One-Sided Love (Part-9)

 

OSL3Tittle : One-Sided Love
Length : Chaptered
Rating : T
Genre : Romance, Drama
Author : yhupuulievya
Cast : Xi Luhan, Kim Jongin, Choi Ahri, Song Hera, and many more
Disclaimers : This Fanfiction is absolutely mine but the cast belong to themselves. Don’t ever plagiarize it.
Note : If you have some questions, feel free to mention me at @yhupuulievyaa

Apakah kau pernah berfikir, mengapa kita sering jatuh cinta pada orang yang salah?
Karena, kita tidak bisa memilih kepada siapa kita ingin jatuh cinta.
Hati, keinginan dan logika memang sering tak sejalan. Lalu mengapa Tuhan mempertemukanmu dengannya?
Tentu saja, Karena Tuhan mempunyai rencana lain yang tak pernah kau ketahui.
Everything happens for reason, right?

CHAPTER NINE
(Hello Busan!)

Luhan’s mansion
09:00 PM

Choi Ahri berdiri dengan gugup, sedari tadi wajahnya terlihat tegang, disisi lain Nyonya Han serta yang lainnya duduk dengan tenang di meja makan.

“Sebenarnya… eung masakanku mungkin tidak enak, tapi akhir-akhir ini aku mengikuti kelas memasak” Ahri masih saja terlihat gugup

“Aigooo, jangan berkata seperti itu, kita cicipi dulu masakannya ya, lagipula kau sudah berusaha sayang”
Nyonya Han tersenyum pada Ahri lalu mengambil sumpitnya, disisi lain Sehun dan Chanyeol nampak gelisah, tapi keduanya mengikuti apa yang dilakukan Nyonya Han dan mereka mulai mencicipi masakan Ahri

“O tto khe?” Ekpresi Ahri penuh dengan antisipasi

~Hening

Tiba-tiba saja mereka semua terdiam, Sehun dan Chanyeol sedari tadi saling menatap satu sama lain.

“Apanya yang bagaimana, rasanya benar-benar aneh”

~Plakkk

Nyonya Han memukul kepala Kai begitu namja itu berceloteh seenaknya
“Apanya yang aneh huh ? pasti ada yang salah dengan lidahmu, rasanya jelas-jelas enak, iyakan?” Nyonya Han menatap pada dua sahabat Kai

“ah.. nde.. e .. enak” Lagi-lagi Sehun dan Chanyeol harus berbohong

Ahri menghela nafas, ia tahu mereka semua berbohong agar tak membuatnya kecewa, diliriknya Kai yang kini tengah mengusap kepalanya, satu-satunya orang yang berkata jujur hanyalah namja itu, meski dia berujar seenaknya tapi Ahri menghargai pendapatnya. Luhan menyadari perubahan ekspresi dari Ahri.

“Jika kau terus berusaha dan belajar, masakanmu pasti akan lebih baik, kelak” Luhan berujar dan tersenyum pada Ahri
Mendengar itu, Ahri kembali ceria, tiba-tiba saja ia mendapatkan kembali semangatnya

“Ne!! Aku akan berusaha lebih keras lagi” ia berujar penuh semangat lalu mengalihkan pandangannya pada Luhan, mereka berdua saling menatap dan tersenyum satu sama lain.

“Baiklah, karena besok kita harus bangun pagi dan bersiap untuk pergi ke Busan, kalian lebih baik tidur sekarang” Ucapan Nyonya Han dibalas dengan anggukan semua orang disana

“Nah, jangan sampai ada barang yang tertinggal, Jaljayou Ahri sayang” Nyonya Han beranjak dari tempat duduknya dan mengecup pipi Ahri

“Jaljayou Luhaney”
Luhan menghindar saat ummanya hendak melayangkan ciuman selamat malam, pipinya bersemu merah menahan malu atas sikap ummanya yang terlalu berlebih

“Hentikan ini umma”

“Aigooo” Nyonya Han hanya menggelengkan kepala lalu beranjak pergi ke kamarnya

“Tidur yang nyenyak” Ia melambaikan tanganya pada semua orang disana lalu masuk kedalam, kamarnya memang berada dilantai dasar.

