DECADES [Part 1]

decades

Author : Park Minhyun
Vera D Ailianna
Length : Twoshoot
Genre  : Romance, Sad, Angst
Rating  : PG15 / 17?
Main cast : – Oh Sehun
– Yoon Jisu (OC’s)

Cameo : Kim Jongin and other OC’s
Note : (This fanfict project begins on March 2014)

Teaser – Part 1 – Part 2 – Epilogue

PLEASE ENJOY ^^

SEOUL, 2014.

 

Rintik-rintik air terus berjatuhan dari atas langit menghujam tanah bumi. Dedaunan yang sudah mulai meranggas diterpa semilir angin membuatnya menari-nari pada tangkainya. Aroma tanah tercium segar ketika hujan menyentuh jalanan Jeongdong-gil yang kering. Udara berubah mendingin setelah sekian lama tanah mengering karena kemarau yang berkepanjangan. Segar. Seakan-akan bumi telah hidup kembali.

Gumpalan awan abu-abu menutupi teriknya sinar matahari yang menyinari sepanjang jalanan tersebut dengan angkuhnya. Terlihat remang-remang mengingat hari yang sudah mulai menggelap. Trotoar jalan tempat di mana ia menghabiskan banyak waktu hanya untuk sekedar menghabiskan segelas americano sambil berjalan kini semakin sepi karena hujan yang tak kunjung mereda. Para pejalan kaki yang ada di sana banyak yang berhenti di depan teras pertokoan guna meneduh dan menanti hujan mereda. Tapi ada juga para pejalan kaki yang membawa payung berjalan terus menembus hujan yang dingin.

Begitu juga dengan dirinya. Kebiasaanya menghabiskan waktu sambil berjalan dengan americano yang dibeli dari cafe yang tak jauh dari sana sepulang bekerja, kini hanya dilakukannya sambil berdiri di sebuah teras tepi trotoar. Sangat jarang sekali bahkan terbilang hanya sekali-dua kali saja ia menghabiskan americanonya itu hanya dengan terduduk di cafe tersebut. Alasannya mudah, kenangan. Sering kali ia melihati jalanan di sana dengan meniupi americanonya yang panas dengan senyuman yang terpahat di wajahnya. Sebuah kenangan yang membuatnya selalu antusias ingin segera melewati jalan ini. Sebuah kenangan yang… tidak pernah ingin ia lupakan.

Ia tersenyum kembali. Dilihatnya sebuh gedung yang dulunya sebuah kantor pos kini menjadi deretan pertokoan yang disewakan. Senyumnya menghilang ketika tempat di mana dulunya kantor pos tersebut berdiri kini pintunya terbuka dan seperti ada sebuah pertunjukkan yang berlangsung di sana.

Ia berlari kecil menyebrangi jalan menuju salah satu sisi trotoar dengan mengangkat jaketnya ke atas kepala guna menutupinya dari deraan hujan. Gadis itu kemudian berhenti di teras tempat yang tadi ia lihati dari seberang. Ia melihat plakat yang ada di sana. Ternyata sebuah pameran seni yang baru saja dibuka. Ia mengusap pundak jaketnya yang sedikit terdapat titik-titik air di sana, lalu mengalungkan tas sampingnya di pundak kirinya. Melihat hujan yang tak berminat untuk segera mereda, ia berpikir bahwa tak ada salahnya jika ia masuk ke dalam dan sekedar melihat-lihat isi yang ada di dalam sana. Lalu segera ia melangkahkan kakinya masuk.

Sepi. Kesan pertama setelah melihat keadaan di dalam. Alisnya menyerngit heran dengan keadaan ini. Lalu teringat jika galeri tersebut baru saja terbuka dan juga hujan gerimis yang tak henti-hentinya mengguyur di awal musim gugur ini pasti membuat keadaanya menjadi sepi seperti ini. Ia lalu melanjutkan melihat-lihat di sana. Dinding yang ada di sampingnya penuh dengan papan lukisan. Gadis itu dengan langkah teratur tersenyum mendapati gambar-gambar indah terpajang di sana yang terus memanjakan matanya. Adapun lukisan menarik yang dijual di sana. Rasanya ia ingin memiliki lukisan tersebut. Tapi mengingat ia sebenarnya hanya bermaksud melihat saja dan menunggu hujan mereda kembali ia mengurungkan niatnya. Langkah kakinya berlanjut ke depan.

Hingga suatu ketika sebuah lukisan seorang gadis yang tengah tertawa menarik perhatiannya. Tidak dijual. Tertera jelas dibawahnya jika lukisan ini tidak untuk dijual. Lukisan tersebut sangat istimewa dibandingkan dengan yang lain. Lukisannya yang besar tertutup kaca pelindung yang tebal dengan cahaya orange di kanan-kirinya. Alisnya sedikit mengkerut heran, ia merasa pernah melihat gambaran gadis tersebut sebelumnya. “Tapi, di mana?”. Ia tak ingin memikirkannya lagi dan ingin melanjutkan jalannya. Tapi langkahnya terhenti seketika saat mendapati seseorang tepat berdiri di hadapannya.

Lelaki jangkung itu mematung di hadapannya.

Gadis itu juga terpaku dengan apa yang ada di hadapannya. Kenangan itu kembali muncul. Keduanya saling tahu, jika memori masa lalu itu kembali teringat.

Mereka membeku di kedua titik berhadapan di sana. Tak ada yang memulai pembicaraan. Keduanya saling pandang dengan gestur tubuh yang kaku. Atmosfer di antara keduanya menjadi canggung. Ini benar-benar canggung dan aneh.

“Kau—“

“Bagaimana—“

Keduanya berbicara bersamaan. Menjadikan suasana di sana semakin menggila. Mereka berdua saling salah tingkah. Dan keduanya tertawa canggung.

“Haha… kau saja duluan.”

“Tidak, tidak. Ladies first.”

“Hn, lama tidak berjumpa, ya,” Gadis itu menghembuskan nafas canggungnya, “Bagaimana kabarmu?”

“Aku… baik. Setidaknya lumayan baik. Kau sendiri?”

