PELABUHAN TERAKHIR [1]

pelabuhanterakhir

Thank you Cafe Poster for this amazing poster

Title ||Pelabuhan Terakhir

Author ||  Alana

Cast || Kim Himchan and IU ( Lee Ji Eun)

Genre || Romance/comfort

Rating || G

Lenght || Chaptered

Disclaimer|| Story, is mine!  And thank u for Flaminkey91

Tentang pekik camar yang meramaikan senja, dan teluk terasa begitu sepi meski debur ombak telah menyampaikan pesan.  Mataku menawarkan cerita, yang tertangkup di kilau sunset di daun kelapa. Aku masih mengharapkanmu, bisikku padamu.  Dan senyumanmu menjernihkan langitku yang suram.  Senja beranjak malam.

Pantaiku sepi,

Aku masih menantinya. Aku masih berharap dia akan tiba. Mungkin satu atau dua jam lagi. Toh aku juga sedang tidak terburu-buru. Mataku menangkap kelebat camar-camar di kejauhan. Diantara angin laut yang menghempas semua letihku. Ji Eun. Aku masih berujar tentang benih-benih cintaku yang semakin mengakar dihati. Aku masih menginginkanmu hingga kini.

Cerita kita  beberapa kali mengambang. Tidak jelas. Dengan hatiku, begitu juga dengan hatimu. Kita selalu bersama, melewati banyak waktu bersama namun ada sesuatu yang tidak bisa kita tembus di sana.  Bahkan aku pun tidak bisa berpikir dengan alur yang kita jalani.  Entah ada apa dengan hubungan ini?

Menghitung waktu yang teramat lambat di senjaku. Masih ada sisa hingga mentari itu menghilang dari dunia.  Kamu masih belum datang. Kuhela nafasku lagi. Kali ini sambil tersenyum pada buih-buih ombak yang mempermainkan kakiku.

“Jangan mengangkat kakimu terlalu tinggi kalau sedang menghadang tendangan!” ujarku padamu waktu itu.  Kita sedang berlatih untuk ujian kenaikan tingkat bela diri kita . Kamu terlihat kesakitan dengan tulang keringmu yang menghantam kakiku.  Sebenarnya aku kasihan denganmu.  Karena kulihat kamu memang benar-benar kesakitan dan hampir menangis. Tapi tiba-tiba tangan kananmu itu justru memukul perutku sekuat tenaga. Memanfaatkan kelengahanku. Aku ,mundur beberapa langkah mencoba menahan nyeriku.  Mempertahankan harga diriku.  Namun aku mengakui kehebatannya.

“Kau curang!” sahutku sambil menarik nafas dalam untuk menetralkan rasa sakitku. Bibir mungilmu menyunggingkan senyum.  Sekali lagi kamu membuatku terpaku.

“Jangan membiarkan lawan mendapat kesempatan untuk menyerangmu!” balasmu sambil mengerlingkan mata. Kakimu mulai bersiap dengan kuda-kuda. Aku salut dengan kecerdasan dan kelihaianmu memanipulasi lawan. Dengan sikap seperti itu mana ada yang sanggup mematahkan pertahananmu, terutama hatimu. Aku menyeringai, menertawai perasaanku sendiri.

“Kita berlari saja untuk melatih pernafasan!” ajakku kemudian.

“Tapi ini sudah sore. Sebentar lagi gelap. “

“Kita berlari di pantai, dekat dermaga!”

“Ombaknya sedang tinggi.” ujarmu lagi.

“Tidak masalah! Apa kamu takut dengan ombak?”

“Kamu sudah bosan hidup mengataiku seperti itu!” timpalmu sambil mengepal tinju. Aku tertawa.

Waktu itu, kita, kamu dan aku berlari di sepanjang pantai, menyisakan jejak kaki yang begitu panjang dan tak beraturan.  Sebentar saling melempar pandang. Sebentar saling tersenyum. Aku begitu mengagumimu. Cantikmu yang sanggup mengalihkan duniaku. Dan entah untuk berapa lama aku menyimpan cerita hati ini padamu. Mungkin juga kau sudah tahu.

Sesekali kita bercanda, diantara ombak-ombak yang memecah kebisuan kita. Senyummu benar-benar magis. Dan warna senja membalut aura mistis di wajahmu.

“Jika ujianmu lulus aku akan memberikan hadiah khusus untukmu .”  Janjiku ketika angin-angin laut mempermainkan rambut panjangmu, menutupi sebagian wajahmu. Tanpa sengaja aku menyibakkannya dari parasmu. Kau tertegun sesaat, namun akhirnya tersenyum.

“Apa..?” tanyamu lembut.

“Nanti kamu akan tahu.”

