Time

req-time

 

Dear, Krystal Jung

Sincerely, Ilo.ve.aj

Vignette

Psychology, Surrealism!, Romance

Teenager

Disclaimer: [Warning] Typo(s), alur berantakan, dialog terlalu sedikit
This is mine, don’t ever try to blame it as yours, I’m watching you

A/N: Poster by Hyerahani @ Cafe Poster

Reccomended Song:
Journey – Open arms
Zedd – Clarity
David Cook – Always be my baby

Summary: Cerita tentang Soojung, dia, dan arus waktu

Copyright © 2014 Ilo.ve.aj

Time

_

Manusia tak bisa menahan lajunya waktu. Jika ia memaksakannya, ia akan mendapat hukuman, benar? Namun, bagaimana jika, aku membebaskan diri dari lajunya waktu, dan memulai milikku sendiri?

_

I am a prisoner

Menunggu kebahagiaan datang menghampiriku tanpa ada keinginan untuk menjemputnya

Kegelapan merenggutku, menyedot habis sukmaku, membuatku termangu menunggu

Cahaya yang menerobos jiwaku, terpantul di sudut-sudut kelam hatiku, menggugah semangat hidupku, hilang, lenyap, terhempas

Hembusan angin yang menerbangkan sejumput suraiku membawanya pergi, meninggalkanku sendiri, terpekur disini, menunggu pangeran berkuda putihku yang entah kapan akan bersua

Menanti hingga habisnya waktu, menanti nasib menggerogoti ragaku

Aku selalu terdiam disini, di ruangan kecil gelapku

Aku tak membiarkan diriku terbawa arus waktu, aku bertahan disini, memilih arusku sendiri, yang tak kunjung bergulir

Namun…

Rusak, semuanya rusak, dia merusak segalanya, dia merubah segalanya, dia memperbaiki segalanya

Ia memercikkan cahaya ke tengah kegelapan yang merenggutku

Ia merobek celah di tengah himpitan spekulasiku

Ia juga membebaskanku dari kabut gelap yang merengkuhku

Ia, merubah hidupku

_

Hoping you’ll see, what your love means to me

_

Menunggu berakhirnya hari, menatap langit luas tanpa batas, menatap daun-daun kecokelatan yang bergulir menjauhi semangnya

Semilir hangat angin yang merengkuhku, menghanyutkanku kedalam suasana-suasana indah yang terbentang dalam arusku sendiri

Tak jua aku menemukan rentetan kata untuk memaparkan keindahan yang kupandang, terpantul begitu berbeda setiap harinya, selalu menampilkan pesona yang berbeda, perubahan yang menyenangkan

Sreg

Aku terpaku, tubuhku seakan membeku, lidahku kelu, diakah itu?

“Soojung, aku kembali”

Aku hanya mengangguk menanggapinya, kudengar langkah kakinya menaiki tangga, aku menghembuskan napas lega

Aku tak suka dia, aku tak suka saat lidahku kelu ketika berbicara dengannya, aku tak suka ketika dadaku bergemuruh ketika merasakan kehadirannya, aku tak suka ketika badanku gemetar saat tak sengaja bersentuhan dengannya

Namun, aku nyaman

Terlampau nyaman

Saat tangan hangatnya merengkuhku, saat ia menyandarkan kepalaku ke pundak tegapnya, saat iamenyelipkan sejumput rambutku ke belakang telingaku, saat ia menyentuh puncak kepalaku dan mengelusnya dengan lembut seolah aku adalah gelas kaca rapuh yang akan pecah jika digenggam terlalu kuat

Aku juga bahagia

Saat ia membuka mulutnya untuk bersenandung, saat ia dan suara merdunya mengucap kata demi kata dongeng pengantar tidur, saat ia mengangkat kedua sudut bibirnya dan membentuk seulas senyum yang menawan, saat bibirnya terkatup dan menampilkan rajukan yang menggemaskan

Aku ingin selalu melihatnya sepanjang konsistensi ini, bersandar padanya

Aku suka bersandar padanya, pundaknya yang tegap selalu dapat meredakan gemuruh dadaku, selalu dapat meluruskan pikiranku yang runyam, selalu dapat membuatku bernapas ditengah himpitan spekulasiku sendiri, dia berharga

Kudengar derap langkah menuruni tangga, itu pasti dia

Aku memutar tubuhku menghadapnya, saat telapak kakinya memijak anak tangga terakhir, mata kami bertemu

Aku memaksakan mengangkat kedua sudut bibirku dan membuat seulas senyum terpaksa yang kuharap cukup menawan

Ia menghentikan langkahnya, agaknya ia terpana, tentu saja, aku jarang-sangat jarang menampilkan senyum

Sesaat kemudian ia membalas senyumku dan lima detik kemudian sudah berdiri tepat di hadapanku, jarak yang tak sampai 30 cm membuat dadaku bergemuruh hebat, mataku tak bisa lepas menatap matanya yang menyorotkan sinar ramah yang mampu menentramkan hatiku

