SMILE …

IMG_20140608_202951

Title|| Smile

Author|| Alana

Cast|| Moon Jongup and Kim Hatsumi

Genre|| Romance/Comedy

Lenght|| oneshot

Pagi ini Kim mendatangi Jongup yang masih tertidur. Gadis manis itu bersungut kesal mendapati sahabatnya masih meringkuk di bawah selimut bergambar pokemon itu.

“Katanya ingin mengantarku ke supermarket. Jam segini kok masih merem! Jongup! “

Dengan sekali hantam saja Kim berhasil membuat Jongup membuka mata. Cowok itu menatap Kim dengan mata sipitnya. Dia berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih berterbangan.

“Ha..Kim! ” Jongup bergumam, membuat Kim menutup hidungnya.

“Cepat mandi! Jam berapa ini?”  Kim berjalan mendekati jendela dan membuka tirainya.

“Lihat! Matahari udah mau nyampe ubun-ubun, kenapa baru bangun! Kan, aku sudah bilang pagi ini kamu harus antar aku ke supermarket. Ingat ?”

Kim menyerbu pertahanan Jongup bertubi-tubi. Cowok itu cuma nyengir.

“Jangan nyengir! Kamu ingin membunuhku dengan deretan bakteri di gigimu itu!” tak urung cowok itu  mingkem.

“Iya. Maaf! Aku lupa. Semalam aku nonton bola sampai lewat tengah malam.”

“Cepat! Aku tunggu di ruang tamu.”

Kim segera meninggalkan Jongup. Dia pergi untuk menemui Ny. Moon di dapur. Wanita itu sedang sibuk dengan cucian piringnya.

“Apa dia sudah bangun?”. Tanya Ny. Moon saat melihat Kim menyandinginya.

“Sudah. Baru saja.”

“Kau sudah makan?” tanyanya lagi dengan suara yang lembut.

“Sudah, Bibi. Saya sudah makan. Terima kasih!” Kim memang agak melamun saat Ny. Moon beberapa kali menanyainya.  Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Sebenarnya kalian mau ke mana, sih? Kok, sepertinya penting sekali. Apa kalian sedang berkencan?”

“Eh, iya. ” jawab Kim spontan. Dia tidak terlalu mendengarkan pertanyaan Ny. Moon.

“Benarkah?”  wanita paruh baya itu terkejut.

“Apa?” Kim justru berkerut bingung.

“Kalian benar berkencan?” ulangnya.

“Siapa?”

Ny. Moon mendesah berat. Dia memperhatikan raut wajah Kim yang serius. Mata gadis itu begitu bening dan indah.

“Kau dan pangeranku, apa kalian berkencan?”  untuk ketiga kalinya.

“Hah! Bibi, tentu saja tidak. Mana mungkin. ”  wajah Kim bersemu merah. Ugh! Seandainya saja iya. Keluhnya berat. Itu sudah menjadi harapannya sejak Kim masih berumur sepuluh tahun.

Ny. Moon membelai rambut Kim yang terurai sebahu. Kim tersenyum karenanya. Dia menampakkan deretan giginya yang tersusun rapi dan cemerlang.

“Aku mencari di ruang tamu ternyata kau di sini.”   Jongup menyeruak mengagetkan Kim. Sejenak Kim terpaku dengan senyum Jongup yang menyapanya. Sungguh berbeda dari yang tadi, saat dia baru bangun dari tidurnya. Surga…

“Serius, sudah mandi?”. Tanya Kim sambil mengendus-endus tubuh Jongup yang terlihat segar. Cowok itu malah mengangkat kedua tangannya ke atas.

“Yang ini di check juga!” seru Jongup sambil menyodorkan ketiaknya.

“Hum! Makasih! ” Kim menyingkir dengan cepat.

“Iya, mandi kok cepet banget!” sahut Ny. Moon diantara kesibukannya.

“Perintahnya di suruh cepat, Ma!”

“Tapi tidak secepat ini! Curiga deh! Yang dimandiin cuma kaki dan tangan aja kali?”. Kim masih belum percaya.

