Oneshot ;; Breathe Again

image

Title
Breathe Again

Author
Yoo Jangmi

Genre
teen-romance ; supernatural (?) ; fantasy

Length
Oneshot

Rating
PG14

Cast
– Lee Taemin (SHINee)
– Kang Jiyoung (KARA)
Supporting Cast
– Kim Jongin (EXO)
– Lee Jihyun / Qri (T-Ara)
– Lee Hyeri (Girl’s Day)

Disclaimer
Cast not mine. Storyline purely mine inpired by Sara Bareilles‘ song ‘Breathe Again’ (recommended song to listen while you reading this fic :’3)

Credit Pic: KARA’s Jiyoung – ©tumblr

Happy Reading :3
——————————————

“All I have, all I need…
He’s the air i would kill to breathe
Holds my love in his hands
Still I’m searching for something
Out of breath, I am left hoping someday..
I’ll breathe again…”
`Sara Bareilles – Breathe Again

Mobil sedan merah itu terparkir di depan sebuah rumah tua. Rumah itu tidak begitu besar, namun terlihat nyaman. Dindingnya bercat warna apple white, halamannya tertata rapi lengkap dengan tanaman hias aneka jenis dan warna.

Lee Taemin menggendong ransel hitam besar miliknya, di tangan kanannya terdapat sebuah tas besar berwarna merah dengan variasi garis hitam. Ia melangkah masuk ke halaman rumah tua itu, hal pertama yang ia lihat dan menarik perhatiannya adalah seorang kakek tua yang duduk di dekat sebuah pot bunga morning glory. Taemin mengenali kakek itu, ia adalah tukang kebun keluarganya yang sudah bersama keluarganya sejak ayahnya masih remaja. Satu fakta yang membuat Taemin bergidik adalah kakek itu sudah meninggal sekitar 2 tahun yang lalu. Tapi baginya hal seperti ini pemandangan yang biasa, ia memang tidak dilahirkan untuk menjadi normal seperti kakak dan adiknya. Ia dapat melihat dan berkomunikasi dengan arwah, persis seperti neneknya. Ia tidak ingin seperti neneknya yang pekerjaannya adalah menolong arwah-arwah itu atau melakukan pemanggilan. Ia ingin hidup normal sebagaimana remaja semestinya. Meskipun dirinya sendiri tidaklah normal.

Taemin terdiam beberapa saat di tempatnya berdiri sampai terdengar suara adik perempuannya memanggil.

“Oppa! Apa yang kau lakukan? Bantu aku dan unnie mengangkat kardus ini” seru Hyeri.

Taemin segera menuju pintu depan rumah tua itu dan merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sebuah kunci dan membuka pintu itu. Segera saja debu-debu halus berterbangan. Ia membersit hidungnya, lalu meletakkan kedua tasnya di lantai. Setelah itu ia kembali ke mobil untuk mengangkat barang-barang yang lain.

Taemin dan keluarganya meninggalkan rumah tua ini sekitar setahun yang lalu. Mereka pindah ke Seoul karena tuntutan pekerjaan ayahnya. Dan selama ditinggalkan itu, rumah tua ini disewakan pada sebuah keluarga.
Sebulan yang lalu, ayah dan ibunya meninggal karena sebuah kecelakaan lalu lintas. Ia, bersama kakak dan adiknya pun memutuskan untuk kembali ke rumah lama mereka di Busan ini. Ia berharap akan ada sesuatu yang baru dalam hidupnya setelah ini. Entah mengapa ia punya perasaan baik tentang ini.

***

“Taemin-ah, jangan lupa bereskan kamarmu. Oh ya, kau dan Hyeri tidak akan mulai sekolah dulu besok, aku tahu kalian butuh istirahat” ujar Lee Jihyun panjang lebar sambil mengaduk sup tahu yang sedang ia masak.

Taemin hanya mengangguk pada kakaknya itu. menurut Taemin, Jihyun kadang bersikap lebih seperti seorang umma daripada nuna.

Taemin meninggalkan dapur dan pergi ke kamarnya. Kamar itu tidak banyak mengalami perubahan. Dulu di pintunya ada tulisan “Taemin’s Room” dan “Don’t Disturb” tentu saja sekarang sudah dicopot. Warna cat dindingnya masih sama, biru muda, dengan sedikit variasi kertas dinding putih.

Ia duduk di atas ranjangnya dan mulai membongkar pakaian dan barang-barangnya. Sekian detik kemudian ia sadar ia tidak sendirian di dalam kamar itu.

Di pojok kamar, seorang yeoja yang kelihatannya seumuran dengan Hyeri, duduk sambil memeluk lutut. Gadis itu memakai baju terusan berwarna putih yang sangat sederhana dengan rempel-rempel di bagian bawahnya. Rambutnya terurai sampai dada. Wajah manisnya terlihat murung. Ia sedang melamun.

Sinar matahari dari jendela menembus tubuh gadis itu, membuatnya jelas terlihat transparan. Taemin pun sadar ia sedang melihat arwah lagi. Tapi ia tidak mengenal gadis ini.

“apa yang harus aku lakukan? mengajaknya bicara… atau lebih baik aku biarkan saja?” batin Taemin sambil memandangi gadis itu.

Gadis itu sadar Taemin sedang memandanginya. Ia melihat ke arah Taemin dan menunjukkan ekspresi terkejut. Ia segera berdiri dan menghampiri Taemin.

“kau.. bisa melihatku?” tanyanya pada Taemin.

Taemin mengangguk pelan. Ia tidak yakin dengan apa yang sedang ia lakukan sekarang, terakhir kali berinteraksi dengan seorang arwah, arwah itu memaksanya untuk menolongnya.

“jinjja? ah beruntungnya aku” kata gadis arwah tadi sambil tersenyum senang.

“kalau kau ingin aku menolongmu aku tidak akan melakukannya” kata Taemin, ia merasa lebih baik menolak sebelum gadis itu meminta tolong padanya.

