PELABUHAN TERAKHIR [2]

pelabuhan-terakhir-minswagTitle ||  Pelabuhan Terakhir ( 2 )

Author || Alana

Cast || Kim Himchan dan IU

Genre|| Romance/Comfort

Rating|| G

Duration|| Chaptered

Thank you Minswag, for the Poster.

.

.

.

Samar-samar aku melihatmu berlari, menanggung senja diantara gemuruh ombak yang menghantam pantai. Kau melambaikan tanganmu lalu tersenyum seperti menggodaku. Benarkah itu dirimu…

Pesan sesingkat itu membuatku tercengang. Kamu sukses membuat hari-hariku dikerubungi bayang-bayang gerutumu. Apakah kamu merasa cemburu? Ataukah kamu benar-benar tulus mengatakan hal itu.

Namun apapun itu, sungguh membuatku tersenyum geli. Prasangkamu begitu buntu. Tidak bisakah kamu berpikir lain? Aku sengaja tidak membalas emailmu. Aku ingin meyakinkan diriku, apakah kamu benar-benar terganggu jika tidak kujelaskan semua itu.

Lalu emailmu datang lagi. Kali ini terlihat sangat berhati-hati sekali dengan kalimat-kalimatmu. Aku membacanya dengan sedikit resah.

.

.

Dear, Himchan

kenapa kau tidak membalas suratku. Apa kau tidak suka dengan foto itu? Apa kau marah? Aku minta maaf, karena saat mengambil foto itu, aku tidak menyapamu!  Aku sedang bersama dengan orang lain. Dan aku tidak ingin kau melihatnya.  Aku sungguh minta maaf. 

.

.

Lalu aku langsung membalasnya. Mungkin juga karena ingin mengungkapkan rasa gundah di hatiku, sekaligus ingin sedikit memarahimu.

.

.

Dear, Jieun

Sebenarnya apa yang kau lakukan di Seoul waktu itu? Kenapa kau tidak mengunjungiku? Apa kau sudah tidak menganggabku lagi?  Aku tidak perduli kau bersama siapa , namun aku sangat tidak suka jika kau  tidak menghormatiku lagi.  Kalau kau ingin tahu siapa dia yang bersamaku, kenapa kau tidak menyapa kami waktu itu?!  Mungkin kau tidak akan bertanya padaku lewat surat dan mengirimkan foto yang membuatku semakin marah padamu. 

.

.

Entah kenapa aku bisa menjadi begitu kejam. Kenapa aku begitu tega mengutarakan semua itu tanpa berpikir dua kali. Akankah kamu membenciku, atau mungkin kamu akan menghilang selamanya dari hidupku.

.

.

Sunbaenim,

Aku minta maaf. Aku sungguh-sungguh tidak berani.  Tolong jangan marah padaku. Aku berjanji aku akan menemuimu jika aku ke Seoul.

.

.

.

O my dear Jieun,

Aku sebenarnya tidak ingin marah padamu, aku tidak tega memarahimu. Tapi sebaiknya kau berhati-hati jika bepergian dengan teman lelakimu.  Siapa dia?  

.

.

Aku seperti merasa bersalah saat bertanya tentang teman lelakimu. Ternyata aku juga pernah melakukan hal yang sama.

.

.

.

Sunbaenim,

Aku akan pulang ke Daecheon untuk mengunjungi ibuku saat musim panas nanti. Aku sangat berharap kita bisa bertemu di sana. 

.

.

Tentu saja hatiku bersorak saat membaca pesanmu. Pulang ke kampung halaman adalah hal yang sangat aku rindukan terlebih jika bisa bertemu denganmu.

Setiap harinya aku lalui tanpa sabar, ingin segera menjumpaimu. Sungguh, aku menjadi hampir gila karena menghitung waktu yang sepertinya berjalan lambat.

Sudah gelap. Malamku sudah mendekap erat tubuhku. Dingin. Dan angin-angin berhembus semakin kencang, menghantarkan deburan ombak yang menghempas kian jauh dari bibir pantai. Dia hampir mengenaiku.  Cipratan airnya sedikit menerpa wajahku. Jieun.  Kau tidak datang.

Aku berjalan melalui jalan-jalan sempit menuju rumahku. Lampu-lampunya sudah menyala menemani langkah-langkahku. Berat.  Ada dorongan dalam hatiku yang memaksaku menendang kerikil-kerikil itu, terhempas. Sepertinya itu yang aku rasakan. Terhempas.