“Yang penting judulnya mandi. Kena air, kena sabun, kena air lagi. Beres!” ujar Jongup tanpa dosa.

“Terserahlah!”. Kim bersiap-siap untuk menggandeng tangan Jongup pergi ketika cowok itu mendekati mamanya.

“Mama, kau masak apa, Sayang!”

“Hanya sayur bayam dan tempe goreng!” jawab sang mama.

“What !? ” Jongup memekik kaget.

“Kenapa?” mamanya bertanya bingung.

“Mama, aku ini sudah besar. “

“Sudah tahu. “

“Lalu mengapa kau memberiku menu makanan seperti itu?  “

“Hanya itu yang tersisa di tukang sayur yang lewat di komplek kita , Sayang!”

“Agh, Mama ini benar-benar menghancurkan selera makanku! Aku ini Jongup bukan Popeye, Mama” Jongup terus-terusan menggerutu, tapi dia tetap mengambil piring dan bersiap untuk makan.

“E-hem! Hem!” Kim yang masih berdiri di pinggir meja makan memperhatikan Jongup dengan kesal.

“Hanya lima menit!” ujar Jongup sambil menyendokkan suapan pertamanya.

“Bukan itu! Kau tidak menawariku makan?” tanya Kim datar.

“Hah,..o..ya..! Ayo! “

“Kim, tadi katanya kamu sudah makan?” tanya Ny. Moon sambil memberikan segelas air minum untuk putranya.

“Sedikit, Bibi. Sekarang saya lapar lagi. “

“Oh, kalau begitu makanlah bersama Jongup. Ayo! “

Kim tersenyum malu pada Ny. Moon. Biar saja! Toh, tidak akan jadi masalah. Hanya satu piring saja tidak akan mengurangi jatah makan Jongup seharian. Sebenarnya Kim hanya ingin duduk berduaan saja dengan Jongup di meja itu. Hih! Kok jadi kecentilan gini, sih? Kim memegang pipinya. Menutupi semburat pink yang mungkin terbias di sana. Sementara itu Jongup hanya tersenyum ke arahnya. Selalu! Cowok itu…! Kim mencibir padanya.

“Kita mau ke mana, sih Kim?” tanyanya kemudian.

“Ke pasar. Aku mau belanja.”

“Pasti. Ya, masa ke pasar mau main golf. ”  sambut cowok itu santai.  Kim manyun.

“Udah pernah kena timpuk bola golf ?” tanya gadis itu dengan tatapan kesal.

“Ya, marah! Segitu aja ngambek! Tuh, mulut jelek, jangan manyun kayak gitu!”

Kim mengepalkan tinjunya. Dia menatap garang ke arah Jongup yang tidak mengubrisnya. Cowok itu hanya tersenyum. Huh!

.

.

.

Sebenarnya Kim tidak ingin melibatkan Jongup untuk kasus penting ini. Tapi dia tidak tahu lagi, siapa yang bisa membantunya.  Gadis itu berniat untuk membuat pesta kejutan untuk ulang tahun mamanya nanti sore. Atau mungkin agak lebih malam. Karena mamanya sekarang sedang sibuk bekerja.

Hanya sebuah pesta kecil dengan hidangan yang ingin dia masak sendiri tanpa harus memesan dari catering. Huh, itu sangat mahal. Tidak sesuai dengan kantong anak SMA sepertinya. Uang jajan saja masih di jatah mingguan.

“Cepat ambil troly nya !” ujar Kim menyuruh. Jongup hanya menurut saja dengan perintah temannya itu.  Sementara Kim sibuk dengan catatan belanjaan

“Kau seperti mama saja membawa daftar belanja!”  seru Jongup datar.

“Huss! ” Kim tidak mengindahkan perkataan Jongup. Dan membuat cowok itu  sedih karena ditelantarkan. Wajahnya bersungut-sungut.

“Kau mau masak apa, sih?” tanya Jongup lagi ketika hatinya sudah pulih.

