Black Pearl [Verse 4]

Summary: Karena bagi mereka, kelima gadis itu sangatlah berharga. Bersinar layaknya mentari, tersenyum layaknya bunga yang bermekaran, memberi melodi indah layaknya nyanyian burung-burung. Because those girls are their beautiful black pearls…

 

Romance/Drama | SHINee & f(x) | Multichapters

PG rated.

 

The idea originally came from my head, but the characters belong to their families and God itself.

 

Black Pearl © Park Sooyun

 

 

 

Verse four for Minstal.

 

Jika dulu hal itu tidak terjadi, maka semuanya tak akan seperti ini.

Minho mendesah begitu pemikiran itu kembali merasuk ke otaknya. Ia berusaha untuk melupakan masa lalunya yang cukup menyakitkan, namun terkadang bayang-bayang itu terus menyeruak dan membuatnya kembali merasakan sakit yang sama. Satu-satunya hal yang bisa membuat pikirannya teralih adalah adiknya, Choi Sulli. 

Mengingat mereka sudah tinggal dengan mandiri selama hampir lima tahun, bukanlah hal yang sulit untuk menjaga Sulli. Apalagi gadis itu hanya setahun lebih muda darinya.

Setiap pulang sekolah, Minho akan mampir ke sebuah toko untuk bekerja paruh waktu di sana sebagai penjaga kasir. Sedangkan adiknya tetap berada di rumah, melakukan pekerjaan rumah tangga. Sebenarnya Sulli memaksa untuk bisa bekerja paruh waktu, tapi Minho melarangnya.

Ia adalah anak pertama, jadi sudah menjadi tanggung jawabnya untuk memastikan mereka berdua tetap ‘hidup’. Berhubung seseorang yang seharusnya bertanggung jawab malah pergi, akhirnya ia yang harus menanggung semua ini.

Minho menggelengkan kepalanya. Bayangan itu kembali muncul di otaknya. Untuk mengalihkan perhatiannya, Minho berlari sambil men-dribble bola. Karena terlalu serius, ia tidak memperhatikan sekitarnya. Tiba-tiba Minho tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Alhasil, bola yang ia dribble terlepas dari genggamannya, memantul ke sisi lapangan dan hampir mengenai seorang siswi yang lewat.

“Maaf,” gumamnya tanpa menoleh sedikit pun pada si perempuan.

Perempuan itu terdiam lalu menyahut, “Tidak apa-apa.”

Minho kembali men-dribble bolanya, berlari ke arah ring dan menembakkan bola dengan sempurna. Siswi-siswi yang turut menonton itu dari tepi lapangan bersorak.

“Wah, seperti biasanya, Minho. Tembakanmu sangat bagus,” komentar Changmin.

“Tapi kenapa gadis-gadis itu selalu bersorak untukmu, Minho?” Kyuhyun menyahut dengan jengkel. “Aku juga ingin disoraki!”

Kris menepuk pundah Kyuhyun. “Berapa uang yang harus kukeluarkan untuk menyogok gadis-gadis supaya menyorakimu, sunbae?”

“Sialan,” umpat Kyuhyun.

Minho memutar matanya. “Sudahlah, teman-teman. Justru disoraki seperti itu hanya membuat konsentrasi cepat buyar. Gadis-gadis itu sangat menganggu.”

“Kau ini terlalu skeptis soal perempuan,” kata Changmin. “Kurasa ini akibat dari sasaeng fans yang sering menganggumu akhir-akhir ini.”

Perkataan Changmin membuat Minho menyipitkan matanya. Memang benar, ia adalah salah satu bintang sekolah, berprestasi di bidang olahraga dan memiliki segudang penggemar. Penggemar-penggemar itu selalu membuatnya kesal. Mereka sering menganggunya dengan teriakan-teriakan tidak jelas, jajanan coklat dengan berbagai merek yang membuat penuh lokernya, surat cinta dengan kata-kata hiperbola, atau pernyataan cinta mereka. Itu semua sama sekali tidak berarti.

Namun bukan itu yang membuatnya kesal terhadap perempuan. Ada satu hal lagi—yang membuatnya seakan tidak bisa menghargai perempuan, kecuali adiknya sendiri.

“…hei, kau ini mendengarkan atau tidak?”

Mata Minho berkedip beberapa kali sebelum ia kembali sepenuhnya ke kenyataan. “Apa?”

Kyuhyun berdecak. “Besok kita akan latihan lagi untuk persiapan lomba. Makanya jangan melamun saat ada orang berbicara.”

“Oke, oke,” sahut Minho cepat. Ia meraih tasnya. “Aku pulang dulu. Sampai jumpa.”

 

***

Seperti biasanya, usai pulang sekolah Minho mampir dulu untuk melakukan pekerjaan sampingannya. Ia baru akan pulang ke rumah saat jam menunjukkan pukul tujuh malam.

Minho melangkahkan kakinya menuju sebuah bangunan yang tidak terlalu besar di sudut jalan. Ketika ia akan membuka pintu, ia mendengar suara perempuan dari dalam rumahnya. Minho mengela nafas. Pasti Sulli membawa temannya ke sini.

“Aku pulang,” sahut Minho sambil membuka pintu. Ia mencopot sepatunya dan melenggang masuk.

“Oh, oppa,” Sulli mengerjap sedikit. “Selamat datang!”

Sapaan itu hanya dibalas Minho dengan senyum kecil. Lalu ia melirik gadis berambut panjang yang duduk di sebelah Sulli.

“Ini temanku,” kata Sulli. “Namanya Jung—”

Sebelum Sulli menyelesaikan perkataannya, Minho membalikkan badan dan langsung melengang pergi begitu saja. Tanpa mempedulikan sopan-santun, ia mendengus dengan agak keras dan segera masuk ke kamarnya. Dari dalam kamarnya, Minho dapat mendengar suara Sulli.

“Maaf ya, Krystal,” ucap Sulli. “Kakakku memang begitu sikapnya.”

“Tidak apa-apa,” Teman Sulli yang bernama Krystal membalas. “Kakakmu sepertinya punya masalah, ya?”

Perkataan teman adiknya membuat Minho tersentak. Ia memicingkan matanya lalu mendekatkan badan ke arah pintu untuk menguping.

“Eh?” Nampaknya Sulli sendiri juga kaget. “E-entahlah. Kenapa kau berkata begitu?”

“Bukannya aku ingin ikut campur. Tapi tatapan kakakmu seolah menunjukkan jika dia sedang memiliki masalah dan itu cukup menganggunya.”

“Entahlah. Dia cukup tertutup, bahkan pada adiknya sendiri.”

“Dia tidak marah karena aku, ‘kan?”

“Memangnya kau habis melakukan kesalahan apa?”

“Tadi siang tim basket sekolah sedang berlatih di lapangan. Kebetulan aku lewat. Kakakmu mendapat bola dari temannya, tapi dia kehilangan kontrol dan bolanya terpantul ke arahku. Kukira dia marah karena hal itu.”

Sulli terkekeh. “Minho oppa tidak mungkin marah karena hal sekecil itu. Berhentilah merasa tidak enak.”

Ternyata hanya percakapan biasa, batin Minho. Ia menghela napas karena telah berpikir yang tidak-tidak. Sebagai pelampiasan, ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan berbaring dengan tenang di sana. Sembari menatap langit-langit kamarnya, ia berusaha untuk mengalihkan segala pemikiran yang dapat menganggunya.

Badan Minho terasa sangat lelah. Kelopak matanya hampir tertutup sepenuhnya, namun ia segera tersentak ketika tanpa sengaja mengingat perkataan teman Sulli.

“Kakakmu sepertinya punya masalah, ya?”

