[Freelencer – SONGFIC] Like A Dream

like a dream copy

Author : Nabila Ardhana IA

Main Casts :

–    A Pink’s Son Na Eun

–    Infinite’s Kim Myung Soo

Slight Casts :

–    A Pink’s Hong Yoo Kyung & Kim Nam Joo

– Infinite’s Sungyeol

Genre : Angst, Friendship

Theme Song : Like A Dream – A Pink

Rating : General

Author Said : FF ini dibuat lama sekaleee hanya kesukaan semata terhadapt lagu dan kopel so NO BASHING~ HAPPY READING C: (Aku bawa ff baru tapi bukan punyaku sih hehehe)

“Na Eun.. Son Na Eun, kan ?”

“Kau..”

==============LIKE A DREAM================

Gadis itu duduk terpekur di kursi kelasnya. Ia sibuk membolak balikkan lembar demi lembar buku yang dibacanya, meski tak satupun yang dapat diserapnya. Pikirannya melayang entah kemana. Semakin lama ia semakin resah. Dipandangnya kursi yang ada di barisan sampingnya. Kosong. Kau ke mana ? tanyanya dalam hati.

“Na Eun ah ! Eh ? Apa aku mengagetkanmu ? Kau ini daritadi diam saja, ayo bergabung dengan kami,” sapa Yoo Kyung, gadis yang duduk di meja belakangnya. “Eh ? Aigoo Yoo Kyung ah ! Hm.. ne, baik,” sahut si yeoja yang dipanggil Na Eun. Ia bangkit dari duduknya dan bergabung bersama teman-temannya, walau matanya tetap menuju pada kursi kosong itu.

“Kau akan memberikan cokelatmu pada siapa Yoo Kyung ah ?” tanya salah seorang temannya. “Aigoo, hal itu rahasia kan ? Mana boleh aku memberitahukannya pada kalian, haha,” jawab Yoo Kyung sambil tersenyum. “Bagaimana denganmu, Na Eun ah ?” tanya Yoo Kyung. Na Eun tidak menjawab, malah tetap sibuk memperhatikan kursi kosong di barisan sebelahnya. “Hei Na Eun aah~” panggil Yoo Kyung membuyarkan lamunan Na Eun. “Eh ? Apa ?” “Aigoo kau ini. Pasti daritadi  kau tidak mendengarkan obrolan kami. Kau akan memberikan cokelatmu pada siapa ?” ulang Yoo Kyung. “Eh ? Cokelat ?” Na Eun tampak bingung dengan pertanyaan temannya itu. “Ne, cokelat ! Sebentar lagi kan hari valentine~” “Eh ? Benarkah ?” Yoo Kyung dan teman-temannya yang lain mulai tertawa geli melihat perubahan wajah gadis di depannya menjadi merah. “Tentu saja pada Myung Soo,” sahut yang lain. “Mwo ?? Eee.. anii anii. Aku tidak akan memberikannya pada siapa-siapa, lebih baik kumakan sendiri, haha.” “Kau yakin ?” goda Yoo Kyung. “Ne, tentu saja !” “Lalu kenapa daritadi yang kau lihat hanya kursi Myung Soo terus ?” “Apa ? Aku.. ah tidaak..” Na Eun tertawa canggung, meskipun diam-diam ia mengiyakannya dalam hati.

~~~~~ C:

Sudah tiga hari ini kursi itu masih kosong. Na Eun mulai memikirkan hal yang tidak-tidak pada si pemilik kursi, Myung Soo. Apa dia sakit ? Ataukah ada urusan pribadi ? Atau .. ada apa ? Ia sudah menanyakan mengenai absennya namja itu ke teman-teman terdekatnya. Namun tak ada satupun yang tahu. Sebaliknya, guru-guru tak ada yang menanyakan kabar namja tersebut. Na Eun menunduk dan membuka tasnya pelan. Ia menatap sebatang cokelat yang dibungkus kertas pink dengan nama : MYUNG SOO, di depannya. Myung Soo.. Kenapa kau tidak datang ? desahnya dalam hati.

~~~~~ C:

Bel pulang telah berdentang dan kelas pun mulai dihiasi dengan pita pink. Kado-kado dengan bungkus warna-warni bertebaran di mana-mana. Tak lupa bunga disematkan di pojok-pojok ruangan. Valentine !

