[SONGFIC] DECEMBER

Image

Author : deerdewi
Rating : G
Length : Songfic
Genre : Angst
Cast :
–          Lee Jonghyun
–          Kwon Yuri
Disclaimer : All characters belong to God. Plot is mine. The story is mine too

Note :
ANNYEONG ^o^/
FF ini adalah FF songfict pertama yang saya buat. Mian kalo banyak kekurangan ^^
Sebelumnya ff ini sudah di post di blog pribadi saya dan pernah saya kirim dua tahun lalu di salah satu blog CN Blue hehe maaf kalo udah ada yang pernah baca ^^

Theme Song : 4Minute – December

CHECK IT OUT ^^

Kenangan, mungkin hanya itu artinya bagimu namun bagiku semua itu adalah keajaiban. Cinta tak mesti diucapkan, Cinta seharusnya dibuktikan…

Do you remembered the December I was with you….

============================DECEMBER==========================

—Yuri POV—
Aku memeluk tubuhku dengan kedua tanganku berharap akan sedikit hangat dimalam bersalju yang sangat dingin ini. Kuhempaskan tubuhku keatas kursi taman yang biasa kududuki bersamanya. Tiba-tiba pikiranku kembali ke sore itu, sore hari yang penuh dengan kenangan.

—-Flashback—-

Hajimari wa daijesuto
[it began with a digest so]
(Ini dimulai dari mengerti)

Sore itu kota Seoul terlihat sangat mendung. Langit berubah gelap dengan cepat meski hari belum terlalu malam.
“Astaga gelap sekali, apa akan hujan?” tanyaku pada diriku sendiri.
“Bagaimana akan turun hujan sementara ini musim dingin?” sergah seseorang disebelahku tertawa.
“Kenapa tertawa? Habisnya langit begitu gelap. Wajar aku berpikir begitu” kataku mengerucutkan bibirku.
Aigo baiklah aku tidak akan menyela pikiran anehmu” ujar laki-laki itu mengangkat kedua tangannya seakan menyerah. “Siapa namamu agassi?” tanyanya tiba-tiba.
“Yuri, noe?” tanyaku.
“Jonghyun” ucapnya mengulurkan tangan mengajakku berjabat tangan.
“Kurasa kita bisa jadi teman baik” kataku tersenyum.
“Tergantung, aku sanggup tidak memahami isi pikiranmu yang sepertinya tidak normal itu. Hahaha” ia terbahak mengejekku.
Ishhh” aku memukul lengannya kesal.
“Senang bertemu dengan gadis unik sepertimu” ia tersenyum sangat manis dihadapanku hingga membuat pipiku terasa panas.

***

kara hini hini sing and go
[day by day it was sing and go]
(Hari demi hari terlewati seperti nyanyian dan berpergian)
 
Setelah perkenalan itu setiap hari Jonghyun mengajakku pergi bersama, ia pandai sekali bernyanyi. Ia sedikit kaku dengan lelucon-lelucon yang kulontarkan, tapi ia setidaknya selalu mencoba untuk tertawa meskipun leluconku sama sekali tidak lucu. Aku suka sekali suaranya ketika bernyanyi terasa lembut dan menenangkan. Ia selalu bercerita tentang hidupnya. Dan kurasa aku mengaguminya. Mengagumi setiap detil tentang dirinya, mengagumi setiap kata dari ucapannya, mengagumi setiap inci tubuhnya. Wajah tampannya, garis wajah yang tegas menggambarkan betapa kerasnya dia. Senyum lembutnya yang sangat hangat seperti sinar mentari yang bersedia menghangatkan bumi menggambarkan betapa hangatnya sifatnya. Segalanya tentang dia aku menyukainya.

nozomi motenai keredo koi wo nori koete
[it soon became more than a crush]
(Hubungan ini dengan cepat berubah menjadi lebih daripada sekedar mengagumi)

***
“Yeoboseo” ucapku saat mengangkat ponselku yang berbunyi. “Ahh Jonghyun, waeyo?” tanyaku pada orang disebrang telpon itu. “Hemm geurae” ucapku memutuskan sambungan telpon. “Aigo Jonghyun mengajakku pergi keluar malam ini” kataku pada pantulan diriku dicermin. “Apa yang harus kukenakan ya?” segera saja kuacak-acak isi lemari dan berharap menemukan sesuatu yang pantas untuk dikenakan.

