[Oneshot] WISHPER!!!!

Cafe-download-30830401122326

Title     : Whisper

Author : Chunniest

Genre : Horror, friendship

Length : Oneshoot

Cast :

* Xi Luhan (EXO)

* Do Kyungsoo as D.O (EXO)

* Choi Minho (Shinee)

* Lee Jinki as Onew (Shinee)

Disarankan untuk yang takut jangan membaca ff ini soalnya authornya saja merinding buatnya apalagi habis selesai buat ff ini Author malah mengalami hal yang sama dengan yang Luhan rasakan. Happy reading!!!!^_^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

#  #  #  #  #

 

Sebuah bus melaju melewati jalan yang berkelok-kelok menuju gunung Seorak. Di dalam bus, terlihat para siswa Hanyoung High School tengah sibuk dengan kegiatan mereka sendiri-sendiri. Terlihat beberapa siswa sibuk makan cemilan mereka, ada juga yang sibuk mengobrol dengan teman sebangkunya, adapula siswa yang asyik menjahili siswa lainnya.

Seorang siswa yang duduk di bagian belakang terlihat asyik mendengarkan musik dari earphone di telinganya. Laki-laki berambut coklat gelap itu menutup,matanya menikmati musik mellow yang didengarnya.

“Luhan.” Laki-laki itu membuka matanya saat mendengar namanya dipanggil.

Luhan menoleh ke samping melihat Minho dan Onew sibuk menonton video di I-Padnya. Luhan berusaha melupakan panggilan tadi dan kembali menutup mata mendengar musik yang masih mengalun di earphonenya. Luhan bergumam mengikuti lagu Mideohyo yang dinyanyikan oleh TVXQ.

“Luhan.” Seketika tubuh Luhan terduduk tegap membuat Minho dan Onew menatapnya bingung.

Luhan melepaskan earphone di telinganya dan menoleh pada kedua sahabatnya.

“Apa kalian memanggilku?” Tanya Luhan dan kedua sahabatnya itu bersamaan menggeleng.

“Tidak kami dari tadi melihat video.” Jawab Onew.

“Tapi tadi aku mendengar ada seseorang yang memanggilku.”

“Mungkin kau sedang bermimpi Luhan-ah. Dari tadi kulihat kau menutup matamu terus.” Pikir Onew.

“Onew benar mungkin kau hanya bermimpi Luhan.” Timpal Minho.

Luhan kembali menyandarkan tubuhnya dan mulai berpikir. Seingat laki-laki itu sejak tadi dia tidak tertidur. Bahkan dia ingat betul lagu apa saja yang dia dengarkan sejak tadi. Terdengar suara ban berdecit diikuti laju bus yang terhenti. Lalu guru Jihyo berdiri di tengah bus.

“Kita sudah sampai. Keluar dengan teratur ne jangan berdesakan arrasseo?” Perintah guru Jihyo.

Ne Seonsaengnim.” Jawab semua murid bersamaan.

Sesuai perintah guru Jihyo, semua murid turun dengan teratur. Luhan mendapat giliran terakhir keluar. Sepatu Sneakers Luhan akhirnya menginjakkan tanah. Luhan mengangkat kedua tangannya meregangkan badannya yang terasa pegal akibat satu jam perjalanan yang dilewatinya. Dengan menggendong tas ransel di belakangnya, Luhan mengikuti barisan siswa menaiki jalan setapak.

“Oi Luhan bagaimana kalau nanti malam kita melakukan uji nyali?” Usul Onew merangkul bahu Luhan.

“Uji nyali? Apa maksudmu Onew?”

“Kita masuk ke dalam hutan saat tengah malam. Bagaimana?” Onew tampak antusias dengan idenya.

PLETAKK…..

Onew meringis kesakitan saat merasakan seseorang memukul kepalanya.

“Jangan aneh-aneh Onew. Nanti Jihyo seonsaengnim bisa menghukummu.” Ucap Minho berjalan di samping mereka.

“Aishhh…. Bilang saja kau takut Minho-ya.”

Minho tersenyum sinis. “Tak ada yang perlu kutakuti Onew-ah.”

“Benarkah? Lalu kenapa kau takut pada Jihyo seonsaengnim?”

“Aku tidak takut. Baiklah aku akan ikut pergi denganmu nanti malam.”

Onew tersenyum penuh kemenangan.

