TELL HIM 1

CreditposterbyArin Yessy@PosterChannel

CreditposterbyArin Yessy@PosterChannel

TELL HIM 1

by. Alana

Park Jiyeon and Lee Joon

Romance/comfort

.

.



Joon masuk ke dalam kamarnya. Sederhana. Tanpa pendingin ruangan, tanpa tempat tidur,tanpa fasilitas lemari es atau barang-barang eletronik.  Dia meletakkan backpacknya di atas lantai. Rasa lelah telah menguras tenaganya. Ambruk dan melepaskan semua penatnya. Lega.

Joon berguling ke kiri, menumpukan sikunya dan mempermainkan lantai beralas tatami. Kenapa tempat ini terasa lebih nyaman. Suasananya begitu tenang dan jauh keramaian. Tanpa fasilitas modern ternyata membuat gelombang otaknya terasa mengalun tenang. Dia seperti dibuai oleh nyanyian angin yang mengetuki jendela kayu biliknya. Ternyata hatinya merasa dibuai oleh rasa sunyi. Perlahan Joon melibatkan diri dengan alam bawah sadarnya. Matanya terpejam dan dia mendapati dirinya sudah tak sadarkan diri. Tersungkur dan masuk dalam alam mimpi.

***

Gadis itu, Jiyeon. Dia duduk di depan sebuah jambangan bunga. Tangannya masih menata beberapa tangkai bunga berdasarkan tinggi dan bentuknya. Jiyi menyentuh dengan tangannya, jemarinya melusuri helai demi helai mahkotanya. Harum yang sesekali menerpa hidungnya membuatnya tersenyum.

“Jangan terlalu lama, kau harus segera menyiapkan makan malam untuk para tamu.”  Ujar sang Eomma.

“Sebentar lagi. ” jawabnya. Suaranya begitu tenang. Dia sedang bercengkrama dengan suara gemericik air kolam di luar ruangan. Ikan-ikan koi itu sedang sibuk berebut makanan. Sesaat lalu, Appanya menaburkan beberpa potong roti sisa membuat hidangan penutup.

“Cepatlah !”  ujar Eommanya lagi.

“Sudah selesai.”  ujarnya sambil menyingkirkan jambangan itu disisi aman. Kemudian dia melangkah lima langkah menuju ke arah Eommanya yang berdiri di meja dapur.

“Hari ini tamunya bertambah satu. Dia adalah seorang namja tampan. Sepertinya mahasiswa. ”  Eommanya berkata-kata dengan lembut. Jiyeon mengangguk.

“Jadi tamu kita sekarang sepuluh orang. Tidak buruk juga. Mudah-mudahan besok akan bertambah lagi. ”  Jiyeon mengambil piring-piring dari dalam lemari dan menatanya di meja.

Sistem penginapan di sini adalah makan bersama dalam satu meja seperti keluarga. Hal itu akan membuat suasana menjadi lebih hangat. Ayah Jiyeon adalah seorang veteran Tentara. Dia memamg pendiam, sikapnya cenderung keras dan tegas namun hatinya sungguh baik dan perhatian. Jiyeon adalah putri satu-satunya. Dan sayangnya kondisinya buta karena sebuah kecelakaan saat usianya lima tahun. Dia terjatuh di tangga dan mengalami trauma pada saraf matanya. Meskipun menurut dokter kebutaan itu bisa sembuh, namun hingga usia Jiyeon mencapai duapuluh tahun, dia masih berada dalam kegelapan.

“Jiyi, tolong panggilkan tamu yang baru datang tadi siang. Dia belum tahu tentang kebiasaan kita. Kamarnya ada di seberang kolam.”

“Ne, Eomma.”  Jiyeon melangkah dengan hati-hati. Dia menghitung hingga lima belas langkah mencapai pintu, kemudian dia berhenti sejenak. Hawa dingin menyapanya.

“Apa kau lupa memakai baju hangat ?”  Appanya melepas jaket yang dipakainya lalu mengenakannya pada putrinya.

“Berhati-hatilah saat melewati jembatan. ”  ujar sang Appa sambil mengusap rambut Jiyeon.

