[ Seri #1 ] Dream Catcher ; Part 1

image

Title
Dream Catcher

Sub Title
First Nightmare

Author
Yoo Jangmi

Genre
Fantasy; AU; School; Teen-romance

Length
Mini Seri(es)

Rating
PG

Cast
– Krystal Jung (f(x))
– Byun Baekhyun (EXO)
– Kang Jiyoung (KARA)
– Lee Taemin (SHINee)
– Jung Ilhoon (BTOB)
and so many other cameos *-*
Disclaimer
All cast featured here are not mine. But the story idea, cover, including taemin are MINE. :p No bashing, if you don’t like the cast or the genre just don’t read x_x

A/N
Hello hello ~ jadi inilah FF fantasy sihir-sihiran (?) yang aku bilang waktu itu e.e dan seperti biasa tetap diantara castnya ada pairing fav aku JiMin ♥♥ tapi cerita mereka cuma sampingan sih peran utama disini ital okaay :3 (?)
Nah, karena aku ga sabaran nunggu yg komen di post aku yg kemaren -_- jadi aku pilih karakter yang Margareth Jung aja sebagai adeknya krys hehe :p tapi yang lain yg udah terlanjur daftar(?) nanti aku jadiin cameo :3 ♥ reader juga bisa kalo mau usul pengen ada siapa yang muncul di ff ini ouo bias kamu mungkin? Hohoho yaudah sekian aja~ happy readiiing♥

——————————————
——————————————
Keluarga Jung. Bukan satu-satunya keluarga penyihir yang ada di Korea tentu saja, tapi mereka salah satunya. Keluarga ini terdiri dari 4 kakak beradik, orang tua mereka meninggal secara misterius ketika mereka masih kecil, karena itu kini mereka tinggal berempat saja di rumah keluarga mereka yang lumayan besar. Tahun ini, Jung Soojung—atau biasa dipanggil Krystal—akan memulai tahun pertamanya di sekolah sihir yang sama dengan kedua kakaknya, Nicole & Jessica, dan juga adiknya, Margareth.

Krystal menatap pancake di piringnya tanpa selera, kakaknya tidak pernah bisa memasak makanan yang lezat, yah setidaknya makanan buatan kakaknya itu masih bisa dimakan.

“Krys, kau tidak makan?” Tanya Jessica, melihat pancake yang masih utuh di piring adiknya.

“Aku tidak lapar Jess” jawab Krystal sambil memilin-milin rambut merahnya yang panjang.

Margareth Jung, adiknya, memasukan sepotong pancake ke mulutnya lalu berkata, “kau tidak memanggil Jess unnie dengan sebutan unnie, jadi aku juga boleh memanggilmu Krys tanpa unnie kan”

“Tidak, Soohwa, kau panggil aku unnie” tukas Krystal sambil memberi penekanan pada setiap kata yang ia katakan pada adiknya.

“Kau curang Krys! Dasar kepala merah!” Seru Margareth tidak terima.

“Sekali lagi kau panggil aku kepala merah akan aku ubah kau menjadi kodok bau!” Seru Krystal, sudah bersiap mengambil tongkatnya dari kantong rompi seragam.

Jessica meninggalkan cucian piringnya dan mengambil tongkat Krystal dari tangan gadis itu, sementara piring-piring kotor itu tercuci dengan sendirinya.

“Ah ah tidak ada perkelahian sihir di rumah ini oke, dan tidak Krys, kau tidak boleh mengubah adikmu menjadi kodok” kata Jessica tegas, lalu mengembalikan tongkat adiknya.

“Rumah ini tidak pernah bisa tenang ya” kata Nicole Jung, tiba-tiba turun dari lantai atas, dengan seragam lengkap. Nicole lalu melihat Krystal yang sudah memakai seragam lengkap juga sambil tersenyum. Krystal hanya membalas senyum kakaknya dengan ekspresi kebingungan.

“Unnie, kau tidak ganti baju? 15 menit lagi kita berangkat” kata Nicole pada Jessica yang sedang sibuk mengelap piring.

“Ah iya, aku lupa aku masih punya tahun terakhir di sekolah” ujar Jessica, ia menyuruh Margareth mengelap piring lalu cepat-cepat lari ke kamarnya untuk mengganti baju.