“Bagus. Bagaimana denganmu Luhan?” Tanya Onew pada laki-laki yang dirangkulnya.

“Baiklah, siapa takut.”

Onew menepuk bahu Luhan dengan senangnya.

“Bagus. Nanti malam kita akan berpetualang.” Semangat Onew.

 

#  #  #  #  #

 

Malam mulai larut dan kegelapan menyelimuti gunung Seorak. Sebuah api unggun tampak menerangi semua siswa yang mengelilinginya. Luhan memainkan gitarnya mengiringi beberapa teman yang menyanyikan lagu. Lagu berakhir dan Luhan berhenti memetik gitarnya.

“Sudah cukup bernyanyinya. Sebaiknya kita semua beristirahat agar besok kita bisa mulai kegiatan kita.” Ucap Siwon Seonsaengnim.

Ne, seonsaengnim.” Semua murid membubarkan diri dan kembali ke tenda masing-masing.

Luhan berjalan membawa gitar bersama Minho menuju tendanya. Tiba-tiba seseorang merangkul bahu Luhan dan Minho. Keduanya menoleh dan melihat Onew tersenyum senang.

“Setelah semua orang tertidur, kita mulai beraksi. Ok?”

Ne.” Jawab Luhan dan Minho malas.

Luhan, Minho dan Onew memasuki tenda mereka. Mereka pun merebahkan tubuh mereka berpura-pura tertidur. Luhan yang berbaring di samping mengambil ponselnya. Dahi Luhan berkerut saat melihat ponselnya tak memiliki sinyal sama sekali.

“Kenapa tidak ada sinyal?” Gumam Luhan.

“Tentu saja kita kan ada di pegunungan bodoh.” Sahut Onew yang berbaring di tengah.

Luhan mendengus kesal memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Suasana semakin lama semakin hening. Onew terduduk dan menepuk bahu Luhan dan Minho. Mereka berduapun terduduk mengikuti Onew. Sebelum keluar tenda mereka mengambil senter mereka masing-masing.

Onew menjulurkan kepalanya keluar tenda. Terlihat suasana sudah sepi bahkan api unggun yang tadi mereka gunakan sudah padam. Onew keluar dan memberi tanda pada Luhan dan Minho untuk keluar. Mereka bertiga berjalan meninggalkan perkemahan. Senterpun mereka hidupkan dan mulai berjalan memasuki hutan.

“Kau yakin kita akan masuk Onew-ah?” Tanya Luhan ragu melihat gelapnya.hutan itu.

“Tentu saja. Apa.kau mulai takut Luhan?” Sindir Onew.

“Tidak. Tentu saja tidak. Ayo kita mulai.” Luhan berjalan menyusul Onew dan Minho.

Mereka menggerakan senter mereka dan hanya terlihat pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Mereka terus memasuki hutan. Tak ada rasa takutpun di wajah Onew. Minho memegang tengkuknya dan dengan susah payah menelan ludahnya sendiri. Minho merasakan ada keanehan yang menerpa dirinya.

“Onew lebih baik kita kembali aku merasakan ada yang aneh.” Ucap Minho.

“Aisshhh… Kau cuma beralasan saja.” Onew tak memperdulikan ucapan Minho.

“Aku tidak beralasan, aku benar-benar merasakannya.”

Minho berusaha memaksa Onew untuk kembali ke tenda sedangkan Luhan mengedarkan pandangannya melihat dalam hutan itu.

“Luhan….” Terdengar suara lirih yang didengarnya saat di bus.

“Teman-teman apa kalian mendengarnya?” Tanya Luhan namun Minho dan Onew terlalu sibuk berdebat untuk mendengarkan Luhan.

Luhan mendengus kesal dan berusaha mencari asal suara itu.

“Luhan….” Luhan kembali mendengar suara itu.

Luhan terus melangkahkan kakinya mencari asal suara itu. Disorotkan senternya ke depan namun hanya pepohonan yang terlihat.

“Luhan….” Luhan menggerutu saat tak kunjung menemukan asal suara itu.

“Siapa kau? Keluarlah? Jangan bermain-main dengan lelucon seperti ini.” Kesal Luhan.

Luhan kembali berjalan dan tiba-tiba kakinya terpeleset menuju jalanan menurun.

“UUUUWWWAAAHHHHH…….” Teriak Luhan dengan tubuhnya yang berguling-guling meluncur turun.

