[oneshot] Secretly I Love You

secretly-i-love-you-copy

2014-Bayu Navanto© All right reserved – but all cast not my mine exept OC’s, Line story is purely fresh from my brain, so please do not be plagiarism, if you will take out this story please inform me, do not take this story without my permission.

Secretly I Love U®

Cast : Sandara Park, Bora, Taeyang, Park Jaebum a.k.a Jay Park || Length : Oneshot || Genre : Romance, Fantasy || Rating : PG-15 || Author : Bayu Navanto

 

 

 

“Apa ini?” kata itu yang terlontar dari mulut gadis berparas cantik

“Terimalah” ucap laki-laki yang memiliki tato di sepanjang lengan kirinya

“Tetapi ada apa? Kenapa kau memberiku sekuntum bunga?” gadis bernama Dara itu memusatkan pandangannya ke laki-laki yang ada di hadapannya

“Ini sebagai ungkapan perasaan hatiku kepadamu yang sudah lama aku pendam, dan itu cukup menyiksa batin ku, terimalah”

 

 

Sementara itu di seberang sana, terdapat seorang anak laki-laki yang tengah tersenyum-senyum dengan kedua tangannya di letakkan di belakang sambil memegang sekuntum bunga.

“Ini adalah waktu yang tepat, aku harus berani, semangat kau Taeyang” ucap Taeyang sambil memantapkan langkahnya menuju tempat yang sudah di rencanakan, tetapi langkah itu terhenti, senyuman yang tersimpul dari bibirnya sirna, matanya berkaca, bibirnya bergetar seakan tak percaya akan pemandangan yang ada di hadapannya, Dara, ya, nama wanita yang akan Taeyang lamar hari itu juga tengah menghadap ke seorang laki-laki yang bersimpuh sambil menyodorkan bunga ke hadapannya, sontak hal itu sukses membuat hati Taeyang berkecambuk tak karuan, terkoyak-koyak hancur lebur menyisakan puing-puing semata.

 

 

 

Kriiinngggggg,,,,,,,,, Krriiiiinnngggggg,,,,, Kriiinngggg jam waker di samping tempat tidur Taeyang berdering, secara reflek tangan Taeyang meraba-raba samping ranjangnya untuk mematikan benda yang menjadi sumber suara kebisingan di kamar Taeyang di pagi hari di kota Seoul.

Tangannya berhasil menemukan benda tersebut dan langsung mematikannya, sedetik kemudian Taeyang mengulat di atas ranjangnya, dia beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi dia mencuci mukanya, setelah itu Taeyang seperti memikirkan sesuatu hal yang ada di pikirannya

 

“Apa maksud dari mimpi tadi? Kenapa ketika aku melihat wanita itu di lamar oleh orang lain, hati ku terasa perih?”

 

***************

 

Di tempat lain dan di jam yang sama, seorang wanita tengah merapikan tempat dimana ia bekerja, ya, wanita itu adalah Dara, dia bekerja di salah satu toko kaset di daerah Seoul.

“Pagi Dara-ssi, wahh kau begitu ceria hari ini” sapa salah seorang pegawai yang baru masuk ke toko

“Ahh biasa saja” jawab Dara

 

Di luar toko, tepatnya di seberang jalan, seorang namja tengah duduk di salah satu kursi di tepi jalan sambil memotret sekitaran daerah tersebut, tanpa sengaja pria itu memotret toko kaset di seberang jalan dan menemukan sesosok wanita cantik tengah berada di sana, pria tersebut tersenyum ketika melihat hasil jepretannya di kamera SLR miliknya, sesaat setelah itu, pria tersebut pergi meninggalkan tempat tersebut.

 

***************

 

“Hyung, hyung, di mana kau? Apa kau masih tertidur?” teriak Seungri, teman dekat Taeyang

Taeyang yang tengah berada di dalam kamarnya mendengar suara sengau tersebut

“Aku disini Ri” teriak Taeyang dari dalam kamar

Beberapa detik setelah Taeyang mengucapkan kata tersebut, pintu kamar terbuka, orang yang tadi menjadi sumber utama kebisingan di rumahnya kini sudah masuk di kamarnya.

 

“Ada apa kau kemari?” tanya Taeyang sambil merapikan kancing lengan kemejanya

“Kau lupa hyung? Hari ini kau berjanji menenamiku ke Jeju untuk menengok nenek ku di sana?”

“Ahh, tapi sepertinya aku tidak bisa” ucap Taeyang yang tadi memunggungi Seungri kini menghadap ke Seungri

“Kenapa tidak bisa?” tanya Seungri

“Aku mau ke suatu tempat” jawab Taeyang santai

“Kemana?” tanya Seungri penasaran

“Itu bukan sesuatu yang spesial dan kau tak perlu tau, bukannya harusnya sekarang kau sudah harus berangkat ke Jeju?”

“Hyung tolonglah, aku ingin sekali bertemu nenekku, sudah hampir 2 tahun aku tidak menengoknya”

“Aku tidak bisa Ri, kau bisakan pergi sendiri? Kau sudah besar”

“Apa tidak bisa meluangkan waktu sejenak? Kau sudah janji hyung, akupun sudah bilang ke nenek kalau aku akan kesana bersama mu hyung, jadi ayolah, nenekku juga ingin bertemu dengan mu” bujuk Seungri

“Memangnya nenekmu kenal aku? Pernah bertemu juga tidak, kenapa dia jadi ingin bertemu dengan ku?”

“Apa seseorang yang ingin bertemu seseorang harus mengenali dia terlebih dahulu?”

“Kan ada pepatah kalau tak kenal maka tak sayang” lanjut Seungri

“Nah kenapa nenek ku ingin bertemu dengan mu karena dia ingin mengenal mu, mengenal orang yang selalu membantu cucunya di Seoul”

“Tetapi aku benar-benar tidak bisa, kau ajalah orang lain”

“Baiklah kalau begitu, maaf aku mengganggumu pagi ini hyung” ucap Seungri merasa kecewa terhadap Taeyang, diapun pergi meninggalkan kamar Taeyang dengan muka murung, Taeyang yang melihat Seungri, orang yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu akhirnya luluh.

“Baiklah, aku akan ikut denganmu ke Jeju”

 

Sontak Seungri yang mendengar perkataan tersebut terlontar dari bibir Taeyang

“Kau serius hyung?” tanya Seungri sumringah sambil membalikkan badan menghadap ke Taeyang

“Ya” jawab Taeyang sambil menganggukkan kepalanya.

 

***************

 

Di toko kaset, Dara masih dengan pekerjaannya membersihkan dan merapikan kaset-kaset.

Krintingting,,,, bunyi lonceng menandakan ada pelanggan yang masuk, sontak Dara langsung menghampiri sang pelanggan

 

“Annyeong haseyo, selamat datang, silakan memilih kaset yang anda inginkan” sapa Dara ramah

 

Pelanggan tersebut hanya tersenyum dan mulai menyusuri meter demi meter toko tersebut, sampai akhirnya dia berhenti tepat di hadapan Dara, sontak hal tersebut membuat Dara sedikit terkejut.

