(Oneshot) When I was your man

when i was your man

(Oneshot) When I Was Your Man

Byun Baekhyun, Krystal Jung, Xi Luhan | Romance, Hurt/Comfort, Angst | Teenager

A/N: All in this fic is only Baekhyun’s point of view. Terinspirasi dari lagu Bruno Mars yang berjudul sama, namun ini tidak bisa dikatakan sebagai Songfic
Thanks to Infiexlr at HSG for the awesome cover :D

IloveAJ’s present

Now my baby is dancing, but she’s dancing with another man

Story Begin

Promnight huh? Acara konyol
Dimana berpuluh-puluh pasangan saling berpegangan dan berputar-putar di lantai dansa, sedangkan yang datang sendiri-seperti aku, hanya bisa menonton dari pinggir, menggelikan

Yah, kuakui, 2 bulan yang lalu, aku sangat menunggu datangnya hari ini
Namun sekarang, beda keadaannya, aku benar-benar ingin hari ini lenyap, 14 Februari
Hari Valentine sekaligus Promnight-konyol di sekolahku

Aku duduk di kursi taman, sendirian.
Promnight tanpa pasangan? Tak ada yang bisa dilakukan bukan? Berdansa dengan tiang? Menyedihkan

Aku meneguk soda dengan kasar lalu hampir tersedak melihat gadis itu, gadis yang selalu menempati relung hatiku dan menyesaki pikiranku
Menghantui malam-malamku selama 2 bulan ini, Krystal

Dia begitu cantik dengan balutan Minidress diatas lutut berwarna pink pastel dengan cardigan lembut berwarna senada

Untaian rambutnya yang coklat dan wavy ia biarkan menggelayut manis di bahu kirinya

Cantik. Hanya itu kata yang terlintas di pikiranku, selalu cantik dimataku. Ia masih menampilkan pesona yang sama, selalu

Aku melirik sinis pemuda yang berjalan disampingnya, Luhan

Dengan setelan kemeja dan jas yang kontrass dengan busana yang dikenakan Krystal, namun masih terlihat cocok dengan balutan dress Krystal

Krystal menggelayut manja di lengan pemuda itu, mereka tertawa bersama, Krystal terlihat senang bersama pemuda itu

Ia tersenyum, senyum yang akhir-akhir ini menghiasi bunga tidurku, hanya dalam mimpi
Hatiku sesak melihat pemandangan itu

“Cih” umpatku pelan tanpa melepaskan pandangan dari mereka berdua

Aku beranjak dari tempatku semula dan masuk ke Ballroom
Aku berdiri di depan Stand makanan kecil dan memandang sinis ke arah pasangan-pasangan bodoh itu

“Baekhyun Oppa!”

Astaga, suara itu, suara yang benar-benar kurindukan, memanggilku…

Tubuhku terasa berat untuk digerakkan, perutku seperti dipenuhi jutaan kupu-kupu
Dengan susah payah, aku memutar tubuhku

“Ah, Krystal-ah” sahutku sambil tersenyum canggung

Krystal tersenyum ceria kepada Luhan, pemuda di belakangnya

“Kryssie, aku ambil minuman dulu, jangan nakal ne kkk~” ujar Luhan sambil mencubit hidung Krystal

Cih, bodoh sekali pemuda itu, cildish

“Ne, Lulu oppa~”

Deg!

Lulu oppa? Aku tak pernah dipanggil seperti itu, dulu, aku selalu memintanya untuk memanggilku “Baekki Oppa” namun ia tak pernah menyanggupinya
Sekarang? Ia memanggil pemuda sial itu dengan “Lulu Oppa”
Apa ia lebih baik dariku? Lebih tampan? Lebih cute? Kurasa tidak. Ah, bukan kurasa, tapi memang tidak!
Soal kepintaran, ummm, kuakui dia lebih unggul
Tapi, mana mungkin seseorang begitu menyayangi kekasihnya hanya karena kepintarannya? Itu bodoh bukan? Dan Krystal bukanlah tipe gadis bodoh seperti itu

Krystal masih melambai-lambai pada Luhan, lalu ia berbalik kearahku

“Datang sendirian, oppa?” tanyanya sambil tersenyum dan mengambil cupcake di belakangku lalu memakannya sambil terus menatapku, sedangkan aku, sama sekali tak bisa melepaskan pandanganku darinya