“Hanya nasi kuning dan kue .” jawab Kim sambil memasukan beberapa kantong bumbu dapur.

“Yakin bisa membuatnya?” ujar Jongup meragukan.

“Hiss, jangan cerewet kenapa sih!” hardik Kim lagi. Kali ini Jongup hanya tersenyum. Wajah gadisnya itu sangat cantik sekali jika sedang kesal. Hm, sebenarnya Jongup sudah lama menyukai Kim. Tapi berhubung Kim terlalu galak padanya, jadi dia sungkan untuk menunjukkan perasaannya.

“Hanya tinggal beberapa pewarna kue, dan ….” Kim melirik ke arah Jongup yang berdiri dengan posisi awkward.

“Kenapa?” selidik Kim bingung.

“Aku harus ke kamar kecil.” jawabnya

“Sekarang?”

“He-eh!”

“Ya sudah, sana!” Kim mengibaskan tangannya menyuruh Jongup untuk pergi. Tapi  cowok itu malah nyengir.

“Toiletnya di mana? Anterin!”

“What? Jongup!”

“Ayo..!” rengek cowok itu sambil menggeret tangan Kim. Mereka pergi dengan meninggalkan troly belanjaan ditengah-tengah lalu lalang orang yang sedang beraktivitas sama.

“Itu toiletnya !” ujar Kim sambil menunjuk ke arah papan petunjuk.

“Ah iya, ..” Jongup segera berlari ke arah yang di maksud.

Kim melihat Jongup yang berlari. Tersenyum geli sambil berbalik. Dia akan kembali ke troly nya, namun terdengar Jongup memanggilnya lagi.

“Kim…! Kim…!” suaranya terdengar aneh!

“Apa?” Kim berjalan mendekati Jongup yang berdiri di pintu. Wajahnya pucat sambil tangannya memegangi  zipper celananya.

“Kenapa? Apa kau tidak bisa pipis sendiri? Apa aku harus memegangimu?” ujar Kim kesal. Jongup menatap Kim bingung. Hah!

“Kim? ” Jongup merengek.

“Apa..?”

“Lihat, zipperku macet!” ujar Jongup panik.

“What..!” Kim terbelalak kaget.

“Kok, bisa?”

“Tidak tahu! Please, tolong aku…!”

“Gimana?”

“Bantuin cepat! ” Jongup meloncat-loncat menahan pipisnya.

“Aduh, aku harus gimana….apa aku harus memegang….” agh! Kim bingung.

Jongup masih berusaha umtuk menurunkan zippernya dengan sekuat tenaga tapi tak berhasil. Kim hanya memperhatikannya dengan harap-harap cemas./ Apa maksudnya dengan harap-harap cemas?/

“Kim! Jangan melotot saja, bantuin!”  hardik Jongup.

“Agh, jangan kenceng-kenceng nuruninnya. Pelan-pelan saja!” saran Kim kemudian sambil tangannya mencoba untuk menyentuh zipper Jongup. Cowok itu berkelit.

“Pelan-pelan! Jangan kena ituku!” ujarnya nyengir. Kim manyun.

“Huh! Siapa yang mau menyentuh itumu!”. Lalu Kim bersimpu dilututnya dihadapan Jongup. What? O my God! Posisi macam apa ini? Dan kenapa harus di depan umum. Ini sangat menyebalkan. Batin Kim nervous. Wah, keringat dinginnya menetes. Seumur hidupnya baru kali ini dia menghadapi Jongup dengan keadaan yang seperti ini. Kritis! Jantungnya berdegub kian kencang. Hiss! Kim berusaha melerai perang batinnya.

“Cepat Kim, aku sudah tidak tahan !” gerutu Jongup lagi.

“Sama, aku juga!”  Uphs! Kim menggigit bibirnya. Membuat Jongup tersenyum geli.

“Sudah kubilang jangan bergerak! ” tangan Kim sangat berjati-hati sekali dengan zipper celana Jongup, namun cowok itu tidak mau diam. Dia bergerak ke kanan, ke kiri menahan hawa pipisnya, membuat Kim beberapa kali mendengus.

