[FICLET] The Lucky Skittish

theluckyskittish

The Lucky Skittish

by: ReeneReenePott

Maincast : Oh Sehun – EXO K, You as Shin Minchan

Cameo : Choi Sulli – F(x) ,Joowoon- actor , Eugene – actress, Kim Shi Yoon – actor, Goo Hara – KARA, Doongwoon – BEAST, Kwangyeon – LED Apple.

Genre : Romance, Fluff, School Life

Length : Ficlet

Rating : Teenager

Disclaimer : This is mine except the artists cast. Hope you enjoy!

­­__

Ini gila.

Aku senyum-senyum sendiri sambil memandangi latihan basket di lapangan yang tribunnya kududuki ini.

“Hei, kau di sini lagi?” Aku menoleh lalu nyengir ketika melihat Sulli membawa cone es krim sambil menatapku penuh tanya.

“Sudah mau ke kelas? Kkaja,” aku tak menggubris pertanyaannya, malah menariknya menjauhi lapangan basket.

Aku suka menatap cowok itu. Cowok tinggi yang tak pernah senyum. Oh Sehun. Cowok yang bisa-bisanya membuat pipiku panas dan jantungku berdebar. Dan, aku suka sensasi itu.

__

“Kau suka Sehun sunbae, ya?” Tanya Sulli tiba-tiba. Aku menatapnya cepat.

Ne?”

“Kau selalu memandangnya,” Sulli mengangkat bahunya. Aku hanya tersenyum.

“Mungkin,” gumamku pelan.

__

Aku celingukan, meyakinkan diri sendiri kalau anak basket masih pada latihan sehingga tidak akan ada orang yang melihatku masuk ke ruang pribadi klub mereka. Diam-diam aku membuka loker Sehun sunbae, mengeluarkan sebotol lemon madu hangat dari tas dan menempelkan sticky note.

Lemon dan madu bagus saat capek.
Y-S-A

Aku menyeringai dan buru-buru kabur. Mampuslah kalau aku ketahuan!

__

“Lihat tuh, Sehun sunbae. Dia barusan lewat,” ujar Sulli pelan ke telingaku saat aku masih mengantri makanan di kantin. Aku hanya tersenyum tipis.

“Biarlah. Itu akan mengganggunya kalau aku selalu men-stalknya dengan mataku haha,” gurauku. Aku maju selangkah dan inilah giliranku mengambil makanan. Saat kakak penjual makanan menaruh beberapa macam sayur di nampanku, aku berusaha mengambil puding yang terletak di rak atas.

Set…

Igeo,” aku mematung ketika puding itu sudah ada di hadapanku, dipegang oleh seseorang. Aku menoleh dan mataku membulat. Oh… Oh Sehun?!?!

“G-gomawo…” Ujarku pelan lalu memalingkan wajah dan buru-buru bergeser ke samping. Itu memalukan sekali!

__

Aku menolehkan pandangan, menghembuskan napas ketika melihat gerombolan siswa perempuan itu. Suara mereka nyaring nan melengking—labil, berjingkrak-jingkrak bahkan ada yang membawa banner. Ckck, sekolahku seperti tempat fanmeeting. Ya tidak? Padahal yang mereka soraki hanyalah gerombolan siswa biasa.

Mataku terus mengekor pada siswa cowok yang disoraki itu, mereka berjalan dengan gaya cool yang makin disoraki jadinya. Oke, mereka itu… Entahlah, aku juga tidak tahu apa mereka itu nge-geng atau tidak. Pokoknya, mereka selalu berenam. Jongin atau Kai, Baekhyun, Kyungsoo atau D.O, Sehun, Suho dan Chanyeol. Ya, itu yang mereka soraki dari tadi.

Aku menghela napas saat seorang siswa perempuan menyerobot diantara kerumunan itu. Si primadonna, Goo Hara. Yang katanya, pacar Sehun. Tapi entah juga, banyak yang tidak percaya dengan kabar itu. Termasuk aku, haha.

Aku hanya memandang mereka dari kejauhan tanpa berkedip. “Kau mau sampai kapan berdiri di situ? Masuk yuk,” Sulli meraih bahuku. Aku tersenyum tipis lalu mengangguk dan mengikutinya.

__

Sebenarnya, buku biografi sungguh membuatku mengantuk. Kalau saja bukan karena tugas merangkum profil 10 orang yang paling berpengaruh saat perang Korea untuk pelajaran sejarah, aku ogah membuka buku ini. Tadi aku sudah meminta Sulli membelikanku 3 kopi kalengan dan semuanya sudah habis. Kurasa aku harus menggunakan jepit jemuran agar mataku tetap terbuka.