Setelah mereka semua siap, mereka berempat berangkat menuju ke Seoul Magic School for Witches & Wizards, satu-satunya sekolah sihir di Korea. Margareth juga akan memulai tahun pertamanya tahun ini, karena perbedaan umurnya dengan Krystal hanya sekitar 1 tahun. Perjalanan mereka hanya memakan waktu 10 menit, karena lokasi sekolah itu tidak terlalu jauh, selain itu Jessica menggunakan ‘jalur pintas’ agar mereka cepat sampai. Mereka berhenti di depan gerbang sekolah, Nicole, Krystal, dan Margareth turun dari mobil, diikuti Jessica yang kemudian memberikan kunci mobilnya pada penjaga sekolah untuk diparkir di garasi bawah tanah. Mereka akan tinggal di sekolah asrama ini selama setahun sampai waktu liburan tiba dan mereka boleh kembali ke rumah.

“Soojung, Soohwa, kami ke sana dulu ya, kalian ikuti saja rombongan tahun pertama” kata Nicole sambil menarik Jessica pergi.

Krystal dan Margareth berjalan bersama menuju sebuah rombongan murid yang sepertinya rombongan tahun pertama. Di sebelah Krystal berdiri seorang gadis manis, dengan rambut panjang berwarna biru keabu-abuan dan kulit yang sangat putih seperti kue beras. Gadis itu tersenyum padanya.

“Hai, kau murid baru juga?” tanya gadis itu.

“Ya, sepertinya” jawab Krystal.

Gadis itu mengeluarkan benda aneh dari dalam rompi seragamnya (yang ternyata semacam permen coklat) dan menawarkannya pada Krystal.

“Kau mau?” tanyanya.

“Tidak, tidak usah” kata Krystal.

Menurut Krystal gadis ini agak aneh. Dari tas yang ia bawa, sampai warna rambutnya, bagi Krystal agak sedikit ‘nyentrik’.

“Oh ya, namaku Jiyoung. Kang Jiyoung” ujar gadis aneh bernama Jiyoung itu, sambil kemudian memakan beberapa permen coklat yang aneh tadi.

“Oh.. aku.. Jung Soojung. Tapi aku lebih suka dipanggil Krystal” kata Krystal. Ya setidaknya ia sudah berkenalan dengan salah satu murid baru, walaupun Jiyoung anak yang agak aneh.

“Siapa yang mengantarmu ke sini? Semua anak lain diantar orang tua mereka” kata Jiyoung.

“Aku.. datang bersama unnie-unnieku. Mereka sekolah disini juga, kau sendiri?”

Krystal, adiknya, Jiyoung, dan murid tahun pertama lainnya memasuki aula sekolah. Mereka dibariskan menjadi 2 barisan panjang. Di depan mereka, berdiri seorang wanita paruh baya dengan jubah merah yang berkilau.

“Aku datang ke sini sendiri” jawab Jiyoung “aku tidak punya orang tua atau kerabat lagi” lanjutnya, ia mengatakan itu dengan sangat tenang, seolah kehilangan orang tuanya merupakan hal yang biasa.

Krystal memilin-milin ujung rompinya, sedang berpikir apakah tidak apa-apa kalau ia menanyakan apa yang terjadi pada orang tua Jiyoung. Tapi gadis itu kelihatan tenang-tenang saja, akhirnya ia memutuskan untuk menanyakan itu.

“Apa yang terjadi pada orang tuamu?” tanya Krystal.

“Mereka dibunuh Nereid” ujar Jiyoung.

Sekarang Krystal bertanya-tanya; apa itu Nereid?

“Murid-murid tahun pertama, kalian bisa panggil aku Kim sonsaeng. Sebelum kalian dapat memulai kelas kalian, kalian akan dikelompokan sesuai dengan tipe penyihir kalian. Karena itu di sini kami sudah menyiapkan 4 buah bola kristal. Di dalam bola-bola kristal itu terdapat elemen air, udara, api, dan bumi. Jika saat kalian menyentuh salah satu bola kristal itu elemennya bereaksi, maka itulah tipe penyihir kalian” jelas Kim sonsaeng sambil menunjukan bola-bola kristal yang ia maksud.

“Apa maksudnya?” Tanya Krystal bingung.

“Ada empat macam penyihir, aku ini penyihir air. Nah, kau penyihir apa?” Kata Jiyoung.

Krystal masih bingung, yang ia tahu ia lahir di keluarga penyihir, tapi ia tidak tahu jenis penyihir yang mana dirinya.