Jelas sekali Sehun, Chanyeol, maupun Kai sedari tadi menahan tawa mereka dan saat Nyonya Han sudah pergi, mereka langsung saja melepaskannya, menertawai Luhan terbahak-bahak

“HAHAHAHAHA” Tawa mereka membuat Luhan memutar bola matanya

“Sudahlah, cepat pergi ke kamar kalian masing-masing” Luhan tampak sedikit terganggu

“Okeee! Jaljayou Luhaney” Sehun berusaha menirukan ucapan Nyonya Han semirip mungkin, membuat Luhan menendang bokong anak itu karena membuatnya kesal. Ahri hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Lalu ia beserta Kai dan Luhan harus menaiki tangga karena kamar mereka berada dilantai atas. Ahri berjalan kearah kamarnya namun ia berhenti saat mendengar Kai memanggilnya

“Ahri-ya…”

“Ne ?”

Kai menatap gadis itu lekat
“Malam ini.. kau sangat cantik”

Luhan segera menatap Kai saat namja itu berucap demikian, Ahri terlihat gugup didepan sana, namun wajahnya terlihat berbinar

“Jinjjayo?”

“Ne… tapi…AKU HANYA BERCANDA! HAHAHAHAHA”
Wajah serius Kai berganti dengan tawa, membuat Ahri kini menatapnya kesal

“Menyebalkan” Ahri bergumam pelan sedangkan Luhan hanya menggelangkan kepala lalu mendorong Kai kedalam, memaksa namja itu segera masuk kekamarnya. Ahri mempoutkan bibirnya lalu berpaling meninggalkan mereka. Saat ia hendak membuka pintunya, Luhan berkata padanya

“Ahri-ah, kau tak perlu mempedulikan Kai, dia memang sering bercanda seperti itu.. lagipula, bagiku… kau memang cantik”

~degg

Jantung Ahri tiba-tiba saja berdegup kencang, ia yakin rona merah kini menghiasai wajahnya

“Jaljayou” Luhan tersenyum manis padanya lalu masuk kedalam, meninggalkan Ahri yang masih tak percaya dengan kata-katanya barusan.
Luhan mengambil bantal miliknya dan melemparkannya pada Kai

“Jangan terlalu sering bertingkah seperti itu” ucapnya

Kai hanya terkekeh
“Tapi dia terlihat lucu saat kesal, kau marah karena aku menggoda calon tunanganmu?”

“Apa yang kau katakan?”

“Kau cemburu” ungkap Kai

“Aku tidak cemburu”

“Benarkah ? jika kau tidak cemburu, itu berarti kau tak menyukainya, hah melegakan” ucapan Kai reflek membuat Luhan menatap Kai

“Kalau begitu berikan saja dia padaku” Kai berucap lebih lanjut membuat ekspresi Luhan berubah serius

“Hahahahaha, kenapa kau menjadi tegang seperti itu? Aku hanya bercanda”

Kai lalu berbaring di tempat tidurnya, berencana untuk segera tidur..namun ada satu hal lagi yang ia ingin tanyakan
“Kau putus dengan Hera?”

Luhan terdiam sejenak. Saat sahabatnya mengucap nama Hera, ia kembali teringat kejadian dua minggu yang lalu, gadis itu berubah aneh dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka, setelah itu mereka berubah menjadi canggung setiap kali berpapasan di Sekolah atau bertemu di tempat lain.. tapi dua hari yang lalu Hera datang padanya dan meminta agar bersedia untuk menjadi temannya. Kadang ia berfikir, jalan pikir perempuan terlalu rumit untuk dimengerti.

“hmm..”

“Bagaimana bisa?”

“Entahlah, mungkin sudah seharusnya seperti itu lagipula kita memutuskan untuk berteman sekarang”

“Ohh…” Kai hanya berujar pendek dan menarik selimutnya, Luhan mematikan lampu kamarnya dan berbaring disebelah Kai.

