The Red and Blue Sword

(Imange from: KBS B&P)
(Image taken from: KBS B&P with some edit)

 

The Red and Blue Flame Sword.

 

BellatrixID present:

Title: The Red and Blue Flame Sword. Author: Allya (@SeiraAiren). Main Cast(s): Jung Yonghwa, Lee Jungshin (CNBLUE), Kim Seolhyun (AOA). Support Cast(s): Seo Joohyun (SNSD), Kwon MinA, Shin Hyejeong (AOA). Genre(s): Fiction, AU, Fantasy, Supranatural.  Rating: Teen. Duration: One Shot (±4812w.). Note: I dont have all the matter here.. Just own my plot and this story.

Summary:

 “So comes snow after fire, and even dragons have their endings.”

― J.R.R. Tolkien, The Hobbit.

 

Busur itu menegang, satu anak panah siap meluncur untuk memburu sasarannya. Mata gadis itu menyipit, tangannya memegang busur dan anak panah secara mantap. Selain memainkan alat musik, memanah merupakan salah satu keahlian utama para penghuni langit. Sayap putih gadis itu terkembang, membelakangi matahari sore yang mulai berarak turun di ujung laut seberang. Angin laut yang bertiup kencang dari arah laut pun tidak menggoyahkan posisinya yang berdiri diatas sebuah menara putih bagian selatan.

Seolhyun menunggu kesempatan ini sudah sangat lama…. Seratus atau mungkin sudah seribu tahun di dunia manusia.

“Akhirnya.. dia datang” dia tersenyum sembari menarik panahnya kuat-kuat.

 

****

“Seolhyun-ah..”

“Seolhyunari…” Seolhyun berhenti memetik bunga dan melihat ke arah datangnya suara yang memanggilnya.

“Seolhyun-ah”

“Oh.. Sunbae? Annyeonghaseyo~” Seolhyun tersenyum sembari menundukkan kepala menghormatinya.

“Kim Seolhyun..” Matanya terbelalak, terkejut karena sebuah pelukan yang secara tiba-tiba. Ia menjatuhkan keranjang yang hampir terisi penuh oleh bunga yang baru saja dipetik-nya, semua isinya tumpah.

“Su..suunb..” Suaranya terpotong, karena ia memeluknya semakin erat dan mulai menangis.

“Kim Seolhyun..” Hanya kata itu yang ia dengar dari bibirnya, laki-laki itu masih memeluk nya dengan sangat erat.. Ia hanya bisa memejamkan matanya pasrah karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.

****

Cairan merah itu menetes dari ujung pedangnya. Sebagian lainnya mengalir dengan pelan turun ke ujung gagang pedang es yang ia pegang. Es murni itu kini berwarna merah, semerah darah yang mengalir di ujungnya.

Api biru mengular di atas padang rumput selatan. Tempat bertemunya kedua kubu yang sedang bertarung memperebutkan kekuasaan dan kekuatan. Api biru itu terlihat semakin terang menyala kemerahan seperti darah karena tercampur darah yang dibawa oleh angin utara. Terang api itu lalu membentuk bayangannya, dia yang sedang berdiri menghunuskan pedang es-nya menantang langit.

***

“Jika aku gagal membunuhnya sekarang?”

Hening sejenak. Sepasang mata kecokelatan itu memandang sayu kepada lawan bicaranya dengan tatapan iba.

“Mungkin, hari itu hari terakhir kamu bisa melihatnya”

***

Tanpa aba-aba, Jungshin melayang dan menebaskan pedangnya ke arah Yonghwa. Yonghwa tidak sempat berkelit, ia menahan ayunan pedang es Jungshin dengan pedang api-nya. Mereka saling berhadapan dengan tatapan saling ingin membunuh, sementara pedang api dan es mereka yang berbenturan menghasilkan hawa dingin dan panas yang menjalar seketika. Membuat padang rumput yang hijau itu layu dan mengering. Yonghwa bergerak menghindar dan sedikit melompat lebih tinggi serta menendang tubuh Jungshin dengan kakinya.

Ia sadar ia telah menyalahi aturan. Namun Yonghwa tidak memiliki pilihan lain.

Tubuh Jungshin tersungkur ke atas hamparan rumput. Saat dia akan bangkit, Yonghwa sudah ada di atasnya, menodongkan ujung pedang api biru tepat di lehernya. Jungshin memegang ujung pedang api Yonghwa dengan tangan kanannya. Semburat cahaya muncul dari sela-sela jari Jungshin. Darahnya menetes bersama lelehan es dan nyala api biru yang semakin pudar.

Pedang api biru itu patah namun segera kembali ke bentuk semula dengan cepat. Sebelum sempat Yonghwa menghajar untuk kedua kali, Jungshin dengan cepat berdiri lagi, menyerang titik lemah Yonghwa. Dada sebelah kanan, tempat dimana Seohyun pernah menusukkan pisaunya. Yonghwa berhasil mengelak dan kembali mundur, dia memegang dadanya. Dan bayangan sesosok senyum gadis cantik terlintas di kepalanya. Api biru berjatuhan dari genggaman tangan Jungshin, membakar pelan-pelan padang itu.

