One-Sided Love (Part-8)

picanta_psd820775_by_picanta-d7ke1w0

Tittle : One-Sided Love
Length : Chaptered
Rating : T
Genre : Romance, Drama
Author : yhupuulievya
Cast : Xi Luhan, Kim Jongin, Choi Ahri, Song Hera, and many more
Disclaimers : This Fanfiction is absolutely mine but the cast belong to themselves. Don’t ever plagiarize it.
Note : If you have some questions, feel free to mention me at @yhupuulievyaa

Apakah kau pernah berfikir, mengapa kita sering jatuh cinta pada orang yang salah?
Karena, kita tidak bisa memilih kepada siapa kita ingin jatuh cinta.
Hati, keinginan dan logika memang sering tak sejalan. Lalu mengapa Tuhan mempertemukanmu dengannya?
Tentu saja, Karena Tuhan mempunyai rencana lain yang tak pernah kau ketahui.
Everything happens for reason, right?

CHAPTER EIGHT
(Pretending)

~Hening
Semua orang yang ada disana terdiam, sedari tadi raut wajah mereka terlihat tegang, menunggu kata selanjutnya dari Dokter Jun.

“Luhan…”

“Luhan telah melewati masa kritisnya,”

~Hah
Ahri menghembuskan nafas leganya, ketakutannya tadi sirna begitu saja

“Dia akan siuman beberapa jam lagi” Jelas Dokter Jun lebih lanjut

“Nde, kamsahamnida” Ahri tersenyum senang pada Dokter Jun yang kini mulai meninggalkan mereka.

“Kai ayo kita masuk” Ahri menarik pergelangan tangan Kai namun namja itu segera melepaskannya

“Waeyo?” tanya Ahri heran

“Kau masuk saja dengan bibi Yu atau Sehun, aku masih ada urusan”

Ahri terdiam, sebenarnya ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan perihal hubungan namja itu dengan Luhan…tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat

“Oh..” Ahri menatap kesembarang arah, entah mengapa suasananya menjadi sedikit kaku

“Ahri-ah”

“UMMA!”
Wajah Ahri berubah cerah saat dilihatnya dari jauh Nyonya Han sudah sampai dan berjalan kearahnya.

***

Song Hera berjalan dengan langkahnya yang lamban, beberapa makanan yang diparselkan di pegangnya di tangan Kanan namun langkahnya terhenti begitu melihat Kai berdiri didepan kamar rawat Luhan. Gadis itu terdiam sejenak sebelum akhirnya melangkahkan kakiknya lagi, kini ia berjalan melewati Kai dan berhenti tepat didepan pintu saat melihat didalam sana Luhan tengah berbincang dengan Ahri dan Nyonya Han, disamping mereka terlihat Sehun yang tengah tersenyum. Ah.. seperti Keluarga bahagia.

“Akhirnya aku mengerti mengapa kau memutuskan untuk diam disini” Hera berbalik dan berdiri tak jauh dari Kai, meski namja itu mendengar kata-kata Hera, ia tak kunjung menjawab

“Aku jadi teringat kejadian dua tahun lalu”

“Aku tak ingin membicarakannya” Kai berucap tanpa melihat gadis itu sedikitpun

“Bedanya, saat itu.. Kaulah yang terluka dan Luhan berdiri diluar”

Kai mengerutkan dahi

~Luhan berdiri diluar? Bukankah ia tak pernah datang sama sekali untuk menjenguk Kai?
Sebuah kata yang ambigu. Pikirnya

“Esoknya entah mengapa, orang-orang mulai membicarakan tentang Luhan yang meninggalkanmu hanya untukku. Mereka benar-benar lucu… terus menilai orang tanpa tahu apapun”

“Malam itu…aku benar-benar takut, Aku yakin Luhan menyadarinya tapi dia tetap saja bersikeras untuk datang padamu, aku benar-benar ingat raut wajahnya yang sangat menyesal saat menyadari ia terlambat untuk menemuimu.. lalu esoknya ia datang padaku dan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi, Luhan terus mengatakan padaku bahwa ia sama sekali tak pantas untuk menjadi sahabatmu, tapi orang-orang terus mengatakan bahwa aku beruntung, Luhan bisa melepasmu untukku”

Hera tersenyum
“Faktanya,Bagi Luhan ..aku tak pernah lebih penting darimu”

“Kau pasti benar-benar membenciku saat itu, kan?” Hera kini melihat kearah Kai mencoba membaca ekspresi wajahnya

“Kau tidak mengerti Hera. Aku tak membencinya karena itu dan aku juga tak membencimu karena hal yang sama” Meski suaranya terdengar datar namun Kai mengatakan hal yang jujur

“Ah benar! kau membenciku karena aku terlalu pandai memainkan peran malaikatku” Hera tertawa hambar

“Apakah itu salahku juga, jika orang-orang percaya padaku ?”