***

Busan
10:00 AM

“Whoaaa”

1514596_237571013091620_787624144_n
Sehun, Chanyeol dan Ahri berujar kagum begitu hotel mewah tersaji didepan matanya. Paradise Busan Hotel, sebuah tempat yang dijuluki sebagai pusat kehidupan malam paling keren di Busan. Sebuah klub malam, spa dengan pemandangan dari ketinggian serta restoran mewah adalah beberapa fasilitas yang tersedia disana. Tak lupa, tempat ini disebut sebagai keajaiban bagi pecinta kuliner karena kita bisa mencicipi bingsu disini, makanan yang terbuat dari kelopak mawar dengan rasa yang menakjubkan. Namun dari semua hal itu, yang paling bagus adalah letaknya yang strategis, dimana keindahan pantai Haeundae terpapar didepan sana, karena hotel ini langsung menghadap kearah pantai

“Daebak!! ini pasti akan menjadi liburan musim gugur yang menyenangkan!” Ahri berujar ceria

“Tentu saja, umma yakin tempat ini adalah yang terbaik, kajja!” Mereka semua kini berjalan memasuki hotel Paradise

“Nah, sayang.. ini kunci kamarmu” Nyonya Han memberikan kunci kamar hotel pada Ahri dan gadis itu tersenyum senang

“Kalian bereskanlah barang kalian dan istirahat sebentar, setelah berenang kita akan pergi ke Shinsegae”

“Untuk berbelanja?”
Tanya Ahri antusias dan Nyonya Han mengangguk pasti

***

Nyonya Han menarik tangan Ahri menuju pantai, sedari tadi gadis itu hanya diam saja

“Lepaskanlah handukmu honey..”

“Apa ini tidak terlihat memalukan?” ia berkata pada Nyonya Han begitu melepas handuknya

“Aigoo tentu saja tidak.. kau terlihat manis”

“Tapi..” Ahri hendak protes namun Nyonya Han segera menarik tangannya

“Luhaney! Temani Ahrimu sayang…” Nyonya Han berteriak pada anaknya begitu mereka sampai disana.

Luhan dan Kai berbalik saat mendengar suara Nyonya Han, didepan sana ummanya menggandeng Ahri yang kini mengenakan baju renang two piece-skirted, yang terlihat cute

63568_237936326388422_131344138_n
~Blush
Wajah Ahri merona merah saat ia merasa kini dua namja itu tengah menatapnya. Luhan maupun Kai yang tadi menatap Ahri kini memalingkan wajahnya kesembarang arah, pipi mereka entah mengapa tiba-tiba terasa panas. Gadis itu terlalu sempurna

~Sial..
Batin keduanya

“Yaa!! Apa kau mendengar umma?”
Nyonya Han kembali berteriak karena Luhan hanya diam terpaku didepan sana

“aa .. ne”
Jelas sekali namja itu terlihat gugup, namun ia segera berjalan meninggalkan Kai untuk menemani Ahri

“Apa yang kau lihat?” Nyonya Han bertanya pada Kai, yang kini tengah menatap Luhan dan Ahri

“Tidak” ia lalu mengalihkan pandanganya pada Sehun dan Chanyeol yang tengah bermain air

“Apa kau mau jalan-jalan?” Tawar Luhan dan Ahri mengangguk malu
Oh well, sejak kapan Ahri menjadi seperti ini?

Luhan dan Ahri kini berjalan menelusuri pantai, pasirnya yang putih terasa hangat dikaki, karena ini musim gugur udaranya tidak begitu panas seperti biasa, bahkan bisa terbilang sejuk, namun tetap saja cuacanya cocok untuk berlibur.

Mereka berjalan berdampingan dan tangan merekapun kembali bersentuhan akibat berjalan begitu dekat. Luhan menahan nafasnya lalu tanpa berkata apapun ia menggenggam tangan Ahri. Gadis itu sedikit terkejut namun ia berusaha menenangkan degup jantungnya yang hampir meledak. Ya tuhan ….

Setelah berjalan sedikit jauh, akhirnya mereka berhenti di seberang Pantai untuk mencicipi aneka seafood yang ada disana. Ahri mengambil makanan yang diberikan Luhan padanya, lalu duduk disamping namja itu sambil menikmati seafoodnya

“Hari ini benar-benar cerah..” Ahri tersenyum menanggapi ucapan Luhan

“Apa kau menyukai pantai?”

“Nde .. tapi aku lebih menyukai suasana pantai saat malam hari”

Luhan mengernyitkan dahi saat mendengar pernyataan gadis itu
“Kau mirip Kai, dulu dia sering keluar malam hanya untuk pergi kepantai”

“Jinjjayo?”

“Hmm.. tapi sekarang tidak lagi. Dia lebih sering menghabiskan waktunya di club malam”

“Apakah dia menyukai kehidupan seperti itu?”