“Sore, Soojung” ucapnya sambil menyelipkan sejumput suraiku kebelakang telingaku, tak lupa dengan seulas senyum menawan yang selembut beledu, ditambah surai kecoklatannya yang sedikit berkobar diterpa angin sore ini

Aku dapat merasakan ketulusannya, dari caranya menyentuhku, dari caranya memandangku, dari caranya tersenyum padaku, aku tak ingin kehilangannya

Aku hanya mengangguk membalas sapaannya, namun, jarak diantara kami tak kunjung bertambah maupun berkurang, ia tetap menatap mataku, ia tetap menyorotkan binar ramah itu, ia tetap menyunggingkan senyum lembut itu

Entah apa yang membiusku, namun aku pun tak ingin ini berakhir, aku tak ingin ada perubahan

Dia begitu berharga

Namun, tak ada yang mampu membebaskanku, mau bagaimanapun, I’m a prisoner. Dan siapapun-bahkan dia tak bisa membebaskanku dari jeratan yang aku sendiri tak tahu

Memburuku disetiap deru nafasku, mengintaiku disetiap malamku, kesana kemari mengikuti setiap jejak langkahku

Aku tak mengerti, dan tak berusaha untuk mengerti

Namun, itu mengekangku

_

If our love is tragedy, why are you my remedy?
If our love insanity, why are you my clarity?

_

Suatu malam yang syahdu, aku duduk bersama dengannya di pojok ruangan, menyandarkan kepalaku ke pundak tegapnya, tangannya yang selalu dengan sigap mengelus puncak kepalaku

Kami hanya terdiam, tak berkata-kata, menikmati detik demi detik yang terus bergulir, tak mau satupun terbuang sia-sia

“Hey…” ia membuka suara, namun aku tak meresponnya, karena aku tahu bahwa ia tahu, bagaimanapun, aku selalu mendengarkan

“Aku tahu soal perasaan yang kau tanyakan tempo hari, perasaan yang membuatmu selalu terburu-buru, perasaan yang membuatmu terkekang, terjerat, dan merasa terpenjara, sesuatu yang selalu membuat dadamu bergemuruh bukan? Itu adalah…”

Malam yang berharga, bersama orang yang berharga, takkan kulupakan, senyumnya yang berharga, suaranya yang berharga, setiap kata yang ia ucapkan berharga dan bermakna, bagai untaian mutiara, kupatri kuat-kuat di dasar hatiku, takkan kubiarkan apapun-waktu sekalipun, menghilangkan ikatan kasat mata yang benar-benar mengikatku ini

“Soojung, perasaan itu… Aku tak dapat memungkirinya bila aku…”

Pertama kali, pertama kali dalam hidupku merasakan perasaan dimana otakku tak dapat bekerja dengan baik, dimana perutku dipenuhi jutaan kupu-kupu yang memaksa keluar, ketika kedua sudut bibirku tak henti mengulas senyum, apakah ini bentuk lain dari cinta?

Cinta yang kuketahui selama ini begitu menyiksa, hasrat ingin memiliki, perasaan yang kuat

Ternyata, ia juga lembut, melindungi, kokoh

Ternyata, ia bukan sesuatu yang lemah yang akan hilang seiring berjalan waktu, namun juga bukan sesuatu yang gigih dan menentang arus

Ia menyejukkan, mendamaikan, mencerahkan

Benarkah? Ini cinta?

_

Waktu adalah pencemburu nomor satu, ia berlalu begitu cepat ketika aku bersamamu

_

Sejak saat itu

Aku selalu menunggu derit pintu itu, selalu menunggu derap langkah itu, aku selalu menunggu senyum itu, aku selalu menunggu kedua tangan hangat itu, merengkuhku

Jeratan itu… Kian waktu kian beringsut menghilang, digantikan dengan perasaan kuat yang membuatku ingin menghentikan arus waktu

Arusku yang dulu bergeming, sedikit demi sedikit mulai melinang, bergulir, menebar asa. Itu semua karena dia

Aku selalu bertopang dagu disini, menunggu kepulangannya, menunggu saat ia membuka pintu itu, menunggu saat ia tersenyum sambil berseru bahwa ia pulang, menunggu saat ia merentangkan tangannya dan membiarkanku berlari kepelukannya

Mengapa kali ini… Itu tak kunjung terjadi?