Jam hampir menunjukkan pukul empat sore saat kelas selesai dirapikan dari perayaan valentine. Yoo Kyung menyapa Na Eun yang tampak sedih meski kado yang diterimanya menumpuk tinggi. “Na Eun ah, gwenchanayo ? Kadomu banyak sekali yaa..” “Yoo Kyung ah, hm ne gwenchana. Kau juga menerima banyak ! Mau pulang ya ?” tanya Na Eun. “Hm iya, kau juga ? Ayo pulang sama-sama !” ajak Yoo Kyung. “Baik, eh tunggu, ada yang ingin kuurus dulu. Kau tunggu aku di gerbang ya ? Aku janji tak akan lama.” Tanpa mendengarkan jawaban temannya itu, Na Eun segera berlari meninggalkan kelas.

Aku harus tahu bagaimana kabarnya sekarang. Mungkin Sungyeol dapat membantuku, pikir Na Eun. Sesampainya di kelas Sungyeol, sahabat Myung Soo dari kelas D, Na Eun mengetuk pelan dan hanya menemukan kelas kosong. Tak ada siapa-siapa di sana.

“Mungkin memang sebaiknya ia bersekolah di sana. Di sana lebih bagus kan ?”

“Ya kau benar. Tapi ia memang bodoh, tak memberitahukannya pada kita lebih awal.”

Modeunge kkumigireul, Modeunge da geojitmarigireul

[Hope that everything is a dream, that everything is a lie]

 

Tak sengaja Na Eun mendengar pembicaraan kedua teman sekelasnya mengenai Myung Soo, saat hendak menuju gerbang sekolah. “Kalian tadi mengatakan apa ?” tanya Na Eun cepat. “Eh ? Mengenai Myung Soo ? Ia.. pindah sekolah kan ? Ke Tokyo, yang kami tahu.” Na Eun terpaku mendengarnya. “Na Eun..?” “Kalian.. kalian bohong kan ?”

 

~~~~~ C:

Yeoja berambut panjang itu terduduk di tepi ranjangnya. Lampu kamarnya telah dimatikan, hanya dewi malam yang menerangi kamarnya, menembus kaca jendela. Ia memeluk kakinya sendiri dan menatap cokelat yang masih bertuliskan namja yang sangat disukainya, termangu di atas tumpukan bukunya.

“Kenapa kau tidak memberitahuku ?” bisiknya. “Aku berhak tahu. Aku.. aku.. yah aku memang bukan siapa-siapa, tapi.. setidaknya aku kan teman sekelasmu.. Kenapa kau pergi begitu saja ? Kenapa, kenapa tidak ada kata perpisahan dari mulutmu ?”

Ia tak tahu mengapa, tapi matanya mulai menghangat. Tiba-tiba ia teringat kejadian minggu lalu..

~flashback~

“Na Eun.. Jika aku tiba-tiba menghilang dari dunia ini, apa kau akan mencariku ?” tanya namja jangkung itu spontan pada yeoja di yang duduk di seberangnya. “Eh ? Myung Soo ? Apa yang kau katakan ? Haha, tentu saja. Kau kan temanku, pasti aku akan bertanya-tanya jika temanku menghilang,” sahut Na Eun agak canggung.

 

Mianhadan mal jal jinaeraneun maldo, Deoneun naege hajima

[Saying I’m sorry, saying be well, don’t say anymore]

 

         Namja yang dipanggil Myung Soo itu tersenyum dan berkata, “Hm baiklah. Kalau begitu maafkan aku ya jika aku bersalah padamu, jaga dirimu baik-baik saat aku tak ada.” Na Eun menghentikan kegiatan menulisnya, dan menengok ke arah namja tersebut. “Kau bicara apa ? Seolah-olah kau ingin pergi jauh saja, haha.” “Hehe..” “Lalu, jika seandainya kau benar-benar pergi, apa kau akan kembali ?” tanya Na Eun. Myung Soo hanya tersenyum lalu mereka melanjutkan tugasnya masing-masing.

~flashback end~

“Apa waktu itu kau ingin mengisyaratkan padaku bahwa kau akan pergi ? Ah aku bodoh sekali ! Mengapa waktu  itu aku malah bertanya seperti itu ! Seperti gadis bodoh saja !” Na Eun mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri. “Apa kau akan kembali..? Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku, Myung Soo ? Apa itu artinya kau tidak akan kembali ?”

 