“Ya, seperti yang kaulihat” sahutku sambil mengangkat bahu dan tersenyum terpaksa

“Belum dapat pacar baru hm?” celetuk Krystal sambil mengunyah cupcakenya sambil sesekali menengok kebelakang, memastikan datangnya kekasihnya-sepertinya

Aku terhenyak, pacar baru? Sedangkan kau masih menghantuiku dengan senyuman manismu itu? Tidak akan

Aku menggeleng pelan

“Uhm, tidak, aku tipe yang susah melupakan” ujarku

Aku menyesali kata-kata terakhirku, tipe yang susah melupakan? Betapa bodohnya aku! Dia akan berpikir bahwa aku belum berhasil melupakannya!-walaupun itu benar!

Dan benar saja, dia kelihatan terkejut, ia menghentikan kunyahannya

“Kau… Belum melupakanku?”

“Kryssie…” panggil Luhan dengan dua gelas Coke ditangannya

Krystal menoleh padanya dan mengisyaratkan padanya untuk menyingkir sejenak, ia ingin berbicara denganku, yah, semacam begitu

Aku masih membisu, lidahku kelu

Apa yang harus kukatakan? Mengaku padanya bahwa aku belum melupakannya? Atau menjadi munafik dan membohongi dirinya dan diriku sendiri?

Aku menghela napas berat, ia masih menatapku

“Kau… Bukan tipe gadis yang mudah dilupakan, Soojung” ujarku

Aku sengaja memanggilnya dengan nama aslinya, terdengar lebih tulus bukan?

Ia membisu, dan aku sudah menerka ia akan seperti itu

Aku menghela napas

“Lupakan saja”

Ia menggeleng, lalu menatapku

“Tidak, kau harus melupakanku Oppa, masih banyak gadis lain yang lebih baik daripada aku, Fighting oppa” katanya sambil tersenyum lalu menepuk bahuku

Aku terpaku

“Tak semudah itu selama bayang-bayangmu masih menghantuiku, Krystal…” gumamku, seirama dengan angin yang berhembus

Ia berbalik, menuju kekasihnya, Luhan, mereka bercakap-cakap riang lalu Luhan mengambil tangannya, mengajaknya berdansa, kulihat, Krystal dengan senang hati menyanggupinya, mereka berjalan ke tengah lantai dansa dan mulai berpegangan tangan

Aku mengalihkan pandanganku, hatiku sesak…

_

”Baekhyun Oppa!” panggil Krystal, aku menoleh dengan sedikit enggan, aku tengah berkonsentrasi pada PSP di tanganku, ia terlihat sedikit kesal

“Ya! Kau bermain PSP terus”

Aku hanya menunjukkan cengiran lebar sambil mematikan PSPku, tak ingin memperpanjang masalah

Aku bertopang dagu dan menatapnya, menunggunya mengutarakan apa yang ingin ia tanyakan

“2 Bulan lagi, Promnight” ujarnya sambil tersenyum senang, aku mengangkat alisku seolah mengatakan ya-lalu-kenapa

Dia mendengus kesal

“Yaaa! Oppa, kita akan berdansa kan?”

Aku terdiam, sejujurnya, aku benci berdansa

Saling menempelkan tubuh pada lawan jenis, walaupun kekasih sendiri, Menyebalkan, aku tak menyukai dansa

Aku menghela napas

“Kukira tidak, Krystal”

Ia menampilkan wajah kecewa

“Mengapa?” tanyanya dengan raut kecewa yang tergambar jelas di wajahnya

Sejujurnya aku tak tega melihatnya, namun ia pernah mengatakan bahwa aku tak boleh memaksakan hal yang tak kusukai hanya karena dirinya, dia yang memintaku bukan?

Aku menghela napas-lagi

“Aku hanya…” aku menggantungkan kalimatku, mengarahkan mataku pada matanya “Tidak menyukainya” lanjutku dengan tatapan sendu

Ia masih terlihat kecewa namun ia mengangguk mengerti

“Ne… Aku mengerti jika Oppa tak suka berdansa… Tapi jika boleh jujur, aku… sangat menyukai berdansa” tuturnya sambil sedikit menunduk

Aku hanya mengangguk tak acuh dan menepuk pelan kepalanya

Apa peduliku? Ia sendiri yang mengatakan bahwa aku tak perlu memaksakan diriku bukan?