Yonghwa kembali menyerbu membabi buta. Posisinya jelas lebih menguntungkan dibandingkan rivalnya. Sembari menyerang Jungshin, Yonghwa menumbuhkan bola-bola api biru di atas tanah dengan sihirnya. Pedang mereka saling beradu, berdenting keras. Sesekali Jungshin melemparkan pasak-pasak es biru kepada Yonghwa.

Jungshin susah payah berdiri saat salah satu pahanya terkena bola api biru tersebut. Ia terus berusaha melawan terjangan dari Yonghwa. Ayunan pedang Yonghwa terarah dengan baik dan berkali-kali nyaris mengenai bagian vital Jungshin. Di kesempatan yang lain, Yonghwa selalu berusaha mengarahkan tendangannya ke tubuh Jungshin. Kali ini, dengan telak tendangan itu mengenai kepala Jungshin. Membuat tubuh Jungshin terjatuh dan terhempas di atas padang rumput.

Yonghwa tersenyum kecut.

Jungshin merasa seluruh tubuhnya berkedut keras. Nyeri menjalar dari berbagai arah. Air matanya menetes lagi, melihat ‘Hyung’ nya itu berdiri di depannya. Ia melihat pedang es biru miliknya yang masih berkobar memancarkan cahaya biru yang indah.

Dirinya tidak boleh mati. Tidak untuk sekarang.

Jungshin membiarkan tanah di bawahnya terbakar.

Yonghwa tidak rela jika rivalnya—yang juga dongsaengnya—itu membunuh dirinya sendiri. Namun dirinya tidak bisa mendekati api biru yang mulai menjalar kemana-mana itu tanpa terbakar. Yonghwa berlari menerjang api biru dan menyambar tubuh yang tergeletak itu serta melemparkannya jauh dari api. Kini giliran api yang mendekat padanya. Di ujung pedangnya dia menggumamkan mantra. Api biru yang mengelilingi pedang nya membara semakin besar dan meledak, menimbulkan dentuman yang sangat keras.

“Api biru ini membungkusku, melahapku penuh nikmat. Dari balik dinding api kulihat kedua mata Seohyun dalam-dalam. Bening yang selalu kucinta, sejuk yang membuatku jatuh cinta terlalu dalam dan terbakar.”

>><<>><<>><<>><<>><<>><<>><<>><<>><<>><<>><<>><<>><<>><<>><<>><<

Jungshin masih mencoba menggerakkan tubuhnya dengan susah payah. Amarah dan kecewa mengalir deras dalam diri Jungshin karena apa yang di lakukan oleh Yonghwa. Meski pandangannya mulai mengabur karena darah dan keringat, tapi ia masih bisa mengenali orang yang sedang terbakar api biru di depannya.

 

Seluruh tubuhnya gemetar karena luka akibat duelnya dengan Yonghwa, kali ini ia mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk mengibaskan pedangnya.  Sekali lagi ia memaksakan tubuhnya bangkit, pedang di tangannya dijadikan tumpuan. Hingga akhirnya ia berhasil berdiri dan mengayunkan pedang itu ke arah Yonghwa.

 

 

“Shirai-tensu!!” Ayunan pedang Jungshin membawa udara dingin dan gumpalan badai es yang mengarah ke arah Yonghwa.

 

“Andweeeeeeeeeeeeeyyyy!!!”

 

Ctarrrr!!

 

Terdengar suara teriakan dan di susul ledakan dahsyat. Jungshin memalingkan wajahnya terkena efek  cahaya yang menyilaukan, ia tidak tahu apa yang terjadi berikutnya.

 

Cahaya tersebut mulai memudar. Jungshin masih berdiri di tempatnya tadi, ia mulai membuka mata dan  menyeret pedangnya. Ujungnya memburai awan debu yang baru saja di hasilkan oleh ledakan tadi. Langit masih terlihat biru dan cerah, terlihat sebuah siluet yang bergerak mendekati tempatnya berdiri. Semakin dekat dan mendekat.

 

Jungshin sudah tidak peduli lagi. Ia mengerahkan semua tenaganya dengan berlari ke arah Yonghwa. Namun, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Sepasang mata cokelat berdiri tepat di depannya. Sayap putihnya masih mengembang lebar, Wajahnya sangat cantik dengan tatapan tajam layaknya hendak membunuh jika Jungshin berani bergerak satu langkah saja.

 

Serpihan salju bahkan kalah putih dengan silau putih lembut dari pemilik sepasang mata itu. Seolhyun bernapas cepat. Jika ia terlambat sedetik saja, mungkin kedua orang yang sedang beradu kekuatan tersebut tidak akan selamat.

 

Aliran udara dingin dan panas yang di hasilkan oleh kedua pedang mereka masih terasa sangat kuat disana. Membawa beberapa serpihan kecil rumput yang hangus melayang di antara mereka. Kali ini melihat gadis itu tepat di depan matanya tidak terasa secantik ketika mereka masih bersama di sana, lebih kepada pedih. Seumpama hati yang perih lalu habis hancur lebur.

 

Hening.

***

Api biru yang membungkus Yonghwa perlahan berubah jadi memerah dan lambat laun padam seperti tertarik kedalam tubuh Yonghwa.

 

“Andwey…,” lirih suara bercampur tangis itu mendadak menghapus senyap yang ada.

 

“Hentikan..” Suara itu mendadak membuatku merasa kaku dan tak bisa bergerak.