~~~~~ C:

(Algo isseo) Dashin oji anheul neo

[(I already know) You’re not going to comeback]

 

(Almyeonseodo) Geuraedo neol kidarilke

[(Even though I know) But I’ll still wait for you]

 

October 14th. H 257. TETAP TERSENYUM !” Na Eun tersenyum sambil membaca tulisannya sendiri di kolom kalender kamarnya. Kemudian ia berlari ke dapur dan membuka lemari pendingin, dan menyapa sebatang cokelat yang membeku di dalamnya, masih lengkap dengan kertas pembungkus berwarna pink. “Annyeong Myung Soo ! Selamat pagi ! Kau akan segera kembali kan ? Aku selalu menunggumu lho. Kau dengar kan ? Cepat kembali ya !” “Eonnie, kau benar-benar sudah menjadi gila,” ujar Nam Joo, adik Na Eun, cuek. Na Eun menengok kesal dan segera mengejar adiknya itu. “Ya !! Coba saja kau menangkapku, babo ! Aku tidak takut padamu ! Myung Soo babo, Myung Soo babo~” seru Nam Joo sambil tertawa-tawa. “Nam Jooooo !!”

 

~~~~~ C:

 

Na Eun menyeret langkahnya perlahan. Jam sekolah telah usai. Kini ia mulai menyusuri lorong kelas. Entah mengapa ia merasa sendirian, meskipun Yoo Kyung dan yang lainnya berjalan bercanda tawa di sampingnya. Langkahnya terhenti di depan gerbang gym sekolah. “Na Eun ah ? Apa yang kau lakukan ? Ayo pulang,” ajak Yoo Kyung bingung dengan sikap gadis itu. “Hmm.. Kalian duluan saja. Ada sesuatu yang harus kulakukan,” tolak Na Eun dengan senyum. “Baiklah, hati-hati ya, kami duluan,” pamit Yoo Kyung sambil berlalu. “Ne..

Na Eun melangkahkan kakinya, matanya menyapu keadaan gym yang diisi oleh tim basket sekolah yang sibuk mempersiapkan diri untuk lomba. Ia membaca satu per satu nama anggota tim.  Sung Yeol, Sunggyu, Hoya,… tak ada dia. Dia memang benar-benar sudah pergi ya ? Lalu gadis itu duduk di bangku penonton, menatap kosong ke arah tim yang berlatih. Ia berharap ada seorang namja jangkung yang akan menyapanya, atau sekedar melemparkan bola basket ke arahnya, sama seperti hari-hari dulu. Tak ada. Ia sudah tak di sini lagi, pikirnya.

Kkumgyeol cheoroem neoreul mannatgo, Kkumgyeol cheoreom sarangeul haesseo

[Like a dream I have met you, like a dream we loved]

 

Urideureui sarangeun machi kkum cheoreom haengbokhaenneunde

[Our love was as happy as a dream]

Sekonyong-konyong bola basket itu menabrak kepalanya yang sibuk melamunkan banyak hal. DUKK. “YA !” serunya kaget. “Siapa yang..” “Makanya jangan melamun terus ! Kau itu, tampangmu bodoh sekali saat sedang melamun ! Hahaha,” tawa seorang namja jangkung, berlari kecil ke bangku Na Eun. Na Eun tak mempercayai penglihatannya. Namja itu, senyum itu, kaos merah bertuliskan MYUNG SOO di punggungnya. “Myung Soo..? Ah anii anii, mana mungkin !! Aku pasti bermimpi ! Tidak, aku harus bangun sekarang ! Aw !” Na Eun mulai mencubiti pipi dan tangannya sendiri. “Kau itu kenapa sih ?” tanya Myung Soo yang telah berdiri di samping Na Eun, mengambil bola basketnya. “Kau bukan Myung Soo, kan ?! Kau pasti Sung Yeol atau.. atau ah pasti Woo Hyun ?! Benar kan ??” tanya Na Eun bingung sembari menunjuk-nunjuk ke arah namja di sampingnya. “Kau sakit ya ?” Myung Soo menyentuh dahi Na Eun dengan dahinya. “Eeeh.. apa yang kau lakukan ?!” Na Eun mendorong namja itu menjauh darinya. “Hanya mengecek. Aku Myung Soo, memangnya aku ini siapa menurutmu ? Jangan bicara yang aneh-aneh !” Namja itu menyentil kepala Na Eun lalu kembali ke lapangan, berlatih basket kembali.

“Myung Soo.. Benarkah itu kau..” Na Eun mengerjapkan matanya. Ia masih melihat Myung Soo dengan kaos merahnya. “Syukurlah, syukurlah..” Tanpa ia sadari, senyum mengembang di bibirnya. Namun senyum itu hilang seketika saat ia menyadari tak ada Myung Soo di sana. Tak ada. Namja itu memang sudah pergi. Na Eun mendesah lalu memeluk tasnya erat. “Seandainya.. seandainya barusan hanyalah mimpi, aku ingin bertemu dengannya lebih lama, Tuhan.”

 

