One-Sided Love (Part 11)

picanta_psd820775_by_picanta-d7ke1w0

Tittle : One-Sided Love
Length : Chaptered
Rating : T
Genre : Romance, Drama
Author : yhupuulievya
Cast : Xi Luhan, Kim Jongin, Choi Ahri, Song Hera, and many more
Disclaimers : This Fanfiction is absolutely mine but the cast belong to themselves. Don’t ever plagiarize it.
Note : If you have some questions, feel free to mention me at @yhupuulievyaa

Apakah kau pernah berfikir, mengapa kita sering jatuh cinta pada orang yang salah?
Karena, kita tidak bisa memilih kepada siapa kita ingin jatuh cinta.
Hati, keinginan dan logika memang sering tak sejalan. Lalu mengapa Tuhan mempertemukanmu dengannya?
Tentu saja, Karena Tuhan mempunyai rencana lain yang tak pernah kau ketahui.
Everything happens for reason, right?

CHAPTER 11
(Broken)

Busan Paradise Hotel
11.50 PM

Chanyeol memberikan sekaleng minuman soda kepada gadis yang ada disampingnnya, Mereka kini berdiri di Balcony untuk menunggu ribuan kembang api yang beberapa menit lagi akan menghiasi langit Busan.

“Aku tidak tahu kalau kau akan datang” Chanyeol membuka percakapan diantara mereka

“Nyonya Han mengundang keluargaku. Ngomong-ngomong aku tidak melihatmu dan Kai di pesta tadi”

Chanyeol melirik gadis itu
“Entahlah.. Kai bersikap begitu aneh akhir-akhir ini. Apa kau mengetahui sesuatu Hera-ya?”

“Mungkin.. dia menyukai Ahri” ujarnya enteng

“Sudah kuduga. Tapi, bagaimana bisa kau mempunyai pikiran yang sama sepertiku?”

Hera kini balas menatap Chanyeol, ia merasa ragu untuk mengatakan semuanya tapi ia rasa tak ada yang perlu disembunyikan dari namja ini
“Aku sudah lama memperhatikan Kai, dari sikapnya, dari cara dia berbicara dan dari caranya menatap seseorang.. aku memperhatikan semuanya. Percaya atau tidak, aku merasa lebih memahami Kai dibanding Luhan. Dan saat aku melihat dia memandang Ahri, sorot matanya berubah”

Chanyeol tersenyum
“Kai seharusnya sedikit menghargai usahamu untuk mendekatinya, tapi… karena kau dulu masih bersama Luhan rasanya tidak baik untuk menyukai dua laki-laki sekaligus”

“Hmm.. oleh karena itu dia selalu membenciku” Hera tersenyum miris

“Dia tidak seburuk itu, sudah aku bilang dia selalu bertindak kebalikan dari perasaannya. Mungkin dia tidak benar-benar membencimu”

Hera hanya menatap namja itu lebih lekat
“Hmm.. siapa yang tau? Selama memperhatikannya, aku tidak pernah bisa benar-benar mengetahui apa yang dia pikirkan. Kai terlalu pintar menyembunyikan perasaannya”

“Ah.. berbicara tentang Kai, dimana dia sekarang?”

“Mengurung diri dikamar.. anak itu keras kepala. Sekali dia bilang ingin sendiri, dia benar-benar ingin aku meninggalkannya.”

