[CHAPTERED] Angel : Nineth Move

BG angel jadi 2

Tittle : Angel
Author : deerdewi
Main Cast : EXO, Apink, BAP, Girls Day
Genre : Fantasy, Supranatural
Length : Chaptered
Kata Author :
Huaaa aku diserang readers di twitter gegara kelamaan XD
Maaf yaps kawan kawan aku habis liburan nih terus sibuk banget sekarang-sekarang ini.
Setelah jelas perannya mau ganti poster lagi aaahh XD
Thanks for all readers yang udah baca dan komen ^^
Keep supporting me~!  Kritik & Saran bisa mention ke @derah1994 ^^

PREVIOUS PART :
Sosok yang dianggap pihak jahat itu datang…

Sosok itu menampakkan dirinya dihadapan yura, sojin, minah dan hyeri. Apa yang sosok itu incar dari empat penjaga bumi itu? Sedangkan para protector sudah kehilangan satu-satunya cara menangkap para kekuatan itu, apa yang bisa mereka lakukan tanpa guci dewa bumi?
Akankah keseimbangan bumi dan langit goyah?

Missed the previous story?
Click PART 1 PART 2PART 3 PART 4 PART 5PART 6 PART 7PART 8

=========================== PART 9 ================================

“KAU!!” Sojin menaikkan nada bicaranya setelah melihat sosok yang menerobos masuk itu.

“Bukankah kau satu-satunya angel yang tersisa milik Dewi Langit? Kau mengkhianati kaummu? Apa sebenarnya yang kau cari?” Tanya Minah.

“Aku hanya berusaha mencari keadilan” ucap sosok bersinar putih terang dengan sayap yang mulai menghitam terlipat rapi di punggungnya. “Aku tidak berkhianat, hanya mencoba untuk bertahan hidup” ucapnya lagi.

“Yookyung, namamu Yookyung kan? Yookyung, aku tak mengerti mengapa kau melakukan ini tapi harusnya kau sadar apa yang kau lakukan sangat berbahaya bagi langit dan bumi! Bagi manusia juga! Kau adalah seorang angel, bukankah sudah tugasmu melindungi manusia?” Hyeri angkat bicara.

“Aku tidak akan begini jika Sang Dewi tidak melakukan percobaan! Kau tidak tahu apa yang kami para angel alami!! Kami hanya kelinci percobaan, tidak berarti, kami tidak istimewa, suatu saat nanti aku juga pasti akan di eliminasi” Yookyung mencoba mengingat kepedihan yang ia alami.

—Flashback—

“Yookyung! Kau harus pergi… langit sedang diserang oleh makhluk kegelapan”

“Kenapa mereka menyerang kita? Dimana para protector? Kenapa mereka masuk ke tempat angel?” Yookyung melihat bagaimana cahaya para angel diserap oleh makhluk kegelapan hingga mereka kehilangan sinar dan menghilang. Jeritan menggema di tempat para angel berkumpul.“Kenapa? Kenapa ini?” Yookyung tak bisa menutupi perasaan takutnya. Ia hanya bisa diam dan menutup matanya melihat bagaimana para makhluk kegelapan menghabisi satu persatu jenisnya. Yookyung melarikan diri dari tempatnya ia berusaha terbang menuju gerbang untuk memberitahu para protector tentang apa yang terjadi namun para protector itu sedang melindungi Sang Dewi yang tak begitu membutuhkan perlindungan. “Tolong kami! Dewi tolong para angel!” ada beberapa makhluk kegelapan di tempat Sang Dewi, namun mereka sama sekali tak bisa mendekati ataupun menyentuh Sang Dewi.

“Yookyung, lebih baik kau tetap di sini… tak banyak yang bisa kulakukan. Cahaya para angel begitu terang hingga menarik perhatian makhluk kegelapan untuk memiliki cahaya itu” ucap Sang Dewi.