 

“Masih ingat dengan ku?” tanya pelanggan tersebut

“Memangnya anda kenal dengan saya? Siapa anda?” tanya Dara

“Ternyata kau sudah lupa, ini aku, teman sebangkumu sewaktu di SMA”

“Teman sebangku sewaktu SMA???” ucap Dara sambil mengingat-ngingat kejadian 5 tahun yang lalu, “Park Jaebum?” tebak Dara

“Yep, ini aku Jaebum”

“Wah, kau tetap saja tampan, tidak salah waktu itu kau di juluki sebagai prince of Senior High School

“Hahaha kau bisa saja, kau juga, semakin kesini, semakin cantik saja, sampai tadi aku hampir tidak mengenalimu”

“Ah kau bisa saja Jaebum, ah lebih baik kita ngobrolnya di cafe sebelah saja bagaimana?”

“Apa kau tidak dimarahi bos mu gara-gara keluar toko di jam kerja?”

“Oh itu, kau tidak perlu khawatir, toko ini milik ayahku, jadi tenang saja”

 

 

Dara dan Jay sudah berada di tempat yang di maksud.

“Bagaimana kabarmu? Lama sekali tidak ada kabar” tanya Jay

“Aku baik-baik saja, oh iya, ngomong-ngomong kau itu bukannya sudah tinggal di Amerika?” tanya Dara

“Oh itu, aku kesana hanya ingin melanjutkan pendidikanku di sana”

“Lalu kau datang kemari karena sedang liburan?”

“Aniya” jawab Jay singkat

“Mwo? Lalu apa? Kau sedang melakukan praktik kerja lapangan?”

“Itupun bukan”

“Lalu apa?”

“Aku sedang menjenguk eomma yang sedang terbaring sakit di rumah sakit”

“Kau sungguh anak yang berbakti Jaebum, aku bangga dengan mu”

“Gomapseumnida, ouh iya, bagaimana hubunganmu tentang itu” ucap Jay menggantung

“Tentang apa?” tanya Dara bingung

“Itulah, masa kau tidak tahu maksudku”

Dara terlihat berpikir keras mencari apa maksud yang di katakan Jay, “Ah, apa yang kau maksud itu adalah tentang asmara?” ucap Dara

“Heem” gumam Jay sambil tersenyum jahil

“Ishh kau ini” gerutu Dara

“Jadi kau masih single sampai sekarang? Hahaha kasihan sekali kau” ucap Jay tertawa bergurau

“Iishh apanya yang lucu coba, kau ini, bikin kesal saja” ucap Dara sedikit ngambek

“Bercanda Dara, bercanda, lagi pula kenapa sampai saat ini kau belum memiliki jodoh?”

“Itu bukan urusan mu”

 

***************

 

Taeyang dan Seungri kini sudah berada di Jeju untuk menjenguk nenek Seungri yang sedang sakit, Seungri terlihat begitu gembira kali ini.

 

“Kenapa kau gembira sekali Ri?” tanya Taeyang

“Akhirnya setelah sekian lama aku tidak menengok nenek, aku bisa menemuinya sekarang” jawab Seungri

 

Hari telah berganti menjadi malam hari, Taeyang dan Seungri tidur di kamar dan rumah yang sama, Seungri terlihat sedang asyik mengutak-atik Laptop sedangkan Taeyang hanya berbaring terlentang di kasur.

 

“Seungri-ya” panggil Taeyang

“Ada apa hyung?” ucap Seungri menoleh

“Sepertinya aku harus pulang besok pagi”

“Apa tidak bisa lebih lama lagi?”

“Sepertinya tidak Ri, aku memiliki banyak tugas di Seoul, kau tahu itu bukan?”

“baiklah, sekarang aku tidak mencegahmu hyung, gomapseumnida sudah menemaniku pergi ke Jeju”

“Hemm, cheonmaneyo”

 

Ke esokan Taeyang berpamitan kepada seluruh keluarga Seungri yang ada di Jeju untuk pulang kembali ke Seoul.

 

***************

 

Dara dan Jay sedang asik bersenda gurau di cafe tempat mereka mengobrol.

 

“Dara-ya, bisa tidak kau membantu ku?”

“Membantu apa?”

“Aku ingin membuat sebuah kejutan kepada ibuku, hem tetapi, aku bingung mau memberi kejutan apa buat ibuku nanti”

“Memangnya sampai sekarang kau belum menjenguk ibumu?”

“Belum, aku belum berani menjenguknya”

“Wae?” tanya Dara penasaran

“Kau tahu, dulu aku itu sangatlah nakal, bahkan sampai berani membentak ibuku, aku merasa malu menemuinya”

“Lalu jika kau malu, kenapa kau datang ke Korea? Bukankah dengan datangnya kau ke korea, kau sudah berani menemui ibumu?”

“Tetapi jika menemui ibuku dengan tangan kosong, itu menurutku sangat tidak afdol bagiku”

“Kau sebenarnya anak yang berbakti Jay” puji Dara

“Ya, gomawoyeo” jawab Jay tersipu “Kau punya ide bukan, untuk buah tangan yang akan aku bawa untuk menjenguk ibuku?”

“Kenapa kau tidak beli buah saja? Bukankah setiap orang yang ingin menjenguk seseorang akan membawa buah-buahan untuk dijadikan buah tangan?”

“Tetapi aku ingin sesuatu yang aku buat dengan tangan ku sendiri, bukan hasil membeli suatu yang sudah jadi di toko”

How about cake?”

Cake?” celetuk Jay ketika mendengar usulan dari Dara, “Tetapi aku tidak bisa membuatnya”

“Akan aku bantu” ucap Dara singkat sambil mengumbarkan senyuman manis

 

***************

 

Taeyang telah sampai di Seoul dengan selamat, ‘dreet’ ponsel Taeyang yang dia simpan di saku celananya bergetar, secara reflek tangannya langsung merogoh saku celananya untuk mencari benda yang bergetar tadi

 

From : Seungri

 

“Bagaimana perjalanannya hyung? Kau sampai dengan selamat bukan?”

 

“Ya ampun anak ini” gumama Taeyang

Diapun membalas pesan yang dikirim oleh orang yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri, “Aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir” tulis jari-jari Taeyang menyentuh ponse I phone 5 hitam miliknya.

 

Sesudah dia membalas pesan tersebut Taeyang langsung meluncur menuju apartement miliknya, di perjalanan dia melihat sesosok wanita yang sudah lama sekali dia idamkan tetapi Taeyang belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasannya kepada perempuan tersebut, perempuan tersebut adalah teman sekelas Taeyang sewaktu mereka masih duduk di bangku SMA, Taeyang sendiri sering curi-curi pandang kepada wanita tersebut, tetapi dia belum percaya diri untuk mengungkapkan perasaan terpendamnya kepada wanita tersebut. Di tengah lamunannya mengenang asa SMA sewaktu dia mencuri-curi pandang kepada wanita tersebut, Taeyang di kagetkan dengan rem mendadak dari taksi yang ia tumpaki

 

“Ada apa ahjushi?” tanya Taeyang

“Jeosonghaeyo, tadi ada mobil yang ugal-ugalan” jelas sopir, Taeyang menangapinya dengan sebuah anggukan kecil.

 

Beberapa menit setelah kejadian tadi Taeyang sudah sampai di apartementnya.

