PERSONAL TASTE

 

a6_xcboccaifiyp

Title|| Personal Taste

Author|| Alana

Cast|| Ray CClown and  You

Genre|| Romance

Rating|| T

Duration|| Drable

 

Matahari bersinar lebih garang siang ini. Penat, dan gelisah yang aku rasakan memaksaku untuk mengalihkan perhatian ke arah luar ruangan. Pada kaca jendela yang sedang terbuka, mataku terpaku di sana. Langit tampak tenang, dan sepertinya angin menawarkan kesegaran diantara gemerisik daun-daun maple.

Aku masih berada di sini, laboratorium kimia di lantai tiga gedung sekolahku. Namaku Nana. Dan aku selalu merasa kesal jika praktikum kimia ini menjadi kegiatan di akhir pekan. Sejak tadi aku hanya menjadi penonton saja di kelompokku. Sesekali ikut memegang cawan petri dan memasukan beberapa tetes cairan resin ke dalamnya. Kami sedang mengujimsample kelayakan resin untuk pembuatan lensa.

Mataku tertegun pada bayangan laki-laki yang melintas di luar sana.  Dia berjalan agak cepat menujumke arah barat. Ray. Pekikku dalam hati. Kenapa dia berada di luar kelas saat pelajaran sedang berlangsung. Rasa ingin tahuku tiba-tiba menyeruak. Gila! Apa yang kupikirkan? Aku bisa tidak mendapat nilai jika tidak mengikuti praktikum ini hingga akhir.  Hh, baiklah hanya ijin sebentar untuk ke kamar kecil. Aku langsung mengendap-endap menjauh dari kelompokku.

“Nana!” panggil Jun seketika. Aku menoleh.

“Aku mau ke WC sebentar. Oke!” aku menyeringai berpura-pura menahan panggilan alamku. Jun menggeleng heran

“Baiklah! Cepat !”

Tanpa basa-basi lagi aku segera menuju ke meja guru. Sebentar meminta ijin lalu segera berlalu keluar. Agh, aku lega bisa berada di luar ruangan. Ray!  Mataku langsung meoleh pada lorong yang sepi. Bayangan Ray sudah tidak terlihat lagi.

Pergi kemana cowok itu? Kakiku berjingkat-jingkat menyusuri lorong. Mencari-cari sosok Ray yang tadi melintas. Namun tidak kutemukan. Sampai alhirnya aku harus menuruni tangga hingga ke lantai satu.  Keringat mengucur di sekujur tubuhku, membuat baju seragamku menjadi basah.

Agh, seharusnya aku tidak perlu mencarinya hingga seperti ini. Kenapa aku harus segila ini hanya karena seorang Ray.

“Hei! ” panggil seseorang dari arah luar. Aku menoleh dan mendekati arah suara.  Aku berharap suara itu adalah milik Ray.

“Bantu aku, cepat!” ujarnya sambil menyeruak dari balik semak.

“Apa yang kau lakukan di situ?” ternyata memang benar itu adalah Ray. Tapi sedang apa dia diantara semak-semak dan tanaman bunga itu?

“Aku mencari jam tanganku.”

“Jam tangan ?”  ulangku sambil turut terjun ke dalam rimbunan tanaman.

“Iya. Tadi Minwo melemparkannya dari atas sana!”  Ray menunjuk ke atas, ke arah kelasnya yang berada di lantai empat.  Matanya yang bulat indah itu tampak berkilauan ditimpa cahaya matahari. Aku seperti tersihir menatapnya.  Sejenak dia tertegun melihatku. Menepuk pipiku dengan tangannya yang kotor oleh tanah.

“Hey! ” aku mencoba menghindar tapi terlambat.  Ray tersenyum.

“Merasa bahagia…?” tanyaku kesal.

“Haha, lucu! Ayo cepat!”

“Dilempar dari lantai empat apa tidak rusak?”  aku mencoba berspekulasi.

“Jangan. Mudah-mudahan tidak rusak.”

Aku diam mengamati kesibukannya. Keringat menetes di wajahnya, sementara mata dan tangannya berkesinambungan mencari benda yang dia maksud.

“Tapi aku tidak bisa lama! Aku hanya ijin untuk ke kamar kecil.”