“Jika didiamkan maka para angel akan musnah! Para angel tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankan diri, kami makhluk lemah yang hanya bisa terbang dan bersinar, tak bisakah kau menyelamatkan para angel? Menyelamatkan keluargaku?” Yookyung terlihat sangat putus asa. Jika ia bisa menangis seperti manusia saat ini pasti ia akan menangis dan memohon.

“Aku melakukan sebisaku, jika mereka tak bisa selamat setidaknya aku bisa menyelamatkan satu dari mereka” ucap Sang Dewi menatap lembut mata Yookyung seakan menyuruhnya tenang sementara seluruh keluarganya sedang dibantai habis.

—Flashback End—

 

“Aku tak mengerti, aku bahkan tak tahu apa benar Sang Dewi berusaha menyelamatkan jenisku” Yookyung menyeringai pahit mengingat kejadian itu. “Ia yang membuat kami bersinar, ia membuat kami bisa ini dan itu tapi sepertinya ia tak merasa kehilangan jika satu dari kelincinya mati. Toh ia bisa mendapatkan gantinya dan kembali membuat kekuatan yang tak berguna. Ia menciptakan keduabelas kekuatan itu untuk menggantikan para angel yang musnah, bahkan ia tak meminta maaf padaku saat ia tak bisa menyelamatkan angel yang lain” Yookyung menatap para makhluk bumi dihadapannya. “Setidaknya dengan mencuri kekuatan itu aku bisa lebih kuat darinya, aku bisa membuat pasukanku sendiri dan membalaskan dendamku”

“Kau makhluk paling putih, bersih dan bersinar yang diciptakan oleh Dewi Langit, kenapa hatimu sangat hitam dan busuk?!” ucap Yura. “Kau tak tahu bagaimana rasanya jadi ratumu!! Kau hanya menyimpulkan, kau tak tahu apapun!!”

“Aku tak perlu tahu!!” ucap Yookyung. Ia mengembangkan sayapnya dan mengepakkannya kencang hingga angin memporak-porandakan singgasana empat wanita cantik itu. Sojin berusaha membenarkan kuda-kudanya untuk menahan angin yang dibuat Yookyung namun sebelum Sojin sempat membalasnya, Yookyung sudah menghilang dari pandangannya.

“Sial!! Dia pasti tidak bekerja sendirian, pasti ada yang membantunya. Kita harus peringatkan para makhluk langit itu” ucap Sojin.

“Apa mereka mau mempercayai kita? Ia seorang angel, mereka pasti lebih mempercayai makhluk itu dibandingkan kita” ucap Minah.

“Minah benar, kita fokus terhadap apa yang sedang kita kerjakan saja dulu. Jika makhluk itu berulah lagi, kita harus pastikan para pemuda yang sebelumnya ke sini mengetahui apa yang dilakukan temannya” Hyeri memberi usul.

“Setuju” ucap Yura.

***

Naeun berjalan menuju sebuah toko buku di ujung jalan yang ia mimpikan sebelumnya. Ia tak mengerti mengapa ia datang mengunjungi toko itu, namun kakinya membawa ia sampai di depan pintu masuk toko buku tua itu. Sebuah toko dengan konstruksi sebagian besar kayu dan kaca menanti Naeun.
KLINING KLINING

 

Sebuah lonceng kecil yang dipasang tepat di atas kusen daun pintu berdenting tanda ada seseorang yang baru saja melewatinya.

“Selamat datang, apa ada yang bisa saya bantu?” seorang pria tua berambut putih menyambut Naeun dengan senyum yang menghiasi wajah ramahnya. Naeun membalas senyum pria tua itu, sejenak matanya berkeliling melihat toko itu. Interiornya seirama dengan eksteriornya, kayu dan kaca menghiasi ruangan enam kali delapan itu. Tidak luas memang, namun menampung cukup banyak buku dan terlihat sangat rapi dengan rak yang tersusun 3 baris dan terdapat dua sofa dengan sebuah meja kecil tepat menghadap kasir. Kaca besar menggantikan fungsi dinding di kedua sisi ruangan ini. Naeun melirik seorang gadis berambut sebahu yang sedang asik membaca buku yang dipegangnya.