 

“Taeyang-shi” ucap seorang namja yang sukses menghentikan langkah Taeyang untuk masuk kedalam lift, secara reflek kepala taeyang menengok kearah sumber suara

“Nuguya?” ucap Taeyang melihat seorang namja yang tadi memanggilnya berjalan mendekati Taeyang

“Kau sama sekali tak berubah Taeyang-shi” ucap namja tersebut sambil memukul pelan bahu kiri Taeyang,  tetapi tidak di tanggapi oleh Taeyang, karena dia masih mengingat-ingat orang yang ada di hadapannya

“Kau lupa denganku?” ucap namja tadi menanggapi sikap Taeyang

“Tetapi aku benar-benar tidak mengenali anda” ucap Taeyang

“Jaebum, Park Jaebum imnida, forget me?” ucap Jay berusaha mengingatkan ingatan Taeyang

“Jay Park?” ucap Taeyang setelah ingat

“Ne, kau sudah melupakan aku huh? Kau ini” ucap Jay

“Aniya, aku hanya tidak mengenalimu, sekarang kau sudah banyak perubahan, dari dulu yang masih lugu-lugu menakutkan sekarang kau sudah seperti gengster”

“Gengster?” tanya Jay menanggapi ucapan Taeyang

“haha, aku hanya bercanda, kita bicarakan di apartement ku saja, gaja” ajak Taeyang

 

Sesampainya di apartement Taeyang

 

“Kau mau minum apa?” tanya Taeyang

“Terserah kamu saja”

“Ok”

 

Sementara itu sembari menunggu Taeyang membawakan minuman untuknya, Jay berkeliling melihat apatement Taeyang yang terlihat begitu sangat tertata dengan rapi semua benda-benda yang berada di apartementny, hal itu membuat Jay tertegun takjup dengan kerapian dan kebersihan Taeyang dalam mengurus apartement miliknya yang lumayan besar itu, disaat dia sedang melihat-lihat sekeliling apartement Taeyang tersebut, Jay menemukan sebuah bingkai foto dengan foto seorang anak perempuan yang terpajang di bingkai tersebut, Jay secara diam mengambil bingkai foto yang membuat Jay penasaran tersebut betapa terkejutnya dia begitu melihat foto yang terpanajang di bingkai tersebut adalah orang yang tadi dia temui

 

“Dara?” gumam Jay

 

Beberapa detik kemudian dia melihat Taeyang keluar dari dapur, dia bergegas mengembalikan bingkai foto tersebut pada tempatnya yang semula.

 

“waw, apartement mu sungguh rapi” puji Jay menghampiri Taeyang

“Ah, biasa saja” kekeh Taeyang

“Kau tinggal sendirian?” tanya Jay sambil duduk ke sofa terdekat

“Ne, Hyung sedang berada di Busan” jawab Taeyang sambil menaruh gelas dan duduk di samping Jay

“Lalu orang tuamu?” tanya Jay lagi

“Mereka lebih suka tinggal di rumah kita yang dulu, menurut mereka rumah itu mempunyai banyak kenangan, lagi pula kalau mereka tinggal di sini siapa yang mengurus rumah itu”

“Ah benar juga”

“Bagaimana kabarmu, kau semakin banyak tato saja” gurau Taeyang

“Baik-baik saja, seperti yang kau lihat, bagaimana dengan mu?”

“Baik”

“Em bukan jasadmu, tapi hati mu” ucap Jay tersenyum usil

“Ya seperti inilah”

“Kau masih menyukai dia?” tanya Jay lebih intens

“Dia? Dia siapa yang dimaksud?”

“San-da-ra Park” ucap Jay mengeja

“Mwo?” Taeyang terkejut dengan perkataan Jay

“Hahaha sudahlah, terus terang saja, kau menyukai dia bukan? Bahkan sejak kita masih SMA”

“Kau bercanda, mana mungkin aku menyukai gadis itu, gadis menyebalkan seperti dia, aku tidak minat” ucap Taeyang munafik

“Ah sudahlah, terus terang saja, kau hanya belum mengenalnya lebih jauh makannya kau menganggapnya seperti itu”

“Sungguh, aku tidak menyukainya, atau jangan-jangan kau suka dia? Kalau kau suka cepat dekap tangkap dia, sebelum di tangkap oleh orang lain”

“Kau tak menyukainya? Haha mana mungkin, tapi ide kamu barusan bagus juga, dia cantik, proporsional, perfectionist pula, cocok dengan aku hahaha, apa kau tidak menyesal nantinya?” tanya Jay menantang Taeyang

“Ya, aku tidak bakalan menyesal, ah sudahlah jangan bahas masalah itu lagi” ucap Taeyang sedikit kesal

 

***************

 

Dara sedang duduk di bangku taman, dia terlihat sedang menunggu seseorang, sesekali dia menengok ke kanan dan kiri memastikan apakah orang yang sedang dia tunggu sudah datang atau belum. Dara menghela nafas panjang seakan sedang berusaha membuang kejenuhan menunggu.

 

“Katanya pukul 8 pagi, kenapa sampai sekarang belum datang juga” gerutu Dara

“Lama menunggu yah” ucap orang yang sedang di tunggu Dara

“Ah Jay, kenapa kau lama sekali” keluh Dara

“Mianhaeyo, bisa kita mulai sekarang?” ucap Jay

“Gaja” ucap Dara semangat dan bangkit dari tempat duduknya

 

Dalam perjalanan mereka bercengkerama membicarakan hal-hal di masa mereka masih duduk di bangku SMA, sampai perjelanan mereka harus menghentikan perjalanan mereka karena lampu lalulintas memancarkan warna merah, sesaat setelah mobil yang di tumpangi Dara dan Jay berhenti sebuah mobil juga berhenti tepat di samping mobil Jay, Jay yang tanpa sengaja sedang mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalan tersebut melihat Taeyang berada di sampingnya, diapun membuka kaca jendela mobil.

 

“Taeyang-ssi” teriak Jay, Taeyang yang berada didalam mobilpun mendengar ada seseorang memanggilnya, dia menengok kearah sumber suara, dan dia mendapati Jay yang memanggilnya

“Ya, ternyata kau” balas Taeyang

 

Perbincangan mereka tidak berlangsung lama karena lampu sudah memancarkan warna Hijau, dari perbincangan sepintas terebut, Taeyang mendapati seseorang yang dia kenal sedang duduk di samping Jay.

 

“Kita ke mall terlebih dahulu untuk berbelanja, ok” ucap Jay

“kau belum mempersiapkan bahan-bahannya” tanya Dara

“ hehe belumlah, aku tidak tahu bahan-bahan untuk membuat cake” kekeh Jay

“Aish kau ini” gerutu Dara

 

***************

 

Sesampainya di apartement, Taeyang menjadi kepikiran dengan kejadian barusan, ‘Jay dengan Dara?’ pertanyaan seperti itulah yang sekarang sedang menggeluti otaknya.

 

“Apa Jay memang benar-benar menyukai gadis itu?” ucap Taeyang bertanya-tanya “Ah ayolah Taeyang kau ini kenapa, kenapa kau jadi seperti ini, come on ini tidak ada hubungannya dengan mu” ucap Taeyang merutuki dirinya sendiri

 

***************

 

“Kita mau belanja apa saja?” tanya Jay sambil mendorong troli membuntuti Dara dari belakang

“Kita butuh tepung ini, ini, ini” oceh Dara sambil mengambil barang yang dia sebutkan, sedangkan Jay hanya bisa melongo dan mengikuti Dara dari belakang.

 

Setelah membayar semua barang belanjaan di kasir, Jay terperanga akan barang-barang yang baru saja mereka beli.

