Memories

memories cover

 

Dear, Oh Sehun, and Krystal Jung

Sincerely, Ilo.ve.aj

Ficlet

Hurt/comfort, Romance (slight!)

Teenager

Disclaimer: [Warning] Typo(s), alur berantakan, dialog terlalu sedikit
This is mine, don’t ever try to blame it as yours, I’m watching you

A/N: Image credit © weheartit

Summary: Terkekang dalam memori masa lalu yang menyesatkan

Copyright © 2014 Ilo.ve.aj

Memories

Pemuda jangkung berkulit putih itu mengerjapkan matanya perlahan. Menatap lamat-lamat satu cup americano yang tampak kerasan di bungkus tangan hangatnya. Ia menapaki trotoar sepi dengan lampu-lampu tepi jalan yang berkedip sunyi. Dedaunan yang mulai meranggas diterpa angin musim dingin yang menari-nari sepi. Pemuda itu melangkahkan kakinya perlahan, menikmati langkah demi langkahnya, menikmati setiap hirup nafasnya, menikmati setiap detik yang bergulir di tanah ini. Tanah penuh kenangan.

Ia menghentikan langkahnya dan merogoh kantung mantelnya untuk sekedar meraih ponselnya yang dirasa bernyanyi nyaring. Seketika matanya membelalak

“Seriuskah!?”

Pupil matanya melebar membaca text yang berisi ajakan tersebut. Bukan hanya ajakan, lebih spesialnya lagi, ajakan itu berasal dari mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu. Dan pemuda bernama Sehun itu belum bisa melupakannya. Menyedihkan

Seketika seulas lengkungan indah terpahat di wajah masamnya, di antara kedua pipi tirusnya. Pemuda itu kembali memasukan ponselnya ke kantung mantelnya tatkala kulitnya merasakan tetes air hujan yang mulai menghujam bumi sedikit demi sedikit.

Pemuda itu terus menyesap americano nya dan membiarkan kakinya membawanya. Toh ia tak pernah tersesat. Ia memejamkan matanya dan menajamkan pendengarannya, menikmati musik jalanan yang beraneka macam. Orang-orang yang bercengkrama, tertawa, deru rintik hujan, kendaraan lalu lalang, semua terdengar begitu indah bagi Sehun. Setidaknya saat ini.

Kendati begitu, Sehun menyukai jalanan

Jalanan adalah karya seni instalasi yang sempurna. Ia lurus, berhiaskan lampu dan bunga, menikung, menanjak, dan kadang-kadang buntu. Ia mengarahkan, meloloskan, menjebak, dan menyesatkan.

Jalanan tempat berparade, pamer kejayaan, juga tempat menggelandang. Jalanan tempat lari dari kenyataan, tempat mencari nafkah. Orang hilir mudik di jalan, mereka bergerak indah, melamun, riang, dan berduyun-duyun. Jalanan seperti panggung dengan kemungkinan konfigurasi dekorasi yang amat luas.

Begitu katanya. Namun satu alasan klise yang sangat berpengaruh, Sehun bertemu dengannya di jalanan.

Sehun menghembuskan nafas perlahan dan menatap ujung sepatunya yang terdapat sedikit titik-titik air disana. Namun ia mengacuhkannya. Ia mengacuhkan semua titik air yang menghujam kepalanya, bahunya, bahkan cup americano nya yang panasnya telah menguap sekarang. Ia tak peduli. Matanya hanya tertuju pada satu hal, cafe di ujung jalan itu.

Ia mendorong perlahan kenop pintu kaca yang terasa dingin ketika menyentuh permukaan kulit halus Oh Sehun. Bel pintu cafe itu berdentang kecil tatkala Sehun melangkahkan langkah pertamanya ke dalam cafe bernuansa vintage itu. Sehun mengirup dalam-dalam aroma kopi yang terasa menggelitik hidungnya, kendati beberapa menit yang lalu ia baru saja menghabiskan satu cup americano. Toh, Sehun menyukai kopi.

Sehun mengedarkan pandangannya menyapu sekeliling cafe dengan dinding berwarna coklat dengan beberapa foto pajangan di dinding batu-batanya. Matanya terhenti pada seorang gadis berambut coklat yang tengah duduk dan menatap dirinya dengan senyum selembut beledu yang terlukis indah di wajahnya. Sehun tak lantas menghampirinya, masih menatap lamat-lamat lengkung indah yang terulas dengan sempurna pada wajah cantik seorang Jung Soojung. Cantik. Dia memiliki segala kecantikan di wajahnya. Matanya, hidungnya, pipinya, dan juga bibirnya. Seakan itu terpahat sempurna hanya untuknya. Dan Sehun masih terpana sampai gadis itu melambaikan tangannya dan mengisyaratkan Sehun untuk menghampirinya. Sehun tercenung sesaat kemudian ia melangkahkan kakinya menuju gadis itu.