“Semua orang didunia ini memakai topeng Kai. Termasuk kau”
Kini Kai mulai menatap gadis itu

“Kau memakai topeng bad boymu lalu pergi clubbing dan bertingkah seperti orang brengsek hanya untuk menutupi bahwa sebenarnya kau orang yang memerlukan banyak perhatian, Kau bermain-main dan tak pernah serius dengan gadis manapun hanya karena kau tak ingin jatuh cinta dan takut gadis itu meninggalkanmu”

Kai melipat jari-jari tangannya

“Bahkan saat inipun, kau berakting seolah tak peduli pada Luhan namun sebenarnya namja itu selalu menjadi sahabat terbaik untukmu, kau bertingkah seolah tak peduli padanya tapi dalam hatimu, kau begitu khawatir. Kau juga memakai topengmu Kai.. kalau begitu apa bedanya antara kau dan aku?”

Hera mengalihkan tatapannya kesembarang arah, lalu meletakan parsel yang ia bawa tepat di atas kursi yang ada disampingnya. Tanpa kata lagi, ia pergi meninggalkan Kai begitu saja. Berjalan keluar dari Rumah Sakit itu.

Hera menyusuri jalanan yang mulai sepi, mengingat malam mulai larut. Ia berhenti tak jauh dari letak Rumah Sakit tadi dan berdiri di depan gang kecil lalu menatap kosong kedepan sana.
Baginya kehidupan ini tak sesederhana yang orang-orang pikirkan. Meski sekarang ia telah melewati masa-masa sulitnya namun kenangan masa kecil yang menyedihkan tetaplah bagian dari cerita hidupnya. Itu benar.. sekarang ia memang memiliki segalanya, Namun Nyonya Hana tidaklah lebih dari orang dermawan yang berbaik hati untuk mengangkatnya sebagai anak, itu tak mengubah fakta bahwa sebenarnya ia selalu merasa hidup dengan orang-oarang asing di dunia yang asing pula.

Entahlah.. kadang ia berfikir akan keadaan ayahnya yang beberapa tahun silam mendekam dipenjara, iapun tak juga mendapat kabar dari ibunya yang tanpa peduli meninggalkanya begitu saja.. Hera menatap bandul Krystal yang digenggamnya, satu-satunya benda yang ditinggalkan sang ibu, benda yang pastilah sudah pecah jika beberapa tahun silam seorang anak laki-laki tak menolongnya, cinta pertama yang bahkan tak mengingatnya sama sekali.

Hera menghembuskan nafas beratnya lalu mengeluarkan sebatang rokok dari tempatnya. Tak pikir panjang, ia mulai menyalakan dan menghisap rokok itu dalam-dalam, menghembuskan asap rokok itu ke udara.. namun beberapa menit kemudian seseorang dengan seenaknya mengambil rokok miliknya dan membuangnya begitu saja.

“Carilah tempat yang lebih aman”

Dilirknya Chanyeol yang kini datang entah darimana
“Memangnnya kenapa ? bukankah hanya ada kau disini? Dan aku tak perlu berpura-pura dihadapanmu”

Hera ingat benar saat namja itu dan Kai memergokinya merokok dulu dan saat itu pula ia merasa tak perlu berakting didepan mereka, itulah mengapa Kai selalu bilang bahwa Hera tak lebih dari seorang iblis yang memakai topeng malaikat, begitu disegani di sekolah karena sikapnya yang begitu cerdas dan patuh namun pada nyatanya ia hanyalah gadis menyedihkan yang kemudian menggilai kehidupan malam, saat dunia baru memperkenalkannya pada kehidupan mewah, harta dan kedudukan.

Bagi orang dengan masa lalu buruk sepertinya, tak ada alasan untuk tak terlena dengan semua itu, lagipula clubbing dan minum-minum adalah pelarian yang cukup handal untuk sejenak melupakan dunia yang memuakkan baginya.