Gadis itu duduk di sebelah Taemin dan tersenyum padanya, seolah tidak mendengar perkataan Taemin sebelumnya.

“namaku Kang Jiyoung” kata gadis arwah itu. “Lee Taemin” kata Taemin agak ragu. Ini pertama kalinya ia berkenalan dengan arwah.

“mengapa kau ada di sini? ehm.. ada urusan yang belum selesai?” tanya Taemin, tangannya masih bergerak membongkar tasnya.

Jiyoung menggelengkan kepalanya. “Ani.. aku ini hanya koma, aku belum mati” ujarnya. “tapi aku tidak tahu bagaimana harus kembali ke tubuhku. Kejadiannya sangat aneh”

Taemin berhenti membongkar tasnya, tangannya menggantung di udara sesaat. Ia melihat ke arah Jiyoung dengan tatapan heran. “aneh bagaimana?” tanyanya.

Jiyoung memejamkan matanya, berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum ia terpisah dengan tubuhnya.
“aku berada di mobil bersama appa dan ummaku, lalu ada mobil lain yang menabrak mobil kami. Setelah itu semuanya gelap. Aku terbangun di sini, di kamar ini. Lalu aku pergi ke luar rumah, saat itu aku sadar kalau aku ini transparan. Aku mendengar pembicaraan tetangga tentang kecelakaan itu, dari mereka aku tahu orang tuaku sudah meninggal dan aku… ehm.. tubuhku terbaring koma di rumah sakit”

Jiyoung menceritakan kejadian yang dialaminya pada Taemin, dan keinginannya untuk kembali ke tubuhnya. Ia tidak berharap Taemin akan menolongnya, meskipun ia sangat ingin laki-laki itu menolongnya.

“Mungkin kau akan kembali ke tubuhmu pada waktunya. Atau mungkin ada yang harus kau selesaikan dulu, entahlah. Aku tak bisa menolong. Maafkan aku Jiyoung-ssi” kata Taemin, sebenarnya ia merasa kasihan pada Jiyoung, tapi ia bersikeras tidak akan pernah menolong arwah manapun.

Jiyoung tersenyum kecil dan mengangguk pelan, wajahnya kembali murung. “Arasseo.. kau tidak akan menolongku” ujar Jiyoung. Ia berdiri lalu berjalan kembali ke pojok kamar, kembali ke posisi asalnya. Ia duduk memeluk lutut dan menangis tanpa suara.

Taemin melanjutkan kegiatan unpacking-nya, berusaha tak mempedulikan Jiyoung yang menangis di pojok ruangan. Tapi ia tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari gadis itu, sesekali ia melihat kearahnya di sela-sela membereskan pakaian. Hatinya tersentuh untuk menolong Jiyoung yang tersesat.

“Jiyoung-ah, aku akan menolongmu” ujar Taemin, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal “ah apa yang salah denganku” gumamnya.

Jiyoung mengangkat kepalanya, ia tersenyum pada Taemin. Sinar matahari terang yang masuk dari jendela kamar menembus tubuh transparannya lagi, membuatnya tampak bercahaya. “Gomawo oppa”

——————————————

Jihyun membolak-balik halaman majalah fashion di tangannya tanpa sedikitpun membacanya. Ia belum mendapat pekerjaan baru di sini. Entah di mana di Busan ini seorang Psikolog sepertinya bisa mendapat pekerjaan. Adik bungsunya, Hyeri, duduk di sebelahnya sambil menonton TV, gadis itu juga sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang lain walaupun matanya tertuju ke TV.

“unnie” panggil Hyeri tiba-tiba. Jihyun menutup majalahnya dan menoleh. “hmm?” jawabnya. Hyeri melihat ke kanan dan ke kiri seolah memastikan sesuatu lalu bertanya dengan suara yang dipelankan.

“Taemin oppa… apa ia gila? Waktu itu aku melihatnya bicara sendiri di kamarnya” kata Hyeri. Jihyun langsung menepuk bahu Hyeri dengan majalahnya “jangan bicara sembarangan tentang oppa-mu! Ia tidak gila.. kau tidak tahu?” Kata Jihyun.

Hyeri menggelengkan kepalanya. Ia tidak pernah tahu semua tentang kakaknya, ia mengenal Taemin sejak lahir, tapi ia tidak mengetahui oppa-nya itu sampai ke sisi terdalamnya.

“Ia bisa berkomunikasi dengan arwah, persis seperti halmeoni. Kalau kau melihatnya bicara sendiri, itu mungkin ia sedang bicara dengan seseorang” jelas Jihyun, penjelasan itu memunculkan ekspresi kaget sekaligus ngeri di wajah Hyeri. Ia tidak menyangka oppa-nya punya keahlian seperti itu, dan lagi itu artinya di rumah ini ada arwah atau bisa dibilang hantu.

“unnie.. Ini tidak lucu” kata Hyeri sambil menggelengkan kepalanya. “memang tidak” kata Jihyun datar, ia tidak menangkap maksud Hyeri.

Hyeri mendengus kesal lalu pergi ke kamarnya, meninggalkan Jihyun sendiri di ruang keluarga.

***

Taemin menyiapkan sebuah buku catatan dan sebuah pulpen. Ia duduk di atas tempat tidurnya, Jiyoung ada di sebelahnya, wajahnya terlihat bingung.

“ia semakin terlihat manis dengan ekspresi bingung itu” batin Taemin sambil menulis sesuatu di bukunya.

“oppa, untuk apa buku catatan itu?” tanya Jiyoung. Taemin tersenyum pada gadis arwah itu lalu menjelaskan apa yang akan ia lakukan.

“aku akan mencatat apapun tentang dirimu, sebagai petunjuk untuk menemukan masalah apa yang membuatmu tak bisa kembali ke tubuhmu” ujar Taemin, “nah, sekarang ceritakan padaku tentang dirimu. Kejadian yang bisa kau ingat sebelum kau koma, dan apapun yang ingin kau beritahu padaku” lanjutnya.