Gadis itu melangkah lebih berhati-hati lagi. Dia merasakan desiran angin pegungan menggelitik kulit-kulit wajahnya. Dari jauh dia bisa mendengar denting genta angin yang terpasang di jendela kamarnya. Jiyeon tersenyum. Malam ini sepertinya akan turun hujan. Anginnya terasa berbeda. Sedikit lembab, sepertinya membawa uap air agak lebih banyak. Mungkin di Selatan hujan sudah turun. Jiyeon bergegas melewati jembatan. Dia menghitung duapuluh langkah dalam hatinya.

“Maaf !”  tiba-tiba suara itu menghadangnya. Jiyeon menabrak tubuh itu tanpa sengaja. Dia baru saja selesai mengitung lima belas langkah.

“Ya..?”  Jiyeon terdiam. Dia hanya berdiri dengan canggung. Dalam hatinya masih menerka-nerka pemilik suara itu.  Tangannya memegang pembatas jembatan, sementara Joon terlihat bingung. Sejak tadi dia tersenyum, namun gadis di depannya menoleh pun tidak.

“Aku Joon. Baru datang tadi siang. “

“Jadi kau tamu yang baru itu. Eomma menyuruhku memberitahu padamu, makan malam sudah disiapkan. Kami punya kebiasaan makan bersama. Itu jika kau tak keberatan.”  Ujar Jiyeon menjelaskan.

“Jiyeon. Namamu Jiyeon,kan?”  Joon berdiri di sisinya. Sama-sama berpegang pada pinggiran jembatan,mengarah pada kolam ikan. Dia melirik Jiyeon. Diperhatikannya wajah lugu itu.  Kelembutannya menenangkan kegelisahannya.

Tiba-tiba kesunyian yang tercipta diantara mereka mendesak Joon untuk merengkuh kegelisahan Jiyeon.

“Aku ingin melukismu.”  kalimat itu meluncur dengan ringan dari bibirnya.

Dan Jiyeon tertegun, dia menoleh namun tidak berfokus. Tatapannya jauh melewati pohon-pohon pinus di kejauhan yang tak bisa dilihatnya. Suara angin sepertinya memberikan kabar bahwa hujan akan segera turun.

“Sebaiknya kita makan malam dulu !”  Jiyeon tidak menanggapi perkataan Joon. Dia melangkah mendahului namja bersahaja itu, yang hanya mampu mengikuti langkah kecil Jiyeon dari belakangnya.

“Kau boleh duluan !”  ujar Jiyeon kemudian. Dia merasa sedikit risih dengan adanya Jon dibelakangnya. Mungkin Joon sedang mengamatinya, mungkin dia berasumsi bahwa Jiyeon gadis yang lambat.

“Tidak. Lady first !”  Joon terus memperhatikan tubuh mungil itu.

“Apa yang kau pikirkan tentang diriku ? Apa aku terlihat menyedihkan ?”

“Berapa umurmu ?”  tanya Joon tanpa mengindahkan rasa tidak percaya diri Jiyeon.

“Duapuluh. Kau ?”

“Duapuluh satu.”  jawab Joon.

“Apa kau mahasiswa ?”  tanya Jiyeon ketika dia tiba di depan pintu masuk bangunan utama.

“Ya. Apa kau sudah punya kekasih ?”  pertanyaan Joon membuat wajah Jiyeon terlihat panik. Kenapa reaksinya begitu ekstrim. Kenapa dia justru panik, seharusnya dia tersipu malu, atau merona. Apa bedanya. Tapi ini panik.

“Kalian sudah datang. Maaf, Jiyiku mungkin merepotkan. Dia memang tidak bisa melihat, tapi jangan khawatir, dia sudah hapal daerah ini. “

Joon terlihat tidak terkejut. Dia sudah tahu kalau Jiyeon buta.

“Dia sangat mengagumkan.”  puji Joon sambil mengambil langkah mendekati wanita pemilik penginapan itu.

“Dia istimewa untuk keluarga kami.”

Jiyeon buru-buru melangkah ke meja makan. Dia berusaha untuk menghindari percakapan itu.

“Dia tidak terbiasa dengan orang kota. Dia tidak pernah berbicara banyak. Saya minta maaf seandainya tadi dia kurang sopan.”

Sejak tadi sang Eomma selalu merendahkan hatinya, membuat jiwa Joon terpukul. Wanita ini mempunyai kebesaran hati seluas samudra. Dia begitu tabah dengan keadaan putrinya, namun juga tidak terlihat minder dengan kondisi Jiyeon.