“Aku juga.”

Suasana kembali membeku.

“Jadi, ini pameranmu?” Alih gadis tersebut menghilangkan kecanggungan.

Lelaki berwajah datar itu tersenyum meng-iyakan meski masih terlihat aura dingin di wajahnya. Dengan canggung ia mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Tapi seketika senyumannya menghilang saat matanya berhenti di suatu titik di sana.

Merasa diperhatikan, gadis itu mengepalkan tangan kirinya dan mencoba menyembunyikan tangannya itu di belakang punggung.

Wajah lelaki itu berubah dingin kembali, “Cincin itu, kenapa kau memakainya?” Suaranya yang dingin membuat ia harus menelan ludahnya kasar.

 

***

 

SEOUL, 2003.

 

“Atas nama siapa?” Pegawai pos tersebut bertanya di tengah-tengah pekerjaannya menulis data.

“Yoon-Ji-Su.” Gadis itu mengejakan namanya kepada pegawai tersebut. Pegawai itu mengenakan seragam berwarna biru muda dan kacamata yang sepertinya lumayan tebal serasi dengan tebal lipstiknya.

“Paket wesel Anda akan segera dikirim.” Diberinya sebuah kertas bukti pengiriman kepadanya.

“Terima kasih.”

Jisu lalu berbalik badan dan ingin meninggalkan tempat tersebut. Ramai. Kantor pos sedang padat-padatnya pengunjung mengingat tidak lama lagi Chuseok tiba. Banyak yang datang ke sini untuk mengirim sesuatu kepada seseorang yang berada jauh di sana, tapi ada juga yang hanya sekedar mengambil kiriman dari kerabat. Seperti halnya Jisu yang datang ke sini karena mengirimkan uang gajinya yang tidak seberapa itu kepada orang tuanya yang berada di Busan.

Jisu menjauh dari tempatnya tadi berdiri. Tapi karena tempat tersebut padat, pundaknya bahkan sempat menabrak seseorang.

“Oh! Maaf. Aku tidak sengaja. Maafkan aku.” Gadis itu berkali-kali meminta maaf. Tapi orang tersebut hanya melihatinya dengan wajah datar.

Jisu melanjutkan langkahnya. “Ah, orang itu tidak ada rasa ramahnya sama sekali. Wajahnya dingin dan sangat keras seperti bukuku.” Lalu langkahnya terhenti seketika. “Tunggu! Ada yang kurang.”

“Astaga! Bukuku!” Jisu menepuk dahinya dengan telapak tangannya seolah-olah ia adalah wanita paling bodoh sedunia. Ia berbalik, kemudian kembali mengambil bukunya yang tertinggal di meja pegawai pos di sana.

“Maaf, bukuku tertinggal. Terima kasih!”

Jisu memasukkan bukunya ke dalam tas. Menatanya ke dalam tas di antara buku-buku yang lain dengan rapi. Tapi tangannya terhenti ketika ia melihat kertas putih yang asing baginya.

“Apa ini?” Diambilnya kertas tersebut dan ditelitinya. Sebuah surat yang dibungkus amplop putih. Jisu membalik-balikan surat tersebut dan mendapati sebuah tulisan “Yoo Yoon Hee” tertera di bagian pojok kanan atas bagian depan surat tersebut.

“Ini milik siapa?,” Alisnya menyatu berpikir keras. “Apa laki-laki yang ku tabrak tadi?” Kepalanya mengangguk setuju, “Mungkin saja.”

Jisu melihat sekeliling mencari pria tersebut. Tapi nihil. Ia lalu berlari ke luar kantor pos. Dilihatnya seorang laki-laki yang terlihat seperti seseorang yang ditabraknya tadi kini menunggu lampu penyebrangan. Jisu lalu menghampirinya. Namun ternyata langkahnya terlalu lamban untuk mendekati pria itu. Ia sudah terlanjur berada di seberang ketika Jisu baru saja sampai di pinggir jalan. Jisu yakin, pria itu sedang berjalan, bukan berlari. “Ya ampun, cepat sekali jalannya.”

Dilihatnya lampu berubah hijau. Ia menyebrang bersama para pejalan kaki menyebrangi jalan.

Jisu berusaha mengejar pria tersebut dengan berjalan cepat. Tali tas yang ia sampirkan di bahunya juga sesekali turun sehingga ia harus membenahinya selagi berjalan. Terbesit kekesalan di hatinya karena di hari libur seperti ini, ia malah mengejar pria yang tidak dikenalnya hanya demi sebuah surat. “Ya sudahlah.” Gerutu Jisu.

Saat itu juga, langkah pria tersebut melamban. Kesempatan baik untuk gadis ini.

“Permisi! Sepertinya kau meninggalkan sesuatu.” Jisu memperlihatkan kertas putih yang dimaksud kepada pria tersebut.

Dia hanya melihatinya dengan wajah datar. “Bukan milikku.” Lalu melanjutkan jalannya.

Jisu yang merasa jika itu sepertinya milik lelaki tersebut, ikut mengekorinya.“Tapi, jika bukan milikmu, lalu milik siapa?” Lelaki itu tak menghiraukannya dan berlalu begitu saja.

“Atau ini milik seseorang yang kau kenal? Bisa saja ini dari keluargamu. Ah! Bisa saja ini milikmu, milik sahabatmu, milik tetanggamu, milik kekasihmu, atau teman kerja, atau siapa? Mungkin saja kau mengenal ini. Lihatlah sebentar, aku mohon!” Jisu terus bersikeras ingin mengembalikan surat tersebut kepada pemiliknya. Tapi laki-laki itu hanya berjalan terus dan tidak sedikitpun menggubris omongannya.

“Yoo Yoon Hee.” Diejanya nama yang tertera di amplop.

Lelaki itu berhenti seketika. Jisu yang tepat berada di belakangnya menabrak punggung lelaki itu karena berhenti tiba-tiba.

“Ada apa? Kau mengenal nama ini?” Jisu memperlihatkan nama yang tertulis di amplop putih tersebut.

