One-Sided Love (Part-6)

picanta_psd820775_by_picanta-d7ke1w0

Tittle : One-Sided Love
Length : Chaptered
Rating : T
Genre : Romance, Drama
Author : yhupuulievya
Cast : Xi Luhan, Kim Jongin, Choi Ahri, Song Hera, and many more
Disclaimers : This Fanfiction is absolutely mine but the cast belong to themselves. Don’t ever plagiarize it.
Note : If you have some questions, feel free to mention me at @yhupuulievyaa

Apakah kau pernah berfikir, mengapa kita sering jatuh cinta pada orang yang salah?
Karena, kita tidak bisa memilih kepada siapa kita ingin jatuh cinta.
Hati, keinginan dan logika memang sering tak sejalan. Lalu mengapa Tuhan mempertemukanmu dengannya?
Tentu saja, Karena Tuhan mempunyai rencana lain yang tak pernah kau ketahui.
Everything happens for reason, right?

CHAPTER SIX
(Lotte World and Revenge)

Kai mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi tak lupa senyuman manis terlukis di bibirnya sedari tadi.
“Mengemudilah dengan benar Kai!”

Ahri yang duduk di sampingnya terlihat ketakutan, Namja di sampingnya menjalankan mobil dengan kecepatan super.
“KAI!!! “ Ahri berteriak namun Kai malah terkekeh

“Lihatlah ekspresimu , itu lucu sekali hahaha”

Ahri mempoutkan bibirnya
“Kau ingin kita mati, huh?” Ahri hampir saja menangis dan Kai menyadari itu

“Aku hanya bercanda, kau cengeng sekali” Kai kini menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal

“Bercanda? Kau main-main dengan nyawa kita? KAU MENYEBALKAN SEKALI!”

Ahri memukul Kai dengan tas selempangnya
“Kai menyebalkan!!! Rasakan ini!” Ahri terus memukul namja disampingnya itu

“Yayaya!!! Hentikan ini! Aku tidak bisa berkonsentasi! Kalau begini kita akan benar-benar mati”

Ahri menghentikan tindakanya lalu mengalihkan tatapannya keluar jendela dan menyilangkan kedua tangannya yang kemudian ia posisikan di depan dadanya
“Menyebalkan” meski pelan Kai masih bisa mendengar gumaman gadis disampingnya, lalu namja itu tersenyum diam-diam
Ahri hanya menatap jalanan dan pemandangan yang terpampang diluar sana, menyadari bahwa mobil yang ia tumpangi kini melintas melewati Sungai Han.

“Kita akan kemana, Kai?”

“Lotte world” jawab Kai, santai

“Turunlah, kita sudah sampai”
Setelah kalimat terakhirnya Kai turun dari mobil, diikuti Ahri.

“Kenapa kau tidak memberi tahuku dulu huh ? kenapa kau membawaku kemanapun yang kau inginkan?”

“Kau sudah setuju untuk menemaniku seharian” Kai membela dirinya

“Tapi bukan berarti kau bisa melakukan segalannya sekehendakmu” Sanggah Ahri

“Kau akan menyukainya”

“Kau tahu apa tentangku?”

“Orang childish sepertimu pasti akan menyukai Lotte world”

“Aku tidak childish, Kai!” Ahri terlihat kesal dan mempoutkan bibirnya

“Berhentilah bertindak aegyo”

“Aku tidak bertindak aegyo!” Ahri menatap Kai kesal

“Lalu kenapa kau mempoutkan bibirmu? Kau ingin terlihat cute didepanku?” Kai balik menatap balik gadis disampingnya

“Itu karena aku kesal padamu!”

“Kalau bergitu berhentilah mempoutkan bibirmu atau aku akan menciumu”

“MWO?”

Kai memasukan tangannya kedalam saku celana lalu berjalan meninggalkan Ahri
“Kau ini tidak sopan sekali. YAA!! Aku bicara padamu Kim JONGIN!!” Ahri tampak lebih kesal namun ia segera mengejar Kai yang kini terlihat mulai berjalan menjauh darinnya

***

Kai mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan 48.000 Won pada petugas di depanya, lalu dua lembar tiket kini ada ditangannya
“Percayalah kau akan menyukainya” Kai kembali meyakinkan Ahri yang sedari tadi terlihat cemberut.