“Jangan khawatir Nyonya….”  Joon terhenti karena dia belum mengenal wanita di depannya ini.

“Park. Panggil saja Ny. Park. Itu nama suami saya.”

“Baiklah Ny. Park. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa Anda tidak perlu khawatir, Jiyeon sepertinya bukan gadis manja. Dia sangat mandiri dan ramah. “

“Syukurlah !  ”  Ny. Park terlihat lega.

“Sebaiknya kita makan malam dulu!”  Ajak Tn. Park kemudian. Dia baru saja turun dari lantai dua.

Selama makan, mata Joon tidak bisa berpaling dari kelembutan Jiyeon. Gadis itu benar-benar telah mengalihkan dunianya. Apa yang ada di sana? Joon mulai bertanya-tanya tentang ketenangan gadis itu. Dia sendiri namun sepertinya dia tidak sendiri. Selalu ada yang membuat raut wajahnya diwarnai cahaya. Aura. Ya. Dia memancarkan aura yang indah.

“Joon ssi, silahkan hidangan penutupnya. Hanya puding roti caramel.” ujar Ny. Park.

Joon menerimanya dengan senang.

“Gamsamhamnida!”  Joon hanya mengambil satu potong ukuran yang paling kecil.

“Eomma, aku harus ke kamarku dulu !”  tiba-tiba Jiyeon berpamitan.

Joon menatapnya berlalu. Bibirnya tidak sanggub memanggilnya. Dari balik matanya Joon bisa merasakan getaran yang dia rasakan. Mungkin ada yang membuatnya ingin segera berlalu . Mungkin itu Joon.

Namja itu menyimpan cerita tentang malamnya sendiri. Mungkin besok dia bisa mengambil hati Jiyeon untuk dia lukis.  Pikirnya sambil melewati kolam itu lagi. Gerimis turun.

Kabut membayang diatas air kolam. Joon melihatnya dari jendela yang terbuka. Di langit tidak ada cahaya. Semua sepi, bahkan bumi hanya sanggub menikmati gemericik air yang membasahi permukaannya. Samar-samar dia melihat Jiyeon. Dia berada di sana di dalam kamarnya, dan jendelanya sama terbuka. Dia mungkin tidak bisa menatap garis-garis hujan, namun dia bisa mendengarnya, dan dia menikmatinya. Seperti yang Joon katakan tentang dirinya. Auranya menebarkan kedamaian. Begitu indah. Joon mengambil sketch booknya. Dia bisa melihatnya sedekat ini dengan hatinya.  Dia adalah getaran yang melintasi langit malam.

***

” Selamat Pagi Jiyeon ! ”  sapa sebuah suara.

“Selamat Pagi !”  Balas Jiyeon.

Suara itu membangunkan tidur Joon.  Dan ketika dia membuka mata, yang dilihatnya adalah sebentuk sketsa wajah Jiyeon yang semalam dilukisnya. Belum sempurna.

Joon membuka jendela kamarnya dan melihat Jiyeon sedang merapikan beberapa gentong besar yang berisi fermentasi bumbu-bumbu masakan. Rupanya keluarga Park masih melakukan kegiatan yang dulu dilakukan oleh para leluhur.

“Pagi !”  sapa Joon kemudian.

Jiyeon hanya memiringkan kepalanya. Dia tersenyum tipis.

“Pagi !”  balasnya.

“Sedang apa ?”  tanya Joon. Matanya masih meneliti wajah itu. Dengan carbon 8b nya dia memindahkan bentuk cantik itu ke dalam sketsanya.

“Tidak.”

Jawaban macam apa itu ? pikir Joon dalam hati. Tapi biarlah. Asalkan dia bisa lebih lama berdiri di sana.

“Jiyeon, sepertinya selimutnya lembab. Aku membutuhkan selimut yang kering. Tadi malam aku kedinginan. ”  ujar Joon mengada-ada.

“Benarkah ? Biar aku ambil. Nanti aku ganti dengan selimut yang bersih. Maafkan atas ketidak nyamanannya.”  Jiyeon membungkuk.

Lalu langkah kecilnya berjalan menuju ke arah depan. Dia menaiki teras dan menunggu Joon membuka pintu di sana.

Bergegas namja berwajah tirus itu membukakan pintu. Dia menyambut Jiyeon dengan senyum, walau gadis itu tidak bisa melihat senyumnya dia tetap tersenyum dengan indahnya.