“Karena pertunangan Ahri dan Luhan ? Sebelumnya aku juga berpikir mungkin aku akan baik-baik saja saat datang kemari karena sepengetahuannku orang yang kusukai adalah Kai, tapi saat aku melihat Luhan memasangkan cincin pada gadis lain rasanya benar-benar aneh, sampai aku tak punya keberanian menemuinya untuk sekedar mengucapkan selamat”

Chanyeol kembali menatap Hera dan dilihatnya setetes buliran bening mengalir membasahi pipinya
“Ini aneh sekali.. jelas-jelas aku tidak menyukai Luhan” Hera menyeka air matanya dan mencoba tersenyum

“Kau dan Kai memang benar-benar bodoh, selalu saja lari dari perasaan sendiri”

Chanyeol lalu memeluk Hera dan mencoba menenangkan gadis itu.
“Berhenti berpura-pura kuat dan jadilah dirimu sendiri”

Mendengar itu, Hera kembali menangis, untuk pertama kalinya ia berani membiarkan oranglain melihat sisi lemahnya, untuk pertama kalinya pula ia membiarkan oranglain melihatnya menangis dan untungnya namja itu tetap memeluknya, memeluknya dibawah langit Busan yang kini ramai dengan warna-warni kembang api yang meledak.

***

Kai’s room
00.00

Kai menatap sendu keluar jendela. Diluar sana Langit Busan dihiasi dengan kembang api yang berwarna-warni, bunyinya membuat malam yang sepi seketika menjadi bising. Orang-orang pergi keberbagai tempat untuk merayakan festival musim gugur bersama keluarga, teman atau kekasih dan disinilah Kai berada, hanya duduk sendiri menikmati malam dikamar yang sedari tadi ia biarkan tetap gelap.

Kepalanya masih terasa sakit akibat minum terlalu banyak malam ini namun lebih parahnya, dalam keramaian yang tergambar begitu jelas diluar sana namja itu masih saja merasa kosong, kilauan indah yang terlukis dilangit sana sama sekali tak memberikan kesan apapun padanya dan suara-suara yang dihasilkan kembang api tetap saja tak mampu mengusir kesunyian yang memenuhi perasaanya.

Kai membaringkan tubuhnya begitu saja, tak tertarik untuk menonton festival kembang api lebih lama lagi. Ia hanya membiarkan tubuhnya disapa oleh angin malam yang membuatnya menggigil. Kai memalingkan kepalanya kesamping kanan, disana sebuah teddy bear pengantin yang diberikan Ahri dulu tergantung indah diponselnya. Ia menutup matanya, berharap agar besok ia bisa melupakan semuanya.

***

Busan Internasional Firework Festival
Gwang-An Bridge
00.00

Sebua festival kembang api digelar di sekitar jembatan Gwang-An, perayaan ini tiap tahunnya selalu menarik setidaknya satu juta wisatawan. Beberapa fotografer dari seluruh dunia mengabadikan momen indahnya kembang api yang berpadu dengan jembatan Gwang-An yang spektakuler. Malam ini, langit Busan berwarna merah ceria dipenuhi dengan bunga-bunga kembang api.

1779830_240586066123448_1424961181_n

“Bukankah sangat indah?”
Luhan yang sedari tadi melingkarkan tangannya disekitar bahu Ahri kini bertanya pada gadis itu

“Hmm… benar-benar indah”
Ahri tersenyum manis dan kembali memandang langit yang menakjubkan

~Lima menit saja.. setelah itu aku akan melupakanmu

Kata-kata yang diucapkan Kai tadi kembali terngiang ditelinganya, entah apa maksud kalimat tersebut tapi ia tak sempat menanyakannya pada Kai karena namja itu malah tiba-tiba menyuruhnya pergi, sebuah perubahan mood yang sangat cepat. Ahri benar-benar tak mengerti, ia berusaha sekuat mungkin untuk melupakannya namun kejadian itu terus berputar diotaknya.

“Ahri?”

“Ahri-ya?” Luhan kembali memanggil gadis itu

“Huh?” Ahri sepertinya tak mendengar apa yang diucapkan namja itu tadi

“Setelah ini, bagaimana kalau kita pergi ke Dadaepo? “

“Bukankah itu pertunjukan air mancur?”

“Hmm.. kau suka?”