 

“Berhentilah kalian berdua….” Permintaan gadis itu terdengar begitu menyayat.

 

“Mundur, Seolhyun,” ucapku dengan tegas.

 

Aku terkejut karena tiba-tiba gadis itu memelukku. Mataku dan mata gadis itu sempat berkontak sesaat sebelum ia memelukku, bisa kulihat jelas air mata yang membanjiri wajahnya.

 

Aku sadar sejak awal aku sudah kalah.

 

“Sudah hentikan… Aku mohon.. kalian sudah cukup membuang-buang waktu. Membuang tenaga kalian dengan percuma..” Gadis itu terisak di dadaku. Hatiku semakin pedih, Aku hanya bisa memejamkan mata dan membalas pelukannya.

 

***

 

Pertarungan itu sedikit banyak mengingatkan Yonghwa akan sesi latihannya dulu di istana langit. Kemenangan selalu berpihak di tangannya, tapi kali ini Yonghwa merasa bergerak begitu asal. Ia masih tak bisa mengingat teknik-teknik pedang yang pernah dipelajarinya. Belum lagi, sekarang Jungshin sudah bukan Jungshin yang dulu lagi. Jungshin mengingatkannya kepada Seohyun. Gadis yang membuat fokusnya berkali-kali terpecah. Dan perlahan bayangan gadis itu lewat lagi di ingatanya.

 

Yonghwa mencium rambut bergelombang berwarna coklat yang dimiliki oleh Seohyun. Warna rambutnya terlihat kontras dengan wajah pucatnya. Kilauan matanya, mengingatkannya tentang kilauan sinar bintang yang bersinar di langit.

 

Kilauan cahaya matahari sore musim gugur menembus jendela dan jatuh di atas tubuh mereka. Tangan Seohyun bergerak menyusuri dada bidang Yonghwa. Deru napas mereka saling bersahutan dan lebih cepat lagi ketika bibir mereka bertaut.

 

“I love you, Seohyun…,” bisik Yonghwa di telinga Seohyun.

 

Sayap Seohyun mengembang dan bergerak pelan, membungkus mereka berdua di dalam pelukan Yonghwa.

 

“I love you too, Doeryonim…,” balas Seohyun pelan.

 

Jarak diantara wajah mereka merenggang sedikit. Kedua pasang mata cokelat dan abu-abu itu saling menatap dengan lekat, mencari tahu apa yang sedang di pikirkan satu sama lain. Ada gairah dan rasa takut serta khawatir di mata coklat yang indah itu. Sepasang mata abu-abu tajam yang memaksa jantung Seohyun untuk berdetak lebih cepat. Seohyun menurunkan kedua tangannya dari wajah Yonghwa, menyusuri bahu tegap miliknya. Lalu meletakkan kepalanya di bahu tegap itu, bersandar.

 

“Jangan pergi, Aku takut..” pinta Seohyun seraya memeluk pemuda itu. “Aku sungguh mencintaimu.”

 

Yonghwa memejamkan matanya tidak mengatakan apa-apa. Membalas semuanya dengan ciuman singkat di bibir Seohyun yang dilanjutkan rengkuhan erat untuk perempuan itu.

 

***

 

Saat aku masuk kedalam lingkaran api itu. Aku bisa dengan jelas melihat wajah Seohyun, Bola mata cokelat terangnya terpantul indah di api biru itu. Di dalam balutan api biru itu aku merasakan kehadirannya. Aku merindukannya.

 

Aku memegang pedangku dengan lebih erat, darah merembes dari celah antara pedang dan luka yang dibuatnya di dadaku. Api ini melahap semua rasa yang dulu pernah aku miliki. Dia, Seohyun. Gadis yang dulu jadi malaikat pelindungku dan kemudian pelan-pelan menjadi gadis yang sangat aku cintai. Kupandangi lekat-lekat bagaimana sayap putihnya terbakar oleh api biruku. Sayap yang selalu membuatku nyaman dipeluknya, sayap penuh kehangatan yang pelan-pelan kini berubah memanas dan membuat senyumnya pudar. Dia menghilang karena cintanya.

 

***

Aku kembali tersadar dari lamunanku, api biru semakin tidak terkendali. Aku mulai mengayunkan pedangku membuat lingkaran pentagram virtual di udara. Kurapalkan mantra dan ku hunuskan pedangku di tanah.

 

“Lenyaplah kau wahai sang api. Jadilah milikku. Atas perintahku!! Shurui- ikaitsu ne!!”

 

Ssssssssssssssssssssshhhh~~

 

Perlahan-lahan api biru itu berubah menjadi merah. Dan lenyap kedalam pedangku. Pedangku berevolusi untuk kedua kalinya.