“Aku mencari buku tentang kekuatan alam, kurasa itu sebuah cerita anak-anak. Manusia memiliki kekuatan, seperti itulah kira-kira tapi aku tak ingat judul buku itu” Naeun mengeratkan pegangan tangannya di tali tas selempangnya, ia mencoba mengingat buku yang hadir dalam mimpinya. Ia ingat bagaimana cover buku itu namun tak bisa ingat apa judul buku itu.

“Maksudmu ‘exo planet’? buku itu cukup populer dikalangan anak-anak tahun 70-an. Namun yang menarik buku itu hanya ada dua di dunia. Bersyukur aku punya satu dari buku itu, nona muda yang duduk di sana juga mencari buku yang sama. jika memang perlu, kau bisa menanyakannya apa ia mau membelinya atau hanya membacanya” ucap pria tua itu.

Gamsahamnida Ahjussi” ucap Naeun. Ia melangkahkan kakinya menuju gadis muda yang ia lihat sebelumnya. Naeun tak berkata apapun, ia hanya berdiri di hadapan gadis itu tanpa suara. “Silyehamnida…” ucap Naeun menarik perhatian gadis muda itu. Gadis bermata besar itu mendongak untuk menatap Naeun.

Ye? Ada yang bisa kubantu?” Tanya gadis itu.

“Naeun imnida, maaf apakah anda akan membeli buku itu? Saya tertarik untuk membelinya jika anda tak ingin membelinya” ucap Naeun. Gadis itu menutup bukunya dan mengulurkan tangannya.

“Namjoo” ucapnya tersenyum. Naeun menyambut tangan Namjoo. “Mianhamnida, aku harus membeli buku ini” ucapnya.

“Ah…begitu” Naeun tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya dan beranjak pergi. Namjoo terlihat berpikir sejenak sebelum menahan bahu Naeun.

“Kalau kau ingin membacanya, bagaimana kalau kita baca bersama? Kurasa kita bisa sekaligus berteman” ucap Namjoo. Naeun tak pernah punya teman wanita sebelumnya, ia tak tahu harus bagaimana menghadapi orang yang baru dikenalnya mengajaknya berteman. Naeun bukan termasuk gadis menyenangkan, hanya Jongin yang mampu bertahan menghadapi sikap menyebalkannya karena itu tak ada satupun orang yang mau berteman dengannya. Dan ia menganggap hal itu juga yang membuatnya tak bisa diadopsi. “Jangan banyak berpikir, jika ini penting hanya katakan ya!” Namjoo tersenyum dan merangkul bahu Naeun. “Nah bagaimana jika kita membaca buku ini ditempat lain yang lebih sepi dan tidak ada telinga yang mendnegarkan? Kau punya saran?” Tanya Namjoo.

“Hmmm kurasa begitu”jawab Naeun.

“Kalau begitu sudah diputuskan! Kita akan ketempat itu! Ahjussi! Aku akan membeli buku ini, olmanaeyo?” Namjoo berlalu meninggalkan Naeun menuju kasir.

“Apa dia putri bulan? Dia terlalu ceria untuk jadi seorang putri bulan, harusnya dia lah yang jadi putri surya itu lebih cocok untuk kepribadiannya dibanding aku” ucap Naeun pada dirinya sendiri seraya mengikuti langkah Namjoo di depannya.

***

“Disana! Aku yakin didalam sana!” ucap Himchan menunjuk sebuah rumah tradisional dengan gerbang kayu yang sedikit terbuka. Yongguk dengan tak sabar menerobos pintu kayu itu diikuti oleh Himchan dan Daehyun.

YAH FLAME!! AKU MENEMUKANMU CEPAT KELUAR SEBELUM AKU MENGHANCURKAN TEMPAT INI!!” teriak Yongguk.

