[ Seri #1 ] Dream Catcher ; Part 2

image

Title
Dream Catcher

Sub Title
Boy in the Dream

Author
Yoo Jangmi

Genre
Fantasy; AU; School; Teen-romance

Length
Mini Seri(es)

Rating
PG

Cast
– Krystal Jung (f(x))
– Byun Baekhyun (EXO)
– Kang Jiyoung (KARA)
– Lee Taemin (SHINee)
– Jung Ilhoon (BTOB)
– and so many other cameos *-*

Disclaimer
All cast featured here are not mine, but story idea purely mine. No bash.

– H A P P Y  R E A D I N G –

Krystal memandangi laki-laki pucat yang berdiri di sebelah tempat tidurnya dengan seksama. Laki-laki itu memakai baju rumah sakit, rambutnya sepertinya coklat (tidak begitu jelas karena cahaya di kamar remang-remang), ia transparan, dan wajahnya bisa dibilang tampan.

Ia transparan.

Satu poin yang membuat Krystal bingung, namun ia segera mengambil kesimpulan kalau laki-laki itu mungkin hantu.

“Kau sedang apa di kamarku? Pe-pergi sana!” Kata Krystal.

Laki-laki itu tetap diam di tempat ia berdiri. “Aku yang ada di dalam mimpimu.” Katanya.

Tepat pada saat itu Jiyoung terbangun dari tidurnya, ia terbangun karena mendengar suara orang bicara.

“Krys? Memangnya sekarang jam berapa— oh… ”

Jiyoung melihat hantu laki-laki tadi dengan bingung.

“Krys, kenapa ada hantu di kamar kita?” Tanya Jiyoung,

“Kau bisa melihatnya juga?” Tanya Krystal bingung.

Jiyoung mengangguk. “Tentu saja. maksudku, semua penyihir air punya kemampuan itu. Seingatku sih.” Kata Jiyoung, sekali lagi memandangi si hantu laki-laki yang berdiri di sebelah tempat tidur Krystal.

“Begini, tadi kau bilang kau yang ada di dalam mimpiku, mimpi burukku yang barusan?” Tanya Krystal pada si hantu.

Hantu itu mengangguk. “Ya, aku yang berteriak minta tolong. Kau harus menolongku, aku-”

“Kenapa aku harus menolongmu?” Tanya Krystal, memberikan tatapan tidak ramah pada si hantu.

“Aku akan ceritakan padamu besok, tapi janji dulu padaku, kau akan menolongku.” Kata si hantu laki-laki, membuat Krystal semakin gondok karena tidurnya terganggu.

“Kalau begitu tunggu saja sampai besok. Sekarang keluarlah, kami ini perempuan. Maksudku, kami enggak mungkin tidur kalau kau ada di sini, berdiri di situ.” Tukas Krystal.

Krystal tidak menunggu respon dari hantu itu, ia langsung membenamkan kepalanya dalam selimut dan berusaha tidur.

“Tenang saja, kalau Krystal tidak mau menolong, aku bisa menolongmu.” Kata Jiyoung, dengan senyum paling ramah yang bisa ia beri.

Hantu itu tersenyum pada Jiyoung, menyiratkan ucapan terima kasih lalu menghilang.

— the next day —

Krystal tidak menyangka hari seperti ini akan datang dalam hidupnya, hari di mana ia akan menghadiri kelas yang sama dengan murid dari dorm lain. Tentu saja ia menyukainya, tapi bertemu dan duduk di sebelah Kim Jongin bukan hal yang ia sukai.

Kelas Basic Magic pagi itu sudah dipenuhi sekitar 20 orang murid tahun pertama dari empat dorm berbeda. Guru yang akan mengajarkan mereka, Goo sonsaengnim, memperkenalkan diri dengan sangat ceria (?). Setelah itu ia meminta semua anak siap dengan tongkat masing-masing.

“Hey kepala merah.” Sapa Jongin sambil mebolak-balik halaman buku mantra tebal miliknya.

“Kepala merah? Sialan. Dia ini jelmaan dari Soohwa atau apa.” Batin Krystal.

“Hey juga bocah katak.” Balas Krystal.

“Katak? Apa maksudmu?” Tanya Jongin.

“Lambang dorm-mu kan katak.” Kata Krystal, dengan bangga memperlihatkan lambang lumba-lumba yang dijahitkan di seragamnya.