Jiyoung menangkupkan kedua tangannya. Pertama-tama ia menceritakan hidupnya, mulai dari kapan ulang tahunnya, siapa orang tuanya, Ia juga menceritakan saat ia pindah ke rumah tua ini.

“kau punya pacar?” tanya Taemin, ia tidak bermaksud menanyakan pertanyaan seperti itu, tapi siapa tahu saja bisa menambah petunjuk untuknya.

Jiyoung mengangguk, tapi wajahnya langsung berubah sedih. “hmm… namanya Kim Jongin. Tapi aku tidak tahu sebenarnya kami ini masih bersama atau tidak” kata Jiyoung.

Taemin mencatat nama laki-laki itu, setelah itu ia meminta Jiyoung melanjutkan menceritakan kejadian sebelum ia koma. Gadis itu hanya mengingat sepotong-sepotong kejadian itu, ia tidak dapat mengingat semuanya.

“kau tidak ingat warna mobil yang menabrak mobil orang tuamu? Atau.. plat nomornya mungkin” kata Taemin, Jiyoung menggelengkan kepalanya. Gadis itu tampak frustasi dan putus asa, ia berusaha mengingat tapi tak bisa.

“hmm… kau tahu rumah sakit tempat kau di rawat?” tanya Taemin. “aku tahu. Aku sering ke sana untuk melihat tubuhku, hihi” ujar Jiyoung, lalu menyebutkan nama rumah sakitnya.

Taemin mencatat semua hal penting yang ia dapat dari cerita Jiyoung. “ok ini cukup. Hmm.. Jiyoung-ah?” kata Taemin sambil menatap Jiyoung.

“ne oppa” sahut Jiyoung sambil tersenyum. “aku ingin mengunjungimu di rumah sakit, boleh kan?” tanya Taemin. Jiyoung mengangguk, “tentu saja oppa, ayo kita ke sana” gadis itu mencoba meraih tangan Taemin, tapi ia hanya bisa menyentuhnya sedikit. Sentuhan yang Taemin rasakan hanya terasa seperti sapuan angin dingin lembut di tangannya.

Jiyoung tertawa kecil, ia malu dengan apa yang dilakukannya barusan. Tentu saja ia tak akan bisa memegang tangan Taemin, untuk apa ia mencoba?

“mianhae” ujar Jiyoung pelan. “tidak apa-apa. Ayo kita ke rumah sakit sekarang” kata Taemin, ia tersenyum geli melihat tingkah Jiyoung, gadis itu benar-benar polos seperti anak kecil, lebih polos dari adiknya yang seumuran dengan Jiyoung.

“kalau saja kau bukan hantu… Kang Jiyoung”

***

Kim Jongin duduk di sebelah ranjang tempat Jiyoung terbaring koma. Ia di sana karena bibinya Jiyoung menyuruhnya menjaga Jiyoung.

Sebenarnya ia tidak lagi menganggap gadis itu pacarnya, tapi ia melakukan ini agar ia tetap terlihat baik di hadapan keluarga Jiyoung, dan agar perbuatannya tidak diketahui.

Sekitar setengah jam berlalu, pintu ruang rawat itu terbuka. Jongin melihat seorang laki-laki (yang mungkin lebih tua setahun darinya) masuk ke ruang rawat Jiyoung.

Ia berdiri dari kursinya, dan menghampiri laki-laki itu. “kau siapa?” tanyanya to the point.

“aku.. Lee Taemin, aku temannya Jiyoung” kata Taemin, Jongin tidak bisa melihat arwah Jiyoung yang berdiri di sebelah laki-laki itu, tapi ia merasakan sesuatu yang salah di ruangan itu. (?)

“oh, mau menjenguk Jiyoung? Aku keluar sebentar kalau begitu” kata Jongin, setelah itu ia langsung keluar dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban dari Taemin.

“dia itu pacarmu?” tebak Taemin, ia bicara pada arwah Jiyoung di sebelahnya. Jiyoung mengangguk, ia tidak mengerti mengapa ia merasa tidak nyaman saat Jongin ada di dalam tadi.

Jiyoung melangkah mendekati ranjang tempat tubuhnya terbaring koma, Taemin mengikutinya.

Gadis itu menatap dirinya sendiri dan mulai menangis. Ia sangat merindukan rasanya hidup dengan tubuh itu. Ia ingin bernapas lagi. Sekarang ia begitu dekat dengan tubuhnya sendiri tapi ia tetap tidak bisa kembali ke tubuhnya.

Lalu ia teringat perasaan anehnya saat ada Jongin tadi, apakah ada sesuatu yang terjadi di antara mereka? apa mungkin ada hubungannya dengan keadaannya sekarang?
Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba muncul dan mengusik Jiyoung. Ia memutuskan untuk memberi tahu Taemin.

“oppa, tadi sewaktu Jongin ada di dalam aku merasakan perasaan aneh” ujar Jiyoung.

“aneh seperti apa?” tanya Taemin heran sambil melihat ‘Jiyoung’ yang terbaring koma.

“seharusnya aku merindukannya, atau ya.. perasaan seorang gadis yang sudah berbulan-bulan tidak bicara dengan pacarnya, tapi yang kurasakan malah sebaliknya. Aku merasa… tidak mau berada di dekatnya, aku merasa benci padanya. Tapi kenapa..” kata Jiyoung, sekarang ia berjalan ke dekat jendela kamar, membiarkan sinar matahari menembus tubuhnya.

Taemin membelai rambut ‘Jiyoung’, sambil menatap wajah pucat gadis itu. Taemin semakin penasaran seperti apa gadis itu saat ia hidup kembali.

“kuncinya hanya satu Jiyoungie, kau harus ingat. Mungkin ada sesuatu yang terjadi antara kau dengan Jongin sebelum kecelakaan itu” ujar Taemin.

Gadis arwah itu mengangguk pelan. Ia harus berusaha mengingat kejadian-kejadian sebelum dirinya koma, kalau ia benar-benar ingin hidup lagi.