“Tak bisakah kau melakukan segalanya dengan tenang dan lembut?” Tanya Daehyun menggelengkan kepalanya.

“Tak ada waktu untuk bersikap lembut Daehyun!” bentak Yongguk.

“Kurasa tidak ada tempat bagiku untuk berdiam diri dengan tenang!! Kenapa kau selalu mengikutiku?” seorang pria berperawakan tinggi keluar dari rumah itu diikuti pria yang hampir sama tingginya namun kulitnya terlihat lebih pucat beserta dua orang gadis.

“Kenapa kau selalu mengganggu adikku? Sebenarnya apa yang kau inginkan? Tak bisakah kau berhenti mengejarnya? Akan kuberikan semua yang kau minta asal kau berhenti mengejarnya! Apa kau ingin membunuhnya?” Gadis yang lebih pendek berdiri paling depan seakan melindungi orang-orang dibelakangnya.

“Kami tidak ada urusan denganmu! Tolong menyingkirlah sebelum kau terluka. Orang dibelakangmu itu bukan orang sembarangan, ia sangat berbahaya” ucap Yongguk.

“Jangan bicara tak sopan pada Chorong nuna!” satu dari pria itu membela gadis yang bernama Chorong.

“Apa maksudmu? Bagaimana adikku bisa berbahaya?” Chorong melangkah lebih depan seakan menantang Yongguk.

“Maaf nona, lebih baik kau tak menghalangi. Ini saran yang terbaik” Daehyun menarik lengan Chorong untuk menyingkir. Chorong yang menolak menghentakkan tubuhnya untuk melawan. “Nona pandang aku! Lihat mataku! Aku tak akan menyakitimu!” ucap Daehyun menenangkan Chorong dengan menyentuh kedua lengannya.

“Lepaskan kakakku!!” tiba-tiba saja satu dari pria itu terbakar, seluruh tubuhnya dikelilingi api.

“Chanyeol-ah!! Andwe ini berbahaya! Hentikan!! Kumohon hentikan jangan berubah Chanyeol-ah” Chorong mengalihkan pandangannya pada adik laki-lakinya. Chorong berusaha lepas dari tangan Daehyun untuk mendekati adiknya namun cengkraman Daehyun mengeras, ia seakan tak membiarkan gadis itu melangkah sesentipun mendekati pria yang terbakar itu.

“LEPASKAN NUNAKU!!” Chanyeol bergerak mendekati Daehyun, begitu cepat bahkan Yongguk dan Himchan tak menyadari ia berpindah. Chanyeol mencekik leher Daehyun dan mengangkat tubuhnya sebelum menghempaskannya ke tanah. Chorong ikut terhempas karena perbuatan Chanyeol. Yongguk tak bisa diam, ia mengunci pergerakan tangan Chanyeol. Namun Chanyeol bukan lagi pria yang ia temu beberapa waktulalu, Chanyeol semakin kuat. Chanyeol membalikan serangan Yongguk sehingga membuat Yongguk tak bisa bergerak. Rasa panas menjalar keseluruh tubuh Yongguk, ia bisa merasakan panas api Chanyeol namun tak mampu berbuat apapun. Himchan berusaha membantu Yongguk namun pria satunya menghalangi. Himchan dengan mudah mendorong tubuh pria itu hingga membentur dinding.

“SEHUN!!” gadis yang sedari tadi diam saja mendekati tubuh pria yang terhempas itu. “Gwenchana??” Tanya gadis itu. Darah menghiasi pelipis pria yang terjatuh itu. “Kau berdarah Sehun-ah” gadis itu bangkit dan melemparkan sepatu yang ia kenakan pada Himchan.

“Kumohon jangan ikut campur, ini urusan penting antara kami dan pria api itu! Tak bisakah kalian melihat bahwa dia berbahaya?” Tanya Himchan. Ia kembali mencoba mendekati Yongguk dan Chanyeol yang sedang bergulat namun gadis itu menghalangi.