Entah kenapa Minho merasa dirinya seolah terancam. Terancam oleh pemikiran yang mungkin lewat secara tidak sengaja di otak gadis yang belum dikenalnya, namun pemikiran itu begitu tepat sasaran.

Perempuan memang menyebalkan, tambah Minho dalam hati. Pikiran mereka tanpa batas dan seolah-olah bisa membaca hati laki-laki. Dan kedua hal itulah yang menjadi senjata utama para perempuan dalam memperdaya lawan jenis mereka. Minho mendengus jijik saat pemikiran itu mampir di otaknya. Baginya, semua perempuan sama saja—penuh dengan tipu muslihat dan hanya mementingkan visual. Tentu saja Sulli adalah pengecualian.

 

***

Serentetan bunyi tak beraturan tiba-tiba saja menganggu tidurnya yang nyenyak. Kedua matanya masih terpejam, namun otaknya tetap merespon rangsangan dari luar berupa suara yang cukup berisik. Suara itu terdengar lagi, berdering keras di sebelah telinga kirinya. Menyadari apa yang sedang terjadi, ia menjulurkan tangan kirinya ke atas meja di sebelah kiri tempat tidurnya. Diraba-rabanya benda-benda yang ada di atas meja hingga akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Ia menekan bagian atas benda itu dan seketika bebunyian yang menganggunya hilang.

Choi Minho membuka matanya sedikit dan langsung menutupnya kembali saat sinar matahari tanpa sengaja berbias masuk ke matanya. Ia mengernyitkan dahi, kepalanya terasa agak pusing karena sisa-sisa ngantuk yang masih terasa. Jika saja ia tidak ingat ada jadwal latihan hari ini, maka ia akan rebahan lagi di atas tempat tidur.

Tanpa semangat sedikit pun, Minho bangkit dari tempat tidurnya, membereskan selimut dengan seadanya lalu pergi ke ruang tengah. Rumah kecil ini terasa sepi. Biasanya Sulli sudah berada di ruang tengah pada Minggu pagi begini, namun gadis itu tidak terlihat dimanapun. Tak mau mencampuri urusan adiknya, Minho pergi ke dapur. Ia baru saja akan menuangkan sekotak sereal ke mangkuk saat bel pintu depan berbunyi.

Semoga itu bukan Kyuhyun hyung dan Changmin hyung, batin Minho. Kedua seniornya di tim basket itu memang terkadang suka kurang ajar, sejam sebelum latihan dimulai mereka malah mengerjai Minho dengan bertamu pagi-pagi dan menumpang sarapan di rumahnya. Ia berjalan ke ruang depan dan membuka pintu.

Ternyata teman Sulli yang kemarin. Minho mendesah. Ia benar-benar tidak berminat untuk berurusan dengan orang-orang, terutama perempuan.

“Ada apa?” Ia tahu itu adalah pertanyaan yang kasar bagi seorang tamu, namun ia benar-benar sedang malas.

Gadis di hadapannya tersenyum gugup. Minho sudah terbiasa melihat reaksi seperti itu. Banyak dari sekian gadis di sekolah yang langsung gugup saat berhadapan dengannya, jadi ia tidak terlalu kaget dengan reaksi yang ditunjukkan gadis itu.

“A-aku ingin bertemu Sulli,” jawab gadis itu pelan. “Apa dia ada?”

“Sulli sedang pergi,” sahut Minho. “Aku tidak tahu kemana dan kapan dia akan kembali.”

Raut kekecewaan nampak di wajah gadis itu. “Oh, begitu ya. Ya sudah, jika dia sudah pulang, bisakah Anda menyampaikan pesan padanya? Tolong bilang pada Sulli kalau tugas karya ilmiah harus dikumpulkan lusa dan secepatnya draf yang telah dibuat sudah dicetak.”

“Baik, aku akan menyampaikannya.”

“U-uhm, Anda tidak marah padaku, ‘kan?”

Alis Minho terangkat sebelah. “Untuk apa aku marah pada orang yang tidak kukenal?”

Gadis itu tersenyum. “Well, kurasa Anda benar. Mungkin hanya perasaanku saja. Terima kasih banyak, Choi—” Perkataan si gadis terhenti.

“—Minho.”

“Ya, terima kasih, Choi Minho-ssi.”  Tanpa buang waktu, gadis itu membalikkan badan dan pergi.

Minho tidak menggeser posisinya meskipun gadis itu telah berada beberapa meter dari rumahnya. Matanya terus menatap punggung si gadis berambut panjang dan semampai itu. Sekali lagi, Minho merasa terganggu sekaligus terancam. Seolah gadis itu dapat menelisik raut wajahnya yang memang hampir selalu menampakkan ekspresi skeptis pada perempuan.

 

***

“Tadi temanmu datang ke sini,” kata Minho tanpa beranjak dari kursi makan ketika melihat Sulli masuk dari pintu samping. “Katanya tugas karya ilmiah dikumpulkan lusa dan draf yang kalian buat harus segera dicetak.”

“Eh?” Dahi Sulli berkerut. “Maksud oppa teman yang mana? Krystal?”

“Aku tidak tahu siapa namanya,” sahut Minho sambil menyendok serealnya. “Baru sepuluh menit yang lalu dia datang.”

“Oh, terima kasih sudah memberitahuku! Huh, tugas sekolah membuat repot saja.” Gadis itu duduk berhadapan dengan Minho dengan wajah cemberut.

“Habis darimana saja kau?”

“Hanya berjalan-jalan di taman.”

“Lain kali jangan pergi tanpa ijin.”

Sulli memanyunkan bibirnya. “Iya, iya. Maaf.”

Minho hanya tersenyum kecil melihat kelakuan adiknya itu. Choi Sulli adalah gadis yang kepribadiannya benar-benar terbalik dengan Minho. Tak seperti kakaknya yang agak dingin dan cuek, Sulli merupakan gadis yang ramah, terbuka dan dapat akrab dengan siapa saja. Dia berparas manis, memiliki eyesmile yang bagus dan kelakuannya seperti anak-anak saja, padahal umurnya hanya setahun lebih muda dari Minho. Kebetulan dia satu sekolah dengan kakaknya, hanya berbeda jenjang tentu saja. Kakaknya di tingkat dua, sedangkan dia baru duduk di tingkat satu.

“Apa saja yang dikatakan Krystal padamu?”

Pertanyaan Sulli membuat Minho mengangkat wajah. “Aku sudah menyampaikan pesannya padamu tadi.”

“Pasti ada hal lain yang dikatakan Krystal.”

“Maksudmu?”

“Krystal adalah tipe orang yang pendiam, namun dia jujur dan apa adanya. Dia merupakan gadis introvert yang dapat dengan mudah ‘membaca’ orang lain.”

Penjelasan Sulli diacuhkan begitu saja oleh Minho. Ia tidak tertarik pada pembicaraan yang bertopik tentang perempuan. Namun kalimat terakhir yang diucapkan Sulli tertinggal di otaknya dan memaksanya untuk berpikir.

Sulli mendekatkan wajahnya dan memasang tampang penasaran. “Apa dia habis ‘membaca’ wajah oppa?”

Minho tidak menjawab. Ia menyendokkan sesuap sereal lagi ke mulutnya dan mengunyahnya dengan tekun. Sementara itu, Sulli tersenyum puas.

“Dia ‘membaca’ ekspresimu, ‘kan?”

Sekali lagi Minho bungkam.

“Kemarin dia berkata bahwa seperti ada yang dipikirkan oppa dan hal itu membuat oppa terganggu—”

Tiba-tiba Minho berdiri dan memutuskan untuk menyudahi acara sarapannya meski masih tersisa sedikit sereal di mangkuknya. Ia menaruh mangkuk itu di wastafel lalu pergi begitu saja.