1010811_790067101007103_165550520_n

Begitu mereka masuk, sebuah bangunan indoor-theme park yang sangat megah menjadi pemandangan awal yang menakjubkan. Penataan pilar-pilar yang diatur sedemikian rupa, membuat pengunjung disana mendapatkan pemandangan yang terkesan luas dan bebas keseluruh penjuru bangunan. Berbagai atraksi dan permainan yang menarik tersaji disana, dilantai dasar terlihat ice-ring berbentuk oval yang super luas. Disisi lain, terdapat beraneka permainan yang menantang adrenalin termasuk roller coaster, rumah hantu, balon udara, kereta monorail yang berkeliling dari indoor ke outdoor theme-park dan juga beragam pertunjukan kesenian panggung utama indoor theme-park serta berbagai parade unik dipertontonkan disana. Tak lupa toko-toko souvenir, pusat perbelanjaan, museum plus restoran juga tersedia disana. Ah.. berada disini seperti berada di negeri dongeng saja.

“Daebak” Ahri menatap pemandagan disana dengan takjub lalu wajahnya berubah ceria

“Ppali Kai! Kita harus mencoba apa dulu ? roller coaster atau bugge jump? Atau kereta monorail dulu ? ah itu ide bagus! Kita naik kereta monorail dulu, Kai! Ppali!” tanpa pikir panjang Ahri menarik tangan Kai dengan antusias sedangkan Kai hanya memasang muka datar

“Apanya yang tidak childish” Kai bergumam pelan

“Aku mendengar itu!” Ahri melirik Kai dan memberikan tatapan mematikannya.

Dan lihatlah, mereka pada akhirnya memutuskan untuk memilih kereta monorail yang membawa mereka ke arena indoor dan outdoor disana, membawa mereka melihat setiap panorama yang tersaji di lotte world. Saat mereka tiba di taman bermain outdoor yang berada di Magic island, sebuah pulau buatan di tengah danau menjadi pemandangan yang begitu menakjubkan

“Yeppeunda” Ahri bergumam pelan dan waktupun terus berjalan.

***

Luhan’s mension 7.30 PM

“Maaf mengganggu istirahatmu, aku membawakan ini”
Hera lalu menaruh parcel buah-buahan yang dibawanya di meja tamu

“Bagaimana keadaanmu ? Kau tidak memberitahuku kalau kau sakit”
Hera memasang wajah kecewanya

“Aku baik-baik saja, sekarang pulanglah”

Hera kini menatap Luhan dengan lekat, namja itu sedari tadi berbicara dengan nada datar padanya.
“Kau masih marah padaku?”

Ekspresi Luhan sedikit berubah begitu Hera melontarkan pertanyaannya
“Kita bisa membicarakan itu nanti, sekarang pulanglah Hera, karena ini sudah malam dan aku tak bisa mengantarmu”

“Aku.. ingin kau bersikap seperti dulu padaku”

“Aku hanya perlu waktu Hera-yah”

“Kenapa kau mengacuhkanku hanya karena hal sepele seperti itu Luhan?”

Raut wajah Luhan kini berubah lagi dan ekpresi kesal sekarang tergambar disana.
“Kau menyukai Kai dan membohongiku selama bertahun-tahun, apa itu yang kau sebut sepele?”

“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku menyukai Kai”

“Itulah yang aku benci Hera, kau tidak pernah jujur padaku”

***

“Ini benar-benar menyenangkan” Ahri bergumam dengan riang

Senyuman tak pernah lepas dari bibir gadis itu meski kini hari sudah petang. Matahari sudah tenggelam sedari tadi dan warna hitam kini terlukis di kanvas langit dengan properti bulan dan bintang yang tertempel di atas sana.