Tak lama bersiap Jonghyun tiba di rumahku. Ia sangat tampan dengan mantel hitam tebal miliknya dan topi rajutan abu-abu di kepalanya.
“Kau siap?” tanyanya. aku mengangguk seraya menagambil mantel biru tebalku dan syal merah serta penutup telinga milikku. Ia menggenggam tanganku dan menaruhnya disaku mantel. “Dingin tidak?” tanyanya padaku.
“Sedikit” kataku malu-malu. Malam ini salju turun, sangat indah.
“Aku suka sekali bulan Desember” ucapnya tiba-tiba.
“Wae?” tanyaku.
“Karna pada bulan Desember aku bertemu dengan gadis cantik sepertimu, dan aku yakin Desember ini aku pasti mendapat kebahagian” ucapnya begitu yakin.
“Huh? Narsis sekali” kataku membuang muka.
“Hahaha kau seprti baru kenal diriku” katanya.
“Memang iya, baru satu minggu” sahutku.
“Tapi kau kan selalu mengerti diriku” balasnya menjulurkan lidahnya. Kukerucutkan bibirku menanggapinya dan ia hanya tertawa. “Yak kita sudah sampai” ujarnya menarik tanganku untuk duduk di kursi taman tempat pertama kali kita berjumpa. Taman ini sangat indah. Ada beberapa hiasan lampu-lampu natal di pasang di pohon-pohon sedang berkelap-kelip. Bintang pun terasa sangat indah menghampar dilangit menemani sang bulan yang sedang memandangi kami. Ia menggenggam tanganku dan diletakkannya didadanya. Kurasakan debaran dadanya yang tak teratur.
 
Kawaita sora kimi ga mai furu
[you fluttered down from the winter sky]
(Kau berdebar dibawah langit musim dingin)
 
“Kau bisa merasakannya kan? Kau bisa merasakan betapa berdebarnya dadaku berada didekatmu?” tanyanya serius. “Aku tidak pernah bertemu dengan gadis sepertimu. Entah mengapa hatiku terpaku padamu. Aku merasa tidak bisa lari darimu, aku tak bisa lari dari perasaan ini. Kau menyita hatiku dan hanya kau yang bisa” ujarnya menatap mataku lembut. “Jebal neko haja (Tolong jadilah milikku)” katanya tiba-tiba.

DEG

Jantungku terasa berhenti berdetak, tubuhku terasa kaku, tak terasa air mata menetes ke pipiku. “Yuri, kau kenapa?” tanyanya khawatir seraya menghapus air mata yang jatuh ke pipiku dengan ujung ibu jarinya. “Kau tidak suka?” tanyanya sedikit sedih.
Aniyo, nan neomu haengbokhe (tidak, aku  sangat senang sekali)” kataku memeluknya. “Aku mau jadi milikmu” ucapku merasakan debaran jantungnya yang mengalun seperti lagu cinta terindah yang pernah diciptakan di dunia ini. Hangat tubuhnya seakan menghipnotisku untuk tidak melepaskannya. Ia milikku sekarang dan aku miliknya.

yorisou tte kokoro mai odoru
[my heart dance when we huddled closer together]
(Hatiku seakan menari ketika kita bersama)

—-Flashback End—-

Mengingat segala kenangan manisku bersamanya membuatku ingin tertawa. Aku yakin aku bisa tertawa, hingga setetes air mata jatuh dari sudut mataku.
“Yuri babo! Kenapa kau menangis babo?!” ucapku bersusah payah untuk menghentikan tangisku.

Namida ni nureteta koro knatan ni wareta
[I was able to laugh so easily back then face drenched in a tears]
(Aku sanggup untuk tertawa dengan mudah mengingat kenangan itu lalu air mata membanjiri wajahku)

Ani!! Aku tidak boleh menangis! Aku sudah janji akan tegar” ucapku mengarahkan tanganku tepat kedepan dadaku. “Aku sakit, aku kesepian, aku menangis, apa kau peduli? Apa kau bisa merasakan rasa sakit ini? Apa kau tau bagaimana rasanya?” kutundukkan wajahku pasrah akan air mataku yang terus membanjiri wajahku. Aku tak bisa berhenti menangis, rasanya sangat sakit. Meski aku berusaha tegar, meski aku berusaha menyembunyikan sakitnya hatiku namun rasanya sangat menyeramkan harus membayangkan kembali saat aku harus kehilangan orang yang kucintai.

ushinau kowasa ni kokoro itsumo kakushiteta
[though I had always hid from my heart how scary it was to lose someone]
(walaupun aku selalu menyembunyikan hatiku, tapi rasa kehilangan seseorang sungguh menakutkan)

—Flashback—

Yeoboseo” jawabku pada orang diseberang telponku. “Ah geurae, waeyo? Pentingkah?” tanyaku. “Ne akan datang” ucapku menutup telpon.