“Lalu kenapa bisa di sini ?” gerutumu.

“Apa kau lupa, kalau kau yang memanggilku !” aku mencibir.

“Apa di lantai tiga tidak ada wc hingga kau turun sampai lantai satu ?”. Ray melirikku sejenak. Aku menjadi gugub seketika. Agh, iya!  Dia menyunggingkan senyum.

“Ya sudah, sana jika ingin ke kamar kecil!”. Ray mendorong tubuhku hingga aku tersungkur. Posisiku tidak stabil karena hanya berjongkok dengan sebelah kaki.

“Ray !” pekikku keras. Aku berupaya untuk bangun, namun Ray malah mempermainkan tanganku. Dia benar-benar nakal. Ditariknya tanganku hingga aku tidak berhasil bangun.

“Apa kau bosan hidup, Ray!” Kulemparkan segenggam tanah kering ke arahnya hingga seragam putihnya kotor.

“Hay, seragamku..!” teriaknya sambil membalas melempar rumput-rumput kering ke rambutku.

“Jangan rambutku! Aku baru mencucimya tadi pagi! Kau benar-benar menyebalkan, Ray!”  aku mulai mengejarnya mencoba untuk memukulnya,namun Ray terlalu gesit.

“Coba saja kalau bisa !” ledeknya sambil mengjindariku ke sana dan ke sini.

Kami tidak sadar kalau keributan yang kami buat menarik perhatian semua siswa penghuni sekolah yang sedang belajar. Mereka melongok kami dari jendela kelas masing-masing di atas sana.

“Apa yang kalian lakukan si sini! ”  kami terkejut dengan suara Pak. Kang gurur BP kami.  Kami serempak menghentikan kegiatan kami. Dan semua teman-teman yang melihat bersorak menertawai. Aku malu. Ray melirik ke arahku.

“Matilah kita…!” bisiknya padaku.

“Semua gara-gara dirimu!”  ujarku kemudian

“Kalian ikut ke ruang BP…!”

“Baik, Pak!” ujar kami serentak.

***

Akhirnya aku menjalani hukuman di akhir pekan ini. Agh! Aku mengeluh kesal. Kulirik Ray yang masih menyapu di lorong-lorong sekolah. Kami masih di lantai tiga. Dan itu berarti kami masih mempunyai dua lantai lagi untuk kami bersihkan. Ray terlihat santai tanpa beban, meski lelah sudah membayang di  wajahnya.

Aku membersihkan jendela dengan lesu. Ini sungguh mengesalkan. Seharusnya aku sudah berada di rumah, dan bersiap-siap untuk mengikuti audisi menjadi dancer.

“Huh! ” aku mendengus kesal.

“Kalau kau capek, istirahatlah dulu. Waktu kita masih panjang hingga sore nanti.” Ray menatap ke arahku.

“Aku ingin cepat selesai!” gerutuku sambil terus membersihkan kaca-kaca jendela itu.

“Maaf!”  tiba-tiba Ray sudah berada di belakangku. Aku meloncat kaget karenanya.  Ray tersenyum.

“Semua ini salahku. Aku seharusnya tidak melibatkanmu dalam urusanku tadi.” keringat menetes si wajahnya.  Tutur katanya lembut, membuat aku yang mendengarnya begitu luluh. 

“Ray. Aku yang mencari masalah. ”  kemudian aku duduk di lantai, melepas rasa lelah. Ray mengikutiku, duduk si sisi kananku dan menghela nafasnya. Kami saling menatap dan akhirnya tersenyum.

“Bagaimana kalau kita mencari jam tanganmu?” ujarku menyarankan.

“Biarkan saja! “

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.” jawabnya santai.

“Kenapa bisa begitu? Itu kan jam tangan, Ray. Memangnya kau tidak butuh?”

“Aku bisa mencarinya besok. Sekarang kita harus menyelesaikan semua kekacauan ini terlebih dahulu.”

Menatap wajahnya yang begitu damai membuatku menjadi tenang. Senyumannya seperti angin yang membawa kesejukan. Dan tatap matanya seperti sebuah harapan yang membuatku yakin bisa melalui semua masalah ini dengan ringan.

“Aku sebenarnya tadi melihatmu melintas di koridor saat aku sedang praktikum kimia.” ujarku sambil kembali beraktivitas .