_

Aku tersenyum kecut mengingat hari itu, hari dimana Krystal memintaku berdansa dengannya hari ini

Yah, dia memang berdansa… Tapi dengan pria lain…

Ya, Luhan tentu tidak egois sepertiku

Lihat caranya menatap Krystal, ia terlihat begitu menyayanginya-walaupun aku juga sangat menyayanginya

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan rasa sayang mereka bukan?
Dan begitupun aku dan Xi Luhan pemuda sialan itu

Aku terus menatap lekat mereka-Luhan dan Krystal

Aku mengeryit ketika Luhan terlihat membisikkan sesuatu di telinga Krystal, dan Krystal mengecup pipi Luhan sebagai balasannya

“Cih” hanya mengumpat yang bisa kulakukan ketika melihat kejadian itu

Aku berjalan pelan menyusuri tepi lantai dansa, tak ingin mengganggu pasangan-pasangan yang tengah memadu kasih tersebut

Aku berjalan ke halaman samping Ballroom, aku menghempaskan tubuhku kasar ke rerumputan yang lembab lalu menengadah menatap langit

“Aku mencintaimu”

Aku menoleh ke arah datangnya suara, ah itu, Oh Sehun temanku dan kekasihnya, Choi Minhee, Sehun menyematkan setangkai mawar-yang tentu saja tak berduri di sela-sela rambut kekasihnya

Aku mendecih lagi, aku jadi teringat kenangan kelam masa lalu, teringat keegoisanku, yang membuatnya pergi dariku

_

“Oppa, lihat itu, indah sekali” ujar Krystal saat kami tengah berkencan-sambil menunjuk ke arah toko bunga

“Apa itu?” tanyaku sambil berjalan mendekat ke arah toko bunga itu, ia mengikutiku dari belakang

“Itu oppa, Mawar merah itu, sangat cantik bukan? Aku menginginkan Oppa memberikan itu padaku suatu saat nanti, mungkin saat ulang tahunku? Atau saat hari Valentine? Atau saat natal?” Ia mulai berandai-andai sambil terus menatap lekat keranjang berisi bertangkai-tangkai mawar merah tersebut

Aku memutar mataku malas

“Mawar merah? Kau bukan anak kecil lagi Krystal-ah” ujarku tak peduli lalu melangkahkan kaki menjauhi toko bunga itu

Aku menoleh kebelakang karena Krystal tak juga menyusulku, dan kulihat, ia tengah terpaku, dengan raut wajah yang sangat-sangat kecewa, dan tidak percaya

Ia menggelengkan kepalanya pelan dan berkali-kali

Aku terdiam melihat reaksinya

Aku mendekat kepadanya

“Krystal-ah?” tanyaku sambil mencoba menarik tangannya, namun ia dengan kasar menepak tanganku, membuatku cukup terkejut

“Jangan sentuh aku!” pekiknya sambil berlari ke arah yang berlawanan

Aku hanya terpaku, baru kali ini Krystal begitu, namun yah, kudiamkan saja, beberapa saat lagi juga ia akan meneleponku

_

Aku tersenyum miris mengingat hari itu, mengingat betapa bodohnya aku berpikir ia akan menghubungiku beberapa saat lagi

Karena justru itulah awal Ia tak menghubungiku atau meresponku selama 3 minggu dan akhirnya memutuskan hubungan denganku

Kupikir memang masalah kecil, namun tidak baginya, ia terluka-tentu saja

Dan Luhan berhasil menyembuhkan luka hatinya

Aku tersenyum miris melihat mereka berdua, tentu Luhan akan dengan senang hati memberinya sebuket mawar merah setiap harinya

Tes

Aku terkejut, air mataku meluncur turun di pipiku tanpa seijinku!