Jam dinding itu memelototiku yang masih terpekur menunggu kepulangannya di kursi mahoni dengan keranjang bunga di pangkuanku yang telah tertidur pulas. Ia terlihat kesal karena aku tak kunjung beranjak dari tempatku semula namun ia tetap setia berdetik dan mendendangkan melodi monoton yang berdengung di telingaku

Aku mengalihkan pandangan dari pintu cokelat itu ke keranjang bunga kusam berisi bunga-bunga kuyu yang masih bergeming menatapku memelas, aku menyentuh pipi tirusku dan mengerjapkan bola mata cekungku, betapa menyedihkan

Aku mengalihkan pandangan lagi pada kalender di sebelah jendela berkusen kayu jati berwarna kemerahan, menggantung disana selama berminggu-minggu menunggu seseorang membalik halamannya, termenung, ia bosan

Aku mengulurkan tanganku untuk menggapai kalender kecil itu dan membelainya. Tampaknya aku sudah gila. Tidak. Bukan, aku tidak gila. Aku hanya tidak tahan lagi

Aku beranjak dari tempatku semula, dan meletakkan keranjang kuyu itu di atas meja berwarna putih yang kaki-kaki reyotnya mulai lelah menumpu

Aku menjejakkan kaki perlahan menuju pintu cokelat yang menilik dengan seksama apapun yang terjadi, dengan sabar

Aku menyentuh kenop pintu berkarat itu dengan ragu, khususnya kala jemari kurusku menyentuh permukaan logam dan merasakan sensasi dingin, keraguan membuncah di dadaku

Ini pertama kalinya−mungkin. Dan aku tak ingin yang pertama menjadi yang terakhir dan terburuk

Namun, kukumpulkan segenap keberanianku.

Cklek

Hanya ada dedaunan hijau yang melambai-lambai senang lantaran bisa kembali melihat rupaku setelah sekian lama. Aku meringis, pasalnya dia memang tak ada disini

Dan mungkin…

Dia takkan kembali.

Takut, kalut, gelisah.

Kuadukan ujung kuku runcingku dengan permukaan meja reyot yang berusaha menopang diri sendiri itu hingga menimbulkan suara ketukan monoton yang membuatku bosan. Namun, aku gelisah.

Enth apa yang kupikirkan, aku menatap anak tangga yang tengah menyeringai menatapku, menantangku untuk memijakinya satu demi satu

Aku tidak takut.

Walau di dasar hatiku kekalutan menggores dinding sukmaku, namun, aku tidak takut

Aku memijakkan kakiku ragu ke anak tangga pertama, membuatnya menjerit nyaring. Begitupun anak tangga kedua, ketiga, dan seterusnya. Mereka berderit bergantian melantunkan simfoni yang mengerikan. Diluar dugaan, aku sedikit menikmatinya.

Aku menghentikkan langkahku tepat di depan pintu berwarna merah itu. Otakku sesaat memaksakan memori kilas balik yang bergantian terbersit di benakku. Aku benci

Aku mendorong pintu rapuh itu, masa senja tengah ia alami, membuatku sangat berhati-hati. Aku melongokkan kepalaku ke kamarnya. Mataku membulat ketika barangnya masih tersimpan rapi ditempatnya

Ia akan kembali? Jika benar begitu…

Aku melangkahkan kakiku memasuki ruangan itu dan menyapa atap yang telah sekian lama tak bersua denganku. Aku mengenyakkan pantat di tepi ranjang yang tampak sedikit terlonjak menyadari kehadiranku

Aku mengeryit melihat secarik kertas teronggok begitu saja dengan tulisan tangan yang familiar. Penasaran, aku menjulurkan tangan untuk mengambilnya

“Soojung…
Maafkan aku. Aku harus pergi
Aku mencintaimu
Aku menyayangimu
Dan semuanya dengan tulus
Tapi aku bukan untukmu
Kau bukan untukku
Next to you is not were I belong
So it’s time I’m letting you fly
I’m sorry

Tanpa sadar, air mata jatuh di pipiku. Tanganku gemetar dan dadaku bergemuruh hebat

Sesak, sakit, tenagaku seakan diserap habis oleh kertas lusuh yang kini basah tekena bulir-bulir air mata yang melambangkan luka hati itu

Aku tak mengerti dan tak berusaha untuk mengerti isi surat yang ia tinggalkan untukku

Tapi, ia takkan kembali…

Padahal, ia telah merubah hidupku

Ia telah menggerakan arus waktuku

Ia telah mewarnai kelam hariku

Apakah… Hariku harus kembali seperti sedia kala? Haruskah begitu?

“Kim… Myungsoo…?”

_

You’ll always be the part of me
I’m part of you indefinetely
Don’t you know you can’t escape me
Oh darling ‘cause you’ll always be my baby
And we’ll linger on
Time can’t erase a feeling this strong
No way, you never gonna shake me
Oh darling ‘cause you’ll always be my baby

_

Fin

Haaaai semua, minal aidzin wal faidzin yaaaa^^
Maafkan kesalahanku baik yang sengaja atau tidak sengaja, lapyu all :*
Ohiya awalnya ff ini mau kupost lebih awal, tapi karena ada masalah dengan Wifi dan modemku jadi baru bisa ku post sekarang kkk~

2 thoughts on “Time

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s