“Ne! Itu akan sangat menyenangkan”
Ahri membalas senyuman Luhan dan namja itu mengusap rambutnya pelan. Mereka memang pergi bersama Sehun namun namja itu memilih untuk merayakannya berdua dengan gadis yang ia kenal dipesta dansa, oleh karena itu baik Ahri maupun Luhan merasa harus memberikannya privasi.

Mereka kembali memandang kota Busan yang sangat indah, Ahri tak pernah membayangkan bahwa ia akan merayakan festival musim gugur dengan Luhan. Selama ini, dalam festival apapun itu ia selalu merayakannya sendiri karena keluarganya terlalu sibuk dengan urusan bisnis. Hari natal, festival kembang api, hari ulang tahunnya.. semua momen-momen yang penting baginya selalu ia habiskan sendiri dan malam ini ia begitu bahagia mendapati Luhan berdiri disampingnya untuk menghabiskan malam bersama.

***

Dadaepo
1 AM

Ahri dan Luhan kini berada di salah satu tempat air mancur terbesar di dunia, Dadaepo Sunset Fountai of Dream adalah wisata favorit yang sangat cocok untuk dinikmati bersama keluarga maupun kekasih. Air mancur dengan luas 2.519 meter persegi dengan keliling 180 meter membuatnya tampak menakjubkan.

1795537_240586069456781_640763583_n

Ahri dan Luhan menatap air yang ditembakan 55 meter ke udara dari 1.046 titik semprot. Lampu LED yang ada disana membuat pertunjukan air menari dan cahaya yang indah dimalam ini. Benar-benar suasana yang sangat romantis

“Ahri-ya?” Luhan berbalik menghadap gadis disampingnya

“Hmm?”

“Mengenai pertunangan ini, apa kau menyesal?”

Ahri mengernyitkan dahi lalu menggelangkan kepalanya
“Apa gege menyesal?”

“Tidak.. tentu saja tidak. Aku hanya khawatir kau menyesal atau tertekan, umma memang sering bertindak seperti itu”

Ahri tersenyum
“Tapi aku menyukai Umma Han”

“Kau lebih menyukaiku atau Umma?”

“Pertanyaanmu benar-benar aneh”

Mereka tertawa berbarengan
“Maaf karena aku tidak memperlakukanmu dengan baik dari awal, tapi mulai dari sekarang aku akan berusaha untuk menjadi yang terbaik sebagai tunanganmu jadi kau tak akan menyesal ada disampingku”

Ahri menggelengkan kepala
“Aku tak pernah menyesal ada disampingmu ge”

Luhan tersenyum
“Kalau begitu mari membuat kisah yang indah dan terus bersama”

Luhan menyentuh pipi Ahri pelan
“Saranghaeyo”

Dengan bisikannya yang lembut, namja itu menutup matanya dan mendaratkan sebuah kecupan penuh kasih dikening Ahri. Gadis itu ingin membalas kata cintanya, namun lidahnya terasa kelu, ia mematung saking bahagianya. Namja ini sekarang memperlakukannya dengan baik. Beberapa menit kemudian dirasakannya Luhan menarik tubuhnya dan memeluknya erat, tangan karinya melingkar dipinggang mungilnya dan tangan kanannya mengusap rambutnya pelan. Ahri menutup mata dan merasakan kebahagiaanya. Ia harap waktu akan berhenti untuk sesaat.

***

Busan Paradise Hotel
09:00 AM

Semua orang sudah berkumpul di ruang makan, beberapa makanan lezat sudah terhidang sebagai menu sarapan pagi ini. Namun mereka kini memperhatikan Sehun yang masih tampak mengantuk

“Kau pulang jam berapa tadi malam?” Chanyeol memulai investigasinya

“Jam 3”

“Huh ? Apa saja yang kau lakukan?”

“Dia sudah punya pacar sekarang” Luhan terkekeh

“Pacar?” Kai tampak tak percaya

“Tentu saja! Aku sudah mengatakan aku menyukainya tadi malam dan dia menerima perasaanku”

“Whoaaa. Siapa namanya?” Chanyeol tampak terkagum

“Rin”

“Apakah dia juga anak Seoul?”