“Ayo kita pergi ketempat selanjutnya Kai!”
Ahri sontak saja menggandeng tangan Kai, gadis itu mungkin tak menyadarinya namun namja yang digandengnya sadar betul akan hal itu dan kini ia tersenyum diam-diam.

Mereka berjalan ke arena magic castle untuk melihat pertunjukan sinar laser yang mengagumkan.
7.45

Ahri melihat jam tangan yang melingkar dipergelangannya.
“Omo…!! Kai ini sudah malam, sepertinya kita tidak jadi menonton pertunjukan laser”

Kai mendelik sebal
“Apa-apaan ? kita bahkan sudah berjalan sejauh ini”

“Tapi.. Luhan ge pasti mencariku”

“Pede sekali” Kai membuang tatapannya kesembarang arah

“Meski gege tidak mencariku, aku harus pulang sekarang Kai.. tidak enak kalau aku pulang terlalu malam”

Kai jadi teringat tentang apa yang ingin ia tanyakan, dulu
“Kenapa kau tinggal di rumahnya?”

“Umma Han mengajaku pindah kesana, lagipula aku dan Luhan ge akan segera bertunangan setelah lulus nanti” Ahri beralih menatap Kai namun namja itu hanya menatap kosong kedepan

“Terserah” Kai lalu berjalan meninggalkan Ahri

~apanya yang terserah
Batin Ahri

“KAI!!! Chamkaman!! Tunggu aku, Kai!” Ahri lalu berlari menyusul Kai

“Kau ini menyebalkan sekali, selalu meninggalkanku seenaknya”

“Yang menyebalkan itu kau” sanggahnya

“Mwo?” Kini Ahri terlihat kesal dan menatap namja disampingnya

“Akulah yang memintamu menemaniku tapi kenapa seolah akulah yang menemanimu?” namja itu balik menatap Ahri

“Huh?” wajah Ahri semakin terlihat kebingungan

“Sedari tadi aku terus mengikuti kemana kau pergi, menuruti semua yang kau mau, dan bermain wahana apapun yang kau pilih. Bukankah ini acaraku? Tapi kenapa jadi seolah aku yang menemanimu?” kini, Kailah yang terlihat kesal

Ahri terdiam dan menyadari semua itu. Perlahan ia tersenyum kepada namja yang kini menatapnya dengan kesal
“Hehe .. mianhae”

Kai memutar bola matanya lalu berjalan meninggalkan Ahri lagi
“Kai!! Aku sudah bilang jangan meninggalkanku seenaknya!” Ahri setengah berteriak dan mengejar namja itu.

***

Hera masih tetap tak merespon apa yang Luhan katakan tadi namun pada akhirnya gadis itu membuka suara. Ia tahu benar, setelah ini mereka pasti akan bertengkar lagi.
“Apa yang kau maksud dengan tidak jujur?”

Luhan menatap Hera lebih lekat
“Katakan padaku bahwa kau menyukai Kai”

Hera lalu tersenyum dengan miris
“Kenapa kau terus berkata seperti itu? Aku sudah bilang aku tidak menyukainya, Luhan”

“Apa kau pikir aku tidak tahu?”
Pernyataan Luhan kini membuat Hera mengernyitkan dahi

“Apa yang kau bicarakan ? aku tidak mengerti sama sekali”

“Selama bertahun-tahun kau diam-diam memperhatikannya, mencuri pandang kearahnya, menghubunginya, dan terakhir kau berlari padanya, bukan padaku”

Luhan masih ingat betul akan kejadian beberapa hari yang lalu, saat mereka berkelahi dan sama-sama terluka, gadis itu berlari menghampiri Kai bukan dirinya.
“Bukankah itu sudah jelas? Kau menyukainya”

Hera hanya terdiam, ia menatap kebawah
“Aku sudah bilang, aku hanya merasa bersalah padanya”

“Sudah cukup” Luhan lalu berdiri dan beranjak pergi. Ia menaiki tangga dan

~GREPP
Hera memeluknya dari belakang

“Bukankah aku sudah bilang? Aku hanya menyukaimu”
Gadis itu berkata sambil terisak dan Luhan segera menyadari bahwa gadis itu kini tengah menangis.