“Setiap dorm punya ketua masing-masing tentu saja, nah setelah kalian melalui tes bola kristal, kalian bisa langsung berbaris di belakang ketua dorm kalian masing-masing” Kim sonsaeng melanjutkan penjelasannya. Sambil menunjuk empat orang murid yang berdiri di dekat pintu aula. Mereka menggunakan semacam badge di rompi seragam mereka. Badge warna biru dengan lambang seekor lumba-lumba untuk Dorm Water. Badge warna merah dengan lambang seekor katak untuk Dorm Fire. Yang berwarna coklat muda dengan lambang setangkai bunga untuk Dorm Earth, dan badge warna putih dengan lambang seekor burung untuk Dorm Air.

image

Dengan badge itu mereka bisa langsung dikenali sebagai ketua salah satu dari empat dorm.

Sambil barisan murid-murid yang mengantri menuju bola kristal terus berjalan, Jiyoung terus memperhatikan ketua Dorm Fire, seketika ia berharap ia seorang penyihir api.

“Ia menarik kan?” Kata Jiyoung sambil melangkah maju mengikuti antrian.

“Siapa?” Tanya Krystal, ia melihat ke arah Jiyoung memandang dan menangkap sosok si ketua Dorm Fire.

“Dia? Menurutku dia agak… cantik. Ya maksudku dia itu… flower boy.” Komentar Krystal.

“Tapi dia menarik!” Jiyoung bersikeras.

Antrian terus berjalan, satu persatu murid-murid berjalan menuju ketua dorm mereka masing-masing. Sekarang tiba giliran Krystal. Di hadapannya ada empat buah bola kristal, ia pun menyentuh bola kristal yang pertama.

Tidak ada reaksi.

Krystal menyentuh bola kristal yang kedua, dan lagi-lagi tidak ada reaksi. Begitu juga dengan bola ketiga dan keempat, tidak satupun dari bola-bola itu yang bereaksi pada sentuhannya.

Guru-guru di hadapannya memandanginya dengan tatapan bingung dan kaget, tapi ada beberapa juga yang seolah seperti menunggu sesuatu.

“Ayolah Soojung, apa yang salah denganmu? Salah satunya pasti akan bereaksi kan? Harus! Harus bereaksi”

Krystal menarik napas perlahan, sekarang tanpa keraguan ia menyentuh bola kristal pertama. Kali ini sepercik cahaya biru memancar dari bola itu, dan pancuran air kecil muncul di dalam bola itu. Krystal menghela napas lega ketika akhirnya Kim sonsaeng mengumumkannya sebagai penyihir air.

Jiyoung adalah siswa terakhir yang harus melewati tes ini. Ia sudah tahu pasti kalau ia seorang penyihir air, tapi tes bola kristal tetap harus dilakukan. Ia menyentuh bola kristal pertama dengan hati-hati, bola itu berpendar sangat terang dan tiba-tiba saja…

Pyar!!

Bola itu pecah karena dorongan pancuran air yang sangat kuat dari dalamnya. Jiyoung menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan memekik kaget. Semua guru tidak kalah kagetnya, ini pertama kalinya dalam tes bola kristal, seorang murid memecahkan bolanya.

“Maafkan aku.” Gumam Jiyoung.

“Tidak apa-apa, Kang Jiyoung. Bergabunglah dengan penyihir air lainnya” ujar Kim sonsaeng tenang sambil membersihkan pecahan bola kristal di lantai dengan sekali sapuan.

“Nah semuanya, namaku Park Lizzy, aku ketua dorm kalian, sekarang ikuti aku oke” kata ketua Dorm Water, bernama Lizzy itu sambil tersenyum pada anggota-anggota dorm-nya yang baru. Gadis itu menyuruh mereka membentuk satu barisan dan berjalan di belakangnya.

Ia pun berjalan keluar aula diikuti 10 penyihir air baru di belakangnya. Mereka berjalan menyusuri koridor-koridor sekolah yang besar, menuju ke dorm mereka. Sambil berjalan, Lizzy menceritakan sejarah sekolah, dan fasilitas sekolah.

“Tentu saja karena sekolah ini sekolah sihir satu-satunya di Korea, sekolah ini sangat sederhana, dan muridnya pun tidak begitu banyak. Tapi…”

Belum selesai Lizzy bicara, seseorang memanggilnya. Seorang anak laki-laki seumuran dirinya.

