[Freelance] Summer

largeb

Title : Summer
Author : Shaza (@shazapark)
Cast(s) : Choi Sulli & guess it!
Genre : Romance, Fluff
Rate : T
Length : Ficlet (900+)
Disclaimer : GOD (The casts are belong to God, but the fic is mine. Even if this fic is so absurd, but the FF still MINE. Everything is just my imagination.)
© Spark . 2014

I already publish this fict in another blog with the same title and author.
No plagiarism please. If you don’t like the casts, just don’t read it. Ok?
This fict is dedicated for all Giant Babies. Hope you like it!


Suara gaduh festival sekolah di siang ini membuat kepalaku semakin pusing. Matahari yang seolah bersinar tepat di atas kepala membuat rambutku kian mengusam. Barusan Soo Jung pergi meninggalkanku, alasannya adalah toilet. Cih, padahal aku tahu itu hanyalah omong kosong.
Bisa kubayangkan, sekarang ia sedang menikmati minuman dingin di kelas, bersama kekasihnya. Aku tahu itu. Teganya dia meninggalkan aku menjaga stand festival sendirian. Menghela napas sejenak, mataku mulai bergerak-gerak memutari seluruh penjuru di depanku. Siswa-siswi sekolah menengah yang sedang berdesakkan, hanya itu yang kudapati.
Merasa stand milik kelasku sepi. Otakku seolah berkata “Jalan-jalan sebentar rasanya bagus juga.” Dan dengan pemikiran sesederhana itu, aku berani meninggalkan stand kelasku yang dipenuhi barang jualan.

Sebenarnya tidak ada baiknya sama sekali berjalan-jalan di tengah desaknya orang-orang, dan di bawah teriknya sinar matahari. Ya Tuhan, apa yang telah aku perbuat? Aku macam orang yang sedang mengoleksi peluh saja.

Tubuhku sedikit terhuyung ke belakang, ketika merasakan manusia-manusia yang saling berdesakkan itu menyenggolku. Dengan cepat, aku menyeimbangkan tubuh. Tepat disaat itu juga, aku dapat merasakan tangan kananku tertarik.

Aku memandang si penarik tanganku itu dengan mata yang disipitkan. Ayolah, aku sama sekali tidak marah atas kehadiran orang ini, hanya saja…

“Kau baik?” tanyanya dengan suara yang teredam oleh kepala boneka beruang. Aku memandangnya dari atas hingga bawah, setelahnya aku baru menyadari bahwa sosok itu sedang terbalut dalam costume boneka beruang. Hih, mau-maunya orang ini memakai costume itu, untuk apa?

Aku mendongak, memandang tepat ke arah kepala beruang, kemudian membuka mulut. “Jangan sekali-sekali berbicara padaku, badut beruang. Aku malu.” Ujarku antara memprotes, tetapi juga malu. Setelahnya aku melengos pergi, meninggalkan ‘entah-siapa-orang-yang-berada-di-dalam-costume-boneka-beruang-itu’.

Beberapa menit setelah insiden boneka beruang itu, aku berhasil melupakannya, dan lebih tertarik untuk memperhatikan kegiatan para siswa dan siswi yang sedang mendirikan stand makanan. Perutku telah menjerit minta diisi, melihat daging burger yang di masak di penggorengan oleh para siswa itu membuatku tergiur.

Aku lapar. Jemariku menyusur ke permukaan perutku yang rata, lantas membalikkan badan untuk kembali menjaga stand kelasku. Mengingat bahwa uang yang kubawa hari ini tidak cukup banyak, dan aku sudah terlalu lama menelantarkan stand.

Terik sinar matahari kian menyengat kulitku ketika aku kembali melangkah menuju stand milik kelasku. Mataku kembali mengarah pada sebuah boneka beruang yang berjalan di tengah-tengah kerumunan siswa dan siswi. Aku mengerutkan kening. Merasa janggal dengan kelakuan si beruang.
Bukankah sekarang musim panas? Apa ia tidak merasa gerah berada di dalam boneka sebesar itu? Mengangkat bahu acuh, otakku kembali teringat bahwa sekolahku memang sedang melakukan kegiatan mengenai perayaan white day pada tanggal 14 Maret, itulah mengapa stand-stand setiap kelas telah berjajar di sepanjang susur lapangan hari ini.

