[Chapter 3] The Qualified Qwartet

poster-the-qualified-qwartet1

Dear, Krystal Jung, Park Jiyeon, Xi Luhan, Kim Myungsoo

Sincerely, Ilo.ve.aj

Summary: Not an Ordinary Extraordinary, they are Extra Extraordinary

| Fantasy | School-life | RomanceSci-fi | Chaptered | TeenagerAlternative Universe (AU) |

Disclaimer: Thanks for Cicil @HSG atas cover yang awesome! :D
Soal Line masing-masing cast, mohon jangan dipermasalahkan karena saya sama sekali tidak memperhatikan Line para cast dalam pembuatan Fanfic ini ataupun dalam pembagian tingkatan, Thanks.
This is mine, don’t ever try to blame it as yours, I’m watching you

Copyright © 2014 Ilo.ve.aj

The Qualified Qwartet

Story Begin


3rd lesson: Demi gods’ attack

                                            _

Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali.
Kapal maupun perahu tidak berlaut, menghembus diri dalam mempercaya maut yang ‘kan berpaut.

_

Krystal mengerjapkan mata mendengar pernyataan Naeun. Bukankah lokernya dimantrai? Itu bukan hal yang bisa terjadi secara kebetulan pada banyak orang sekaligus secara serentak, bukan?

Ini bukan kebetulan.

Ya, Krystal hanya bisa sampai pada kesimpulan itu, ini bukan kebetulan. Perihal penyebab dan lainnya, masih terlalu samar. Ia tak bisa menangkap apa yang ada dibalik kabut itu.

Kelas Proffesor Lockson telah usai, Krystal berjalan perlahan di antara lorong-lorong dan pilar-pilar tinggi itu. Kutegaskan satu kata, sendirian. Ya, ia sendirian.

Ia tidak tahu apa yang membawanya bahkan ia sendiri tidak tahu apakah ia berada di jalan yang benar.

Krystal menghentikan langkahnya ketika ia sampai di bagian utara kastil sekolahnya. Ia baru pertama kali menjejakkan kaki disitu. Lantaran school tour yang diadakan lead asramanya tempo hari juga tidak membawanya ke tempat ini.

Krystal menilik dengan seksama setiap celah pilarnya, terdapat lampion berwarna merah dan oranye disetiap sisinya.

Krystal membenahi tali tasnya kemudian ia mengikuti kemana intuisinya akan membawanya. Ya, intuisi. Krystal merasa tempat ini menarik, tempat ini memiliki aura berbeda dengan bagian kastil lainnya.

Krystal menyibak poninya dan mengeryit melihat sebuah pintu dengan kenop Griffin terpampang di ujung lorong gelap.

Krystal berusaha menahan gejolak hatinya. Ya, ia penasaran. Namun sesuatu menyadarkannya, ini hampir waktunya kelas pengendalian superpower oleh Proffesor Flora dan akan makan waktu lama−bahkan kupastikan Krystal akan terlambat apabila ia tetap mengikuti rasa penasarannya dan menyambangi pintu itu.

“Sedang apa disini?” tegur suara dingin. Krystal mematung di tempatnya, lalu dengan sangsi memutar tubuhnya.

“Maaf. Aku tersesat” sahut Krystal seraya menundukkan kepalanya. Sama sekali tak berani menatap siswa nomor satu sekolahnya tersebut. Kau tahu siapa? Ya, Byun Baekhyun.

Pemuda berambut hitam itu menatap Krystal yang sekarang tengah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Diam-diam Baekhyun menahan senyum. Ya sesuatu menggelitiknya untuk mengangkat sudut bibirnya tatkala ia menangkap sosok gadis ini. Terlebih dalam situasi seperti ini, Baekhyun benar-benar harus berusaha keras.

“Kau tahu, rasa penasaran dapat membawamu ke dalam bahaya” Baekhyun mengatur nada bicaranya supaya terdengar se datar mungkin. Namun tangannya terjulur dan menyentuh puncak kepala gadis itu, membuat Krystal mematung.

“Kembalilah ke tempatmu” ucap Baekhyun lagi sambil berjalan melewati Krystal dan menghilang di persimpangan sebelum pintu berkenop Griffin itu. Krystal masih mematung di tempatnya, mengatur suhu tubuhnya. Dan juga detak jantungnya.

Well, Krystal tak ingin terkena masalah di hari pertama, jadi setelah ia rasa tubuhnya telah terkoordinir, ia memutuskan untuk berbalik dan berlari menuju kastil bagian tengah dari sekolahnya tanpa menyadari sepasang bola mata kecoklatan mengawasinya dari balik pintu itu.

_

Krystal mempercepat langkahnya ketika ekor matanya menangkap teman satu angkatannya yang tampak terburu-buru menuju ruang kelas Proffesor Flora. Krystal berlari kecil dan bergabung dengan mereka, namun ia kesulitan mencari teman seasramanya, ia hanya menemukan Oh Sehun, pemuda pendiam itu, dan Krystal pun berinisiatif untuk menyapanya.

“Sehun!”

Pemuda berambut golden brownish itu menoleh dan tersenyum pada Krystal. Lalu ia berjalan melewati beberapa orang dan menyamakan posisinya dengan Krystal.