Lelaki itu melihatinya dengan wajah datar, “Aku tidak mengenalnya. Dan lagi, jangan mengikutiku!” Lalu ia berlalu. “Ada apa dengan dirinya?” Batin Jisu.

“Cah! Baiklah.” Jisu yang masih penasaran mencoba membuka surat yang dibawanya tersebut sambil terus mengekori pria tersebut.

Setelah selesai membacanya, Jisu lalu memperhatikan barang di tangan kanan lelaki tadi yang masih berjalan tak jauh di depannya.

“Tunggu!” Jisu berlari menyusulnya. “Tapi, Yoo Yoon Hee—”

Lelaki itu kembali menghentikan langkahnya. “Sudah kubilang jangan mengikutiku lagi!” Sentaknya kepada Jisu. Raut wajah kesalnya tidak menyiutkan nyali Jisu yang bersikeras memberikan surat yang ia yakini sebagai milik dari lelaki jangkung ini.

Ia mengatur nafasnya yang terengah, “Maaf! Aku tidak bermaksud mengikutimu. Tapi Yoo Yoon Hee, nama itu juga ada di belakang kanvas yang sedang kau bawa.” Jisu mengarahkan telunjuknya ke sebuah kanvas yang bagian depannya dibungkus sebuah kertas koran namun masih menyisihkan sedikit jarak di bagian belakangnya.

“Yoo Yoon Hee. Benar!” Jisu menggumam memastikan bahwa pengelihatannya tidak buruk dengan membaca tulisan yang berada di pojok belakang kanvas itu dan membandingkannya dengan  surat yang ia bawa.

“Diam! Bukan urusanmu.” Lelaki tadi langsung berbalik.

Jisu mengangkat surat yang ia bawa dan melambai-lambaikannya. “Hei! Aku bermaksud baik kepadamu tapi—Ah! Suratnya!!” Surat tersebut terbang tertiup angin.

Lelaki itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Lalu berbalik arah melewati jalan yang tadi ia lewati.

Jisu yang tengah memperhatikan surat putih itu yang terbang, tiba-tiba mengalihkan pandangannya kepada lelaki yang tadi. Ia merasa heran, kenapa lelaki itu berbalik arah?

“Hei! Kenapa?” Pria tersebut berhenti tatkala lengannya ditahan oleh Jisu.

“Lepaskan!” Matanya melirik tajam ke arah tangan Jisu yang lancang memegang lengannya.

“Ada apa? Ada sesuatu di sana?” Jisu mendapati sepasang kekasih sedang bergandengan di belakangnya. “Apa dia, gadis itu yang bernama Yoo Yoon Hee?” Tanyanya sedikit berhati-hati.

Lelaki jangkung itu melihati Jisu dengan tatapan tidak percaya, “Bagaimana kau—”

Jisu hanya tersenyum mengerti mendengarnya, “Aku mengerti perasaanmu.”

 

***

 

“Yoon Jisu. Namamu?” Jisu menata roknya yang sedikit terlipat ketika duduk.

“Sehun, Oh Sehun.” Lelaki itu memperkenalkan namanya seraya tersenyum. Wajahnya yang dingin ternyata terlihat lebih baik ketika dia tersenyum.

Sehun menghembuskan nafasnya panjang-panjang, “Hh~ Sejujurnya, aku sangat lemah ketika ada seseorang yang berkata jika dia sebenarnya mengerti perasaanku.” Lelaki itu membasahi bibirnya sebentar, “Aku tahu, dan aku bisa membedakan mana perkataan yang hanya sebuah bualan dan mana yang benar-benar mengerti diriku. Kau tidak sedang membual, bukan?” Jisu menganggukkan kepalanya dengan mantap.

“Banyak orang yang mengasihani diriku, lalu mereka berkata jika mereka mengerti perasaanku. Tapi sejujurnya, mereka tidak benar-benar mengerti perasaanku.” Sehun tersenyum mengejek dengan salah satu bibirnya terangkat, “Dan kau, kau adalah seseorang yang pertama kali mengatakan jika kau mengerti perasaanku, dan itu bukanlah sebuah bualan semata. Dan hanya orang-orang yang benar-benar mengerti, adalah orang-orang yang pernah merasakannya.”

Sehun menggeserkan duduknya sedikit condong ke arah Jisu, “Dan, bagaimana kau mengerti permasalahanku?”

Jisu sedikit terkesiap mendengar pertanyaan Sehun, “Oh, itu… maaf sebelumnya, tapi aku sempat membaca suratmu.”

“Ap—”

“Aku tidak bermaksud seperti itu.” Selanya cepat, “Kau sendiri yang berkata jika itu bukan milikmu, jadi terpaksa aku membuka surat itu untuk menemukan pemiliknya yang sebenarnya. Tapi akhirnya aku yakin, jika itu memang milikmu. Karena di surat tersebut tertulis jika kau juga akan mengirim sebuah lukisan sebagai tanda permintaan maaf. Dan kau saat itu memegang kanvas yang kebetulan sekali dibelakangnya terlihat tulisan nama yang sama seperti yang ada di surat itu.”

Sehun hanya mengangguk percaya, “Lalu, di mana suratnya sekarang?”

Jisu tersenyum dengan wajah yang sedikit menyesal, “Terbang.”

“Maksudmu?” Sehun menautkan alisnya tidak mengerti.

“Iya, terbang. Tadi terbang tertiup angin dan menghilang entah ke mana.” Jisu memperlihatkan wajahnya yang menyesal, “Maaf.”

Sehun melirik kanvasnya sejenak lalu melihati taman yang ada di depannya, “Tidak masalah. Lagi pula aku juga akan membuangnya. Tidak seharusnya aku meminta maaf kepadanya.”