Sehun kini tampak cemberut
“Bukan.. dia asli dari Busan”

“Itu artinya kau harus siap pacaran jarak jauh” Kai tertawa puas

“Daripada Kau.. sama sekali tak punya pacar”

“Banyak gadis yang mengejarku hanya saja aku masih senang bermain-main” Kai berucap enteng

“Eyyy.. dasar playboy!” Chanyeol menambahkan dan mereka semua tertawa kompak

Ahri diam-diam memperhatikan Kai, namja ini kembali bersikap biasa seolah tak ada apapun yang terjadi tadi malam.

~baguslah, dengan begitu aku tak perlu merasa canggung
Pikir Ahri

Namun entah mengapa ucapan Kai barusan sedikit membuat perasaanya berubah aneh. Sudahlah, dari awal ia mengenalnya, namja itu memang orang yang menyukai kehidupan malam dan tak pernah serius. Ahri tersenyum pelan saat mengingat dulu namja itu menganggunya di Club dan ia dengan bebas melayangkan high heelsnya tepat kearah Kai. Ia tak pernah menyangka pertemuan macam itu bisa membuatnya berteman baik dengan Kai sekarang. Ahri kembali menatap namja-namja itu dengan senyuman

“Lain kali kau harus mengenalkannya padaku” tambah Chanyeol

“Asal kau berjanji tidak menganggunya”

“Apa maksudmu? Kau takut dia terpesona olehku?” Chanyeol mulai menggoda Sehun

“Aku lebih tampan darimu hyung, dia takan terpesona olehmu!”
Kata-kata Sehun membuat semuanya tertawa.

“Ngomong-ngomong.. dimana Ummamu?” Kai bertanya pada Luhan

“Dia masih ada urusan lainya, jadi kita harus pulang sendiri nanti sore. tapi umma sudah menyiapkan tiket pesawat untuk kita semua”

“Ah Kai, apa kau sudah baikan?” Luhan menambahkan ucapannya

“Hmm.. jangan khawatir” Kai tersenyum pada namja itu

“haaahh .. aku tidak mau pulang” Sehun berubah muram

“Hahahaha, kau culik saja pacarmu itu dan bawa ke Seoul”

“Ide macam apa itu?” Sehun memukul lengan Chanyeol

“Tidak sopan sekali! Aku ini hyungmu!”
Lagi-lagi makan pagi kali ini diisi dengan pertengkaran Chanyeol dan Sehun.

***

Luhan’s mansion
09.45 PM

Ahri berjalan kearah kamarnya dengan pelan, liburanya ke Busan membuatnya cukup lelah. Ia benar-benar ingin segera beristirahat dengan tenang.

“Ahri?”

“Ne?”

“Besok kau pergi kesekolah denganku”

Ahri sedikit terkejut dengan pernyataan Luhan namun hal itu membuatnya senang
“Ne… gomawo Luhan ge”

“Tidak masalah, sekarang istirahatlah”

Ahri mengangguk sebelum akhirnya masuk ke kamarnya.

15 menit berlalu

Ahri menatap langit-langit kamarnya, meski ia merasa sangat lelah tapi setelah berbaring di kasur matanya tak juga terpejam. Ia malah teringat akan liburan singkatnya di Busan, dalam beberapa hari, banyak hal penting yang terjadi begitu saja. Ahri mengangkat tangannya, lalu tersenyum tak kala mendapati cincin yang indah melingkar di jarinya.

~Drrttt drttt
Handphonenya bergetar saat satu pesan singkat diterimanya

[From : Luhan ge]
Kau sudah tidur?

Ahri tersenyum sebelum mengetik beberapa huruf di layar ponselnya sebagai balasan
[To : Luhan ge]
Belum, aku tidak bisa tidur /sobs

[From : Luhan ge]
Memikirkanku? Kkk

[To : Luhan ge]
mmmm.. haruskah aku memberitau gege?