Melewati rumahmu yang terlihat lengang. Seperti tidak ada kehidupan.  Mungkin tidak terlalu sepi, dari sini aku bisa mendengar ada suara nyanyian, mungkin dari acara televisi atau radio. Ibumu sangat menyukai lagu-lagu klasik. Sangat menyentuh hatiku. Aku merinding dibuatnya. Mungkin juga kamu ada di dalamnya? Sedang bersama ibumu, duduk bersamanya sambil menikmati teh dan menonton acara teve bersama.  Dadaku berdedub kencang. Namun pada akhirnya aku kembali melangkah, meninggalkan gelisahku hanya di depan pintu pagar rumahmu.

Langkah-langkahku tiba pada ujung jalan. Pada pagar kayu setinggi dua meter, dengan begitu banyak ornamen bunga menghias tembok batunya. Ibuku sangat menyukai bunga. Dia menanam beberapa macam bunga di halaman belakang rumah, dan beberapa diantaranya juga dijual. Ibuku adalah wanita yang sangat tegas. Dia sangat berpendirian. Sejak kecil aku mendapatkan bimbingan yang cukup keras darinya. Namun demikian dia sangat menyayangiku.  Seorang laki-laki tidak boleh manja dan cengeng, betapapun berat jalan kehidupan yang harus dilaluinya.

Ibuku tidak pernah membantuku bangun saat aku terjatuh. Dia membiarkanku untuk bangun sendiri dan melarangku untuk menangis.  Mungkin itu ada baiknya juga. Karena bimbingan seperti itu pada akhirnya melatih mentalku juga. Di saat-saat aku merasa jatuh, aku nisa menguasai diriku sendiri, dan bangkit dari masalahku sendiri. Di saat-saat itulah aku menemukan makna seorang ibu di hatiku.

Sekarang dia, ibuku sudah tidak sekuat dulu. Dia lebih senang berada di dalam rumah. Menyulam adalah kegiatannya yang akhirnya menyita banyak waktunya. Tapi biarlah, toh anak-anaknya sudah tidak terlalu membutuhkan tenaganya lagi. Ibuku bisa meluangkan banyak waktunya untuk dirinya sendiri. Dan mungkin kini saatnya untukku membahagiakannya. Menjadi malaikatnya.

“Sunbaenim…!”

Suara itu langsung membuatku terbangun dari lamunanku. Baru saja aku akan membuka pintu pagarku.

“Jieun!”  pandanganku tertuju di sisi kanan pintu. Mengapa sejak tadi tidak kulihat dirimu. Aku lamgsung menghambur padanya, menatap dirinya yang rersenyum sepeeti bidadari di kegelapan.

“Aku menunggumu sejak tadi..”

Aku tersenyum. Sungguh tidak habis kupikir. Mengapa bisa kamu menungguku di sini sementara sejak tadi aku menunggumu di pantai. Tempat kita bermain dulu.

“Maafkan aku. Apakah sudah lama kamu di sini?”

“Belum. ” jawabmu singkat. Suaramu kian lembut, dan parasmu kian cantik. Kau sudah menjelma menjadi wanita.  Aku tersenyum. Agh! Ingin sekali memelukmu. Membelai rambutmu dan menhucapkan kata-kata rindu dintelingamu.

Kita berdiri seperti orang bodoh, mematung tanpa berkata-kata. Sesekali menatap dan tersenyum.

“Sunbaenim, sepertinya kau bertambah tinggi!” serumu kemudian.

“Aku tidak tahu , mungkin juga. Dan kamu bertambah cantik..ehem!”  aku tidak tahan untuk mengatakannya. Kau tersenyum.

“Masa? Aku merasa sepertinya aku bertambah gendut.”

“Problem wanita.” sahutku. Kau rertawa.

“Masuk..?” ujarku menawarkan. Namun kau menggeleng. Dan aku baru menyadari sesuatu. Ibuku. Tentu saja. Kuhela nafasku berat. Bersandar pada tembok.

“Bagaimana jika kita berjalan-jalan saja. Belum begitu malam.” kau memberikan saran. Sebentar aku menatapmu , begitu tidak tega membiarkan kakimu lelah. Sejak tadi sudah menungguku, dan sekarang harus berjalan lagi hanya untuk bersamaku.