Jisu tersenyum menyetujuinya, “Setuju! Kau tidak seharusnya meminta maaf kepada gadismu karena kau marah kepadanya. Itu wajar. Mana ada orang yang tidak marah karena jelas-jelas kekasihnya sudah selingkuh. Seharusnya dia yang meminta maaf, bukan dirimu. Aku paham rasa sakit itu hingga kau marah dan membuatnya pergi, tapi aku juga mengerti saat kau tidak ingin kehilangan dirinya yang masih sangat kau cintai. Tapi bagaimana lagi. Pada akhirnya kau juga akan tersakiti untuk kedua kalinya saat dia kembali, karena jelas sekali dia sudah tidak mencintaimu, dan pada akhirnya dia akan pergi untuk yang kedua kalinya.” Jisu berkata dengan mantap, seakan-akan dia yang berada di posisi Sehun.

“Wah, kau sangat hebat. Padahal kau hanya membaca suratku saja, kau seperti berada di posisiku saat ini. Bagaimana bisa? Apa kau juga mengalaminya?” Tanyanya sedikit ragu.

Jisu tersenyum mendengarnya. Matanya menerawang jauh ke ujung batas taman yang ada di hadapannya. “Aku juga pernah berada di posisimu. Dan yang kukatakan tadi sebenarnya adalah luapan hatiku.” Ucapnya dengan nada melamun.

“Oh, benarkah?” Sehun tersenyum menampakkan dagunya yang runcing, “Ternyata kita memiliki rasa sakit yang sama.”

“Ya, kau benar. Rasa sakit yang sama,” Jisu menggenggam sudut bajunya dengan lemah, “Rasanya itu sakit. Sakit saat aku sudah sangat mencintainya, sangat percaya kepadanya, dan benar-benar bergantung kepada dirinya. Kita bahkan sudah akan berada di jenjang pernikahan. Tapi suatu hari, dia pergi dengan gadis lain. Lebih kaya, lebih cantik, dan mungkin lebih mengerti dirinya, itu mungkin yang membuatnya menghianatiku. Aku marah. Ya benar, aku marah saat itu karena aku dicampakkan. Rasanya sakit. Tapi pada akhirnya aku pergi ke rumahnya, dan menangis berlutut memohon kepadanya untuk tidak pergi dariku. Dia seakan iba kepadaku, memegang lenganku dan membuatku berdiri. Dia memberiku harapan, dan berkata tidak akan pergi lagi. Tapi keesokan harinya saat dia berkencan denganku, dia teringat memiliki janji kepada gadis yang sama saat dia meninggalkanku. Apa kau tahu yang akan terjadi selanjutnya?” Jisu menolehkan kepalanya ke arah Sehun. Dia hanya menatapnya mengerti.

Jisu tersenyum mengerti lalu membasahi bibirnya yang sedikit kering, “Dia meminta maaf.” Jisu mengalihkan pandangannya menuju bunga-bunga yang sedang bermekaran, “Dia meminta maaf, tapi kemudian pergi meninggalkanku untuk yang kedua kalinya bersama gadis yang sama. Dan pada akhirnya, aku menerima rasa sakit yang sama untuk yang kedua kalinya.”

“Aku mengerti sekarang.” Sehun mengambil kanvasnya dan membuka koran yang menutupi bagian depan kanvas tersebut.

Di sana terlihat sebuah lukisan pensil seorang gadis sedang tersenyum dengan lebarnya. Yoo Yoon Hee. Benar, itu adalah lukisan gadis yang dulu seorang kekasihnya dan rencananya akan digunakan untuk permintaan maaf.

“Dia adalah Yoo Yoon Hee. Kau bisa melihat wajahnya. Cantik. Dia memiliki segala kecantikan di wajahnya. Matanya, hidungnya, pipinya, dan juga bibirnya. Seakan itu terpahat sempurna hanya untuknya.” Sehun menerawangi lukisannya sendiri.

Jisu menyentuh kurva kanvas milik Sehun “Kau benar, dia cantik. Tapi lukisanmu lebih cantik daripada aslinya, karena kau melukisnya dengan sepenuh hati. Dengan rasa penyesalanmu, dan rasa cintamu kepadanya.”

“Kau sangat baik.” Pujinya.

“Kau benar, aku memang sangat baik.” Ucap Jisu lalu mereka tertawa bersama.

Jisu mengangkat lengan kirinya. Dilihatnya jarum jam yang berputar searah di sana. “Oh maafkan aku, Sehun-ssi. Aku ada urusan di penitipan anak jadi, aku pergi dulu. Eung… aku bekerja di sana.”

Sehun mengangguk dan melihat Jisu yang beranjak pergi meninggalkannya. Ia mengedarkan pandangan ke jalanan sekitarnya, begitupun dengan langit-langit yang sepertinya semakin mendung. Dihirupnya oksigen sedalam-dalamnya sampai ia benar-benar sadar bahwa ia adalah manusia yang masih memiliki akal sehat. Oh Sehun, lelaki itu melirik lukisan yang tergeletak di sampingnya —tempat di mana Jisu tadi duduk—lalu mengambilnya tepat sebelum hujan mengguyur kota itu kembali.

Ia memeluk lukisan tersebut agar tetesan air tidak melunturkan garis pensil yang menempel pada permukaan kanvas itu. Ya, atau mungkin saja air hujan akan melunturkan hatinya pula.

 

***

 

“Eommaa!!”

Teriakan anak-anak membuat gairah di pagi hari menjadi semakin cerah. Bermain dengan anak kecil dapat membuat pikiran terasa lebih segar saat mendapati masalah dalam kehidupan dewasa. Melihat anak-anak yang sedang bermain, penuh tawa, saling berkejaran, bergandengan tangan, dan bahkan saling memukul, itu semua terlihat begitu alami dan dilakukannya tanpa berpikir resiko apa yang akan diterimanya. Itu sebabnya Jisu sangat menyukai anak-anak. Ia bahkan mengajar anak-anak kecil di taman kanak-kanak di dekat kantor pos di sana.

“Hai, sini-sini. Kalian bermain di sini saja, ya? Jangan jauh-jauh, jangan bermain di dekat jalan. Baik?” Anak itu mengangguk dan tersenyum, “Anak baik.” Jisu mengusap-usap rambut anak laki-laki itu dengan lembut. Lalu ia berlari menuju teman-temannya.

Jisu melihat segerombolan anak itu dengan tersenyum, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke jalan raya. Tak sengaja matanya menatap seseorang yang dikenalnya berjalan di trotoar jalan. “Sehun-ssi!” Teriaknya.