Ya!” seru Sulli sambil mengikuti langkah kakaknya. “Jangan pergi saat aku sedang berbicara!”

“Aku tidak tertarik dengan ceritamu tentang si Krystal itu,” kata Minho.

“Ini bukan masalah apakah oppa tertarik dengan dia atau tidak!” tambah Sulli. “Ini adalah masalah apakah oppa menghargai perempuan.”

Pandangan Minho mendatar. Dia mendengus pelan lalu bergumam, “Peduli apa aku soal perempuan?” Lalu pemuda itu pergi begitu saja.

Sementara itu, Sulli masih berdiri di tempatnya. Matanya memandang sedih punggung sang kakak. Gadis itu seolah kehilangan akal untuk mengubah pandangan kakaknya tentang perempuan—bahwa tidak semua perempuan itu sama. Namun kakaknya lebih memilih untuk tidak peduli.

 

***

Suara langkah kaki di undakan-undakan tangga terdengar menggema di ruang perpustakaan berlantai dua itu. Keadaan hening yang khas membiarkan suara apapun terdengar di sini. Tiga orang pemuda yang duduk di tengah ruangan sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Yang paling pendek sedang mencoret-coret not balok di buku tulisnya, si jangkung membaca sebuah buku dengan dahi berkerut—mungkin sedang berpikir keras supaya isi buku itu masuk ke otaknya, dan pemuda terakhir yang tingginya rata-rata sedang menyalin catatan pelajaran di bukunya.

Si jangkung yang bernama Choi Minho itu menutup bukunya sambil mendesah, lalu mengambil buku yang lain yang tergeletak di hadapannya. Si pendek meliriknya lalu berseloroh, “Heh, tidak paham dengan penjelasannya, ya?”

Minho balas melirik temannya itu dengan mata menyipit, “Memangnya Jonghyun hyung paham apa yang ditulis di buku ini?”

Jonghyun   menyahut dengan sengit, “Jangan meledekku, ya! Nilaiku yang sekarang memang jelek, tapi tunggu saja nanti!”

“Sudahlah,” lerai pemuda lain yang bernama Key. “Jonghyun, lebih baik kau simpan semangatmu untuk nanti. Dan kau, Minho, jangan ganggu si tuan-mudah-tersinggung ini. Menurutku kau sama saja dengan Jonghyun.”

Mendengar perkataan Key, Jonghyun tertawa keras. Sesaat kemudian, dia membekap mulutnya karena menyadari dia sedang berada di dalam perpustakaan sekolah.

“Ya, ya, ya,” sahut Minho. “Aku memang agak lemah di pelajaran akademik. Tapi sekarang aku sedang berusaha untuk mengejarnya.”

Key dan Jonghyun mengangguk.

“Itu bagus,” komentar Key.

Saat pembicaraan antar sahabat itu sedang berlangsung, dari arah tangga muncul siluet gadis berambut panjang dengan tubuh semampai. Minho melirikkan matanya dan mengangkat sebelah alisnya ketika melihat siluet itu. Perlahan, siluet itu makin jelas wujudnya. Seorang gadis berjalan dengan membawa buku di tangannya.

Dahi Minho berkerut. Gadis itu lagi, batinnya. Ia mengubah posisi duduknya, pertanda saat ia sedang gelisah. Jung Krystal, berhentilah menganggu kehidupanku.

Namun terlambat. Krystal melihat Minho, lalu tersenyum padanya dan mengangkat tangan kanannya seolah dia sedang menyapanya. Minho balas mengangkat tangan, tanpa ekspresi yang berarti di wajahnya.

“Kau melambaikan tangan pada siapa?” tanya Key.

Penasaran, Jonghyun dan Key menoleh ke arah Minho melambaikan tangan. Mereka melihat seorang gadis cantik berambut panjang sedang asyik memilih buku di rak dekat tembok. Seulas senyum jahil muncul di wajah mereka.

“Wah, wah,” ujar Jonghyun dengan nada yang dibuat-buat. “Ini baru pertama kalinya aku melihatmu menyapa seorang gadis.”

“Siapa dia, Minho?” tanya Key. Kebiasaannya yang suka penasaran muncul lagi. “Pacarmu, ya?”

Minho tersenyum kecut. Ekspresi tidak nyaman ditunjukkannya. “Bukan. Dia hanya teman Sulli.”

“Ah, jadi Sulli menjodohkanmu dengan gadis itu?” seloroh Jonghyun.

“Bukan!” sahut Minho kesal. “Berhentilah membuat gosip yang tidak-tidak.”

“Gadis itu cantik dan terlihat baik. Dia juga pintar. Aku pernah melihatnya di Klub Biologi saat dia sedang mempresentasikan tentang quantum healing atau apalah namanya,” lanjut Key tanpa mempedulikan perkataan Minho. “Dekati saja dia.”

Minho menghela nafas. “Aku tidak berminat.”

“Ya, dekati dia,” Jonghyun ikut-ikutan mendesak. “Tapi jangan seperti Key yang baru mengenal seorang gadis selama sebulan lalu memacari dan menciumnya.” (baca: verse three)

“Hei!” seru Key. “Aku punya alasan tersendiri. Dan darimana kau tahu tentang ciuman itu?”

“Luna.”

“Dasar tukang gosip. Back to the topic. Lagipula, menurutku lebih baik mendekati seorang gadis selama sebulan lalu langsung memacarinya daripada tidak mendekati gadis seorang pun hingga disangka seorang gay.”

Kekesalan yang dirasakan Minho mulai memuncak. Dia menepuk dahinya. “Oke, aku akan mengklarifikasi perkataan kalian. Pertama, aku ini seratus persen normal. Aku hanya belum mau mengurusi hal-hal seperti itu. Kedua, berhentilah menjodohkanku. Aku tidak butuh mak comblang amatir macam kalian.”

Key melipat kedua tangannya di dadanya. “Kau bilang belum mau mengurusi hal seperti itu—apakah itu berarti suatu hari kau akan mengurusinya?”

Perkataan Key membuat Minho terdiam. Lalu ia menghela nafas dan bergumam, “Mungkin, jika seseorang berhasil mengubah pandanganku.” Lelaki itu terdiam sejenak. Lalu ia mulai membereskan buku-bukunya. “Aku ingat ada latihan hari ini. Aku pergi dulu.”

 

***

Tanpa bermaksud untuk menguping, Krystal mendengar semua percakapan Choi Minho dengan kedua temannya. Saat gadis itu sedang menelusuri rak buku yang terletak tidak jauh dari meja yang dihuni ketiga pemuda itu, ia mendengar semuanya.

Krystal merapatkan tubuhnya ke arah rak buku dan mendekap buku yang baru saja ditemukannya. Ia mendengarkan dengan seksama.

“Kau bilang belum mau mengurusi hal seperti itu—apakah itu berarti suatu hari kau akan mengurusinya?”

“Mungkin, jika seseorang berhasil mengubah pandanganku.”

Setelahnya, ia melihat pemuda tinggi itu membereskan isi tasnya lalu pergi. Krystal menggigit bibirnya. Sejak pertama kali melihat Minho di tepi lapangan, ia merasakan ada yang aneh dalam pemuda itu. Mulut Minho menggumamkan kata maaf, namun pandangan matanya seolah tidak menyiratkan permohonan maaf, seolah si pemuda tidak peduli.

Saat di rumah Sulli, Krystal juga merasakan hal yang sama. Minho seperti tidak memiliki sopan santun dan nampak benci saat adiknya berusaha utuk memperkenalkan ia kepada Minho. Seolah-olah Minho membencinya.