“Kau dan Kai sama saja, kadang aku berfikir kenapa aku harus peduli pada orang-orang bodoh seperti kalian.. orang-orang yang terus lari dari kehidupan dan kenyataan”
Hera mengernyitkan dahi “peduli pada orang-orang bodoh seperti KALIAN?” apakah namja itu juga peduli padanya? Entahlah..

Hera berujar datar
“Kalau begitu berhentilah peduli pada orang-orang bodoh itu”

Chanyeol hanya menggelengkan kepala, gadis itu tetap saja tak mengerti. Diberikanya satu minuman soda kepada Hera dan kemudian mereka sama-sama membuka penutup kaleng minumanya lalu terhanyut dalam pikiran masing-masing

***

Kai terdiam…kata-kata Hera tadi seolah menamparnya telak. Ia tak pernah tahu bahwa Luhan datang untuknya meski terlambat, ia tak pernah tahu bahwa laki-laki itu datang menjenguknya meski entah mengapa dia tak masuk untuk menemui Kai saat itu.

“Kai ? Kenapa kau hanya berdiri disini?”
Nyonya Han keluar dan terlihat bingung mendapati Kai hanya berdiri didepan pintu

“Ah kau membawakan parsel?”
Nyonya Han maupun Kai melirik keranjang parsel yang tadi ditaruh Hera disana

“Ah bukan itu..” ia tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Nyonya Han segera memotong pembicaraannya

“Aigoo, cepatlah masuk ..” Nyonya Han tersenyum dan hendak pergi, namun ia berbalik lagi

“Aku lupa.. untuk beberapa hari kedepan, bisakah kau menemani Ahri untuk menjaga Luhan? Meski aku bisa menyewa beberapa perawat untuknya tapi Luhan pasti menolak. Lagipula rasanya kau jarang main kerumah”

“Oh itu..” Kai hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal

“eum baiklah”

Nyonya Han tersenyum lalu menepuk pundak Kai
“Kau selalu bisa diandalkan, sekarang cepatlah masuk” Nyonya Han mendorong Kai kedalam lalu pergi bergitu saja.

“Kai!!” Ahri terlihat lebih ceria sekarang, ia berdiri lalu menarik tangan Kai

Kai dan Luhan saling menatap, atmosfer disana mendadak terasa sangat canggung, namun Sehun tersenyum misterius pada Ahri

“Kau tau? Kai sangat mengkhawatirkanmu ge, iyakan Kai?” Ahri berujar seenaknya membuat Kai membulatkan mata

“Itu benar.. bahkan Kai hampir membunuh orang yang menusukmu” Sehun tampak meyakinkan Luhan

Kai kini menunduk menahan kesal, iya yakin dua orang ini punya maksud tertentu.
~sial, aku seharusnya tak masuk kesini. Batinnya

“Jinjjayo?” Ahri bertanya lebih lanjut

“Ne!! Aura membunuhnya sangat terasa saat itu. Kai benar-benar marah karena orang itu melukai Luhan, bahkan Chanyeol harus menahannya habis-habisan”

“Apa yang kau katakan?” Kai menatap tajam pada Sehun dan Luhan tersenyum melihat itu.

“Tapi faktanya memang seperti itu” Sehun berujar cuek

“Kau..” Kai terlihat kesal dan Sehun menyela kalimatnya begitu saja

“Hah untung sekarang kau datang, aku lapar Kai, jadi aku mau membeli makanan dulu” tambahnya

Kai hanya diam, namun ia segera membulatkan mata saat Sehun menarik Ahri pergi bersamannya, meninggalkan ia berdua saja dengan Luhan.

“YAA!” Kai sedikit meninggikan suaranya saat mereka melangkahkan kakinya keluar.

Kai maupun Luhan terdiam sesaat. Mereka tak tahu bagaimana cara membuka topik pembicaraan. Apa yang harus diucapkan terlebih dahulu?

Satu menit

Lima menit

Sepuluh menit

Lima belas menit

Dua puluh menit

Waktu berlalu tanpa ada kata apapun yang terucap, hanya bunyi detak jarum jam saja yang terdengar diruangan itu.

“Mereka benar-benar tidak berguna, Aku jadi kesal” Sehun menatap mereka diluar dan hendak masuk lagi kedalam, namun Ahri segera menahannya

“Tunggu dulu! Berikan mereka waktu lagi”

“TAPI…”

“heyyyy! Pelankan suaramu” Ahri mengingatkan Sehun dan namja itu segera menyadari kesalahannya.