“Bagaimana jika aku tidak lulus ? Pasti ada hadiah cadangannya kan?”

“Kalau tidak lulus ya tidak jadi aku berikan.” aku tersenyum menggodamu. Kau meninju pundakku. Keras. Aku menyeringai. Kenapa tangan semungil itu bisa begitu bertenaga?  Aku sudah bisa memastikan kalau ujiannya  pasti akan lulus.

“Bagaimana denganmu Sunbae-nim? “

“Apa?”

“Berjuang! Sabuk hitam pasti akan melingkar di pinggangmu!”  ujarmu penuh semangat.

“Ya. ” jawabku singkat.

Senja sudah beranjak kian pekat. Dan bayang -bayangmu belum juga tampak. Apakah  kamu tidak jadi datang? Aku mulai gelisah. Dan perlahan perasaan takut itu menyeruak. Perasaan yang sama saat kamu mengatakan bahwa kamu akan pergi dari sisiku. Dulu.

“Sunbae-nim !”

panggilmu ketika kamu menemuiku di gerbang sekolah.

“Ji Eun, ada apa? Kenapa kamu belum pulang?”

“Aku menunggumu Sunbae-nim!” ujarmu sambil menyeret tanganku untuk mengikutimu. Membawaku pada sisi yang sepi.  Raut wajahmu cemas.

“Ada apa?” tanyaku lembut. Memegang dua pundakmu dengan kedua tanganku. Matamu begitu dalam menatapku. Perasaanmu tergambar di sana.  Aku tidak tahu apa yang akan kamu katakan waktu itu, namun entah kenapa aku sudah bisa merasakan kegelisahanmu.

“Ji Eun?”

“Aku harus pergi. Mungkin aku tidak bisa mengikuti ujian kenaikan tingkat itu, Sunbae-nim.”

Untuk sesaat aku tertegun, mencoba mencari arti dari perkataanmu, namun gagal.

“Kamu bisa mengikutinya lain kali. Memangmya kamu akan pergi ke mana?  Dan kapan kamu akan kembali?”

Pertanyaanku terdengar runyam di kepalamu. Kamu menggeleng.

“Aku tidak tahu. Ada masalah dalam keluargaku. “

“Maksudmu?”

“Ayah dan ibuku berpisah. Mereka bercerai’ Sunbae-nim! “

“Bercerai ?”  mataku semakin dalam menatapnya.

“Aku akan tinggal bersama Ayahku di Busan.”

“Itu jauh. Tapi kenapa? Bagaimana dengan ibumu” timpalku dengan perasaan hancur.

“Ya. Jauh. Aku tidak tahu. Bukan aku yamg memutuskan. Jika Ayahku sudah memgatakan demikian, maka hal itulah yang harus terjadi. Sunbae-nim, aku takut! ” ulangmu datar

“Takut? Takut apa? “

“Aku akan meninggalkan kehidupan yang selama ini sudah aku jalani.  Lalu aku akan berada  di tempat yang asing dengan orang-orang yang benar-benar berbeda. Aku sungguh takut!”

Ucapanku tertahan oleh kegugupan. Tanganku gemetar saat itu. Sepertinya jiwaku tidak sanggub menerima semua perkataanmu.

” Kita mungkin tidak akan bertemu lagi!”  ujarmu berat.

“Jangan! Jangan mengatakan perkataan bodoh seperti itu. Kita pasti akan bertemu lagi. Kau tinggal mengatakan, di mana kau tinggal, lalu aku akan sesering mungkin menemuimu. Aku berjanji, Ji Eun.”

“Tapi aku juga tidak tahu di mana aku akan tinggal.”

“Nanti kau beritahu aku jika hal itu sudah pasti. “

” Himchan..!”

“Hhm…!”

Aku terkejut dengan panggilan itu. Pertama kalinya kamu menyebut namaku tanpa panggilan Sunbae-nim.

“Aku pasti akan sangat merindukanmu.” ujarmu dalam senyum yang terpaksa. Wajah cantikmu entah kenapa terlihat begitu lucu dengan senyum seperti itu.  Kamu tahu bagaimana rasamya tersenyum dalam tatap mata yang sedih, tanpa mengangkat tulang pipimu.

“Kamu pasti akan mendapatkan banyak teman di sana. Dan mungkin juga kekasih.”

Kali ini kau tersenyum dengan tulus.

“Tapi pasti tidak akan seperti Subae-nim.” wajahmu bersemu merah.

“Itu pasti. Tidak ada yang seistimewa diriku. ” aku menyudutkan senyumku. Merasa bangga dengan diriku sendiri. Namun tidak tahu apa yang membuat aku bangga.

“Kita berlari ke pantai lagi..!” ajakmu tiba-tiba.