“Jika kau memang begitu khawatir pada kami kenapa kau menyakiti Sehun?! Dia tak punya salah padamu kenapa kau mendorongnya! Kau membuatnya berdarah! Rasanya pasti sakit! NAPPEUN!! NAPPEUN!!” gadis itu memukuli tubuh Himchan. Himchan melihat bagaimana Yongguk habis tak berdaya dihadapan Chanyeol. Daehyun pun tak bisa bergerak karena dihadang gadis yang sebelumnya. Ia begitu panik ingin menyelamatkan temannya dan tak sengaja menyingkirkan gadis dihadapannya begitu keras hingga gadis itu terpental dan tak sadarkan diri.

“HAYOUNG!!!” pria yang bernama Sehun itu berlari menuju gadis yang terbaring tak sadarkan diri itu. Himchan tak melihat kondisi gadis itu dan ikut menyerbu Chanyeol yang sedang memukul Yongguk. Daehyun yang berhasil lepas dari Chorong ikut membantu. Daehyun menendang lutut Chanyeol hingga ia berlutut sedangkan Himchan memegangi kedua tangannya.

“Cepat tak ada waktu!!” ucap Himchan. “Dimana mereka? Cepat panggil!!” teriak Himchan lagi. Tanpa sadar Sehun menatap tiga pemuda itu dengan tatapan marah, tiba-tiba pot dihalaman dan benda-benda kecil yang berserakan berterbangan. Pusaran angin terjadi di tengah halaman rumah itu. Pusaran itu semakin besar dan kencang.

“Ada apa ini?” Tanya Daehyun. Pusaran itu mendekati tiga pemuda itu hingga mereka tak bisa melihat apapun selain debu yang berterbangan disekitar mereka. Chanyeol memanfaatkan kesempatan untuk melepaskan diri.

“Sehun! Ayo pergi!” ajak Chanyeol yang menarik tangan nunanya keluar dari gerbang. Pria bernama Sehun itu menggendong tubuh tak sadarkan diri Hayoung dan mengikuti Chanyeol.

***

Namjoo duduk di atas ayunan dan menghempaskan tubuhnya mengikuti ayunan itu. Semilir angin menerpa wajahnya, rambut pendeknya berkibar mengikuti arah hembusan angin. Naeun hanya duduk di bawah pohon besar di mana satu dari ranting pohon itu terikat oleh ayunan yang Namjoo naiki. Naeun sangat fokus dengan apa yang ia baca. Satu persatu kalimat ia cerna sehingga ia mengerti apa yang tertulis dibuku itu.

“Menurutmu itu benar?” Tanya Namjoo masih bermain dengan ayunan yang ia naiki.

“Apanya?” Tanya Naeun.

“Mimpi kita” jawab Namjoo. Naeun dan Namjoo sama-sama bermimpi tentang buku yang mereka baca saat ini bisa menghentikan perang mengerikan. Perang yang bahkan tak pernah dibayangkan manusia. “Apa kekuatan itu benar ada?” tanyanya lagi.

“Kurasa benar” ucap Naeun. Namjoo menghentikan ayunannya dan menatap Naeun yang menatapnya. “Kau dan aku menjadi saksi bagaimana kekuatan itu masuk ke tubuh manusia” ucap Naeun.

“Tapi bagaimana menyelamatkan mereka?” Tanya Namjoo. “Dalam buku dua belas pemuda itu menghentikan perang dan melebur menjadi satu, mereka menghilang. Bagaimana jika itu terjadi pada oppaku? Bagaimana jika oppaku menghilang?” Tanya Namjoo lagi.

“Kurasa mereka tidak menghilang Namjoo, kau tahu kan mereka berpindah dimensi dan membangun sebuah planet tempat mereka berdiam. Dan dalam ratusan tahun berikutnya keturunan mereka akan menggantikan tempat mereka untuk melindungi planet mereka dengan mewarisi kekuatan itu” jawab Naeun.

