HAZE

ver1

 Title|| HAZE

Cast|| Xiumin and Yoo Hana

Author|| Alana

Genre|| Romance

Duration|| Ficlet

Disclaimer|| ya gitu deh…seperti biasanya aja!!

Hana diam terpaku menatap sosok berkemeja hitam dihadapannya. Berseberangan meja dan menyembunyikan gelisahnya di balik kaca mata hitam. Dia, laki-laki itu yang telah membunuh kakaknya. Dia, laki-laki itu yang telah menghancurkan kehidupannya. Xiumin. Hana menatapnya dengan tajam.

Hari ini saat turun hujan,  Hana terduduk diam di sebuah halte. Wajahnya pucat karena dingin. Sweaternya terlalu tipis untuk melindungi tubuh kurusnya. Terasa seperti digigit-gigit hawa dingin, ujung-ujung jarinya sangat sakit. Agh! Hana mendesah berat. Seharusnya dia mendengarkan perkataan Bibinya untuk mengenakan jaket.

Air hujan turun seperti ditumpahkan. Beberapa menggenangi tempat yang rendah. Suaranya seperti nyanyian indah. Hana merenung tentang beberapa waktu yang dia lalui bersama Xiumin.

Waktu itu langit begitu biru. Satu bulan setelah pemakaman kakaknya. Xiumin, dia tetap hadir mendampingi Hana. Entah untuk apa. Padahal seluruh anggota keluarga menatapnya dingin.  Kemeja hitamnya terlihat seperti sebuah ungkapan duka dan penyesalan.

Dia tidak berani tersenyum, tidak berani berkata dan hadirnya sungguh menjadi beban. Terkadang Hana merasa lebih baik dia tidak ada, lenyap atau bahkan jangan pernah hidup meskipun untuk dikehidupan yang akan datang.

Bukan karena semata-mata dia yang telah menyebabkan nyawa kakaknya hilang, terlebih karena Hana begitu tersiksa. Setiap kali Hana menatap matanya, yang tergambar di sana adalah kesedihannya. Hana melihat dirinya dalam tatap mata Xiumin. Laki-laki itu telah merampas jiwanya.

Hari-hari berlalu dalam bayangan Xiumin. Dia seolah-olah bertanggung jawab atas hidupnya. Kehadirannya melampaui semua makna yang ada. Senyumnya, sikap lembutnya dan perhatiannya, telah membunuh Hana.  Perasaan yang tak pernah bisa dimengerti, dan tak juga ingin diungkap.

Hanaku, dalam diammu kau begitu manis

Rautmu seperti embun dalam kelopak mawar

Segar…harum…membiusku

Xiumin menerbangkan angan-angan Hana dalam secarik kertas. Diselipkan dalam diktat kuliahnya.  Sungguh indah. Seandainya…

Lamunannya terhenti.  Cipratan air hujan memercik dingin di wajahnya. Hana menyekanya dengan ujung lengan sweaternya. Dia atas, mendung putih masih bergayut. Tanda hujan ini tidak akan berhenti. Hana sedang menunggu seseorang. Xiumin.

Sebuah mobil merapat dipinggir trotoar. Hana menatapnya dalam kebimbangan. Dia datang. Ujarnya dalam hati. Ada hawa panas yang merayap-rayap dipipinya. Meskipun dia mencoba untuk menahan gejolak hatinya, toh bibirnya tidak bisa berhenti menyungging senyum.

Xiumin terdampar di sisi Hana. Duduk, menempatkan diri dengan canggung. Seperti biasa. Senyumnya menghadirkan cekumg manis di pipinya. Hana menunduk.

“Aku berpikir kau tidak akan datang”. Hana berkata lirih, hampir menyerupai bisikan.

“Apa kau sudah menungguku lama?”  Xiuman bercengkrama dengan raut lembut Hana. Di sana seperti menyimpan sejuta keteduhan.  Menenangkan.

“Agak lama. ” jawab Hana.

Lalu jemari Xiumin diletakkan tepat pada kedua tangan Hana yang seakan membeku. Dia merasakan tamgan itu sebeku es.