 

“Ini semua bahan yang akan kita gunakan untuk membuat cake?” tanya Jay sambil mengangkat kantung keresek yang berisi barang belanjaan

“Emm enggak” jawab Dara sambil tersenyum

“Mwo?”

“Hehe kita beli sekalian makanan ringan untuk kita makan nanti selama membuat kue” kekeh Dara, sedangkan Jay hanya menyeringai menatap Dara

“Sudahlah ayo, kita buat sekarang” ucap Dara mengalihkan pokok pembicaraan, mereka berduapun pergi menuju apartement Jay di kawasan Seoul.

 

Sesampainya di apartement mereka berdua mulai melakukan kegiatan membuat cake untuk  dibawa Jay sebagai buah tangan untuk menjenguk orang tuanya yang sedang sakit. Jay hanya bisa melongo sambil memandangi Dara mengaduk-aduk tepung, seketika itu pula niat jahil Dara muncul, Jay sengat khidmat memandangi Dara mencampur semua bahan untuk mebuat cake di lempari tepung oleh Dara, sontak Jay kaget dan membalas ulah jahil dari Dara, alhasil mereka kini telah berumuran tepung yang mengotori seluruh tubuh  mereka berdua.

 

Setelah sekian lama mereka membuat cake yang diselingi dengan canda saling lempar tepung, merekapun di dera kelelahan, Jay dan Dara kini tengah merebahkan diri di sofa. Muka compang-campeng mereka kini telah bersih karena telah di sapu oleh air sewaktu mereka membersihkan muka sebelum istirahat.

 

“Dara-ssi” celetuk Jay

“Ne, ada apa?” timpal Dara

“Kau tahu Taeyang-ssi?”

“Taeyang-ssi?

“Heem, kau kenal bukan?”

“Ne aku kenal, memangnya ada apa dengan dia?” tanya Dara

“Sepertinya dia emm, ah lupakan saja” ucap Jay menggantungkan perkataan dan mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perkataannya

“Sepertinya dia apa? Ayo lanjutkan perkataan mu, aku jadi penasaran” ucap Dara yang serius menanapi perkataan Jay yang menggantung tersebut

“Kan sudah aku bilang, lupakan saja, itu bukan hal yang penting untuk kau ketahui”

“Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu kepadaku” ucap Dara menatap Jay dengan tatapan tajam

“Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu, nanti suka kepadaku baru tahu rasa”

“Mwoya, aku suka kepadamu? Itu sangat tidak mungkin, orang sepertimu mana mungkin aku menyukainya, kau itu seperti gengster, tato beterbaran di tubuhmu”

“Hey, ini seni” ucap Jay sambil menunjukan lengan kirinya yang di penuhi dengan tato

“Yalah, kau memang pandai mengalihkan pembicaraan”

“Sudah malam, kau menginap saja di sini”

“Aniya, aku harus pulang”

“Wae?”

“Nanti tetangga akan berbicara apa, seorang wanita lajang menginap di rumah lelaki lajang, aku tidak ingin membuat desas-desus yang tidak mengenakan telinga dan hati”

“kau ini, mana mungkin akan ada hal tersebut”

“Tetapi pencegahan bukankah lebih baik”

“Hem baiklah, kalu begitu akan aku antar kau sampai rumah dengan selamat”

“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri”

“Ani, ini sudah malam, akan lebih baik jka aku akan mengntarmu, lagi pula aku yang membawamu ke sini, maka aku juga yang harus membawamu pulang dengan selamat”

“Tidak Jay, ini belum terlalu larut, masih ada beberapa bis yang masih beroperasi, jadi kau jangan khawatir”

“Kau serius?”

“Ne, aku serius, sudah yah, aku harus pulang” ucap Dara bangkit dari rebahannya di sofa

“Baiklah, kalau begitu hati hati di jalan” ucap Jay.

 

Dara kini sudah sampai di halte bus, dia sedang menunggu bus yang akan mengantarnya pulang datang melewati depan halte bus tersebut. Sementara itu, di jalan, Taeyang yang merasa bosan berdiam diridi apartementnya dalam kesendiriannya tersebut, kini tengah mengendarai mobil sportnya untuk menuju ke tempat yang belum Taeyang tentukan, di tengah perjalanan dia melihat seseorang yang selama ini selalu membuat hatinya menjadi tak karuan. Entah setan apa yang menghasutnya, Taeyang yang dulu pemalu itu menghentikan mobilnya tepat di depan halte bus dimana Dara sedang menunggu bus datang, Dara yang melihat sebuah mobil berhenti di depannya persis di lingkupi oleh pertanyaan-pertanyaan yang membuat bulu kuduk Dara merinding. Kaca mobil perlahan terbuka, dengan samar-samar Dara melihat orang yang berada di dalam mobil tersebut.

 

“Taeyang-ssi?” celetuk Dara setelah melihat dengan jelas oran yang berada di dalam mobil tersebut

“D-d-d-dara-ssi, a-a-apa yang se-sedang ka-kau lakukan?” ucap Taeyang terbata-bata

“Kau kenapa Taeyang? Aku disini sedang menunggu bus lewat” tanya Dara keheranan

“Ouh aku tidak kenapa-napa” balas Taeyang yang salah tingkah, ucapan Taeyang di tanggapi Dara dengan anggukan kecil, “Mari aku antar” celetuk Taeyang tanpa sadar

“Mwo? Kau serius?” tanya Dara yang keheranan karena Taeyang dulu jarang sekali berbicara dengan lawan jenis

“Ne, lagi pula ini sudah malam” balas Taeyang

“Gomawoyeo” ucap Dara lalu masuk ke mobil mewah nan elegan milik Taeyang

 

Selama di jalan, Taeyang dan Dara tak banyak berbicara, Taeyang masih belum berani untuk berbicara secara intens dengan perempuan, karena sejak kecil Taeyang selalu menutup diri dari perempuan, karena merasa sedikit sepi dengan situasi ini, Dara akhirnya membuka percakapan untuk memecahkan keheningan.

 

“Bagaimana kabarmu selama ini Taeyang-ssi?” ucap Dara membuka percakapan

“Ah ya ada apa?” balas Taeyang kelagapan, Dara hanya tersenyum kecil

“Bagaimana kabarmu?” ucap Dara mengulang perkataannya

“Ouh aku baik-baik saja, bagaimana dengan mu Dara-ssi?” jawab Taeyang sedikit gugup

“Aku baik-baik saja, bagaimana keadaan orang tuamu?”

“Mereka baik-baik saja”

“Kau masih sama seperti dulu”

“Apa maksudmu?” tanya Taeyang

“Kau masih pemalu”

“Begitu yah? Ah aku rasa tidak” jawab Taeyang yang makin gugup

 

Dara yang melihat sikap Taeyang gugup menjawab semua pertanyaan yang terlontar dari mulutnya.

 

“Kau sudah makan Dara-ssi?” entah bagaimana caranya Taeyang yang sangat pemalu bisa melontarkan pertanyaan yang selama ini di anggap olehnya sangat konyol tersebut

“Belum, memangnya ada apa?” tanya Dara yang mencoba menantang keberanian Taeyang, Taeyang yang sudah terlanjur mengucapkan perkataan yang baginya konyol itu akhirnya memberanikan diri untuk mengajak Dara makan bersama

“Bagaimana kalau kita makan?”, Dara yang mendengarnya sedikit kaget tetapi dia sembunyikan ekspresi kagetnya tersebut

“Makan? Apa kau serius?”