DEG

Perasaanku sangat aneh, aku merasa sepertinya Jonghyun akan meninggalkanku. Entah mengapa aku merasa aku akan kehilangan dia. Kusingkirkan jauh jauh perasaan itu dan berharap itu hanya sekedar perasaan tak berarti.

Kulangkahkan kakiku menuju seorang namja bermantel tebal yang duduk di kursi taman tempat favorite kami.
“Jonghyun~ah” sapaku padanya. Ia menoleh dan tersenyum. Namun senyumnya kali ini sangat berbeda. Entah mengapa aku melihat sebuah kepalsuan dalam senyumnya.
“Hey Yuri” balasnya menyapaku.
“Ada apa? Kenapa tiba-tiba menyuruhku datang?” tanyaku tak sabaran. Ia menggenggam tanganku seperti biasanya namun mengapa rasanya sangat berbeda dari sentuhannya yang biasa.
“Terimakasih untuk semua yang telah kita lalui bersama” ucapnya menundukkan wajahnya.
“Maksudmu?” tanyaku. Saat ini hatiku tak menentu kenapa rasanya sangat sakit, kenapa rasanya air mata ini ingin jatuh.

Muki aeba koboreru namida
[when I face you tears spill down by cheeks]
(Ketika aku berhadapan denganmu air mataku jatuh ke pipi)

“Aku rasa kau tak pernah mencintaiku, aku rasa kita tidak cocok. Selama ini kuberikan seluruh hatiku untukmu tapi kau… entahlah aku benar-benar merasa kau tidak mencintaiku” kupandangi wajahnya. Matanya menampakkan keseriusan saat mengucapkannya.
“Apa maksudmu? Kau tau aku selalu mencintaimu” ujarku mengharapkan sebuah penyesalan dari kata-katanya barusan.
“Tapi kau tak pernah mengatakannya. Setiap kali aku mengucapkan kata cinta, setiap kali kukatakan betapa besarnya rasa cintaku padamu kau hanya menjawab ‘hem dan aku juga’ apakah sulit mengatakan cinta padaku?” tanyanya padaku.
“Apakah itu sangat penting bagimu? apakah ucapan ‘aku mencintaimu’ menyatakan bahwa aku mencintaimu? Lalu apa artinya setiap perlakuanku padamu selama ini?” tanyaku padanya. Air mataku mengalir deras melewati pipiku. Aku menunduk tak mampu menatap wajahnya.
“Aku hanya namja yang tidak sempurna dan tidak ada seorang pun yang mencintaiku” ucapnya melepaskan genggaman tangannya.
“Kau punya seseorang yang selalu mengerti dirimu, kau punya seseorang yang selalu peduli padamu, kau punya aku. Apa kau tidak bisa merasakan betapa besarnya cintaku padamu?” tanyaku padanya. Suaraku bergetar, aku takut…. Aku takut sekali kehilangannya. Aku takut sekali ia meninggalkanku. “Bukankah kau pernah bilang kau hanya menginginkan diriku dan kau akan selalu bersamaku selamanya? Apa kau lupa janji itu? Apa kau anggap ucapan itu hanya rayuan?” kujejali ia dengan banyak pertanyaan yang terlontar dari mulutku.

Zutto issho tte itta desho?
[Didn’t you tell me you would be my side forever?]
(Bukankah kau mengatakan padaku kau akan selalu berada disampingku selamanya?)

“Apa ini terpaksa?” tanyanya pelan.
Ani, aku tidak pernah terpaksa mencintaimu. Aku suka dirimu apa adanya” jawabku.
“Itu maksudku!! Kau hanya menyukaiku bukan mencintaiku” ia berdiri dan membelakangi tubuhku berkacak pinggang.
“Aku suka dirimu, aku mengagumi dirimu, aku menyayangimu, aku membutuhkanmu, hal itu membuatku mencintaimu. Kau ini bodoh sekali sih! Dasar namja babo!!” bentakku dengan suara gemetar. Aku kesal, aku sedih, dan aku sakit. ‘Kenapa ia tak bisa merasakan cintaku? Kenapa ia tak bisa menyadari betapa besarnya cintaku padanya? Kenapa?’ pikirku. Kuremas keras celana yang kukenakan untuk melampiaskan rasa sakitku. Aku merasa hatiku tak mampu menampung rasa sakit ini.
Mianhe” ucapnya berjalan meninggalkanku yang masih menangis terduduk di kursi ini.
“Jonghyun~ahh” panggilku lemah namun ia sama sekali tak menoleh. Kepalaku pusing, aku tak bisa mencerna kata-katanya. Aku sakit, sangat sakit. Kutekuk kedua lututku dan memeluknya erat dengan kedua tanganku. Kutenggelamkan kepalaku diatas lututku dan mengeluarkan rasa sakitku dalam sebuah tangisan. Ya, tangisan mengaduh. Mengaduh karna orang yang kucintai harus pergi meninggalkanku tanpa alasan yang jelas di bulan Desember. Ya bulan Desember, bulan pertama kali kami bertemu.