“Hey Lizzy, kau terlihat seperti ibu ayam dengan 10 anak mengekorimu” ejek laki-laki tinggi itu sambil menghalangi jalan Lizzy.

“Minggir, Chanyeol.” Kata Lizzy, wajahnya berubah kesal seketika.

Chanyeol menyingkir, lalu meniupkan sepercik api ke rompi seragam Lizzy, setelah itu ia pergi sambil tertawa.

Lizzy dengan tenang memadamkan api di rompinya dengan sedikit air dari tangannya, lalu tersenyum ke murid-murid baru di belakangnya. “Tidak usah dipikirkan, dia memang menyebalkan” kata Lizzy.

“Sunbae, apa benar, katanya penyihir air dan api selalu bermusuhan di sini?” kata seorang murid laki-laki bernama Yoo Youngjae.

Lizzy menghentikan langkahnya sejenak, “hm.. ya bisa dibilang begitu. Kami tidak pernah cocok, mungkin karena sifat alami air dan api yang memang berlawanan. Dan mereka itu menyebalkan, mereka suka cari masalah dengan anak-anak Dorm Water.” Kata Lizzy, ia kemudian melanjutkan berjalan, sampai akhirnya mereka sampai di ujung koridor, di situ ada sebuah pintu kayu besar. Lizzy merogoh saku rompinya mencari-cari kunci pintu itu. Setelah menemukannya, ia memasukan kunci itu ke lubang kunci.

“Tapi… tidak semuanya menyebalkan kan? Maksudku.. memangnya tidak ada penyihir api yang.. baik?” Tanya Jiyoung, tiba-tiba ia teringat kalau orang yang ia taksir tadi berasal dari Dorm Fire, ketuanya pula.

“Memang tidak semuanya menyebalkan sih, aku punya beberapa teman di Dorm Fire. Tapi sedikit yang mau berteman dengan kita, mereka bilang kita, penyihir air, adalah penyihir yang lemah” kata Lizzy, sambil memutar kenop pintu, dan membuka pintu itu ke arah dalam.

Di balik pintu itu, terdapat lorong bercabang dengan puluhan pintu kamar di setiap dinding-dindingnya.

“Ini lorong murid tahun pertama. Setiap pintu sudah ada papan namanya, silahkan cari kamar kalian” kata Lizzy, lorong yang ia maksud adalah lorong paling depan, yang langsung tersambung dengan pintu utama. Di lorong itu terdapat 5 kamar, setiap kamar di tempati dua orang murid.

“Bagaimana mereka bisa tahu kita akan tinggal di dorm ini?” Ujar Jung Ilhoon bertanya-tanya.

“Oh kepala sekolah pasti sudah tahu. Dia kan penyihir juga” kata Jiyoung, ia lalu berjalan menuju kamar paling ujung di lorong itu, seolah sudah tahu pasti di mana kamarnya. Di pintu kamar itu juga tertulis nama Krystal.

“Krys! Ke sini! Ini kamar kita!” Seru Jiyoung.

Krystal menghampiri Jiyoung, lalu masuk ke dalam kamar mereka. Tembok kamar itu berwarna putih bersih, ada dua ranjang di sana, yang satu tepat di sebelah jendela, dan yang satunya lagi—hanya dipisahkan sebuah meja lampu berlaci tiga—terletak di bagian yang dekat pintu. Krystal tidak suka tidur dekat jendela, jadi ia memilih tempat tidur yang dekat pintu. Jiyoung dengan senang hati tidur di dekat jendela, ia sangat suka pemandangan bukit di luar jendelanya, meskipun kalau malam hari tidak terlihat seindah itu. Koper dan barang-barang mereka secara ajaib sudah ada di ruangan itu, mereka bahkan tidak perlu melakukan unpacking karena lemari besar di kamar itu sudah terisi dengan baju-baju yang mereka bawa. Rak buku di pojok ruangan juga sudah terisi dengan buku-buku pelajaran mereka.

Untuk pertama kalinya sejak pagi hari ini, Krystal tersenyum bahagia. Ia melempar dirinya ke tempat tidurnya yang nyaman dan mengayun-ayunkan tongkatnya di udara.

“Kau tidak akan pernah mengerti bagaimana sihir bekerja.” Gumam Krystal.