 

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>….<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<

“Have you ever been in love? Horrible isn’t it? It makes you so vulnerable. It opens your chest and it opens up your heart and it means that someone can get inside you and mess you up.”  ―Neil Gaiman

Far over the Misty Mountains rise

Leave us standing upon the heights

What was before, we see once more

Our kingdom a distant light

 

Fiery mountain beneath the moon

The words unspoken, we’ll be there soon

For home a song that echoes on

And all who find us will know the tune

 

Some folk we never forget

Some kind we never forgive

Haven’t seen the back of us yet

We’ll fight as long as we live

All eyes on the hidden door

To the Lonely Mountain borne

We’ll ride in the gathering storm

 

We lay under the Misty Mountains cold

In slumbers deep and dreams of old

We must awake, our lives to make

And in the darkness a torch we hold

 

From long ago when lanterns burned

Till this day our hearts have yearned

Her fate unknown the Arkenstone

What was stolen must be returned

 

We must awake and make the day

To find a song for heart and soul

 

Some folk we never forget

Some kind we never forgive

Haven’t seen the end of it yet

We’ll fight as long as we live

All eyes on the hidden door

To the Lonely Mountain borne

We’ll ride in the gathering storm

Until we get our long-forgotten old

Far away from Misty Mountains cold

 

Ps: The theme song is only a lyrics who composed from Neil Finn’s “Song of the Lonely Mountain” Who had really inspired me when writing this story.

 

Hening membentang di padang itu. Kesunyian yang benar-benar menyayat batin setelah kejadian yang baru saja terjadi di sana. Warna hitam hangus dan merah darah tercecer dimana-mana. Bunyi detak jantung Jungshin terdengar begitu jelas di telinga Seolhyun. Namun, telinganya tiba-tiba berdenging. Seperti mendengar suara dari ujung langit. Membuat Seolhyun menutup mata dan mengernyitkan dahi.

‘Kamu harus membunuhnya Seolhyun, sekarang. Atau tidak sama sekali.’

Seolhyun menggigil. Suara itu terdengar sangat jelas di telinga Seolhyun. Suara yang sama seperti berpuluh-puluh tahun lalu, ketika Seolhyun masih sangat polos dan belum mengenal apa itu kematian. Bagaikan gaung, suara itu menggema di mana-mana, tak bisa dihapusnya. Seolhyun semakin mengeratkan pelukannya.

“Jangan pergi, Jebaaaaal..” Isaknya.

Seolhyun kembali ke masa beberapa tahun yang lalu, ketika tugas itu pertama kali diberikan kepadanya.

 

Seolhyun berdiri di atas rerumputan yang dihiasi rumput berbunga warna putih dan kuning. Padang bunga crysant di sebelah utara taman langit merupakan tempat yang paling nyaman dan paling tenang di castle langit selatan, Di atasnya burung-burung berterbangan ramai-ramai kembali ke sarang.

 

Langit disekitarnya sudah bersemu kejinggan dan matahari bahkan sudah bersiap untuk pulang. Namun Seolhyun masih asik bermain dengan para peri bunga disini. Sejenak angin bertiup lebih kencang dan menerbangkan kelopak-kelopak bunga dandelion yang sudah bermekaran ke arahnya.

 

Seolhyun tersenyum kepada para peri bunga yang ikut terbawa terbang bersama bunga-bunga dandelion itu, rasanya seperti musim gugur. Padahal ini masih pertengahan musim semi. Para peri tersebut terlihat cemberut ketika kembali kehadapan Seolhyun. Mereka kesal karena Seolhyun tidak melindungi mereka dari angin yang ‘nakal’ itu.

 

Namun Seolhyun terlonjak kaget karena tiba-tiba ada suara aneh ketika ada seseorang yang datang mengunjunginya. Langsung saja jantungnya berdetak tak karuan. Sejak tadi memang sudah berdegup kencang sekali. Karena ia merasa sedang diawasi.

 

Seolhyun menarik napas panjang berkali-kali untuk meredakan kegugupannya setelah sosok itu melemparkan senyum kearahnya. Tahu-tahu saja dia sudah ada di depan Seolhyun dan masih menyunggingkan senyum simpul khasnya itu.

 

“Hai,” sapanya.

 

“Sunbae,,” balasku seraya berdiri membersihkan rokku dari bunga-bunga dandelion yang tak sengaja menempel disana

 

“Maaf kalau aku menggangumu.”

 

Aku tersenyum, “Ada apa sunbae kesini. Sangat jarang seorang ‘knight’ mengunjungi kastil selatan”

 

“Oh iya? Tadi aku pikir aku tersesat. Namun aku lega karena bertemu denganmu disini” katanya sambil duduk dan meletakkan pedang ‘knight’nya di sebelahku.

 

Aku masih tersenyum melihatnya, karena sangat jarang sekali seorang angel bisa bertemu dengan ‘knight’ di tempat yang sangat tidak biasa seperti ini. Namun saat aku ingat dan pandanganku terantuk pada sebilah pedang itu mulailah aku gelisah kembali. Kurasakan dingin yang muncul di tanganku. Tiba-taba aku takut, karena aku belum sepenuhnya menjadi seorang Angel. Aku masih dalam masa ‘trainee’. Dalam sedetik kemudian, aku ingin menyuruhnya pergi namun semua itu buyar, aku cuma bisa merasakan lidahku yang kelu dan kerongkonganku yang mendadak kering.

 

“Aku tidak tahu kalau di sini seindah ini,” komentar Jungshin.

 

Kudongakkan kepalaku untuk mencari tahu apa yang barusan dikomentari oleh Jungshin. Kuikuti arah pandangnya yang ternyata ke arah para peri yang sedang berterbangan diantara para bunga.

 

“Sunbae, seharusnya kamu tidak berada disini.” gumamku.

