhadap pekerjaannya. Aku yakin buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya.”

Krystal terdiam. Di dalam batinnya terjadi suatu peperangan. Logikanya kembali mengingatkan akan memori masa lalunya, membuatnya ragu sekilas. Bagaimana jika nantinya ia tak dapat mengendalikan perasaannya, tak dapat menghadapi klien dan justru semuanya akan makin kacau? Makin membuatnya takut? Namun di sisi lain nuraninya juga turut berkata, bahwa kesempatan tak setiap kali datang dan inilah saat yang tepat untuk menguji langsung ketahanannya terhadap fobia yang dimilikinya.

Sesaat kemudian, Krystal mengangguk. “Jika Anda yakin dengan kemampuan saya, maka saya akan berusaha sebaik mungkin.”

Direktur Jungshin tersenyum.

“Terima kasih atas kesempatan yang telah Anda berikan.”

 

***

Hari pertama sebagai editor-in-chief dilaluinya dengan sangat lancar. Awalnya Krystal sempat ketakutan sebelum bertemu dengan klien pertamanya yang seorang laki-laki. Keraguan benar-benar menguasai dirinya hingga membuat kakinya bergetar. Namun beberapa menit sebelum pertemuan dengan kliennya berlangsung, sebuah pesan dari Minho masuk ke handphone-nya.

Mungkin ini berat, tapi percayalah bahwa semuanya akan baik-baik saja. Semangat!

Sebaris kalimat itu mengingatkannya akan keinginannya sendiri yang benar-benar ingin lepas dari ketakutannya akan laki-laki. Krystal mengatur napasnya hingga ia menjadi tenang, lalu merapikan kemejanya dan sekilas membaca berkas yang akan dijelaskannya pada kliennya itu. Setelah sang klien masuk ke ruangannya, semuanya berjalan dengan sangat lancar. Meskipun kegugupan masih tersisa di sudut batinnya, namun Krystal dapat mengontrolnya dengan baik. Bahkan sang klien terkesan dengan penjelasan Krystal yang diplomatis namun tidak muluk-muluk.

“.”

“Secara pribadi saya sangat terkesan, Nona. Detailnya sangat baik. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk berjabat tangan.”

Ada jeda sekian detik setelah tangan itu terulur di hadapannya. Krystal menatapnya sebentar, meyakinkan dirinya sendiri lalu dengan ringan menjabat kliennya.

“Terima kasih.”

Sang klien tersenyum lalu pamit untuk pergi. Mata Krystal tak lepas dari punggung klien pertamanya yang tanpa ia duga bisa ditanganinya dengan baik. Sesuai dengan perkataan Sulli beberapa waktu yang lalu, menghadapi klien mungkin bisa membuat stres, namun hasil yang diberikan ternyata cukup sepadan. Sebuah raut kepuasan yang turut membuat hatinya senang.

Setelah menangani klien pertamanya, ia dihadapkan oleh anak buahnya yang baru ditemuinya secara langsung untuk pertama kali. Mereka sebaya dengan Krystal. Layaknya perempuan-perempuan lain, tidak membutuhkan waktu lama bagi Krystal untuk dekat dengan anak buahnya. Sebisa mungkin Krystal menyingkirkan segala keraguannya.

“Baru pertama kali aku melihat Ketua Jung secara langsung,” ujar anak buah Krystal yang bernama Jihyo. “Ternyata Anda sangat baik.”

Krystal hanya tersenyum.

“Aku sudah bilang padamu,” tambah Taerin. “Aku sudah bekerja dengan Ketua Jung sejak pertama kali bergabung di sini. Meski tidak bertatap muka secara langsung, namun Ketua Jung sangat tegas dan kepemimpinannya bagus.”

“Sudahlah. Apa kalian tidak sadar bahwa orang yang sedang kalian bicarakan itu ada di hadapan kalian?” celetuk Mirae. “Maafkan mereka, Ketua.”

“Tidak apa-apa,” balas Krystal. Ia membagikan berkas-berkas berisi proyek yang harus mereka kerjakan kepada anak buahnya. “Kurasa aku tak perlu menjelaskan proyek ini karena semuanya sudah ada di berkas itu. Jika ada hal yang tidak dimengerti, kalian bisa menanyakannya.”

“Baik,” sahut anak buahnya berbarengan.