[From : Luhan ge]
Tentu saja, aku tunanganmu

[To : Luhan ge]
Uh, baiklah! Mungkin karena aku terlalu banyak memikirkan gege, jadi aku tidak bisa tidur T.T

[From : Luhan ge]
Aku bisa mengatasinya, sekarang keluar sebentar dari kamarmu

Ahri mengangkat sebelah alisnya lalu menaruh ponselnya di meja rias. Ia merapihkan piyama dan rambutnya sebelum berjalan ke arah pintu, tiba-tiba saja jantungnya berdetak tak karuan. Ahri menghela nafas kemudian membuka pintu, tepat didepannya Luhan berdiri dengan senyuman yang menawan dan

~CUP

Namja itu mendaratkan sebuah kecupan singkat dipipi Ahri, membuat gadis itu bersemu merah.

“Jaljayou” Luhan kembali berucap dengan sebuah kedipan mata yang manis sebelum kembali ke kamarnya

Ahri tetap berdiri mematung dengan posisi yang sama seperti tadi. Jika begimi caranya ia akan semakin sulit untuk tidur, bahkan nafasnya saja terasa lebih berat sekarang.

***

Seoul High School
03:00 PM

Ahri memasukan buku-buku yang masih tergeletak di meja kedalam tasnya. Bel tanda pelajaran berakhir sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Hari ini waktu terasa berjalan begitu cepat, mungkin gadis ini sedang dalam mood yang baik hingga menikmati harinya seperti ini.
Setelah membereskan barang-barangnya, Ahri segera berjalan keluar kelas dan ia langsung menyunggingkan senyuman saat melihat Luhan kini berdiri didepan kelasnya

“Gege, menungguku?”

“Hmm.. karena kau berangkat denganku jadi pulang juga harus bersamaku”

Luhan membalas senyum Ahri dan melingkarkan tangannya dibahu gadis itu
“Kajja”

Mereka berjalan dengan tenang kearah gerbang, sedari tadi senyuman tak pernah lepas dari raut wajah mereka. Luhan menghentikan langkahnya saat sosok yang begitu ia kenal berdiri tak jauh didepan sana

“Kau kenapa?” Ahri tampak heran

Luhan tak sempat menjawab pertanyaan Ahri karena beberapa saat kemudian seorang gadis dengan gaun selutut berwarna biru muda berjalan menghampiri mereka
“Sudah lama tidak bertemu denganmu Bao bei”

Ahri melongo, apa ia tak salah mendengar? Gadis itu memanggil tunangannya dengan kata ‘bao bei’ .. Ahri mempoutkan bibirnya, bahkan iapun tak pernah memanggil Luhan dengan panggilan sayang seperti itu

“Aku mendengar gege sudah bertunangan. Kau bahkan tak mengundangku. Jahat sekali.. atau gege memang tak ingin membuatku kecewa?”
Luhan menghembuskan nafas berat lalu mengambil ponselnya untuk mengetik pesan singkat.

“Ahri-ya, aku harus membicarakan beberapa hal dengannya. Kita akan bicara mengenai ini nanti. Aku sudah meminta Kai untuk mengantarmu pulang. Kau tunggu di kantin ya” Luhan hanya mengecup kening Ahri, lalu menarik tangan gadis yang dengan seenaknya memanggil Luhan ‘Bao Bei’ tadi.. dalam beberapa detik mereka menghilang dalam pandangan Ahri, meninggalkan gadis itu dalam sejuta pertanyaan.

Seseorang memperhatikan Ahri dari jauh lalu menghampiri gadis yang kini masih mematung dalam posisinya
“Apa kau punya waktu untuk berbicara denganku sebentar?”

Ahri memalingkan wajahnya kearah samping dan sedikit terkejut begitu menyadari gadis yang bertanya padanya adalah Hera.

