[Ficlet] I’m Lost Without You

picture by. Mr. Vampire, the pure blood ever after

Title.                                 I’m Lost Without You

Author.                             Alana

Main Cast.                       Huang Zhi Tao ( Zhizi) and Hyeri (Riri)

Genre.                              Angst/Romance/hurt/comfort…wtf !

Rating.                              T

Disclaimer.

Story belongs to my self based on an old story from my mother’s collection,

Cast, only God knows

Picture’s credit. Belongs to Mr. Pure Blood ( VirgiltheVampire)/I thinks I really lost you, Mr.Vampire!

***

This is my first story for FKI,  neomu gamsahamnida, Owner!

My name Alana, and basically I’m Baby. Writing and drawing is my hobby. And I hope you like my story.

O, please don’t hesitate to leave me feedback ! I would so love to know how I can improve my writing, as it doesn’t come naturally to me. Thank you so much! And Peace! Fight for Freedom!  Lol…

***

Burung-burung kenari bermain-main di pucuk pohon pinus. Mereka terlihat bahagia, bercengkrama melewati hari-hari sibuk di musim semi.   Matahari kebetulan sedang ramah, dia tersenyum santun diantara kesibukan awan-awan yang melintas di atas sana. Riri menatap dengan matanya yang sepi. Terkatung-katung dengan lamunannya. Sudah hampir setengah jam dia membiarkan dirinya tertegun pada waktu. Burung-burung itu telah menyita perhatiannya.  Mereka lucu, selalu riang dan mungkin tak pernah kesepian. Riri mendesah. Tangannya yang seakan rapuh itu kini menopang dagunya.

Padahal masih ada beberapa soal yang harus dia kerjakan. Hari ini adalah hari terakhir ujian nasional. Dan beruntung bisa melewati ujian ini dengan baik. Aku hanya menatapnya dari sini. Menekuni Riri ku yang teramat pucat. Sakitkah dia?  Beberapa hari lalu dia tidak masuk. Agh. Dia jarang sekali hadir. Mungkin karena kondisinya yang tidak sehat. Mataku mengikuti pandangnya. Dan aku tersenyum. 

Dia sedang bersandar pada pilar ketika aku berjalan melewati lorong-lorong sekolah. Matanya masih disibukkan dengan burung-burung kenari itu. Sesekali dia tersenyum. Indah sekali. Jantungku berdegub kencang.  Bukan pertama kali ini aku melihat dia tersenyum, tapi ini sungguh sangat istimewa. Mungkin karena dia sedang sendiri, mungkin juga karena aku ingin menyapanya dan suasana si sekolah sudah sepi. Hanya tinggal beberapa siswa saja yang masih tampak berkeliaran.  Dan aku begitu gugub.

“Kau belum pulang, Riri?” Sapaku lirih. Aku takut mengagetkannya. Dia menoleh ke arahku cepat, lalu tersenyum. Matanya berkilau indah, meski masih tergambar kabut di sana.

“Oh, Pak Guru Zhizi! Ya, aku belum di jemput. ” ujarmu merangkum senyum.

“Kau sedang melihat apa?”  Tentu saja aku tahu apa yang sedang dia lihat, tapi lidahku kelu, otakku macet ketika melihat senyumnya.

“Burung-burung itu. Bukankah mereka sangat menakjubkan. Maksutku tentang kehidupan mereka….” Sekali lagi aku melihat cahaya indah itu di matamu. Namun, aku sungguh tidak merasa kalau burung-burung itu istimewa, karena di sini kenyataanya aku melihat sesuatu yang jauh dari sekedar istimewa, yaitu dirimu, Riri.

“Sepertinya dari mereka ada yang sudah bertelur. Karena sesekali aku melihat ada yang sedang mencari sulur-sulur jerami untuk dibuat sarang beberapa hari lalu.”

“Benarkah? Apa kau begitu menyukai mereka?”  Aku berdiri di sisinya.