Sehun berhenti dan menoleh ke arahnya. Dia tersenyum menampakkan dagu runcingnya kepada Jisu.

Jisu lalu berjalan menghampirinya. “Dari mana?” Tanyanya ketika ia sudah berada di hadapan Sehun.

“Aku baru saja dari kantor pos mengirim lukisan yang dipesan seseorang di luar kota.” Ucapnya dengan wajah yang datar. Entah kenapa wajahnya selalu dingin, bahkan ketika ia tersenyum.

“Wah, kau ternyata sudah mengirim lukisanmu bahkan sampai ke luar kota. Kau pelukis yang sangat hebat!”

Sehun melihati sekolah anak kecil di belakang punggung Jisu. “Kau sendiri kenapa ada di sini?” Tanyanya pada akhirnya.

“Oh, aku? Aku pengajar di sini. Kau bisa lihat, kan? Anak-anak kecil ini lucu dan manis, membuatku sangat menyukai pekerjaan sebagai pengajar di sini.” Jisu tersenyum melihati anak-anak yang sedang bermain.

“Tapi katamu, kemarin kau bekerja di tempat penitipan anak? Bagaimana bisa sekarang kau menjadi pengajar di sini?” Jisu menolehkan kepalanya ke arah Sehun.

“Kau benar. Pekerjaanku saat pagi itu mengajar di sini, tapi setelah jam makan siang aku bekerja di tempat penitipan anak. Indah bukan berada di tengah anak-anak?”

Sehun melihatinya dengan tatapan mengerti, “Ah, aku mengerti sekarang, kau sangat menyukai anak-anak.” Gumamnya sedikit keras, hingga terdengar oleh telinga Jisu. Jisu mengangguk sambil terkekeh.

“Ah, kau mau mampir ke sini? Melihati anak-anak bermain. Bagaimana?” Jisu melihati Sehun dengan tatapan memohon. “Anak-anak! Coba lihat siapa yang datang!” Jisu menepuk-nepukan telapak tangannya sehingga menarik perhatian beberapa anak kecil yang ada di sana. Suasana menjadi riuh ketika mereka berlarian ke arah Jisu dan Sehun. “Kau coba ajak bermain mereka, Sehun-ssi.” Jisu berjongkok menyetarakan tinggi anak-anak yang menghampirinya. Sedangkan Sehun tetap berdiri dan malah menyilangkan kedua tangannya.

“Kau mau bermain?” Jisu segera berdiri dan menatap Sehun penuh harap.

“Ah tidak, terima kasih.” Sehun mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan dada, “Mereka berisik. Aku benci berisik.” Memang, ekspresi kesalnya sangat kentara sekali apalagi ketika anak-anak kecil mulai mengerubungi Sehun.

“Ah, begitu ya? Baiklah.” Ucapnya dengan nada sedikit kecewa, “Atau kita berjalan-jalan di sekitar sini saja sebentar?” Ajaknya.

“Hn, aku tidak bisa. Aku harus segera pergi. Sampai jumpa kembali.”

“Kalau begitu baiklah. Anak-anak, ucapkan salam perpisahan kepada oppa!” Jisu menepuk-nepukan tangannya kembali dan seketika itu dengan kompaknya anak-anak kecil yang ada di sana mengucapkan annyeonghi-gaseyo sambil menunduk sembilan puluh derajat. Sehun agak takjub melihat pemandangan yang menurutnya lumayan ‘ajaib’ tersebut.

“Ne…” Jawab Sehun sekenanya. Pria itu tersenyum datar ke arah Jisu kemudian melangkahkan kakinya berlalu dari hadapan gadis tersebut.

“Cepat sekali perginya.” Gumam Jisu.

Jisu mulai penasaran ke mana Sehun pergi. Ia lalu berbalik mengambil tasnya dan ikut berlari diam-diam mengekori Sehun dari belakang. Mengingat ada pengajar lain di sana dan juga hari ini anak-anak sedikit pulang lebih awal, jadi ia bisa bebas pergi lebih awal tanpa harus menunggu jam pulang datang.

Ia terus berjalan mengikuti Sehun melewati tikungan, berbelok ke kanan, lalu ke kiri, melewati gang-gang dan akhirnya berhenti di suatu tempat yang sedikit ramai. “Aish aku benar-benar seperti penguntit.” Lirihnya. Jisu menjadi teringat dengan bagaimana ia mengekori Sehun saat ia berada di kantor pos. Entah mengapa hal ini menjadi suatu keasikan tersendiri bagi Jisu akhir-akhir ini. “Mungkin aku benar-benar kesepian.” Gumamnya.

Jisu yang masih termenung kemudian sadar dan mendongak. “Karaoke?” Ucapnya lebih kepada dirinya sendiri, “Kau bercanda?” Tapi akhirnya Jisu masuk ke dalam dan disambut dengan seseorang di meja resepsionis dengan rambut klimis dan dasi pita di lehernya. Ah, cukup aneh.

“Permisi, apakah pria tinggi dengan dagu runcing err… cukup tampan itu kira-kira berada di ruang nomor berapa ya?” Jisu mengadahkan tangannya di atas kepala guna menunjukkan perkiraan tinggi Sehun.

“Hey agasshi, kau itu penguntit atau apa?” Sambutan resepsionis tersebut terdengar tidak mengenakan di telinga Jisu.

“Mwo? Penguntit? Bukan! Aku temannya!” Sanggah Jisu tidak terima. Pria aneh itu lalu membentulkan dasi dan menyisir rambut klimisnya dengan sisir kecil. Jisu lalu melirik etalase di samping resepsionis tersebut dan melihat beberapa kotak kondom dan tampaknya dijual. Huh? Tempat apa ini?

“Jogiyo. Dia adalah pelanggan tetap karaoke kami. Dan… tidak pernah ia membawa siapapun di sini. Ia tidak punya teman. Jadi apabila Nona mengaku-aku sebagai temannya…” Pria aneh itu menggantungkan perkataannya dan tertawa terbahak-bahak, “Aku tidak akan memberitahumu.” Ucapnya pada akhirnya.