“Terlambat juga?” tegur Krystal sambil menyeringai meledek Sehun. Sehun mengerutkan dahinya lalu tersenyum tak kalah meledek.

“Kupikir lebih tepat bila disebut dengan ‘mepet waktu’. Dan kulihat di kelas sebelumnya kau juga ‘mepet’. Benar ‘kan?”

Krystal tergelak mendengar pertanyaan Sehun, menusuk. Ya, langsung ke hati. Tapi itu hanya gurauan, dan Krystal tentu bisa menangkap itu. Mereka tak meneruskan pembicaraan sebab mereka sudah sampai di ruang kelas. Krystal mempercepat langkahnya dan menempati kursi kosong di sebelah pemuda berambut hitam.

“Ah annyeong” sapa pemuda itu sambil menoleh ke arah Krystal dan menggeser buku tebal bersampul hijau keruh yang semula ia tempatkan di bangku sebelahnya.

Krystal tersenyum menanggapinya.

“Krystal Jung, putri Apollo. Salam kenal, Lee Minhyuk, putra Ares?”

Minhyuk menganga mendengar kalimat Krystal.

“B, bagaimana kau tahu sejauh itu?” Ia menggeser tubuhnya menjauhi Krystal, membuat gadis itu tergelak.

“Aku mind-reader.” Krystal terkekeh melihat ekspresi Minhyuk yang sesaat kemudian terlihat lega.

“Oh, salam kenal sepupu” ujarnya sumringah.

Krystal tertawa renyah dengan pipi merona, ia selalu senang ketika bertemu sepupunya atau sesama demi-god.

“Jadi−“ Minhyuk menarik napas panjang “Kau ditemui oleh mereka juga?”

Krystal tercenung sesaat lalu menatap Minhyuk lamat-lamat.

“Siapa maksudmu?” Krystal kembali melempar tanya, membuat pemuda itu membetulkan posisi duduknya dan menghela napas sekali lagi.

“Para demigod sekolah ini. Yah− kemarin ada salah seorang senior mendatangiku dan bertanya apakah aku seorang demigod. Kujawab iya, dan dia memberiku ini” jelasnya seraya menggulung lengan kemejanya dan menunjukan tato di pergelangan tangannya yang bertuliskan “Ares”. Minhyuk menatap Krystal dengan sebal.

“Ini mengganggu”

Krystal menatap lekat tato di tangan Minhyuk, itu jelas bukan tinta tato biasa. Krystal tahu dan sangat tahu bahwa kerat kulit demigod adalah perpaduan antara kulit manusia dan kulit dewa. Tak bisa sembarang memasang tato. Yah, itu pengalamannya sendiri saat berusia 17 tahun. Sebenarnya Krystal melarangku untuk membicarakan soal keinginannya membuat tato tapi kupikir, toh cerita ini tentang dirinya.

“Menurutmu, apa aku akan ditato seperti itu juga?” Krystal masih menatap lamat tato itu, setiap ukirannya berharga dan menyala-nyala seolah ingin hidup, ditulis penuh emosi dan sangat artistik. Juga sebagai identitas bahwa kau adalah seorang demigod. Itu keren−menurutnya.

Minhyuk mengendikkan bahunya seraya membuka buku tebalnya dan mencelupkan pena bulu berwarna hitamnya ke botol tinta dan memasang penglihatan lamat-lamat pada papan berwarna hijau dengan goresan kapur sana-sini yang terpampang di ujung ruang kelas.

Ia meneteskan satu tinta ke kertas perkamennya dan mendesah pelan.

“Mungkin saja. Tapi itu bukan hal yang baik”

Krystal tercenung, lalu menatap pemuda itu lamat-lamat, mencoba membaca pikirannya. Namun, sial. Keberuntungan tidak berpihak padanya, Minhyuk sedang tak memikirkan hal itu dan tentu saja Krystal membaca ‘hal lain’ dalam pikirannya. Krystal ingin bertanya, kendati begitu Minhyuk tampak sangat serius lantas Krystal mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk memperhatikan kelas.

Di tengah kelas, seseorang dari Blood Veil mengacungkan tangan dan mengajukan pertanyaan yang membuat semua telinga para ‘makhluk’ disana berdiri tegak.

“Prof, mengapa kita ada? Maksudku, why does we even exist?”

Pertanyaan yang terdengar polos, namun mampu membuat suasana berubah tegang. Lebih dari separuh mereka berpendapat bahwa halfblooded itu kotor, haram, dan… tidak diinginkan. Memang itu kenyataannya, Krystal pun hanya bisa tersenyum pahit mendengar pertanyaan itu, dan Proffesor Flora sendiri pun tampak sedikit canggung mendengar pertanyaan itu. Ia berdeham sebelum mengetuk papan tulis untuk kembali membuat suasana fokus.

Well, itu bisa diakibatkan banyak hal. Kesalah pahaman, kelainan genetik, keistimewaan, dan lain-lain.”

Kesalah pahaman.

Krystal merasakan matanya memanas, sebersit memori kilas balik memaksa menyeruak masuk ke tengah-tengah neuron otaknya.

“UNTUK APA!? MEREKA BERDUA BAHKAN BUKAN DARAH DAGINGKU!!!!!!!!” Suara Tuan Jung yang menggelegar membuat dua gadis yang semula tengah tergolek di tempat tidur mereka, membuka mata dengan terpaksa. Mereka saling memegang satu-sama-lain dengan kuat.