Luhan meringis kesakitan saat tulang-tulangnya terasa sakit ketika terbentur batu. Luhan juga merasakan kulit-kulitnya tergores ranting-ranting pohon yang berjatuhan.

DUUGGGHHH…..

Dengan keras kepala Luhan terbentur sebuah batu. Luhan memegang kepalanya yang terasa sakit.

“Luhan… Dimana kau….” Terdengar teriakan Minho dan Onew mendekat.

Luhan berusaha mengambil senternya dan menggerak-gerakkannya memberi tanda pada kedua sahabatnya itu. Mata Luhan terasa semakin gelap. Tiba-tiba Luhan melihat bayangan putih terbang diatasnya. Diikuti bayangan putih lain. Luhan menutup matanya dan saat membukanya kembali bayangan putih itu semakin banyak membuat Luhan semakin takut. Namun Luhan tak bisa bertahan lama, mata laki-laki itu terasa berat hingga tertutup.

Minho dan Onew melihat sinar senter dari Luhan. Keduanya menyinari bawah jurang dan keduanya terpekik kaget melihat tubuh Luhan terbaring tak sadarkan diri.

“Luhan.” Panggil Minho dan Onew menghampiri tubuh Luhan.

“Luhan. Sadarlah.” Ucap Onew mengguncangkan tubuh Luhan.

“Sial. Sudah kubilang kan kita harus kembali. Lihat sekarang akibatnya.” Ucap Minho menyalahkan Onew.

“Sekarang bukan saatnya menyalahkan. Kita harus bawa Luhan sekarang.” Onew dan Minho menarik lengan Luhan dan berdiri kembali menuju tenda.

Dengan susah payah keduanya membawa tubuh Luhan yang pingsan melewati hutan. Akhirnya mereka bisa keluar dari hutan dan sinar bulanpun meyambut mereka.

“Siwon Seonsaengnim…. Jihyo Seonsaengnim….” Panggil Onew.

Tak lama kemudian dari tenda yang berbeda guru Jihyo dan guru Siwon keluar dari tenda. Dan betapa terkejutnya mereka melihat tubuh Luhan yang pingsan dengan darah terus mengalir di kepala Luhan. Kedua guru itu langsung menghampiri Luhan yang di baringkan di tanah.

“Apa yang terjadi?” Panik guru Jihyo.

“Ini semua salahku seonsaengnim. Aku mengajak Luhan ke hutan. Dan tiba-tiba Luhan terjatuh dan kepalanya terbentur batu.” Sesal Onew.

“Aku akan membawanya ke rumah sakit.” Ucap guru Siwon mengangkat tubuh Luhan.

“Tapi bagaimana dengan yang lain?” Tanya guru Jihyo.

“Kau tetap membimbing mereka. Besok aku akan segera kembali. Dan kalian berdua cepat kembali ketenda kalian.”

“Baik seonsaengnim.” Ucap Onew dan Minho bersamaan.

Siwon membawa tubuh Luhan ke dalam mobilnya. Siwon membaringkan tubuh Luhan di kursi penumpang. Lalu dirinya segera duduk di kursi kemudi melajukan mobilnya. Guru Jihyo, Minho dan Onew hanya bisa memandang khawatir kepergian guru Siwon dan Luhan.

“Kenapa kalian masih disini? Bukankah kalian.dengar apa yang Siwon seonsaengnim katakan?” Marah guru Jihyo melihat Minho dan Onew masih berdiri di sampingnya.

“Baik Seonsaengnim.” Jawab One dan Minho lalu kembali ke tenda.

 

#  #  #  #  #

 

Mobil guru Siwon terus melaju dengan kecepatan tinggi, dia semakin khawatir akan keadaan Luhan yang terbaring di kursi penumpang. Sementara Luhan yang terbaring di kursi penumpang , mendengar suara yang terus memanggilnya

‘Luhan … Luhan ..Luhan ‘

Suara itu terus mengganggu Luhan, hingga Luhan terbangun, saat Luhan terbangun seperti ada yang menarik kakinya keluar mobil, tentu saja Luhan panik padahal mobil masih berjalan. Guru Siwon tidak memperhatikan Luhan, dan terus mengemudikan mobil

Seonsaengnim! Seonsaengnim!