Krystal kembali ke mejanya. Ia mulai mengetik berkas-berkas berisi susunan proyek yang kini sedang timnya kerjakan. Sejam kemudian ia berpindah, mengerjakan draf kerja yang harus ia edit. Saat sedang bekerja, tiba-tiba handphone-nya bergetar.

Sedang sibuk? Jawab ya, maka aku tidak akan menganggumu. Bila menjawab tidak, tunggulah aku hingga jam lima sore…

Tanpa sadar Krystal tersenyum. Dengan cepat ia mengetik.

Tidak.

Tak lama kemudian, balasan masuk.

Aku akan datang. Tunggu di depan kantor.

Krystal hanya tersenyum geli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kira-kira apa yang akan dilakukan pemuda itu nanti?

 

***

Warna jingga mendominasi hampir seluruh permukaan langit. Yang tersisa hanyalah berkas-berkas putihnya awan yang jumlahnya sangat sedikit. Matahari berbaur dengan langit yang turut memadukan warnanya, lalu secara perlahan turun untuk kembali ke Sang Pemangku Alam. Bulan yang pucat nampak di sudut langit, seolah dicueki oleh indahnya momen matahari terbenam. Namun si bulan tetap sabar, menunggu hingga gilirannya tiba.

Angin sore kembali bertiup, membuat Krystal merapatkan jaketnya. Sesuai pesan Minho, ia menunggu di depan kantornya sejak jam kerjanya selesai setengah jam yang lalu. Krystal mendesah dan menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah. Kenapa dia tidak juga muncul? Batinnya.

Baru saja ia akan mempertimbangkan untuk tetap tinggal atau langsung pulang saat sebuah mobil hitam yang dikenalnya memasuki halaman perkantoran dan berhenti tepat di hadapannya. Jendela pengemudi terbuka, memperlihatkan sosok pemuda tampan yang tengah tersenyum padanya.

“Siap untuk pergi?” tanyanya.

Krystal menanggapi pertanyaan itu dengan senyuman dan sebuah anggukan kecil. Ia berdiri lalu menghampiri pintu mobil dan masuk ke dalamnya. “Sebenarnya kita mau kemana?”

“Kau akan tahu nanti,” jawab Minho sambil tersenyum misterius.

Akhirnya Krystal harus memendam rasa penasarannya. Beberapa saat kemudian, Minho menepikan mobilnya di dekat sebuah restoran keluarga. Rasa penasaran Krystal makin tumbuh membesar. Ia turun dari mobil bersama dengan Minho dan masuk ke dalam restoran itu.

Begitu masuk, Krystal merasa aneh dengan keadaan di sekelilingnya. Restoran itu benar-benar sepi, bahkan ia hanya melihat satu pekerja yang menjaga kasir dan tamu suami-istri bersama anaknya yang duduk di tengah ruangan dengan punggung membelakanginya. Krystal mengerutkan keningnya. Rasanya ia mengenal suami-istri tersebut.

Salah seorang tamu itu, seorang wanita berambut cokelat panjang, menolehkan kepalanya dan tersenyum pada Krystal, membuat gadis itu terkejut. Seulas senyum langsung hadir di wajahnya dan buru-buru Krystal menghampiri wanita itu. Si wanita berdiri lalu mereka saling berpelukan.

“Kapan kalian pulang?” tanya Krystal.

Si wanita tertawa. “Kemarin. Maaf tidak memberitahumu, Krystal.”

Krystal melepas pelukannya. “Kenapa Jessica unnie tidak memberitahuku?”

“Karena kedatangan kami merupakan sebuah kejutan yang sudah dirancang oleh Minho sejak lama.”

Mendengar jawaban sang kakak, Krystal menoleh pada Minho yang berdiri di sampingnya. Pemuda itu hanya tersenyum.

“Minho sudah menghubungi kami sejak sebulan yang lalu dan bertanya kapan kami bisa kembali kemari,” ujar Lee Donghae, suami Jessica. “Dia berkata ingin membuat kejutan untukmu. Kami juga sudah mendengar semuanya, terutama tentang perkembanganmu.”

“Dan selamat atas posisi barumu sebagai editor-in-chief!” tambah Jessica sambil memeluk adiknya.

Krystal memeluk kakaknya dengan sangat erat. Kerinduan yang mendalam pada sang kakak terbayar sudah. Dan semua ini tak akan terjadi tanpa adanya Minho. Kini Krystal tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membalas kebaikan pemuda itu. Ia merasa agak bersalah karena dulu pernah menuduh Minho dengan pikiran yang macam-macam.

“Terima kasih sudah datang,” ucap Krystal.