“KAU MENGKHIANATIKU DENGAN MAKHLUK SEPERTI ITU!? DEWA!!!! BAGAIMANA BISA!? DAN AKU HARUS BERPURA-PURA SEOLAH MEREKA ADALAH BAGIAN DARI DIRIKU!? MEMUAKKAN!!!!”

Terdengar raungan dan tangisan di tengah suara teriakan yang menggelegar, dan suara kaca yang pecah memanaskan keadaan. Kedua gadis itu terisak dari balik pintu mereka. Hanya satu yang mereka tahu, mereka tidak diinginkan.

Krystal berusaha keras menahan emosinya agar tak setetespun air mata harus jatuh hanya karena mengingat itu. Ini takdirnya. Dan ia harus menghadapinya.

“Ehm” deham Proffesor Flora lagi. Karena tidak dapat dipungkiri, pernyataannya barusan membuat suasana riuh. Cacian dan makian menggema dari sudut-sudut ruangan. Mereka merasakan hal yang sama.

“Baiklah. Kita mulai kelas dari awal. Diperkenankan untuk berkumpul dengan kawan satu spesiesnya” kata Professor Flora. Dan dengan satu lambaian tangan, di tiap-tiap sudut telah terpampang papan nama berbeda yang melayang-layang di atas tiap-tiap meja. Krystal bimbang sesaat, ia sempat bingung akankah ia mengikuti kubu Demigod atau Mind-reader? Namun menilik bahwa sepertinya tak ada Mind-reader lain pada teman seangkatannya, ia memutuskan untuk mengikuti kubu Demigod, namun ia tidak menemukan Jiyeon ditengah mereka.

Mungkin ia memilih teleporter” pikir Krystal seraya duduk di sebelah Lee Minhyuk.

Ia meneliti satu persatu teman satu spesiesnya, ada lima orang. Di sebelah kirinya, Lee Minhyuk, putra Ares berambut hitam itu. Di kiri Minhyuk, ada seorang gadis dengan wajah cantik berambut cokelat. Ia sangat cantik, namun auranya kelam. Mungkin ia putri Hades. Di sebelah kiri gadis itu, juga seorang gadis dengan wajah dingin. Parasnya tidak terlalu oriental, dan rambutnya cokelat ombre biru. Auranya tak kalah kelam, ia tampak sesekali mengobrol dengan gadis di sebelah kanannya.

Di sebelah kiri gadis berambut ombre itu, seorang pemuda dengan rambut hitam dan mata kemerahan. Wajahnya suram, ia sedih. Namun ia juga marah, dan putus asa. Mungkin ia putra Hephaestus? Mungkin saja.

Di kiri pemuda itu−sekaligus di sebelah kanan Krystal, terdapat gadis manis dengan rambut hitam sebahu. Kulitnya putih bersih, dan senyum senantiasa terpahat di paras manisnya. Tentu ia bukan putri dewa suram.

“Hey, apa kalian… didatangi oleh mereka juga?” tanya Minhyuk pelan, seraya menunjukan tato di lengannya. Yang lain menilik dengan seksama.

“Ya” sahut gadis berambut cokelat beraura kelam itu seraya menunjukan tato bertuliskan Hades di bahu kanannya. Sudah kubilang bukan? Ia putri Hades.

“Bae Suzy. Putri Hades” ujarnya seraya tersenyum tipis, cantik.

“Aku juga. Namaku Kim Dasom” ujar gadis di sebelah kanan Krystal. Suaranya dingin, berbanding terbalik dengan wajah manisnya. Ia lalu sedikit berbalik untuk menunjukkan tato bertuliskan Demeter di tengkuknya.

Wow, Demeter. Krystal selalu menghormati dewi pertanian itu.

“Mengapa aku belum?” tukas pemuda bermata kemerahan tadi seraya menatap bingung. Dan gadis ombre itu mengangguk membenarkan. Sedangkan Krystal masih terpesona akan tato kawan-kawannya.

“Ah, aku Yoon Junghyun. Putra Hephaestus” kata pemuda itu. Ah pantas saja ia terlihat sedih, marah dan putus asa pada saat yang sama. Ia putra dari forgotten god, Hephaestus. Namun ia memiliki aura yang hebat, pastilah kemampuannya tak menipu.

“Aku Wendy Son. Putri Hades” kata gadis ombre itu. Hmm, aura kelam yang tak menipu, dan pantas saja ia terlihat akrab dengan Suzy, mereka saudara rupanya. Lima pasang mata yang kini menatap Krystal membuat gadis itu tersadar dari lamunannya, lalu mulai tertawa canggung.

“Ah, aku… Krystal Jung. Putri Apollo” gumam Krystal pelan. Namun entah kenapa sesuatu menahannya untuk membiarkan teman sesama demi-god mereka tahu bahwa dia juga seorang mind-reader, namun Krystal tak tahu pasti apa itu. Itu hanya menahannya.

“Yah, kalian siap-siap saja akan didatangi oleh mereka dan akan di buatkan tato seperti ini” ujar Dasom seraya menatap mereka semua serius, membuat Krystal sedikit mengeryit. Mengapa begitu serius?

“Bukankah itu keren?” celetuk Krystal, dan seketika perhatian lima pasang mata itu teralih padanya.