Panggilan dari Luhan tidak di pedulikan oleh guru Siwon , guru Siwon terus saja mengemudikan mobil dengan kencang. Tarikan di kaki Luhan juga semakin kencang, membuat Luhan menarik baju guru Siwon, akhirnya guru itu berbalik dan bukan wajah guru Siwon yang kelihatan muda dan tampan, tapi wajah guru Siwon yang menyeramkan, penuh dengan darah, wajahnya yang biasanya mulus, sekarang terlihat keriput penuh lebam dan darah mengerikan. Ketakutan Luhan melepaskan pegangannya.

 

#  #  #  #  #

 

“TIDAAAAAAAK!”

Luhan terbangun , dan sudah berada di rumah sakit. Tangannya sudah di rekatkan di infus.

Guru Siwon yang berada di sampingnya langsung menghampiri Luhan,

“Luhan, gwencanhayo?”

“Jangan mendekat…. Siapa kau?” Tanya Luhan ketakutan.

Guru Siwon tersenyum. “Ini aku Siwon Seonsaengnim. Apa kau lupa padaku Luhan?”

Luhan mencoba menenangkan dirinya dan mengamati Siwon dengan seksama. Laki-laki itu terlihat seperti guru yang selalu di kenalinya, berbeda sekali dengan wajah menyeramkan gurunya itu saat dalam mimpinya.

“Siwon Seonsaengnim?”

Ne. Kau tidak apa-apa? Kau tampak ketakutan?”

Luhan mengangguk. “Tadi aku melihat wajah seonsaengnim penuh dengan darah, sangat menakutkan.”

“Kau hanya bermimpi buruk sebaiknya kau beristirahat.”

“Tapi itu terlihat nyata seonsaengnim.

” Luhan, kau harus beristirahat aku rasa bukan saat yang tepat untuk kembali ke perkemahan”

Seonsaengnim …, aku mohon batalkan perkemahan ini!”

“Apa maksudmu Luhan.. Sepertinya benturan di kepalamu membuatmu paranoid, istirahat lah!”

Seonsaengnim !! Seonsangnim !!”

Teriakan Luhan di abaikan oleh guru Siwon, guru Siwon langsung keluar dan menutup pintu kamar Luhan.

Sementara Luhan, terus mengkhawatirkan sahabatnya karena dia merasakan perasaan yang tidak enak.

 

#  #  #  #  #

 

“Syukurlah luka di kepalamu tidak apa-apa Luhan.” Ibu Luhan bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan dari dokter yang mengatakan tidak ada yang perlu di khawatirkan.

Luhan yang masih memikirkan mimpinya tadi hanya memainkan makanannya tanpa berniat memakannya. Mata Luhan tampak kosong tak memperhatikan ibunya yang terus berceloteh menceramahin Luhan yang tak berhati-hati.

“Luhan…” Tubuh Luhan menegang seketika mendengar bisikan itu kembali.

Tiba-tiba jiwa Luhan seakan di tarik dari tubuhnya. Entah bagaimana jiwa Luhan bisa sampai di perkemahan. Hari sudah gelap dan tampak murid lain sudah masuk ke tenda masing-masing.

Luhan mengedarkan pandangannya mencari Minho dan Onew namun pandangannya terhenti saat melihat sosok transparan berdiri tak jauh darinya. Sosok wanita itu memakai hanbok putih dengan rambutnya tergerai berantakan. Wajahnya terlihat pucat meskipun transparan.

Wanita itu tak mengalihkan tatapannya dari sebuah tenda. Luhan mengikuti arah pandangnya dan melihat guru Jihyo keluar dari tenda. Jihyo berjalan memeriksa setiap tenda. Sosok wanita itu mengikuti guru Jihyo dari belakang. Luhan hanya bisa memandangnya dari tempatnya berdiri.

Luhan terkejut melihat tatapan penuh kebencian terlihat di mata sosok wanita itu. Guru Jihyo berhenti melangkah dan meraba tengkuknya.

“Kenapa aku merinding begini? Lebih baik aku tidur.” Gumam guru Jihyo.

“Akan kubalas perbuatanmu padaku Song Jihyo.” Langkah guru Jihyo terhenti mendengar sebuah bisikan.

Guru Jihyo melihat sekelilingnya namun tak ada seorangpun selain dirinya. Guru Jihyo mempercepat langkahnya menuju tendanya. Langkah guru Jihyo kembali terhenti saat melihat tulisan tiba-tiba muncul di atas tanah.