“Jongup! Bisa diam gak sih?”

Pelan-pelan Kim menurunkan zipper celana yang tersangkut benang itu. Agh, urusan beginian sebenarnya bukan keahliannya, namun karena ini menyagkut hidup dan mati cowok yang disukainya itu, Kim entah kenapa menjadi begitu rela melakukan hal itu.

“Sedikit lagi…dan…ya!” Kim berhasil menurunkan zipper Jongup. Cowok itu langsung melesat masuk ke dalam toilet. Fiuuh! Akhirnya.

.

.

.

Ketika tiba di rumah, Kim mendapati kakaknya Nara sedang membaca majalah di ruang keluarga. Dia melirik kedatangan Kim dan Jongup yang sedang membawa belanjaan.

“Apa itu?” tanyanya curiga.

“Belanjaan.” jawab Kim santai. Dia berlalu ke dapur.

“Jongup! Sini!” panggil Nara serius.

Cowok itu berniat untuk mendekati Nara. Namun Kim memanggilnya.

“Jongup! Ke dapur!” Jongup tidak jadi mendekati Nara. Dia berjalan mengikuti Kim lagi. Nara yang curiga segera mengikiti mereka.

“Kalian mau ngapain sih?” tanyanya saat tiba di dapur.

“Masak. ” jawab Kim singkat.

“Jongup?” Nara meminta jawaban lagi dari cowok yang sedang mengeluarkan belanjaan dari dalam kantong plastik. Dia menatap Kim sebentar.

“Masak.” jawabnya sama.

“Huh! Sejak kapan kamu hobby masak?”  Nara mencibir.

“Sejak saat ini?” Kim tersenyum.

“Jongup?” Nara menatap ke arah Jongup. Cowok itu nyengir.

“Sejak saat ini.” jawabmya sama lagi.

“Kalian kompak banget.  Nyebelin!”

“Kakak ngapain di sini? Gih, sana…!” Kim mencoba mengusir kakaknya untuk pergi.

“Enak saja! Memangnya dapur ini punyamu saja.” Cewek berambut keriting itu menolak untuk pergi. Dia justru duduk pada kursi di meja makan.

“Jongup! Ke sini aja, bantuin aku bikin bunga dari kertas koran. ” ajak Nara pada Jongup.

“Sembarangan! Masa Jongup di suruh bikin bunga. Dia kan cowok, Kak!” Kim merengut bingung.

“Ye! Biasanya kalau kamu ga ada dia suka bantuin Kakak bikin bunga. Iya, kan ?” Jongup mengangguk.

“Hah! Kapan? , memangnya iya?”. Kim mencari jawaban dari cowok yang berdiri di sampingnya.

“Iya. Soalnya waktu itu kamu ga ada, jadi aku sama Kak Nara bikin bunga. Lumayan !” katanya sambil tersenyum.

“Agh, Jongup! Kamu kayak ibu-ibu PKK aja! Masa bikin bunga? “

“Hehe…” Jongup tertawa melihat Kim yang kesal.

“Ayo, Jongup! Cepat! Besok, bunga ini mau dipamerkan di KKC. ” Nara masih memaksa Jongup membantunya.

“Ga boleh! Jongup sudah aku sewa seharian buat bantuin aku!”

“Memangnya dia barang, bisa di rental.” sahut Nara lagi.

Jongup mendengus melihat kakak beradik itu beradu mulut. Dia memegang tangan Kim. Gadis itu terkejut.

“Aku sudah janji sama Kim untuk membantunya hari ini, Kak!”  ujarnya santun. Dia berusaha meyakinkan Nara dengan berkata-kata baik.

“Huh! Oke, silahkan!” Nara ngeluyur pergi.

Jongup dan Kim berpandangan lalu tersenyum. Entah kenapa Kim merasa di hatinya begitu berbunga-bunga. Kata-kata Jongup begitu manis terdengar di telinganya.

“Apa?” Jongup bertanya bingung melihat Kim yang cengengesan.