Makan siang pertama di Seoul Magic School tidak terlalu menyenangkan. Krystal, Jiyoung, Margareth, dan beberapa anak Dorm Water lainnya duduk di salah satu meja panjang di pojok ruang makan. Mereka membicarakan tentang keadaan di rumah masing-masing, beberapa memamerkan isi rumah, sementara yang lain menceritakan jumlah saudara yang mereka punya dan apa pekerjaan orang tua mereka. Tiba-tiba seorang murid baru dari dorm Fire, kulitnya agak kecoklatan, ia tampan (tapi menurut Krystal wajahnya seperti anak nakal) menghampiri meja mereka bersama beberapa temannya dan mengejek mereka, tapi korban utamanya Krystal.

“Rambut merah menyala, ekspresi datar ck Jung Soojung, nama yang tidak kreatif.” Kata murid bernama Kim Jongin itu, ia hendak membakar ujung rambut Krystal, namun gadis itu menahan tangannya, tangan Krystal terasa sedingin es di atas kulit kecoklatannya.

“Namaku Krystal.” Kata Krystal tenang, ia tidak bermaksud membekukan tangan Jongin, tapi tangannya sedingin es sehingga hampir membekukan pergelangan tangan Jongin. Laki-laki itu menarik tangannya dari pegangan Krystal, lalu mengejeknya lagi.

“Aku dengar orang tuamu menghilang, mereka diculik alien?” Kata Jongin, diikuti tawa dari Niel, Hoseok dan Suzy yang berdiri di sebelahnya.

Krystal diam saja, ia tidak suka kematian orang tuanya dijadikan bahan ejekan, tapi ia diam saja berusaha untuk tidak emosi.

Jiyoung melihat ke arah Krystal, lalu ke arah Jongin. Tadi ia sempat melihat sedikit ketakutan di mata Jongin ketika Krystal hampir membekukan tangannya.

“Oh ini dia si freak yang memecahkan bola kristal di aula.” Kata Suzy sambil menatap sinis Jiyoung.

“Kalian akan jadi teman baik, karena kalian sama-sama aneh, liat saja warna rambut kalian!” Komentar Jongin.

Margareth yang tidak suka kakaknya (dan orang tuanya) diejek, berdiri dari kursinya. Rambut coklat kemerahannya dikelilingi kilatan energi putih kebiru-biruan karena ia sangat marah.

“Soohwa sudahlah biarkan saja.” Bisik Krystal sambil menarik tangan adiknya, tapi gadis itu menepis tangannya. Krystal bisa mencium bau masalah, dan ini masih hari pertamanya di sini.

Margareth mengeluarkan tongkatnya dari kantong rompi dan menodong Jongin dengan benda itu.

“Tidak seorang pun boleh mengejek unnie-ku atau orang tuaku!” Kata Margareth. Ia tidak mengucapkan mantra apa pun, yang ia lakukan hanya mengambil air (dari bak cucian piring dapur sekolah) dengan tongkatnya dan membuat celana Jongin basah seolah ia habis mengompol.

Jongin terpaku, ia tidak mengatakan sepatah katapun, sambil merasakan air cucian piring yang kotor menetes dari celananya ke sepatu mahalnya. Teman-temannya juga terdiam, sementara Margareth tersenyum bangga.

“Kau bisa mengeringkan celanamu dengan ‘sedikit’ percikan api, ya kan?” Kata Jiyoung datar tanpa ekspresi, ia bermaksud menyindir.

“Bukankah kalian merasa lebih hebat dari kami? Kami kan cuma penyihir air.” Tambah Ilhoon, sok polos, sambil memberikan penekanan pada kata “cuma”.

Jongin tidak mengatakan sepatah kata pun, ia hanya memasang wajah kesal lalu pergi meninggalkan mereka. Dan beruntungnya, ia tidak melapor ke ketua asrama-nya atau ke guru.

Setelah istirahat makan, Krystal melihat jadwalnya pelajarannya. Ia harus menghadiri kelas Power Development dalam waktu 5 menit. Krystal belum terbiasa dengan lorong-lorong dan pintu-pintu di sana, ia tidak tahu di mana kelasnya berada, meskipun bangunan sekolah yang tersembunyi letaknya itu tidak terlalu besar. Dan gedung sekolah itu sudah modern, bukan gedung tua atau kastil.

“Aku harus kemana?” Gumam Krystal bingung.

Krystal membiarkan kakinya yang memutuskan. Ia berjalan menyusuri koridor perlahan sambil mencoba mengenali setiap pintu yang ia lewati. Lizzy, ketua dorm-nya tidak memberikan School Tour atau semacamnya.