“Baiklah!”

“Kali ini yang kalah harus mentraktir makan bosam!”  teriakmu ketika mendahuluiku berlari.

Siang itu hingga senja, kita menghabiskan waktu kita di pantai. Untuk terakhir kalinya.  Dan setelah itu, aku tidak berani untuk melihatmu pergi.  Aku melaknati diriku yang pengecut. Mungkin saja kamu menangis saat itu, ketika aku tidak berada di sana untuk menjabat tanganmu, mungkin. Atau memelukmu. Atau melambaikan tangan saat bayanganmu menghilang. Sungguh aku tidak sanggub.

Lalu satu mimggu kemudian, emailmu datang. Memberikan setitik pencerahan di hatiku. Aku bersorak bahagia. Harapan itu kembali muncul, dan aku berlari sepanjang jalan menuju sekolah. Angin-angin itu seakan-akan menerbangkan semua kegundahanku. Jieun menepati janjinya. Begitulah aku melerai raguku.

Kita bertemu untuk pertama kalinya setelah kamu pergi meninggalkanku, adalah saat kau merayakan ulang tahunmu yang ke tujuh belas tahun. Aku memberikan sebuah  gelang yang terbuat dari perak.  Mungkin tidak terlalu bernilai, namun kamu menerimanya dengan sangat bahagia. Dan itu yang membuat benda itu menjadi berharga.

 Meskipun semua berjalan dengan baik, namun kita akhirnya semakin jarang bertemu. Aku hanya sesekali mengunjungimu di Busan.  Itupun untuk waktu yang sangat singkat. Aku harus meneruskan pendidikanku di perguruan tinggi di Seoul. Dan kamu masih menjalani hari-harimu sebagai murid sekolah menengah atas.

Dua jam sudah berlalu. Dan masih sepi. Aku mulai mencari pegangan. Mencoba menguatkan hatiku. Namun aku masih berharap Jieun datang. Warna langit dipantaiku sudah menjadi gelap.

Aku melihatmu terakhir kali dua tahun lalu. Pada satu perayaan Natal di Seoul.  Namun itupun bukan bersamaku. Sudah kukatakan, aku hanya melihat tidak bertemu. Ada seseorang di sampingmu. Entah siapa. Dan terlihat kamu begitu menyayanginya.  Kita berjalan bersisian. Kamu, dia dan aku pada sisi yang tidak kau lihat.  Aku bisa mendengar tawamu, bisa merasakan keceriaanmu dan entah kenapa aku seperti hilang dalam hidupmu. Berakhir pada episode yang baru.

Kamu menggenggam tangannya. Berjalan menikmati malam penuh lampu berkilauan. Sebenarnya malam itu sangat berkesan. Suasana sangat ramai, meskipun dingin karena musim salju masih dipertengahan.  Aku semakin merapatkan mantel usangku, membetulkan sarung tanganku dan melindungi kupingku dari hawa dingin yang semakin menggigit dagingku. Lagu-lagu Natal membahana di setiap sudut tempat.  Aku terduduk di pinggir kolam dekat dengan pohon Natal raksasa. Sedikit memohon sesuatu di malam yang penuh keajaiban itu. Permohonan. Dirimu. Cintamu. Seharusnya kamu bersama diriku, saat itu. Sekali lagi aku bergumam, sungguh malam yang sangat berkesan.  Kutepuk dadaku yang terasa sesak.  Aku membiarkannya.

Lalu email itu datang lagi. Setelah melewati malam tahun baru. Kau mengirimkan sebuah foto. Foto diriku di pusat kota. Diriku? Aku terkejut. Benar-benar terkejut. Dalam foto itu aku bersama dengan seorang gadis. Tentu saja aku mengenalnya. Namanya Yu Nan. Dia adalah temanku. Kami sedang melewati malam tahun bersama. Dalam tulisanmu, kamu begitu memuji Yu Nan.

Dear Himchan

Sunbae-nim, kapan-kapan kamu harus mengenalkan aku padanya. Dia sangat cantik, cocok untuk Sunbae-nim. 

.

.

.

.

Bersambung

Author POV,

Ya, akhirnya bersambung, padahal mau dibikin one shot. Tapi gagal, terlalu panjang./buat aku/ Mendingan di bagi dua. Mudah-mudahan cuma dua chapter saja cukup. Aku ga suka bikin story yang panjang-panjang. Hehe suka males nerusin.

Harapan selalu ada. Setiap author, berharap story nya dibaca. Dan syukur kalau ada yang rela ninggalin penjelasan.  Ya, segitu aja, semoga berkenan. Peace Fight for feeedom!!!

3 thoughts on “PELABUHAN TERAKHIR [1]

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s