Sepulang dari rumah sakit, Jiyoung duduk di tempat kesukaannya di rumah itu; kamar Taemin, tepatnya di pojoknya. Ia duduk memeluk lutut di sana sambil melamun, dan berusaha mengingat apapun yang bisa ia ingat.

Taemin mengintipinya dari celah pintu kamar, ia tidak pernah percaya kata-kata love at the first sight, sampai saat ibunya mengatakan “cinta bukanlah berapa banyak waktu yang sudah kau habiskan bersama seseorang”

Ia belum lama mengenal arwah Kang Jiyoung, tapi ia rasa ia mulai menyukai gadis itu. Permasalahannya adalah, Jiyoung harus bangun dari koma, baru Taemin bisa bersamanya. Tidak lupa satu fakta kalau Jiyoung punya pacar.

Taemin mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia bingung dengan dirinya sendiri. “apa yang harus aku laku… eh tunggu, Jihyun nuna seorang psikolog kan? mungkin ia bisa membantu” gumam Taemin.

Ia segera pergi ke ruang keluarga, di sana ada Jihyun dan Hyeri yang sedang tertawa bersama sambil menonton sitkom. Taemin meraih remote tv dari tangan Hyeri dan mematikan tv itu. Sontak Hyeri dan Jihyun berhenti tertawa dan menatapnya heran.

“yah Taemin oppa! apa yang kau lakukan?!” seru Hyeri kesal, ia hampir menggigit oppa-nya itu kalau saja Jihyun tidak menahannya. “Hyeri-yah, tenanglah” ujar Jihyun.

“nuna, aku harus bicara padamu” kata Taemin.

“unnie, kurasa memang ada yang tidak beres dengannya” kata Hyeri sambil melirik kesal pada oppa-nya.

“Lee Hyeri! diamlah dulu. Ada apa Taemin-ah?” ujar Jihyun, ekspresinya sekarang menunjukkan ia mulai kewalahan mengurus kedua adiknya.

Taemin duduk di hadapan nunanya dan mulai bicara. “aku pernah diberitahu nuna kalau orang yang sedang koma alam bawah sadarnya tetap merekam kejadian di sekitarnya, betul kan?”

Jihyun mengangguk pelan. “ya, tapi kenapa tiba-tiba kau menanyakan ini?” kata Jihyun bingung.

“aku mau bertanya, apakah teori itu berhubungan dengan mengapa seseorang sulit terbangun dari koma?” tanya Taemin.

Hyeri memberinya pandangan bingung, sementara Jihyun kelihatan sedang berusaha mencerna pertanyaan Taemin.

“begini Taemin-ah, di seminar yang kuikuti tahun lalu, aku diberitahu soal ini. Psikolog senior itu bilang, ketika seseorang koma, rohnya keluar dan bisa melihat tubuhnya sendiri, dan terkadang ia tak ingin hidup, jadi ia tidak ingin kembali ke tubuhnya. Banyak sebabnya, mungkin saja ada sesuatu yang tak ia harapkan atau ia benci dalam hidupnya. Apa kau mengerti?” kata Jihyun.

Taemin mengangguk, lalu ia teringat Jiyoung. Gadis itu bilang ia ingin hidup kembali, tapi ia tidak bisa.

“nuna, satu pertanyaan lagi” ujar Taemin.
“aku bertemu roh seorang perempuan di rumah ini. Ia mengatakan padaku kalau ia ingin kembali ke tubuhnya, tapi anehnya ia tidak bisa. Menurut kata-kata nuna tadi, harus ada keinginan dari rohnya baru bisa kembali kan?” kata Taemin, ia memandangi wajah Jihyun dengan penuh harap. Harapan terakhirnya hanyalah Jihyun, ia benar-benar bingung harus berbuat apa untuk mengembalikan Kang Jiyoung ke tubuhnya.

“mungkin secara tidak sadar ia sebenarnya tidak ingin kembali ke tubuhnya” kata Jihyun agak ragu. “pastinya ada suatu sebab. Taemin-ah, kau bisa berkomunikasi dengan gadis itu kan? Kau tanyakan saja padanya” lanjutnya.

Taemin terdiam, ia berusaha mengumpulkan dan menyusun kepingan-kepingan puzzle yang berserakan di otaknya. Pertama, perasaan tidak nyaman Jiyoung saat Kim Jongin ada di sekitar gadis itu. Kedua, penjelasan nuna-nya barusan. “aku hanya perlu menemukan petunjuk ketiga. Kuncinya adalah Kang Jiyoung”

Taemin berdiri dan mengembalikan remote tv pada Hyeri, lalu ia berterima kasih pada Jihyun. Setelah itu ia berjalan kembali ke kamarnya masih sambil berpikir.

Sesampainya di depan pintu kamarnya, ia membuka pintu kamar itu perlahan. Ia melangkah masuk dan mendapati Jiyoung masih melamun di pojok kamar.

“Jiyoung-ah” panggilnya.

Gadis itu mengangkat kepalanya, ia tersenyum manis pada Taemin yang sedang menghampirinya.

“bagaimana? Sudah ingat sesuatu?” tanya Taemin. Jiyoung hanya menjawab dengan satu gelengan kepala sambil cemberut.

“andai aku bisa makan es krim” gumam Jiyoung.

“aku janji, kalau kau bangun dari koma nanti, aku akan membelikanmu es krim” kata Taemin, rasanya ia ingin mengacak-ngacak rambut gadis polos itu.

“aku ingin sekarang” kata Jiyoung pelan, sambil manyun. “geurae, aku pegang janjimu oppa” lanjutnya.

“Jiyoung-ah, halmoni-ku pernah bilang kalau sebenarnya ia, dan aku juga, bisa menyentuh arwah kalau mau, karena ia bilang; manusia itu energi, begitu juga arwah” kata Taemin, membuat ekspresi wajah Jiyoung berubah bingung, tapi gadis itu tetap menyimak kata-katanya.

“Entahlah aku kurang mengerti apa maksudnya, tapi aku ingin mencoba” ujar Taemin sambil menatap Jiyoung lekat-lekat.