“Ne, aku serius, memangnya ada apa? Apa salah aku mengajakmu makan?”

“Aniya, kau berbeda saja, tumben-tumbenan kau mengajak seorang wanita untuk makan bersamamu, berdua saja lagi”

“Jadi kau menolaknya?”
“Aniya aku tidak menolaknya”

 

Entah setan apa yang merasuki jiwa raga Taeyang sehingga kini dia memiliki keberanian lebih dari biasanya untuk mengajak seorang wanita, apalagi ini adalah wanita yang di anggapnya sangat spesial. Tak lama dari perbincangan mereka, kini mereka sudah berada di depan sebuah restoran elegan.

 

“Kita makan disini” ucap Taeyang sambil melepaskan save belt yang mengikat tubuhnya dan turun dari mobil, sementara itu Dara hanya membuntuti laki-laki yang dulu di anggapnya memiliki kelainan karena tidak pernah mengajak wanita untuk sekedar makan.

 

“Kau kenapa masih berdiri disana? Cepat masuk” celetuk Taeyang memanggil Dara yang masih berdiri di samping mobilnya

“Ah ne” jawab Dara

 

Kini mereka berdua telah duduk di salah satu barisan dan deretan meja-kursi yang tertata dengan rapi dan terkoordinir tersebut.

 

“Sudah lama kita tidak bertemu, kalau tidak salah kita terakhir bertemu  saat wisuda SMA kita bukan?” oceh Taeyang membuka pembicaraan

“Kurasa juga seperti itu” jawab Dara sekenanya

“Sekarang kau sudah bekerja atau masih melanjutkan kuliahmu?”

“Aku, em aku sudah bekerja”

“Waaw, bekerja di mana?”

“Di salah satu toko kaset di daerah Seoul” Dara kini merasa sedikit canggung berbicara dengan Taeyang, padahal sejak pertemuan tadi, Dara tidak merasa secanggung seperti ini.

 

***************

 

Jay masih memandang cake buatannya bersama Dara, dia merasa begitu sayang kalau harus memberikannya ke eommanya.

Dreet ponsel Jay bergetar menandakan sebuah pesan masuk, dia bergegas menganbil ponselnya tersebut

 

From : Bora

‘Aku dengar kau sudah berada di Korea, apa itu benar?’

 

Jay terperanjat begitu melihat isi sms tersebut

“Bagaimana dia bisa tahu?” gumam Jay, diapun mengetuk-ngetukkan jarinya ke layar ponsel Iphone miliknya

 

To : Bora

‘Ne, aku sudah berada di Korea, whats wrong?’

 

Selang beberapa detik Jay membalas pesan tersebut, ponsel Jay bergetar, tetapi kali ini menandakan bahwa sebuah panggilan masuk.

 

“Yeoboseyo” ucap Jay

“Hi Jay, lama tidak mengobrol” balas Bora

“Ada apa kau memanggilku?”

“Alangkah lebih baik kalau kita bertemu saja, bagaimana?”

“Bertemu? Aku tidak ada waktu”

“Ayola Jay, aku ingin bertemu” rengek Bora, dia tau kalau ada seorang wanita merengek karena Jay, maka Jay tidak bisa menolaknya

“Aiisshh, baiklah, dimana?” ucap Jay sedikit kesal

“Di tempat pertama kali kita bertemu”

“Halte bus maksud mu?”

“Kau ternyata masih ingat, aku tunggu di sana yah”

Tuutt, tuutt, tuutt pangilan di putuskan.

 

“Sebenarnya apa maunya dia sih, bikin orang kesal saja” gerutu Jay sambil mengambil jaket, topi dan kontak mobilnya

 

Tak butuh waktu yang lama untuk Jay untuk sampai di tempat yang di maksud, sesampainya di sana, dia melihat Bora sudah berada di tempat

 

“Kau sudah lama berada disini?” tanya Jay yang langsung duduk di samping Bora, seketika itu pula Bora langsung mendekap Jay erat-erat, Jaypun merasa kaget dan berusaha melepaskan dekapan Bora.

 

“Kau ini kenapa? Cepat lepaskan!” ucap Jay sambil mencoba melepas pelukan Bora

“Aku merindukanmu Oppa” ucap Bora sedikit sendu, sontak Jay berhenti melakukan aktivitasnya

“A,, a,, apa yang kau bilang barusan? Oppa?” ucap Jay terbata sekaligus kaget karena tak seperti biasanya Bora memanggil Jay dengan sebutan ‘oppa’ karena selama ini dia hanya memanggilnya dengan sebutan namanya ‘Jay’ walaupun Jay dan Bora masing-masing menganggap bahwa mereka itu adik-kaka

“Ne oppa, aku ingin sekali memanggil mu dengan sebutan itu, bukankah itu yang selama ini kau ingin dengar dari bibirku?”

“Kau ini, bagaimana kabarmu selama ini?”

“Apa tidak sebaiknya kita berbicaranya jangan di halte bus?”

“Heemm baiklah, kau mau kemana? Oppa mu yang sexy ini siap mengantarmu” ujar Jay sambil memamerkan otot bisepnya

“Isshh otot segitu saja di banggakan” canda Bora

“Huoh kau mengejekku? Ini lebih baik tahu, ketimbang kamu yang kurus tak sexy” ucap Jay di depan wajah Bora

“Oppa jelek! Wee”

“Bora kurus”

“Oppa jelek!”

“Aish sudahlah, seperti anak kecil saja, jadi sebaiknya kita ini mengobrol dimana? Kalau tidak tahu lebih baik aku pulang, besok aku memiliki banyak pekerjaan”

“Halah, gayanya sok kaya businessman saja, sok sibuk”

“Hah, sudah jangan meledek terus, jadi apa maumu ingin bertemu dengan ku?”

“Ahh baik, kita berbicara di rumah bayangan saja” ujar Bora yang langsung melenggang ke arah tempat yang di maksud

“Rumah bayangan?” gumam Jay tidak mengerti dengan apa yang di maksud Bora, “Ya! Tunggu, jangan tinggalkan aku” teriak Jay menyusul Bora

“Siapa yang ninggalin oppa, oppa saja yang diam mematung”

“Apa yang kau maksud dengan ‘rumah bayangan’?”

“Nanti saja aku jelasinnya, sekarang mendingan oppa ikutin aku saja”

“Ah, Bora tunggu” ucap Jay menghentikan langkah Bora

“Ya, ada apa?” balas Bora menoleh kebelakang

“Aku rasa kita mengobrolnya besok saja yah, hari sudah malam ini tidak baik kalau kita masih berada di luar rumah”

“Memangnya kenapa kalau sekarang? Apa oppa mempunyai janji dengan seseorang?”

“Bukan seperti itu, tetapi besok pagi-pagi aku mau pergi ke suatu tempat, jadi untuk menjaga tubuh alangkah lebih baik kalau aku tidur sekarang, kau memahaminya bukan? Oppa minta maaf” ulas Jay, Bora diam membisu setelah mendengar ucapan Jay, Jay memegang kedua pundak Bora

“Oppa janji akan menemui besok di halte tadi, i’ll promise” ucap Jay menyakinkan Bora, dan di balas dengan sebuah anggukan kecil dari kepala Bora.