Didalam sana Kai mulai jenuh, ia menarik nafasnya. Baiklah… tak peduli apapun respon namja ini nanti, yang penting ia tak boleh membiarkan keegoisan terus-menerus menguasai perasaannya. Kai hendak berbicara namun Luhan mendahuluinya
“Maaf Kai”

Kai terdiam, sedikit memikirkan kata-kata yang harus ia ucapkan sekarang
“Aku yang seharusnya mengatakan itu, Maaf karena membawamu kedalam masalahku”

“Akulah yang memutuskan untuk terlibat, kau tak perlu minta maaf” Sanggah Luhan

“Tidak! Aku harus tetap minta maaf, karena ulahku kau harus berakhir disini”

“Tapi aku juga menyebabkanmu terbaring dirumah sakit dua tahun lalu” rasa bersalah kini kembali menjalar di hati Luhan

“Kau tidak perlu mengungkit masalah itu”

“Tapi aku selalu merasa bersalah akan kejadian itu, Kai”

“Aku tidak pernah marah karena kau tak datang hanya saja…”

“Karena itu, aku rasa aku pantas berada disni”

“Aku bilang aku tak marah!” Kai mulai terlihat kesal

“Kalau begitu, tak perlu minta maaf atas kejadian kemarin”

“Tapi kau juga minta maaf atas kejadian dua tahun lalu”

“Karena aku merasa bersalah, Kai”

“Dan aku juga merasa bersalah atas hal ini, Luhan”

“Aku bilang, kau tak perlu minta maaf”

“Aku juga bilang, kau tak perlu minta maaf”

“KENAPA KAU BEGITU KERAS KEPALA!” Keduanya saling membentak dan berkata secara bersamaan, mereka terdiam lalu saling memandang. Beberapa detik kemudian keduannya langsung tertawa

“Kita sungguh kekanak-kanakan” Luhan kembali membuka suaranya

“Itu benar, kita juga saling mempertahankan ego masing-masing” tambah Kai

“Karena dulu kau yang terbaring disini dan sekarang aku ada diposisimu.. apa kau mau menganggapnya impas?”

“Kau salah, Aku tak mau ada kata impas” Kai berujar datar membuat Luhan membulatkan matanya

~Apakah anak ini belum bisa memaafkanku? Pikirnya

Luhan terdiam dan tersenyum lemah
“Ah aku mengerti, aku tidak akan memaksamu untuk..”

“Karena aku lebih memilih untuk melupakan kejadian dulu dan memulai lembaran baru”
Kai mengoreksi kata-kata Luhan lalu namja yang terbaring itu tersenyum dan mengulurkan jari kelingkingnya

“Teman?”

Kai terkekeh
“Kenapa harus melakukan itu? Seperti anak kecil saja”

“Kau tetap menyebalkan” Luhan balas tersenyum

“Bukan urusanmu”

Luhan meninju lengan Kai mendapati pernyataan namja itu
“Sedang sakit, masih saja main-main” Kai mendelik sebal namun Luhan tetap tersenyum.

Diluar sana Ahri dan Sehun kini melakukan highfive secara serempak.
“Kita berhasil” Ucap Sehun.

***

Ahri membawa nampan dengan semangkuk bubur dan segelas susu putih diatasnya. Dengan hati-hati, ia berjalan kearah kamar Luhan
“Luhan ge, aku membawakan sarapan untukmu” ucapnya didepan pintu kamar Luhan

~Cekrek

Pintu kamar namja itu terbuka, memperlihatkan Luhan yang masih berdiri dengan wajah mengantuknya. Ahri sedikit terkejut
“Apa aku menganggu gege?”

“ah tidak-tidak, aku baru saja bangun.. masuklah”

“Nde” Ahri tersenyum manis lalu masuk kesana

“Tunggulah, aku harus mencuci wajahku dulu” Luhan segera masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Ahri disana

15 menit kemudian

“Aigoo.. Kau tak harus repot-repot seperti ini Ahri, aku sudah sembuh”
Luhan mengatakan yang sebenarnya, sudah dua minggu ia diperbolehkan pulang tapi gadis itu tetap merawatnya sedemikian rupa.