“Kau bilang, keren?” tukas Suzy gusar. Matanya mulai memerah, dan auranya makin mengelam, membuat seluruh cairan tubuh Krystal bermuara di pori-porinya dan debar jantungnya berpacu cepat. Auranya benar-benar menakutkan, kutegaskan satu hal, benar-benar.

“Sudah kubilang sebelumnya, Krystal. Ini bukan hal yang baik” ujar Minhyuk, menatap Krystal dengan tatapan dingin yang tak terlalu membara namun menusuk tajam. Membuat suara gadis itu yang semula memaksa berkoar membela diri seketika tercekat di tengah kerongkongannya.

“Mengapa begitu? A, aku tidak terlalu mengerti”

Sekarang giliran putra Hephaestus yang mendesah keras, lalu menatap Krystal tajam.

“Sejak dulu, para demigod dianggap tak terlalu menyenangkan karena tak terlalu bisa bersosialisasi dan cenderung menggerombol dengan sesamanya. Mereka dianggap kelas atas. Dan tato yang sebagai penanda bahwa kita adalah demigod ini adalah sumber kebencian sekitar pada kita” jelas Junghyun. Setiap katanya terucap dengan lirih, seperti gesekan kertas. Seolah ini rahasia besar, walau kelihatannya memang begitu.

Krystal hanya terdiam, namun ia mengerti masalahnya. Walaupun jujur saja ia masih memandang bahwa tato itu keren.

“Baiklah. Mari bicarakan hal lain. Tampaknya putri Apollo itu sudah mengerti” tukas Dasom. Suaranya dingin dan menusuk.

“Well− ini hari pertama kelas, bukan? Namun kudengar ada murid yang baru bisa mengikuti kita pada sub-kelas nanti” ujar Wendy seraya meraih secangkir teh yang entah sejak kapan terhidang di meja bulat dengan kursi-kursi beludru kecil yang mengelilinginya namun menyisakan satu kursi kosong diantara Krystal dan Minhyuk.

“Ah! Dia penghuni asramaku? Pantas saja tadi hanya ada 15 orang” seru Junghyun, nada bicaranya jauh berbeda dengan tadi.

“Asramaku juga” sahut Suzy, namun tak tampak perbedaan yang kentara dari dirinya. Hanya saja air mukanya berangsur-angsur terlihat membaik.

“Dia demigod?” tanya Krystal seraya menyibak poninya, lalu menyelipkannya dibelakang telinga.

“Dilihat dari kursi kosong ini, mungkin saja” sahut Wendy seraya menaburkan sejumput gula ke dalam tehnya.

“Ah, ngomong-ngomong sub-kelas itu apa?” tanya Krystal lagi seraya menjulurkan tangannya dan meraih sepotong kue kering di dalam toples bening seukuran buah apel (terlampau kecil, bukan? Namun, ini bukan dunia biasa! Ingat?) yang terletak di antara teko teh berwarna ungu lavender dan kotak gula.

Terdengar gelak tawa dari sudut meja.

“Ini kelas pengendalian superpower, dan superpower setiap orang berbeda, bukan? Karena itu dibuat sub-kelas dan itulah tujuan kita dikelompokan seperti ini” jelas Minhyuk seraya mengangkat sudut bibir kirinya, menertawakan Krystal. Namun gadis itu acuh, ia hanya mengangguk-angguk seraya mengunyah kue keringnya dengan damai.

“Apa di sub-kelas nanti… Kita bersama para senior?” tanya Suzy. Nada bicaranya begitu berbeda, kali ini terdengar tertekan.

“Kurasa tidak. Semoga tidak” sahut Dasom.

Satu hal yang belum Krystal mengerti, mengapa mereka yang sudah mendapat tato bersikap seperti ini? Semengerikan apakah para senior? Namun Krystal enggan memperkarakannya. Sudah cukup ia dihujam tatapan-tatapan dingin dari para sepupunya ini.

“Sub-kelas pertama kita, apa?” tanya Krystal lagi. Junghyun melambaikan tangannya dan terlihat percikan api yang perlahan membentuk secarik perkamen.

“Memanah. Wow, keberuntungan untukmu, anak Apollo” celetuk Junghyun. Krystal hanya menyipitkan mata tidak suka mendengar bagaimana Junghyun memanggilnya.

“Eh, kudengar, dari salah satu senior, ada yang tergabung dalam pemburu Artemis?” tanya Suzy tenang seraya menuangkan teh ke cangkir yang dijalin dari batang bunga Lavender. Ajaib, bukan?

“Ya, dan lebih lagi, kudengar ia Letnan” timpal Dasom. Sedangkan Krystal yang tak tahu menahu soal para senior mereka hanya bisa memandang mereka dengan mulut terkunci rapat. Eeh−lebih tepatnya mulut yang sibuk mengunyah kue kering.

Well, mereka menghabiskan waktu yang tak cukup panjang dengan berbicang-bincang antar para sepupu. Walau tidak bisa dibilang sebagai percakapan yang menyenangkan. Well, kau tidak bisa langsung dekat dengan seseorang, bukan?

Sekarang mereka tengah berbondong-bondong meninggalkan ruang aula yang memang tempat untuk kelas pengendalian superpower, menuju arena sub-kelas masing-masing. Dan para demigod tentu saja menuju arena memanah.