“Entahlah, hanya saja dia mempunyai banyak masalah dengan ayahnya, mungkin untuk melampiaskan rasa kesalnya saja”

“Ahhh…” Ahri mengangguk pelan lalu kembali memakan seafoodnya
Mereka berdua hanya menghabiskan waktu dengan duduk seperti itu dan bercengkrama

“Ahri-ya , Luhaney ! saatnya makan siang sayang..”
Dari jauh Nyonya Han tampak memanggil mereka

“Ah, sepertinya kita harus pergi”

“Hmm” Ahri hanya mengangguk pelan lalu berjalan mengikuti Luhan

“Makan dulu sayang, setelah itu kalian bisa melanjutkan kencan kalian” mendengar itu Luhan maupun Ahri tertunduk malu-malu

“Whoaaa, Ahri kau terlihat cantik memakai itu” Sehun berujar semangat

Luhan menatap temannya, lalu mengambil handuk milik Ahri dan memberikannya pada gadis itu.
“Pakailah, kau pasti kedinginan”

Ahri menatap heran pada Luhan, udaranya sama sekali tidak dingin tapi gadis itu tanpa basa-basi langsung memakai handuknya. Chanyeol dan Kai hanya terkekeh, mereka tahu maksud yang sebenarnya dari Luhan.

Ahri terlihat pucat, tiba-tiba saja ia merasa tidak enak badan.. tenggorokannya sakit dan nafasnya tersekat. Ahri memegang lehernya lalu ia merasakan perutnya mual dan sakit luar biasa

“Sakit sekali..” Ahri meringis pelan

“Kau kenapa?” Luhan berujar panik

“Ahri sayang.. apa ada yang salah?” Nyonya Hanpun tampak khawatir begitu melihat Ahri semakin kesakitan

“Apa yang tadi kalian lakukan?” Tanya Kai

“Kami hanya makan seafood” Jawab Luhan
Tanpa pikir panjang Kai menggendong Ahri ala bridal style, lalu membawanya kembali ke hotel. Meninggalkan mereka semua dalam kebingungan.

***

Kini Hari berganti sore, rencana mereka untuk pergi berbelanja harus dibatalkan karena Ahri masih tampak pucat. Gadis itu muntah-muntah setelah tadi dokter mengatakan bahwa ia alergi pada kerang. Untung saja dengan cepat Kai membawanya kembali ke hotel dan memanggil dokter secepat kilat.

“Lain kali jangan ceroboh seperti itu” Kai memandang Ahri dengan cemas

“Maaf Kai, aku lupa bahwa aku alergi pada kerang”

“Apakah kau merasa lebih baik sekarang?” Kai yang sedari tadi terus menunggui gadis itu tetap saja terlihat khawatir

“Hmm!“

“Baguslah..” Kai mengusap rambut gadis itu pelan, namun segera melepaskannya begitu sadar akan tindakannya

“Maaf Ahri-ya, aku tidak tahu kalau…”

“Gwenchana..” Ahri memotong kalimat Luhan

“Lagi pula ini salahku, aku terlalu teledor.. gege tidak perlu khawatir”

Meski gadis itu berkata demikian namun Luhan tetap merasa bersalah, walau bagaimanapun ialah yang membelikan seafood untuknya

“Ahri sayang.. kau istirahat saja ya. Kita pergi ke Shinsegae besok saja”

“Ne umma.. gomawo” Ahri membalas pelukan ummanya lalu mereka semua pergi keluar, meninggalkan kamar Ahri agar ia bisa beristirahat

“Jaga diri baik-baik” Luhan berucap lembut

“Ne.. Luhan ge”

Luhan sebenarnya masih ingin berada disana namun ia harus membiarkan gadis itu beristirahat. Oleh karena itu, ia segera meninggalkan kamar Ahri dan menyusul yang lainnya. Dari belakang ia melihat punggung Kai yang semakin menjauh. Utuk pertama kalinya, Ia melihat namja itu begitu khawatir dan panik, dan untuk pertama kalinya pula ia melihat namja itu begitu perhatian pada seorang gadis.

***

Kai menatap gulungan ombak, suara deburannya terdengar lebih keras karena malam semakin sunyi. Ia memandang riak air didepan sana. Laut selalu membuatnya tenang tapi juga memberikan ketidakpastian, indah namun gelombang airnya seringkali menghempaskan karang ke pesisir.