 

“Huh? Kenapa?”

 

“Karena ‘Knight’ tidak seharusnya bersama Angel. Itu sudah ada di peraturan langit. Apa lagi sunbae baru saja masuk kedalam pasukan khusus, sedangkan aku hanya calon Angel”Aku menatapnya ragu.

 

Pada saat itu, seperti tahu isi hatiku, sekawanan angin menyerbu dan menerbangkan bunga dandelion sehingga bunganya kembali berjatuhan kepada aku dan Jungshin.

 

“Kamu sangat lucu” Jungshin mengusap dan mengacak-acak rambutku. Aku hanya bisa tersipu malu. Mukaku memerah, aku berpaling dari hadapannya karena malu.

 

“Jadi disini tempat semua Angel menghabiskan hari nya?”

 

Kutatap wajahnya dari arah samping, menyusuri keningnya, turun ke bentuk hidungnya yang sempurna, lalu bibirnya yang kelihatan manis. Perhatianku terusik ketika sebuah bunga dandelion tersangkut di bahu nya. Aku hampir saja mengambil bunga itu saat dia akan menoleh kepadaku. Buru-buru aku menarik tanganku menjauh dan menundukkan kepalaku. Rasa panas yang mengaliri wajahku mungkin membuat warnanya akan begitu merah. Hal tersebut pasti memalukan untuk dilihat oleh Jungshin.

 

“Apakah seorang knight boleh memilih guardian Angel-nya sendiri?,” tanyanya lagi.

 

“Eh?” Aku buru-buru menatapnya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

 

“Kamu tahu kakakku”

“Humm… Yonghwa oppa?”

 

“Ya, Yonghwa hyung. Ia telah menemukan guardian Angel-nya saat ia masih berumur delapan tahun. Mereka bertemu secara diam-diam. Mereka belajar melindungi dan berbagi di saat mereka masih belum menjadi Angel dan Knight. Aku iri.. Seandainya aku bisa, aku pasti akan memilihmu Seolhyun”

 

Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Tapi sesungguhnya aku benar-benar terkejut atas pernyataan Jungshin. Aku tidak dapat ide dari mana dia bisa memilihku. Kami memang mengenal sudah lama. Karena kami merupakan keturunan dari ‘Elite One’ yaitu para penguasa langit sembilan.

 

Aku mengenalnya, bersamaan ketika para penguasa langit sembilan bertemu tiga tahun lalu. Kedua orang tua kami saling memperkenalkan kami, aku  juga mengenal kakaknya yang bernama Yonghwa. Saat pertama orang tua kami bertemu, mereka berharap aku lah yang akan menjadi guardian angel dari Yonghwa.

 

Namun, karena Yonghwa pada saat itu sudah naik menjadi ‘Knight’ apalagi menjadi captain, maka ia diwajibkan segera memiliki guardian Angel. Dan Angel yang di bicarakan Jungshin adalah Seohyun.

 

 Seohyun eonnie merupakan angel yang cerdas dan sangatlah cantik. Banyak sekali knight yang berharap agar Seohyun akan menerima pinangan dan memilihnya sebagai guardian angel.

 

Namun Seohyun memilih Yonghwa. ‘The Class One Knight Captain.’ Yonghwa tidak pernah kalah di dalam uji coba pertarungan langit. Begitu juga dengan Seohyun eonnie, mereka merupakan pasangan yang perfect.

 

“Sudahlah, lupakan. Aku pergi dulu. Hari sudah semakin malam, sampai jumpa Seolhyun-ah” Jungshin membungkukkan badannya seraya melangkahkan kakinya menjauh dari tempatku berdiri. Dan aku masih berdiri disana menatap nanar apa yang baru saja terjadi.

 

***

Oppa, Sudah hentikan.. Aku mohon, aku tidak mau kalau aku harus menjadi Seohyun eonnie yang kedua” Isakku.

 

“Seolhyun-ah, jangan halangi aku. Aku tidak mungkin membiarkan orang gila ini mengacak-acak dan menghancurkan kota langit” Jungshin masih berdiri tegap dan memicingkan matanya memandang ke arah rivalnya di seberang.

 

Oppa, trust me. Kalian hanya membuang ‘charm’ kalian untuk hal yang tak berguna..”

 

“Cepatlah menyingkir Seolhyun, kalau kau tidak mau membantu me ‘recharge’ charm ku.” Jungshin mendorongku menjauh. Aku terhuyung dan jatuh. Aku masih menangis melihat ke dua kakak-beradik ini saling menghajar dan berusaha membunuh. Walau aku yakin di dalam diri mereka pasti tidak akan pernah bisa saling membunuh satu sama lain.

 

***

 

“Kastil utara sedang kacau, Kaisar Donggun sedang bertarung melawan Elite One captain” Aku mendengar semua orang berteriak histeris di kastil selatan, dimana aku sedang duduk dan menyelesaikan cast spell mantra ku.

 

“MinA-yah.. Apa yang terjadi?” Tanyaku pada salah seorang teman Angelku.

“Mwoola~ wait, aku akan menghubungi Hyejeong di kastil utara” dengan sigap MinA mengusap cermin dua arahnya dan menggambar sebuah pentagram dan membacakan beberapa mantra.