Dan… kejutan. Begitu tiba disana, keenam orang itu disambut seorang pemuda berambut hitam yang tengah duduk dengan tenang di pinggir sungai yang menghadap sasaran-sasaran dan busur-busur panah seraya memainkan aliran sungai.

“Diakah pemuda yang kita bicarakan tadi?” bisik Krystal pada Wendy yang berdiri disampingnya−juga sedang terpana pada pemuda yang belum menyadari kehadiran mereka berenam.

“Hey, putra Poseidon!” Panggil Junghyun, pemuda itu menurunkan aliran air perlahan lalu menoleh ke arah mereka berenam. Seketika tatapan mata tajam pemuda itu memanah empat gadis dihadapannya tak terkecuali Krystal. Wajahnya yang tak dapat dipungkiri−sangat sangat tampan, seakan membius mereka semua. Membuat dua pemuda di antara para gadis itu mengeryit tidak suka.

“Bagaimana kau tahu aku adalah putra Poseidon?” tanya pemuda itu, masih mempertahankan ekspresinya semula seraya melompat dari batu yang sedari tadi ia duduki.

“Dari caramu memainkan air tentu saja!” seru Minhyuk seraya berkacak pinggang dan menatap pemuda itu tidak suka.

“Benarkah? Padahal aku sudah berusaha menyembunyikannya. Well, namaku Lee Taeyong. Dan aku adalah Putra Poseidon, seperti yang kalian ketahui”

Pemuda bernama Taeyong itu mengulas senyum tipis di antara kedua pipinya, dan seketika membuat empat gadis di hadapannya mematung.

Well, kau tahu? Putra Poseidon memang haruslah tampan.

_

Krystal mengarahkan busurnya perlahan, lalu memusatkan perhatian pada titik merah di tengah sasaran. Perlahan tapi pasti, ia menarik napas panjang, lalu dengan yakin melepaskan anak panahnya ke arah sasaran.

Crep!

Nyaris, sedikit bergeser 5 milimeter akibat angin yang tak terduga.

“Awal yang bagus, putri Apollo” celetuk Junghyun seraya menyeringai ke arah Krystal. Sedangkan gadis itu hanya memandangnya jengah.

“Kau bagus juga” puji sebuah suara dari sebelah kanan Krystal. Krystal mengenali suara itu, dan tubuhnya membeku seketika. Ia dengan susah payah memutar tubuhnya ke arah kanan dan menghadap Taeyong yang tengah tersenyum ke arah dirinya.

“Terima kasih, bakat memanah mungkin sudah mengalir dalam darahku” gurau Krystal seraya menyibak poninya. Yah sebenarnya hanya untuk menutupi kegugupannya. Dengar, bukan berarti Krystal menyukai Taeyong. Tidak, bukan begitu. Hanya saja, Taeyong begitu tampan. Auranya begitu hebat dan menyilaukan, sampai hanya menatapnya saja membuat Krystal harus menyipitkan matanya. Uh, maaf aku tahu ini berlebihan.

“Yah. Lihat ini” tukas Taeyong cepat seraya mengarahkan anak panahnya dan dengan cepat melepasnya, dan…

Yap! Strike!

Menancap tepat pada lingkaran kecil merah di tengah papan sasaran. Seketika membuat keenam orang yang lain terpana melihatnya, terlebih para gadis, terlebih Krystal.

“Kau… lebih hebat” ujar Krystal masih terpana, bahkan rasanya sulit untuknya menggerakan rahangnya yang menganga akibat terpana melihat aksi Taeyong.

“Walaupun kau putra Poseidon” sambung Krystal seraya mengangkat sudut bibir kanannya. Taeyong tersenyum senang mendengar pujian Krystal. Dan makin membuat para gadis terpesona sejurus dengan tawa renyahnya yang ia lontarkan. Entah ia sadar atau tidak bahwa tindakannya acap kali membuat para gadis terpesona dan Minhyuk juga Junghyun mendelik iri.

Setengah jam telah mereka lalui dengan latihan memanah yang disela candaan dan perbincangan ringan. Ya suasana menjadi lebih santai sejak kedatangan Taeyong−mungkin karena para pencipta suasana suram tengah terpesona? Mungkin saja.

Sekarang mereka tengah duduk di pantaran sungai, sesekali saling memercik. Namun Taeyong mengingatkan mereka agar tak terlalu berisik. Bisa-bisa roh sungai murka pada mereka atau para Dryad melempari mereka dengan biji pohon ek.

“Hey bocah air” panggil Dasom. Yah, sekarang para gadis sudah bisa mengontrol perasaan mereka yang semula meluap-luap. Taeyong menoleh ke arah gadis cantik berponi itu.

“Kau… memiliki ini?” tanyanya seraya sedikit memiringkan kepalanya guna menunjukan tengkuknya. Taeyong menatap tato bertuliskan Demeter itu lamat-lamat. Lalu mengeryit heran.

“Tidak. Apa itu? Dimana kita bisa mendapat tato seperti itu?” tanya Taeyong seraya melahap sepotong kecil Ambrosia coklat yang dibawa Junghyun. Krystal turut mengulurkan tangan untuk memotong Ambrosia itu. Kau tahu? Ambrosia adalah makanan dewa. Sejenis roti, sangat berkhasiat. Namun manusia biasa bahkan demigod tak bisa terlalu banyak memakannya, mereka akan terbakar menjadi abu bila memaksakannya.