“Aku tahu. “

“Hum! Kau sudah tahu?” aku mengerutkan dahiku.

“Aku melihatmu keluar dari kelasmu.” timpalnya.

“Kamu tahu!”

“Ya, kamu mencari kamar kecil kan…! ” selidiknya dalam tatap mata menggoda. Pipiku bersemu merah. Kurasa.

“Hm, iya.” jawabku lirih.

“Tapi kau turun ke lantai satu.” lanjutnya lagi

“Iya. ” balasku.

“Kamu pasti sangat bingung untuk mencari kamar kecil, kan pastinya.”

Lagi-lagi tatapannya seperti ingin menyelidiki sesuatu. Dia menyimpulkan senyum, membuat wajah tampannya terlihat menggemaskan.

“Sebenarnya kau ingin bicara apa?” tanyaku datar, pura-pura tidak mengerti.  Dia malah menggeleng sambil mengangkat bahunya.

“Ray..!” panggilku keras.

“Apa?”

Sekali lagi aku hanya mendengus. Dia benar-benar membuatku mati kutu. Apa sih yang ada di dalam kepalanya?

Akhirnya hukuman kami selesai juga. Aku membasuh tanganku dan membersihkan diri sebelum akhirnya menemui Ray yang sudah menungguku di gerbang sekolah. Lagi-lagi dia tersenyum. Kali ini aku melihatnya seperti laki-laki yang yang matang. Rambutnya terlihat setengah basah, begitu segar.  Aku tersihir olehnya.

Senja sudah merayapi wajah kota. Aku berjalan di sisinya diantara hiruk pikuk orang yang melintas ditrotoar. Baiklah, ini adalah pertama kalinya aku melewati waktuku bersamanya. Ray. Bahagiakah ?

“Apa kau mau kalau kita mengisi perut dulu!” tawarmu saat melewati kedai ramen di pinggir jalan.

“Tidak. Aku harus segera pulang. Ibuku sudah khawatir menungguku?” ujarku menjelaskan.

“Sayang sekali. ” dia terlihat kecewa.

“Aku benar-benar minta maaf. ” ujarku lagi.

“Bagaimana kalau besok?” Ray mengambil tanganku, dibawanya untuk digenggam. Aku memperhatikan hal itu dengan perasaan tak percaya.

“Apa maksudnya..?” aku mencari jawaban di matanya.

“Aku ingin membuat perjanjian denganmu. Ini tentang urusan pribadi kita. Mulai besok, kita menjadi sepasang kekasih.  Karena aku sangat menyukaimu, Nana. Aku tidak perduli kau suka atau tidak. Kau harus mau menjadi kekasihku!” ucapmu tegas.

“Geez! ” aku menghempaskan nafas sesakku. Shock dengan semua yang dia katakan.

“Apa berarti iya?” tanyanya penuh harap.

“Kupikir, kamu hanya akan  mengajakku makan ramen. !”

“Itu juga. “

“Kenapa jadi begitu serakah?”

“Iya atau tidak?”  tanyanya sambil menatapku dalam.

Agh, gila!  Dia benar-benar membuatku tersudut.

“Terserahlah!”

“Aku menganggapnya iya!”

Aku tersenyum. Fiuh! Hari yang sangat mengesalkan, dengan orang yang paling mengesalkan yang begitu aku sayangi. Ray! Aku berharap aku bisa melalui hari-hari mengesalkan lagi bersamanya.  Ini benar-benar memberi gairah dan semangat untuk menjalani hari-hariku di sekolah.  Aku tersenyum ketika Ray mengecup tanganku. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak berwarna biru tua.

“Apa itu..?” tanyaku penasaran

Ray tidak menjawab. Dia hanya meneruskan kegiatannya. Membuka kotak itu dan mengambil seauatu yang berada di dalamnya. Sebentuk jam tangan berwarna orange. O my God! Dia memasangnya di tangan kiriku.

“Ray!” aku tidak bisa berkata-kata.

“Aku sudah menemukannya saat kamu di kamar kecil tadi.”

“Jadi jam ini yang kamu cari…?” Ray hanya mengangguk.

.

.

.End

One thought on “PERSONAL TASTE

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s