Aku segera menyekanya-tentu saja aku tak ingin seseorang melihat ini

Aku menangis? Bodoh sekali, bahkan dia sudah bahagia bersama orang lain, seharusnya aku ikut bahagia bersamanya, bukan menangis konyol seperti ini

Tapi tak semudah itu…

Aku menghela napas lagi, hatiku tak pernah sesesak ini, ketika semua kenanganku bersamanya menyeruak satu-persatu… Menimbulkan rasa sakit yang luar biasa

Aku bangkit dari tempatku semula, beranjak menuju ke belakang gedung Ballroom

Aku berjalan dengan gontai, tak memiliki tenaga sama sekali, aku bukan tipe pemuda pesimis yang sangat putus asa ketika putus cinta, bukan, aku benci kekonyolan seperti itu

Namun, saat ini, ketika melihat dia bahagia bersama yang lain, ketika semua kenangan bersamanya teringat kembali… Aku menjadi konyol seperti itu

“Baekhyun-ah!” seru sebuah suara berat yang aku sudah hafal diluar kepala siapa pemiliknya

Aku hanya menoleh enggan, ia muncul disaat yang tidak tepat

“Hey, Chanyeol” sahutku

Ia berlari kecil kearahku sambil menggenggam erat tangan kekasihnya yang tampak sedikit kesusahan mengikuti langkahnya

Aku tersenyum kecil melihat itu, dia memang Happy Virus, dan semoga dia bisa menjadi Moodbooster ku sekarang

“Kau datang sendirian? Idola sekolah sepertimu? Tak dapat kupercaya” ujarnya dengan ekspresi yang sangat dibuat-buat, dan berhasil membuat kekasihnya terkekeh geli

Aku hanya meninju pelan lengannya

“Kau tahu, aku tak suka gadis-gadis pengejar kekasih orang seperti mereka” sahutku

Dia hanya tertawa dengan suaranya yang menggelegar dan menggema kemana-mana, aku hanya dapat menggelengkan kepalaku pelan

“Dia? Dia datang bersama siapa?” tanyanya lagi

Ugh, mengapa Chanyeol membahas ini? Tidakkah dia berpikir itu membuatku muak?

“Luhan” jawabku singkat dengan ekspresi datar

Dia berusaha melawak dengan berkekspresi lucu dengan membulatkan mulutnya dan menggoyang-goyangkan kepalanya sambil menepuk bahuku

Aku hanya menatapnya aneh

Gurauanmu tidak lucu, Park Chanyeol

“Maaf, sepertinya aku menghancurkan moodmu” ujarnya lagi, merasa bersalah

Ha, tepat, Park Chanyeol

Kekasih Chanyeol terlihat membisikkan sesuatu padanya dan Chanyeol mengangguk

“Baek, aku masuk kedalam dulu ne, sampai jumpa” ujar Chanyeol sambil menggenggam tangan kekasihnya dan melenggang pergi

Melihat caranya menggenggam tangan kekasihnya, membuatku kembali teringat dengan kenangan menyakitkan

Dimana tanganku yang seharusnya menggenggam lembut tangannya

_

“Oppa, apakah film itu bagus?” gumam Krystal sambil melihat-lihat poster film yang terpampang di bioskop

Aku tak menjawab

“Oppa, bagaimana kalau kita menonton film itu saja?”

Lagi-lagi aku tak menjawab

“Ya! Oppa!” serunya sambil mengguncang pelan tubuhku

“Hng” sahutku pelan, dan tak acuh, masih berkonsentrasi pada ponselku

Dia tak bereaksi, aku meliriknya sekilas, sudah kuduga, ia tengah bersungut-sungut sekarang

Aku menarik sudut bibirku, lalu mengacak rambutnya

“Ya, ya, terserah kau saja, aku menurutimu saja”

Ia langsung merubah ekspresinya, terlihat senang, dan itu membuatku lega

Setelah mendapat tiket, ia menarik tanganku dengan antusias, namun aku menepaknya, karena aku membutuhkan dua tanganku untuk ponsel ini, benar kan?

“Oppa… kau… Tak ingin bergandengan?” tanyanya, terdengar sedikit berhati-hati, dia memang selalu begitu, selalu menjaga perasaanku

“Ah, maaf Krys, aku harus berkonsentrasi pada ponselku dulu”

Dia hanya terdiam

_

Aku tersenyum sinis-lagi

Dan sepanjang film, selama aku berusaha menggenggam tangannya, dia selalu menghindari tanganku

Saat itu memang aku tak begitu memperhatikannya, namun sekarang aku benar-benar menyesal, dimana seharusnya aku menggenggam lembut tangannya