“Tuan, aku benar temannya, kau bisa konfirmasi langsung kepadanya dan aku yakin dia pasti—”

“Apa yang harus dikonfirmasi?” Suara bariton dingin khas yang Jisu kenal tiba-tiba ia rasakan berada di belakangnya. Tubuh Jisu mendadak kaku. “Hyung, remotenya tidak menyala.” Sambung suara itu. Jisu berbalik dan benar! Itu adalah Oh Sehun!

“Oh… Ooh, oh— Hai annyeong~” Sapa Jisu terbata.

“Apa yang sedang kau lakukan di tempat— karaoke? Kau mengikutiku?” Tanyanya dingin kepada Jisu.

“Ah itu… anu—ah! Aku tidak sedang mengikutimu.” Dustanya. “Aku hanya melewati jalan di depan dan melihatmu masuk. Hehehe~ aku juga suka ke tempat karaoke! Ya! Aku sering ke tempat karaoke! Aku hanya ingin mencoba-coba tempat karaoke yang baru.” Jisu tertawa hambar sejenak. “Sepertinya bagus juga. Wah! Bahkan pelayannya juga tampan sekali!, jadi…” Jisu kemudian tersenyum menggantungkan ucapannya.

“Lalu?”

“Kau ternyata diam-diam suka datang ke tempat karaoke, ya? Tapi, tadi kau bilang tidak menyukai hal-hal yang berisik. Lalu ini?” Ucapnya panjang-lebar namun tetap tidak merubah ekspresi Sehun yang tajam. Jisu kemudian menyerah dan pasrah. Sepertinya ia akan diusir.

“Aku hanya menyukai hal-hal berisik yang kulakukan sendiri dan kudengar sendiri. Tapi sekarang, ada kau. Apa boleh buat.” Sehun menghembuskan nafasnya dengan jengah.

“Yayaya, aku mengerti. Tapi sekali-kali kau harus mengajakku bernyanyi di sini.”

“Tidak! Cukup untuk sekali ini saja.”

“Baiklah.” Jisu menganggukkan kepalanya dengan sedikit kecewa.

“Sehun-ah, ini sudah kuganti baterainya.” Resepsionis tersebut memberikan kembali sebuah remote yang sebelumnya dibawa oleh Sehun.

“Kajja.”

 

***

 

“Ah, kepalaku pusing. Apa yang sudah kau nyanyikan di dalam?” Jisu menyanggakan tubuhnya yang lemas di dinding dengan salah satu tangannya terangkat memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.

“Lagu. Apa lagi?” Ucapnya dengan wajah datar.

“Wah, lihatlah wajahmu. Kau bahkan berubah seratus delapan puluh derajat di dalam sana. Tapi sekarang, wajahmu kembali dingin dan datar.” Ucapnya tidak percaya. “Dan lagi, apa katamu tadi? Lagu? Lagu macam apa itu?’saranghaeyo~ saranghaeyo~ jeongmal saranghaeyo~ neomu saranghaeyo~’“ Ejeknya menirukan gaya Sehun saat bernyanyi di dalam sana. Alis Sehun terangkat. Ia  mulai terlihat sedikit kesal.

“Wah, suaramu JJANG! Sudah kuno, aneh, jadul. Jangan-jangan mungkin saja kakek dan ayahku bisa berduet denganmu! Aku benci hal-hal yang kuno dan jadul, mereka semua membosankan! Dan saat di dalam, kau bahkan tidak memberiku kesempatan bernyanyi, memegang microphonepun aku tidak bisa. Ahh~” Gerutunya panjang-lebar dengan wajah yang kusut.

Sehun menatap Jisu sinis mendengarnya, “Sudah ku bilang, biarkan aku mendengar kebisinganku sendiri.”

“Yaya, baiklah. Aku yakin, aku akan berpikir seribu kali lagi saat akan masuk ke ruang karaoke bersamamu.” Sehun mengangguk membenari perkataan Jisu. “Siapa suruh ikut masuk denganku.”

Mereka kemudian keluar dari gedung tersebut. Rupanya sudah malam. Mata Sehun sedikit membulat saat melihat jam tangan di lengan kirinya, “Jisu-ssi, apa kau tidak pergi ke tempat penitipan anak? Ini sudah gelap.”

Jisu mengangkat tubuhnya yang sedikit merosot di tembok, “Benarkah? Tapi bukankah hari ini hari Sabtu? Setiap hari Sabtu dan Minggu penitipan anak libur, karena orangtua mereka libur di hari Sabtu dan Minggu, jadi tidak ada yang menitipkan anak.”

“Oh, benarkah? Aku baru mengetahuinya.”

Jisu mengangguk setuju dengan badan yang masih tersangga oleh dinding. Tapi kemudian dengan segera ia menegakkan badannya, “Sehun-ssi, hari ini sudah gelap, bukan? Bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar?”

Bibir Sehun sedikit terbuka akan mengatakan sesuatu, tapi cepat-cepat diselanya, “Hanya sebentar! Sekalian juga kau membayar hutangmu karena kau tidak memberikanku kesempatan bernyanyi, ya?” Pelasnya.

Sehun menghembuskan nafasnya panjang-panjang, “Baiklah, kita ke mana?”

“Makan.”

Mereka lalu berjalan bersama keluar dari karaoke. Suasana di sore hari ternyata lebih indah dibandingkan saat siang hari. Jalanan yang remang-remang tersinari lampu jalan berwarna kuning terlihat begitu nyaman. Semilir dingin angin malam menyapu kulit membuat siapa saja akan bergidik olehnya.

Langkah mereka beriringan. Keduanya melangkah dengan kaki kiri lalu kemudian kaki kanan. Tapi tiba-tiba Sehun menghentikan langkahnya. Jisu yang menyadarinya pun melihatinya dengan tatapan heran.

“Ada apa?”

Sehun menunjuk ke depan dengan dagunya yang runcing, “Gadis itu adalah cinta pertamaku.”