“Bagaimana mungkin kau berkata seperti itu ? aku sudah menghabiskan waktuku denganmu. Selama beberapa tahun ini, aku terus bersamamu dan sekarang kau menuduhku menyukai Kai?” Hera berkata dengan pilu dan Luhan kini menyentuh tangan gadis itu, melepaskan pelukannya dan berbalik menghadap Hera.

“Apakah kau tidak mempercayaiku?” setetes airmata kembali terjatuh dari mata onyx milik Hera

“Kau tidak mempercayaiku, Luhan?” ia mengulang kata-katanya
Luhan hanya terdiam.. jika harus jujur , ia ingin mempercayai gadis itu namun entah mengapa hatinya tetap pada pemikiranya, ia tetap merasa bahwa gadis itu menyukai Kai, bukan dirinya.

Hera tanpa pikir panjang, berjalan selangkah dan kembali melingkarkan tangannya di pinggang Luhan, memeluk namja itu.
Dari arah pintu Ahri hendak mengucap kata “Aku pulang”, namun tiba-tiba lidahnya terasa kelu begitu melihat seorang gadis kini tengah memeluk Luhan dengan erat dan namja itu tak terlihat untuk berusaha melepaskannya sama sekali.

~Hera-shi
Ahri bergumam sangat pelan.

Ia hendak menangis namun ia juga sudah terbiasa menahan air matanya dan menggantikannya dengan senyuman palsu.
Ahri kembali berjalan keluar, rasanya sangat aneh melihat gadis itu memeluk calon tunangannya. Oh, bukankah Hera memang kekasih Luhan? Dan ia hanyalah gadis asing yang dijodhkan dengan paksa oleh ummanya. Mungkin Luhan juga hanya menganggapnya sebagai seorang gadis yang mengacaukan hidupnya yang sempurna. Who knows..

“Kau bilang ingin segera pulang dan begitu aku mengantarkanmu, kau kembali berjalan keluar? kau memang gadis aneh”
Ahri terkejut begitu mendengar suara yang akhir-akhir ini begitu familiar di telinganya. Ia menatap kedepan dan disana Kai masih berdiri didepan mobilnya.

Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Beberapa waktu berlalu dan Ahri belum menjawab pertanyaan tadi sama sekali

“Bawalah aku kesuatu tempat Kai”

Kai membulatkan matanya begitu mendengar pernyataan Ahri. Ia yakin ada sesuatu yang salah dengan gadis itu, diluar ia mungkin tampak tersenyum tapi entah mengapa Kai masih bisa membaca wajah sendunya
“Biar kupertimbangkan…” Kai berpura-pura memasang ekspresi berpikir

“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat dan sebagai gantinya berikan aku gantungan ponselmu, cukup yang laki-lakinya saja”

69054_790067214340425_1257863922_n

“Deal” Ahri mengangguk lemah.

***

Luhan terdiam sejenak, kemudian ia melepaskan pelukan Hera, entah mengapa bahkan ia tak memeluk balik gadis itu tadi.
“Maaf hera-ah, tapi aku sedang tidak ingin membicarakan itu sekarang”

“Pulanglah, ini sudah malam”

Hera hanya terdiam sejenak, lalu tersenyum miris dan menyeka air matanya
“Kau.. kau akan mempercayaiku Luhan, karena dulu kau pernah bilang kau selalu mempercayaiku dan aku tak pernah melupakan itu”

Hera kini menuruni tangga dan tepat saat ia berdiri di ambang pintu, ia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Luhan untuk berucap
“Jaljayou”
Lalu siluetnya menghilang begitu saja. Luhan tertegun sejenak, pikiran untuk mengejar Hera sempat terlintas dibenaknya namun kakinya seolah tak mengijinkan ia untuk mengejar gadis itu.

