One-Sided Love (Part-4)

picanta_psd820775_by_picanta-d7ke1w0

Tittle : One-Sided Love
Length : Chaptered
Rating : T
Genre : Romance, Drama
Author : yhupuulievya
Cast : Xi Luhan, Kim Jongin, Choi Ahri, Song Hera, and many more
Disclaimers : This Fanfiction is absolutely mine but the cast belong to themselves. Don’t ever plagiarize it.
Note : If you have some questions, feel free to mention me at @yhupuulievyaa

Apakah kau pernah berfikir, mengapa kita sering jatuh cinta pada orang yang salah?
Karena, kita tidak bisa memilih kepada siapa kita ingin jatuh cinta.
Hati, keinginan dan logika memang sering tak sejalan. Lalu mengapa Tuhan mempertemukanmu dengannya?
Tentu saja, Karena Tuhan mempunyai rencana lain yang tak pernah kau ketahui.
Everything happens for reason, right?

 

CHAPTER FOUR
(first Love)

Nyonya Han memasuki rumah mewahnya dengan tergesa-gesa, ia tampak kesal bukan main. Dibelakangnya terlihat Luhan yang berjalan dengan malas
“Aissh, aku harus segera menyuruh Bibi Yu untuk membereskan kamar untuknya”

Setelah itu, Nyonya Han langsung berlari meninggalkan Luhan yang menatapnya datar.
“Bibi Yu!” Nyonya Han memanggil ketua pelayan di rumahnya dan dalam sekejap bibi Yu sudah ada disana

“Ah, ne nyonya”

“Tolong kau bereskan kamar di sebelah Luhan sekarang ya, Menantuku akan segera pindah kesini”

Nyonya Han tersenyum manis namun bibi Yu terlihat begitu kaget, seingatnya Luhan belum menikah sama sekali
“Baik nyonya” Bibi Yu segera beranjak kesana diikiuti dengan beberapa pelayan lainya

“Ah iya, tolong kamarnya kau dekor semanis mungkin ya dengan dominasi warna pink”

“Nde, arraseumnida”
Mereka memberi hormat pada nyonya Han lalu bersiap untuk menjalankan tugas mereka

“Umma, apa yang akan kau lakukan?” Luhan bertanya pada ummanya dengan tatapan heran

Nyonya Han yang baru saja duduk santai di sofa kini beranjak dan memukul anak kesayangannya menggunakan tas kecil miliknya
“YAA! Kau masih bertanya huh? Tentu saja umma akan mengajak Ahri pindah kesini hari ini juga”

“Umma..” Luhan tampak ingin menyanggahnya namun Nyonya Hanri kembali berbicara

“Luhaney apa kau masih tidak sadar, hmm? Kai itu sepertinya menyukai Ahrimu, nak. Kau harus bergerak cepat”

“Umma..” lagi-lagi Umma Han kembali menyela kalimat Luhan yang belum selesai

“Aissh, umma harus kerumah Kyuhyun sekarang lalu mengadukan tingkah anaknya. Seenaknya saja mencium calon tunangan orang. Dengar sayang, Kaulah calon tunangan Ahri bukan Kai, meski dia sahabatmu kau tetap tidak boleh membiarkannya mengambil apa yang menjadi milikmu. Arraseo?”

Luhan hanya menghela nafas
“Istirahatlah nak, umma akan mengunjungi Kyuhyun dulu..”

Umma Han segera beranjak darisana lalu
“Ah tidak-tidak, aku harus menghubungi Ahri dulu” ia kemudian mendial nomor Ahri lewat ponselnya
Luhan tampak diam mematung di ruang TV. Apakah ia harus pasrah? Tapi, gadis yang kini ada dipikirannya hanyalah Song Hera bukan Choi Ahri.

Ah, berbicara tentang Song Hera, Luhan sadar bahwa ia harus menemui gadis itu nanti malam. Ada beberapa hal yang harus ia tanyakan padanya.

***

Hera’s apartmen . 8PM

Luhan menatap gadis di hadapannya dengan tatapan yang sulit di artikan dan gadis itu, Song Hera, merasa tak nyaman dengan sikap namjanya
“Kau kenapa?” akhirnya ia memulai percakapan setelah tadi mereka saling diam, membuang waktu yang berjalan dengan sia-sia

“Apa kau menyukai Kai?” Luhan bertanya to the point dan itu membuat Hera sontak membulatkan matanya

“Apa maksudmu?”