“Harusnya kau berterima kasih pada Minho. Dia yang merencanakan semua ini.”

Pelukan kedua adik-kakak itu terlepas ketika anak laki-laki Jessica yang masih kecil menangis dari kereta bayinya. Jessica memekik kecil karena lupa akan anaknya sendiri, sedangkan Donghae hanya memutar matanya lalu mengikuti langkah istrinya.

Tertawaan kecil keluar dari mulut Krystal saat ia melihat kebersamaan keluarga kakak perempuannya. Apalagi saat melihat si kecil Hyunwoo, ia jadi gemas sendiri. Memiliki keluarga memang menyenangkan, ya?

Meskipun masih larut dalam kebahagiaan yang begitu besar, Krystal tidak melupakan pemuda yang berdiri di belakangnya. Ia berbalik dan tersenyum pada Minho.

“Terima kasih, Minho-ssi. Aku… tidak tahu harus berkata apa lagi,” kata Krystal. Matanya mulai basah.

“Hei, jangan menangis,” bisik Minho. “Aku tahu ini merupakan momen yang menyenangkan bagimu dan jangan rusak dengan air matamu. Ayo, tersenyum.”

Krystal mengusap matanya dengan punggung tangan lalu tersenyum lebar.

“Kau benar-benar merindukan kakakmu, ya?” tanya Minho.

“Begitulah. Jessica unnie selalu menjagaku sejak kecil. Apalagi setelah kejadian buruk itu, dia selalu menemaniku kemana-mana dan menghiburku. Setelah dia menikah dan pindah ke Amerika, aku jadi kesepian. Dan agak takut karena tak ada yang menjagaku,” ujar Krystal. “Jadi pertemuan ini benar-benar membuatku bahagia. Aku berharap bisa melakukan sesuatu untuk membalas kebaikanmu…”

Perkataan Krystal membuat Minho termenung sebentar. “Ada kok yang bisa kau lakukan.”

“Apa itu?”

“Tetaplah tersenyum dan jangan menyerah. Aku yakin kau bisa melawan fobia itu. Perlahan tapi pasti.”

Jawaban itu sama sekali tidak diprediksi Krystal. Namun gadis itu hanya tersenyum sambil menunduk, mencoba untuk meredam rasa panas yang menjalar di pipinya. Ia merasakan jantungnya berdebar keras dan sebuah sensasi aneh mengalir di dalam dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Dan bisakah kau berhenti memanggilku dengan embel-embel ssi? Itu terlalu formal bagiku,” tambah Minho.

Krystal mendongak. “Lalu aku harus memanggilmu apa?”

“Panggil aku oppa.”

Awalnya Krystal tidak bereaksi apapun. Ia meneliti tatapan Minho. Dan setelah yakin tak ada kepalsuan di sana, ia tersenyum. “Tentu saja, Minho oppa.”

Perlahan tapi pasti, batinnya dalam hati.

 

***

Usai makan malam, Krystal langsung mengganti pakaiannya dengan piyama yang lebih santai. Mungkin ini masih terlalu sore untuk memakai piyama tidur, tapi Krystal tidak peduli. Ia pergi ke dapur dan mengambil beberapa camilan di kulkas.

“Untuk apa kau mengambil camilan sebanyak itu?” tanya Stephanie.

“Hari ini adalah hari spesial. Aku akan menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama Jessica unnie. Umma mau ikut?”

Stephanie tertawa kecil lalu menggeleng. “Tidak usah.”

“Oh, ayolah~ Ini bisa menjadi obrolan khusus wanita,” tambah Krystal.

“Jika umma ikut, nanti siapa yang mengurus Hyunwoo? Donghae sedang lembur di kantornya, Jessica akan menghabiskan waktu denganmu dan kau tahu ayahmu akan langsung angkat tangan jika cucunya menangis. Lagipula umma ingin bermain dengan Hyunwoo.”

“Baiklah. Kalau begitu, aku pergi ke kamar dulu.”

Stephanie hanya menggeleng-geleng melihat anak gadisnya. Sudah lama sejak terakhir kali ia melihat Krystal seceria ini. Setelah Jessica menikah dan pindah ke luar negeri, Krystal lebih sering menghabiskan waktunya di kamar sendirian, menyelesaikan pekerjaannya atau membaca buku. Gadis itu hampir tidak pernah menggunakan waktu untuk bersenang-senang.