Kau sudah membuangku ke sungai Song Jihyo.

Seketika wajah Jihyo memucat. Dengan kasar guru Jihyo menghapus tulisan itu.

“Tidak…. Tidak mungkin… Kau sudah mati Kyunghee-ah… Itu tidak mungkin kau.” Guru Jihyo berlari ke tendanya. Berkali-kali dia menoleh kebelakang namun tetap tidak ada siapapun.

“Song Jihyo….” Luhan bisa melihat sosok wanita itu melayang di samping guru Jihyo dan berbisik memanggil guru Jihyo.

Dengan sangat ketakutan guru Jihyo memasuki tenda dan segera menutup tendanya.

“Jihyo…” Bisikan itu kembali terdengar.

Guru Jihyo duduk sambil memeluk lututnya sedangkan kedua tangannya menutup telinganya berharap bisikan itu menghilang. Guru Jihyo semakin ketakutan saat merasakan tendanya bergetar dengn sendirinya.

“Hentikan Kyunghee-ah… Maafkan aku… Maafkan aku…” Guru Jihyo menangis dan terus menggelengkan kepalanya.

Tiba-tiba getaran di tenda guru Jihyo berhenti. Guru Jihyo melepaskan telinganya dan tak lagi mendengar bisikan seseorang memanggil namanya. Guru Jihyo menelan ludahnya dengan susah payah. Dia melihat sekeliling tenda tak ada bayangan seorangpun. Tangan guru Jihyo gemetar saat membuka tendanya. Keadaan di luar tampak sepi dan guru Jihyo memberanikan menjulurkan kepalanya. Guru Jihyo terlonjak kaget saat melihat wajah pucat Kyunghee tepat berada di.hadapannya.

“AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU.” Amaraha Kyunghee.

Tiba-tiba tenda itu ambruk dan membungkus tubuh guru Jihyo. Guru Jihyo berteriak meminta tolong namun mulutnya terbekap tendanya yang sudah membungkus tubuh guru Jihyo meronta namun tenda itu semakin erat membungkus tubuhnya. Guru Jihyo mulai kehabisan nafas saat dadanya terasa tertekan.

Luhan masih terpaku di tempatnya. Luhan bisa merasakan guru Jihyo semakin lemas dan hampir tak sadarkan diri. Luhan tak bisa berdiam diri melihat sosok wanita itu hendak membunuh gurunya.

“HENTIKAN!!!” Teriak Luhan.

Seketika Kyunghee menoleh pada Luhan. Kedua sudut bibirnya mengembangkan senyuman yang membuat Luhan merinding ketakutan. Kyunghee melepaskan guru Jihyo dan terbang ke arah Luhan. Tiba-tiba Luhan merasakan seseorang menariknya kembali ke tubuhnya yang pingsan.

“HHUUUHHH…” Luhan terbangun dan menghirup udara yang menipis di tubuhnya. Nafas Luhan terengah-engah dan keringatpun membasahi bajunya.

“Luhan… Kau tidak apa-apa?” Cemas ibunya menghampiri Luhan.

Luhan menoleh ke jendela hari sudah sore, dan Luhan teringat penglihatannya tadi terjadi saat malam hari.

“Eomma, antarkan aku ke perkemahan.” Pinta Luhan memandamg memohon pada ibunya.

“MWO? Luhan kau baru saja terluka di sana bagaimana bisa kau berpikir eomma mau mengantarkanmu ke sana?”

“Aku harus menyelamatkan Jihyo seonsaengnim eomma.”

“Apa maksudmu Luhan?”

“Aku tidak bisa menjelaskannya eomma. Ini terdengar gila. Aku mohon eomma antarkan aku ke sana.” Pinta Luhan dengan tatapan memohonnya.

Ibu Luhan terdiam tampak berpikir. Wanita itu tak ingin putranya terluka kembali namun dia juga tidak ingin mengabaikan orang yang butuh pertolongan putranya.

 

#  #  #  #  #

 

“Yuppp… Saatnya istirahat. Hari ini sangat melelahkan bukan?” Tanya guru Jihyo.

“Tentu saja seonsaengnim siang tadi kita habis berjalan jauh sekali, kakiku terasa mau patah.” Keluh Onew.

TUKK….

Minho memberikan Onew sebuah jitakan.