“bagaimana caranya?” tanya Jiyoung penasaran.

Taemin menghela napas dan mengangkat bahunya “molla” katanya pelan.

Ia mengulurkan tangannya perlahan ke tangan Jiyoung, ia berusaha memusatkan pikirannya, ia berusaha yakin kalau ia bisa menyentuh Jiyoung. Perlahan tangannya menggenggam tangan Jiyoung. Rasanya tidak seperti sentuhan angin lembut lagi, kali ini lebih terasa nyata namun tangan gadis itu sangat dingin.

“Ji-Jiyoung-ah…” kata Taemin kaget.

Jiyoung mengangguk semangat. “ne oppa! Aku tahu! Aku bisa merasakan tanganmu, sangat jelas” ujar Jiyoung sambil tersenyum senang.

Taemin tidak tahu apa ia hanya sedang menghayal atau ia mulai gila seperti yang Hyeri bilang, yang ia tahu saat ini ia menyentuh Jiyoung, bukan hanya menyentuh, ia bahkan memegang tangannya.

Ia melepaskan tangan Jiyoung, lalu memeluk gadis arwah itu. Ya, ia benar-benar bisa memeluknya. “aku rasa aku sudah gila” gumam Taemin.

“aniya” kata Jiyoung pelan.

“aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya” kata Taemin, ia kaget dengan dirinya sendiri. Ia pikir kemampuannya hanya sebatas melihat, dan berkomunikasi.

Mereka terdiam di posisi seperti itu selama beberapa saat. Sampai akhirnya Jiyoung mengatakan sesuatu.

“oppa, besok aku ingin pergi ke Rumah Sakit sendirian”

Taemin melepaskan pelukannya, dan… ia kembali tidak bisa menyentuh Jiyoung. Gadis itu terlihat transparan lagi sekarang.

“kenapa?” tanya Taemin.

“aku… hanya ingin saja” ujar Jiyoung.

“hmm, tapi kau tahu jalan pulang ke sini kan?” tanya Taemin lagi.

Jiyoung mengangguk. Ia ingin memastikan sesuatu besok, karena itu ia harus pergi sendiri.

***

Jiyoung menyusuri koridor rumah sakit yang masih agak sepi pagi itu. Tubuhnya menembus orang-orang yang lalu lalang. Tak seorang pun melihatnya, tak seorang pun merasakan keberadaannya. Dan itu merupakan keuntungan untuknya saat ini.

Ia langsung menuju ke kamar rawatnya, di sana ada Jongin. Laki-laki itu duduk di sebelah ranjangnya, sambil menelpon seseorang. Jiyoung masuk melalui pintu yang terbuka sedikit.

Ia berdiri di dekat Jongin. Berharap bisa mendengar percakapan laki-laki itu.

“tidak bisa begitu bodoh, aku akan dicap sebagai penjahat oleh keluarganya” kata Jongin. Ia terdengar kesal pada lawan bicaranya.

“maksudnya apa?” batin Jiyoung. Ia bertanya-tanya, apa yang sedang dibicarakan oleh Jongin.

“aku yang menabrak mobil keluarga Kang Jiyoung. Aku yang melakukannya. Makanya aku seperti ini hyung” Jongin bicara lagi.

Kali ini Jiyoung merasa seperti tertembus anak panah berkali-kali. Tanpa sadar ia menangis. Entah karena marah, atau sedih, atau mungkin keduanya. Lebih tepatnya ia kecewa. Ia tidak menyangka Kim Jongin yang melakukan itu.

“nappeun nom…” kata Jiyoung. Rasanya ia ingin menampar laki-laki itu.

Kecelakaan itu membuatnya kehilangan kedua orang tuanya. Membuatnya berada di kondisi seperti ini. Berbulan-bulan ia terbaring seperti itu di rumah sakit, sudah berkali-kali dokter menyarankan pada bibinya untuk mencabut alat bantu hidupnya.
Sementara Jongin hanya mendapat sebuah luka di kepala dan tangan, tidak terlalu parah juga.

Jiyoung berlari keluar dari ruang rawatnya sambil menangis. Ia berlari menembus semua orang, ia berlari tanpa arah.

“Taemin oppa”

Entah kenapa nama itu yang ia panggil.

“oppa! Coba lihat ini, ini lucu kan?” tanya Hyeri sambil menunjukkan boneka teddy bear yang ia dapatkan dari mesin mainan pada Taemin.

“eoh, lebih lucu darimu” kata Taemin sambil mencubit pipi adiknya. Hyeri cemberut dan memukul lengan Taemin dengan teddy bear tadi. “aku lebih lucu” katanya sambil manyun.

“ah oppa, aku ke sana sebentar ya” kata Hyeri sambil menunjuk ke kios jajanan pinggir jalan, lalu berlari menghampiri kios itu.

Taemin hanya mengangguk. Sekarang ia bingung, apa yang harus ia lakukan? Ia menengok ke kanan & ke kiri, mencari sesuatu yang menarik.

Bukannya menemukan sesuatu yang menarik, matanya malah menangkap sosok arwah Kang Jiyoung sedang duduk memeluk lutut di bawah sebuah pohon sambil menangis.

Tanpa pikir panjang, ia segera menghampiri Jiyoung, ia berjongkok di hadapan gadis arwah itu.

“Jiyoung-ah, ada apa? Sedang apa kau disini?” tanya Taemin.

“oppa… aku-” ujar Jiyoung, tapi Taemin segera memotong perkataannya.

“jangan di sini Jiyoung-ah, ayo kita pulang ke rumahku dulu” kata Taemin. Jiyoung mengangguk setuju.

Gadis ber-dress putih selutut itu berdiri dan mengikuti Taemin.

Taemin’s house;

Jiyoung menceritakan apa yang ia dengar di rumah sakit sambil menangis.

Kini puzzle-puzzle di kepala Taemin sudah terkumpul semua dan tersusun menjadi jelas. Sekarang ia mengerti permasalahan yang dialami Jiyoung.