Luhan menghela nafas berat lalu berjalan menuju kamarnya
“Ah!”
Ia sepertinya teringat sesuatu dan benar saja, bukankah tujuannya tadi adalah untuk mencari Ahri ? gadis itu belum pulang sampai saat ini dan jam yang tertempel di dingding kini sudah menunjukan pukul 8.30PM

“Dia kemana?” Luhan terlihat sedikit khawatir, oleh karena itu kini ia berjalan keluar rumah untuk mencari Ahri

“Gadis itu.. benar-benar”
Luhan mengeluarkan ponselnya lalu mendial nomor Ahri yang ia dapatkan dari ummanya
.
.
.
tak ada jawaban

Luhan kembali mendial nomor Ahri untuk kesekian kalinya namun hasilnya tetap sama… gadis itu tak menjawabnya.
“Ckk!”

“Berjalan sendiri diSeoul pada malam hari, bukanlah hal yang aman”
Ia lalu kembali berjalan untuk mencari Ahri.

***

Ahri duduk disamping Kai dan tak ada satupun dari keduanya yang berusaha memulai topik pembicaraan, mereka terlalu sibuk dengan pikiranya masing-masing, bahkan angin yang berhembus dinginpun tak membuat mereka bergeming. Sampai pada akhirnya Ahri memilih untuk menyerah dan melontarkan sebuah pertanyaan pada Kai

“Bukankah kau tahu tentang perjodohanku dengan Luhan?”

Kai mengerutkan dahinya, tiba-tiba saja gadis itu membahas masalah pertunanganya.
“Hmm, siapapun akan tahu hal itu. Bukankah kau mengatakan itu pada semua orang?”

Ahri tersenyum sendu
“Itu benar..”

“Saat appa bilang bahwa ia menjodohkanku dengannya, aku begitu senang. Aku selalu berfikir, mungkin dengan begitu aku bisa bersandar dan membagi kesedihanku dengannya. Tapi semakin hari aku semakin lelah, menggapainya seperti berusaha melakukan sesuatu di luar batas kemampuanku” lanjutnya

Kini Kai mengerti mengapa Ahri memintanya untuk pergi bersama kesuatu tempat. Gadis itu memerlukan teman bicara karena ia sedang sedih dan Kai merutuki dirinya sendiri yang dengan bodonya hanya diam saja, tak tahu apa yang harus dilakukan

~sial. Batin Kai
~Apakah aku harus memeluknya? Tapi ia tak menangis sama sekali
~Kai brengsek. Kau bahkan tidak tahu apa yang harus kau lakukan
Sedari tadi, Kai hanya sibuk dengan pemikiran-pemikiranya

“Mengapa kita selalu jatuh cinta pada orang yang salah, Kai?” gadis itu berbicara pada namja yang duduk disampingnya

Kai menatap Ahri lekat sebelum menjawab pasti
“Karena… Karena kau tidak bisa memilih kepada siapa kau ingin jatuh Cinta”

“Kau benar”
Ahri tersenyum pada Kai, Lalu keduanya mengalihkan tatapan mereka pada bintang yang berkelip terang, membiarkan burung-burung malam menjadi satu-satunya melodi yang terdengar.

***

“Terimakasih untuk hari ini” Ahri tersenyum dengan tulus pada Kai lalu menyerahkan gantungan ponsel teddy bear yang tadi diinginkan Kai

“Huh?” Kai sedikit terkejut

“Karena kau sudah menemaniku malam ini”

“Ah, itu…” Kai mengambil gantungan ponsel yang Ahri berikan padanya

“Masuklah, aku akan melihatmu dari sini”

Ahri lalu mengangguk dan berjalan masuk. Tepat didepan pintu, ia kembali berbalik
“Bukankah kita sudah menjadi teman sekarang?” Ahri berbicara pada Kai dalam jarak jauh

“Teman ?” Kai sedikit berpikir

“Sebenarnya kau gadis yang menyebalkan, tapi karena kau sudah memberikanku gantungan ini, jadi aku menerima permintaan temanmu”
Ahri terlihat cemberut lalu bergumam sebelum akhirnya benar-benar masuk kedalam

“Jahat sekali”

Kai hanya terkekeh pelan mendengar gadis itu menggerutu
“Jaljayou”
Ia berucap pada malam yang semakin larut.