 

“Hyejeong-ah, apa yang terjadi di kastil utara?” MinA bertanya segera ketika sebuah wajah muncul di balik cermin itu.

“Ehmmm… aku kurang tau MinA-ya, ini diluar perkiraan. Kami sudah tahu kalau mereka memang memutuskan ingin bersama dan pergi dari sini, tapi kaisar utara tidak mengizinkan. Dan kaisar memerintahkan para angel untuk membuangnya ke pintu lembah danau hitam”

 

Aku mendengarkan semua pembicaraan mereka, dan intinya aku hanya mendapatkan sepotong kisah. Kalau di utara sedang terjadi pemberontakan karena seseorang akan di buang ke lembah danau hitam. Tapi ‘who?’

 

“Hyejeong-ssi.. Seolhyun imnida~ kita sudah pernah bertemu di upacara kenaikan para angel rite?”

“Omooo-omoo!! Seolhyun-ssi putri pertama kaisar selatan. Manaseyo bangaupseumida. Maaf untuk tidak mengenali anda secara langsung tadi ” Hyejeong meminta maaf seraya membungkukkan badan.

“Ah~ Annieyo~ bisa tolong jelaskan kepada saya ada apa di utara. Karena master ‘knight’ saya tidak memberikan informasi atau aba-aba berbahaya kepada saya?”

 

“Ehmm… apa yang anda bilang adalah master Jungshin? ” Hyejeong bertanya dengan nada sedikit cemas.

“Uh? Kamu mengenal nya Hyejeong-ssi?”

“Ne, Saya tau beliau. Karena beliau sekarang sedang kritis dan berada di bawah pengobatan master Jonghoon”

 

DEG!! Mukaku pucat pasi mendengar itu. Aku langsung berlari meninggalkan MinA yang masih bingung dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi padaku.

 

Aku segera berlari dan terbang menuju kastil utara. Aku tidak tahu rasa apa ini, tapi semua rasa ini bercampur aduk menjadi satu. Membuat hatiku sesak dan sulit untuk bernafas dengan normal.

 

Aku melihatnya, ia sedang terbaring lemas di ujung koridor utara. Dimana semua orang sedang berusaha memadamkan ‘Magical Dragon’ yang di spell dari api biru untuk mengamuk di aula itu. Dan aku bisa yakin orang yang telah merapal mantra naga api itu pasti Yonghwa.

 

Pada saat melihatnya terbaring lemas aku menyadari suatu hal. Hal yang paling di takutkan dan di benci semua penghuni langit. Yaitu, jatuh cinta bukan kepada orang yang tepat. Karena peraturan pertama kerajaan langit telah jelas melarang  ‘Angel untuk  jatuh cinta kepada knight masternya, begitu juga sebaliknya’.

 

Aku tahu bahwa alasan inilah yang membuat Yonghwa mengamuk dan memilih menentang sang raja. Karena Yonghwa menginginkan menikah dengan Seohyun eonnie, bukan dengan gadis pilihan kaisar. Kaisar utara murka dan menyuruh membuang Seohyun eonnie kedalam lembah kegelapan. Hal yang paling menakutkan bagi penghuni langit ialah hidup tanpa cahaya. Dan saat ini cahaya ku sedang terbaring lemas karena kutukan mematikan.

 

***

Yonghwa bangkit dari tempatnya berdiri, Ia sekali lagi mencoba menghunuskan pedangnya ke arah Jungshin. Jungshin menangkisnya dengan semua sisa tenaganya, namun pedang Yonghwa telah berevolusi menjadi lebih kuat dan tajam. Sekali tebas saja, pedang Jungshin sudah mulai retak dan cahayanya mulai pudar.

 

Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Aku bangkit dari tempatku tersungkur tadi. Kurentangkan kedua tanganku di udara. Ku buka gerbang pintu magis dengan menggambar double pentagram di sana. Ku rapalkan mantra ‘Shield’ dan mengunci mereka berdua di dalam ‘cube’ itu.

 

Ku dekatkan kedua ‘cube’ itu dan aku berada di tengah-tengah di hadapan mereka. Mencoba untuk berkomunikasi.

 

Oppa, maafkan aku karena aku memakai sihir level 9 dihadapan kalian. Kalian pasti terkejut karena aku bisa mempelajari sihir ini di saat level sihirku masih di bilang tingkat lima.” Aku berusaha berbicara kepada mereka, aku ingin mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kami. Para angel, yang harus di rahasiakan dari para knight. Karena ini merupakan misi terakhir yang harus kami laksanakan sebagai guardian angel dan taruhannya adalah nyawa kami.

 

“Yonghwa oppa, aku tahu oppa sangat kehilangan Seohyun eonnie.. ketika Seohyun eonnie memutuskan untuk suicide, setelah ia tidak berhasil melaksanakan misi terakhirnya.” Aku melihat mata Yonghwa terbelalak kaget, akan pernyataanku tadi.

 

“Oppa tidak perlu khawatir. Aku sudah tahu ini semua dari awal. Kami para angel terikat satu perjanjian. Dan perjanjian itu yang akan mengontrol kami seumur hidup” Aku tidak sadar air mataku mengalir begitu saja.

 

“Aku tahu, Seohyun eonnie sangat mencintai oppa. Karena pada akhirnya ia tidak bisa membunuh oppa dengan belati itu bukan.”