Ia menatap Jiyoung lekat-lekat, dan berkata,

“Jiyoung-ah, kau ingin kembali ke tubuhmu kan? Kau harus memaafkan Kim Jongin, kau harus melepaskan semua perasaan marahmu padanya. Secara tidak sadar, kau tidak ingin kembali ke tubuhmu, karena kau kecewa pada Kim Jongin, dan kau tidak mau bertemu dengannya lagi”

“aku harus memaafkannya? Tapi… tapi..” Jiyoung tidak menyelesaikan kata-katanya, ia kembali terisak mengingat apa yang terjadi pada orang tuanya.

“aku hanya bisa membantu sampai sini Jiyoung-ah, sekarang semuanya terserah padamu” kata Taemin sambil tersenyum, ia ingin sekali mengusap air mata gadis itu, andai ia bisa.

Taemin pun meninggalkan Jiyoung sendirian di kamarnya, supaya gadis itu bisa menenangkan diri. Jiyoung seperti biasa, duduk di pojok ruangan sambil memeluk lutut.

Semua memori tentang Kim Jongin, semua yang pernah mereka lakukan bersama, Jiyoung mengingat semua itu seolah sedang menonton film. Sikap manis Jongin padanya, barang-barang yang diberikan laki-laki itu padanya, lalu kejadian buruk itu; kecelakaan mobil itu. Jiyoung ingin melupakan semuanya, tapi yang terjadi malah semua memori itu terputar kembali dalam ingatannya.

Air matanya masih mengalir, namun tidak sederas tadi. Sekarang ia teringat keinginannya untuk hidup. Lalu Lee Taemin, namja yang belum lama ia kenal namun membuatnya merasa nyaman dan membuatnya semakin ingin hidup. Ia ingin bersama laki-laki itu, tapi ia tidak mau melihat Kim Jongin lagi.

“na eotteoke” gumam Jiyoung.

Tiba-tiba saja tubuhnya semakin memudar. Jiyoung terkejut, ia memandangi tangannya namun ia tidak dapat melihat bagian tubuhnya itu lagi. “apa aku akan mati? Eotteoke.. Taemin oppa tolong aku”

Seluruh tubuhnya sudah sangat memudar sekarang. Jiyoung tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia tetap diam pada posisinya dan menunggu apa yang akan terjadi.

Ia pun sepenuhnya menghilang.

***

Cahaya matahari pagi yang pucat masuk menembus setiap jendela yang ada di rumah.
Jihyun meletakkan dua piring panekuk hangat di meja makan, lalu kembali ke dapur untuk mengambil satu piring lagi. Sejak tadi ia menyiapkan sarapan sambil memperhatikan Taemin yang mondar-mandir ke sekeliling rumah seolah mencari sesuatu.

“kau sedang apa sih?” tanya Jihyun bingung.

“dia hilang” jawab Taemin masih sambil mondar-mandir.

“hilang? Dia? Siapa yang hilang?” tanya Jihyun bingung sambil meletakkan sebotol madu di meja.

“dia.. arwah gadis itu” ujar Taemin.

Jihyun menatap adiknya yang kini sudah berdiri di dekat meja makan.

“jangan khawatir, mungkin ia-” belum selesai Jihyun bicara, Taemin memotong perkataannya.

“ya! Kau benar nuna, mungkin ia sudah kembali ke tubuhnya. Aku harus pergi sekarang. I love you nuna!”

Taemin mencium pipi nuna-nya lalu cepat-cepat berlari pergi, ke rumah sakit tentunya untuk memastikan. Ia meninggalkan Jihyun yang kebingungan.

“hey! Tidak mau sarapan dulu? astaga”

Taemin berlari sepanjang koridor rumah sakit, tidak sabar menuju kamar Jiyoung untuk melihat gadis itu terbangun kembali. Hidup.

Ketika sampai di depan kamar rawat Jiyoung, Taemin memegang gagang pintunya namun ia ragu untuk membuka pintu itu.

“apa ia ingat padaku?” batin Taemin.

“simpan kekhawatiranmu Lee Taemin! Sekarang yang terpenting adalah memastikan Kang Jiyoung hidup”

Taemin membuka pintu itu perlahan. Kang Jiyoung ada di sana. Gadis manis itu sedang duduk di atas ranjangnya sambil melamun. Pagi ini, dokter menyatakan kondisinya sangat membaik, sudah hampir normal, bagai keajaiban. Bahkan dokter itu tidak begitu percaya Jiyoung bisa bangun kembali dari komanya.

Taemin melangkah perlahan mendekati ranjang tempat Jiyoung duduk. Jantungnya berdetak 2x lebih cepat dari biasanya.

Menyadari kehadiran seseorang, Jiyoung terbangun dari lamunannya. Ia melihat ke arah Taemin dan tersenyum dengan mata berbinar.

“ia tersenyum padaku…dan tatapannya.. Apa ia ingat padaku?” batin Taemin penuh harap.

“Jiyoungie” sapa Taemin. Ada jeda beberapa saat, membuat Taemin mulai khawatir kalau gadis itu tidak mengingatnya.

“Taemin oppa! Gomawo” kata Jiyoung senang.

Taemin tersenyum pada Jiyoung lalu mengelus kepala gadis itu. “syukurlah kau ingat padaku” ujar Taemin.

“tentu saja aku ingat, mana mungkin aku lupa” kata Jiyoung,

“baguslah. Ehm, bagaimana kondisimu? Dan bagaimana dengan si Jongin itu?” tanya Taemin sambil mengambil sebuah kursi lipat dan duduk di sebelah ranjang Jiyoung.

“aku terbangun kemarin malam. Rasanya sangat aneh, dan tubuhku sakit semua. Tapi pagi ini aku langsung merasa sangat sehat kkk. Oh Jongin, tadi pagi-pagi sekali ia datang menjengukku, benar-benar mengganggu tidurku. Aku marah padanya dan menyuruhnya pergi” kata Jiyoung, bercerita panjang lebar.

“lalu, bagaimana kau bisa kembali ke tubuhmu?” tanya Taemin lagi.