***

Ahri berjalan menaiki tangga, begitu melewati kamar Luhan ia berhenti sejenak.
~Lampu kamarnya masih menyala berarti Luhan ge belum tidur

“Jaljayou” Ahri bergumam pelan, masih sedikit merasa kecewa atas kejadian tadi.
Setelah itu, ia masuk ke kamarnya

~4 Panggilan tak terjawab

“Eh?” Ahri sedikit terkejut begitu mengecek ponselnya dan semua panggilan itu berasal dari Luhan.

“Kenapa gege menghubungiku?” Ahri kemudian kembali berjalan keluar kamarnya dan mengetuk pintu kamar Luhan

“Luhan ge!” Ia berujar pelan

“Apa kau didalam?”

Ahri kembali bertanya karena sampai saat ini Luhan tak menjawabnya
“Apakah aku boleh masuk?”

Tak ada jawaban

“Kalau kau tetap tak menjawab ..aku anggap kau mengijinkanku masuk”

Tak ada jawaban

“Aku akan benar-benar masuk kali ini”

Tak ada jawaban.

Ahri mempoutkan bibirnya, dengan takut ia menutup mata dan perlahan membuka pintu kamar Luhan
~Hening
Ia kembali membuka matanya begitu teriakan Luhan tak juga tertangkap indera pendengarannya
~Kosong

“Eh?”
Ahri membulatkan matanya begitu menyadari Luhan tak ada dikamarnya, ekspresinya berubah khawatir karena namja itu sedang sakit dan sekarang ia tak ada disini.

“Luhan ge kemana?” Ahri mulai terlihat panik.

***

Kai mengendarai mobilnya dengan santai. Entah mengapa perasaanya tak menentu malam ini, seolah hal yang buruk akan menghampirinya nanti. Namun ia berusaha menenagkan hatinya dan tersenyum begitu melihat gantungan teddy bear yang ia dapatkan dari Ahri, sebuah teddy bear yang mengenakan jas pengantin.

~cekitttt
Kai mengerem mobilnya serempak begitu segerombolan geng laki-laki menghadang dan memblok jalanya

“Sialan!”

Kai keluar dari mobilnya dengan kesal
“Apa yang kalian lakukan, huh? Menyingkirlah, kalian menghalangi jalanku”

Namun gerombolan anak laki-laki yang ada didepannya kini malah tertawa, memainkan tongkat-tongkat yang mereka pegang.
“Senang bertemu denganmu lagi, anak muda!”

Kai menyipitkan matanya dan menyadari laki-laki yang tengah berbicara padanya adalah pria yang beberapa hari lalu ia pukuli karena mengganggu Ahri.
“Senang bertemu dengamu juga, pecundang!” Kai melemparkan smirk khasnya dan memposisikan tangannya kebelakang lalu dengan cekatan mendial nomor Chanyeol . Ia tahu bahwa mereka semua dalam waktu sekejap pasti akan menyerangnya.

Kai membiarkan panggilan telepon yang sudah tersambung dan menggantungkan panggilannya begitu saja, karena ia tahu .. sahabatnya akan mengerti sinyal darurat yang ia berikan.

“Apakah ada kata terakhir yang ingin kau sampaikan? Sebelum kau mati tentunya” Pria itu berkata enteng dan semua anak buahnya tertawa terbahak-bahak.

Kai tetap terlihat tenang
“Aku sangat senang karena pernah menghajarmu dulu” Kai tersenyum meremehkan dan itu membuat pria yang berdiri didepanya melonjak emosi

“HABISI DIA!”

Semua gerombolan laki-laki itu kini menyerang Kai dan mereka terlibat dalam perkelahian. Kai menedang salah satu dari mereka dan yang lainnya mengayunkan tongkat besi tepat ke punggung Kai

“Sialan”
Kai bergumam pelan sebelum akhirnya namja berbaju hitam menendang perutnya. Kai terbatuk dan darah segar mengalir dari bibirnya. Ia bangun dan mengusap darah tadi lalu memukul balik namja yang menyerangnya.Walau bagaimanapun jumlah mereka yang banyak pasti akan menyulitkan Kai.