 

Yonghwa benar-benar tidak tahu apa-apa tentang ini semua, Jungshin memandangku dengan tatapan iba dan sangat menyesal.

 

Oppa tahu apa misiku untuk saat ini? Ya, misiku saat ini untuk membunuh Yonghwa  atau Jungshin oppa, kalau seandainya kalian berdua akan berakhir untuk saling menghancurkan.”

 

Sekarang tidak hanya Yonghwa saja yang terkejut, namun Jungshin juga ikut tidak percaya atas apa yang ku katakan, air mataku sudah tidak bisa aku tahan lagi.

 

Here, aku akan memperlihatkan memory terakhir dari Seohyun eonnie”Aku masih terisak dan terbata-bata saat merapalkan mantra, namun kemudian aku berhasil membuka cermin tarsah. Cermin gaib yang mencatat semua masa lalu dan masa depan seseorang.

 

***

Angin berbisik melewatinya. Salju turun tersangkut di rambutnya, di matanya, dan tiupan angin dingin menyengat menyerang pipinya. Namun ia masih terus berlari, melompati kayu, memutar

antara pohon-pohon, dan menari melewati batu-batuan hitam terjal. Dia bernapas terengah-engah mengetahui hari ini adalah akhir hidupnya. Jantungnya berdebar lebih kencang ketika ia mendorong dirinya untuk berlari, mengabaikan sayapnya.

 

Udara dingin tampak hilang, hanya keheningan dan suara angin yang berhembus di sekelilingnya yang tertinggal. Salju menyembunyikannya dengan apik, saat sesosok tubuh berjalan melewati pohon-pohon pinus yang sudah hampir mengering. Sebuah bayangan di dalam dunia beku. Sensasi bahwa kehadirannya tidak pernah di harapkan oleh gadis itu. Di sini dia sendirian. Di sini ia aman. Ia masih berdiri di antara putihnya hutan, ‘dia datang!!’ Seohyun merasakan kehadirannya dan ia sekarang berdiri di depannya.

 

 

“Hallo Seohyun. Olaenmanineyo~ ” suaranya memotong keheningan yang tercipta, mata abu-abu kelam miliknya berkelebat di kegelapan.

” Yonghwa… ” dia mencoba bertanya kepada sesosok makhluk yang bediri di hadapannya itu. Perasaan Seohyun sangat tidak karuan. Jantungnya berdetak sangat kencang mungkin efek dari kerinduan atau rasa sakit yang sulit didefinisikan. Bagaimana mungkin ia tidak merasakan kehadiranya dengan jarak sedekat ini?

 

Seohyun melangkah mundur sedikit dan tubuhnya terlihat gemetaran, entah antara takut atau dingin. “Maafkan aku Oppa . ” Yonghwa mengikuti gerakannya bertekad untuk tidak mundur, “Seohyun-ah, mari kita pulang,, Ikutlah denganku, dan kita akan menikah” Yonghwa berhenti, ia mengulurkan tangannya ke arah Seohyun. Tatapan matanya sangat menyakitkan.

 

Oppa, kita tidak akan pernah bisa bersama..” Seohyun merasakan air mata mengalir di pipinya,

“Kami, para angel tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang istri ataupun seorang permaisuri. Takdir kita saling menolak oppa..” air mata Seohyun semakin deras. Yonghwa berdiri terdiam.

 

” Apakah cuma karena itu kamu menghindariku dan pergi meninggalkan istana langit? Aku kira hanya ayah ku saja yang bodoh karena meramalkan aku akan mati jika bersama denganmu. Namun ternyata kamu lebih bodoh dari dugaanku” Suara Yonghwa bergetar. Emosinya sedang tidak stabil. Dan Seohyun tahu itu sangat berbahaya, ia bisa saja bertindak bodoh dan melukai dirinya sendiri.

 

“Kamu tahu? Aku menentangnya. Aku sudah cukup muak dengan semua aturan langit ini!! AKU MUAK!! MEREKA SALAH!!” Seohyun melihat sebutir air mata menetes dari mata abu-abu itu. Yonghwa menangis.. Ia berlari memeluk Yonghwa.

” Deoryeonim~ jangan menangis jebaal..” Seohyun masih memeluknya erat.

 

Yonghwa tertawa muram, mata abu-abunya berubah menjadi merah ” Aku yakin aku bisa membuktikan kepada langit kalau mereka salah. Bahwa kamu, Seohyun juga salah, ” Seohyun menggelengkan kepalanya.

 

“Tidak oppa, itu tidak benar. Mereka benar, dan kita lah yang salah” Seohyun menyihir serpihan-serpihan salju tersebut menjadi belati di belakang tubuh Yonghwa.

 

‘Mungkin ini saatnya, sebelum mata itu merusak semuanya’

 

Seohyun mengepakkan sayapnya, dan berusaha mengayunkan tangannya. Mencoba untuk menusuk jantung Yonghwa.

 

Yonghwa mendorong Seohyun dan api birunya bereaksi pada insting membunuh seohyun. Melontarkannya mundur, dia merasakan perih di dada kanannya. Ia melihat darah mengalir dari sana. Seohyun berhasil melukainya.

 

Yonghwa melihat bagaimana api birunya membakar Seohyun secara perlahan. Ia masih bisa melihat mata coklat yang bersinar itu dengan jelas. Seohyun tersenyum kearahnya.