“Kau ini terlalu berlebihan Onew-ah.” Guru Jihyo tertawa melihat kedua muridnya itu.

Tiba-tiba tawa wanita itu terhenti saat merasakan angin berhembus membuat tengkuknya merinding.

“Ada apa seonsaengnim?” Tanya Minho menyadari ada yang aneh dengan gurunya.

“Tidak.. Tidak ada apa-apa. Sekarang matikan api unggunnya dan kembali ke tenda kalian masing-masing.” Perintah guru Jihyo.

Ne seonsaengnim.” Jawab murid-murid bersamaan.

Suho sang ketua kelas menyiram api unggun itu, sedangkan murid-murid lain memasuki tenda mereka masing-masing. Guru Jihyo juga masuk ke dalam tendanya. Dalam tenda guru Jihyo memasukkan tubuhnya ke dalam selimut berusaha untuk tidur. Wanita itu membalikkan badan merasa tidak nyaman. Mata guru Jihyo tak kunjung mengantuk juga.

Suasana sangat hening namun guru Jihyo belum juga mengantuk. Akhirnya guru Jihyo memutuskan keluar memeriksa tenda murid-muridnya. Jihyo tersenyum melihat posisi murid-muridnya saat tertidur. Guru Jihyo memegang tengkuknya yang merasa merinding.

 

#  #  #  #  #

 

“Sial..” Maki Luhan saat tak bisa menelpon Onew dan Minho.

“Sebenarnya apa yang terjadi Luhan?” Tanya ibunya yang sedang menyetir.

“Mungkin ini terdengar gila eomma, tapi aku melihatnya sendiri saat Jihyo seonsaengnim di bunuh.”

“Siapa pembunuhnya?”

“Apa eomma akan percaya jika aku mengatakan pembunuhnya adalah arwah penasaran yang sedang membalas dendam?”

Ibu Luhan terdiam. Logikanya mengatakan untuk tak percaya namun hatinya mempercayai putranya yang selalu jujur.

Hari sudah gelap saat mobil ibu Luhan memasuki perkemahan gunung Seorak. Luhan segera keluar dan berlari ke perkemahan. Perkemahan sudah sepi seperti saat jiwa Lugan kemari. Luhan terkejut saat tak melihat tenda Jihyo seonsaengnim.

“Jihyo seonsaengnim…. Jihyo Seonsaengnim.” Panggil Luhan.

Semua murid termasuk guru Siwon keluar dari tenda. Mereka semua terkejut melihat Luhan masih memakai baju rumah sakit dan perban tampak membelit kepalanya.

“Luhan apa yang kau lakukan di sini?” Tanya guru Siwon menghampirinya begitu juga dengan Minho dan Onew.

“Jihyo seonsaengnim.. Di mana Jihyo seonsaengnim?” Panik Luhan.

“Jihyo seonsaengnim tentu saja di….” Ucapan guru Siwon terhenti saat melihat tenda guru Jihyo menghilang.

“Kenapa tendanya menghilang?” Bingung guru Siwon

“Pasti wanita itu.” Gumam Luhan.

“Apa maksudmu Luhan?” Tanya Minho.

Luhan terdiam mengingat penglihatannya. Saat itu Luhan tak melihat ke mna wanita itu membawa guru Jihyo.

“Luhan, apa yang terjadi? Kenapa kau bisa kemari?” Tanya guru Siwon namun Luhan masih terdiam.

Tubuh Luhan terpaku saat mengingat tulisan yang di tulis wanita itu di atas tanah.

 

Kau sudah membuangku ke sungai Song Jihyo.

 

“Sungai.. Apa disekitar sini ada sungai Siwon seonsaengnim?”

“Sungai? Di sekitar sini memang ada sungai. Tapi kenapa kau menanyakan itu?”

“Jika benar dugaanku, Jihyo seonsaengnim ada di sana. Cepat tunjukkan jalannya seonsaengnim.”

“Baiklah. Semua tetap di sini jangan pergi ke manapun.” guru Siwon berlari diikuti Luhan.

“Kau mau kemana Onew?” Tanya Minho menahan tangan Onew yang hendak pergi.

“Membantu Luhan. Apa kau mau diam saja  melihat sahabatmu kebingungan.”Akhirnya Onew dan Minho mengikuti Luhan.