“Saat di sekolah tadi, kau berlari padanya bukan padaku. Kau menyukai Kai?” Kini Luhan menatap Hera lebih dalam

“Aku..”
Semakin Luhan menuntut jawabanya, gadis itu semakin teringat kejadian di masa lalu, sebuah kejadian yang tak pernah ia lupakan sampai detik ini

[FLASH BACK]

6 Tahun lalu

Seorang siswi Sekolah Dasar kini berjalan dengan lambat. Sepertinya sedari tadi ia terus menundukan kepala. Di sekitar sana siswa lainya berbisik membicarakan gadis tersebut
“Apa kau yakin ibunya seorang wanita bayaran?” seorang gadis berbisik pada teman yang berdiri di sebelahnya

“Apa yang kau maksud wanita bayaran? Panggil saja ibunya pelacur. Itu lebih simpel” sanggah yang lainya

“Itu benar bahkan sekarang ibunya menghilang entah kemana.. selain itu aku dengar ayahnya hanyalah seorang penjudi dan sering mabuk-mabukan” gadis berambut pendek kini bergabung untuk bergosip

“Memalukan sekali, lalu darimana dia mendapatkan biaya untuk sekolah?”

“Apa dia juga menjual harga dirinya?”

“OMOOOOO!” Teriak beberapa siswi yang lainnya

Gadis yang menjadi topik pembicaraan itu dengan jelas mendengar apa yang mereka katakan. Itu memang melukai perasaannya namun tak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain diam
“Itu … mengerikan. Untung ini tahun terakhir kita. Setelah lulus aku harap aku tidak akan bertemu gadis dengan latar belakang sepertinya”

“Aku juga!!” Mereka semua berkata dengan serempak.

Song Hera hendak memasuki kelas namun beberapa murid perempuan kini menghadangnya
“Kau mau kemana? Masuk kelas kita? Tapi kau tidak pantas sama sekali untuk berada disini”

Song Hera hanya diam
“Bagaimana mungkin anak pelacur sepertimu berada di sekolah elit seperti ini, huh?”

“Aku mendapatkan beasiswa oleh..”

“Beasiswa? Apa kau yakin kau tidak menjual dirimu, Hera-shi?”

“Hahahahaha” hampir semua murid disana lalu tertawa

“OMOOOO!! Lihat dia bahkan mengenakan kalung yang bagus Rin!”

Gadis bernama Rin itu kini mengambil Kalung yang dipakai Hera secara paksa hingga terputus, ia melihat bandul kalung tersebut lalu berkata
“Kau mencurinya dari mana?” Rin menatap gadis didepannya dengan rendah

“Itu milik ibuku, tolong kembalikan” Hera hendak mengambil kalung tersebut namun beberapa teman Rin menahannya

“Ibumu? Bagaimana bisa ibumu membeli kalung sebagus ini? Ah.. benar! Diakan seeorang pelacur, kau ingin mendapatkan kembali kalaungmu? Ambilah..”

Rin mengarahkan tanganya pada Hera dan begitu Hera hendak mengambilnya Rin melemparnya pada Sunwa lalu dioperkan lagi pada Yuri dan terus seperti itu, membuat Hera belari kesana kemari sampai kalung itu kini dilemparkan lagi pada Rin

“Kau mau ini?” Setelah kalimat terakhirnya Rin melemparkan kalung itu keluar jendela sehingga bandul kalung itu sedikit tergores begitu mendarat di lantai sekolah yang keras

Hera segera berlari keluar kelas diikuti Rin dan teman-temannya, kini bandul kalung tersebut malah dijadikan mainan oleh siswa laki-laki. Ditendang kesana kemari seperti sebuah bola sepak. Hera menitikan air matanya, itu adalah satu-satunya kenangan yang ia miliki dari ibunya. Sementara ia menangis siswa lainya bersorak ria dan menertawakanya

“APA KALIAN BISA BERHENTI MEMBUAT KEGADUHAN?”
Disana berdiri seorang namja dengan wajah mengantuknya. Ia berjalan dengan santai, namun siswa lainya sontak menghentikan semua aktivitas mereka, entah mengapa namun mereka jelas terlihat ketakutan.

“Aku sedang tidur di kelas sebelah dan tawa kalian begitu menggangguku”

“Aah mi mianhaeyo” kata Rin dan mereka semua langsung berhambus ke kelas meninggalakan Hera yang masih menangis
Namja itu kini mengambil bandul krystal yang tergeletak di lantai, seperti barang yang tak berharga sama sekali.