Srak

Aku mendongak, penasaran siapa lagi yang terjebak di salah satu sudut perpustakaan ini. Yah, bagian sini dikhususkan untuk pelajaran sejarah. Dan sudah pasti, kalau bukan pelajar yang ketiban sial mendapat tugas sejarah, pasti anggota klub Olimpiade atau wakil sekolah yang sering maju bertanding dalam bidang studi hapalan yang akan menghuni bagian sini.

Tapi, ini sungguh membuatku kaget. Oh Sehun!

Cepat-cepat kututup mulutku yang menganga melihat kehadirannya. Yah, meski ia mengambil tempat di ujung meja(sementara aku di bagian tengah) tetap saja aku merasa kaget. Bukankah kata orang bahkan sampai di novel fiksi, kalau kaget lalu jantung berdebar cepat adalah reaksi yang umum kalau menghadapi orang yang disuka? Aku menyenderkan punggung ke sandaran kursi dan menunduk.

Kenapa? Karena aku bertambah ngantuk. Sungguh. Kenapa? Euh, Oh Sehun seolah tak ada di tempat itu. Dia kalem sekali.

Sraaak

Aku mendongak lagi. Sehun melangkah pergi. Ah, biarlah. Kehadirannya di sini sebentar saja sempat membuat jantungku berhenti berdetak beberapa detik.

Tapi, kurasa ada yang janggal. Aku kembali menatap meja bekas didudukinya tadi. Notes!
Oh, dia meninggalkan notes kremnya.

__

Bel sekolah sudah berbunyi sejak lama. Sekolah sudah sepi dan hanya beberapa anak anggota ekskul tertentu yang bertahan. Dari kelasku ada Kim Shi Yoon, dia klub sains merangkap mading. Keren, kan? Lalu si Eugene yang blasteran Prancis-Jepang, dia anak fotografi. Joo Woon, anak IPS atau yang kujadikan partner mencontekku saat pelajaran hapalan, dan Amber si teknisi di klub radio sekolah.

Dan aku.

Tadi aku sudah memutuskan untuk mengembalikan notes Sehun ke lokernya sepulang sekolah. Tapi sekolah masih terlalu ramai tadi, bahkan Sulli masih bersikeras untuk menungguiku sebelum ia mendapat telepon dari pacarnya, Kwangyeon.

Hm… Jadi, di sinilah aku sekarang. Di depan loker Sehun sunbae. Aku membukanya karena kunci loker masih tergantung, meletakkan notesnya lalu menutupnya.

Apa kalian merasa aku berlebihan?

__

Kantin agak sepi. Sulli tidak bisa menemaniku makan, dia sedang mendapat kelas tambahan untuk pelajaran musik. Dan katanya, kakak kelas XI diikutkan dalam seminar di Universitas Seoul jadi yang tersisa hanya kelas X dan XII di sekolah ini.

Aku melenggang pasrah ke sebuah meja yang agak besar tapi agak di sudut, meletakkan nampan makanku dan botol minuman. Baru saja aku memasukkan sesendok salad ke mulutku, ada orang asing yang mendekati.

Set.

Aku mematung melihat tangan putih pucat yang tiba-tiba juga menaruh nampan makannya di hadapanku. Aku cepat mendongak, dan untungnya aku bisa mengontrol ekspresi wajahku. Tapi, ergh, Oh Sehun! Kenapa aku sering melihatnya berkeliaran akhir-akhir ini, ya?

“Suho hyung, kenapa kau malah mengambil puding saja? Bukankah tadi ada menu kesukaanmu?” Badanku menegang. Well, aku tidak tahu dia siapa, tapi… Dia masuk gengnya Sehun. Kan?

“Channie, berhentilah tebar pesona pada haksaengdeul di sana,”

“Hei, kenapa Sehun mengambil tempat di sana?—akh! Sakit Do Kyungsoo!”

Dan akhirnya apa? Aku telat makannya, menunggu mereka selesai makan dan beranjak pergi dari sekitarku.

__

“Hei, Shin Minchan,” aku merasakan suara Joo Won memanggil sekaligus lengan yang meninju lenganku keras.

“Apa?”

“Sabtu sore, kau ada acara?”