***

Luhan berjalan dengan cepat, ia sudah mencari Ahri kesekitar rumah tempat tinggalnya juga ke tempat-tempat yang mungkin gadis itu kunjungi namun ia tak juga menemukannya.
Luhan mengacak rambutnya frustasi dan kembali berjalan. Begitu melewati gank sempit yang tak jauh dari bar sosok yang begitu ia kenal terlihat tengah berkelahi dengan gerombolan namja yang membawa tongkat.

“Kai?” Luhan menajamkan penglihatannya

“Itu benar-benar Kai” Luhan terlihat sedikit panik lalu berlari menghampiri mereka

“Apa yang kalian lakukan?”

“Jangan ikut campur dan pergilah” Namja dengan topi merah kini mencengkram kerah baju Luhan namun Luhan malah balik memukulnya. Membiarkan dirinya sendiri masuk dalam perkelahian itu.

Orang yang tadi ia pukul kini memukul Luhan dengan keras, membuatnya terhuyung kesisi Kai.
“Aku tidak memerlukan bantuanmu bodoh!” Kai menatap Luhan

“Aku berhak melakukan apapun yang ku inginkan dan kau tak berhak melarangku”

“Terserah” Kai berujar cuek dan mereka bersama-sama melawan gerombolan namja tadi.
Beberapa orang menyerang Luhan maupun Kai secara bersamaan namun melawan mereka semua bersama, membuat keadaan sedikit terkontrol.

“Kau tak pernah berubah, berkelahi sepertinya memang hobimu” Luhan bergumam pada Kai lalu memukul pria yang hendak menyerangnya

“Karena aku menyelamatkan tunangamu” Kai berujar enteng dan menahan tongkat yang hendak menghantamnya.

Luhan terdiam
~Kai menyelamatkan Ahri? Kapan? Karena apa?

Sepertinya Luhan melewatkan sesuatu dan ia menatap Kai yang kini terus melawan gerombolan namja itu. Dari jauh namja berbaju merah yang sedari tadi hanya diam, mengeluarkan pisau lipat dan memainkanya. Dengan berlari laki-laki itu kini mengarahkan pisaunya pada Kai.
Luhan membulatkan mata lalu berlari kearah Kai. Dalam sekejap ia mendorong Kai dan

~BLESSSS

Darah segar mengalir deras tepat di bagian perut Luhan. Pria tadi menusuknya disana dan itu membuat Luhan ambruk seketika. Semua yang ada disana membulatkan mata.

“Kau bilang kau hanya ingin memukulinya. Tapi kau membunuh seseorang disini. Aku tidak ingin terlibat” Namja bertopi itu terlihat ketakutan lalu berlari kabur, meninggalkan temanya.
Yang lain dalam sekejap berlari mengikuti namja bertopi tadi. Kai terlihat sangat marah ia menghampiri Luhan lalu dengan amarah yang meletup berlari dan melayangkan pukulanya pada pria yang menusuk sahabat lamanya itu

“AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU KALI INI!” kini pria yang dicengkram Kai terlihat ketakutan karena dalam mata Kai terlihat amarah yang begitu membara, namja itu tak main-main

Kai memukul perut pria tadi dan menghempaskannya ke tembok dengan keras. Ia lalu mengambil sebuah tongkat yang tergeletak dan tak segan-segan memukulkanya tepat pada pria tadi secara bertubi. Darah mengalir dikepala pria yang kini berada dalam kendali Kai.

“AKU .. AKAN MEMBUNUHMU” Mata Kai terlihat berapai-api dan saat ia hendak memukul lagi, suara Chanyeol terdengar ditelinganya

“KAI!!!” Chanyeol mencoba menahan Kai yang tak terkendali dan Sehun secepat kilat menghampiri Luhan yang telah kehilangan banyak darahnya.