“Kenapa tidak memakai pakaian yang cukup menghangatkanmu dalam situasi seperti ini ?”

Laki-laki berpostur tinggi semampai itu langsung melepaskan mantelnya dan mengenakannya ke tubuh Hana. Ada sedikit perjuangan untuk melakukan hal itu, karena Hana sedikit melakukan penolakan. Xiumin memaksa dengan tegas, hingga mantel woll berwarna biru tua itu rapat membungkus Hana. Pipi Gadis itu bersemu merah.

“Kita mencari tempat yang agak hangat!” Ajak Xiumin, sambil mengandeng tangan Hana yang rapuh. Gadis itu menurut, ketika laki-laki tampan itu membawanya masuk ke mobil.

***

Tiba pada sebuah kedai minuman hangat dipinggir jalan, xiumin membimbing Hana untuk keluar dari mobil.

Jalan agak licin, sehingga dengan hati-hati Xiumin menggandeng Hana, merengkuh pundaknya dan membawanya berjalan. Degub jantung Hana menjadi tak beraturan. Meskipun Xiumin selalu melakukan hal itu, namun entah kenapa hari ini, senja ini, semua tampak berbeda. Adakah sesuatu yang akan terjadi?

“Kau duduklah di sini! Aku akan memesan soju dulu..!”. Xiumin meninggalkannya sesaat sebelum akhirnya kembali dengan senyum indahnya. Tatap matanya mengarah tepat ke sanubari Hana. Menggetarkan. Sudah hampir satu tahun mereka bersama. Namun, Hana hanya sanggub mengartikan itu sebagai bentuk cinta seorang kakak yang ingin dia gantikan.

Xiumin menyentuh pipi Hana lembut. Gadis itu terkesiap. Lalu digenggamnya tangan kokoh itu dengan pasti.

“Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?”. Tanya Hana mengawali perbincangan.

“Ya. “. Singkat, lalu tenggelam dalam kebisuan. Matanya hanya sanggub menekuni keindahan Hana.

Dua botol Soju dan beberapa piring camilan terhidang di depan mereka.  Xiumin menuangkan ke dalam gelas dan menyerahkannya pada Hana. Gadis itu menerimanya dengan ragu. Seperti ada sesuatu yang ingin dikatakan Xiumin. Burukkah?

Diteguknya minuman itu pelan-pelan. Lidahnya berusaha  untuk meyeimbangkan rasa pahit soju yang kemudian berganti dengan kehangatan di kerongkongannya. Rasa manis tertinggal dibibirnya. Hana mengulumnya memastikan semua itu membuatnya nyaman. Badannya terasa segar saat dia menarik nafas dalam.

“Aku harus pergi.” ujar Xiumin.

“Hum..?”. Hana menyipitkan matanya, senyumnya tersudut sunyi. Hambar. Pergi? Kemana? Berapa lama? Semuanya hanya terbias di matanya. Tak sanggub untuk terucap.

“Aku mungkin akan lama. Ada urusan pekerjaan yang harus aku lakukan. Canada.”. Lanjutnya seakan mengerti dengan kilau-kilau kesedihan Hana.

“Hana…?”  Xiumin berusaha untuk memeriksa batin Hana. Gadis itu belum merespon apapun selain diam menatapnya. Xiumin mendekat ke sisi Hana. Merengkuh dan menempatkan tangannya pada jemari Hana.

“Aku berjanji akan kembali.” bisik Xiumin di telinga Hana. Gadis itu menunduk. Hatinya terasa berat , dan entah kenapa seperti ada sesuatu yang tercabut di sana. Mengapa gambaran kesunyian itu seperti menari-nari menebarkan hawa keresahan yang sulit disembunyikan. Xiumin menyadari hal itu.

“Aku pasti akan kembali Hana.” lanjutnya lagi.

“Xiumin,…” Hana menghadapi wajah itu.

“Jangan merasa ragu untuk meninggalkan aku. “

“Aku tidak meninggalkanmu Hana.”

“Sudah cukup dengan pemgorbananmu selama ini. Aku mengerti, kau pun punya kehidupan sendiri. Kau tidak mungkin selamanya bertanggung jawab atas meninggalnya kakakku. Sudah kukatakan sebelumnya, itu adalah kecelakaan. “

“Hana..”