Krystal makin gelisah. Kesalahan apa yang dibuatnya hingga Minho membencinya? Mereka baru bertemu seminggu yang lalu, mustahil baginya sudah membuat pemuda itu marah.

Kepala Krystal berdenyut. Sebaiknya ia tidak ikut campur dalam urusan orang lain. Toh, tak ada dampak yang berarti bila ia tidak mencari tahu apa yang terjadi.

 

***

Sejak Sulli mengajak temannya yang bernama Krystal Jung ke rumah, kehidupan Minho mulai dihantui oleh kehadiran gadis itu. Impresi yang didapatnya saat Krysal berkata pada Sulli bahwa ia nampak seperti punya masalah benar-benar meninggalkan kesan yang cukup buruk pada kehidupannya. Minho merasa dirinya tidak tenang. Seolah ia sedang diteror. Ia tidak mau urusan serta masalahnya diketahui apalagi dicampuri orang lain. Cukup ia dan Sulli yang tahu.

Desahan keluar dari mulut Minho. Ia bangkit dari tempat tidur, meraih jaket dan memakainya, lalu pergi ke pintu depan. Saat ia membukanya, seorang gadis tengah berdiri di sana. Minho terkejut.

“Mau apa kau di sini?” tanya Minho dengan agak kasar.

Gadis itu mengerutkan dahinya, mungkin heran dengan perangai Minho yang tiba-tiba kasar. “Aku sedang menunggu Sulli. Kami sudah janjian untuk pergi sore ini.”

Minho menatap gadis itu datar. “Oh. Masuk saja, Krystal.”

“Tidak usah,” balas Krystal sambil menggeleng. “Aku di sini saja.”

Minho mengendikkan bahunya dan berbalik. Baru saja ia akan melangkahkan kakinya sebelum Krystal bersuara.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu, Minho-ssi?”

Dengan terpaksa Minho berbalik. “Apa?”

“Kenapa Anda membenciku?”

Pertanyaan yang benar-benar di luar dugaan itu seolah menampar pipi Minho. Pemuda itu mengepalkan kedua tangannya dan berusaha untuk menyembunyikan keterkejutannya. Rahang Minho mengeras. “Aku sudah pernah bilang, ‘kan? Untuk apa aku membenci seseorang yang belum terlalu kukenal?”

“Tapi nada bicara dan pandangan mata Anda menyiratkan kebencian,” sahut Krystal.

Berpuluh-puluh alasan berputar di kepala Minho. “Aku memang orang yang cuek, kurasa itu mempengaruhi nada bicara dan pandangan mataku yang hampir selalu datar.”

Krystal termenung sebentar. “Bukannya aku ingin mencampuri urusan Anda, Minho-ssi. Hanya saja, dihujani tatapan benci oleh orang lain tanpa tahu kesalahan apa yang dilakukan benar-benar mengangguku. Aku juga sama seperti Anda, cuek dan tak mau peduli pada orang lain kecuali yang sudah dekat denganku. Karena aku tak mau peduli tentang masalah Anda, maka aku minta maaf bila ada sesuatu yang membuat Anda marah padaku, meski aku sendiri tidak tahu alasannya.”

Meskipun menganggu, Minho akui gadis ini benar-benar berbeda dan membuatnya takjub. Seperti yang dikatakan Sulli, dia benar-benar apa adanya dan to the point. Dan kini, entah kenapa Minho merasa bersalah pada gadis itu. Krystal memang tidak melakukan kesalahan apa-apa, namun sejak awal Minho selalu menghujaninya dengan tatapan benci. Bahkan bukan hanya Krystal, namun semua perempuan—kecuali adiknya, tentu saja.

Minho memandang tanah lalu menggeleng pelan. “Kau tidak punya salah apapun. Aku saja yang sedang punya masalah.”

“Sudah kuduga. Aku bisa melihatnya dengan jelas di mata Anda,” sahut Krystal. Gadis itu tersenyum kecil. “Apapun masalah itu, jangan biarkan orang lain menjadi dampak atau pelampiasannya.”

Kini, Minho benar-benar terpana atas ucapan Krystal. Tiba-tiba ia merasakan suatu getar aneh di dadanya saat memaksakan diri untuk menatap mata gadis itu. Lalu Minho menggelengkan kepalanya pelan dan merutuki dirinya sendiri.

“Ayo, Krystal—eh, oppa mau kemana?”

Minho mengangkat wajahnya. “Ke apartemen Kris. Aku harus mengambil barang-barangku yang dipinjamnya.”

Sulli mengangguk-angguk. “Oh, kalau begitu hati-hati. Aku dan Krystal akan pergi ke toko buku sebentar lalu belajar bersama di rumah Krystal.”

“Kau juga hati-hati.”

Kedua gadis itu pergi.

 

***

Seusai menagih barang-barang miliknya yang dipinjam Kris, Minho mampir dulu ke minimarket. Lalu ia segera pulang untuk membuat makan malam. Saat ia sampai di rumah, ternyata Sulli sudah pulang.

“Tumben sebentar,” komentar Minho. Ia meletakkan belanjaannya di atas counter dapur.

“Lama kok. Oppa saja yang tidak sadar sudah berlama-lama di rumah Kris sunbae.”

Jika dipikir-pikir, Minho menghabiskan waktu sekitar dua jam di apartemen Kris. Seperti biasanya, mereka bertanding game dan membicarakan basket sepanjang sore.

“Hm, kurasa kau benar,” Minho membuka belanjaannya.

“Biar aku saja yang memasak.”

Minho mengangguk lalu duduk di kursi makan sambil memperhatikan adiknya yang mulai memotong daun bawang. Ia mengernyitkan dahi ketika teringat suatu hal yang mengganjal di hatinya. Kemudian ia mulai bimbang, ingin menanyakannya  pada Sulli atau tidak.

“Krystal benar-benar to the point, ya,” kata Minho memulai. “Mengganggu sekali.”

Sulli tertawa. “Sifat to the point-nya itulah yang membuatnya tidak mempunyai banyak teman. Tahukah oppa jika Krystal sering dijauhi teman-temannya karena terlalu jujur? Eh, omong-omong apa yang dikatakan Krystal padamu?”

“Dia bilang bahwa aku memiliki masalah dan sebaiknya masalah itu tidak membuat semua orang menjadi pelampiasannya.”

“Kau pasti kesal karena dia tepat sasaran.”

Minho terdiam.

“Krystal memang benar,” tambah Sulli. “Tidak seharusnya oppa menjadikan semua perempuan korban dari masa lalu. Aku tahu bagaimana oppa pernah dikecewakan oleh perempuan, bahkan dua kali. Tapi masalahnya, aku juga perempuan. Jika oppa tidak menghargai perempuan lagi, maka aku juga merasa tak dihargai.”

“Kau tidak sama seperti mereka,” sanggah Minho. “Kau adikku.”

“Begitu juga dengan Krystal dan perempuan-perempuan lain,” potong Sulli. “Mereka tidak sama seperti kedua perempuan yang oppa benci.”

Terdengar suara gebrakan meja. Namun Sulli tetap di tempatnya, mengiris bawang dengan sangat tenang. Minho mengepalkan tangannya dan berusaha untuk meredam emosinya.

Keadaan berjalan hening selama hampir lima belas menit. Untuk memecahkan kebekuan, Sulli memutuskan untuk mengalihkan topik.

Oppa tahu anak tingkat dua yang baru pindah?”

“Ya. Dia sekelas denganku.”

“Nampaknya dia pemalu, ya? Kemarin aku bertemu dengannya di Klub Tari dan melihatnya sedang latihan. Dia hebat sekali! Tapi dia langsung berhenti saat melihatku dan pergi begitu saja. Aneh.”