“Kau ada disini?” Ahri terlihat menyusuri pantai lalu duduk disamping Kai

“Hm.. aku suka pemandangan laut dimalam hari, orang-orang mungkin merasa itu aneh, karena tak ada hal indah yang bisa kau lihat di malam hari”

“Tapi suasana seperti ini entah mengapa malah membuatku tenang, aku mungkin sama anehnya sepertimu Kai”

Kai tersenyum, dari awal, sejak ia melihat gadis itu untuk pertama kalinya di New York, ia sudah merasa begitu mengerti akan Ahri. Malam itu, saat menghadiri pesta teman bisnis ayahnya, Ia memandang gadis itu dari jauh, sebuah gaun putih pendek yang anggun melekat ditubuhnya dengan sempurna, gadis itu tersenyum ceria namun ia masih bisa melihat kesepiannya diantara puluhan tamu undangan yang berada disana. Saat semua orang berdansa, gadis itu menghilang dalam keramaian hanya untuk pergi ke balcony dan duduk sendiri, diam menikmati angin malam yang berhembus. Gadis itu sama sepertinya, memamerkan senyuman menawan hanya agar orang-orang tak bisa melihat pada hatinya yang kosong.

Beberapa tahun kemudian, di awal kepindahannya ke Seoul ia tak pernah menyangka bahwa ayahnya bermaksud untuk mengenalkannya pada Ahri, mungkin saat ini gadis itu akan berstatus sebagai calon tunangannya jika saja ia tak mangkir dari pertemuan malam itu. Takdir seolah tak ingin berhenti mempermaikannya, karena dua tahun kemudian, ia kembali bertemu dengan gadis itu disebuah Club malam. Kecewa, adalah hal pertama yang melintas di otaknya begitu menyadari mungkin gadis yang membuatnya jatuh hati ini bukanlah gadis baik-baik seperti apa yang diharakannya. Dengan maksud untuk meyakinkan persepsinya, ia memutuskan untuk sedikit bermain-main dengan gadis itu.. namun idenya berujung dengan high heels yang melayang tepat kearahnya serta ceramah habis-habisan yang dilontarkan ayahnya, namun ia tak menyesal.. karena dari sana ia tahu.. gadis itu tak seburuk yang ia pikirkan tadi

“Kai.. Gomawo” Suara Ahri membuyarkan lamunan Kai

“Gomawo… karena kau sudah menolongku tadi siang” jelasnya

“Hanya itu ? aku menyelamatkan nyawamu, jadi sepertinya kata terimakasih tak cukup sama sekali”

“Sepertinya kau tak pernah tulus untuk menolong orang” Ahri mendelik sebal

“Tak ada yang gratis didunia ini”

“Mwo ? kau menyebalkan sekali”

Kai hanya terkekeh mendengar ucapan gadis itu

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Menemanimu seharian lagi? Kalau begitu bagaimana kalau lokasi yang kita pilih berikutnya adalah.. Namsan Tower?”

“Kau ingin memasang gembok cinta bersamaku?” Kai menggoda Ahri dengan senyumnya

“Tentu saja bukan, aku hanya ingin jalan-jalan disana”

“Kenapa jadi kau yang memutuskan? Lagipula aku tidak mau jalan denganmu lagi, kau menentukan semuanya semaumu” Kai mengalihkan tatapannya kedepan

“Lalu aku harus apa? Anggap saja semuanya impas ya?”

“Tidak mau” Ujar Kai cuek membuat Ahri mendelik sebal

“Jadi apa maumu?”

Kai mengalihkan tatapannya pada Ahri
“Sederhana…”
Setelah kalimatnya.. Kai melayangkan ciuman yang lembut dipipi Ahri, membuat gadis itu terkejut atas apa yang terjadi secara tiba-tiba

“Nah, sekarang semuanya lunas” Kai berujar enteng dan

~Plakkk
Ahri memukul lengan Kai keras

“KENAPA KAU BERTINDAK SESUKAMU?” Ahri meninggian suaranya

“Kau ini kenapa? aku hanya mencium pipimu.. lagipula sebagai teman aku rasa itu masih dalam batas yang wajar”

“Apanya yang wajar? Bahkan Luhanpun belum pernah menciumku” Ahri tampak benar-benar kesal

“Kenapa kau harus membawa namanya, huh ? lagipula diluar negeri ciuman dibibirpun hanya dianggap cara untuk menyapa orang, kau ini berlebihan”

“Apanya yang berlebihan? Tetap saja kau membuatku kesal” Ahri berdiri dan pergi meninggalkan Kai

“Heyyyy!!” Kai berjalan mengejar gadis itu

“Baiklah aku minta maaf, aku tidak tahu kalau kau akan marah seperti ini”
Ahri tetap tak menggubrisnya

“Kalau kau memaafkanku, kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan terhadapku”

Ahri berhenti
“jinjjayo?”