“Kamu sweet banget! Aku jadi aneh sama kamu.”

“Pernyataan yang absurt!”

“Wih keren! Apa itu artinya?” Kim bertepuk tangan.

“Itu kalau kita bersin kan pasti bunyinya  ‘ABSURT’!!”  ujar Jongup sambil menjentik hidung Kim. Aigo! Kim tergelak geli.

“Bukan gitu!  Kalau kamu nulis dibuku salah tuh harus di absurt!”

“Hm, jelek agh! Nih…” Jongup mencoba untuk mencari plesetan lain tapi Kim membungkam mulutmya.

“Enough!”  cowok itu akhirnya nyengir.

“Bantuin aku dulu!”  Kim menyerahkan satu baskom bawang merah.

“Diapain?” Jongup bertanya bingung.

“Ditelen!” jawab Kim sekenanya.

“Semua?”

“Iya.” Kim hanya geleng-geleng kepala sambil menyerahkan pisau.

“Dikupas dulu!” lanjut Kim kemudian

“Terus ditelen habis dikupas.” sambung Jongup.

“Terserah!”

Jomgup tersenyum melihat gadisnya geleng-geleng kepala. Dia senang membuat Kim kesal. Lalu dia mulai mengupas bawang merah itu satu persatu. Sementara Kim mulai menyiapkan yamg lain. Rencananya, Kim memang ingin membuat nasi tumpeng untuk mamanya. Semoga saja terlaksana.

“Kim, hari ini aku kayaknya happy!” Jongup mulai berkelakar. Kim yang masih sibuk dengan beras dan bumbu-bumbu hanya berdehwm saja menanggapi ocehan Jongup.

“Aku senang bisa melewati hari ini!” lanjutnya. Kim masih membelakanginya. Dia mencuci beras dan merendamnya.

“Aku sebenarnya ingin mengatakan sesuatu sama kamu, Kim!”

Kali ini gadis itu mulai menyimak omongan Jongup. Dia meletakkan pekerjaannya dan menatap punggung Jongup diam-diam.

“Apa kamu merasakan hal yang sama, Kim?” tanyanya ragu.

“Apa? Hal apa maksudmu?” Kim mulai menyelidiki. Ditatapnya Jongup dengan hati berdebar-debar.

“Agh, bukan apa-apa! “

“Kamu bikin aku penasaran! Cepet ngomong atau aku sunatin pakai pisau ini!”

“Tuh, kan kamu begitu lagi!” Jongup masih sibuk dengan bawang merahnya.

“Apa?” Kim mengejar pengertian dari cowok yamg masih membelakangimya itu.

“Kamu selalu galak sama aku. “

“Hah?! Masa aku begitu?”

“Selalu! Kamu selalu memarahi aku tanpa sebab. Padahal aku ingin sekali kamu bersikap manis dan lembut.”

“Aku galak?”

“Iya. Padahal aku suka sama kamu, Kim.” ujar Jomgup lirih. Hampir tidak terdengar oleh Kim. Tapi gadis itu semakin mendekat ke belakang Jongup.

“Apa maksudmu dengan suka?”. Pertanyaan itu membuat Jongup menghentikan aktivitasnya.

“Suka. Aku menyukaimu, Kim. Sayang. Aku …”

Kim tiba-tiba memeluk Jongup dari belakang. Dia sudah tidak tahan ingin melakukannya sejak tadi.  Sejenak keduanya terdiam.

“Jongup! Kamu gak romantis banget! Masa mengungkapkan perasaan di saat-saat seperti ini. Bener-bener ga asik! Tapi ga apa-apa,…aku juga suka sama kamu.”  Kim menyandarkan kepalanya dipunggung hangat Jongup. Cowok itu memeluk tamgan Kim yang melingkar dipinggangnya.

“Aku pikir, kamu akan marah karena hal ini.”

Kim menggeleng di punggung Jongup. Dia merasa senang sekali.