“Sabtu ini? Kenapa memangnya?” Tanyaku balik. Kurasakan Joo Woon menduduki kursi di sebelahku.

“Dongwoon, dari kelas sebelah mengadakan pesta. Dia ingin mengajakmu, tapi kau sulit di dekati,” ujarnya enteng. Aku mengerutkan kening.

“Dongwoon? Siapa?” Joo Woon berdecak.

“Dongwoon, Dongwoon! Cowok yang pernah berpasangan denganmu saat MOS dulu!” Aku memasang ekspresi mengerti setelah mendengarnya.

“Ah, anak itu. Untuk apa mengajakku?” Tanyaku lagi. Joo Woon mendesah.

“Sulit sekali sih berbicara denganmu. Tentu saja, dalam pesta harus ada banyak orang. Ayolah, Sabtu sore ini kok, sekitar jam 4 lah. Sulli diajak juga kok,”

“Hm, kuusahakan ya. Merayakan apa sih?”

“Ulang tahunnya,”

“Ah, baiklah. Aku akan datang. Gomawo Joo Woon-ah!”

__

Hm, sudah kuduga. Pesta Dongwoon tidak akan dalam suasana high class. Pestanya lebih santai dan berantakan. Tempatnya saja di rumahnya yang besar sekali ini. Untung saja aku diperbolehkan memakai ruangan lantai duanya, kalau tidak bisa gila aku mendengar suara yang berdentum hingga terasa di jantung.

Baru saja aku menapakkan kaki ke lantai dua rumah Dongwoon ini, mataku langsung melotot. Bagaimana tidak? Anak kelas XII semua! Cih, Dongwoon nyebelin! Kenapa dia tidak bilang? Csh…
Aku mendengus dan membalikkan badan. Dan segera angkat kaki. Kenapa?

Karena Sehun and the Gank ada di situ.

Dan mereka langsung menatap ke arahku.

Kenapa?

Karena aku adalah hoobae nyasar saat itu. Menjengkelkan!

Begitu sampai lagi di lantai satu aku melihat Joowoon dengan seorang cewek. Mereka ngobrol dengan asyik, sepertinya mereka dapat bercerita di tempat super berisik ini. Tadinya cowok itu mau kuajak keluar, tapi, aish.

“Kau datang,” aku berbalik lalu nyengir.

“Eugene,”

“Sudah bertemu Dongwoon?” Aku mengangguk. “Mau kukenalkan dengan cowok? Aku kenal beberapa cowok. Ayo, temani aku,”

“Eung… Aku mau keluar Eugene-ah. Di sini berisik sekali,” balasku. Eugene menyeringai.

“Ah, aku mengerti. Sifatmu belum berubah, eoh? Oke deh, sampai jumpa,” aku melambai sebentar sebelum berusaha mencari jalan keluar dari rumah Dongwoon yang super besar ini.

Kurasa aku akan menghabiskan limunku di taman belakang sebelum berpamitan dengan Dongwoon.

__

Hari ini aku melihat lagi Hara dengan Sehun. Mereka berdua sekarang nampak seperti kekasih. Buktinya, beberapa fans Sehun memenuhi toilet. Menangis dan meratap. Aku mengangkat ujung bibirku lalu melangkah masuk ke kelas. Tapi Joowoon sudah menduduki tempatku.

“Apa?” Tanyaku pada cowok itu. Dia nyengir lalu mengadahkan tangannya.

“PR matematika dong,” pintanya dengan cengiran. Aku mendengus lalu menurunkan ranselku, mengambil buku PR matematikaku dan memberikannya.

Aku duduk di tempatku setelah Joowoon menyingkir. Kukeluarkan surat yang akan kukirim ke Sehun.

Seperti biasa, kertas tulis polos dengan amplop putih dengan ilustrasi mawar di pojoknya. Apakah aku harus memberikannya hari ini? Sudah kebiasaanku selama hampir setahun terakhir untuk mengiriminya surat. Haruskah aku menghentikannya?

Karena aku lelah. Lama-kelamaan aku lelah. Apalagi dia sudah memiliki seorang gadis. Masih pantaskah aku?

Kuputuskan untuk tidak mengirimnya hari ini.

__

Setiap istirahat, aku selalu di tribun lapangan basket untuk menyaksikan Sehun bermain. Sama seperti hari ini. Dan yang kulakukan hanya menatapnya tanpa berbicara ataupun beraksi. Hanya menatapnya.

“Hei! Aku sudah mau ke kelas. Kau juga mau?” Aku menoleh ketika suara Sulli terdengar dan tangannya menjawil bahuku.