“Mungkin dia punya masalah.”

“Seperti oppa?”

Minho menyipitkan matanya.

“Oke, oke. Aku tidak akan mengungkit-ungkit hal itu lagi,” kata Sulli sambil mendesah.

 

***

Musik pop beat mengalun di ruang yang berdinding cermin itu. Sulli duduk di sudut ruangan sambil menyeka keringat yang mengucur di dahinya. Matanya memandang lurus ke pantulan dirinya di cermin. Awalnya ia hanya duduk di sana, namun suara pintu berderit membuat gadis itu menoleh. Terlihat seorang pemuda berdiri di pintu.

Pemuda itu agak terkejut lalu menunduk sambil bergumam, “Maaf.”

Sulli mengerutkan dahinya. Ia berdiri. “Tidak apa-apa. Kebetulan aku sudah selesai latihan.”

Namun si pemuda justru berbalik dan langsung pergi dari situ. Kerutan di dahi Sulli semakin banyak. Kelakuan pemuda itu tiba-tiba mengingatkannya pada kakaknya sendiri. Langsung pergi begitu melihat perempuan, padahal tidak ada masalah apapun. Ia mendesah. Teringat lagi ia akan ekspresi kakaknya yang menunjukkan keterancaman akan kehadiran Krystal.

Sebuah senyum kecil muncul di wajah Sulli. Mungkin ia bisa ‘menggunakan’ Krystal untuk mengubah pandangan kakaknya. Ia mematikan tape, memasukkan barang-barang ke tasnya lalu segera pergi. Sambil berjalan, ia melirik jam tangan. Masih pukul empat sore kurang. Jika ia beruntung, mungkin ia bisa bertemu Krystal. Dan benar saja. Gadis pendiam itu sedang duduk di bawah pohon. Matanya terpaku pada buku yang sedang dibacanya.

“Krystaaaal~!” sapa Sulli dengan ceria.

Yang dipanggil mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil. Sulli langsung duduk di sebelahnya.

“Sudah selesai latihan?” tanya Krystal.

Sulli mengangguk. “Ya. Bagaimana denganmu? Tidak pulang?”

“Nanti saja. Tinggal sedikit lagi kok.”

“Buku apa sih? Hm, The Miracle of Endorphin. Kau ini memang doyan membaca buku-buku aneh.”

Krystal tertawa kecil. “Biar saja.”

Kedua sahabat itu terdiam. Krystal makin menekuni bukunya, sedangkan Sulli tenggelam dalam pikirannya sendiri. Jika ia bisa mengubah pandangan kakaknya melalui Krystal, bagaimana cara menyampaikan maksudnya itu? Setidaknya ia harus memikirkan suatu cara untuk memancing sahabatnya itu.

“Aku minta maaf atas kelakuan kakakku,” Sulli memulai. “Terkadang dia menjadi kasar.”

Krystal menutup bukunya. Dalam hati Sulli bersorak. Umpannya berhasil.

“Tidak apa-apa. Walau sebenarnya aku merasa ganjil. Aku tidak melakukan apapun, tapi sudah dihujani tatapan seperti itu oleh kakakmu,” kata Krystal. “Jujur saja, aku tidak peduli apa masalahnya. Namun aku berharap jika dia punya masalah, masalah itu tidak menjadi pelampiasan pada orang lain yang tidak tahu apa-apa.”

Perkataan Krystal membuat Sulli menunduk. Ia memainkan jari-jarinya. “Justru itu yang terjadi pada kakakku.”

“Maksudnya?”

“Jadi—ah, aku tidak tahu cara mengatakannya! Ini menyangkut masa lalu keluarga kami.”

“Jika kau tidak mau membicarakannya, ya sudah. Toh itu tidak membuatku rugi.”

Sulli mendesah. “Tapi masalah ini membuatku resah, Krystal. Lebih baik kuceritakan saja padamu. Lagipula aku yakin kau tidak akan menyebarkan masalah ini. Kau tahu sendiri ‘kan jika Minho oppa sangat cuek, bahkan cenderung kasar dan tak sopan pada perempuan?”

Krystal mengangguk. “Dia memang begi—oh, tunggu dulu. Maksudmu hanya pada perempuan atau hampir ke semua orang?”

Hanya pada perempuan,” sahut Sulli. “Kecuali aku, tentu saja. Kau tahu apa yang terjadi pada kakakku?”

“Hm, coba kutebak,” gumam Krystal. Gadis itu menopangkan dagunya dengan tangan kanannya. “Bila diperhatikan, yang terpancar dari mata kakakmu saat melihatku adalah kilatan amarah, seolah aku ini berbuat kesalahan. Apa kakakmu pernah dikecewakan oleh seorang perempuan hingga dia marah?”

Sulli menghela nafas. “Dua orang, lebih tepatnya. Kau ini memang hebat dalam menganalisis. Jadi, kakakku memang menaruh dendam pada perempuan. Semua ini berawal dari masalah kebangkrutan yang menimpa almarhum ayahku. Dulu ayahku memiliki perusahaan. Beliau dituduh korupsi. Walaupun pengadilan memenangkannya, namun perusahaan ayahku terlilit hutang yang besar. Perusahaan itu bangkrut dan beberapa bulan setelahnya ayahku meninggal. Saat itulah, keadaan menjadi semakin sulit.

“Ibuku yang seharusnya merawat kami justru pergi karena tidak mampu melihat dirinya jatuh miskin. Minho oppa benar-benar kecewa pada Ibu. Kekecewaannya bertambah besar saat sahabatnya yang seorang perempuan, juga pergi karena alasan yang sama. Gadis itu begitu manja pada Minho oppa dan suka minta dibelikan ini-itu. Namun setelah bangkrut, Minho oppa tidak bisa menuruti keinginannya lagi, lalu dia pergi. Padahal Minho oppa begitu dekat dengan gadis itu,” Nada bicara Sulli menurun. “Itulah sebab mengapa Minho oppa seolah tidak menghargai perempuan. Baginya, perempuan itu semuanya sama saja. Penipu dan hanya mementingkan harta serta rupa.”

Krystal menunjukkan ekspresi prihatin. “Aku turut menyesal atas yang terjadi pada keluargamu, Sulli. Sekarang aku paham mengapa kakakmu begitu benci dengan kehadiran perempuan.”

“Begitulah,” gumam Sulli. “Aku berharap dia bisa mengubah pandangannya. Atau setidaknya ada seseorang yang mampu melakukan itu untuknya.”

“Hm. Omong-omong, kakakmu normal, ‘kan?”

Mata Sulli membulat. “Apa maksudmu? Tentu saja dia normal! Kau ini ada-ada saja,” balas Sulli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Krystal hanya mengangkat bahu. “Hanya bertanya, kok. Soalnya dia memiliki banyak fans, tapi nampaknya dia tidak peduli pada mereka. Aku juga belum pernah melihatnya bersama seorang gadis.”

“Sudah kubilang, ‘kan? Masalah itu membuatnya hampir mustahil untuk jatuh cinta,” Tiba-tiba Sulli tersenyum jahil. “Kau tertarik dengan Minho oppa, ya?”

Sekali lagi Krystal mengangkat bahu. “Entahlah. Aku belum pernah benar-benar menyukai seorang lelaki, jadi aku tidak tahu apa yang kurasakan terhadap kakakmu. Tapi kuberitahu saja. Jika seandainya aku jatuh cinta pada kakakmu, aku tidak akan mengiriminya coklat atau surat cinta di lokernya, seperti yang dilakukan oleh fans-fansnya yang murahan itu.”