“Ini tidak merepotkanku lagipula bibi Yu yang membuatkan buburnya aku hanya mengantarkan saja” Ahri mempoutkan bibirnya, ia menyesali dirinya sendiri yang tak bisa memasak

Luhan terkekeh, entah mengapa akhir-akhir ini ia tidak merasa bahwa gadis ini menyebalkan seperti dulu, bahkan melihat tingkahnya sekarang membuat namja itu tersenyum otomatis
“Tidak apa-apa, ini sudah membuatku senang”

“eh?” Ahri menatap Luhan tak percaya, kadang ia berikir mungkin ada sesuatu yang salah dengan namja itu, karena akhir-akhir ini ia tak pernah marah-marah atau membentaknya seperti dulu.

“aa aku harus pergi ke kamarku”
Ahri berdiri dan hendak pergi namun ia tersandung sandal hello kittynya sendiri, membuatnya hampir saja terjatuh jika Luhan tak segera menahannya. Jantung Ahri berdetak kencang, jarak mereka begitu dekat dan ia sadar namja itu melingkarkan tangan kiri di pinggangnya. Disisi lain Luhan terpaku menatap Ahri, ia tak pernah melihat gadis ini dalam jarak begitu dekat, kulitnya yang putih pucat, manik matanya yang menawan, rambutnya yang indah dan bibir tipis berwarna pink, Luhan tak pernah menyadari bahwa gadis ini begitu cantik

“a mi mianhe” Luhan tersadar begitu mendengar suara Ahri lalu tersenyum manis padanya

“Kau sangat ceroboh”
Luhan melepaskan pegangannya dan mengacak rambut Ahri, namun entah mengapa gadis itu tanpa basa-basi langsung berlari ke kamarnya meninggalkan Luhan dalam kebingungan.

Namja itu menatap kepergianya, Ia seharusnya memperlakukan Ahri dengan baik dari awal, meski gadis itu kadang mengganggu, namun ia begitu tulus dan perhatian. Luhan masih ingat bagaimana saat dulu Ahri pergi keluar dimalam hari dan menerobos hujan hanya untuk membelikannya obat dan dua minggu lalu saat ia membuka mata, gadis itu adalah orang pertama yang dilihatnya, ia juga tak lupa bahwa selama ini Ahri merawatnya dengan sangat baik.

Luhan lalu duduk di tempat tidurnya, entah mengapa tiba-tiba ia teringat akan Hera. Gadis itu tak menjenguknya sama sekali bahkan ia tak mendengar kabar darinya selama dua pekan ini. Hubungannya dengan gadis itu seperti mengambang, bahkan semalam saat ia mengirimkan pesan singkat padanya, Hera tak membalas. Gadis itu bertingkah tak seperti biasa.

Luhan hendak menyantap sarapannya namun ponselnya berdering, menandakan sebuah pesan masuk

[Song Hera

Aku harap kau bisa menemuiku di Taman biasa nanti malam]

Luhan tertegun, bukankah seharusnya ia senang? Aakhirnya gadis itu mengirimnya pesan.. namun entah mengapa Luhan merasa biasa, bahkan perasaanya malah berubah tak karuan

***

Seoul’s Park
8:00 PM

Luhan berjalan menyusuri jalanan yang begitu tenang, dipinggir lampu taman dilihatnya Song Hera tengah berdiri dan mengeratkan syalnya
“Maaf, aku terlambat”

Hera memalingkan wajahnya kearah Luhan saat suara namja itu terdengar olehnya
“Aniyo, aku baru saja sampai disini”
Hera memang tersenyum namun Luhan merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis ini

“Bagaimana keadaanmu?”

“Ah.. aku sudah sembuh. Maksudku aku baik-baik saja”

“Apa kau.. tak menyukaiku lagi?”

Luhan terkejut atas pertanyaan Hera, dipandangnya gadis itu namun Luhan tak bisa membaca apapun dari ekspresinya
“Hera-ya, kau tau aku memang marah padamu beberapa minggu yang lalu tapi bukan berarti aku tak menyukaimu lagi” Luhan mencoba menjelaskannya

“Kalau kau masih menyukaiku ..” Hera menghentikan kata-katanya sejenak

“Cium aku..” Luhan membulatkan matanya saat mendengar kalimat yang diucapkan gadis itu

“Hera….” Luhan menatapnya namun Hera hanya diam tak mengucapkan apapun, ekpresinya tak berubah sedikitpun

Hera melangkahkan kakinya dan menipiskan jarak mereka, gadis itu semakin mendekat dan tiba-tiba saja bayangan Ahri melintas dibenak Luhan, namja itu hendak melangkah mundur namun Hera terlebih dahulu menghentikan langkahnya.