“Setidaknya lumba-lumba lebih cantik.” Ujar Krystal lagi sambil menjulurkan lidahnya.

Jongin mencoba mantra untuk menghilangkan barang yang diajarkan Goo Sonsaengnim lalu tersenyum penuh makna (?) pada Krystal. Makna yang tidak bagus tentu saja.

“Lihat saja nanti di kelas duel kepala merah.” Ujarnya, mengancam? Semacam itu.

Krystal tidak menghiraukan ucapan Jongin dan tetap bekerja dengan tongkatnya. Tiba-tiba saja ia merasakan hawa dingin menyentuh kulitnya, sepersekian detik kemudian hantu laki-laki yang kemarin malam itu ada di sebelahnya. Krystal berhasil menahan dirinya agar tidak memekik sekeras klakson bus di dalam kelas, ia meletakkan tongkatnya dan berbisik pada si hantu.

“Kau mau apa sih? Aku sedang di kelas!”

“Setelah kelas selesai, kita harus bicara.” Kata si hantu dengan nada dan raut wajah memaksa.

Krystal menghela napas. Perasaannya mengatakan tak ada salahnya menolong si hantu.

“Baiklah, aku akan menolongmu apapun itu.” Kata Krystal.

“Janji adalah janji, Krystal. Awas saja kalau kau kabur dari janjimu.” Kata si hantu, lalu hantu itu menghilang lagi.

“Iya aku janji.” Ujar Krystal pelan. Ia berharap Jongin tidak mendengarnya atau ia akan dicap gila.

Setelah kelas selesai, Krystal menemui Jiyoung, meminta gadis itu menemaninya mengobrol dengan si hantu. (Ia tidak mau kelihatan berbicara sendirian tentu saja).

“Hm… baiklah, kita mau bicara dengannya di mana?” Tanya Jiyoung.

“Aku nggak tahu. Lebih baik di tempat yang agak sepi.” Kata Krystal, sambil memikirkan tempat yang paling tepat.

Mata Jiyoung tiba-tiba berbinar-binar seolah baru mendapat ide cemerlang.

“Di kamar mandi?” Kata Jiyoung, Krystal langsung menggelengkan kepalanya.

“Di perpustakaan. Kita pakai meja yang paling pojok.” Ujar Krystal.

“Kau duluan saja Krys, aku mau melakukan sesuatu sebentar.”

Krystal mengangguk lalu berjalan menuju perpustakaan dengan tergesa-gesa. Ia tidak akan membuang-buang waktu break yang 30 menit dengan sia-sia.

Sementara itu Jiyoung harus membawa setumpuk buku tebal ke ruangan Byun Sonsaeng. Jiyoung tidak sengaja melakukan kesalahan di kelasnya, dan pria itu pun menyuruh gadis itu membawa buku-buku tentang Mythical Creatures yang tebal-tebal dan berat ke ruangannya.

“Kalau ia bukan guru akan kutenggelamkan di laut. Dasar pak tua!” Jiyoung terus mengomel sambil berjalan dengan setumpuk buku berat yang agak menghalangi pandangannya.

Ia lalu menabrak seseorang tepat di dekat pintu ruangan Byun Sonsaeng. Buku-buku berat itu berjatuhan dari tangannya, beruntungnya tidak mengenai kakinya atau kepala orang yang ditabrak.

“Maafkan aku, aku—”

Jiyoung langsung terdiam ketika melihat siapa orang yang ditabraknya. Ketua Dorm Fire, Lee Taemin, duduk dilantai—lebih tepatnya terjengkang bukan duduk—sambil mencari-cari badge-nya yang jatuh.

Jiyoung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Lalu mulai menutupi pipinya (yang ia rasa mulai memerah).

“Babo! Huee aku takut, aku harus bilang apa? Kenapa harus menabrak sunbae yang ini?” Batin Jiyoung panik. Ia sampai lupa memungut buku-buku yang bergelimpangan di lantai.

Taemin memasang kembali badge-nya, lalu memungut buku-buku yang dibawa Jiyoung. Ia melihat lambang lingkaran biru dengan gambar lumba-lumba di seragam Jiyoung, entah apa yang dipikirkannya, tapi kemudian ia tersenyum, bukan senyum ramah tapi senyum jahil.

Ia memberikan buku-buku itu pada Jiyoung yang langsung menerima tumpukan buku itu dengan senang hati (setidaknya ia bisa menutupi wajahnya dengan buku).