Kali ini, Sulli nampak sangat puas. Ia akan menyusun strategi demi mengembalikan kepercayaan sang kakak pada perempuan. Meskipun akan menghabiskan waktu dan terpaksa ia juga harus membohongi Krystal demi menutupi tujuan yang sebenarnya, mungkin itu semua adalah hal yang harus dilakukan demi kebaikan sang kakak sendiri.

Melihat Sulli yang tersenyum sendiri, Krystal memiringkan kepalanya lalu berkata, “Kau tidak bermaksud untuk memintaku supaya mengubah pandangan kakakmu itu, ‘kan?”

Sialan. Baru saja ia menyusun sebuah strategi dan kini justru strategi itu runtuh total oleh deduksi seorang Krystal Jung. Sulli menghela nafas. “Darimana kau tahu?”

“Pertama, kau menceritakan tentang masalah keluargamu. Menurutku, masalah keluarga adalah hal sensitif yang bahkan tidak bisa diceritakan pada sahabat sekalipun. Tapi kau dengan entengnya bercerita tentang masa lalu keluargamu padaku. Kedua, senyumanmu yang seperti orang gila setelah aku terpancing oleh cerita tentang keluargamu. Aku menduga kau pasti tengah merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan Minho, kakakmu.”

Sulli terpana. “Oke. Itu memang benar. Kau ini seperti Sherlock Holmes saja, ya. Jadi, kau mau membantuku?”

“Entahlah,” sahut Krystal sambil mengangkat bahunya. “Masalahnya, ini sama sekali bukan urusanku. Tapi aku sendiri juga tidak tahan bila harus menerima tatapan tajam dari kakakmu itu.”

“Lalu?”

“Mungkin aku akan membantu. Mungkin. Tapi kenapa kau meminta bantuanku?”

Seulas senyum menghiasi wajah Sulli. “Karena kau bisa membaca ekspresi kakakku dengan mudahnya dan membuat kakakku ketakutan karena keahlianmu itu. Kebetulan Minho oppa adalah orang yang tidak suka bila masalahnya diketahui orang lain.”

 

***

“Untuk apa kau mengundang Krystal kemari?”

Pertanyaan bernada sewot itu membuat Sulli memalingkah wajahnya. Tangannya yang sedang mengiris kue berhenti sebentar. Ia menatap datar kakaknya. “Memangnya tidak boleh? Lagipula, dia adalah sahabatku dan aku pernah dijamu Krystal di rumahnya, jadi aku berhutang pada dia!”

Minho mendengus. “Ajak saja dia ke kafe atau restoran, dimanapun asalkan jangan di sini.”

Oppa kenapa sih?” sahut Sulli kesal. “Memangnya Krystal punya salah apa?”

Dia punya banyak kesalahan, batin Minho. Pertama, dia sudah mencampuri urusanku walaupun dia tidak sengaja melakukannya. Dua, dia adalah perempuan yang menyebalkan. “Pokoknya jangan di sini.”

Oppa takut jika Krystal melakukan kemampuannya lagi, ‘kan?”

Akhirnya, Minho menyerah. Ia mendesah. “Terserah kau saja. Yang penting, jangan ganggu aku.”

Setelah gagal berkompromi dengan adiknya, Minho memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Ia berbaring di atas tempat tidur sambil memandangi langit-langit kamarnya. Seandainya saja Sulli mau menuruti perkataan dirinya. Demi apapun, ia tidak ingin bertemu dengan Gadis Aneh itu lagi! Kemampuannya untuk menebak pikiran dan perasaan seseorang membuat Minho benar-benar gelisah. Ia benci bila ada orang yang mengetahui masalah pribadinya.

Suara bel pintu terdengar. Minho sadar, bahwa perempuan yang kedatangannya tidak diharapkan itu telah berada di ambang pintu rumahnya. Ia mendesah, lalu bangkit dan berjalan menuju meja belajarnya. Mungkin mengerjakan tugas sekolah akan mengalihkan perhatiannya.

Baru beberapa menit memegang pulpen, pintu kamarnya digedor-gedor seseorang. Minho mendengus kesal lalu berjalan ke arah pintu dan membuka.

“Apa?”

Sulli memanyunkan bibirnya. “Oppa ini sedang terkena pra-menstruasi sindrom atau bagaimana sih? Aku cuma ingin bilang bahwa aku akan pergi ke minimarket untuk membeli beberapa snak. Kita kedatangan tamu, jadi tolong urus tamu itu hanya untuk sebentar saja.”

“Sejak kapan ada kata kita?”

“—aku pergi dulu~”

Gadis itu pergi begitu saja. Minho menghela napas. Ia melirik ke arah ruang tamu. Krystal Jung sedang duduk di sofa dengan tenangnya sambil membaca majalah milik Sulli. Tiba-tiba gadis itu mengangkat wajahnya, lalu tersenyum kecil dan kembali membaca majalah. Sekali lagi Minho menghela napas.

Akhirnya, ia pergi ke dapur dan membuat secangkir teh hangat. Lalu dengan malas, ia mengantarkan teh tersebut ke ruang tamu.

“Silakan diminum,” kata Minho pelan.

Krystal tersenyum kecil. “Terima kasih.” Gadis itu menyesap tehnya.

Biasanya, Minho akan langsung pergi dan tidak mempedulikan teman-teman Sulli, karena ia memang tidak mau peduli dengan mereka. Namun, kini ia justru duduk dengan pelan di sofa, berhadap-hadapan dengan Krystal dan matanya menatap tajam pada gadis itu. Krystal masih menyesap tehnya dengan santai, lalu meletakkannya dan tanpa ragu menatap balik Minho.

“Kenapa kau mencampuri urusanku?” Perangai kasar mulai muncul lagi dalam diri Minho tanpa bisa ditahannya.

“Aku tidak mencampuri urusan Anda, Minho-ssi. Bahkan aku tidak tahu apa masalah Anda.” Gadis itu menyipitkan matanya. “Jujur saja, aku tidak peduli dengan masalah Anda. Yang membuatku terganggu adalah tatapanmu yang selalu menyiratkan kebencian, padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun.”

Minho tersentak. Ia benar-benar tidak menyangka jika Krystal ternyata sefrontal ini dalam mengungkapkan pemikirannya.

“Bagiku, Anda mudah untuk ‘dibaca’,” lanjut Krystal. “Sikap Anda yang benar-benar berbeda saat berhadapan dengan laki-laki dan perempuan adalah sesuatu yang sangat menonjol. Tanpa aku tahu masalah Anda pun, aku mengerti bahwa Anda memiliki masalah dengan perempuan. Di masa lalu, mungkin?”

Mata Minho melebar. Bagaimana bisa gadis di hadapannya ini tahu begitu banyak soal dirinya?

“Aku akan memberi satu nasihat usang,” Nada suara Krystal turun. “Tidak baik memberi cap yang sama pada semua orang hanya karena kesalahan seseorang di masa lalu. Itu sama sekali tidak adil.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?” seru Minho. “Kau kira mudah melupakan kesalahan besar yang sangat membuatku kecewa seperti itu? Kau kira—”

“Terima saja kenyataannya,” potong Krystal. “Terima kenyataan bahwa orang yang Anda percayai dan sayangi ternyata tidak sebaik yang Anda pikir. Terima kesalahan yang mereka perbuat, maka secara otomatis Anda akan memaafkan dan melupakannya.”

Mata Minho berapi-api. “Memangnya semudah itu?”

Pertanyaan itu tidak langsung dijawab. Gadis itu menatapnya lalu mengangguk pelan. “Tentu saja. Terima, maafkan dan lupakan. Jika Anda melakukannya, seluruh kekecewaan Anda akan hilang.”