Krystal sekarang diberi dua pilihan, belok kanan atau kiri. Dengan ragu, ia melangkah membelok ke arah kanan. Ia benar-benar tersesat, dan anehnya koridor yang ini sepi sekali. Krystal terus melangkah sampai ia menemukan sebuah pintu kayu yang dilapisi cat berwarna keperakan. Pintu itu berkelip-kelip. Krystal tidak yakin itu ruang kelasnya, tapi ia tertarik untuk melihat apa yang ada di balik pintu itu. Ia meletakkan tangannya di kenop pintu perak itu dan memutar kenopnya, ia baru saja akan membuka pintu itu ketika seseorang tiba-tiba menepuk bahunya dengan tepukan yang agak keras, cukup keras bagi Krystal untuk melepaskan tangannya dari kenop pintu yang hampir ia buka. Ia memekik kaget dan nyaris menendang orang yang menepuk pundaknya, tapi ternyata orang itu salah seorang guru.

“Jung Soojung, aku rasa kau tidak seharusnya berada di sini.” Kata guru itu. Wajahnya sangat dingin, kepalanya nyaris botak dan sebagian rambutnya sudah berwarna putih. Pria yang sudah agak tua itu memakai jubah hitam, ada name tag di jubahnya. Byun Jongshik. Begitu yang tertulis di sana.

“Maafkan aku sonsaengnim, aku tersesat, aku sedang mencari kelasku.” Ujar Krystal.

Byun Sonsaeng menutup rapat pintu perak tadi, lalu memberikan senyum yang dipaksakan pada Krystal. “Biar aku antar ke kelasmu. Lain kali jangan memasuki koridor ini lagi. Daerah ini terlarang bagi murid” kata Byun Sonsaeng.

Krystal tidak mengerti kenapa sebuah koridor harus menjadi terlarang bagi murid, ia ingin bertanya namun ia memilih menutup mulutnya dan berjalan dalam diam bersama Byun Sonsaeng di sebelahnya. Ia tidak menyukai pria tua ini sejak awal ia melihatnya beberapa menit yang lalu. Byun Sonsaeng terkesan misterius.

Sesampainya di kelas Power Development, Byun Sonsaeng membawa masuk Krystal dan menghampiri wanita bernama Han Jihyo, yang merupakan seorang penyihir air—yang mengajar kelas Power Development untuk penyihir air.

“Gadis ini tersesat.” Ujar Byun Sonsaeng datar.

“Oh iya terima kasih sudah mengantarnya ke kelasku, Sonsaengnim” kata Han Sonsaeng sambil sedikit membungkuk.

Byun Sonsaeng akhirnya meninggalkan kelas itu, Han Sonsaeng mempersilahkan Krystal duduk, dan ia pun melanjutkan pelajarannya.

Krystal duduk di sebelah Jung Ilhoon. Laki-laki itu sedang membuat pusaran air kecil di atas telapak tangannya.

“Hey Krys,” panggil Ilhoon. “kelihatannya kau suka berkeliaran.” Lanjutnya.

“Berkeliaran? Apa maksudmu? Aku tersesat.” Kata Soojung.

“Tapi kau punya rasa ingin tahu yang tinggi, benar kan?” Kata Ilhoon sambil mengayunkan tongkatnya, merubah pusaran air di tangannya menjadi bentuk-bentuk geometris.

“Hmm.” Kata Krystal mengiyakan. Jujur saja ia sangat tertarik untuk mengetahui apa yang ada di balik pintu perak tadi.

“Aku baru saja dapat kiriman dari appa-ku. Aku dapat ini,” Ilhoon mengeluarkan selembar kertas yang dilipat rapi hingga seukuran saku celananya. Kertas itu sudah menguning dan agak kusut.

“Ini Peta Jalan Rahasia. Aku tidak merasa ini berguna bagiku karena aku lebih memilih tinggal di dorm dan mempelajari hewan laut mistis daripada berkeliaran di lorong-lorong sekolah.” Kata Ilhoon. Ia mengulurkan kertas itu pada Krystal sambil tersenyum.

“Ambilah.”

Dengan ragu, Krystal menerima benda itu.

“Untuk apa?” Tanya Krystal.

“Untuk jaga-jaga saja. Sepertinya kau akan butuh itu.” Kata Ilhoon, membuat Krystal semakin bingung.