“Sunbae, maafkan aku… eum.. terima kasih.” Jiyoung menundukkan kepalanya karena ia tidak bisa membungkuk hormat.

“Namamu siapa?” Tanya Taemin langsung tanpa mempedulikan ucapan maaf & terima kasih Jiyoung.

“Hah? aku? Kang Jiyoung.” Jawab Jiyoung, agak kaget.

“Jiyoung-ah, kau perlu aku membantumu membawa itu ke ruangan si pak tua?” Ujar Taemin, menawarkan bantuan. Meskipun tidak terlihat begitu tulus.

Jiyoung ingin berteriak, tapi ia cepat-cepat menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

Tidak usah. Aku bisa sendiri. Aku pergi dulu ya sunbae, sekali lagi terima kasih.” Kata Jiyoung, ia lalu melangkah menuju ruangan Byun Sonsaeng sambil senyum-senyum sendiri.

“Sudah kubilang, tidak semua penyihir api itu menyebalkan.” gumam Jiyoung senang.

“Wah kau baru saja bersikap manis pada anggota Dorm Water!” Seru Park Chanyeol (yang tiba-tiba datang menghampiri Taemin) sambil menepuk bahunya.

“Siapa bilang aku bersikap manis padanya, hyung? Itu cuma pura-pura.” Kata Taemin sambil tersenyum, otaknya penuh ide untuk mengerjai Jiyoung.

Ngerjain adik kelas itu asik hyung, apa lagi dia di dorm yang itu.” lanjutnya.

Chanyeol menggelengkan kepalanya, memasang ekspresi tidak percaya yang dibuat-buat.

“Wah kau jahat. Aku bahkan belum pernah ngerjain Lizzy.”

Taemin menepuk bahu Chanyeol lalu memberitahu seniornya itu sedikit tentang rencananya mengerjai Jiyoung.

“Hyung, datang saja ke ruang makan besok siang, aku mau melakukan sesuatu yang hebat.”

-Perpustakaan-

Krystal, Jiyoung dan si hantu duduk di meja paling pojok di perpustakaan. Mereka memastikan pengawas perpustakaan atau siapapun tidak mendengarkan percakapan mereka. Setelah aman, Krystal menatap si hantu dengan tatapan tidak ramahnya yang seperti biasa, memberi isyarat agar si hantu cepat menceritakan masalahnya.

“Namaku Byun Baekhyun, aku sekolah di sini, tahun ke-3, anggota Dorm Air. Aku penyihir udara.” Si hantu, Baekhyun, memperkenalkan diri.

“Wah! Kau seorang sunbae!” Kata Jiyoung nyaris memekik.

“Err.. baiklah Baekhyun sunbae, sebenarnya apa masalahmu sampai membutuhkan pertolonganku?” Tanya Krystal, dengan kaku memanggil Baekhyun sunbae.

“Aku diculik. Tidak, maksudku begini; Sejak hari pertama memasuki tahun ke-3 aku sering mendapat mimpi buruk yang aneh, yang sangat terasa nyata dan mengerikan. Aku lupa tepatnya kapan, tapi Kim Ahyoung dari Dorm Fire tidak sengaja menusukan pedangnya padaku saat Duelling Class. Aku harus dirawat di rumah sakit, tanpa pengawasan siapapun. Malam itu di sana aku mendapat mimpi buruk yang sama, ada seorang pria yang menarik bahuku dan ketika aku bangun, aku sudah terpisah dengan tubuhku. Tubuhku pingsan atau tidur di suatu ruangan entah di mana. Nah, permintaanku, temukan tubuhku dan bangunkan aku.” Jelas Baekhyun panjang lebar.

“Lalu kenapa aku harus menemukanmu dan membangunkanmu? Maksudku.. aku bukan siapa-siapamu, sunbae.” Kata Krystal, masih tidak mengerti permasalahannya.

“Karena mimpi buruk yang ku alami sama dengan mimpimu Jung Soojung pabo! Dia menculikku lewat mimpi! Target berikutnya itu kamu.”

Krystal akhirnya mengangguk mengerti, ini berhubungan dengan nyawanya juga, jadi ia harus menghentikan si “pria jahat” entah siapa dia yang berusaha menculiknya dan menemukan Baekhyun.

“Sunbae diculik lewat mimpi? Itu aneh, aku masih tidak mengerti. Siapa yang mungkin melakukan sihir semacam itu?” Kata Jiyoung, ia mulai tertarik juga dengan kasus ini.