 

***************

 

“Kau menyukai makanan di restoran ini?” ucap Taeyang membuka percakapan di sela-sela mereka makan malam

“Heem, sepertinya seperti itu, makanan di sini enak, kau sering makan di tempat ini yah?”

“Ya seperti itulah, ini tempat makan paling historis bagiku”

“Paling historis? Maksudmu apa?” tanya Dara menatap Taeyang dengan seksama dan serius

“Ahh jangan menatapku seperti itu” ucap Taeyang gerogi dan mengalihkan pandangannya

Dara tersenyum kecil melihat tingkah Taeyang, “Kau ini kenapa Taeyang-ssi?” ujar Dara

“Ah, oh tidak apa-apa” ucap Taeyang gelagapan dan kembali melanjutkan makannya, walau dengan gugup pula dia makan, senyum Dara semakin menjadi-jadi dan akhirnya dia tertawa lepas melihat tingkah Taeyang, sontak hal itu membuat Taeyang menjadi menjadi sedikit risih dengan situasi dan kondisi tersebut

 

“Dara-ssi, hentikan tawa mu” ucap Taeyang lirih, Dara yang mendengarnya menghentikan tawanya

“Ah, ne, mianheyo” ucap Dara

“Kau ini wanita, tetapi kau tidak bisa menjaga sikapmu” cerca Taeyang

“Kau sendiri, kenapa kau gelagapan seperti tadi huh?” balas Dara sinis

“Ahh sudahlah jangan bertengkar terus, selesaikan makanmu” ucap Taeyang berusaha mendinginkan suasana

 

 

Sementara itu Jay sudah berada di apartementnya, dia sekarang sedang packing cake yang tadi dia buat bersama Dara untuk ia bawa besok

 

“Eomma semoga kau suka dengan cake buatanku ini”

 

Seusai mempacking Jay langsung merebahkan tubuhnya di ranjang

 

“Bora” celetuk Jay spontan, “Ouh God kenapa aku menjadi memikirkan dia?” ucap Jay menyadari ucapan sebelumnya

 

***************

 

Taeyang dan Dara kini telah selesai makan dan Taeyang sedang mengantarkan Dara menuju tempat tinggalnya.

 

“Dara-ssi” celetuk Taeyang, Dara menolehkan kepalanya ke wajah Taeyang

“Ada apa?”

“Kau ternyata tak seperti yang aku kira”, Dara mengerutkan Dahinya

“Apa maksud mu?”

“Ya, aku kira selama ini kau itu adalah wanita yang…” Taeyang menggantungkan kalimatnya

“Yang seperti apa?”

“Ah jangan pikirkan ucapan ku tadi, aku hanya asal ngomong saja”

“Tidak, kau harus melanjutkan kalimatnya, yang seperti apa maksudmu?”

“Lupakan saja Dara-ssi”

“Taeyangie” ucap Dara spontan, selang sedetik kemudian Dara menutup mulutnya danmembenarkan posisi duduknya

“Apa yang kau katakan barusan? Kau, kau pernah membaca buku diari ku?”

“Ah, ne” ucap Dara jujur sambil menundukkan kepalanya

“Kau melihatnya saat kita masih SMA?”

“Ne Taeyang, aku tak sengaja membaca bukumu itu”

“Okelah lupakan saja”

 

***************

 

Dengan langkah sedikit ragu, Jay menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar tempat eommanya di rawat, tepat di depan kamar bernomor 765, Jay menghela nafas panjang-panjang seraya berusaha menenangkan diri, dengan sekuat tekad, Jay memegang handle pintu dan membuka pintu kamar tersebut.

 

“A, annyeong haseyo” ucap Jay gugup masuk ke kamar tersebut, sontak semua orang yang ada di dalam kamar tersebut menoleh ke arah sumber suara

“Ja, Jaebum” ucap kakak perempuan Jay

“Jaebum?” ucap eomma Jay lirih, seketika air mata Jay tak bisa di bendung dan keluar menuruni pipinya, dia langsung lari menuju ranjang tempat eommanya terbaring lemah

“Eomma, jeosongheyo eomma” isak Jay sambil memeluk erat ibunya tersebut

“Jaebumie sayang kau tak bersalah nak, cupcup jangan menangislah” ucap eomma

“Jaebum salah eomma, Jaebum tidak menuruti eomma untuk tetap tinggal di Korea tetapi Jaebum malah kabur pergi ke Amerika dan menetap disana, Jaebum memang anak yang tidak berbakti eomma, maafkan Jaebum eomma” isak Jay yang sudah tak terelakan lagi

“Usst, jangan seperti itu, bangun nak, eomma tak menyalahkan mu” ucap eomma sambil mengangkat kepala Jay dan mengusap air mata yang keluar deras dari kedua buah bola mata Jay, Jay pun tersenyum

“Gamsahamnida eomma”

“Heemm ya”

“Ouh ya eomma ini Jay bawakan cake, ini buatanku sendiri”

“Sungguh?” tanya eomma tak percaya

“Ne, mana mungkin aku berbohong, eomma coba makan yah” ucap Jay, lalu dia memotong kue tersebut dan menyuapi eommanya, “Bagaimana rasanya?” tanya Jay sedikit khawatir

“Heemm enak, kau ternyata berbakat menjadi seorang baker” puji eomma

“Sebenarnya ini tidak seratus persen buatan aku, aku di bantu teman lama ku sewaktu SMA”

“Yeoja chingu?”

“Aniya!, dia sudah ada yang punya”

“Sungguh?”

“Ne eomma”

“Eomma bangga punya anak seperti mu Jaebum, walau kau dari luar terlihat seperti gengster, tetapi eomma tahu, kau itu sebenarnya anak yang baik”

Jay tersipu atas pujian eommanya tersebut “Gamsahamnida eomma”

 

***************

 

Taeyang sedang duduk di dalam mobil miliknya yang masih terparkit di depan gedung apartement, dia memegang I-phone 5 warna hitam miliknya, dia terlihat sedang kebingungan.

“Telepon, tidak? Telepon tidak? Ahh aku bingung” ucap Taeyang merasa frustasi, dan tanpa sengaja dia menyentuh tombol panggil, dan koneksipun tersambung.

 

“Yeoboseyo?” ucap seseorang di sana, Taeyang yang mendengarnya menjadi semakin gugup, diapun memberanikan diri untuk menempelkan ponselnya ditelinganya dan mengucapkan kata-kata

“A, a, annyeong” ucap Taeyang gagu

“Taeyang-ssi?” tebak wanita di seberang sana

“Ne, ini kau Dara?” timpal Taeyang

“Ne, ada apa kau memanggilku?”, seketika itupula tubuh Taeyang mengkaku, dia semakin tak bisa mengontrol dirinya

“Bisakah kita bertemu?” entah setan apa yang merasuk Taeyang, dia kini telah mengucapkan kata-kata yang sangat jarang dia pakai

“Bertemu? Bertemu dimana? Jam berapa?”

“Namsan Tower pukul 3 sore? Bisa?” dengan menekadkan Taeyang mengajak Dara untuk bertemu

“Emm ok, aku akan kesana”, lalu sambunganpun terputus

“Kau gila Taeyang” gerutu Taeyang merutuki dirinya sendiri.