Krystal memandangi kertas itu sekali lagi lalu memasukkannya ke saku rompinya. Ia kemudian mengeluarkan tongkatnya, dan mulai mendengarkan Han Sonsaeng bicara. Tapi ia tidak bisa fokus. Ia masih membayangkan pintu perak yang hampir ia buka tadi.

“Ada apa di balik pintu itu? Huuft, coba saja tadi pak tua itu tidak datang!” Omel Krystal kesal dalam hati.

Ia akhirnya sibuk melamun sambil mengayun-ayunkan tongkatnya perlahan, sampai tiba-tiba ia mendengar nama adiknya dipanggil, dengan sangat keras.

“JUNG SOOHWA!!!!” Han Sonsaeng meneriakan nama asli Margareth.

Krystal tersadar dari lamunannya, ia mengalihkan pandangannya ke tempat duduk adiknya yang terletak di pojok ruang kelas. Margareth sedang memenuhi (hampir) seluruh ruang kelas dengan salju buatannya.

“Hentikan itu sekarang!” Seru Han Sonsaeng.

“Ayolah Sonsaengnim~ salju lebih keren dari pada air. Lagi pula salju kan bentuk lain dari air juga!” Kata Margareth sambil mulai membuat kepingan-kepingan salju yang berbentuk indah dengan tongkatnya.

“Tapi kita tidak belajar membuat salju hari ini, Jung Soohwa.” Kata Han Sonsaeng, berusaha tidak emosi karena kelasnya terganggu.

Krystal hanya menepuk dahinya lalu mengehela napas. Dari ekspresi Han sonsaeng, ia tahu ia dan adiknya akan berakhir di ruang guru setelah kelas ini berakhir.

Tepat jam 10 malam, semua murid sudah harus tidur. Setelah menutup pintu kamarnya, Krystal mematikan lampu agar Lizzy—yang bertugas mengecek setiap kamar pada jam 10 malam—mengira ia dan Jiyoung sudah tidur.

Jiyoung tidak perlu berpura-pura tidur, begitu kepalanya menyentuh bantal ia langsung terlelap. Sementara Krystal, ada sesuatu yang harus ia lakukan sebelum ia tidur malam ini. Jadi ia berusaha untuk tetap terjaga.

Terdengar langkah kaki mendekati kamarnya, Krystal segera menutup matanya dan berpura-pura tidur.

Sekarang terdengar suara pintu dibuka, jeda sejenak, lalu pintu kembali ditutup, diikuti suara langkah kaki menjauh.

Setelah dirasa aman, Krystal menyalakan lampu kecil di sebelah tempat tidurnya, dan mengeluarkan Peta Jalan Rahasia yang diberikan Ilhoon tadi siang padanya. Ia membuka setiap lipatan kertas itu dengan hati-hati karena takut merobek kertasnya yang sudah tua dan menguning.

Krystal mengamati peta itu dengan seksama. Peta itu adalah peta jalan pintas dan jalan-jalan rahasia di dalam gedung sekolah. Setiap jalan rahasia ditandai dengan garis putus-putus warna merah, dan jalan-jalan yang biasa dilewati orang digambarkan dengan warna kuning. Setiap pintu diberi tanda dan nama ruangannya. Krystal menyusuri salah satu jalan rahasia dari kamar mandi perempuan di lantai dua dengan jari telunjuknya, jalan itu berakhir di sebuah pintu (yang ternyata terpasang di lantai) terhubung langsung ke dalam ruang kepala sekolah.

“Ini keren.” Gumam Krystal.

Ia tidak tahu akan membutuhkan peta itu untuk apa, tapi ia pasti akan membutuhkannya nanti. Jadi ia melipat kembali peta itu dan menaruhnya di bawah bantal. Setelah itu ia mematikan lampu kamarnya dan memejamkan matanya. Segera setelah ia terlelap …

“Tolong aku! Bangunkan aku!” Krystal berada di sebuah tempat. Gelap. Sangat gelap. Sangat hitam. Tak ada sedikit pun cahaya. Ia terus mendengar suara seorang laki-laki berseru minta tolong, tapi ia tidak bisa melihat laki-laki itu. Mulutnya terkunci, ia tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. Krystal mulai panik, ia kemudian merasakan sesuatu yang dingin mencengkeram bahunya. Sesuatu yang terasa jahat dan gelap. Setelah itu terdengar suara parau berbisik di telinganya.