“Aku juga tidak tahu, pastinya seseorang yang kuat.” Kata Baekhyun.

Krystal melihat ke sekitar perpustakaan, ada beberapa teman se-dormnya datang, tapi mereka sepertinya tidak melihat Baekhyun dan hanya berlalu sambil menyapanya dan Jiyoung.

“Jiyoung, semalam kau bilang semua penyihir air bisa melihat hantu,” kata Krystal “tapi mereka tidak melihat Baekhyun sunbae.”

Jiyoung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir salah tingkah.

“Eh iya, kan aku bilang seingatku Krys, ternyata tidak semua bisa hehe.”

Krystal menghela napas lega. Akan sulit menjelaskan pada orang-orang bagaimana ia bisa mengobrol dengan hantu seorang sunbae, yang semua orang tahu sedang berada di rumah sakit.

“Baiklah, kita butuh petunjuk untuk memecahkan masalah ini. Tapi kita tidak tahu sama sekali siapa penculik ini atau di mana Baekhyun sunbae disekap.” Kata Krystal.

“Mungkin kalian harus melapor ke kepala sekolah?” Usul Baekhyun, “Kalian bisa ceritakan semuanya padanya, dan mungkin dia akan mencari jalan untuk menolongku.” Lanjutnya.

Krystal dan Jiyoung saling pandang, lalu menggelengkan kepala.

“Kita nggak boleh memberitahu apa-apa ke pihak sekolah. Mereka akan mengataiku gila.” Kata Krystal, tidak yakin ceritanya soal mimpi buruk, dan pria yang menculik lewat mimpi akan dipercaya oleh siapa pun guru di sekolah ini.

“Kita bisa dapat petunjuk dari Peramal Bulan. Kita bisa tanya padanya.” Jiyoung mengatakannya dengan mata berbinar seolah ia sudah menemukan solusi paling tepat.

“Oke… tapi siapa Peramal Bulan ini?” Tanya Krystal bingung.

“Peramal Bulan, wanita peramal  ini hanya bisa dipanggil saat bulan purnama. Jadi kita bisa pergi menemuinya besok, tepat saat bulan purnama.” Jelas Jiyoung.

Bel masuk kelas terdengar sangat nyaring dari perpustakaan. Kelas berikutnya adalah Duelling Class, pelatih yang akan mengajar mereka terkenal galak, jadi tidak satu pun dari mereka yang mau terlambat. Krystal dan Jiyoung memutuskan untuk melupakan masalah penculikan itu sesaat dan pergi ke lapangan sekolah bersama-sama. Lagi pula mereka sudah memutuskan untuk menemui Peramal Bulan besok malam, mereka akan segera dapat petunjuk.

Lapangan Seoul Magic School  terlihat sama dengan lapangan sekolah pada umumnya, tapi ada beberapa hal yang membuatnya berbeda. Misalnya setting lapangan itu bisa diganti sesuai kebutuhan dengan sekali ayunan tongkat, dan dipinggir lapangan itu ada pondok dwarf. Dwarf yang tinggal di pondok itu biasa menjadi wasit saat Duelling Class.

Krystal dan Jiyoung mengikuti anak-anak tahun pertama lainnya mendekati lapangan. Pelatih Shin, menyuruh mereka semua berdiri dipinggir lapangan selagi ia mengayunkan tongkatnya dan merubah lapangan itu menjadi arena duel (?).

“Ini adalah pertemuan pertama di Duelling Class bukan? Kalian bisa menyebutku Pelatih Shin. Sebelum memulai, kalian harus tau peraturannya terlebih dahulu. Pertama, tidak boleh melukai partner duel; Kedua, tidak boleh menggunakan tongkat; Ketiga, tidak boleh ribut saat duel.”

Pelatih Shin punya postur tubuh yang atletis, wajah pria itu tidak terlihat ramah sama sekali. Ia punya cemeti yang terkait di ikat pinggangnya, ada codet di wajahnya, dan tentu saja bukan jenis guru olahraga yang kau inginkan berada di sekolahmu.

Sekarang pria itu membagikan secarik kertas pada setiap murid,dan mulai menjelaskan prosedur dalam Duelling Class.