Minho kehabisan kata-kata. Pada akhirnya, ia tetap memilih untuk menjadi egois dan bangkit dari sofa, lalu kembali ke kamarnya.

 

***

 

Kelopak mata Minho terbuka untuk yang kesekian kalinya. Sudah beberapa kali ia mencoba untuk tidur, namun baru tidur beberapa menit, matanya sudah terbuka lagi. Ia bangkit dan terduduk di atas tempat tidurnya. Kepalanya terasa pusing. Diliriknya jam weker di sebelahnya. Baru pukul dua belas malam.

Minho memegangi kepalanya dan kembali berbaring. Matanya memandang lurus ke langit-langit kamarnya. Kembali ia tergiang peristiwa tadi sore. Ketika seorang Krystal Jung, gadis yang bahkan tidak ia kenal secara personal, mampu membaca dirinya dengan sempurna.

Terima, maafkan dan lupakan.

Ia mendengus. Mana bisa ia menerima kesalahan yang membuatnya begitu kecewa? Apalagi orang yang melakukannya adalah orang-orang yang begitu ia percaya dan sayangi.

Wajah gadis itu terbias di memorinya, merefleksikan seorang gadis dengan bibirnya yang  membuka dan menutup, sedang memberi nasihat pada dirinya.

Kepala Minho terasa sakit lagi. Mungkin yang diucapkan Krystal ada benarnya. Selama ini ia memang selalu melihat memorinya yang membuatnya kecewa dan tidak mau menerima kenyataan itu—kenyataan bahwa ibu kandung dan sahabatnya tidak sebaik yang ia pikir. Ia tidak mau menerima kenyataan bahwa ia mempercayai orang yang salah. Dan sebagai akibatnya, seluruh perempuan harus menerima efek dari keegoisannya untuk memaafkan kesalahan seseorang di masa lalu.

Minho memejamkan matanya. Kini yang terbayang di benaknya adalah wajah ibu kandung dan sahabat perempuannya. Mereka tersenyum padanya lalu berucap maaf seraya menyesali perbuatan mereka terhadapnya dulu. Otot-otot tangan Minho menegang. Ia benar-benar belum bisa menerima perbuatan mereka.

Ibu kandungnya tersenyum miris, begitu juga sahabat perempuannya.

“Ibu minta maaf karena telah meninggalkanmu dan Sulli sendirian,” kata figur ibunya dalam bayangan Minho. “Kini Ibu benar-benar menyesal telah melakukan semua itu. Maukah kau memaafkan Ibu?”

“Minho,” panggil sahabat perempuan Minho. “Kau adalah sahabat terbaikku. Maaf karena telah menilaimu dari jumlah uang yang kau miliki. Sekarang aku selalu sendiri dan tak punya teman. Aku menyesal sekali atas kesalahanku dulu. Maukah kau memaafkanku?”

Tanpa disadari, air mata Minho menetes. Batinnya berteriak kencang. Aku begitu sayang dan percaya pada kalian, tapi kenapa kalian justru mengkhianatiku seperti ini? Perbuatan kalian membuatku benar-benar sakit dan kecewa, tapi…

“Aku memaafkan kalian,” bisik Minho.

Dalam bayangannya, Minho melihat ibu dan sahabat perempuannya tersenyum, lalu berucap terima kasih sebelum akhirnya bayangan mereka sirna.

Minho membuka kedua matanya. Dadanya kembang kempis dan rasanya sulit untuk bernapas. Namun, beban yang selama ini tersangga di bahunya telah terbebas. Ia tersenyum.

Gadis itu memang benar. Terima, maafkan dan lupakan—lalu semua kekecewaannya menguap dengan cepat.

 

***

Pintu dengan hiasan stiker bernuansa olahraga itu terus dipandanginya selama berpuluh-puluh menit yang lalu. Choi Sulli mengigit ujung kukunya sambil berharap-harap cemas. Kemarin ia mengundang Krystal dengan dalih mengajaknya makan malam, padahal yang sebenarnya ia ingin mempertemukan Krystal dengan kakaknya. Ia berpura-pura pergi ke minimarket untuk menjalankan rencananya. Tapi sepertinya rencananya itu benar-benar gagal total. Malah membuat semuanya bertambah buruk.

Saat ia kembali, Krystal hanya duduk di ruang tamu sambil memandangi cangkirnya yang sudah kosong. Beberapa saat kemudian, ia menyadari bahwa rencananya gagal dan agaknya sang kakak tersinggung, hingga mengunci diri di kamarnya semalaman. Dan sampai sekarang kakaknya belum keluar dari kamar.

Sulli memainkan jari-jarinya dengan gugup. Ia melirik jam dinding. Pukul enam lebih sepuluh menit. Biasanya pada jam seperti ini, kakaknya sudah duduk di meja makan. Tiba-tiba pintu yang sedari tadi dipelototinya terbuka sedikit. Sulli menjadi tegang. Pintu itu melebar dan terlihat sesosok pemuda tinggi dengan raut wajah yang agak berbeda.

Dahi Sulli berkerut. Tidak biasanya kakak laki-lakinya itu menampakkan ekspresi wajah normal seperti sekarang. Ada apa ini?

Oppa, se-selamat pagi,” sapa Sulli.

Minho tersenyum. “Selamat pagi.”

Ingin rasanya Sulli mengucek-ucek matanya. Kakaknya tersenyum di pagi hari seperti ini? What the hell is going on here?

“Sudah sarapan?” tanya Minho.

“S-sudah,” jawab Sulli.

Minho berjalan ke arah kamar mandi. “Kau berangkat saja dulu.”

“Iya.”

“Omong-omong…” Perkataan Minho terhenti. Pemuda itu nampak ragu untuk melanjutkan, tapi pada akhirnya ia tetap meneruskan perkatannya. “…kau tahu dimana Krystal biasanya berada?”

Mata Sulli melebar. Jangan-jangan kakaknya ingin berbuat sesuatu yang tidak baik pada Krystal karena telah merasa terganggu? “Aku tidak akan memberitahumu! Dia tidak punya salah apapun, jadi jangan sakiti dia—”

“Kau bicara apa sih?” potong Minho. “Aku ingin berterima kasih padanya. Dan mungkin mengatakan sesuatu.”

“Heh? Berterima kasih…?” Sel-sel saraf di otak Sulli nampaknya baru tersambung. Apa itu artinya pertemuan kemarin berhasil? “Oh, biasanya Krystal ada di perpustakaan atau di taman sekolah usai pulang sekolah.”

“Oke, terima kasih.” Pemuda itu langsung masuk ke kamar mandi.

Sulli tersenyum lebar. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi lalu menggoyang-goyangkannya. “Woohoo~! Berhasil!” soraknya dengan nada sepelan mungkin. Dan yang paling bagus, mungkin saja nanti Krystal akan menjadi pacar Minho oppa, kekeke, tambahnya dalam hati.

 

***

Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. Jika biasanya Minho akan langsung pergi ke lapangan basket atau memilih pulang ke rumah, sekarang ia justru berbelok di ujung lorong sekolah. Ia melewati gedung perpustakaan, mencuri-curi pandang ke dalamnya tapi tidak ada siapa pun di sana kecuali dua orang pustakawati. Dengan ragu-ragu, ia menghampiri salah satu dari mereka.

“Apa seorang siswi bernama Krystal Jung ada di sini?” tanyanya.

Pustawakati itu menggeleng. “Tidak ada yang ke sini sejak bel pulang sekolah berbunyi. Maaf.”

“Oh, terima kasih,” sahutnya pelan.