Kawaita sora kimi ga mai chiru
[you disappear into the winter sky]
(Kau menghilang dihari musim dingin)

—-Flashback End—–

Aku benar-benar merasa bodoh, kenapa aku masih menangis untuk  seperti dia!! Kenapa aku tidak bisa melupakannya?! Aku mencoba menghapusnya dan berusaha tersenyum, namun rasanya sulit sekali. Memoriku bersama Jonghyun terasa begitu dalam, begitu hangat, dan begitu berarti. Aku lemah, aku yeoja rapuh yang tidak kuat berdiri sendiri dengan kakinya. Aku bodoh karna mencintai namja bodoh seperti Jonghyun.

tokeru omoide ga setsunakute
[my melting memories painful]
(Lelehan memoriku terasa sangat menyakitkan)
 
Afureru omoi wo delete
[Delete my overflowing memories]
(Mencoba menghapus semua limpahan memoriku)

TES TES~

Salju turun dengan sangat indah sama seperti saat aku pertama bertemu Jonghyun. Sama seperti saat pertama Jonghyun memintaku jadi miliknya.

TES TES~

Air mataku kembali mengalir. Kueratkan pelukan tanganku pada tubuhku.
“Kenapa rasanya sangat dingin?” tubuhku menggigil karna hujan salju yang menerpaku. Tidak ada lgi kehangatan disebelahku. Tak ada lagi orang yang akan bertanya ‘apa kau kedinginan?’. Tak ada lagi orang yang akan memelukku ketika aku kedinginan. “Sanggupkan aku percaya pada namja lain setelah ini? Bagaimana caraku melanjutkan hidupku ketika mataku hanya bisa melihatmu? Jonghyun babo” kutekuk kedua lututku dan membenamkan kepalaku didalamnya sama seperti saat Jonghyun pergi meninggalkanku.

Furueru samusa ni mata nekumori kure nakute
[without warmth again I shiver from the cold]
(Tanpa kehangatan lagi aku menggigil kedinginan)
 
ashita otoko wo shinjiru ki ni nare nakute
[I don’t feel as if I can believe in the boy I once loved]
(Aku tidak merasa seperti aku bisa mempercayai laki-laki yang pernah kucintai)

“Ingatkah kau bulan Desember? Bulan saat pertama kali kita bertemu dihari bersalju? Bulan penuh kenangan yang menjadi kesukaanmu?” tanyaku pada diriku sendiri. “Pertanyaan bodoh, pasti kau sudah tak ingat kan? Pasti sekarang kau sudah bahagia dengan yeoja lain, iya kan?” tambahku

Anata to ita December konayuki kara remember
[Do you remembered the December I was with you because of the powdery snow]
(Kau ingat bulan Desember saat aku bersamamu karena butiran-butiran salju)

Kuhentikan tangisku dan menghapus air mata yang turun dari sarangnya dan mengotori pipiku.

SWING~

Angin berhembus menambah dinginnya malam ini. Kutengadahkan kepalaku menatap langit tanpa bintang.
“Kau juga kesepian ya?” tanyaku pada bulan yang berpendar terang di langit sepi bintang.

SWING~

Angin kembali berhembus menerbangkan rambut-rambutku yang tergerai. “Bukankah manis ketika kau muncul bersama bintang-bintang? Pasti terasa ramai dan lebih indah jika ada yang menemani, iya kan?” tanyaku kembali. Aku tersenyum kecut menatap tanah bersalju dibawah kakiku. “Aku merindukanmu babo! Apa kau tidak merindukanku?” tanyaku lagi-lagi pada benda mati yang tak mampu menjawabnya.