***

“Whoaaa udara disini benar-benar sejuk. Aku selalu menyukai musim gugur di Korea”

“Katakan apa maumu, Hwang Liyin?”
Gadis yang ditanya Luhan itu kini berbalik menghadap kearahnya

“Kenapa suaramu terdengar dingin? Bahkan saat kau masih bersama Hera, kau tetap berbicara dengan lembut padaku. Apa kau benar-benar menyukai tunanganmu?”

Luhan memejamkan matanya sekejap
“Dengar Liyin.. aku sudah bertunangan sekarang. Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi jadi katakan apa yang kau mau”

“Apa aku sudah terlambat? Kau jarang mengunjungiku di Cina dan tiba-tiba saja aku mendapatkan kabar kau sudah bertunangan”

“Itu benar oleh karena itu berhentilah memanggilku Bao Bei, aku tidak menyukainya”

Hwang Liyin terlihat kesal, Luhan tak pernah berbicara begitu kasar kepadanya
“Aku datang kesini untuk mengunjungimu dan kau bersikap seperti ini?”

“Oleh karena itu pergilah atau kau akan semakin terluka”
Luhan hendak pergi namun gadis itu memeluknya dari belakang

“Kau masih saja kekanak-kanakan.. pergilah” Luhan melepaskan pelukan Liyin dan kembali melangkahkan kakinya

“Gege…”

Luhan tetap tak bergeming

“Aku merasa pusing”

Wajah Luhan tampak sedikit khawatir, namun ia tetap berjalan

~Brugghh
Luhan memalingkan diri kebelakang dan langsung berlari menghamiri Liyin begitu melihat gadis itu pingsan.

***

Ahri menikmati jus apelnya tapi ekspresinya masih tampak resah, kejadian tadi masih memenuhi pikirannya

“Hwang Liyin”

“Huh ?”

“Gadis itu bernama Hwang Liyin” ulang Hera

“Apa kau mengenalnya?”

“Hmm… jika sekedar mengenalnya maka jawabanya iya. Setiap tahun gadis itu akan datang untuk mengunjungi Luhan. Dia adalah anak dari sahabat Ayah Luhan di Cina dan ia benar-benar menyukai Luhan”

Wajah Ahri memucat
“Pantas saja dia memanggil Luhan dengan sebutan Bao Bei” Ahri mencoba tersenyum

“Dan Luhan tidak mempermasalahkannya. Bukan begitu?” Hera cukup yakin dengan pernyataanya

“Bagaimana kau tau?”

“Karena dari dulu, Luhan memang tak pernah mempermasalahkannya walau aku sudah memasang ekspresi sedih ia tetap saja tak keberatan”

“Semakin hari setiap gadis itu mengunjungi Luhan aku semakin sadar bahwa mereka memang dekat. Walau aku sudah merencanakan sebuah kencan dengan Luhan tapi ketika gadis itu datang Luhan akan dengan mudah membatalkannya hanya karena ia tahu gadis itu mempunyai kondisi yang lemah”

Ahri menatap Hera lekat, pikirannya semakin kacau namun ia tetap memaksakan senyuman
“Aku rasa aku tak perlu khawatir akan hal itu, mungkin mereka hanya berteman dekat”

Hera menghembuskan nafasnya, raut wajahnya sedikit berubah
“Apa kau tak menyukai Luhan? Dengan begitu, kau rela melepasnya pada Liyin?”

Ahri sama sekali tak mengerti dengan ucapan Hera

“Kalau begitu kau juga tak keberatan jika aku mengambilnya lagi?”
Ahri tampak terkejut

“Dengar Ahri… selama ini aku selalu merasa tak beruntung karena aku tidak pernah bisa mendapatkan semua yang aku inginkan. Kadang aku berfikir kehidupan ini terlalu sering berpihak pada orang lain. Jadi, bisakah untuk kali ini.. kau melepaskannya? Dia adalah harapan terakhirku, aku mohon.. berikan Luhan padaku lagi”

Ahri tetap diam, ia sama sekali tak menyangka bahwa gadis itu akan berkata demikian
“Kenapa kau diam saja? Bukankah perasaanmu tidak tenang saat aku mengatakan hal itu? Bukankah kau tidak mau jika aku mengambil Luhan darimu? Tapi kenapa kau hanya diam saja?”