” Aku tdak ingin membebanimu.”

“Kau bukanlah beban, seharusnya kau tahu hal itu. “

“Sudah cukup dengan merepotkanmu. Aku sebaiknya pulang.”

Hana bahkan tidak bisa bertahan di dekat Xiumin. Dia berusaha menahan kepedihannya.

“Kau mau ke mana?” Xiumin menahan langkah Hana.

“Aku ingin pulang. ” jawab Hana dalam cekat.

“Aku yang membawamu ke sini, aku juga yang akan membawamu pulang.” tegas laki-laki itu sambil menempatkan Hana untuk duduk kembali.

“Jangan pernah berpikir kalau kau adalah bebanku. Itu sangat melukai harga diriku.”

Lalu hujan kembali hadir. Membawa hawa dingin menelusup ke dalam kedai. Hana menggigil menatapnya. Ini adalah ungkapan yang sungguh tidak bisa dimengerti.  Apakah Hana teramat dalam melukai harga diri seorang Xiumin?

Satu-satu gerimis menjadi deras. Hana berjalan menyusuri trotoar dalam kesendirian. Seharusnya dia bisa mengatasi hidupnya. Bergantung pada orang lain hanya akan membuatnya hilang kemandirian. Hana merapatkan mantel Xiumin yang masih memeluknya. Gadis itu merasa laki-laki itu merengkuhnya berjalan. Ya, mungkin kini saatnya Hana berpegang pada keteguhannya sendiri.

Ponsel Hana bergetar di saku celananya. Gadis itu membuka pesan yang masuk dengan tangan gemetar.

Hana, I love you. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku dalam situasi seperti ini lagi, saat aku kembali nanti. 

***

Sesaat tadi Xiumin tercekat karena Hana tiba-tiba menghilang dari pandangannya. Baru saja Laki-laki itu menerima panhgilan dari atasanya, lalu saat berbalik, Hana sudah tidak ada.

Bagai di sambar petir, wajah Xiumin mengukir kemelut. Kenapa Hana bersikap seperti itu. Laki-laki itu berlari ke segala arah, diantara derai hujan yang mengguyur kota. Hana tidak tampak di matanya.

Pelan-pelan dirangkumnya sebentuk perasaan itu dalam sebuah pesan. Semoga ketika tiba waktunya nanti, Hana bisa lebih terbuka terhadap dirinya.

Dalam kebisuan, langkah Hana tertatih. Dilekatkan pesan itu dihatinya. Gemuruh yang menderu di batinnya telah menjadi reda. Yang tergambar di sana hanyalah sebentuk harapan. Meskipun masih berupa kabut, namun dia yakin kabut itu akan sirna seiring merambahnya kehangatan di dalam hatinya. Dan Hana memastikan hangat itu akan menjadi milik Xiumin selamanya.

END.

Untuk temanku, Nurukaraito…yang gemes banget sama Mas Mimin yang pipinya obesitas Ini.

Gada waktu untuk poster. Jadi aku pake aja gambar2 sekenanya!  Forgive me!

2 thoughts on “HAZE

  1. Yah!
    Gua baru nemu ini blog abis bernarsis ria, maaaan~
    bayangin, FFN gak bisa dibuka, en gua narsis ngetik ‘nurukaraito’ di mbah gugel! da, ja-jjaaan~ gua nemu ini!
    lagi ada special persembahan ‘buat temenku nurukaraito’…
    harusnya Yang Mulia Nurukaraito, biar gua baca!
    kekeke >.<
    enwei, thank sudah bikin ginian~
    ps: bilang aja lu nge-fans gua~

  2. Mba Bro…you found me! Aish! Iya salah nulisnya ya…buat Yang Mulia Nurukaraito yang suka maen ujan-ujanan!

    Hehe…aku udah lama ga bisa buka ffn, yg waktu itu aku bilang!
    Waah, tenkyu udah mampir!

    Iya, udah gw bilang di twiter gw ngefans elu!
    Peace!
    Ngeblog sekarang?

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s