Jiyoung pun menceritakan semuanya mulai dari saat ia mengingat semua hal tentang Jongin, lalu ketika ia memudar dan akhirnya menghilang dan terbangun di rumah sakit.

“awalnya aku merasa mungkin aku tidak akan kembali ke tubuhku, tapi keinginanku untuk hidup ternyata lebih kuat daripada kebencianku pada Jongin” kata Jiyoung, mengakhiri ceritanya.

Taemin mengangguk mengerti. Sekarang setelah kekhawatirannya akan Jiyoung hilang, ia teringat pada nunanya di rumah. Ia pun berdiri dari kursinya, dan mendekati Jiyoung.

“Jing, aku harus pulang sebentar. Aku akan kembali lagi sekitar… satu atau dua jam lagi, oke?” kata Taemin.

Jiyoung mengangguk. “ne oppa, aku akan menunggu” ujarnya.

Taemin mencium keningnya, meninggalkan rona merah di pipi Jiyoung. Gadis itu cepat-cepat menundukkan kepalanya untuk menutupi wajahnya yang semerah tomat sekarang.

“bye Jing” kata Taemin, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar.

“bye oppa” ujar Jiyoung, lebih seperti menggumam.

“ia memanggilku Jing? ah aku suka panggilan itu kkk” pikir Jiyoung sambil tersenyum pada dirinya sendiri.

Lee Jihyun menggigit panekuk terakhirnya masih sambil mengkhawatirkan namdongsaeng-nya. Tadi ia pergi begitu saja tanpa sarapan dulu ataupun memberitahu kemana ia akan pergi. “anak itu benar-benar…” gumam Jihyun sambil manyun.

“unnie, Taem oppa pergi kemana pagi-pagi begini?” tanya Hyeri sambil menuangkan madu ke atas panekuknya. Jihyun mengangkat bahunya. “aku tidak tahu” jawabnya.

Beberapa saat setelah Jihyun mengatakan itu, terdengar suara pintu masuk rumah terbuka, lalu menutup lagi, dan juga suara langkah kaki.

“aku rasa itu Taem oppa” kata Hyeri, memasukan satu suapan besar panekuk ke mulutnya.

Taemin berjalan melewati ruang makan tanpa melirik sedikitpun sarapannya. Ia langsung menuju ke dapur.

“oppa, aku makan panekuk-mu yaa” seru Hyeri semangat. “eoh~ makan saja” sahut Taemin dari dapur.

Mata Hyeri berbinar-binar dan ia pun mulai menyantap seluruh panekuk yang ada di meja.

.

“kau dari mana saja?” tanya Jihyun, ketika Taemin masuk ke dapur membawa plastik belanjaan.

“dari rumah sakit. Dan super market” jawab Taemin sambil membongkar belanjaannya. Jihyun mengelap piring yang baru dicucinya sambil melihat belanjaan adiknya. Ada ayam dan sayur-sayuran.

“kau mau masak? Wah, tidak biasanya” kata Jihyun. “masak apa? Untuk siapa? Untukku? Kkk” tanyanya.

“hmm aku mau masak sup kaldu, aniyo bukan untuk nuna” kata Taemin, lalu ia menjulurkan lidahnya untuk mengejek nuna-nya.

Jihyun mengerucutkan bibirnya, lalu memukul lengan Taemin. “biar kutebak, untuk si gadis arwah yang sudah terbangun itu kan? Siapa namanya?” kata Jihyun.

“iya nuna benar, namanya Kang Jiyoung” ujar Taemin sambil tersenyum, tangannya terus bergerak memotong wortel dan sayuran lainnya menjadi potongan kecil.

“nama yang bagus. Kau menyukainya eoh?” kata Jihyun lagi. Taemin tersenyum kecil dan mengangguk.

“eiy kau sudah besar ternyata, haha. Masaklah yang enak” ujar Jihyun, ia mengedipkan sebelah matanya pada Taemin, lalu berjalan meninggalkan dapur.

Setelah sup kaldu itu jadi, Taemin memasukkannya ke dalam termos agar tetap hangat. Ia akan membawa itu ke rumah sakit dan memberikannya pada Jiyoung. Sebenarnya ia tidak yakin dengan rasanya, ia tidak mencicipinya dulu karena ia ingin Jiyoung yang pertama mencobanya.

“Oppa” Hyeri tiba-tiba masuk ke dapur sambil manyun. “ada apa?” tanya Taemin sambil menutup tutup termos.
“itu.. apa? untuk siapa?” tanya Hyeri, ia menunjuk termos warna putih berisi sup yang ada di meja dapur.
“ini sup kaldu. untuk seseorang”  ujar Taemin sambil tersenyum.

“oppa, mianhae. Aku adik yang sangat nakal dan selalu bersikap buruk padamu” ujar Hyeri, gadis itu menundukkan kepalanya seolah tidak berani menatap oppa-nya.
“ada apa denganmu? kenapa tiba-tiba seperti ini? aneh sekali” kata Taemin bingung.

Hyeri mendesis kesal karena Taemin mulai bersikap menyebalkan (menurutnya). Ia memukul lengan oppa-nya sambil memanyunkan bibirnya. “oppa jelek! aku cuma ingin minta maaf kenapa dibilang aneh?” seru Hyeri.
“memang aneh” balas Taemin membela diri.

Hyeri menghela napas lalu duduk di kursi dapur. Ia bertopang dagu, menatap kosong ke arah termos putih di atas meja. Ia teringat lagi kejadian pagi ini saat ia bangun tidur. Kejadian itulah yang membuatnya ingin meminta maaf pada Taemin karena selalu mengatai laki-laki itu gila.

“oppa, aku mau cerita sesuatu,  sebenarnya pagi ini a-aku…” kata Hyeri agak terbata. Taemin yang mulai penasaran pada Hyeri, duduk di sebelah gadis itu dan menyimak ceritanya. “apa?” tanya Taemin.
Hyeri memainkan ujung rambutnya dengan jari telunjuknya, seolah sedang mencari kata-kata yang tepat untuk menceritakan hal ini pada Taemin.
“bagaimana ya.. ng.. tadi pagi aku melihat arwah seorang ahjumma di kamarku” ujar Hyeri.