Benar apa yang dikatakan guru Yunho jika ada sungai tak jauh dari perkemahan. Mereka mengerdarkan pandangan mereka menyusuri sungai. Karena hari sudah gelap sangat sulit mencarinya.

“Di sana.”Teriak Onew yang ternyata sudah sampai di pinggir Sungai.

Luhan dan guru Siwon melihat ke arah yang ditunjuk oleh Onew. Benar saja mereka melihat tubuh seseorang yang di bungkus tenda dan hampir tenggelam. Merekapun memasuki sungai yang tidak terlalu dalam.

Kepanikkan melanda Luhan tatkala melihat tubuh guru Jihyo tak bergerak sama sekali. Mereka berempat segera membuka tenda dan betapa terkejutnya mereka melihat guru Jihyo tak sadarkan diri dengan wajah yang sangat pucat bahkan bibirnyapun sudah mulai membiru.

Mereka membawa tubuh guru Jihyo ke pinggir sungai. Setelah membaringkan tubuh guru Jihyo, guru Siwon memeriksa tanda kehidupan temannya itu. Guru Siwon bisa merasakan nafas guru Jihyo meskipun sangat lemah. Guru Siwon menekan-nekan dada guru Jihyo dan memberi nafas buatan. Luhan, Minho dan Onew hanya bisa.menatap khawatir memanti kesadaran guru Jihyo. Hingga akhirnya guru Jihyo terbatuk dan mengeluarkan banyak air membuat mereka semua bernafas lega. Setelah tenang guru Jihyo menatap Luhan dan tersenyum.

“Terimakasih Luhan.” Hanya kata itulah yang terucap sebelum guru Jihyo kembali pingsan.

Luhan, guru Siwon, Minho dan Onewpun bernafas lega mendapati guru Jihyo selamat.

 

#  #  #  #  #

 

Luhan berjalan memasuki area sekolah. Banyak sekali murid-murid berlalu lalang dan Luhanpun dengan santainya berjalan menuju kelasnya.

“Luhan.”

Luhan menoleh dan melihat Onew dan Minho berlari menghampirinya. Dengan semangat Onew merangkul bahu Luhan.

“Kau sudah sembuh?” Semangat Onew seperti biasa.

“Jika belum tentu saja dokter tidak mengijinkanku pulang.”

Onewpun memeluk Luhan erat sedangkan Luhan dengan risih berusaha melepaskan pelukan Onew.

“Senangmya kau kembali.”

“YA!!! Lepaskan aku, aku tidak mau  semua mencapku aneh oke?” Kesal Luhan berhasil melepaskan pelukan Onew.

Luhan merapikan seragamnya yang sedikit kusut akibat ulah Onew, sedangkan Minho hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua sahabatnya.

“Luhan-ah. Sebenarnya ada pertanyaan yang mengganjalku sejak kemarin.” Tanya Minho mengalihkan perhatian Luhan.

“Hmm?”

“Bagaiamana bisa kau tahu Jihyo seonsaengnim dalam bahaya?”

Luhan terkejut mendengar pertanyaan Minho. Dia melihat Minho dan Onew siap mendengar ceritanya.

“Mungkin sebaiknya aku tidak menceritakannya pada kalian.” Ucap Luhan meninggalkan kedua sahabatnya yang kecewa.

“Wae? Kau tidak mempercayai kami?” Tany Onew melingkarkan tangannya di bahu Luhan sedangkan  Minho mengikuti mereka di samping.

“Bukan seperti itu hanya saja ini terdengar gila. Aku tidak yakin kalian akan percaya.”

Seketika Onew tertawa dan menepuk-nepuk bahu Luhan.

“Aigo… Luhan-ah apa kau tidak ingat bukankah kita selalu tertarik hal-hal gila bukan?”

“Onew benar, jadi katakanlah.” Timpal Minho.

Luhan menghela nafas.

“Baiklah sebenarnya aku tidak tahu bagaimana caranya tiba-tiba aku bisa berada dalam perkemahan dan melihat langsung sosok wanita arwah penasaran melampiaskan dendamnya pada Jihyo seonsaengnim.”

Onew dan Minho ternganga mendengar cerita Luhan.

“Melampiaskan dendam? Memang apa yang Jihyo seonsaengnim lakukan hingga wanita itu ingin balas dendam?” Gumam Minho penasaran.