“Argh!” erangku sambil mengacak-acak rambutku dengan frustasi, entah mengapa aku merasa menjadi pecundang, karena aku selalu mengolok-olok temanku yang putus asa setelah putus cinta, dan aku menjadi pecundang karena aku sendiri seperti itu sekarang

Tiba-tiba gendang telingaku menangkap dentuman musik halus yang kuyakini berasal dari Ballroom, lalu aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, lalu pandanganku terhenti pada sebuah titik, Jongin, temanku, dan kekasihnya, Naeun, sedang berdiri berhadapan dengan raut wajah serius

“Terima kasih karena selama ini Oppa telah banyak meluangkan waktu untukku disela kesibukanmu, namun kurasa ini yang terbaik. Maafkan aku, hubungan kita sudah saja Oppa, maafkan aku” tutur Naeun dengan raut serius lalu berjalan meninggalkan Jongin yang masih mematung

Aku tak kuasa menahan senyum, aku lalu berjalan menghampirinya

“Yo, pria yang sedang putus cinta!” ujarku sambil menepuk pundaknya, dia menoleh dengan tatapan yang benar-benar suram dan itu berhasil menggelitik perutku

“Jangan meledekku, kau juga seharusnya putus cinta, kau lihat? Krystal datang bersama kekasih barunya, si kapten tim sepakbola itu, Xi Luhan” papar Jongin seakan ingin membalas dendam padaku, dan seluruh kata-katanya berhasil membuat moodku down lagi, awas saja kau Kim Jongin

Aku menatapnya sinis, dan tanpa kukatakan pun aku rasa dia tahu bahwa dia berhasil membalaskan dendamnya

Aku memilih meninggalkannya, aku melenggang pergi

Tiba-tiba sekelebat ingatan memaksa keluar, dan kembali menimbulkan sensasi putus cinta lagi

_

“Apa? Oppa, kau mau membatalkan kencan kita lagi!?” pekik Krystal dengan suara nyaringnya, dan itu sedikit membuat telingaku pengang, aku hanya mengerutkan dahiku

“Bukan begitu, Stal, aku harus berlatih”

Dia berdiri dengan gusar

“Tapi teman-temanmu bilang tak apa kalau kau punya janji!” serunya sambil menatapku gusar

Aku hanya membalasnya dengan tatapan tenang dan santai

“Aku tak ingin merepotkan mereka Stal”

Ia menggebrak meja, kulihat di pelupuk matanya telah menggenang cairan bening

“Tapi kau tak pernah meluangkan sedikitpun waktumu untukku!” serunya sambil melangkah pergi, wajahnya benar-benar memerah, sepertinya ia benar-benar marah

Namun aku tak begitu memperhatikannya, aku yakin ia tak bisa lama-lama marah dariku

_

Aku tersenyum kecut, ternyata banyak sekali kesalahan yang telah kulakukan, belum yang tidak kuingat, aku yakin ia benar-benar terluka, lelah, aku tak bisa membayangkan bila diriku berada di posisinya

Aku mencabut dengan kasar sekuntum bunga Daisy dari rumpun bebungaan di pinggir pagar, aku menatap bunga kemerahan yang tampak segar itu, lalu sedikit mengangkat sudut bibirku

“Krystal…” ujarku tanpa sadar mengingat bunga Daisy merah adalah favorit gadis itu, yang merupakan gadis favoritku

Aku terkekeh kecil mengingat ketika pertemuan pertamaku dengannya, ketika dia merengek-rengek padaku untuk mengambilkan buket bunga Daisynya yang terlempar kedalam sebuah rumah, dengan seekor anjing sebagai penjaga, dan sejak itulah kami menjadi dekat

Kenangan-kenangan indah menyeruak satu persatu, seiring dengan langkahku yang kian memasukki Ballroom

Aku tak menyadari tatapan aneh orang-orang yang memandangiku tengah tersenyum sambil memandang setangkai bunga, sampai Chanyeol mengagetkanku

Aku hanya menatapnya ketika ia mulai berceloteh, entah mengapa aku tak bia memfokuskan pikiranku sekarang, karena ekor mataku terus menerus melirik ke arah Xi Luhan dan Krystal

“Kau harus meminta maaf padanya”

Kalimatnya itu berhasil membuatku tersentak dan kembali memusatkan perhatianku pada Park Chanyeol

“Kau bilang apa tadi?” tanyaku sambil memicingkan mata

Dia menatapku dengan tatapan sendu, lalu menghela napas

“Kau menyesal kan? Utarakan itu, selagi masih ada kesempatan” ujar pemuda jangkung itu

Aku menatapnya ragu

“Bagaimana?”