“maaf, aku di sini saja. ”  ujarnya di depan pintu. Joon tercekat sebentar. Jadi dia tidak mau masuk ke dalam.

“Oh, oke! aku ambilkan dulu selimutnya.”  Joon berusaha mengulur waktu dengan berpura-pura merapikan beberapa barangnya. Dia terus menatap wajah Jiyeon.  Dia melihat Jiyeon tersenyum. Hei, kenapa dia tersenyum.

“Aku tidak tahu apa maksudmu, tapi tolong jangan membuatku seperti orang bodoh. Aku tahu kau sedang memperhatikanku. “

Joon terkesan dengan perkataan Jiyeon. Bagaimana dia bisa tahu.

“Kakimu melangkah ke dalam, kau sedang duduk menghadap ke arahku. Kau sama sekali tidak mengambil selimut itu.”

“Apa kau bisa melihatku ?”

“Aku mendengarmu. Kau tahu, aku mendengar saat kau duduk, saat kau menumpangkan kaki kirimu pada kaki kananmu, dan tanganmu mengambil benda dari dalam tasmu. Apapun itu, yang jelas bukan sedang mengambilkan selimut itu untukku.”

“Masuklah !”  ujar Joon tenang. Dia masih sibuk membuat sketsa gadis berambut panjang itu. Dia menyadari hal itu, kelebihan yang Jiyeon miliki. Pendengarannya setajam ultrasonik.

“Bukankah aku belum mengijinkanmu untuk melukisku.”  protesnya.

“Aku belum  melukismu. Ini masih sketsa kasar. ” bantah Joon.

“Apa bedanya. Nanti, besok, lusa…kau pasti akan melakukannya.”

Joon mendesah. Dia berdiri mengambil langkahnya pada gadis yang berdiri di depan pintu itu.

“Aku menemukanmu…”  ujar Joon kemudian.

Jiyeon mengerutkan dahinya. Apa maksudnya Joon mengatakan hal itu.

tbc.

a/n

Joon…dia cowok yang tenang. Dia sangat menguasai keadaan, sopan, dan ya, aku suka Joon di sini, ga kayak di full moon, yadong! Tapi juga sedikit playboy sih, wajar lah sifat dasar cowok emang begitoh!

Jiyeon…itu lembut,  percaya diri, dia tidak pendiam, tidak oemalu, tapi dia sedikit berhati-hati. Dia tidak mudah mempercayai orang.

Ga bahas masalah yeojingnya dulu ya!

Kayaknya diskripsi tentang karakter mereka begitu. Masih pengenalan. Sabar ya…!

oke, see u …

next ALWAYS…

peace, alana

 

28 thoughts on “TELL HIM 1

    • Aduh aq jadi serba salah baca komentarmu, masa iya begitu. * terbang nih *, tetep aja semua masih aku pelajari. Takut ada kesalahan dalam penulisan .
      Btw makasih!

    • Makaudnya..dia sudah menemukan apa yang…kubocorin ya…
      Tugasnya…melukis suara.
      Pengertian suara …getaran…ah, ntar aja deh! Jadinya panjang banhet kalo aku tulis di sini! Wkwkwk

  1. Aigo bc ini dlm keadaan tau joon out mblaq.. huff ga akan ada moment joon jiyi lg di panggung / mrk ktmu lg di acara musik.. aigo.. ottokhae? Keunde hebat ya jiyi bs tau hanya dr pendengaranx aja.. kekkeke.. di tunggu next nya.. mdh2an joon ga skitin jiyi ne??

  2. suka bnget sma karakter joon sma jiyeonnya :) ternyata disini jiyeonnya ga bisa melihat, hah tpi kren bnget pendengaran jiyeon bnar2 tajam. Pokoknya ffnya kren, ditunggu bnget ya next chapternya :D

  3. “yadong! Tapi juga sedikit playboy sih, wajar lah sifat dasar cowok emang begitoh!” bener banget lan -_-
    hashhh,, ini ff joon dipost pas bgt ama aku yg baru aja denger berita dia keluar dr mblaq :3
    jiyeon buta toh… tp auranya ttp gak akan tertutupi. hehehew

    • Ya, sekarang authornya lagi banyak on going story jd agak mentoq waktunya. Maaf ya, iya nanti akan kupertanggung jawabkan deh! Makasih ya

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s