~~~~~ C:

 

 

Saat itu musim panas dan sekolah sedang diliburkan. Na Eun mengayuh sepedanya santai. Ia bersepeda sendirian sepanjang jalanan sempit beraspal yang memisahkan teluk dengan padang bunga liar, tak jauh dari rumah sepupu yang diinapinya.

Udara yang semakin panas membuatnya harus menghentikan acara bersepeda itu. Ia memarkir sepedanya di rerumputan kosong, lalu berjalan-jalan di padang bunga liar tersebut. Ia mengakhiri acara jalan-jalannya dengan duduk di bawah lindungan pohon gingko yang rindang. Kemudian Na Eun mengeluarkan ponselnya dan melihat tanggalnya. June 20th. H 503. “Aku akan terus menunggumu, jangan khawatir !” serunya. Setelah memasukkan kembali ponselnya, ia bersandar di pohon tersebut. Udara menjadi semakin sejuk, menit berikutnya yeoja itu sudah tertidur lelap.

Kkumgyeol cheoreom naege natana, Kkumgyeol cheoreom nal tteonagasseo

[Like a dream you have appeared, like a dream you have left]

 

Na Eun menguap, mengerjapkan matanya, menatap langit kemerahan di atas kepalanya. “Aigoo.. Kenapa aku jadi tertidur di sini ? Pasti eomma akan sangat marah padaku !” serunya panik. Ia segera bangkit dan berlari meraih sepedanya. SRRAKK. Rerumputan liar telah menghalangi kakinya menyebabkan ia terperosok ke dalam cekungan kerikil. “Ya !” serunya setelah mendapati lututnya terluka tergores batu serta pergelangan kaki kanannya terkilir. “Aahh aku kan mau pulang..” keluhnya.

“Terluka lagi ?” Suara seorang namja yang sangat dikenalnya memaksa yeoja itu mendongakkan kepalanya. Na Eun membuka mulutnya tak percaya, diikuti dengan gelengan keras oleh kepalanya. “Gwenchanayo ?” tanya namja itu. “Apa.. apa kau benar-benar Myung Soo..?” tanya Na Eun akhirnya. “Haha lagi-lagi pertanyaan bodoh. Tentu saja.” “Tapi Myung Soo kan.. ia sedang..Eeh ?!” Na Eun tak menyelesaikan pertanyaannya karena kaget namja itu, Myung Soo, tiba-tiba menggendongnya di punggungnya. “Kau.. ?! Kenapa kau seenaknya saja !” teriak Na Eun di telinga Myung Soo. “Kau itu, kan sudah kutolong, jadi jangan merepotkan dong ! Berhentilah berteriak-teriak seperti itu, aku tidak tuli,” ujar Myung Soo. Yeoja di punggungnya pun menurut dan diam-diam ia tersenyum di balik rambut hitam namja itu.

Na Eun hanya duduk dalam diam di belakang Myung Soo yang mengayuh sepedanya, mengantarkannya pulang. “Hey,” panggil namja itu. “Ng.. nae ?” “Kenapa diam saja ? Ucapkanlah sesuatu.” “Ah apa ? Aku.. aku tidak tahu mau bilang apa. Aku, aku terlalu senang sekarang..” jawab Na Eun jujur. “Senang ? Karena bisa melihatku lagi ? Hehe.” “Mwo ? Jangan geer ! Anii. Yah sulit diungkapkan, pokoknya aku sedang senang sekarang.” “Kau aneh.” Na Eun hanya tersenyum mendengarnya. Ia tak peduli lagi apakah namja di depannya ini Myung Soo asli atau hanya mimpi, selama ia masih bisa menggapainya dan menghabiskan sisa waktu dengannya.