 

 

Jay Park telah selesai mengunjungi eommanya, kini dia akan menemui Bora, teman yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri. Sesusai janjinya Jay menunggu Bora di halte bus pertama mereka bertemu, sesekali Jay melihat ke arloji yang ia kenakan. 5 menit sudah Jay menunggu Bora, tetapi dia belum juga datang.

 

“Apa kau marah padaku Bora?” gumam Jay

“Oppa” panggil Bora dari kejauhan

“Hey, ah aku kira kau marah padaku”

“Aniya, mana mungkin, jadi sekarang oppa sudah memiliki waktu luang bukan?”

“Ne”

“Oke, kalau gitu bisa dong ke rumah bayang?” tanya Bora

“Tapi tunggu dulu, rumah bayangan yang kau maksud bukan rumah setankan? Atau rumah dukun gitu?”

“Mwo? Mana mungkin, aku ini gadis baik-baik”

“Huh, syukurlah kau masih tahu norma”

“Gaja” Bora meraih lengan Jay dan langsung menariknya untuk mengikutinya menuju rumah bayangan

“Bora, sebenarnya apa maksudmu mengajakku ke rumah bayangan yang kau maksudkan itu?”

“Aku ingin kita bercengkrama secara privat tanpa ada gangguan”

“Memangnya kenapa? Apa ada hal penting yang ingin kau katakan?” tanya Jay, Bora yang tadi memegang lengan Jay, kini ia lepaskan pegangan tersebut, dia menghentikan langkahnya, hal tersebut membuat Jay keheranan, “Sebenarnya ada apa Bora?” tanya Jay, Bora membalikkan badannya

“Entah mengapa aku merasa lebih baik jika aku berada di samping oppa” tutur Bora

“Apa maksudmu?” tanya Jay masih kebingungan

“Ah sudahlah, jangan bahas itu lagi, oppa masih penasaran dengan rumah bayangan yang aku maksud tidak?” ucap Bora mengalihkan pembicaraan

“Emm masihlah, sejak kau menyebutkan rumah bayangan, sejak itu pula aku masih kepikiran”

“Sebegitukahnya oppa ingin tahu sampai terus-terusan dipikir?”

“Emm sepertinya seperti itu” ucap Jay sambil mengangkat kedua bahunya

 

***************

 

Waktu telah menunjukkan pukul 3 sore, Dara yang tadi menerima telepon dari Taeyang untuk bertemu dengannya di Namsan tower pukul 3 sorepun sudah berada di lokasi, begitupun dengan Taeyang, mereka kini tengah duduk di bangku yang berada di taman sekitar namsan tower.

 

“Ada apa kau ingin bertemu denganku?” tanya Dara

“Ah sebenarnya akupun tidak tahu”

“Mwo?” ucap Dara terkejut

“Iya, aku sendiri tidak tahu, secara spontan aku mengucapkan kata-kata seperti itu”

Dara menghela nafas berat, “Aku sungguh tak percaya ini” gumam Dara lirih, “Huh, oke tak apa, kalau begitu ketimbang kita ngebengong disini tidak jelas, mending kita jalan-jalan mengelilingi komplek namsan tower? Bagaimana?” tutur Dara

“Baiklah” timpal Taeyang

 

Mereka berduapun mulai berjalan-jalan menyisiri tiap – tiap jalan yang ada di taman tersebut, Taeyang yang berjalan beberapa meter di belakang Dara curi-curi pandang kepada Dara, dia tersenyum kecil tat kala Dara mengumbarkan senyumnya ketika melihat area sekitar, entah mengapa, hati Taeyang terus berdetak kencang setiap melihatnya.

 

“Taeyang-ssi, jalannya lebih cepat sedikit kenapa?” tegur Dara

“Ya, ada apa?” ucap Taeyang gelagapan tersadar dari terpesonanya Taeyang kepada Dara

“Kau ini kenapa sih?”

“Aku? Aku tidak kenapa-napa”

“Aneh” gumam Dara dan melanjutkan jalan-jalannya, dan Taeyangpun menghela nafas panjang

 

***************

 

Kini Jay telah berada di depan sebuah bangunan yang Bora anggap sebagai rumah bayangan, sebuah tempat seperti gudang kecil yang diapit oleh dua buah bangunan semacam kios toko yang sedikit jauh dari pusat keramaian.

 

“Ini yang kau maksud dengan rumah bayangan?” tanya Jay sambil menunjuk bangunan yang di maksud

“Heeem, memangnya ada apa?”

“Bukankah ini seperti gudang?”

“Dari pada oppa banyak bertanya mending kita masuk saja” ujar Bora sambil membuka tempat yang di maksud, Jay masih ragu akan masuk ke bangunan tersebut, karena dari luar bangunan tersebut seperti bangunan yang angker, “Ayo oppa masuk, jangan diluar saja” ucap Bora

“Ah ne” balas Jay sambil berjalan masuk ke bangunan tersebut, betapa terkejutnya Jay ketika yang ia dapati di dalam bangunan tersebut adalah tempat yang sangat rapi, bersih, dan jauh dari kata seram atau angker.

“Sebenarnya ini tempat apa Bora?” tanya Jay sambil melihat sekeliling

“Ini tempat dimana aku mengungkapkan seluruh isi hati ku”

“Maksudmu?”

“Yah boleh dibilang tempat pelampiasan lah”

“Ah begitu” ucap Jay yang berlagak seperti sidah paham walaupun pada kenyataannya dia sama sekali belum paham dengan apa yang di maksudkan oleh Bora

“Oh iya oppa, aku keluar sebentar yah, mau beli beberapa makanan, aku lupa tadi membelinya”

“Oke” ungkap Jay singkat

“Awas jangan pergi yah”

“Iya, aku tak akan pergi” timpal Jay

 

Borapun pergi keluar untuk membeli beberapa makanan, sementara Jay masih berada di tempat tersebut, dia berkeliling sekitaran tempat tersebut, Jaypun mendapati begitu banyak tempelan-tempelan kertas yang berisi curahan perasaan Bora, “Gadis yang lucu” ujar Jay tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu. Pandangan Jay kini tertuju pada sebuah sobekan kertas yang berbeda dari sobekan kertas-kertas lainnya serta di letakkan di tempat yang sedikit tersembunyi, Jay yang penasaran itupun mengambil kertas tersebut dan membaca isi tulisan yang berada di kertas tersebut.

 

‘Ketika aku melihatnya, aku merasa senang

Ketika aku mengingatnya, aku tersenyum

Ketika aku memikirkannya, aku bersedih

Meikikirkannya adalah hal yang sangat indah sekaligus menyiksa, indah karena masih mengingat hal-hal yang indah, menyiksa karena tak bisa menggapainya.

‘J’arak mungkin bukanlah sebuah rintangan

k’A’rena itu bukanlah hal yang sulit di masa sekarang

t’E’tapi entah mengapa jika aku jauh darinya, aku merasa sunyi sepi

terasa ‘B’agian dari diriku jauh meninggalkanku bersamanya

apakah it’U’ adalah sebuah perasaan yang tak wajar?

Tetapi ketika aku ‘M’enanyakannya kepada orang-orang itu adalah hal yang wajar, mereka malah berkata bahwa hatiku telah terpaut olehnya.