Jisu melihat ke depan dan di sana ternyata ada seorang gadis yang sedang memberikan beberapa brosur kepada orang yang lewat. Jisu tersenyum, “Dia cinta pertamamu?” Sehun mengangguk, “Wah, seleramu selalu hebat. Dia cantik. Tapi pasti cinta pertamamu tidak berjalan dengan baik?”

Sehun melihati Jisu dengan tatapan aneh, “Bagaimana bisa kau… mengetahuinya?”

“Jelas sekali. Sangat langka di dunia ini yang namanya cinta pertama itu sukses. Mungkin kebanyakan adanya hanya di drama-drama atau film-film percintaan yang berakhir bahagia. Tapi kau tahu, rata-rata cinta pertama itu gagal. Dan setelah melihat tingkahmu yang berhenti tiba-tiba seperti ini setelah melihat cinta pertamamu, aku semakin yakin jika kisah cinta pertamamu itu gagal. Dan biar aku tebak, kau masih mengingat kisah cinta pertamamu, bukan?” Sehun menganggukkan kepalanya dengan wajah yang polos.

Jisu kembali tersenyum, “Karena cinta pertama itu tidak akan terlupakan, apalagi yang berakhir mengenaskan.”

“Wah, kau pasti pernah mengalaminya?”

“Tentu! Aku mengalaminya saat aku masih sekolah dulu. Tapi kau tahu sendiri, sangat langka yang namanya sukses di cinta pertama.” Dengan cepat, Jisu mengalungkan tangannya ke lengan Sehun, “Anggap saja kita sedang berkencan.” Bisiknya.

“Maksudmu?” Sehun melihati lengannya yang bertautan dengan lengan Jisu dengan tatapan tajam.

“Kau tidak ingin dilihat gagal dua kali olehnya, bukan? Dia sepertinya gadis baik. Dan kau tahu? Wanita baik yang membuang seorang pria akan merasa bersalah apabila pria tersebut terus memikirkannya. Kau juga harus terlihat bahagia tanpa dirinya, kan?” Jisu semakin mengeratkan lengannya.

Akhirnya Sehun mengalah dan kemudian mereka berjalan bersama seperti sepasang kekasih. Saat mereka berpapasan dengan cinta pertama Sehun, gadis itu ternyata menyapanya.

“Annyeong, Sehun-ah!” Gadis tersebut tersenyum ramah. Ia tidak segan-segan memberikan brosur sebuah produk pembersih kaca seperti yang ia lakukan sebelumnya. “Sepertinya ia sudah bahagia.”

Sehun hanya tersenyum dan semakin mengeratkan lengan Jisu ke lengannya. Lalu mereka melanjutkan langkah kakinya. Mereka terus berjalan menikmati suasana malam tanpa sepatah katapun.

“Jisu-ssi…” Sehun memecahkan suasana.

“Eung?” Jisu menatap Sehun yang menunjukkan lengannya dengan ujung dagu. “Tanganmu… sudah cukup.”

“Ohoh! Ya! Hehehe~” Jisu segera melepaskan pegangan tangannya cepat-cepat. Kemudian menjauh dua langkah dari pria tinggi itu. Suasana canggung membuat Jisu kelabakan menanganinya begitupun dengan Sehun. Ia berusaha mencari-cari objek yang bisa dijadikan sebagai bahan obrolan. Namun sepertinya malah kedai masakan laut di ujung jalan menjadi pilihannya.

Mereka berdua kemudian memilih kedai tersebut lalu Sehun memesan dua porsi gurita segar.

“Ah! Kubilang jangan gurita, ya jangan gurita!” Gerutu Jisu dengan memainkan sumpit di kedua jarinya.

“Kenapa? Kau tahu, gurita itu enak, kenyal, dan kau bisa merasakan sendiri bagaimana nikmatnya gurita.” Belanya.

“Sudah kubilang aku tidak mau! Kau tahu, saat kau memasukkan gurita itu ke dalam mulutmu, mereka seperti menari-nari di sana, seperti hidup, dan lengket. Bayangkan! Masih hidup! Ah menjijikan!” Jisu menggeliat ketika membayangkan hewan laut tersebut menggelitik leher dan tenggorokannya. Memang ia suka makanan laut, tapi tidak dengan gurita.

“Baiklah, baiklah. Pesanlah sesukamu.” Sehun tertawa dengan tingkah Jisu yang menurutnya lucu itu.

“Ahjumma! Yang dua porsi gurita itu tolong yang satu diganti dengan tiram bakar saja!”

 

***

 

“Sudah malam. Aku harus segera pulang. Terima kasih makan malamnya!” Jisu mengalungkan tas sampingnya di lengan kiri.

“Baiklah, kau tidak ingin aku antar?”

“Tidak perlu. Tapi bisakah besok kau mau menjemputku?” Jisu tersenyum dengan mata yang dibuatnya memohon.

Sehun menghembuskan nafasnya dengan jengah, tapi akhirnya, “Baiklah, ada apa?”

“Bagaimana kalau besok kita berkencan?” Sehun akan berkata, tapi diselanya terlebih dahulu, “Kumohon! Ya? Anggap kita berkencan dengan orang yang kita sukai? Bagaimana? Apa kau tidak kasihan denganku? Aku hanya pernah merasakan berkencan satu kali saja, dan itupun sudah sangat lama. Ya?” Pelasnya.

Sehun hanya melihatinya dengan helaan nafas frustasi berkali-kali, tapi akhirnya, “Hh~ Baiklah. Lakukan apa yang kau mau.”

Jisu tersenyum dengan bahagia hingga hampir-hampir ia memeluk Sehun tapi diurungkannya karena terlalu senang bisa berkencan. “Baiklah, berikan alamat rumahmu.”

Sehun menautkan alisnya yang tebal dengan heran, “Kau yang akan menjemputku? Tapi bukankah—”

“Tentu saja tidak! Mana ada seorang gadis menjemput prianya saat akan berkencan. Haha! Kau bercanda?” Jisu membuka tasnya dan mencari sesuatu di dalam sana. “Ini! Alamat rumahku. Kau harus datang besok sore. Tapi berikan alamat rumahmu dulu. Takut-takut kau tidak datang lalu meninggalkanku.” Diberikannya kertas kecil yang bertuliskan alamat rumah Jisu kepada Sehun.