“Ya. Tunggu aku,”

__

Bel pulang sudah lama sekali. Sekolah sudah sepi, hanya anak klub basket yang sedang latihan sore. Dan anak tari. Mereka memakai ruang tari di lantai tiga. Tapi sialnya aku masih di sini, mengisi angket yang tertinggal sekaligus tugas biologi yang lupa kukerjakan sehingga jadi hukuman. Jam sudah menunjuk ke pukul tiga, dan aku yakin sekali bus sudah jarang ke halte dekat sekolah.

Kuputuskan untuk mengumpulkan angket dan tugas biologi sialan itu, dan menyeret tasku pulang. Hari-hari makin menjadi tak berguna karena yang kulakukan hanya belajar, belajar dan belajar. Langkahku terhenti di deretan loker anak kelas XII yang berjejer manis. Entah karena kebiasaanku, ya, aku tepat berhenti di depan loker milik Oh Sehun. Aku tersenyum miris. Seperti biasa, lokernya tidak dikunci. Membuatnya rentan akan surat cinta bertumpuk di lokernya. Kubuka pelan, meski aku tak tahu tujuannya untuk apa, karena aku hanya iseng sekarang.

Aku tertegun. Botol yang tadinya berisi lemon madu-ku sudah kosong dan bersih berdiri di pojok loker. Kotak makan mungil yang tadinya kuisi kue beras madu buatanku untuk snack saat basket tergeletak di sampingnya. Aku menghela napas. Mungkin, karena dia ingin berterimakasih. Mungkin, karena dia ingin mengembalikan tempat-tempat itu. Mungkin, dia merasa sayang untuk membuang botol dan kotak makan itu sehingga dibiarkan di lokernya sampai si pemilik asli datang dan mengambilnya. Aku tersenyum miris menyadari betapa pengecutnya diriku. Kuputuskan untuk menutup lokernya dan pulang. Masa bodohlah ia mau membuangnya atau tidak.

“Kenapa memandangi lokerku saja?” Aku tersentak lalu berbalik. Melebarkan mata adalah tindakan paling tepat saat kutahu Oh Sehun berdiri di belakangku SE-KA-RANG! “Kenapa? Terkejut aku ada di sini?”

“Ma-maaf sudah lancang sunbae, hehe. A-annyeong,” aku menggaruk kepalaku dan buru-buru pergi. M a m p u s l a h  a k u.

Ckiiiit

Kurasakan tubuhku terhuyung ke belakang ketika kuketahui Sehun mencengkeram pergelangan tanganku. “Siapa yang menyuruhmu pergi, hah?! Pantas saja aku selalu tak bisa menangkapmu, kau pintar bergerak cepat rupanya,”

Aku menoleh cepat dengan ekspresi bingung. Perlahan aku melepaskan cengkeraman tangannya–sakit rasanya, tapi tidak mau lepas! Ergh! “Apa maksudmu?”

“Aku belum berterima kasih tentang minuman dan snack yang pernah kau berikan padaku, dan sudah mengembalikan notesku. Dan aku belum menuntutmu selama tiga hari ini, Shin Minchan! Kemana kau selama ini?!” Suara Sehun meninggi ditambah ia berbicara panjang lebar, sungguh membuatku melongo antara takjub dan tidak percaya.

“Hah? A-aku?”

“Kau jangan pura-pura bolot deh. Masih beruntung kau masih kuperbolehkan menatapku dari jauh. Tapi hanya itu yang kau lakukan? Kau benar-benar!” Tunggu! Cowok ini kenapa sih? Ada yang bisa jelaskan padaku? Kenapa dia jadi marah-marah begini? Apa salahku padanya?

“Heeeeh…. Kenapa kau marah-marah padaku sih? Apa salahku?” Aku mendorong tubuhnya menjauh, karena selama menceramahiku wajahnya semakin dekat denganku.

Brak

Aku kaget ketika ia meninju loker dan mengurungku yang menempel rapat di pintu-pintu loker belakangku. “Kenapa? Haah… Nona Shin Minchan, bisakah kau berhenti berpura-pura? Kemana kau selama ini? Tidak mengirimiku surat sama sekali! Kau mau membuatku gila ya?” Bisiknya yang membuat bulu kudukku merinding. Ternyata dia tahu namaku -_-

Aku menatapnya yang balas menatapku tajam. Ia mengalihkan pandangan lalu menghembuskan napas berat, lalu menumpukan keningnya di bahuku.