“Kita mencari tempat yang enak untuk ngobrol!” akhirnya aku melangkah bersamamu, melewati jalan-jalan yang tadi kulalui. Kitta bersisian. Agak jauh. Wajahmu begitu lembut tertimpa cahaya lampu-lampu jalan.

“Kau sudah makan?” tanyaku sesaat kemudian.

“Belum.Bagaimana kalau kita mencari tempat untuk makan?”

“Oke! Aku juga lapar. “

Melangkah di bawah lampu-lampu jalan. Selangkah demi selangkah. Aku sungguh tidak bisa membayangkan perasaan bahagiaku. Setelah sekian waktu berpisah, tentu saja aku sangat mensyukuri pertemuan ini.

Aku menatap dirimu dalam keremangan. Kamu semakin membuat hatiku berdegub kencang. Apakah kamu sengaja kembali untuk diriku?

Senyummu menembus di relung hatiku. Sejuk diantara penatnya malam di musim panas ini.

“Bagaimana dengan kuliahmu, Sunbaenim?” tanyamu lirih. Debur ombak yang terdengar di kejauhan hampir menyamarkan kelembutan suaramu. Aku tersenyum, mataku lekat di wajahmu. Kamu menunduk. Malu.

“Baik-baik saja. ” jawabku singkat.

“Kau terlihat semakin dewasa. ” ujarmu malu-malu.

“Apa kau mau coba katakan kalau aku lebih terlihat tampan?”. Rasa narsisku terlihat seperti hal yang bodoh. Dia mengulum senyum. Mungkin menertawai kebodohanku. Aku tergelak.

“Ya. Sunbaenim terlihat tampan juga. ” ujarmu polos.

“Aku sudah tahu kau pasti akan mengatakan hal itu. Hanya ada dua orang yang mengatakan aku tampan di dunia ini. Yang pertama, jelas mama ku, lalu yang kedua pasti dirimu.”

Aku menuntun Jieun memasuki sebuah kedai ramen. Kami tidak bisa mencari tempat yang lain lagi, karena mungkin akan memakan banyak waktu, dan tentu saja masalah jarak akan membuat kaki kami lelah. Terutama Jieun.

“Tidak apa-apa kalau kita hanya makan ramyun saja?”. Ujarku menawarkan. Toh, hal itu bukan masalah lagi. Jieun terlihat sudah merasa nyaman di tempat dia duduk.

“Kita tidak akan cukup waktu menemukan tempat yang lain lagi. Perutku sudah sangat lapar. Aku akan makan apa saja yang kita temui pertama kali.”. Jieun mengerling manja. Aish!  Manisnya.

“Jieun!”. Tegurku lembut

“Hum?”

“Siapa dia?” tanyaku absurt

“Siapa?”. Sudah kuduga. Aku tersenyum.

“Laki-laki yang bersamamu pada perayaan Natal waktu itu?” jelasku hati-hati. Namun pantaskah aku bertenya tentang hal itu?

“Dia.”. Jieun melempar asanya padaku. Aku menagkapnya dengan gundah. Dia. Itu bukan jawaban. Hanya provokasi untuk emosi yang terbendung. Aku menahan gejolak cemburu di hatiku.

“Sepupuku.”. Jawabmu. Dan kepalaku seperti disiram seember air es. Dingin, segar…

“Dia putra dari pamanku. Namanya, Seung Jae. “

“Ow…”. Hanya itu jawabanku? Aku mengutuk diriku sendiri yang terlanjur berpikir kasar tentang laki-laki itu.

“Aku minta maaf telah berpikiran buruk terhadapnya.”

“Apa? Sunbaenim berpikiran buruk pada Seung Jae? Memangnya kenapa?”. Jieun menyelidiki dengan matanya. Tentu saja raut wajahku menjadi pias. Dia melebarkan senyumnya.

“Aku hanya mengira kalau dia adalah pacarmu.” ujarku ragu.

“Jadi kalau dia adalah pacarku, hal itu buruk untuk Sunbaenim ?”. Jieun sepertinya menggodaku. Dia sangat menikmati hal ini.

“O..o..” tentu aku merasa terjebak.

“Sunbaenim…!” panggil Jieun lagi. Aku menoleh.