Dia memutar matanya malas

“Kau bodoh? Jadilah dirimu sendiri, utarakan dengan tulus”

Aku mengerutkan dahiku, sontak membuat kedua alisku bertaut, sedangkan Park Chanyeol masih menatapku penuh harap

_

Pesta telah usai, dan memberikan kelegaan tersendiri padaku

Aku menatap sekeliling, mencari sosok ramping nan molek itu, kau tahu siapa, tentu saja Krystal Jung, siapa lagi?

Aku ingin mengutarakan penyesalanku, karena aku telah menghabiskan sisa pesta ini dengan memikirkan rentetan kata-kata yang akan membuatnya terharu dan kembali padaku, atau seminimal mungkin membuka kesempatan kedua buatku, yah, mungkin saja itu tidak terjadi, namun kurasa, yang penting aku telah mengutarakan penyesalanku, dan karena Krystal adalah gadis yang baik, ia pasti mengerti

Namun aku tak menemukan batang hidungnya sepanjang pencarianku, apa dia sudah pulang? Dengan pemuda sialan itu?

Namun hatiku seakan terlonjak ketika melihat sosok yang kucari sejak tadi, dengan langkah demi langkah indahnya, berjalan menuju pintu Ballroom

Namun hatiku seakan remuk ketika melihat tangannya

melingkar di tangan seorang pemuda, kau tahu siapa, Xi Luhan

Aku terus membuntuti mereka berdua, memandang mereka dari kejauhan

Saat aku sampai di pintu Ballroom, aku kehilangan sosok mereka berdua

Ditengah kebingunganku, aku seakan melihat sesosok bentuk abstrak yang seolah menunjukkan dimana tempat mereka berdua, ia seperti memegang sesuatu yang panjang, dan ia mengarahkan benda dalam genggamannya itu ke arah parkiran mobil

Entah mengapa, aku mendapat ilham bahwa mereka berada di parkiran mobil, namun ketika aku kembali mengarahkan pandanganku ke titik dimana terdapat si ‘makhluk abstrak’ itu lagi, tak ada apa-apa disana, hanya murid-murid yang berjejalan, berdesakan keluar

Namun aku tak menghiraukan fenomena yang cukup ganjil tersebut dan bergegas melangkahkan kakiku ke parkiran mobil, sebelum Krystal benar-benar pulang

Aku meneliti satu persatu mobil di tempat parkir yang bisa dibilang sangat luas ini, meneliti apakah salah satunya merupakan mobil dari pemuda sialan itu

Aku melihat sosok belakang seorang gadis yang tak asing, tentu aja itu Krystal, ia tengah berdiri disamping Audi berwarna hitam

Aku mempercepat langkahku,bergegas menghampirinya

Namun tiba-tiba langkahku terhenti, langit seakan runtuh menimpaku

Hatiku remuk redam, telempar, hancur berkeping-keping, tak bersisa

Ketika melihat pemuda sialan itu, menempatkan bibirnya pada bibir tipis gadis favoritku

Aku mematung, terdiam

Seakan ada petir besar menyambarku dan membawa pergi kesadaranku entah kemana, semua kata-kata indah yang telah kurangkai sedemikian rupa tercecer, dan aku tak mampu merangkainya kembali

Mereka-Krystal dan Luhan, kini sedang tertawa bersama

Aku melangkahkan kakiku pelan makin mendekati mereka

“Krystal…” panggilku lirih, mata mereka berdua tertuju padaku, aku hanya mampu tersenyum tipis, entah mengapa tenagaku sirna

“Luhan, bisa aku bicara berdua saja dengan Krystal? Hanya sebentar”

Krystal dan Luhan berpadangan, lalu Luhan tersenyum dan mengangguk, setelah itu Krystal berjalan pelan kearahku dengan raut wajah ragu

“Ada apa Oppa? Kau tak apa-apa? Kau terlihat sangat lemas” tanyanya dengan raut wajah khawatir