“Akulah mimpi burukmu”

Krystal terbangun dari mimpi buruknya. Mimpi itu terasa sangat nyata, cengkeraman di bahunya, teriakan laki-laki yang meminta tolong itu, bahkan ia berkeringat dingin. Itu adalah mimpi buruk pertamanya semenjak ia tidur di sekolah ini, mimpi buruk pertamanya yang terasa sangat nyata.

Ia hendak membangunkan Jiyoung, tapi ketika ia menyalakan lampu kecil di meja, ia mendapati sesosok laki-laki yang pucat berdiri di sebelah tempat tidurnya.

-To Be Continued-

___________________________________

[a/n] hailo(?) maaf kalo aneh T.T ini murni imajinasi aku not based from any existed story(?) Ya kalo mahluk2 mitosnya sih emang dari mitos dan legenda beneran, tapi kalo yg lainnya murni imajinasi X’D makasih udah baca ff aneh ini (?) Ini baru awal(?)
oh ya, siapakah laki2 dalam mimpi ital dan yg tiba2 muncul di kamarnya? 8’D ayo tebak(?)
oh iya pengen bias kalian nongol di ff ini? Bilang aja  :3
jangan lupa rcl~ author aneh ini laf yu ♥

yoo jangmi
10/04/13

35 thoughts on “[ Seri #1 ] Dream Catcher ; Part 1

  1. itu yg muncul tiba2 siapa??? kagett bangettt thorr :O munculkan suami ku dongg #lirikbaek kkkkk :v :v
    idiih…. kai dkk nyebelin yh disini :(

    lanjut… lanjut… :D

  2. Bagus banget thor… Aku penasaran sama kelanjutannya! Cepetan ya, tapi jangan memaksakan diri XD

    Laki2 pucatnya si Baekhyun ya??? Baekhyun part 1 belum keluar, jadi penasaran deh XD

    Keep Fighting thor!!!

  3. itu yg jiyoung suka dari dorm api siapa ketuanya min? taemin ya? taemin ya? aaaah semoga jiyoung sama taemin ya min…
    aku suka banget sama ff ini keren min ditunggu kelanjutannya ya min,
    oiya semoga member exo ada yg keluar lagi ya kan mereka juga pada pubya kekuatan heheeee… :p
    jangan lama lama ya min :D

  4. aduh bgus bingit q suka…
    penasaran, siapa tu yg muncul2?? mana siTampan baekhyun kog blum mncul…
    Q ska ff pairing Krystal-Baekhyun, next chapter jg lama2 y min…
    Q reader baru, baru aja googling eh dpt nie ff, semangat buatny y jg putuus djlan wookie…

  5. kak itu namaku kak seriusan ah *-*
    aaaahhh makasih kak udah milih namakuuuu <3

    Bagus bangett ngettt eonnniiii, alurnya menarik, jalan ceritanya juga, aku potterhead jadi aku jamin aku bakalan suka banget sama ff ini! xD duh aku sukaaa banget konsep beginian <3
    Walaupun alurnya berbelit-belit tapi ditulis dengan bahasa yang ringan dan mudah dibaca, tapi tetep indah :'D ada beberapa ff yang udah alurnya complicated, bahasanya berbelit-belit, jadi susah bacanya kkk

    Eh orang yang muncul di mimpi klee itu byunbaek? iyakah? iyakah? Ohiya, itu bapak tua yang negur klee itu bapaknya byunbaek ya? :3
    Ohiya aku juga sukaaaaaa banget karakter soohwa disini :D
    Soojung sama Jiyoung juga, aku kayaknya jarang nemu ff yang karakter mereka begitu :D
    jangan-jangan sebenernya Jiyoung itu penyihir hebaaaaattt yaaa? :o bolanya sampe pecah gitu! Ohiya, aku juga seneng banget soalnya suzy disini jahat huahahaha #evil laugh
    Ohiya, kalo bisa aku request Luhan dong eonni x'D dan kalo bisa dipasangin sama margareth tapi kalo nggak bisa juga nggak apa-apa/? x'D

    dan nggak ada typo sama sekali, perfect :D Keep going Eonni! ;3

  6. good job author!!! suka banget sama ficnya. awalnya bayangin sekolah mereka yg kastil ala harry potter gitu, tapi ternyata udah modern ya. hehehe…
    suka sama fic ini.. haduuh…

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s