Tuhan, redakan jantungku yang mengamuk!

Sunbae…” Panggilku. “Kau sudah selesai latihan, ya?”

“Ya.” Jawabnya pendek. “Kenapa?”

“A-ania. Kupikir kau bisa beristirahat, a-aku mau p-pulang,” jawabku pelan, agak takut-takut.

“Di sini dulu saja, kau masih memiliki urusan denganku. Kutanya tadi, kau kemana 3 hari ini hah?”
Glek. Haruskah dia tidak membahasnya?

“Aku tidak kemana-mana, sunbae,” jawabku sedikit bingung. “Aku sekolah seperti biasa, makan seperti biasa, tak ada yang aneh,”

Ia hanya terdiam menatapku.

“Kau jahat sekali,”

Aku melotot. “Kenapa?” Sekali lagi aku mendorong tubuhnya hingga wajahnya menatapku. “Sunbae, aku memang berpura-pura dari tadi. Tapi ketahuilah, itu untukku dan untukmu! Aku tahu rasanya menjengkelkan kalau kau dikuntit oleh orang tak jelas, selalu mengirim surat tak jelas padamu, aku minta maaf! Karena kurasa sudah cukup aku melakukan semuanya, toh kau juga sudah menemukan gadismu, kan?”

“Kau jangan melantur, Shin Minchan!”

“Apa sih yang melantur? Itu kenyataan! Aku menyukaimu, yeah, mungkin kau sudah mengetahuinya sejak dulu. Dan kau sudah menemukan hidupmu sekarang! Kupikir sudah cukup aku mengganggumu, sebaiknya kau lupakan surat-surat dariku, dan apa yang ingin kau lakukan tentang botol dan kotak makan itu—!” Aku melotot ketika wajahnya sangat dekat denganku sekarang. Bibirku terkunci oleh bibirnya, lama, sangat lama!

Hangat, lembut, dan… Seperti disengat listrik!

“Jadi kau tidak menungguku sampai aku membalas perasaanmu? Aish!” Dia menjitak kepalaku pelan setelah melepaskan bibirnya. Aku mematung.

“Y…ye?”

“Ish, aku membalas perasaanmu sekarang! Jadi, bisakah kau tidak menghindar lagi? Aku cukup frustasi tidak menemukan suratmu 3 hari ini!”

“Ng…”

“Sudah sore, kuantar kau pulang!”

__

Aku ingin meninju cowok yang sedang memboncengku ini, karena apa? Karena pagi-pagi dia sudah menjemputku dan memaksaku untuk berangkat sekolah bersamanya! Dan apa yang paling mengesalkan sekarang? Sulli menonton kami berdua dengan tatapan tidak percaya dan sedari tadi bibirnya sama sekali tidak mau terkatup! Oh Sehun, tolonglah jangan tertalu membuatku… Malu! Huwaaaa!

“Ka-kalian…” Sulli menunjuk-nunjuk tanganku yang digandeng Sehun, oh yeah, cowok ini sudah jadi pacarku entah kapan. Aku meringis menatapnya, lalu melirik Sehun yang berhenti di depan kelasku.

“Dah,” ujarnya tenang lalu melenggang ke kelasnya.

“Sulli, ini benar-benar membingungkan,” jelasku setengah bingung.

“Sejak kapan kalian berpacaran, hah?!” Pekiknya. “K-kok… Bisa?”

“Aku juga tidak tahu,” dengusku lemah. “Semuanya terjadi seperti air yang mengalir. Aku benar-benar tidak tahu,”

__

“Hei… Ce-cepat lihat mading! Minchan-ah! Cepat lihat mading!” Aku mengangkat alisku tinggi-tinggi ketika Suli menarik-narik lengan bajuku keras.

“Ada apa?” Aku hanya menuruti kata-katanya melangkah menuju mading.

Dan… Waw.

“Hah, itu dia! Cih, benar-benar! Dia kan bukan siapa-siapa, bagaimana bisa jadi pacar Sehun oppa?” Bisik seorang gadis. Aku menatap mading, dan… Euwh. Beberapa karton manila besar digabungkan untuk melontarkan cacian untukku.

“Jangan-jangan kau pakai dukun ya? Wah, benar-benar gila cewek ini!” Celetuk seorang siswi sadis ke arahku. Dukun? Astaga! Tidak ada yang lebih buruk lagi ya?