“Sekarang, kita akan menentukan partner duel untuk minggu ini. Caranya sangat mudah, tulis ketakutan terbesar kalian di kertas yang sudah kubagikan. Ketakutan itu harus berupa benda yang nyata, bukan sesuatu seperti takut ketinggian. Setelah itu aku akan memasangkan kalian dengan partner yang cocok.”

Krystal memandangi kertasnya sesaat, lalu memutuskan menulis ‘Naga’ di kertasnya. Ia melihat Jiyoung menulis ‘Laba-laba’ di kertasnya sendiri, Saat ia melangkah maju untuk mengumpulkan potongan kertasnya, Pelatih Shin tersenyum padanya, dengan pandangan mata yang tajam dan terkesan menganalisis. Pria itu mengambil kertas dari tangan Krystal dan memasukan potongan kertas itu ke dalam pot tanah liat yang melayang di sebelahnya.

“Jung Soojung,” ujar Pelatih Shin, “kau tahu? Orang tuamu itu orang-orang hebat.”

Krystal mengangguk pelan, ia tidak mengerti maksud Pelatih Shin. Ia bahkan tidak kenal orang tuanya, mereka ‘pergi’ saat ia berusia 4 tahun, ia tidak ingat apa-apa soal mereka. Apa mereka benar-benar orang-orang hebat?

5 menit kemudian semua murid sudah mengumpulkan potongan kertas berisi ketakutan terbesar mereka. Mereka semua menanti dengan penuh semangat untuk mengetahui siapa partner duel mereka. Pelatih Shin menaruh telapak tangannya beberapa senti di atas pot tanah liat yang melayang itu, dua helai kertas keluar dari dalam pot itu. Pelatih Shin melihat carikan kertas itu dengan mata berbinar.

“Pasangan duel pertama kita hari ini, Jung Soojung dan Kim Jongin! Kalian maju ke sini!”

Krystal mengumpat pelan, menjadi partner duel Jongin bukan sesuatu yang ia inginkan untuk kelas duel pertamanya. Ia masih mau hidup. Dengan langkah berat, ia maju ke tengah lapangan bersama Jongin diiringi seruan-seruan penyemangat dari murid-murid lain. Ia bisa melihat ekspresi khawatir Jiyoung sekilas.

Ia dan Jongin berdiri berhadapan di tengah lapangan, si Dwarf berdiri di sebelah mereka, sangat kecil namun telihat galak.

“Harus kalian ingat, kalian hanya boleh melucuti senjata lawan, tidak boleh melukai! Yah, kecuali tidak sengaja. Baiklah persiapkan pedang kalian, dan mulai duelnya!” Seru si Dwarf sekeras yang ia bisa.

“Pedang? Pedang apaan?!” Gumam Krystal. Tangannya masih kosong tanpa sebilah pedang atau benda tajam apapun.

Krystal melihat ke arah Jongin. Laki-laki itu sudah memegang sebuah pedang api yang berkobar, dengan lapisan sisik naga pada pegangannya. Jongin tersenyum padanya.

“Mana pedangmu kepala merah?!” Seru Jongin, “Kau takut?” Lanjutnya.

Krystal menggigit bibir bawahnya, ia tidak tahu cara mengeluarkan pedang dari tangannya sekarang juga. Tiba-tiba ia merasakan sentuhan halus yang dingin pada tangan kanannya. Hantu Baekhyun, bediri di belakangnya, sambil memegangi tangannya (walaupun tidak benar-benar terasa seperti itu), dan berbisik di telinganya;

“Angkat tanganmu seperti ini, babo. Pedangmu akan muncul dengan sendirinya.”

“Uh… baiklah.” Ujar Krystal sambil mengikuti instruksi Baekhyun.

Krystal mulai merasakan sesuatu yang padat dan dingin dalam genggamannya. Sebuah pedang es, dengan gagang berwarna sebening air, dan kabut putih yang dingin mengepul. Ia baru saja akan berterima kasih tapi hantu sunbae-nya itu sudah menghilang entah ke mana.

Krystal sekarang tersenyum pada Jongin yang mulai terlihat gugup saat melihat es.

Duel itupun dimulai. Pelatih Shin memberikan instruksi-instruksi yang bisa dibilang tidak efektif, karena Jongin mulai menyerang Krystal dari sisi manapun dengan membabi buta, pedang apinya berkobar-kobar. Terlihat cukup membahayakan.