Dashi naege dorawa, naneun yeogiseo neol kidaril teni

[Comeback to me again, since I’ll be waiting here for you]

“Nah, di sini kan ? Sudah sampai nih. Hati-hati saat turun.” Myung Soo menghentikan laju sepeda di depan rumah sepupu Na Eun. “Nae, hm.. gomawo Myung Soo, sudah mau mengantarkanku pulang,” ucap Na Eun. “Cheonma.. Sudah ya ? Aku harus pergi sekarang..” Myung Soo melambaikan tangannya lalu membalikkan tubuhnya. “Tunggu !” cegah Na Eun. “Nae ?” “Ah.. Myung Soo.. Aku.. aku akan.. Aku hanya ingin bilang, aku..” “EONNIE ! Kau sudah pulang ?? Aigoo kau pikir sekarang jam berapa ?? Eomma sudah khawatir tahu !” Suara Nam Joo membuat jantung Na Eun serasa melompat sejenak. “Ya ! Nam Joo !” Na Eun hendak mengomeli adiknya, namun ia teringat Myung Soo. Segera ia menengokkan kepalanya, dan ia kembali tersenyum nanar. Bayangan itu sudah berakhir. “Myung Soo.. Aku hanya ingin bilang.. Aku.. akan menunggumu, sampai kau kembali..” “Eonnie ? Kau bicara pada siapa ?” tanya Nam Joo heran. “Eh ? Aaa aniyo. Ayo kita masuk.”

~~~~~ C:

-6 years later-

Na Eun, yeoja berkulit putih yang rambutnya dibiarkan terurai bebas itu, duduk dengan mata sibuk membaca buku tebal pemandu berbahasa Jepang dengan baik dan benar, di dalam sebuah gerbong kereta listrik yang menuju pusat Kota Seoul. Mulutnya semakin lancar melafalkan kalimat-kalimat dalam bahasa negeri sakura itu. Beberapa tahun belakangan ia memang giat mempelajari bahasa Jepang. Ia sudah berniat akan meraih beasiswa untuk melanjutkan studinya di Universitas Tokyo.

Usai menghabiskan setengah bab, ia membuka halaman paling belakang buku itu. Sebuah foto di yeoja bangku sekolah menengah tertempel di sana, dengan huruf yang besar-besar : M Y U N G S O O. Sejak kepergian Myung Soo ke Jepang tujuh tahun lalu, Na Eun selalu berusaha mencari informasi mengenainya, namun hasilnya tetap nihil. Namja itu bagaikan ditelan bumi. Satu-satunya yang ia ketahui, Myung Soo menetap di Tokyo bersama kedua orangtuanya.

“Myung Soo, bagaimana kabarmu sekarang ? Aku sangat ingin bertemu denganmu. Kuharap kau baik-baik saja di sana. Jika kau tidak akan pulang ke Seoul, tunggu aku di Tokyo,” bisik Na Eun memandang foto tersebut dengan senyum. Decitan pelan kereta menandakan kereta telah tiba di stasiun. Na Eun merapikan duduknya, karena meski bukan stasiun tujuannya, ia tahu kereta sebentar lagi akan ramai dengan orang-orang yang hendak bekerja maupun bersekolah. Benar saja, tak berapa lama pintu dibuka, gerbong sudah penuh sesak.

Entah apakah hanya perasaan Na Eun saja atau benar-benar terjadi, itu melihat sosok namja yang sangat ingin ditemuinya, duduk berseberangan dengannya. Hanya separuh wajah namja itu yang tampak oleh Na Eun, akibat terhalang oleh tiga-empat orang yang berdiri di antara mereka. Aku pasti salah lihat, ah tidak, mana mungkin aku salah lihat ! Dia.. Myung Soo..? batinnya. Na Eun menggosok-gosok matanya, tak ada yang berubah. Namja itu memang Myung Soo. 

 

 

Jakku mogi meyeoseo, Amu maldo hal suga eopseosseo

[My throat keeps clogging so I couldn’t say anything]

 

Neoeui du nuni nal baraboji anhgo, Gogaereul dollinikka

[Because your two eyes didn’t look at me but looked away from me]

 