Ia dengan canggung mengenyakkan pantatnya pada bangku tepat di hadapan gadis itu. Ia melepas mantelnya dan meletakkannya di pangkuannya. Sekarang, ia menatap mata gadis itu, membuatnya menelan salivanya dengan kasar. Ia gugup

“Hey… Apa kabar?” Soojung memulai pembicaraan seraya tersenyum samar. Sinar matanya terpancar lembut, membuat berbagai perasaan di benak Sehun berkecamuk. Sehun masih sangat mencintainya

“Kupikir… Biasa saja. Maksudku, aku baru saja tiba disini petang tadi dari California” jelas Sehun lamat-lamat, berusaha menata suaranya. Gadis itu hanya tersenyum menatap Sehun yang bergerak-gerak gelisah. Soojung mengerti, ia pun sejujurnya sedikit gugup disini. Pasalnya sudah 5 tahun mereka tidak bertemu. Pertemuan terakhir mereka, saat Sehun berpamitan bahwa dirinya akan pergi ke California dan tepat sehari setelah berakhirnya hubungan mereka berdua. Tentu mereka gugup

“…Bagaimana denganmu?” tanya Sehun setelah jeda panjang. Menatap segelas caramel espresso hangat yang beruap-uap dengan semangat di hadapannya. Soojung tak lekas menjawab, ia menyesap perlahan cappuchino hangatnya dan mengalihkan pandangannya pada rintik air hujan yang bersarang pada dinding kaca cafe itu. Ia melukis seulas senyum simpul

“Aku sangat baik”

Sehun tercengang ditempatnya. Dadanya bergemuruh melihat ekspresi Soojung.

“Begitu…” gumam Sehun seraya merundukkan kepalanya dan menatap mantel coklatnya yang tersampir di pangkuannya. “…Ada apa?” tanyanya seraya mendongakkan kepala menatap gadis itu.

Lagi-lagi Soojung tak lekas menjawab. Ia lantas mengalihkan pandangannya kearah Sehun dan hanya mengulas senyum lembut. Membuat Sehun bertanya sendiri dalam hati. Ada apa dengan Soojung? Mengapa gelagatnya begitu… aneh? Dan gelagat Soojung yang aneh itu membuat Sehun terusik, gelisah, dan tidak nyaman. Entahlah

Soojung berdeham kecil lalu mengarahkan matanya tepat pada manik mata Oh Sehun yang sekarang diam tak berkutik. Soojung tersenyum ragu

“Sebenarnya, aku hanya ingin memberitahumu bahwa…” Soojung memberi jeda pada kalimatnya, kembali menyesap cappuchino nya dengan raut gelisah. Nafas sehun tercekat, ia merutuk menatak caramel espresso nya yang belum tersentuh. Ia mengeratkan kepalan tangannya. Namun senyum tersungging di wajahnya, ia merindukan Soojung

“Aku akan menikah bulan depan” ucap Soojung dengan cepat, tanpa jeda dan tanpa ekspresi

Sehun terdiam sejenak, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa pendengarannya salah

“Me… nikah?” ulang Sehun hati-hati seraya memandang Soojung sangsi. Soojung hanya mengangguk perlahan seraya menyodorkan undangan yang cukup mewah ke hadapan Sehun

“Dengan… Jongin. Kuharap kau akan datang” ujarnya

Sehun membaca lamat-lamat nama yang tertera di undangan berwarna cream tersebut

Kim Jongin & Jung Soojung

Senyum Sehun luruh, nafasnya tercekat

“Sehun, kau… baik-baik saja?” tanya Soojung hati-hati melihat ekspresi Sehun yang terlihat begitu terkejut. Namun kendati Sehun tak kunjung menjawab, Soojung berdeham kecil dan memutuskan untuk beranjak dari tempatnya semula

“Aku… duluan. Semoga harimu menyenangkan” pamitnya seraya menyampirkan tas tangan berwarna merah pada pundaknya, lalu mulai melangkah meninggalkan Sehun yang masih mematung di tempatnya

Sehun terdiam, tak kunjung otaknya bekerja untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia terlalu terkejut, hatinya hancur.

Soojung segalanya bagi Sehun. Selama 5 tahun ini ia berusaha mempercayai bahwa Soojung akan selamanya milik Oh Sehun. Dan hari ini, di awal musim dingin, secarik kertas undangan meluluh lantakkan segalanya. Semua harapan Oh Sehun, semua kebahagiaannya dan bahkan semua kesadarannya.

Sehun tercenung bak orang mati, diam, menatap namun tak menuju.

“You saw me… But you didn’t see me” gumam Sehun yang masih terpekur di tempatnya semula

Tanpa ia sadari, setetes cairan bening menetes dari pelupuk matanya dan meluncur melintasi pipi tirusnya dan berakhir pada mantel coklatnya yang tampak tak bernyawa.

Sehun mengusapnya perlahan lalu menyesap caramel espresso nya yang mulai dingin akibat suhu di dalam cafe yang cukup menusuk tulang. Sehun tertawa pahit seraya mengacak rambut kecoklatannya.

Sekali lagi ia menyesap caramel espressonya sambil menatap keluar dan memperhatikan lamat-lamat titik-titik hujan yang berjatuhan, senada dengan suasana hatinya. Muram

Ditengah ke senduannya, Sehun merangkai sebaris kalimat penuh dengan sayatan luka di sisi sisinya

Jung Soojung bukan lagi milik Oh Sehun

Dan hanya kenangan yang tersisa, dan tak akan pernah mati


Kerinduan merenggutku. Aku terantuk-antuk menapaki jalanan semu untuk menggapai bayangan dirimu. Langkahku tak berujung. Namun tak mengapa. Sejauh apapun aku berjalan, walau harus sampai di bagian terdalam bumi dan tersesat disana, aku rela bila akhirnya bisa kucapai dan bersua denganmu. Namun aku tersungkur di belakangmu, ketika realitas mendesak kerinduan untuk beringsut menjauh.
Kau bukan lagi milikku.


Fin

 


3 thoughts on “Memories

  1. Sehun, kamu miris banget… huhuhu…
    gak ada sequel nih?
    kasih kesempatan Sehun to find new lover…

    ditunggu ff lainnya…
    Fighting!

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s