Krystal hanya menggenggam pedangnya kuat-kuat sambil menghindar dari kobaran pedang api Jongin, ia belum membuat gerakan perlawan apapun. Ia bisa mendengar teriakan murid-murid lain, beberapa murid dari Dorm Fire berteriak “Habisi dia!” atau “Bakar rambutnya!”

Krystal kembali menghindar dari sabetan pedang Jongin yang hampir menghanguskan rambutnya, tapi kemudian laki-laki itu berhasil menyabet tangannya. Krystal meringis kesakitan, luka di tangannya mendesis, terasa panas dan berdarah.

Pelatih Shin sudah tidak mengontrol lagi jalannya duel, ia hanya menonton sambil sesekali meminum sari apel.

“Hey! Kau mau bunuh orang atau apa?!” Seru Krystal tidak terima.

“Lawan dia babo.”

Sebuah suara tiba-tiba berbisik di telinga Krystal, gadis itu menganggukkan kepalanya dan mengangkat pedangnya. Ia melancarkan serangan pertamanya pada Jongin, sebuah sabetan di kaki. Kaki laki-laki itu mulai menjadi kaku seperti membeku.

Krystal mulai menyukai duel ini, Jongin yang kakinya setengah kaku mulai kesusahan melawannya. Ia memberikan beberapa sabetan lagi di tangan Jongin dan bahkan melempar pedang Jongin dari tangan pemiliknya ke luar lapangan.

Duel pertama yang berlangsung selama sekitar 15 menit itu akhirnya selesai. Krystal dinyatakan menang, dan hanya memperoleh satu luka sabetan di tangan dan kehilangan beberapa helai rambut.

“Kau hebat Krys! Tapi tanganmu harus diobati.” Kata Jiyoung sambil memeriksa tangan Krystal, saat gadis itu kembali ke barisan murid-murid.

Krystal tersenyum puas, meskipun ia terluka sedikit setidaknya ia berhasil mengirim Jongin ke Pusat Kesehatan Sekolah untuk menghilangkan efek beku di tangan dan kakinya.


Sore ini saat jam bebas, Jiyoung mengajak Krystal pergi ke toko yang menjual barang-barang ajaib. Toko itu terletak tepat di sebelah gedung sekolah. Toko yang terlihat seperti pondok kecil itu sudah dipenuhi murid-murid Seoul Magic School. Di depan pintu masuknya, ada papan yang dicat warna cerah (tapi sudah memudar), dengan tulisan besar-besar dan berantakan, bertuliskan;

“N’s MAGIC SHOP”

Everything in your fairytale books

Krystal harus ditarik oleh Jiyoung untuk memasuki toko itu, ia ragu-ragu. Bisa saja tempat itu menjual benda-benda yang berbahaya, tapi Jiyoung (dengan susah payah) berhasil meyakinkannya kalau toko itu aman.

Kesan pertamanya saat memasuki toko itu adalah kagum. Barang-barang aneh yang dipajang di rak-raknya terlihat begitu berkilauan dan menarik, meskipun toko itu sendiri penuh debu dan berbau aneh. Penjaga N’s Magic Shop adalah seorang pria muda yang menyebut dirinya sebagai ‘N’. Pria itu sekarang sedang mengobrol dengan Jiyoung yang sedang menanyakan sesuatu tentang ‘gas’.

Krystal mengelilingi toko, mengamati setiap barang yang dipajang dengan seksama. Tidak satupun yang sangat menarik perhatiannya, sampai ia melihat sebuah benda yang terlihat seperti jaring laba-laba, dengan bulu dan manik-manik yang terlihat unik, warnanya biru aqua terang.

Jiyoung yang sudah selesai dengan urusannya, menghampiri Krystal dan tersenyum.

“Itu dream catcher, bagus ya? Kau harus beli satu Krys, dream catcher bisa menangkap mimpi burukmu, maksudku benar-benar menangkapnya lewat jaring-jaring itu.” Kata Jiyoung.

“Tapi… kau tau kan, mimpi burukku itu beda. Bukan mimpi buruk biasa,” ujar Krystal, masih memandangi dream catcher yang digantung-gantung. “memangnya akan ada efeknya?”

“Mencoba tidak ada salahnya kan?” Kata Jiyoung, lalu meminta N mengambilkan dream catcher berwarna biru aqua tadi untuk Krystal.

Keduanya berjalan ke  meja kasir sambil membawa barang yang akan mereka beli. Jiyoung membeli sebotol ‘Extremely Dangerous Gas: For Bugs Only’, entah untuk apa, dan Krystal akhirnya rela mengeluarkan 1715 Won untuk membeli dream catcher, yang ia rasa tidak akan begitu berguna.