“Aku senang. Aku juga berharap kita pacaran dari dulu malah. Kamu kadang emang suka nyebelin, tapi aku ga bisa kalau ga lihat kamu sehari aja. Jongup, aku minta maaf seandainya aku selalu bikin kamu ga enak hati gara-gara aku ngomel terus. Munglin itu satu bentuk perhatianku ke kamu. Aku ga tahu harus mengungkapkan perasaanku gimana waktu itu. Sedangkan kemarin-kemarin aku ngerasa kalau kita ini pacar, bukan. Saudara, juga bukan. Hubungan teman, cuma sedikit. Jadi aku ga bisa terlalu menunjukkan perasaanku. Jadinya ya seperti itu…”

Jomgup semakin erat memeluk lengan Kim. Dia memgangguk-angguk. Sepertinya paham dengan penjelasan Kim. Namun kemudian Kim merasa ada sesuatu yang menetes di tangannya. Air. Hah, apakah Jongup menangis?

“O my God! Jongup, kamu nangis?”

Kim membalikkan badan Jongup dan menghadapinya. Dia melihat mata cowok itu berderai air mata.

“Jongup, aku kan sudah minta maaf. ” Kim menyeka air mata Jongup yamg jatuh bercucuran.

“Kim, aku senang kamu mengatakan hal itu. Aku merasa tenang sekarang.” ujar Jongup sambl mengelap air matanya lagi, kali ini dengan t-shirtnya sendiri.

“Lalu kenapa kamu menangis?” tanya Kim bingung.

“Kamu yang membuatku menangis.”

“Aku?” lagi-lagi Kim menunjuk dirinya sendiri. Dia pucat karena tuduhan itu.

“Iya. Kenapa kamu menyuruhku mengupas bawang merah itu! Itu membuat mataku jadi iritasi seperti ini! Kamu harus bertanggung jawab!”. Maki Jongup keras.

Entah harus marah atau tertawa melihat Jongup berkata seperti itu. Agh! Kesal rasanya dengan cowok yamg satu ini! Kim tak kuasa untuk menjerit.

“Kamu! Aku pikir kamu terharu oleh ucapanku, tapi termyata…!”  Jongup tertawa lepas melihat gadisnya stres. Dia berlari ketika Kim mulai melemparinya dengan bawang-bawang merah itu.

.

.

.

.end

Author POV,

Yah, ga jelas deh ceritanya. Sorry ya Kim!

Mudah-mudahan seneng!

Sebenarnya cerita ini aku udah bikin tapi versinya sama Himchan di ffn.  Tapi sekarang sama Kim. Buat seru-seruan aja!

Bonusnya,

jongup_gif_by_smoran-d528cyt

Peace!

7 thoughts on “SMILE …

  1. ini lanjutannya
    hahaha duh adegan resleting itu ampuun deh XD
    ga kebayang rasanya jadi kim dan plis itu jongup gatau malu minta tolong ama cewe hahaha btw, jongup emang cocok sih buat karekter jenis ini XD
    ketauan awalnya yaoi haha ada typo tuh tangan jadi tamgan hehe tapi bagus kok ^^
    suka banget ama jongup >.<

    • Kenapa ngaclok-ngaclok, Jeng! Ntar lembar komentarnya abis !
      Itu bukan yaoi. kim nya bukan Kim Himchan. Tapi Kim Hatsumi. Request dari temen di ‘bap yaoi’ cewek. Kalo sama Kim Himchannya lebih seru sih! Berhubung sama Kim Hatsumi ya, begitu doang. Kalo typo pasti banyak. Mataku udah bleret. Min nya nambah x. Harus ganti kaca mata kayaknya. Tengkyu ya.

      • hahah gatau tuh padahal tadi udah satu komen terus malah kepotong ><
        iya tau kok maksudnya sebelumnya ff ini ff yaoi hahha XD
        wkwkwk bisa yang lain lain ya kalo ama himchan? XD
        walaaah minus to~ aku juga sepertinya tapi males periksa hahah XD
        sip sama sama ^^ berhubung jongup jadi aku baca hahah kalo perannya jongup atau zelo aku ga akan mau kelewatan hahah

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s