“Apa maksudmu? Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

Hera balik menatap Ahri dengan lekat
“Yang ingin aku katakan adalah jika kau menyukai Luhan, kenapa kau diam saja saat orang lain berniat untuk merebutnya?”

“Gadis itu selalu memanfaatkan kelemahannya untuk menarik perhatian Luhan, meski terlihat polos kau tidak akan pernah tau apa yang akan dia lakukan. Aku selalu membiarkan Luhan pergi kesisinya walau sebenarnya aku tak mau. Jadi sebelum terlambat, pergilah pada Luhan dan jangan biarkan gadis itu menghancurkan pertunanganmu. Kau adalah tunangan Luhan.. jangan membiarkan gadis lain memanggil sayang pada apa yang menjadi milikmu. Jangan melakukan hal bodoh seperti yang aku lakukan dulu.”

Ahri tampak terkejut, walau Hera tak mengatakanya secara langsung tapi ia tahu, gadis itu ada dipihaknya
“Kenapa kau mengatakan ini padaku? Kenapa kau membantuku?”

“Aku hanya tidak menyukai gadis itu. Tidak lebih”

Setelah kalimat terakhirnya, Hera pergi begitu saja.. meninggalkan Ahri duduk sendiri. Itu benar… Ahri tidak boleh membiarkan gadis itu bersikap seenaknya. Mungkin ia harus berbicara pada Luhan saat pulang nanti

***

“Ahri?” Kai memanggil gadis itu karena sedari tadi Ahri hanya diam saja

“Hmm?”

“Sebenarnya aku harus pergi ke Pemakaman Manguri Park dulu, Kau mau ikut denganku atau menungguku disini?”

“Aku ikut denganmu saja”

“Baiklah”

Kai tersenyum dan mereka berjalan kearah parkiran
Kai membawa sebuket Chrysanthemum putih dan meletakannya disamping jok lalu mengemudi dengan tenang

“Bukankah itu white chrysanthemum? Di Jepang kami memanggilnya Shiragiku”

“Hmm.. di Jepang maupun Prancis, bunga ini diasosiasikan dengan duka dan kematian. Tapi Ummaku menyukainya karena beberapa orang mempercayai bawha bunga ini dapat membawa kebahagiaan dan tawa didalam keluarga”

Ahri terdiam
“Apakah ini hari peringatan kematian ibumu?”

“Hmm…”

Ahri menatap Kai lebih lekat
“Sudah aku bilang jangan menatapku dengan tatapan seperti itu”

“Bagaimana kau tau aku sedang menatapmu?”

“Siapa yang bisa menolak pesonaku? Setiap orang yang ada didekatku tak akan pernah melewatkan kesempatan untuk menatapku”
Kai terkekeh dan Ahri mendelik sebal

***

Kai meletakan bunga Chrysanthemum putih di makam Ibunya lalu memanjatkan do’a dan berharap agar beliau selalu mendapatkan kebahagian didunia barunya.

“Kenapa kau tidak pergi dengan ayahmu, Kai?”

“Appa selalu sibuk, jadi dia hanya berdoa dirumah. Aku juga tidak yakin tahun depan masih bisa mengunjungi Manguri Park”

“Waeyo?”

“Tahun depan aku sudah lulus, mungkin appa akan mendaftarkanku ke Universitas di New York atau Paris .. entahlah”

Ahri melihat raut wajah Kai yang berubah murung
“Kalau begitu, tahun depan aku akan mengunjungi Manguri park untuk menggantikanmu dan membawakan Bunga kesukaan Ibumu”

“Jinjjayo?”