“Hm, sangat suka. Mereka sangat lucu. Terlebih bebas…” Nada suaramu terdengar berat di akhir kalimat. Aku merasa ada sesuatu di sana. Kulirik  parasnya dari ujung mataku. Dia masih manis dan lembut. Wajahnya begitu bening ditingkah angin-angin nakal.  Apa yang terjadi dengan dirimu, Riri?

“Mungkin beberapa hari lagi telurnya akan menetas..” Kau bergumam lagi tanpa menghiraukan diriku yang sedang mengagumi keindahanmu.

“Seandainya aku bisa bebas seperti mereka.” Kali ini aku beringsut

“Hm, apa kau merasa tidak bebas?” Tanyaku hati-hati. Aku sungguh belum memahami isi hatinya. Dia menunduk dalam hening. Agh, aku merasa bersalah dengan pertanyaanku .

“Pak guru Zhizi!” Panggilmu diantara gemerisik ranting-ranting pinus. Hampir tak terdengar. Aku masih menyimak kebekuannya.

“Apakah aku murid yang baik?” Lanjutnya sambil menatapku sebentar.

“Tentu saja! ” jawabku cepat

“Tapi aku sering absen dan nilaiku juga tidak bagus.”

“Itu tidak mempengaruhi kau sebagai murid yang baik. Maksudku, sebagai murid kamu memang sering absen, tapi aku mengerti dengan kondisimu. Dan nilai mu sebenarnya tidak terlalu buruk.”

“Aku menyesal kenapa aku harus seperti ini.”

“Seperti apa ?” Selidikku. Namun  dia hanya tersenyum. Menatapku gamang. Aih! Serasa aliran darahku berdesir kesetiap penjuru tubuhku.  Membuatku kehilangan keseimbangan. Sejenak berpegang pada pilar. Riri mengulum senyumnya.

“Apa kamu merasa tidak senang dengan dirimu sendiri?” Ujarku sambil menelan gugupku.

Kau tersenyum menerima penjelasanku. Toh, aku tidak pernah menghakimi murid-muridku seburuk itu. Mereka semua baik dan cerdas.  Tidak ada yang terlalu menyulitkanku selama ini. Hanya saja Riri telah menjadi pusat perhatianku. Dia sangat berbeda. Agh, tidak! Aku yang memiliki perasaan berbeda. Aku yang menyiksa diriku dengan perasaanku sendiri. Guru macam apa aku ini? Memiliki hasrat terselubung pada muridnya sendiri.

“Pak Guru Zhizi kenapa belum pulang?” Pertanyaan itu membuyarkan diamku.

“Masih ada yang harus aku kerjakan. ” dia mengangguk menerima jawabku. Lama menatapku, membuatku tertegun.

“Pak Guru Zhizi…”

“Hm,..!”

“Masih muda sudah menjadi guru.” Ujarmu tenang.

“Sebenarnya aku tidak terlalu muda. “Entah kenapa aku jadi tersipu. Dia membuatku salah tingkah.

“Pak Guru Zhizi tampan sekali, …” Dia menunduk sesaat setelah memujiku. Benarkah?  Aku meraba debar jantungku. Semburat merah tergambar di pipinya. Ah, dia manis sekali.

“Kau juga cantik.”  Balasku

“Benarkah?”  Dia semakin menunduk. Aku tak dapat meraih warna hatimu di sana.

Angin-angin sedikit kencang menerpa pohon-pohon pinus. Dia meliuk-liuk seperti sedang merayakan kegembiraanku.

“Agh, burungnya….!” Dia memekik khawatir.  Matanya terpaku lagi pada burung-burung kenari yang berterbangan.

“Apakah nanti telurnya akan jatuh?” Tanyanya padaku.

“Mudah-mudahan tidak. ” jawabku ragu.

“Kasihan jika jatuh. Mereka tidak akan menetas.” Wajahnya kembali pucat.

“Kau begitu khawatir tentang mereka.”

“Ya. Aku ingin mereka segera menetas.”

“Kenapa?”