 


Malam ini sebelum tidur, Krystal tidak mengikuti saran Jiyoung untuk menggantung dream catcher-nya di atas tempat tidur, ia menyimpan benda itu di dalam laci meja. Ia masih tidak percaya dengan benda yang katanya bisa menangkap mimpi buruk itu. Jadi ia menutupi tubuhnya dengan selimut sampai ke hidung dan menarik napas dalam.

“Malam ini, aku akan tidur nyenyak.” Gumam Krystal tenang, dan perlahan memejamkan matanya.

“Ikutlah.” Sebuah suara serak berbisik di telinga Krystal. Gadis itu ada di sebuah ruangan gelap tanpa cahaya sedikitpun. Tapi kali ini tidak ada suara laki-laki yang meminta tolong. Sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram lengannya, tangan itu kasar, berkuku tajam, mencengkram sangat kuat pada lengannya. Krystal ingin berteriak panik tapi tidak bisa. Tangan itu menariknya, entah akan membawanya kemana.

“Krystal! Kau harus bangun! Sekarang. cepat!” Krystal mendengar suara seorang laki-laki berseru padanya dan tiba-tiba ada cahaya…

Krystal terbangun dari mimpi buruknya dengan napas terengah-engah. Mimpi buruk itu terasa nyata persis seperti mimpinya yang sebelumnya. Krystal memeriksa lengannya yang dicengkram tangan dingin dalam mimpinya tadi, ada luka cakaran di sana, ada luka-luka kecil juga di lengannya seolah-olah seseorang baru saja menancapkan kuku-kukunya yang tajam pada kulit putihnya. Saking ketakutannya, Krystal hanya memandangi lengannya sambil terdiam. Lagipula ia tidak mungkin menjerit tengah malam begini.

“Mimpi buruk lagi?” Tanya Baekhyun, yang tiba-tiba muncul di sebelahnya.

Tangan hantunya yang transparan menyentuh luka di lengan Krystal, ia menggelengkan kepalanya.

“Itu harus di obati sekarang, nanti infeksi.”

Krystal hanya menganggukkan kepalanya. Sekarang ia tidak bisa tidur lagi, ia takut mimpi buruknya akan datang lagi.

“Kau mau ke taman belakang sekolah?” Ajak Baekhyun, ia bermaksud menghibur Krystal.

“Tengah malam begini? Sunbae gila ya? Kalau ketahuan nanti aku di hukum.” Kata Krystal.

Baekhyun tersenyum jahil pada Krystal, “Pakai peta jalan rahasiamu, tidak akan ketahuan kok.

Krystal membuka laci meja lampu di sebelah ranjangnya dengan perlahan supaya tidak membangunkan Jiyoung. Ia mengambil peta jalan rahasia miliknya, dan membuka lipatan kertas tua itu.

“Baiklah, ayo keluar.” Katanya.

Krystal memakai jaket favoritnya yang berwarna peach, dan memakai sepatu kets putih. Ia mengendap-endap keluar dari dorm bersama hantu Baekhyun (walau sebenarnya Baekhyun bisa langsung pergi ke taman belakang sekolah dalam sekejap karena ia hantu).

Mereka masuk ke ruang penyimpanan sapu, menurut peta milik Krystal, di lantainya ada pintu menuju garasi bawah tanah milik sekolah, yang pintu belakangnya langsung menuju taman belakang.

Dengan mengikuti peta tua itu, mereka berhasil sampai ke taman belakang tanpa ketahuan siapapun. Krystal duduk bersandar pada tembok bangunan sekolah, dan beralaskan rumput. Baekhyun duduk di sebelahnya, terlihat agak bersinar karena cahaya bulan menembus tubuh transparannya.

“Aku sering ke sini, biasanya aku memanggil burung-burung penyanyi atau sekedar diam melihat bintang. Appa-ku pernah memergokiku di sini sekali, ia memberiku hukuman yang lebih berat dari murid biasa.” Ujar Baekhyun sambil memperhatikan bintang-bintang.

“Appa sunbae… guru di sini?” Krystal berusaha terdengar biasa saja, tapi suaranya terdengar sangat terkejut, ekspresi wajahnya juga menggambarkan perasaan yang sama.