“Kau tahu, nona Shin Minchan, Sehun oppa tak mungkin mau denganmu! Kau kegatelan banget sih, sampai menggelayuti Sehun oppa?” Seorang gadis lagi berteriak tepat di depan wajahku.

“Kalau hanya itu yang ingin kalian katakan, aku permisi,” ujarku dingin.

“SHIN MINCHAN PENGECUT!” Gez… Cewek ini…

“Minchan-ah,” panggil Sulli lemah. Aku berbalik, lalu melangkah mendekatik cewek yang barusan berteriak.

“Aku pengecut? Darimananya?” Tanyaku sinis. “Yah, aku juga bingung sih, tapi, sebenarnya tak apa kalian memanggilku pengecut. Tapi dari segi apa?”

Plakh!

Aku menaikkan sebelah alisku ketika sebuah tangan menampar wajahku.

“Kenapa bisa sih Sehun oppa mau dengan cewek iblis sepertimu?” Cerca sebuah suara yang terdengar jauh. Aku menoleh. Goo Hara. Aku mendengus.

“Ya, ya, cewek iblis. Tapi dari segi apa kau mengataiku iblis?”

“Caramu berbicara. Benar-benar memuakkan. Bagaimana bisa kau berbicara dengan kakak kelasmu seperti itu?”

“Ck, kalian duluan yang mengajakku ribut. Memangnya aku harus menanggapi bagai putri kerajaan yang lemah gemulai? Cih, itu bukan keahlianku,”

“Selain sombong, kau memang banyak omong, ya,” Hara mencibir sinis. Aku menatapnya tak kalah sinis.

“Bukankah kalian juga? Untuk apa kalian membuang waktu dengan hal seperti ini?” Aku menunjuk papan mading. “Percuma melakukan hal tanpa tujuan yang jelas,”

“Dasar cewek kurang ajar!” Hara langsung meledak, dan melayangkan tangannya ke wajahku. Silahkan saja, Nona!

Aku sudah menyiapkan pipiku, tapi kenapa tamparan itu tak kunjung terjadi? Aku mengangkat wajahkua dan…

“Sehun oppa…” Gumam Hara kalut.

“Kau tak pernah tahu Shin Minchan, kan? Jangan menghakimi orang sesukamu,” Sehun berucap dingin sambil menahan tangan Hara. Wow, unbelievable! Pandangan Sehun mengedar.

“Maaf, tapi Minchan adalah gadis yang snagat berharga untukku. Kalian mungkin tak akan mengerti, tapi tolong jangan sakiti dia, menyakitinya berarti mencari masalah dengaku,” Sehun berucap lantang sebelum menyeretku dari kerumunan anak yang diam semua itu.

__

“Kau bodoh atau dungu sih?” Tiba-tiba Sehun membentakku ketika kami sampai di atap sekolah. Aku tak berani memandangnya. “Kalau ada begituan, hiraukan saja! Sama sekali tidak berguna!”

“Maaf, tadinya aku tidak ingin tapi…” Aku memainkan jariku tapi tubuhku membeku ketika tangan pucat meraba pipiku.

“Sakit?”

“Tidak,” aku melepas tangannya. Dia mendesah keras.

“Hei, kita ini pacaran, bukan adu kuat fisik,” desisnya tajam, membuatku merinding.

“Maaf, kupikir aku bisa menyelesaikannya sendiri,” ujarku kalem. Sehun menatapku tak percaya.

“Apa? Sendiri? Mereka bergerombol, Minchan bodoh!”

Grep.

“Kalau terjadi apa-apa awas saja kau,” desisnya sambil memelukku. Ya Tuhan…

“Maaf,”

“Kalau kau benar-benar merasa bersalah, cium aku,” apa? Aku harus menciumnya? Huaaaaaaa…..

Tidak!

“N-ne?!?!”

“Kau mau minta maaf tidak?” Aku menelan liurku. Apakah semua cowok begini? Sehun sudah sedikit menunduk sambil memejamkan matanya. Aku ikut memejamkan mata dan…

Cup!

Ku kecup pelan bibirnya. “Sudah, kan?”

Sehun membuka matanya, lalu memandangku tidak terima. “Apa yang barusan kau lakukan, hah?” Ia menatapku jahil lalu menarikku ke dalam ciuman hangatnya. Seperti waktu itu.

Secret admirer to be girlfriend? It’s too fictional, but I’m know I’m lucky!

END

3 thoughts on “[FICLET] The Lucky Skittish

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s