“Hm… lagipula tahun depan aku dan Sehun masih ada disemester terakhir”

“Apakah aku bisa memegang janjimu?”

“Tentu saja!” Ahri tersenyum manis

“Jika Umma masih ada, mungkin dia akan menyukaimu” balas Kai

***

Liyin terbangun dari pingsannya dan ia tersenyum lega saat melihat Luhan masih ada disana

“Gege…”
Gadis itu beranjak dari tidurnya dan memeluk lengan Luhan

“Liyin, aku sudah memanggil asistenmu dan dalam beberapa menit dia akan datang untuk menemanimu”

Liyin melepaskan pelukannya dan tampak kesal
“Aku tidak mau! Aku mau gege yang menemaniku”

“Jangan keras kepala”

“Aku bilang tidak mau! Jika kau pergi.. aku akan mengunjungimu setiap hari”

“Behentilah bertindak seperti ini Liyin, sekarang aku sudah bertunangan kau tidak bisa bertindak sesukamu”

Gadis itu kini menangis
“Gege menyukainya? Gege hanya boleh menyukaiku!”

Luhan mengacak rambutnya frustasi
“Dengar Liyin, selama ini aku hanya menganggapmu sebagai adik, aku memperhatikanmu karena aku khawatir akan kondisimu tapi kau sudah benar-benar keterlaluan” Luhan hendak pergi namun gadis itu menahannya

“Gege menganggapku sebagai adik? Kalau begitu lupakan gadis itu dan beri aku waktu, setelah itu aku akan membuatmu menyukaiku sebagai seorang perempuan”

Luhan melepaskan genggaman tangan Liyin
“Aku tidak pernah berfikir untuk menggantikannya dengan siapapun, jadi berhentilah mengganguku dan temukan orang lain”
Dengan itu, Luhan meninggalkan Liyin yang menangis. Ia sudah tak peduli lagi, gadis itu terlalu bergantung kepadanya tapi ia merasa gadis itu sudah kelewatan batas kali ini.

***

Luhan’s mansion
07:00 PM

Luhan memasuki rumahnya dengan kesal, namun langkahnya terhenti saat melihat Ahri tengah menunggu kepulangannya
“Apa kau menungguku?”

Ahri yang terkejut kini tersenyum mendapati kedatangan Luhan
“Hmm.. bagaimana urusanmu?”

Luhan kembali berjalan dan duduk disamping Ahri
“Ah, begitulah.. eung Ahri-ya ada beberapa hal yang ingin aku jelaskan”

“Aku sudah mengetahuinya dari Hera”

“Hera?”

“Ne.. dan…” Ahri kini terdiam ia ragu bagaimana cara mengatakan bahwa sebenarnya ia merasa takut, takut bahwa namja itu akan meninggalkannya demi Hwang Liyin

“Apa kau marah padaku?”

Ahri menggelangkan kepalanya dan tersenyum
“Aku tidak pernah marah padamu hanya saja aku takut kau akan meninggalkanku begitu saja, aku…”

Ahri tak melanjutkan kalimatnya karena Luhan menatapnya sendu, kesal.. Luhan merasa kesal dan marah pada dirinya sendiri karena membiarkan orang yang ia cintai kini meragukan perasaannya

“Maaf membuatmu ragu seperti ini Ahri. Aku seharusnya tak meninggalkanmu tadi tapi bisakah kau memberikan kepercayaanmu lagi padaku?”

“Aku selalu percaya padamu ge, aku memang bodoh karena membiarkan rasa takut ini menguasai perasaanku”

Luhan tersenyum lalu membawa Ahri kedalam pelukannya
“Kau takut kehilanganku? Itu berarti kau mencintaiku” Luhan tersenyum masih memeluk gadisnya

“Dan aku juga mencintaimu Ahri-ya”

 -to be continue-

7 thoughts on “One-Sided Love (Part 11)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s