“Jadi kau belum didatangi para senior?” tanya Minhyuk. Ia merasa janggal, orang semencolok Taeyong belum terdeteksi oleh para Senior? Aneh.

“Aku baru datang hari ini. Ayahku baru memulangkanku pagi ini, dan aku butuh waktu untuk berkemas” sahut Taeyong dengan santai.

“Ayahmu−Poseidon?” tanya Wendy seraya menyesap nektar hangat yang terasa sangat enak di kerongkongan. Taeyong mengangguk.

“Ya, ia kerap kali menugaskan beberapa misi padaku” jawab Taeyong. Keenam lainnya mengangguk takzim. Agaknya mereka sedikit terpana, karena sepertinya tak ada satupun dari mereka yang sudah pernah berinteraksi secara langsung dengan orang tua mereka.

“Namun lokerku dimantrai. Siapa sih, yang usil begitu?” gerutu Taeyong seraya menatap kami. Dan seketika Krystal terhenyak mendengar itu.

“Apa? Aku juga!” pekik Krystal seraya menunjuk dagunya “beberapa teman satu asramaku pun mengalami hal yang sama. Mengherankan, bukan?” lanjut Krystal menggebu-gebu. Sekonyong-konyong membuat perhatian mereka teralihkan, dan sedikit penasaran tentunya.

Taeyong tampak berpikir.

“Kau benar. Seharusnya hal itu bukanlah hal yang dapat terjadi secara kebetulan pada banyak orang pada saat yang bersamaan, bukan?” papar Taeyong. Krystal terpana, pasalnya itu semua adalah kalimat yang tercetak di otaknya! “Ada sesuatu di balik ini” lanjut Taeyong lagi.

Sekarang Krystal merasa ada sepasukan kupu-kupu memaksa menjebol perutnya. Ia terlampau senang!

“Akupun berpikir begitu!” seru Krystal senang.

“Hmm. Ini mencurigakan” timpal Suzy seraya mengerutkan keningnya. Auranya bertambah kelam semakin ia menautkan kedua alisnya. Menyeramkan.

“Kita pikirkan lain kali. Ini sudah waktunya kembali” tukas Junghyun seraya melambaikan tangannya dan sekarang percikan api yang keluar dari tangannya membentuk angka-angka yang Krystal terka adalah jam.

Mereka bertujuh segera beranjak dari tempat mereka semula untuk membereskan busur dan anak panah mereka lalu melangkahkan kaki meninggalkan arena memanah.

_

Krystal menghempaskan diri pada sofa ruang rekreasi asramanya yang berwarna merah beludru. Ia memejamkan matanya dengan nyaman sampai sebuah suara membangunkannya.

“Krystal-ah?”

Krystal membuka matanya dan tersenyum seraya menggeser tubuhnya melihat Luhan berdiri di depannya, juga terlihat letih. Dan tampaknya baru mereka berdua yang mencapai ruang rekreasi saat ini. Luhan segera mengenyakkan pantatnya di sebelah Krystal lalu mendesah berat.

“Hari yang melelahkan” gumamnya seraya memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya pada punggung sofa.

“Menurutku juga begitu” sahut Krystal seraya mengusap matanya yang berair. Luhan mengangkat tangannya dan menyandarkan kepala Krystal pada bahu bidangnya.

“Dimana Jiyeon dan Myungsoo?” tanya Krystal. Luhan menggeleng perlahan.

“Bukankah mereka mendapat jam tambahan di kelas pengendalian superpower?” sahut Luhan, dan Krystal hanya mengangguk-angguk.

“Istirahat sejenak kupikir layak” gumam Luhan. Krystal hanya terdiam, matanya yang semula terpejam mendadak terbuka lebar. Dan rasanya sangat berat untuk memejamkan mata lagi dalam posisi seperti ini. Jujur saja, sesuatu mengganjal pikiran Krystal.

Sejujurnya ia… Beberapa kali ia melihat seberkas cahaya menyerupai sepasang sayap di belakang punggung Luhan. Ia tidak tahu apa itu ataupun pertanda apa itu. Namun itu selalu mengganjal pikirannya. Kendati ia tak pernah mampu memperkarakannya. Ia tak mampu untuk mengetahui apa jawabannya.

“Krys, kau dengar itu?” tanya Luhan tiba-tiba seraya menegakkan kepalanya, membuat Krystal turut menegakkan kepalanya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Namun ia tak mendapati apa-apa.

“Ada apa?”

Luhan mengerutkan keningnya waspada, ia merasakan aura yang mencekam. Awalnya ia menduga itu hanya teman se asramanya yang tiba di ruang rekreasi, namun ini benar-benar berbeda.

“Luhan, sepertinya aku tahu. Sepertinya mereka telah datang”

Kalian tahu siapa mereka yang Krystal maksud? Ya tentu saja kalian tahu. Dan benar saja, sepersekon berikutnya, ada tiga orang senior−tahun ketiga atau keempat berwajah arogan dengan tato di tubuh mereka. Mereka para demigod. Salah satunya leader asrama Frail Eden, Lee Donghae. Krystal baru menyadari tato bertuliskan Hermes yang terukir di antara jari-jari Donghae. Yah wajar saja Krystal tak menyadarinya.