“Ini milikmu?” namja itu bertanya pada gadis yang kini masih menundukan kepalanya dan menangis

“Kalau kau tak menjawab, aku anggap ini milikmu”
Namja itu memegang tangan Song Hera dan meletakan bandul krystal itu di telapak tangannya setelah itu ia pergi begitu saja.
Hera menghentikan tangisannya, meski matanya masih tampak berkaca-kaca. Ia melihat bandul krystal milik ibunya dan menggenggamnya erat, merasa lega. Setelah itu ia melirik pada namja yang kini tengah berjalan meninggalkannya. Entah mengapa namun namja itu tak mengenakan seragam, sebuah kaos bolalah yang dipakainya. Song hera menatap punggung namja yang semakin menjauh itu, ia tersenyum lemah dan berusaha mengingat nama yang tertulis di belakang kaos yang dikenakan namja tersebut, tepat di atas nomor 88 tertera “ Kim Jong In”.

Setelah tahun kelulusan Hera tak pernah bertemu lagi dengan namja itu, ia dengar namja bernama Kim Jongin itu meneruskan sekolahnya diluar negeri . kehidupannya sejak saat itu mulai membaik, saat memasuki sekolah menegah pertama, beberapa penderitaanya mulai berkurang.

Suatu malam, saat ia berlari ketakutan dari ayahnya yang sedang mabuk, seorang anak laki-laki bernama Xi Luhan menyelamatkannya. Mebuat ayah yang begitu ia benci mendekam di penjara atas perbuatannya. Xi Luhan perlahan menjadi temannya dan memperkenalkan gadis itu pada Nyonya Hana, seorang pembisnis kenalan ibunya, seorang wanita yang kemudian menngangkat Song Hera sebagai anak karena kepribadianya yang baik dan cerdas. Seiring berjalannya waktu gadis itu menjalin hubungan dengan Xi Luhan dan saat memasuki Sekolah Menengah Pertama entah apa yang direncanakan oleh takdir namun melalui Xi Luhan pula, ia kembali di pertemukan dengan Kim Jongin, namja yang entah bagaiman selalu ia anggap sebagai cinta pertamanya.
.
.
.
“Kau menyukainnya Hera-ah?” Suara Luhan membuyarkan nostalgianya. Hera diam sesaat dan kini menatap Luhan balik

“Aku.. aku hanya menyukaimu” ucap Hera dan beberapa detik kemudian Luhan tersenyum sinyis

“Entah mengapa tapi aku merasa kau sedang berbohong padaku kali ini” Luhan menatap Hera lebih dalam

“Aku…”

“Empat hari yang lalu saat aku menghubungimu, kau selalu sibuk . siapa yang kau hubungi?”

Hera tertegun, jelas saat malam itu ia terus menghubungi Kai meski pada akhirnya namja itu malah menyuruhnya berhenti menghubunginya.
“Aku menghubungi umma”

Luhan kembali tersenyum sinis
“Kau menghubungi Kai, Hera-ah dan jawabanmu tadi semakin meyakinkanku jika kau memang berbohong.. sejak awal”

Hera sedikit terkejut dengan pernyataan Luhan, ia tidak pernah mengira bahwa namja itu akan mengecek ponselnya..karena sepengetahuaanya namja itu sangat menghargai privasi seseorang. Tapi dengan sekejap, ia kembali menetralkan ekspresinya

“Mianhaeyo Luhan tapi…” Hera menghentikan kata-katanya karena Luhan kini terlihat marah

“Hentikan semua kata-kata bohongmu Hera”

“Aku menghubunginya karena aku selalu merasa bersalah atas kejadian tiga tahun lalu , aku..”

“BERHENTI MEMBICARAKAN ITU! MASALAH TIGA TAHUN LALU ADALAH URUSANKU DAN KAI!” Luhan menaikan nada bicaranya

“Tapi aku adalah alasan di..”

Luhan mengacak rambutnya frustasi dan bangkit dari duduknya
“Untuk sementara kita tidak perlu bertemu dulu”

Ia lalu meninggalkan Hera yang melihatnya dengan tatapan sendu. Begitu namja itu menghilang dari pandanganya , gadis itu mengeluarkan sebuah bandul krystal yang sudah terlihat usang, sebuah benda yang selalu ia bawa kemanapun. Lalu ia tersenyum lemah dan ingatanya kembali pada masa dimana ia kembali bertemu dengan Kai, cinta pertamanya.. namun sayang, saat mereka dipertemukan kembali namja yang selalu ada dihatinnya itu tak mengingatnya sama sekali.