“Baiklah, baiklah. Terserah apa maumu.” Sehun menerimanya dan memberikan potongan kertas alamat rumahnya kepada Jisu.

“Baiklah. Bye! Aku harus pergi. JANGAN LUPA BESOK SORE!” Teriaknya saat dia sudah berlalu menjauh. Sehun hanya melihatinya dengan kepala mengangguk sambil melambaikan tangannya.

“Hh~ bukankah ini juga namanya berkencan?” Gumam Sehun heran.

 

***

 

Jisu mengetuk-ketukan ujung sepatunya di depan pintu rumahnya. Sudah hampir tiga puluh menit ia berdiri di sini dan sepertinya ia sudah mulai bosan. Tapi tak lama kemudian seorang lelaki muncul di depan rumahnya.

“Kau ke mana saja? Aku sudah menunggumu lama.” Jisu mengerutkan bibirnya kecewa.

“Kau menungguku lama? Tapi kau bilang aku harus datang sore. Dan ini masih sore.” Sehun melihati jam tangannya.

“Sore itu pukul empat. Sekarang empat lebih tiga puluh menit.” Gerutu Jisu.

“Aish~ Sudahlah. Dan, oh kau tinggal sendirian di sini?” Tanyanya seraya melihati kediaman Jisu yang nampaknya sepi.

“Ya. Aku tinggal sendiri di sini. Orangtuaku ada di Busan. Kajja!” Jisu menggait lengan Sehun tanpa kecanggungan.

“Itu…”

“Eung?” Jisu melihati wajah Sehun yang sedikit aneh dengan alis bertautan.

“Tangan…”

Lagi-lagi Jisu langsung melepaskan pegangannya dengan cepat. “Sepertinya kau gadis yang agresif juga.” Goda Sehun membuat pipi Jisu memanas.

“Ah sudahlah.” Sergah Jisu kemudian berjalan cepat di depan Sehun.

“Hei! Tunggu aku!” Sehun berlari mengejar Jisu lalu menyetarakan langkah  mereka. “Tapi kita mau ke mana?” Sehun bertanya di tengah-tengah perjalanan mereka.

“Em, kau mau ke mana? Tapi aku ingin ice cream. Kau bisa membelikanku nanti, bukan?” Jisu tersenyum lebar merayu Sehun untuk membelikannya ice cream.

“Ya, baiklah.”

 

***

 

“Kau ingin lebih?” Sehun menawarkan. Ia merasa takjub melihat selera makan Jisu yang luar biasa. Ia tahu pasti setelah sedari tadi bermain-main di taman bermain, Jisu pasti lelah—termasuk dirinya juga—tapi bukan berarti ice cream yang jadi pengganti nasi.

Jisu menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri, “Tidak, cukup. Kau melihatnya sendiri, kan? Aku sudah memakan ini untuk yang ke-dua kalinya.” Sehun terkekeh. Ia memperhatikan Jisu yang lahap memakan ice cream strawberry tersebut dengan seksama.

“Apa?” Tanya Jisu yang tidak nyaman karena diperhatikan.

Sehun memberikan saputangannya kepada Jisu, “Pakai ini untuk membersihkan bekas cream yang ada di situ.” Sehun menunjuk sudut bibir Jisu yang kotor saat memakan ice cream. “Aku mau ke belakang dulu. Hanya sebentar, tunggu saja di sini, jangan ke mana-mana.” Lalu ia beranjak pergi menjauh.

Jisu mengambil saputangan Sehun yang ada di meja. Mengelap bibirnya yang kotor terkena ice cream dengan saputangan milik lelaki itu. Merasa sudah bersih, ia lalu meletakkan saputangan itu di atas meja lagi.

“Yoon Jisu?” Sebuah suara seorang laki-laki berseru.

Jisu yang baru saja meletakkan saputangan Sehun menoleh ke arahnya. Ia terperangah mendapati seseorang yang dikenalnya sudah berdiri di hadapannya.

“Kau, Yoon Jisu, bukan?” Ulangnya lagi.

“Jongin.” Jisu beranjak dari duduknya. Salah satu tangannya menyangga tubuhnya di meja. Ia sedikit menengadahkan kepalanya saat melihat wajahnya, mungkin Sehun sedikit lebih tinggi darinya.

Lelaki itu tersenyum dengan manisnya, “Apa kabarmu?”

Jisu yang merasakan kakinya bergetar hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja. Lelaki itu hanya tersenyum mengerti dengan jawaban Jisu.

“Ada apa di sini?”

Jisu menelan ludahnya kasar. Ia mencoba menghirup oksigen sebanyak mungkin sebelum menjawab pertanyaannya. “Aku, hanya sedang bermain… di sini.” Ucapnya terbata.

“Oh, dengan siapa?”

Jisu semakin mengeratkan genggaman tangannya yang basah di pinggiran meja. Tenggorokannya sedikit tercekat entah karena apa. Lalu ia mencoba mengambil oksigen itu sedikit lebih banyak lagi, “Aku di sini dengan ses—”

“Kau menungguku lama?” Suara seseorang mencairkan kecanggungan Jisu yang sudah terpojokkan.

Sehun datang dan langsung menggenggam tangan Jisu yang masih bebas. Sehun kemudian melihat laki-laki yang berdiri di hadapan mereka, “Oh, ternyata ada seseorang. Dia siapa?” Tanyanya seraya menoleh ke arah Jisu.

Jisu semakin mengeratkan genggaman tangannya yang sedikit basah di tangan Sehun, “Dia, Sehun. Kenalkan ini Jongin… teman lamaku.” Ucapnya sedikit bergetar.

TBC

Soo…please ditunggu komentarnya dan jangan lupa like ^^ haruskah saya lanjutkan publish part 2 nya dan entah tergantung keinginan kalian readersku :) gomawoo

One thought on “DECADES [Part 1]

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s