“Karena aku sangat menyukainya. Maksudku tentang kelahiran. Bukankah setiap kelahiran adalah hal yang sangat ajaib ? Awal dari sebuah kehidupan. Bayi-bayi yang polos, mereka sangat indah.”

“Hm, ya…” Aku kagum dengan hatinya yang lembut hingga tak sanggup menimpali bahasa kasihnya.

“Pak guru Zhizi. Terima kasih sudah menemaniku. Sepertinya aku sudah di jemput.”

“O ya! Baiklah, sama-sama!”

Pelan-pelan dia mundur. Meninggalkan diriku yang masih bersandar pada pilar. Dia tersenyum, bertingkah seperti gadis yang anggun. Melambaikan tangan dan memutar badannya, menyisakan perih di hatiku. Dia sudah berlalu.

Aku menatapnya di kejauhan. Sebuah sedan hitam membawanya pergi. Aku seperti hilang naluri. Oug! Akankah perasaan ini menjadi nyata.

Kehilangan berita tentang Riri. Sudah hampir dua minggu dia tidak datang ke sekolah. Tidak ada kabar yang pasti. Aku menjadi gundah. Aku mengingat senyumnya dan itu membawa kegelisahan yang rumit untuk kujelaskan. Debaran di jantungku sudah tidak sama lagi seperti dulu. Ini aneh!

“Mina!” Panggilku pada teman sebangkunya. Gadis itu menghampiriku.

“Ada apa, Pak Guru Zhizi?”  Dia terlihat muram.

“Apa kamu tahu kenapa Riri tidak masuk?”

“Jadi Pak Guru Zhizi tidak tahu ?”

“Tahu apa “

“Tentang Riri. Dia sudah beberapa hari ini koma di rumah sakit. Dia kritis karena kanker darah yang dia derita. “

“What!” Aku seperti tersambar petir. Mataku menghujam bumi tanpa ampun, dan ribuan ton beban seakan bertumpu di kepalaku. Dadaku terasa sesak karena paru-paruku seakan-akan terisi penuh oleh udara.

“Ya. Keluarganya sudah pasrah, mungkin ini adalah koma yang terakhir yang harus dia lalui. Ini terlalu berat, Pak! Kasihan Riri. Dia menderita sekali. “

“Hm, iya…” Aku sudah tidak bisa berpikir lagi. Tubuhku terasa melayang karena tak sanggup menahan keterkejutanku.

“Baiklah, terima kasih Mina!”

Seiring dia menjauh, kakiku pun melangkah dilorong-lorong sepi koridor sekolah. Seperti ada yang tercabut dari hatiku.  Aku menyimaknya sendiri. Menatap ke arah luar, pada pohon-pohon pinus itu. Gerimis mulai hadir. Sejuk, namun terasa penat dihatiku.  Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakannya. Semoga saja ada keajaiban seperti tentang kelahiran yang dia agungkan. Seperti burung-burung kenari yang bisa membuatnya tersenyum.

Di atas sana, diantara gemerisk ranting-ranting pinus, beberapa anak burung kenari sedang belajar terbang.  Mataku terpaku di sana. Ririku, semoga keajaiban kelahiran membawa kesembuhan untukmu. Jangan meninggalkan aku seperti ini, karena sepertinya aku merasa hilang tanpa kehadiranmu di sini.  

End

3 thoughts on “[Ficlet] I’m Lost Without You

  1. Pak Guru ZhiZhi….
    entah kenapa menyita perhatian saya euuuy unyu unyuuu
    ini fictnya pakai sudut pandang pertama jadi kayak ringan gitu menurut saya…
    endingnya juga bagus
    yeaah :)

    • Kamu orang sunda euuuy! Basana meuni sunda pisan. Makasih atuh, udah baca! Ya debut pertama, yang enteng2 sajah! Muga2 berkenan. Harusnya Zi, bukan Zhi. Tapi sayah bikin Zhi ajah?biar seru! Ada hhhhhnya….tenkyu ya, thia!

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s