Hera lalu menatap kedepan. Ia sadar akan hal lainnya , bahwa sekarang Xi Luhan.. satu-satunya namja yang ada disampingnya kini dijodohkan dengan gadis lain

“Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk kehilangan segala hal”
Ia lalu melihat keluar jendela, disana terlihat kota Seoul yang gemerlap kini dibasahi hujan yang turun dengan deras.

***

“Aigoo Ahri sayang, Luhan tidak mengangkat teleponnya”

Nyonya Hanri terlihat begitu gelisah, karena beberapa menit lagi ia harus pergi ke bandara Incheon untuk penerbangan keluar negeri dan urusan bisnisnya. Namun ia tak mungkin meninggalkan Ahri sendiri, gadis yang baru saja ia ajak tinggal bersama.
Nyonya Hanri kembali mendial nomor anak kesayanganya namun hasilnya tetap sama, tak ada jawaban. Oh yaampun, setidaknya jika ada Luhan disini ia bisa menemani Ahri. Gadis yang kini duduk di depan Nyonya Han beranjak dan menghampiri wanita itu

“Gwenchana umma, jika kau harus pergi .. itu tidak apa-apa”

“Apa kau akan baik-baik saja?”

“Nde umma, lagi pula bibi Yu ada disini kan?”

“Ah iya tapi umma tidak enak meninggalkanmu begitu saja” Nyonya Han kini terlihat khawatir namun Ahri tersenyum lembut padanya

“Aku akan baik-baik saja, umma tak perlu khawatir”

“Aigoo… Ahriku benar-benar begitu pengertian ne?”

Nyonya Han lalu memeluk Ahri . Meski Ahri terlihat begitu terkejut namun ia kemudian tersenyum, jika saja ia tak berusaha dengan kuat, mungkin kini air matanya akan meluncur dengan bebas..
Tidak, bukan karena ia sedih namun ia bahagia karena nyonya Han memperlakukannya dengan sangat baik. Begitu berbeda dengan orang tuanya yang selalu sibuk akan pekerjaan, pekerjaan dan pekerjaan.
Nyonya Han lalu melepas pelukannya dan bersiap untuk pergi, Ahri lalu mengantarkannya sampai kedepan dan mengucapkan salam perpisahan

“Hati-hati dijalan umma”

“Hmm! Kau juga jaga diri baik-baik ne? Umma akan kembali 2 minggu lagi. Jika ada apa-apa tentang Luhan kau bisa menghubungiku”
Ahri mengangguk mantap dan ia melambaikan tangan saat Nyonya Han kini memasuki mobilnya dan dalam sekejap mereka menghilang dari pandagannya. Gadis itu kembali merasa sendiri.

***

10 PM

Ahri menatap dingding langit dengan tatapan kosong, kamar barunya terasa begitu nyaman namun ia tak bisa tidur karena suara hujan dan gelap diluar sana membuatnya takut. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan begitu ia keluar kamarnya
“WHOAAA LUHAN GE!!”Ahri langsung berlari kearah Luhan yang kini hendak memasuki kamarnya yang tepat berada samping ruangannya.

“Kenapa kau basah kuyup seperti ini?” Ahri terlihat begitu khawatir

“Apa yang kau lakukan disini?” Bukannya menjawab pertanyaan Ahri namja itu malah balik bertanya namun ia segera mengingat sesuatu

“Ah benar, umma menyuruhmu pindah kesini”

“Nde .. oleh..”
Belum sempat Ahri menyelesaikan kalimatnya, Luhan langsung masuk kekamarnya meninggalkannya sendiri. Ahri terdiam.. ia kembali merasa takut begitu suara gelap yang keras terdengar diluar sana. Tanpa pikir panjang ia mengetuk pintu kamar Luhan

“Ada apa?” Luhan memang mebuka pintunya namun wajahnya terlihat kesal

“A aku …” Ahri terdiam, ia tak mau mengatakan kalau ia tengah ketakutan saat ini

“Aku .. ah apa aku boleh meminjam peta sekolah? Karena aku murid baru, aku belum terlalu hafal tempat-tempat disana dan ah punyaku hilang”

Luhan masuk lagi kedalam, setelah beberapa saat kemudian ia keluar dan melemparkan peta itu pada Ahri

~BANGGG

Luhan menutup pintu kamarnya dengan keras.