“Kalau begitu.. rasakan ini!!”

Ahri menginjak kaki Kai dengan keras membuat namja itu kesakitan
“Awww…. kau masih menggunakan high heelsmu!”

Ahri berubah panik saat menyadari itu
“Maaf Kai, aku tidak tahu kalau aku masih mengenakan high heelsku”

“Gadis mana yang pergi ke pantai menggunakan Heels? Kau benar-benar aneh”

“Aku bilang aku minta maaf Kai”

Kini Ahri menggandeng lengan Kai saat namja itu hendak pergi meninggalkannya
“Apakah benar-benar sakit?”

Dilihatnya Ahri yang kini berdiri disampingnya, memasang muka memelas penuh penyesalan. Kai ingin tertawa terbahak-bahak tapi itu akan menggagalkan aktingnya kali ini, oleh karena itu ia memilih untuk menahannya

“Tentu saja”

“Jadi aku harus bagaimana?” Ahri menggigit bibirnya

“Duduklah.. temani aku”
Kai kembali duduk di atas pasir

“Apa hubungannya?”

“Karena kakiku sakit, aku harus beristirahat sebentar dan karena kau yang menyebabkannya jadi kau harus menemaniku Ahri-ya”
Ahri mempoutkan bibirnya namun ia tetap saja mengikuti perintah Kai.

“Apa kau menyukai perjodohanmu?” tiba-tiba saja Kai bertanya akan hal itu

“Hmm, aku rasa aku menyukainya. Dengan begitu, aku akan mempunyai seseorang disampingku kelak, Ah.. apakah ayahmu tak menjodohkanmu dengan seseorang?”

Kai terdiam
“Dia tak terlalu peduli padaku”
Ahri menatap iba pada namja itu, ia begitu mengerti akan perasaanya

“Aku sudah pernah bilang, jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku tampak menyedihkan”

“Lagipula, aku menikmati kehidupanku yang sekarang, dengan begitu aku bebas bersenang-senang dan melakukan apapun yang kumau” Lanjut Kai

“Tapi.. apakah kau pernah jatuh cinta?”

Kai terkekeh mendengar pertanyaan Ahri yang menurutnya konyol
“Kau ini aneh, meski aku sering terlihat tak serius, tapi aku tetaplah laki-laki yang mempunyai perasaan”

“Ah.. itu artinya kau pernah jatuh cinta? Tapi kenapa kau tak mempunyai pacar?”
Pertanyaan Ahri seolah membuatnya mati kutu

“Terlalu banyak orang yang menyukaiku. Lagipula aku sudah bilang, bermain-main seperti ini lebih menyenangkan”

Ahri tampak berfikir, entah mengapa ia merasa Kai mengatakan itu hanya untuk menutupi sesuatu
“Aku mengerti…”

“Huh?” Kai tampak bingung

“Gadis yang kau sukai meninggalkanmu kan? Jadi kau frustasi dan mulai berkencan dengan sembarang gadis, hanya untuk melampiaskan kekecewaanmu”

Kai kembali terkekeh
“Teori macam apa itu? Aku sudah bilang, aku memang menyukai gaya hidup seperti ini”

“Lalu.. dimana gadis yang kau sukai itu?”

Kai memalingkan wajahnya pada Ahri yang kini menatapnya dengan serius
“Dia dijodohkan dengan orang lain”

“Hah?”

Kai tersenyum tipis
“Sudahlah, untuk apa membahas itu..”