“Kau Krystal Jung bukan?” tanya Donghae pada Krystal, mengacuhkan Luhan yang berdiri mematung tanpa tahu apa yang harus ia lakukan. Krystal mengangguk ragu.

Dua orang senior perempuan−keduanya cantik, namun salah satunya sangat cantik tersenyum ke arah Krystal. Krystal membatin, ini kah para senior yang teman-temannya takutkan? Mereka terlihat ramah.

Senior berambut coklat ikal dengan wajah sangat cantik dan bertato bertuliskan Aphrodite di lehernya mendekati Krystal dan memegang tangannya. Sedangkan senior lainnya yang berambut hitam panjang dan ber-eye smile bila tersenyum mengeluarkan semacam alat. Alat pembuat tato, terka Krystal. Im Yoona, putri Aphrodite, Hwang Miyoung, putri Athena. Terkanya lagi.

“Kau putri Apollo bukan?” tanya Hwang Miyoung, masih memegangi semacam lempengan besi lentur dengan kabel panjang yang terhubung pada sebuah tabung kaca dengan cairan berwarna biru yang tampak bergejolak di dalam sana. Sesekali ia memutar-mutar beberapa sekrup. Krystal mengangguk ragu.

“Kau bisa menyingkir sebentar?” pinta Im Yoona seraya tersenyum manis ke arah Luhan, membuat pemuda itu mematung lalu mengangguk dan mulai melangkah kikuk menuju kamarnya. Krystal mendecih dalam hati, dasar putri Aphrodite. Umpatnya dalam hati. Krystal hanya memandangi tiga senior yang tampak tengah berembuk.

Sesaat kemudian Hwang Miyoung mengenyakkan tubuhnya di sebelah Krystal, lalu menilik lamat-lamat tubuh gadis itu.

“Kau mau aku mentato dahimu?” tanya Miyoung seraya mengangkat sudut bibir kananya. Sekonyong-konyong Krystal menggeleng kuat-kuat, dan mengundang gelak tawa dari tiga senior di hadapannya.

“Putuskan dimana aku harus mentatonya” kata Miyoung masih memutar-mutar sekrup alat pentato itu. Krystal terdiam, rasanya ada suatu tempat yang ingin ia tato.

“Kurasa di…”

_

“Terimakasih, kak” ujar Krystal seraya membungkuk hormat, ketiga senior itu hanya mengangguk acuh.

“Park Jiyeon, kudengar dia demigod juga?” tanya Donghae, Krystal tersentak mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu.

“Ya, tapi−“ belum sempat Krystal menyelesaikan kalimatnya, mereka bertiga memotongnya dengan langsung beranjak pergi dari hadapan Krystal. Tipe senior yang menyebalkan. Dan perlakuan mereka terhadap Krystal sesudah dan sebelum Krystal mendapatkan tato sangatlah berbeda. Dan kini ia mengerti alasan ketakutan teman-temannya.

Krystal masih kerasan pada posisi semula tatkala seluruh teman satu asramanya berbondong-bondong masuk.

“Darimana saja kalian?” tanya Krystal. Jungkook, pemuda berambut merah itu menoleh ke arah Krystal dan menatapnya dengan tatapan datarnya.

“Para demigod memblokir jalan”

Krystal hanya termenung, sudah ia duga. Betapa seenaknya para demigod senior. Dan ia sekarang mengerti alasan teman-temannya mengatakan bahwa tato identitas ini bukanlah hal yang baik.

“Dimana Jiyeon?” tanya Krystal seraya mengekor Ara yang menyongsong kamar mereka, gadis itu tampak kelelahan begitu pula Hayoung yang berdiri tepat di sebelah Krystal.

“Ia masih mendapat jam tambahan dengan Myungsoo” sahut Ara seraya membuka pintu kamar mereka dengan tatapan lesu dan sekonyong-konyong menghempaskan tubuhnya di ranjangnya dan tak bergerak setelah itu.

Sesaat setelah itu, Jiyeon tiba-tiba muncul ditengah kepulan asap hijau dengan wajah tak kalah lesu dari Ara. Krystal menahan senyum melihat itu, ia sudah bisa menerka seluruh kejadiannya. Dan baru saja Jiyeon membuka mulutnya untuk berceloteh, Krystal dengan cepat membungkamnya dengan meletakkan telunjuknya pada bibir Jiyeon.

“Sst. Ara sedang kelelahan, dan aku tahu kau pasti lelah. Lebih baik kau membersihkan diri dan beristirahat, kau bisa bercerita besok” ujar Krystal, Jiyeon hanya mematung dan mengangguk mengerti lalu segera beringsut memasuki kamar mandi yang semula terisi oleh Hayoung. Hayoung berjalan mendekati Krystal dengan senyum geli tersungging di antara kedua pipinya.

“Cara yang bagus, Klee” puji Hayoung, dan Krystal hanya membalasnya dengan cengiran lebar.