“Aku hanya bercanda”

“Apa kau bisa mengatakan padaku untuk pergi dari kehidupanmu? Atau katakan bahwa kau tak menyukaiku lagi”

Luhan semakin mengernyitkan dahi
“Kau kenapa Hera?”

“Jika dipikir-pikir sekeras apapun kita mempertahankan hubungan ini aku merasa pada akhirnya kita tak akan berhasil, Kau tak akan bisa menolak perjodohan orang tuamu dan anggaplah bahwa aku berkhianat karena menyukai Kai”

~Deg

Sesuatu menghantam hatinya tapi bukan perasaan sakit melainkan perasaan lain yang sulit dijelaskan
“Oleh karena itu mari kita akhiri saja”

Luhan hanya menatap Hera tanpa bisa mengucap apapun, Lidahnya terasa kelu.. gadis ini pandagan matanya berubah
“Aku sangat lelah.. orang-orang datang padaku dan pergi meninggalkanku begitu saja. Mereka bertindak tanpa memikirkan perasaanku sedikitpun. Jikapun kita bisa melanjutkan hubungan ini, tapi pada akhirnya aku tahu, kau akan meninggalkanku dan aku akan terluka lagi. Aku sudah muak untuk ditinggalkan seperti itu, oleh karena itu.. beri aku kesempatan untuk kali ini saja..menjadi pihak yang meninggalkan”

“Xi Luhan…..”

“Aku mengakhiri hubungan kita, Aku meninggalkanmu”
Hera berujar begitu datar dan Luhan tak mempunyai sepatah katapun untuk diucapkan. Semua ini terjadi begitu saja, tanpa rencana ataupun bayangan sebelumnya. Semua ini begitu mendadak

“Semoga kau bahagia”

Hera memberikan senyuman terakhirnya lalu meninggalkan Luhan yang masih menatapnya lekat, Gadis itu berbalik dan berjalan menjauh.. namun baru beberapa langkah saja air matanya menetes begitu saja.
Meski selama ini nama Kim Jongin yang ada dihatinya namun menngingat ia menghabiskan beberapa tahun ini bersama Luhan tak mungkin jika ia sama sekali tak memiliki perasaan pada namja itu. Luhan, walau bukan yang paling ia harapkan, namun namja itu satu-satunya yang ia miliki, tapi mempertahankanya bukanlah ide yang baik mengingat pada akhirnya pasti ia juga yang akan terluka. Ah, setidaknya ia tidak perlu menciptakan kebohongan-kebohongan lain pada namja itu, bukankah mereka sudah berakhir?

-to be continued-

13 thoughts on “One-Sided Love (Part-8)

  1. thor =_= kuranggggggg panjang T.T knp hera jd putus sm Luhan? seneng jga Luhan ama Kai jd baekan lg :’v next thorr

  2. Seneng banget buka blog ternyata kakthor dah post 2 chapter dan kailu akhirnya baikan..
    Cuma ada yang kurang aja thor.. kurang panjang ceritanya thor t.t

  3. huwaaaaaaa sumpah daebak bgt xD
    Keren thor kerennn (y) dri chap1 aku udh suka bgt sama ff ini xD
    oke izin baca next chap ya xD hehe

  4. daebak makin seruu. . untung hera sma luhan udh putus. kasian luhan kalo harus d bohongin terus sma perasaan nya hera yg gk cinta sma sekali .

  5. astaga~ demi apa gua seneng banget luhan n hera udah putus serasa beban yg udah lama numpuk ilang *lebay …

    klok hera gk jahat kyak gitu mungkin gua bakalan respek ke dia tapi sayangnya dia kyak gitu jadi yah … gitu deh

  6. Huffttt…. Apakah aku harus bilang kalo aku salut dgn Hera?? menurut aku dia melakukan tindakan yg baik dgn memutuskan luhan. mgkin luhan tdk bs berkata bahwa ia tdk menyukai hera lagi. tp dgn adanya kebimbangan di hatinya, itu cukup menjelaskan bahwa hatinya yg dulu diisi oleh hera skrg sdh terganti dgn org lain, Ahri mungkin??

    Aku baca selanjutnya aja yah!
    Author fighting

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s