Ketika Krystal membuka pintu kamarnya, ternyata Jessica sudah ada di sana. Dia duduk di tengah tempat tidur sambil membaca majalah milik Krystal.

“Ya ampun, ini majalah tahun berapa?” tanya Jessica. “Kau ini benar-benar tidak update.”

“Aku memang tidak suka mengoleksi majalah seperti unnie,” balas Krystal.

“Apa itu potato chip kesukaanku?” Jessica menunjuk bungkusan besar berisi keripik kentang.

Krystal mengangguk dan meletakkan berbungkus-bungkus camilan yang dibawanya di atas tempat tidur. Tanpa ba-bi-bu, Jessica langsung menyambar kripik kentang yang sudah diincarnya dan memakannya.

“Kau bilang ada yang ingin kau tanyakan padaku,” Jessica memulai obrolan antar kakak-adik itu.

Jawaban tidak langsung keluar dari mulut Krystal. Ia merenung sebentar sambil memainkan jari-jarinya. “Aku… ingin curhat tentang Minho.”

“Apa kau masih ragu padanya?”

Krystal menggeleng pelan. “Bukan begitu. Aku mulai percaya padanya, tapi aku masih takut untuk mendekatinya.”

Jessica memasukkan keripik kentang ke dalam mulutnya. “Kurasa itu hal yang wajar. Kau masih berada dalam tahap adaptasi.”

“Aku tahu. Hanya saja…” Krystal mendesah. “Terkadang aku merasa kesal pada diriku yang selalu menahan diri. Minho oppa selalu sabar ketika menghadapiku, tapi justru kesabarannya membuatku takut jika suatu saat dia akan menyerah.”

“Ah, kini aku mengerti apa masalahmu,” Jessica mengubah posisi duduknya supaya berhadapan dengan Krystal. “Minho memang benar-benar sabar dalam menanganimu. Dia membiarkan semuanya mengalir begitu saja dan tanpa paksaan. Menurutku, apakah Minho nanti akan terus bertahan atau menyerah adalah haknya. Kau tidak bisa memaksanya untuk terus ‘membimbingmu’. Meski begitu, kau harus ingat bahwa Minho-lah yang pertama kali memotivasimu untuk melangkah ke arah yang lebih baik.”

“Aku tidak terlalu mengerti…”

Jessica menghela napas dalam-dalam. “Oke, aku akan menyampaikan intinya saja. Jadi,  jangan pikirkan apakah dia akan bertahan atau menyerah. Jika kau terus menunjukkan usahamu untuk berubah dan tetap percaya padanya, aku yakin dia akan tetap berada di sisimu.”

Penjelasan kakaknya membuat Krystal mengerti. Ia mengangguk-angguk pelan. Semula ia merasa takut dan khawatir, tapi kini semuanya sudah usai berkat Jessica.

“Kau bilang kau khawatir jika suatu saat Minho akan menyerah, ‘kan?” tanya Jessica tiba-tiba.

Krystal mengangguk.

“Apakah itu berarti kau mulai menyukainya?”

Eh?

Krystal menunduk dan mengusap leher belakangnya dengan gelisah, sementara Jessica tertawa riang sambil memakan keripik kentangnya.

 

To Be Continued

A/N: Udah lama gak ketemu. :D

Maaf ya, saya baru nongol. Sebenarnya chapter ini rencana di-publish dua minggu sebelumnya. Tapi berhubung ada UTS, jadinya saya tunda sampe UTS-nya selesai. Maaf ya kalo lama update-nya…

Saya juga minta maaf kalo chapter yang ini alurnya gaje dan muter-muter. Otak saya lagi kacau. -_-

Menurut perkiraan saya, sekitar 3-4 chapter lagi maka Heal One Another akan selesai. Tapi itu masih perkiraan sih.

Jangan lupa buat RCL!

 

 

Park Sooyun~

11 thoughts on “Heal One Another [Part 6]

  1. Akhirnya Heal One Another publish part 6^^
    Sudah ditunggu-tunggu semenjak bulan lalu~~
    menurutku alurnya ndk gaje/muter2, malah lancar sempurna tambah bikin penasaran aja..next part ditunggu^o^

  2. Ini ceritanyaa okeee bangeet. Bahasa penulisannya oke, ga banyak typo. Alur masuk akal, konflik masuk akal & penyelesaiannya juga masuk akal. Author daebak!! Yooks lanjut. Jangan lama2, please, udah kepo hihihi. Oh iya, pasangan Donghae sama Jessica unyu niih xixixi :3

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s