 

“I love you…” Seohyun tersenyum di ujung kata terakhirnya, dan kemudian api itu melahap habis seluruh tubuhnya.

 

Yonghwa masih tidak percaya atas apa yang telah ia perbuat. Ia membunuh satu-satunya alasan hidupnya, cahayanya . Perlahan Yonghwa menjauh dari nyala api yang hampir padam itu, menjaga jarak dan berlari dari kenyataan.

 

***

 

“Bagaimana oppa? Kau sudah melihat bukan, itu.. ” belum selesai Seolhyun berbicara Yonghwa sudah menghancurkan ‘shield cube’ milik Seolhyun dan menyerang Jungshin.

 

Praaaaaaaaaaaaaaaaangg… Craaaaaaaaaaash… Jleb…

 

“Andweeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee….” Seolhyun terbang menukik menuju ke arah tubuh Jungshin jatuh.

 

“Oppa… Oppa, bertahanlah.. aku akan menyembuhkanmu.. oppaaaaaa…” Seolhyun memeluk tubuh jungshin erat, tangisannya sangatlah memilukan.

“Seol-hyun…..ah..” Jungshin berusaha memegang wajah Seolhyun.

“Oppa!! Oppa tetaplah sadar. Aku akan membawamu kembali ke langit, bertahanlah…” Suara teriakan dan tangisan Seolhyun mengakibatkan langit berduka untuknya, hujan pun turun mengguyur sedihnya.

 

“Seolhyun-ah.. tetaplah disini. Aku.. a..ku ingin mengatakan sesu..atu padamu..” Jungshin memegang erat tangan seolhyun dan mengusap air matanya.

“Seolhyu…nie…ss…sa..sarang…” belum sempat Jungshin menyelesaikan kata-katanya, ia telah pingsan kehabisan darah.

 

“OPPPPPPPPPPAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

 

***

‘Apa yang telah aku lakukan? A…aku… membunuh saudara ku sendiri.. i…ini tidak mungkin’

Terlihat kejadian tadi, setelah ia melihat Seohyun terbakar oleh api biru miliknya tak sadar ia mengaktifkan ‘bankai’ dan menerjang ‘shield’ itu guna menghancurkan cermin gaib tersebut. Namun ia meleset. Cermin itu fana dan dapat dengan mudah dilewatinya menuju ke arah Jungshin. Ya, pedang ‘bankai’nya melukai adik laki-laki favoritnya.

 

“AAAAAAAARRRGGGHHH”  Yonghwa memegang kepalanya yang terasa amat sakit. Sekilas ia melihat semua kejadian itu kembali di hadapannya. Dan itu membuatnya frustasi, ia masih belum bisa menerima kalau Seohyun sudah tidak ada di dunia ini.

 

***

 

“In exchange of this man’s life…I now abandon my wings…” Seolhyun merapalkan matra terakhir yang masih dia ingat, seumpama semua plan-nya tersebut gagal.

 

Beberapa detik kemudian kedua sayapnya mulai pudar, dan digantikan Jungshin yang yang terbatuk-batuk mulai sadar.

 

“Oppa, jaga diri oppa baik-baik. Aku juga mencintai oppa.. oppaaaaa….” Seolhyun memudar.. di ikuti dengan kesadaran Jungshin.

 

Sebenarnya tanpa mereka sadari, Jade Emperor melihat semua kejadian itu. Dan ia merasa iba kepada kedua-nya. Sehingga ia menuliskan takdir yang lain untuk keduanya.

 

***

 

Bumi, 1100th setelah pertempuran langit dan kerajaan utara runtuh.

 

Seoul, March 28

 

“Annyeonghaseyo~” Huh? kurasakan seseorang juga membuka pintu taksi yang sedang akan kunaiki. aku langsung saja memalingkan pandanganku ke arahnya.

 

“Kau….”

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

 

Aku merasakan tiba-tiba aku memiliki sayap. Dan dunia berputar seperti banyak sekali sinar yang mengelilingiku.

 

“Jungshin oppa..” Aku tersenyum. karena aku di izinkan bertemu dengannya (lagi) di dunia ini.

 

 

———————————————————————————————————End.

“Perhaps that’s what love is, just called a muses. Not something you can touch or feel, not something that can be recognized or noticed. It comes and goes, like a waves crashing on a beach, you can dancing to the beat of an unknown drum. Or sometimes it is there, sometimes it isn’t. Slowly, without any thought behind it, it grows, leaves spreading and a bud forming. One day, the flower blooms and that might be a surprise to find it but it isn’t fully a shock because it was there all along. It is just sleeping until it is ready to face the world.

 

 

******************************************************************************************************************

Author’s Note:

Tadaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~~ Ini fic comeback yang menguras semuanya… Akhirnya saya selesai nulis fanfic genre supernatural saya… cieeeeee.. ga mau banyak omong. Ini udah hampir 5K word!! ;-; Oh ya.. saya selipin banyak Quotes ini… kekeke~ And jangan tanya kenapa Seohyun harus mati. Trus itu knapa banyak di italic.. heungggg… kheukheu~ :D

 

So see you~~

Allya~

 

 

3 thoughts on “The Red and Blue Sword

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s