“Ah..” Saat hendak menyapanya, tanpa sadar Na Eun segera mengurungkan niatnya. Myung Soo tidak menyadari kehadiran Na Eun, melainkan ia sibuk mengobrol dengan yeoja cantik yang duduk di sampingnya. Siapa yeoja itu, tanya Na Eun dalam hati. Mereka tampak sebaya.. dan.. sangat akrab. Siapa ? Apakah temannya.. atau..

 

(Ajigeun nan) Neoreul bonael su eopseo

[(I can’t yet) I can’t let you go]

 

TING. Lagi-lagi kereta berhenti di sebuah stasiun. Beberapa orang segera turun dari gerbong, termasuk Myung Soo dan teman perempuannya. Tanpa dikomando, Na Eun pun bangkit dari duduknya dan mencoba mengejar namja tersebut. “Aku tidak boleh kehilangannya lagi. Aku tidak mau ditinggalkannya lagi,” ucap Na Eun.

Jaraknya dengan Myung Soo semakin lebar. Terlalu banyak orang di peron ini. Meski begitu, Na Eun tetap berusaha mengejarnya. Ia tak ingin menyerah terlalu cepat. Akhirnya pengejaran itu berakhir saat ia melihat Myung Soo mengantarkan teman perempuannya sampai di dekat mobil yang menjemputnya, di halaman stasiun, di seberang posisi Na Eun sekarang. Air muka Na Eun sudah berseri-seri membayangkan ia dan Myung Soo bisa berbincang lagi. Ia menghentikan langkahnya, menjaga jarak di antara mereka, dan memperhatikan apa yang selanjutnya akan terjadi. Yeoja di seberangnya itu tampak bercakap-cakap sejenak dengan Myung Soo, setelah itu memeluknya dan… menciumnya.

 

(Ajikdo nan) Neo ttaeme ulgo itjanha

[(Even now) I’m crying because of you]

 

“Ah..” Na Eun membuka mulutnya sesaat lalu menutupnya dengan telapak tangannya. Ia sangat kaget dengan adegan yang berlangsung di hadapannya itu. Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya. Semuanya hancur. Entah mengapa, ia merasa sangat kecewa pada Myung Soo. Ia merasa dunia sungguh tak adil padanya. Semua sia-sia saja. Selama ini.. 

 

Anil georago da kkumirago, Geureohke midgo shipeunde

[None of this happened, this is all a dream, that is what I wanted to believe]

 

Gadis itu berlari menjauhi tempat tersebut. Ia berharap semua ini hanya mimpi, seperti mimpi-mimpi yang sering menyinggahinya dulu. Ia ingin percaya, ia ingin memaksa dirinya untuk percaya, hari ini hanyalah mimpi, tidak akan benar-benar terjadi. Walau ia tahu, saat ini semuanya nyata. Dan ia membenci kenyataan yang seperti itu.

Myung Soo’s POV~~

Na Eun ? Kenapa ia tidak menyapaku ? Ke mana ia akan pergi ? Aku harus menyapanya.

Myung Soo’s POV End~~

Na Eun berjalan perlahan, menyusuri trotoar Kota Seoul yang berdebu. Matanya masih tampak merah, dan sisa-sisa air mata terlihat jelas membentuk garis di pipinya yang pucat. Ia memandang sekelilingnya. Balon-balon pink di sana-sini, berbagai kado dan rangkaian bunga dibawa hilir mudik oleh banyak orang. Ia bisa melihat etalase toko yang dipenuhi dengan cokelat berbagai bentuk. Valentine. Ia ingat tujuh tahun lalu, saat ia masih menunggu kehadiran Myung Soo, untuk memberikannya sebatang cokelat. Namun namja itu tak pernah datang. Meskipun ia selalu menunggunya, namja itu tak pernah muncul. Sampai hari ini. 14 Februari. Ia telah bersama yeoja lain. ‘Untuk apa aku masih mengharapkan namja yang bahkan mungkin sudah melupakanku, haha aku benar-benar bodoh’ pikirnya dalam hati.

Lalu langkahnya terhenti di depan seorang pengamen jalanan yang menjajakan suara indahnya yang dipadukan dengan permainan gitar yang merdu. Pengamen itu menyanyikan sebuah lagu yang berisi tentang pernyataan cinta kepada seseorang yang disukai.

 