“Hyungg!!!”
Sehun beralih menatap Chanyeol dan memanggil namja itu, ia terlihat shock melihat Luhan yang terkapar tak berdaya

“Kai hentikan Kai, kau akan masuk penjara jika membunuhnya” Chanyeol menahan Kai dan mencengkram tangan namja itu

“LEPASKAN AKU!” Kai berusaha melepaskan tangan Chanyeol namun kata-kata namja itu menyadarkannya

“Yang terpenting saat ini adalah kita harus segera membawa Luhan ke rumah sakit, aku akan mengurus ini Kai. Pergilah dan bawa ia kesana sekarang juga” Kai mencoba mengontrol emosi dan nafasnya lalu segera berlari kearah Luhan yang terlihat menahan rasa sakit

“Bodoh! Dari awal aku sudah bilang.. ini bukan urusanmu”

Luhan mencoba keras untuk tersenyum
“Bu kankah a ku tak meninggalkanmu, se .. sekarang?” Luhan berucap dengan terbata

“Apakah kita akan menjadi sahabat lagi setelah ini?” Luhan meringis kesakitan setelah mengucap kalimat terakhirnya lalu tak sadarkan diri begitu saja

“Kau sama sekali tidak mengerti, Aku tidak pernah marah karena hal ini”
Itu benar..Kai tak pernah menyalahkan Luhan karena namja itu tak datang padanya saat kejadian beberapa tahun silam. Yang ia sayangkan adalah faktanya, namja itu adalah satu-satunya orang yang ia miliki namun Luhan tak ada disampingnya saat ia harus melewati masa paling sulit dalam hidupnya.

“Bodoh” Kai berucap pelan sebelum akhirnya membawa Luhan ke Rumah sakit , meninggalkan Sehun dan Chanyeol yang harus mengurus masalah ini terlebih dahulu.

***

PRANGGGG

Ahri tak sengaja menjatuhkan sebuah figura yang ada dikamar Luhan
“Aigoo” Wajah Ahri berubah muram seketika karena ia tahu Luhan pasti akan memarahinya nanti.

Ahri berjongkok dan mengambil figura yang kacanya kini sudah pecah. Sebuah foto Luhan dan Kai terpampang disana
“Eh? Apakah mereka berteman?” Ahri mengernyitkan dahi karena seingatnya hubungan mereka berdua tak cukup baik mengingat mereka pernah berkelahi disekolah dulu.

Ahri hendak membersihkan pecahan kaca tadi namun karena ceroboh pecahan itu mengores telunjuknya.
“Aw..” Ahri menggigit bibirnya tak kala darah mengalir darisana, namun ia tak kunjung menghapusnya karena tak lama kemudian perasaan tak enak melekat di hatinya. Seperti sebuah firasat buruk.

~ding dong ding

Nada panggilan kini berbunyi dari ponselnya. Sebuah nomor baru terpampang di layar ponsel Ahri. Gadis itu terdiam, entah mengapa ia seolah enggan menjawabnya

~ding dong ding

Ponselnya terus berdering dan Ahri harus menjawabnya
“Yeobseo?”

“Ahri.. Luhan…….”

-to be continued-

32 thoughts on “One-Sided Love (Part-6)

  1. sumpah kepo banget ma masalalu kai luhan, knp mereka jdi ky orang ga kenal gitu? dan seneng banget di part ini kynya mereka bakal balik lagi kaya dulu meskipun luhan terluka,
    kayanya da sinyal” kai suka ma ahri nie, aduh jgn sampe kai patah hati lagi karna luhan? -_- minta pw part 7 dong ? :)

  2. yahh ini luhan gimana ahhh kenapa harus ada adegan kaya gini si thor?
    kirain bakal sekedar ngeledek2 doang ahhh
    lanjut ya thor…

  3. authorrrrrrr daebak bgt ff nya.. chap 7 pake PW ya.. please thorrr, tolong kasih tau aku PW nyaaaa.. nama twitter aku @Nadya1120, aku udh mention ya.. gomawo

  4. Huwaaa…
    Bagaimana ini?? Luhan tdk apa2kan??

    Aku jengkel dgn Hera. gak tau diri banget, udh pacaran sm Luhan tp malah menyukai Kai. dan aku yakin nanti tdk akan mendapatkan satupun, baik luhan maupun Kai…

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s