“mwo?!”

——————————————

– Rumah Sakit –

Jiyoung mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu kamar. Selagi menunggu Taemin kembali, ia tertidur dan sekarang ia baru saja bangun setelah 3 jam tidur.

“Jiyoung-ah, sudah bangun?” tanya Taemin yang baru saja masuk ke kamar rawatnya sekitar 10 menit yang lalu.

Jiyoung mengangguk pelan. “mmm, oppa kapan datang ke sini?” ujar Jiyoung balik bertanya.

“baru saja. Maaf aku pergi agak lama, tadi ada sedikit masalah di rumah” kata Taemin sambil nyengir.

Jiyoung mengangguk lagi dengan mulutnya membentuk huruf o. Gadis itu lalu perlahan bangun dari posisinya yang berbaring, ia duduk bersandar di atas ranjang. Matanya langsung tertarik pada sebuah tas kecil berwarna biru yang dibawa Taemin.

“apa itu oppa?” tanya Jiyoung sambil menunjuk tas itu.

“oh ini…” Taemin membuka tas itu dan mengeluarkan termos putih di dalamnya. “ini sup kaldu. Aku memasaknya untukmu” ujar Taemin, sambil membuka tutup termos yang bisa digunakan sebagai gelas, ia menuangkan sup hangat itu ke dalam tutup termos lalu memberikannya pada Jiyoung.

“waaa gomawo oppa” kata Jiyoung sambil meraih tutup termos tadi. Ia meniup-niup sup kaldunya, baru setelah itu meminumnya sedikit-sedikit.

“bagaimana rasanya?” tanya Taemin. Ia ragu sup itu rasanya enak.

“enak sekali” jawab Jiyoung sambil tersenyum tulus. Melihat ekspresi Jiyoung, Taemin tahu gadis itu tidak bohong.

“baguslah” gumam Taemin lega.

“Jiyoungie” panggil Taemin. Jiyoung menghabiskan sup dalam tutup termos lalu melihat ke arah Taemin. “ne oppa?”

“aku ingin mengatakan sesuatu” ujar Taemin. Namja itu berdehem lalu melanjutkan kata-katanya. “Aku jatuh cinta pada seorang gadis arwah. Gila kan? Tapi itu benar-benar terjadi”

Jiyoung menatap Taemin kebingungan, lalu matanya mulai mengitari ruangan, seolah mencari-cari sesuatu yang tak terlihat. “siapa dia?” tanya Jiyoung penasaran.

Taemin tersenyum akan kepolosan Jiyoung yang tidak menangkap maksud dari kata-katanya. Ia meraih tangan Jiyoung dan berkata “yeoja itu sekarang bukan arwah lagi. Ia sudah bangun dari komanya. Dan ia ada di sini”

Terjadi keheningan sejenak.

“maksudnya aku?” tanya Jiyoung, terdengar agak kaget. Taemin tersenyum dan mengangguk.

“jinjja? Tapi aku…” Jiyoung hendak mengatakan kalau dirinya hanya gadis biasa yang tidak ada istimewanya sama sekali, tapi Taemin segera memotong perkataannya.

“aku tidak peduli siapapun dirimu Kang Jiyoung. Aku tidak peduli kau hantu, atau manusia, atau bukan keduanya. Saranghae, Kang Jiyoungie”

….

-end-

————————————————————————————

Halooo T.T baru sempet nulis ini hiks. Tugas sekolah numpuk hoho. Dan ini gaje sekali astaga x_x apalagi endingnya (silahkan bayangkan sendiri abis Taem ngomong gtu mereka ngapain. Lol)
Nanti bakal ada sequelnya ._. nyeritain Hyeri yang ternyata punya kemampuan juga :O dan sedikit side story JiMin kkk~
(boleh usul Hyeri di pairingin sama siapa? T^T kkk)
Okay sekian aja pesan2 dari author koplok ini T.T rcl ya bebiiii.

[P.S] Truth Or Dare? Chapter 5 in process ^^ be patient yaa

– – B O N U S – –

Oy Everybody wake up wake up(?) lol  ‘0’)/ ai lagi ngeship bingit KeyCole nih kkk (dan ShinRa couples yg lain juga sebenarnya)

image

image

image

image

image

image

Kkk >

7 thoughts on “Oneshot ;; Breathe Again

  1. like it thour ;) . wahh aku kira jongin disini baik… akhirnya jing kembali.. syukur lahh yeyeyey lalalala /? kali kali bikin lagi ya thour /? hahahah…. bagus thour aku sukaaaaaaa ;)

  2. yaampun kaget banget bacanya waktu pertama kali tau kalo taemin supernatural nya .-. kaiiii huweee kukira kau disini bakal jadi cowok baik baik.. tapi ternyata.. kau tega menyakiti jiyoung. kenapa kau tega melakukan itu T.T tapi tak apalah, yang penting jiyoung udah menemukan yang lebih baik darimu :x *toyor jongin(?)*
    aku baca ff ini pas lagi ujan. terus pas bagian hyeri cerita ke taemin.. pas banget ada petir lewat. feel merindingnya dapet banget ><)b

  3. yaampun kaget banget bacanya waktu pertama kali tau kalo taemin supernatural nya .-. kaiiii huweee kukira kau disini bakal jadi cowok baik baik.. tapi ternyata.. kau tega menyakiti jiyoung. kenapa kau tega melakukan itu T.T tapi tak apalah, yang penting jiyoung udah menemukan yang lebih baik darimu :x *toyor jongin(?)*
    enak banget punya nuna kaya jihyun. jadi pengen punya unnie kaya jihyun:3
    aku baca ff ini pas lagi ujan. terus pas bagian hyeri cerita ke taemin.. pas banget ada petir lewat. feel merindingnya dapet banget ><)b

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s