Aku melihat boneka beruang itu membawa balon berbentuk hati. Ia bersusah payah berjalan di tengah-tengah kerumunan orang, sementara aku sudah tidak peduli lagi. Kini aku telah terduduk tenang di dalam stand kelasku yang berlokasi tepat disamping kolam taman sekolah.
Sebenarnya aku sudah cukup tenang dengan terduduk diam di stand kelasku, sampai kedua mata besarku menangkap siluet beruang itu… berjalan menghampiriku dengan satu tangan menggenggam tali balon berbentuk hati. Aku memalingkan wajah, berusaha meyakinkan diri bahwa beruang itu tidak sedang berjalan menghampiriku.

Seperti orang bodoh, aku bersiul-siul tidak jelas. Mataku bergerak-gerak gelisah memandangi pepohonan rindang, sampai sebuah suara debuman keras yang bersumber tepat di depanku itu menyita seluruh perhatian para siswa. Mau tak mau aku menyentakkan kepala ke arah sumber suara.

Beruang itu. Aku mendapati beruang itu sedang tengkurap di tanah, satu tangannya tetap menggenggam tali balon dengan erat, seolah balon itu memang sangat penting baginya. Antara ingin tertawa dan marah, aku memandangnya. Rupanya ia terjatuh.

Hening melanda seluruh penjuru lapangan, perhatian para siswa kini telah teralihkan pada sosok boneka beruang itu. Aku mengerutkan dahi ketika merasa bahwa beruang itu bangkit dari posisi terjatuhnya, lantas melangkah menghampiriku. Aku mengerjap heran, kemudian aku dapat melihat tangan beruang itu terangsur ke arahku.

Balon berbentuk hati itu. Rupanya ia menyodorkan benda berbahan karet yang diisi angin itu ke arahku. Seluruh perhatian orang-orang saat ini hanya dapat membuatku malu. Hello, siapa yang tidak malu jika sedang berada di posisiku saat ini? Di beri balon berbentuk hati oleh badut? Oh, itu memalukan.

Aku menerima balon itu dengan pasrah, rasanya aku cukup iba pada beruang ini. Aku sudah tidak tega melihatnya terjungkal, dan  sekarang? Apa aku harus menolak balon pemberiannya? Well, meski aku masih tidak paham dengan maksudnya yang memberikanku balon berbentuk hati.
Hening masih setia memenuhi hawa siang ini. Terik sinar matahari seolah tidak peduli dengan keadaanku, ia tetap memancarkan sengatan panasnya, membuat peluhku semakin membanjir.
Tak lama, aku melihat tangan beruang itu meluncur ke atas, melepas kepala beruangnya dengan sekali angkat. Menampilkan sosok asli yang ada di dalam costume boneka beruang itu. Untaian poni hitam menutupi matanya. Aku terdiam sejenak, kemudian terbelalak setelah mengetahui bahwa sosok itu adalah seorang pria.

Ketika pria itu menyibak poninya ke samping, barulah aku sadar. “Chan Yeol-ah?!” jeritku tanpa sadar. Ya Tuhan, kenapa ia bisa berada di dalam boneka itu? Aku membekap mulut.
Pria itu tersenyum tipis, lantas berucap lembut. “Happy white day, Sayang. Semoga kita langgeng,” ia menarik pinggangku agar mendekat. Lantas mengurungku ke dalam pelukannya. Oh Tuhan, ia bahkan tidak peduli dengan tatapan-tatapan aneh para siswa yang menontoni kami. Dan lagi, ia tidak peduli juga dengan costume memalukannya itu, eoh?

Aku mengulas senyum, ikut-ikutan tak acuh terhadap penonton kami, lantas membalas pelukannya. “Happy white day too, Chan Yeol-ah.” Kudengar kekehan kecil yang meluncur dari sela bibir kekasih beruangku.
FIN
***
From Author: Gak jelas lagi… Oke, aku gak mau banyak bacot deh. Intinya, orang di dalem badut beruang itu adalah Park Chan Yeol. Inspirasi FF ini dapetnya dari gambar anime yang aku jadiin poster di atas, adakah yang pernah liat anime itu apa? Hehehe, entah deh.

Leave your comment please! Jujur aja, kalo FF ini aneh, tinggal bilang kok. Itu tandanya kalian tetap menghargai aku yang telah susah payah nulis ini :)
Makasih banyak yang udah mau baca ini! Oiya, adakah kalian yang suka sama pairing ChanLi? Kalo ada, kunjungin blog aku yuk >> Giant Babies Addict. Itu semua kumpulan fanfic tentang Chanyeol dan Sulli buatan aku, hehe.

56 thoughts on “[Freelance] Summer

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s