Ahri mengangguk pelan lalu ia kembali berkata
“Aku dengar.. Hera menyukaimu”

“Ah.. mungkin karena aku pernah menolongnya dulu, entahlah aku tidak pernah tau alasannya”

“Menolongnya?” Ahri tampak penasaran

“Hm.. saat pertama kali melihat gadis itu, ia tampak sangat familiar, lalu suatu hari aku melihatnya memegang manik Krystal dan saat aku memeriksa kembali almamaterku, ternyata dia adalah gadis yang pernah aku tolong dulu, tapi kejadiannya sudah lama, rasanya mustahil jika Hera masih mengingatku”

“Memangnya kapan itu terjadi?”

“Mm.. sekitar enam tahun yang lalu”

“Ah.. itu benar-benar sudah lama” Ahri mengangguk setuju

“Mungkin dia menyukaiku begitu saja. Lagipula gadis mana yang tak jatuh cinta padaku?” Kai tersenyum bangga dan Ahri memutar bola matanya.

***

Kai berjalan dengan santai kearah kamarnya dan ia melihat didepan pintu kamarnya, Luhan tengah menunggu
“Apa yang kau lakukan disini?” Kai berujar santai

“Menunggumu”
Kai terkekeh mendengar jawaban Luhan

“Aku bukan pacarmu, jadi kau tak perlu khawatir saapai menungguku seperti ini”

Kai menatap Luhan, namja itu seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi ragu-ragu
“Apa?” tanya Kai lebih lanjut

“Kau ingin bertanya sesuatu padaku?”

Luhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ekspresinya sedikit tidak yakin
“Ah.. mengenai tadi siang, terimakasih sudah menyelamatkan Ahri”

Kini ekspresi Kai berubah
“dan…” Luhan kembali bertanya

“Apa kau menyukainya ?”

Kai balik menatap Luhan, sudah ia duga namja ini pasti akan bertanya demikian
“Suka?”

“Ne.. Suka. Seperti seorang laki-laki menyukai perempuan.. seperti.. aku menyukainya”

Kai menghela nafas, Luhan berkata begitu lugas, meski ia tak mengucapkan kata sukapun, perasaan sahabatnya itu begitu transparan sehingga ia bisa mengetahuinya dengan mudah.

“Gadis itu meski ceroboh dan kadang bertingkah mengganggu, tapi dia begitu ceria, seperti seseorang yang tangguh namun begitu rapuh. Sehingga ada bagian dari diriku yang menginginkan untuk menjagannya.”

Kai masih berusaha untuk mencari kata-kata lain
“Dia kadang datang padaku dan kita berbicara untuk saling menceritakan masalah ataupun hal lainnya. Aku tidak tahu sejak kapan kita menjadi dekat seperti ini, tapi aku rasa aku menyayanginya”

Luhan mengerutkan alis
“Menyayanginya sebagai sahabat, adik, atau ?”

“Sayang …” Kai tampak berfikir

“Sayang seperti .. aku akan menghajarmu jika kau membuat Ahri menangis”
Luhan membulatkan matanya namun Kai segera melanjutkan kalimat tadi

“Karena sepertinya, aku sudah menganggap dia seperti… “

“Sahabat” Kai menghela nafas.

Luhan tersenyum, tampak lega. Ia lalu menepuk pundak Kai.
“Tidurlah dan jangan berkeliaran lagi, udara malam sangat dingin”

Luhan masuk ke kamarnya, meninggalkan Kai yang menatap kosong kedepan sana, ekpresinya sulit di deskripsikan.

-to be continued-

24 thoughts on “One-Sided Love (Part-9)

  1. thor cukup hanger yg digantung jngn nih ff T_T #ngilutinkomentartetangga:D
    sekarang Luhan jd baek :D makin bingung nanti Ahri sama siapa, lanjut thorr panjangan ff nya

  2. huwaaaaa daebak daebak daebak… kira2 ujung2nya ahri sama siapa ya? kasian kai xD hehe
    oke, aku mau baca next chap xD hehe

  3. thor aku reader baru, dan baru baca part ini.

    kosa katanya bagus dan titik komanya juga pass, tapi thor kayanya ada yg kurang.

    hmm by the why kenapa part10 di protect ?
    boleh minta passwordnya ?

  4. Tdk…. Kai menyukai ahri bukan sbg sahabat, tp perasaan seorang pria kpd gadis…

    Kai berbohong hanya krn mau menjaga perasaan luhan kan krn kai sdh tau kalo luhan itu suka sama ahri?? Apa lg status ahri skrg adalah tunangannya luhan.

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s