“Bagaimana jika oppaku pergi ke tempat itu? Bagaimana jika oppa pergi ke tempat tanpa bintang dan pohon, tempat menyeramkan yang dihuni makhluk menyeramkan juga” Namjoo terlihat begitu murung.

“Ini hanya cerita… lagi pula tak ada peran kita di buku ini. Sebenarnya apa yang harus kita lakukan, kita pun tak mengerti kan?” Naeun mendekati Namjoo dan mengelus punggungnya. “Aku tak mengerti kenapa kita terpilih sebagai penyelamat, aku tak mengerti apa yang bisa kita lakukan untuk menghentikan perang yang tak kasat mata ini, tapi kita akan cari tahu bersama dan berusaha menyelamatkan orang-orang yang kita sayangi” ucap Naeun. “Himnae… Namjoo-ah

***

Namjoo menundukkan kepalanya memasuki pagar rumahnya hingga tak sadar menabrak seseorang.

“Namjoo” orang itu berhenti dihadapan Namjoo. Namjoo yang menyadari siapa orang yang ia tabrak, langsung memeluk orang itu dengan erat. “Yah ada apa ini?” Tanya orang itu.

Oppa, berjanjilah jangan pergi kemana-mana tanpa aku” suara Namjoo bergetar.

“Kalau itu aku tak janji” ucap orang itu.

Wae? Wae? Kenapa harus oppa!” tiba-tiba tangis Namjoo meledak hingga air matanya membasahi baju orang yang ia peluk.

“Yah ada apa denganmu? Kenapa menangis? Apa ada yang menganggumu?” Tanya orang itu lagi.

Oppa kajima… aku tak ingin kehilangan oppa” Namjoo mempererat pelukannya.

“Memang aku ingin pergi kemana? Kau ini aneh sekali” orang itu melepaskan pelukan Namjoo untuk memandang wajah imut adiknya itu. “Wae irae?” Tanya orang itu. Namjoo menghentikan tangisannya dan menghapus air matanya. Namjoo hanya menggelengkan kepalanya.

“Junmyun oppa, kau harus janji padaku tak menyimpan satu rahasia pun padaku! Aku akan membantu oppa sebisaku, sepenuh hatiku, aku janji” ucap Namjoo. Orang itu hanya tertawa melihat adik kecilnya.

Arasseo! Kau sepertinya habis kerasukan sesuatu Namjoo-ah” ia mengacak-acak rambut Namjoo.

“Ah oppa, kau mau pergi? Kau wangi sekali” ucap Namjoo.

“Ah aku ingin kencan” ucap oppanya dengan semangat dan senyum mengambang. “Tapi lihat apa yang kau lakukan dengan bajuku? Bagaimana aku menjelaskannya pada Eunji?” Tanyanya.

“Heheh mian… bilang saja kau habis kena sial mendapat pelukan hangat dari adikmu yang paling imut” Namjoo mengusap kepalanya dan mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk ‘peace’. “Ah tadi kau menyebut nama yeoja yang kau kencani, siapa namanya?” Tanya Namjoo.

“Eunji, kau kenal dia… ingat teman oppa saat di Busan? Jung Eunji, gadis tomboy yang selalu oppa kejar” ucap oppanya. Tiba-tiba wajah Namjoo berubah ketakutan. Ia membulatkan matanya dan membuka mulutnya lebar, wajahnya memucat.

Op..pa.. kau yakin itu Eunji eonni yang sama?” Tanya Namjoo.

“Tentu, ia masih terlihat sama! tidak berubah sejak terakhir kita bertemu dengannya. Masih terlihat muda seperti anak SMA” ucap oppanya tersenyum.

Oppa!! Eunji eonni… bukankah dia sudah meninggal?”

To be continue

4 thoughts on “[CHAPTERED] Angel : Nineth Move

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s