Bogo shiptago neol saranghandago, Naeui mam neoege malhago shipeo~

[I miss you, I love you, I want to tell my heart to you]

 

Na Eun mendesah lalu berbisik, “Aku sangat rindu padamu, aku sangat ingin bertemu denganmu, aku.. aku menyukaimu, aku ingin kau tahu tentang perasaanku, aku ingin mengungkapkan semuanya padamu.. Tapi mengapa kau tak pernah ada di sini saat aku ingin jujur padamu ? Mengapa kau pergi begitu saja tanpa sepatah katapun yang kau ucapkan padaku ? Mengapa kita bertemu kembali saat kau sudah dengan yang lain ? Mengapa kau tidak pernah bisa melihat perasaanku yang sesungguhnya ? Mengapa aku tidak bisa mengungkapkannya padamu ? Ah waeyo..?”

Air mata itu meronta ingin keluar lagi. Na Eun berusaha sebisanya agar tidak menangis. Ia tidak ingin membuang-buang air matanya lagi untuk cinta. Ia meletakkan beberapa won di topi milik pengamen itu dan hendak berjalan kembali ketika seseorang memanggilnya dari belakang.

“Na Eun.. Son Na Eun, kan ?”

“Kau..”

Na Eun terpaku memandang namja di hadapannya kini. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. “Na Eun ? Hai ! Sudah lama sekali ya ? Bagaimana kabarmu ?” Namja itu mendekat sembari tersenyum ramah. Na Eun menggigiti bibir bawahnya, ia tak kuasa lagi menahan air matanya. Akhirnya air mata itu tumpah di hadapan namja tersebut. “Na Eun ? Kau baik-baik saja kan ? Apakah aku mengatakan hal yang salah ?” tanya namja itu bingung, ia meletakkan tangannya di bahu Na Eun. Dengan halus Na Eun menampik tangan itu dan mengangkat jemari kanannya. “Gwenchana.. Aku baik-baik saja, Myung Soo. Mianhae, aku tampak buruk sekarang,” ucapnya sambil hendak berlalu pergi.

“Tunggu. Jangan pergi,” cegah namja bernama Myung Soo itu, menahan tangan Na Eun. “Apa kau melihat kejadian tadi ?” tanyanya. “Kejadian apa ?” Na Eun bertanya balik. “Di depan stasiun.” Na Eun menghirup nafasnya panjang dan mengangguk. Myung Soo tidak merespon apa-apa hingga beberapa detik, dan akhirnya berucap, “Mianhae Na Eun..” Alis yeoja di depannya kini menyatu. “Jadi.. Jadi kau sudah tahu perasaanku sebenarnya ? Mengapa kau.. Ah sudahlah..” Na Eun menarik tangannya dan berjalan cepat. “Banyak hal yang harus kujelaskan Na Eun..” Na Eun berbalik dan berkata, “Baiklah. Jelaskan sekarang.” Tapi Myung Soo tidak mengeluarkan sepatah kata pun. “Sudahlah Myung Soo, kau tidak sendiri lagi sekarang. Aku akan selalu menjadi temanmu, aku akan selalu mendukungmu, aku akan selalu mendoakanmu, apapun untuk bahagiamu. Aku..” Ucapan itu tertahan sejenak di bibirnya. “Aku.. Aku sangat menyukaimu.” “Na Eun.. Aku bisa memutuskannya.” “Ani..Jangan sakiti pacarmu, jangan pernah menyakitinya. Karena perasaan perempuan sangatlah rapuh. Jangan pernah meninggalkannya hanya untuk aku. Dan.. dan..” “Dan..?” Na Eun menggeleng, menghapus air matanya lalu tersenyum seolah tak ada yang terjadi, ia membungkuk sedikit dan berlari menjauhi Myung Soo yang masih terdiam di ujung jalan.

Dan.. dan cukup aku yang merasakan sakit itu, jangan dia, jangan biarkan yeoja yang lain merasakannya’

THE END

10 thoughts on “[Freelencer – SONGFIC] Like A Dream

  1. author tanggung jawab air mata aku gak mau berhenti ini astaga ini ff bener2 bikin gue mewek semewek meweknya good job thor ditunggu ff MyungEun lainnya semangattt!!!!

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s