“Ya, kau tau Byun Jongshik? Dia itu…”

Baekhyun tidak perlu melanjutkan kata-katanya, Krystal sudah mengerti. Jadi pak tua yang menyebalkan, yang tidak disukai semua murid termasuk dirinya adalah ayah Baekhyun. Sekarang Krystal jadi merasa simpati pada Byun Sonsaeng, pria itu tidak tahu kalau anaknya sedang diculik bahkan mungkin berada dalam bahaya. Tapi tetap saja Byun sonsaeng tidak akan pernah menjadi guru favoritnya.

“Sunbae, saat kau mendapat mimpi-mimpi buruk itu, bagaimana perasaanmu??” Tanya Krystal.

“Takut tentu saja, dan bingung.” Jawab Baekhyun.

Angin malam yang dingin menusuk berdesir meniup rerumputan dan alang-alang, daun-daun di pohon bergemerisik, burung-burung yang masih berkeliaran mulai berterbangan pulang ke sarang masing-masing. Sekelompok awan abu-abu menutupi bulan dan bintang-bintang, menjatuhkan tetes demi tetes  air hujan.

“Ehm sunbae, kita harus kembali ke dalam. Sebentar lagi akan hujan besar.” Kata Krystal, segera berdiri dan membersihkan celana piyama-nya dari tanah dan rumput.

Baekhyun mengangguk, ia hendak mengatakan sesuatu pada Krystal, tapi kemudian sebuah suara erangan yang sangat keras dan teriakan orang-orang dari dalam sekolah, memotong kata-katanya.

Krystal dan Baekhyun saling berpandangan sesaat, lalu cepat-cepat berlari masuk ke dalam bangunan sekolah. Hujan sudah turun sangat deras sekarang di luar.

Setelah keluar dari ruang penyimpanan sapu, Krystal berlari menuju sumber keributan. Baekhyun masih mengikuti di belakangnya. Ternyata suara-suara itu berasal dari salah satu ruang kelas. Krystal menghentikan langkahnya beberapa meter dari makhluk besar yang sedang menghancurkan barang-barang milik sekolah.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Krystal merasa takut pada sesuatu selain mimpi buruknya…

TO BE CONTINUED


[A/N]: Maaf kalo gaje dan pendek atau  ngebingungin. Soalnya kalo diterusin lagi nanti jadi makin ancur dan ngebosenin :’D misterinya nanti mulai terpecahkan di part 3 dan seterusnya. yaudah makasih udah baca, rcl ya :D tunggu part 3nya! Dream Catcher Part 3: We Fight Monster & Unfold The Mystery

Song of the day:

13 thoughts on “[ Seri #1 ] Dream Catcher ; Part 2

  1. Ahh Akhirnya muncul jugaaaa xD duh kasihan Baekhyun jadi hantu padahal dia lagi ulangtahun hahahaa

    Ceritanya bagus banget kak, misterinya dapet, ‘sihir’nya juga dapet, konfliknya juga dapet hahaha

    Eh taemin mau ngerjain jiyoung? Jahat-_-
    ohiya aku bertanya-tanya kenapa sekarang eonni pake kata-kata nggak baku di percakapan, tapi nevermind itu nggak mempengaruhi cerita kok, cerita ini tetep bagus dan ofc aku nunggu kelanjutannya banget xD

    Keep Going Eonni :D

    • Munculnya agak lama soalnya aku banyak tugas sekolah :’D kkk. Tapi baekhyun jd hantu cuma sementara kok hohoho /.\

      Sebenernya itu aku pake bahasa ga baku buat ngebedain pas mereka lagi ngomong formal sama pas lagi ga formal aduh ga taulah bingung(?) X’D
      kkkk makasih udah baca ya saeng *0*)b tunggu aja nextnya~

  2. author aaa dikau lama sekali melanjutkan nya:’)) kirain gk dilanjutin/? . Tapi keren sih xD . figjting buat seterusnya~ jgn lama2 ya nnt guenya kangen/?

  3. aaaaaah,, pas muncul di part2 ,,trnyata baek jd hantu :( hantu imut (?/) ^_^ si tetem mau jail sm jiyoung yh? jahat loe bang XD … smoga nnti soojung bisa nemuin raga baek yh -_- biar dia gk jd hntu truss :/

  4. aaahh demi apaaa ff nya keren sekaleee thoorr :o
    demi apa aku baru nemu ff ini dan langsung sukaa>,< ayoo thoor lanjutkaaan XD

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s