Aku lagi-lagi hanya bisa menyunggingkan seulas senyum tipis

“Aku hanya ingin mengatakan satu hal… I know, I’m probably much too late, to try again and apologize of my mistake, but I just want you to know…”

Aku menggantungkan kalimatku diudara, seraya mendekatkan kepalaku ke telinganya dan bersenandung pelan

“I hope he bought you flowers, I hope he hold your hand, give you all his hours, when he had the chance. Take you to every party, cause I remember how much you love to dance…”

Aku menjauhkan kepalaku sambil sekali lagi tersenyum tipis, dengan air mata yang mengalir pelan di sudut mataku, aku merasa benar-benar konyol sekarang ini, namun, dengan ditemani hujan yang mulai menjamah lapisan bumi, aku meneruskan kalimatku dengan berat hati

“Do all the things, I should’ve done… When I was your man…” ucapku pelan, sangat pelan, namun kupastikan ia dapat mendengarnya

Namun ia mematung, sama sekali bukan reaksi yang kuharapkan, aku hanya bisa kembali menyunggingkan senyum tipis sambil berjalan gontai

Langkah demi langkah, mataku terasa kabur, air mata membasahi pelupuk mataku, betapa aku bersyukur hujan turun, sehingga air mataku tersamarkan, dan tak ada yang bisa melihat kekonyolanku, menangis

Aku terus melangkahkan kakiku tanpa arah sampai akhirnya suara klakson yang memekakakkan telinga dan mataku yang dibuat menyipit dengan lampu yang menyilaukan, menyadarkanku, dan ketika aku sadar aku berada ditengah jalan raya, aku sadar aku diambang kematian, namun aku membeku, tak dapat menggerakan kakikku…

Sepertinya aku tak memiliki kesempatan kedua…

“BAEKHYUN OPPAAAAAAAA!!!!!!”

Aku mendengar teriakan Krystal, membuatku tersenyum kecil sebelum kurasakan tubuhku terpental

Ckiiiitttt

BRAKKKK!!!!

Ah… Sepertinya memang tak akan ada kesempatan kedua untukku…

Fin

Heylohaaaa~ ini sebenarnya ff kubuat untuk Valentine/? tapi ini telat banget/? maaf ya, ini dikarenakan kesibukanku^^

Yah, semoga ini menghibur, RCL please! :D

26 thoughts on “(Oneshot) When I was your man

  1. Ya Tuhan T^T… Sedih banget!!! Feelnya bener-bener dapet! Aku nangis2 bacanya!!!

    Terharu deh :-(.. Ngga nyangka juga kalo Baek meninggal… T^T
    Kasihan juga si Baek :c

    Well, fighting terus, tjhor!!! Jangan paksakan dirimu :*

  2. iih…iih… gw lg sakit truss bca nih ff gw tambah sakit, soalnya ini sedih bingiiit :( bner kata baek klo setiap orang tuh pnya cara sendiri dlm mnunjukan rsa syang,, but kyk.a baek keterlaluan deh cuek nya kkkk :v btw ini author nya line brapa? #kepo

  3. Seriusan saeng aku baca ini nangis masa -_„- wkwk karakter baek ngingetin sama someone (?) :’3 hiks hiks (?) (curhat? wkwk)
    anyway, ini bagus banget X3 feelnya sangat dapet, terus bahasa yg dipake juga bagus, you improved a lot pokoknya(?) :’D keep writing saeng ♥

  4. Kok gantung dan sedih banget sih -_- kenapa akhirnya harus sad ending bahkan sampai baekhyun nya ketabrak lagi :( kasian baekki :’
    Semangat terus unni ><

  5. Demi apa gue mewek thor suer, pengen nyalahin baekhyun gak tega, nyalahin luhan juga dia gak punya salah, nyalahin krystal apalagi. Kirain mah tdi ada kesempatan kedua thor. Ayo dong thor bikin lanjutannya lagi gantung banget sumpah. Buat baekki idup lai trus kle yg ngurusin dia di rumah sakit. Lulu sama Yoong aja :D

    • hahaha maap ya ;-;
      jangan salahin mereka, mereka cuma korban kenistaan author aja, tapi jangan salahin author juga/? /nahloh wkwkwk
      ah kelanjutannya? gimana ya? hehehe
      Luyoon? ah author haters kapel itu .-. hehehe
      thanks for being good reader :D

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s