“Makanlah! Ramyunnya sudah di depanmu!”. Aku sampai tak sadar, ketika bini penjual Ramyun itu sudah meletakkan semangkuk penuh mie panas de hadapanku.

Akhirnya kami menikmati makan malam ini dengan perasaan tak menentu. Memang kami belum bisa mencairkan suasana seperti dulu lagi. Rasa canggung dan bayangan masa yang telah kami lewati di tempat yang berbeda membuat kami sepertinya hilang keterikatan. Seperti dua orang asing yang baru bertemu.

Kami menyelesaikan makan malam ini dengan cepat. Setelah semua selesai kami habiskan. Aku menatap Jieun lagi. Dia sepertinya sudah tidak loyo lagi. Pipinya begitu berwarna dan berseri-seri.  Sepertinya energinya sudah pulih.

“Akan kemana lagi sekarang?”  tanyaku.

“Sepertinya kita harus kembali pulang. Aku berjanji pada ibuku tidak akan lama meninggalkannya. Kami sudah lama tidak bertemu. Dia sangat merindukan aku. Apa tidak keberatan jika Sunbaenim mengantarku pulang?”.

Sebenarnya aku masih ingin bersamamu, namun akupun mengerti, kerinduan ibumu sama seperti kerinduanku padamu. Aku mengangguk

“Sunbaenim?”

“Hum?”.

Kami kembali berjalan melewati jalan-jalan yang sepi. Angin malam semakin menghantam sistem pertahanan tubuh kami. Aku merapatkan hoodyku dan melihat ke arahmu yang menahan hawa dingin itu dengan melingkarkan tanganmu di dada. Aku baru sadar ternyata kamu tidak memakai baju hangat.

“Pakailah ini!”. Ujarku sambil memaksanya untuk memakai hoodyku. Kamu menurutiku dan membiarkan diriku mengenakannya di tubumu yang mungil. Terlihat sangat kebesaran. Aku sempat tersenyum, namun kau meninju lenganku. Astaga! Ternyata kekuatan tangannya tidak berubah. Pukulan itu masih terasa sakit. Aku meringis sesaat.

“Tangan,u masih kuat seperti dulu. Apa kau masih sering melatih tanganmu dan tenaga dalammu?”  aku mengambil tanganmu dan memperhatikan lekuk-lekuknya dengan teliti. Dan ini juga kesempatanku untuk merasakan kelembutan tanganmu yang membuat darahku berdesir.

“Tentu saja. Aku tidak akan menyia-nyiakan ilmu yang pernah aku pelajari. “

“Bagus.”. Pujiku senang.

“Jieun..!”. Panggil sebuah suara. Kami menoleh berbarengan. Dan aku melihatnya. Sosok laki-laki itu, yang Jieun bilang adalah sepupunya. Seun g Jae. Dia melangkah mendekati kami.  Tiba-tiba kamu melepaskan tanganmu dariku.

Aku melihatnya diam terpekur diantara kegugupan. Jieun menatapku dengan pias. Ada apa? Tanyaku dalam hati.

“Kau pergi terlalu lama. Katanya hanya membeli makanan kecil, …dan ini siapa?”. Tanya Seung Jae dengan raut curiga. Dia langsung mendekat ke arahmu.

“Aku Himchan.”

“Jadi dia Sunbaenim yang sering kau ceritakan padaku ?” ujar Seung Jae dalam senyum lalu dia mengilurkan tangannya.

“Kenalkan, aku Seung Jae. Aku tunangannya Jieun.”

Entah kenapa aku tersenyum ketika mendengar hal itu. Kutarik nafasku dalam-dalam dan mencoba menata suasana hatiku yang tiba-tiba kacau. Kulirik dirimu yang menatapku janggal. Mencoba memberi pengertian dari sorot mata yang kupikir lugu. Tapi pada akhirnya aku tersenyum juga ke arahmu.

“Jadi dia sering bercerita tentangku?”

Aku emlangkah bersam Seung Jae, meninggalkanmu yamg melangkah dibelakangku, mengikuti langhkahku yang seakan melayang diantara kesesakan nafasku. Kutepuk dadaku lagi. Hampa…


Masih bersambung lagi.

Mohon maaf kalau ada terselip typos…

Semoga  bisa menikmati jalan ceritanya yang mungkin agak panjang jadinya…/buat aku/

One thought on “PELABUHAN TERAKHIR [2]

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s