Ketika aku beru’S’aha untuk melupakannya, aku semakin mengingatnya

‘A’ku jadi semakin bingung dengan diriku sendiri

‘R’asa ini semakin membuatku menggil’A’

me’N’ggila karena aku semakin tak bisa mengontrol perasaan ini

apakah perasaan ini yan’G’ orang-orang katakan sebagai perasaan cinta

aku sendiri tak ta’H’u

‘A’ku masih ragu jika aku mendiagnosisnya sebagai perasaan cinta

t’E’tapi ini sangatlah aneh bagi diriku

bagi diriku ‘Y’ang belum pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya

‘O’leh karena itu aku hanya bisa menyembunyikan ini dari orang yang telah membuat perasaan hatiku seperti ini.

Jika benar ini adalah perasaan cinta, aku bersyukur, bersyukur karena aku telah jatuh cinta pada orang yang selama ini perhatian kepadaku.

 

Gomawo’

 

Jay selesai membaca isi tulisan yang ada di sobekan kertas tersebut, tetapi Jay melihat sebuah keganjilan yang ada di dalam tulisan tersebut, dia mendapati ada beberapa huruf yang di apit oleh dua tanda petik, Jay yang selalu penasaran tersebutpun akhirnya berinisiatif untuk menulis huruf-huruf yang di apit oleh tanda petik tersebut.

 

J-A-E-B-U-M S-A-R-A-N-G-H-A-E-Y-O

 

“Mwo?” Jay yang selesai merangkai huruf tersebutpun terkejut dengan apa yang barusan ia dapati dari tulisan tadi

“Bo, bo, Bora mencintaiku?” ucap Jay terbata

Selang beberapa detik Bora masuk membawa makanan yang baru saja dia beli, betapa terkejutnya Bora ketia ia mendapati Jay sedang memegang kertas yang sangat ingin dia rahasiakan dari Jay, Borapun menjatuhkan barang yang ada di depannya, sontak Jay secara reflek menoleh ke arah sumber suara, Bora langsung lari menuju tempat Jay berdiri dan menyambar kertas yang ia pegang.

 

“Bo, Bora?” ucap Jay masih terkejut

“Apa oppa sudah membacanya?”

“Jadi selama ini kau” ucap Jay menggantung

“Oppa sudah membacanya?” tanya Bora sekali lagi

“Jadi selama ini” Jay menggantungkan lagi kalimatnya

“Ne, aku mencintaimu oppa” ujar Bora berterus terang, “Aku tahu oppa takkan mungkin menyukaiku, aku tahu ini hanyalah cinta sepihak, maka dari itu tak perlu oppa membalasnya, maafkan aku” jelas Bora menitikan air mata

“Bora” ucap Jay singkat sambil memegang kedua pundak Bora, dia mengusap menghapus air mata yang turun dari matanya, “Aku sungguh tak percaya bahwa selama ini kau memendam perasaan cinta kepadaku, aku sungguh tak menyadarinya, selama ini aku menganggap bahwa kau hanya menganggapku sebagai sahabat sekaligus oppa bagimu, aku tak tahu kalau kau justru memiliki perasaan yang lebih dari itu, dan, dan aku sendiri menganggapmu sebatas sahabat sekaligus yeodongsaeng bagiku, maaf”

“Ne, aku tahu itu oppa, maka dari itu oppa takperlu membalasnya” ungkap Bora, “Ouh iya makanannya, sebentar aku ambilkan” ucap Bora mengalihkan pembicaraan dan situasi, Jay merasa bersalah kepada Bora karena dia telah membuat Bora merasakan hal yang sulit baginya.

 

“Bora” celetuk Jay

“Heem ada apa?” jawab Bora tersenyum di balik kesedihan

“Aku akan berusaha menjadi orang yang sepeti kau inginkan”

“Tak perlu, karena itu adalah hidup oppa, aku tak ada hak untuk ikut campur”

 

***************

 

Taeyang dan Dara semakin lama, semakin akrab dan sering berjalan bersama, mereka sering melakukan kegiatan-kegiatan yang sebelumnya mereka sendiri menganggapnya sebagai hal atau kegiatan yang konyol, tetapi kini mereka malah melakukannya berdua. Mereka memakan es krim bersama, menonton film bersama, bahkan sampai pernah memakan semangkuk ramen berdua dalam sebuah perlombaan di sebuah toko yang menjual ramen. Dan kini mereka tengah berada di taman dekat Namsan tower, Taeyang dan Dara duduk persampingan, keduanya tengah asyik memakan aromanis yang mereka beli, keduanya tampak gembira, santa dan menikmati aromanih yang mereka beli, sampai suasana santai tadi berubah menjadi situasi yang lebih serius, tat kala ketika Taeyang membuka percakapan dengan anda yang serius.

 

“Dara” celetuk Taeyang

“Heem, ada apa Taeyang?” ucap Dara sambil melahap aromanis

“Dara” ucap Taeyang kembali

“Iya ada apa?” timpal Dara masih dengan nada santai

“Dara, aku ingin berbicara serius” ucap Taeyang dengan nada sedikit menaik, Darapun sedikit kaget

“Dara, aku ingin berkata jujur kepadamu, mungkin ini terkesan kekanak-kanakan, tetapi aku akan tetap mengunggkapkannya.

Dara kau tahu Kau segalanya bagiku, ketika aku melihat dirimu, ingin rasanya aku memelukmu erat-erat, untuk waktu yang lama, untuk waktu yang sangat lama, karena ini bahkan bukanlah cinta yang terang-terangan, sebuah cinta yang tersembunyi, ketika aku melihat dirimu, aku masih menjadi terburu-buru, aku sendiri masih penasaran tentang dirimu, dirimu yang ku anggap sebagai sebuah bintang tapi sebuah bintang yang dapat disentuh, ya, seperti itulah kau bagiku, sejak kita bertemu kembali, hati, jiwa dan pikiranku perlahan berubah, berubah menjadi lebih terbuka, dan kini sungai dan gunung telah berubah, tetapi bahkan setelah mereka berubah seratus kali aku berharap kita masih saling mengenal, aku akan mengatakan dengan sejujurnya, aku mencintaimu, aku akan melakukan segalanya, kau hanya perlu mengucapkan katanya. Dara, aku menyukaimu, kaulah bintang bagiku” tutur Taeyang mengungkapkan segala isi hatinya yang ia pendam selama ini kepada Dara

“Ta, Taeyang?” ucap  Dara tak menyangka dia akan melakukan hal sampai sejauh ini

“Maukah kau datang sekejap dalam kekosongan pikiran dan hatiku?” timpal Taeyang

“Aku akan datang mengisi kekosongan itu bahkan untuk selamanya” balas Dara

“Ja, jadi?”

“Ne, nado saranghae Taeyangie” ucap Dara

 

Taeyangpun tersenyum lebar mendapati bahwa ternyata cinta yang selama ini ia pendam dan menyembunyikannya, ternyata memiliki balasan yang sama, cintanya di balas oleh cinta Dara kepada Taeyang. Mimpi yang selama ini Taeyang alami telah mengubah pandangan hidupnya untuk dapat berterus terang dan membuka diri kepada orang lain, inilah kode alam yang Taeyang alami, hingga akhirnya, kini Taeyang telah menemukan balasan dari cintannya, dia merasa bahagia saat itu juga.

 

“Saranghae Dara”

“Nado saranghae Taeyang”

 

Secretly I Love U

The End.

4 thoughts on “[oneshot] Secretly I Love You

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s