Setelah semua teman sekamarnya terlelap, Krystal memandang keluar jendela kamarnya, memandang rembulan bulat sempurna yang bergelora. Cahaya redup yang sayup-sayup menerangi danau hitam yang berada tepat di depan jendela kamar Krystal. Krystal menatap lamat-lamat air danau yang beriak tenang, sesekali kepala Scyllia bernama Nebula itu tersembul ke permukaan. Bintang-bintang yang berkelip seakan berjatuhan ke dalam danau hitam. Danau kelam yang kini berkilauan.

Krystal tak tahan, ia beranjak dari tempat tidurnya, berjingkat-jingkat seraya mengangkat ujung gaun tidurnya dan berjalan perlahan menuju danau hitam.

Krystal duduk termenung menatap pantulan rembulan pada air danau. Benar-benar lengang, Krystal bisa saja jatuh tertidur disitu dan mendapatkan hukuman keesokan harinya bila sebuah suara tidak mengagetkannya.

“Hey, Krystal” tegur sebuah suara yang Krystal kenali. Gadis itu menekuk lututnya lalu menoleh ke arah pemuda berkulit gelap itu. Samar-samar. Keberadaannya bagaikan asap, begitu semu. Begitu menyatu dengan kelamnya malam.

“Hey… Kai” balas Krystal seraya memeluk lututnya yang tertekuk. Kai berjongkok di sebelah Krystal, tangannya membelai perlahan semak mawar putih di belakang mereka. Angin bergemerisik seolah menyambut kedatangannya. Cahaya redup mulai menari-nari di sekitar mereka, itu pixie. Makhluk kecil sejenis peri yang bercahaya dan hanya menampakkan diri saat malam. Krystal terpana, rembulan seolah tersenyum ke arahnya. Buah-buah apel merah yang bergantungan menyala-nyala di tengah gemerisik dedaunan yang menari-nari terhempas angin. Mawar-mawar putih bergelora. Para dryad menampakkan diri dan melantunkan melodi-melodi sederhana, dan para Nymph memainkan lyra ditemani ikan bercahaya biru yang melompat-lompat. Tak mau kalah, Scyllia itu timbul dari permukaan air, bergerak perlahan, kesana kemari. Krystal tak dapat berkata apa-apa. Ia belum pernah merasakan keindahan lebih dari ini, malam yang kelam, seketika penuh warna.

“Malam telah bangun” gumam Kai, sekulum senyum cerah tersungging disana. Perlahan namun pasti, keberadaannya terasa, Krystal dapat merasakannya. Ia, membangunkan malam.

_

“Terima kasih”

Kai menoleh ke arah Krystal, masih dengan senyum tersungging. Sedangkan gadis itu masih membelai para pixie dan bercengkrama dengan para Nymph dan Dryad.

“Ya, sama-sama” sahut Kai sambil menatap gadis itu, dan tanpa sadar seulas senyum mengembang di bibir penuh pemuda itu. Hatinya berbunga melihat tawa Krystal, ia sendiri tak mengerti dengan pasti alasannya. Itu hanya terjadi begitu saja.

Di tengah suasana hening yang menaungi mereka, malam bergemuruh. Semak-semak mengering dan mati seketika, begitu pula rerumputan lembap yang mengelilingi mereka. Apel-apel merah yang bergelantungan jatuh dari pohonnya dan lebur tepat saat menyentuh permukaan tanah. Para Dryad dan Nymph menyembunyikan diri mereka secepat mungkin. Para pixie lari tunggang langgang menuju sarang mereka. Dan… Nebula mengamuk.

Tiba-tiba tanah di bawah Kai dan Krystal bergemeretak, dan menimbulkan retakan yang cukup besar.

“Krystal!” seru Kai seraya menarik Krystal dengan cepat, membuat gadis itu memekik ketakutan. Pasalnya ia hampir terjatuh ke retakan itu, yang mungkin akan membawanya pada Underworld, istana Hades.

“A, apa yang terjadi?” pekik Krystal takut seraya menatap sekeliling. Dan terakhir…

Gruorrr!

Raungan Nebula meluluh lantakkan semuanya, termasuk… Mereka berdua.

To Be Continued

Hai akhirnya chapter ini kelar xD Gimana? Kepanjangan? Kependekan? Ga mudeng? banyak typo? leave comment on the comment box kbye/? xD

Ohiya ini image untuk yoon junghyun :3

yoonjnghyun

Sincerely, Ilo.ve.aj

9 thoughts on “[Chapter 3] The Qualified Qwartet

  1. Menurutku bagus..yah mskipun harus konsen dan hati2 dalam mencerna stiap kalimatnya..wkakkaka
    Ooo..pantas aja lee minhyuk dkk tidak suka dikasih tato..krna dngn begitu mereka jdi kmpulan yg disegani..
    Moment Krystal Luhan Jiyeon Myungsoo di 2 part ini tidak ada sama sekali..padahal senang lihat kebersamaan mereka dipart 1nya..xixiixi
    Next juseyo
    Hwaiting^^

    • Makasih udah komen semua ffku yang kamu baca, insyaallah akan ku selesaikan kok, karena jujur aja pembuatan ff seperti itu memang agak sulit jadi mungkin aku membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk tiap chapternya, terima kasih :)

  2. keren thor, tpi sedikit moment Luhan Krystal sama Myungsoo Jiyeon di chap 2 & 3 padahal suka sama pasangan mreka… tpi tetep keren kok… ditunggu ya chapter selanjutnya,fighting ^^

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s