Minho bergegas pergi dari gedung perpustakaan itu dan melanjutkan perjalanannya menuju taman sekolah. Ia menelusuri lorong, terus hingga ke ujung sampai ia melihat parkiran siswa. Ia berbelok ke kiri dan melihat taman sekolah.

Taman itu tidak terlalu luas, namun suasanya sangat asri. Pohon-pohon yang entah apa jenisnya tumbuh di sisi-sisi taman, sebuah kolam ikan terletak di tengahnya dan dua buah kursi taman tertata di ujung taman. Seorang gadis berambut panjang terlihat di salah satu kursi tersebut, duduk dengan tenangnya sambil membaca bukunya dengan sungguh-sungguh. Minho menarik nafas dalam-dalam lalu menghampiri gadis itu.

“Uhm, hai.”

Gadis itu mendongak lalu tersenyum. “Hai,” Untuk sejenak dia melupakan bukunya.

Dengan kikuk Minho duduk di sampingnya. “Maaf jika aku menganggu.”

“Tidak apa-apa, Minho-ssi. Apa Anda ingin membicarakan sesuatu?”

Minho mengerjap. Bagaimana Krystal bisa tahu—oh ya, ia lupa. Krystal bisa dengan mudahnya membaca ekspresi seseorang. “Apa itu terlihat jelas di wajahku?” tanya Minho.

“Bahwa Anda nampak ingin membicarakan sesuatu? Bagiku, ya—itu sangat jelas terlihat. Lagipula ini terasa ganjil, mengingat bahwa sebelumnya Anda sedikit terganggu dengan kehadiranku.”

Perkataan frontal nan menyakitkan (namun jujur) itu membuat Minho menarik nafas. Ia menunduk. “Sebenarnya ini berhubungan dengan hal itu. Aku minta maaf karena pernah berpikiran yang tidak-tidak tentangmu. Dan juga tentang perempuan-perempuan lain. Aku menyadari bahwa sikapku hanyalah seperti anak kecil.”

“Aku memakluminya. Dan itu bagus bila Anda telah menyadari hal itu, Minho-ssi. Kurasa Anda telah mempelajari sesuatu, benar bukan?”

Minho mengangkat wajahnya dan tersenyum. “Ya. Aku belajar banyak darimu. Dan aku berterima kasih atas hal itu.” Ia menatap lurus gadis di sebelahnya.

“Seharusnya Anda berterima kasih pada diri sendiri.” Krystal membalas tatapan Minho dan turut tersenyum.

Pada saat itulah, dunia yang semula tidak dikenal Minho mulai berubah. Angin seolah bertiup lembut, menerpa pepohonan yang ada di taman itu dan membuat daun-daun berguguran layaknya musim semi. Dan tiba-tiba keadaan berubah drastis, menjadi suatu alur yang sering nampak di drama-drama picisan di televisi.

Saat ia menatap ke sepasang mata yang selalu menampakkan kejujuran dan keluguan itu, ia merasakan suatu getar di dadanya. Seperti ada yang menusuknya, namun rasa yang dihasilkan adalah sensasi menggelitik dan menyenangkan.

Kenapa?

Kenapa baru sekarang ia merasakan sensasi seperti ini?

Kenapa tidak sejak dulu?

“Kau ingin mampir ke kedai es krim? Aku akan mentraktirmu,” kata Minho sebelum ia menyadari arti ucapannya.

 

***

Kedua remaja itu berjalan bersampingan dengan kikuk. Krystal sibuk memandangi langkah kakinya, sedangkan Minho hanya menatap langit biru. Mereka sedang dalam perjalanan menuju sebuah kedai es krim yang terletak tidak jauh dari sekolah.

“Kau ingin rasa apa?” tanya Minho begitu mereka sampai.

“Vanila,” jawab gadis itu pendek.

“Baiklah. Tolong satu es krim cappucino dan satu es krim vanila.”

Si penjual melayaninya dengan cepat dan kurang dari dua menit, Minho sudah memegang es krim pesanannya. Ia menyerahkan es krim vanila pada Krystal lalu mereka berjalan sambil memakan es krim.

“Apa… ini yang namanya kencan?” tanya Krystal tiba-tiba.

Minho tersenyum geli. Lalu ia menatap gadis itu dengan tatapan penuh rahasia. “Mungkin. Menurutmu bagaimana?”

“Kata temanku, jika seorang gadis pergi bersama seorang laki-laki, itu artinya mereka sedang berkencan.”

“Belum pernah berkencan, ya?”

Krystal menggeleng. “Sebetulnya pernah beberapa teman laki-laki mengajakku untuk berkencan, tapi aku menolak semua ajakan mereka.”

“Lalu kenapa kau menerima ajakanku?”

Spontan, kedua pipi Krystal memerah. Tidak terlalu kentara, namun cukup untuk membuat Minho yang melihatnya menjadi gemas sendiri. “E-eh, itu…” Krystal menggigit bibir bawahnya. “E-entahlah. Aku tidak tahu.”

Minho tertawa. “Kurasa aku tahu jawabannya.”

“O-oh ya?! Jangan sok tahu!” sahut Krystal kesal. Namun justru itu membuatnya terlihat semakin manis di mata Minho.

“Aku memang tahu, kok,” Minho tersenyum jahil. “Ekspresimu mudah terbaca.”

Krystal memanyunkan bibirnya. “Balas dendam, ya?”

“Anggap saja begitu. Sekarang aku puas sudah membalasmu.”

Gadis itu menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.

Minho hanya memandangi gadis itu dengan senyum simpul. Tak disangka, hal yang justru selama ini ia benci dan hindari membuatnya kembali pada kenyataan, mengingatkannya pada kejadian masa lalu yang memang harus diterima. Sudah terlalu lama baginya menghakimi seluruh perempuan di dunia dengan kesalahan yang dilakukan dua orang. Dan mungkin, inilah ‘hukuman’ yang diberikan Tuhan karena telah memberi cap yang sama pada seluruh perempuan—dengan membuatnya jatuh cinta pada gadis yang pemikirannya frontal.

Meskipun terkadang perkataan Krystal terdengar nyelekit, namun itu hanyalah perwujudan dari kejujuran yang gadis itu miliki. Sesuatu yang jarang dimiliki orang lain. Komentar sarkastik yang menyakitkan namun menyiratkan kebijaksanaan di sana.

Terima, maafkan dan lupakan.

Kalimat itu akan terus diingatnya, jika sewaktu-waktu penyesalan, amarah dan perasaan negatif lain melanda dirinya. Semoga gadis itu selalu diberkati Tuhan, juga dengan kejujurannya yang selama ini membuatnya tidak punya teman. Dia begitu jujur dengan pemikiran dan perasaannya sendiri.

“Uhm, Minho-ssi…” panggil Krystal. “Omong-omong—”

Minho menoleh. “Ada apa?”

Gadis itu berdehem. “Resleting celanamu terbuka.”

Mungkin terlalu jujur.

 

End of Verse Four

 

 

 

A/N: Tinggal satu verse lagi!!!! /kibar bendera/

Verse kali ini agak gaje ya? Duh, agak susah buat menjelaskan perasaannya Minho. -_-

Maaf ya kalo OOC dan alurnya terlalu cepat. Otak lagi koslet gara-gara UAS. Apalagi pas Matematika & Fisika. Rasanya tuh… ASDFGHJKL -_- /malah jadinya curhat/

Pada RCL ya ._.

 

Park Sooyun~

2 thoughts on “Black Pearl [Verse 4]

  1. Waaaawww…
    Cerita’a so sweet..
    Salut sm Krys yg bisa “membaca” Minho..
    Tp knapa ending’a jadi begitu??
    LoL bgt..
    Seruu..

    Jia Jung

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s