15 menit berlalu dan Ahri masih tetap berdiri didepan kamar luhan, ia kembali mengetuk pintu

“APA LAGI?” Luhan keluar dan menatap Ahri dengan kesal

“A ku mau pinjam novel. Ah iya.. novel. Aku benar-benar merasa bosan”
Seperti yang dilakukan Luhan tadi, kini namja itu melemparkan sebuah novel pada Ahri dan

~BANGG

Ia kembali menutup pintu kamarnya dengan keras

15 menit berlalu dan Ahri masih setia dengan posisinya tadi . Ahri kembali memutuskan untuk mengetuk pintu Luhan

“Luhan ge…” ia berbicara dari luar dan

“APA LAGI SEKARANG?” Luhan sepertinya benar-benar marah kali ini dan itu membuat Ahri ketakutan

“A ah tidak”

“Jangan menganggu lagi!” Luhan hendak menutup pintunya namun Ahri segera berbicara

“Sebenarnya… “

“Sebenarnya aku tidak mau kembali ke kamarku karena aku.. takut gelap. Hehe” Ahri mengatakan kalimat itu dengan wajah polosnya

Luhan memutar bola matanya dan menarik gadis itu masuk ke kamarnya
“Aku mau tidur, kalau kau tak mau kembali ke kamarmu kau bisa diam disini, terserah.. lakukan apapun asal jangan mengangguku”
Beserta kalimat terakhirnya Luhan mematikan lampu kamarnya dan berbaring di kasur kesayangannya.
Ahri mempoutkan bibirnya, entah apa yang harus ia lakukan oleh karena itu ia hanya duduk di depan meja belajar Luhan.

~ah.. setidaknya aku tak sendiri. Batinnya

Ia lalu menatap kesekitar dan mengamati benda-benda milik Luhan serta dekorasi kamar itu. Ia lalu tersenyum dan melihat kearah Luhan yang kini terlelap. Dua puluh menit berlalu dan ia hanya duduk disana sedari tadi

“Aha!” Tiba-tiba terlintas ide yang begitu membuatnya senang.

Ahri kini berdiri dan mulai berjalan menghampiri Luhan, ia benar-benar inign melihat bagaiman wajah namja itu saat tertidur
~whoaa nomu kyeopta

Ahri menatap angelic-face miliik Luhan, namja itu tetap terlihat tampan sekalipun saat terlelap. Ahri sedikit terkekeh lalu mengambil ponsel miliknya, bermaksud untuk mengabadikan figur wajahnya lewat foto dan

CEKREK….

Begitu ia mendapatkan foto namja itu, dengan segera ia menyimpanya dan berencana untuk mengambil foto lain namun tiba-tiba seseorang menggenggam pergelangan tangannya dan
“Apa yang kau lakukan?”

Ahri membulatkan matanya dan berusaha untuk kabur namun tangan Luhan menariknya dengan kuat membuatnya terjatuh tepat kepangkuan Luhan, oh …. gadis itu kini berada di atas Luhan dan wajah mereka hanya berjarak beberapa inchi saja . Ini benar-benar membuat jantung Ahri berdegup begitu kencang

~apa yang harus aku lakukan?
Batinnya

***

 -to be continued-

10 thoughts on “One-Sided Love (Part-4)

  1. disini diceritain masa-masa kai ketemu hera dan hera ketemu luhan, cuma yg kejadian 3 tahun lalu itu apa? apa itu yg ngebuat kai berubah total gitu? ahri takut ma gelap ya ceritanya?
    oiya di part sebelumnya kai bilang ke hera klo dia ga pantas bt luhan apa karna dia anak pelacur atau karna ada hal lainnya?

  2. wooaaaahhhhhhh ceritanya tambah daebakkkk xD
    keren thor keren..
    tp aku penasaran bgt deh, mksdnya kejadian 3 thn yg lalu itu apa? emg ada kejadian apa? ko bisa2nya luhan sama kai berantem gtu? :o
    izin baca next chap thor ;)

  3. Waduh…
    Krn ahri skrg sdh pindah ke rumahnya Luhan, itu berarti mereka akan semakin sekat dan yah… luhan kau benar bahwa pacarmu memang menyukai Kai…

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s