Tachi domareba stto fuyu no kaze ga kaoru
[if I pause for a moment the winter wind smells sweet]
(Ketika aku berhenti sejenak, angin musim dingin terasa sangat manis)
 
hakanakutemo I miss you December
[it maybe only fleetingly but I miss you]
(Mungkin itu sudah berlalu tapi aku merindukanmu)

Aku bangkit dari dudukku dan menatap jam yang melingkar manis di lenganku.
“Sudah waktunya aku menghapusmu” ucapku mantap. “hidupku harus terus berjalan meskipun kau tidak ada disini bukan?” tanyaku pada bayangan Jonghyun di kepalaku yang mungkin tak akan pernah ada lagi dihadapanku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk berubah, aku tidak boleh menangis, aku tidak boleh lemah, aku harus terus hidup. Aku tidak akan pernah mengambil jalan pintas karna rasa kecewanya hatiku pada Jonghyun. “Ini sudah berakhir bukan? Kurasa kau tak akan pernah ingat kisah kita, kurasa kau tidak akan pernah peduli lagi pada apa yang terjadi pada kita dulu. Kau menghilang, dan aku pun akan berusaha menunjukkan padamu aku akan baik-baik saja hidup tanpamu” kulangkahkan kakiku meninggalkan tempat ini. Tempat penuh kenangan antara diriku dan Jonghyun. Tempat yang mempertemukanku dengan Jonghyun, menyatukanku dengannya, serta tempat dimana dia meninggalkanku begitu saja. Aku tidak akan pernah datang lagi kesini, aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Jonghyun hanya akan jadi kenangan bulan Desemberku. Meskipun dia lebih dari sekedar itu, aku akan berusaha menganggapnya seperti itu.

Dameji wo uketemo sugu down sezu ni
[though I might take some damage without being down]
(Walaupun aku mungkin akan terluka tanpa harus terpuruk)
 
kaeru yo take a chance
[I’ll change and take a chance]
(aku akan berubah dan mengambil kesempatan)

kienai yo kodou mitomeru yo I am lost
[let this beating heart never disappear, I’ll accept it or I am lost]
(Membiarkan detakan jantung ini tak pernah hilang, aku akan menerimanya atau aku kalah)

****

—Jonghyun POV—

Kupandangi punggungnya yang semakin menjauhi kursi itu. Ia menoleh sebentar lalu melanjutkan kembali jalannya. Kudekati kursi itu dan menyapu jejak kehadirannya.
Mianhe Yuri~ah mianhe” kutumpu kepalaku dengan kedua tanganku yang kuletakkan diatas pangkuanku menangis. Ya, aku menangisi Yuri, aku menangisi yeoja yang telah kusakiti hatinya, yeoja yang telah mengisi hidupku dan kutinggalkan begitu saja. “Aku memang bodoh Yuri, aku bodoh” ucapku lagi. “Pertemuan kita bukanlah pertemuan biasa. Ingatkah kau saat kau bicara setiap keanehan yang ada di kepalamu? Ingatkah kau betapa cerewetnya kau padaku? Ingatkan aku untuk makan, ingatkan aku untuk menjaga diri, memberiku semangat sebelum memulai aktifitas, bahkan memberiku sebuah senyuman lembut di kala aku sedih bahkan marah? Itu sebuah keajaiban Yuri~ah, kau adalah keajaiban bagiku” ucapku berusaha menahan tangisku. “Jonghyun babo! Kau ini namja jangan menangis babo!!” rutukku pada diriku sendiri. “Yuri~ah Ingatkah kau pada bulan Desember?” kusandarkan punggungku pada kursi taman itu. “Aku rindu padamu” ucapku menghembuskan nafas panjang.

Meguri aeta koto ga it’s miracle
[the fact that we met, it’s a miracle]
(Kenyataannya pertemuan kita adalah sebuah keajaiban)
 
Unmei ni hanesu toiki
[a sigh that seems to let go of destiny]
(Sebuah keluhan tampaknya harus dilepaskan pada takdir)

Kita tidak akan tau betapa pentingnya seseorang sebelum kita kehilangan orang itu. Dan ketika hari itu datang, hanya akan tersisa penyesalan tanpa kesempatan kedua…

TAMAT

8 thoughts on “[SONGFIC] DECEMBER

  1. Pertama gw suka hujan, gw suka bulan Desember karena di situ gw bs masang pohon Natal di rumah gw. Ceritalu sendu . Sejalur sama musimnya. Ganbatte!

  2. Mau sonfic, ficlet,drable gw mSih sanggub baca asal jgn yg brsambung, waduh nyerah dah!
    Mau gagal pa ga gw trtarik sm syair lagunya yg bhs jepang. Tuh Jonghyun cnblue bukan ya?

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s