“Wanita arwah penasaran itu mengatakan Jihyo seonsaengnim telah membunuhnya dan menenggelamkannya kesungai.”

“MWO?” Kaget Onew dan Minho.

“Apa karena itu Jihyo Seonsaengnim mengundurkan diri dari sekokah ini?” Gumam Onew.

“Mengundurkan diri?” Kali ini giliran Luhan yang terkejut

“Ne. Kudengar hari ini Jihyo Seonsaengnim mengundurkan diri. Aku rasa alasannya karena kejadian itu.”

Luhan dan Minho mengangguk menyetujui ucapan Onew.

“Aku rasa kau benar. Dan demi kebaikan Jihyo seonsaengnim, jangan beritahu kejadian ini pada siapapun ne?”

“Ne.” Jawab Onew dan Minho bersamaan.

Mereka bertigapun berjalan menuju kelas mereka tanpa mereka sadari seseorang mengamati mereka dari balik pohon. Dia menghela nafas sebelum akhirnya menghilang terbawa angin.

 

#  #  #  #  #

 

Jihyo mengulurkan tangannya memgambil cangkir putih dan meminum kopi yang ada di dalamnya. Terlihat jelas dia begitu ketakutan hingga tangannya gemetar. Jihyo kembali meletakkan cangkir itu dan seketika tatapannya beralih ke arah pintu saat terdengar bel berdenting. Seorang laki-laki tersenyum ke arahnya dan menghampirinya.

“Sudah lama tidak bertemu dan tiba-tiba kau memintaku untuk bertemu. Apa kau merindukanku Jihyo-ya?”

“Hentikan bualan Jungsoo-ah. Kau tahu aku tidak merindukanmu.”

“Cckkcckk… Apa hatimu masih dibutakan guru sok ganteng itu?”

Jihyo mendengus tak percaya. “Siwon Oppa memang ganteng Jungsoo-ah.”

“Kau mengundangku kemari tidak untuk mendengarmu memuji kekasih barumu itu kan?”

Jihyo menghela nafas. Jungsoo benar dia mengundang laki-laki itu bukan untuk alasan itu. Tiba-tiba ingatan peristiwa dua hari lalu menelusup ke pikiran wanita itu membuatnya kembali ketakutan.

“Kyunghee kembali Jungsoo-ah, dia bahkan hendak membunuhku.”

Tubuh Jungsoo membeku mendengar nama seseorang yang sudah lama dikubur dihatinya. Tangannya mengepal mengingat siapa Kyunghee itu. Tiba-tiba Jungsoo tertawa membuat Jihyo bingung.

“Jangan mengigau Jihyo-ah. Kyunghee sudah lama mati, bagaimana bisa kau mengatakan dia hendak membunuhmu?”

“Kyunghee memang sudah mati tapi hantunya yang ingin membalas dendam.”

BRAK…..

Jungsoo menggebrak meja dengan sangat keras membuat semua orang yang ada di Caffe itu memandanginya.

“Jangan gila Jihyo. Hantu itu tidak nyata. Aku rasa kau harus ke psikiater Jihyo-ah.”

Jihyo merasa kesal laki-laki dihadapannya menganggapnya gila.

“Dua hari lalu dia mendatangiku dan terus menghantuiku, dia juga menenggelamkan aku seperti kita dulu.”

“SSTTTT…..”  Jungsoo menghentikan ucapan Jihyo tak ingin wanita itu membongkar kebusukannya pada orang lain.

“Bodoh!! Apa kau tahu jika kau mengatakannya pada semua orang kita tidak akan lagi berada disini? Bahkan kaupun tidak akan menikah dengan Siwon. Aku rasa kau semakin gila Jihyonya.”

Jungsoo hendak pergi meninggalkan Jihyo, namun lamgkahnya terhenti saat mendengar ucapan Jihyo.

“Jika aku jadi Kyunghee aku pasti juga akan membunuhmu Jungie Oppa.”

Tubuh Jungsoo membeku mendengar panggilan itu. Hanya satu orang yang memanggilnya seperti itu. Dengan ragu Jungsoo membalikkan tubuhnya dan dia kembali melihat ke arah Jihyo. Jungsoo melihat Jihyo menatapnya tajam dan salah satu bibirnya terangkat membentuk senyuman yang begitu menakutkan. Jungsoo melangkah mundur dan terjatuh tanpa mengalihkan tatapannya dari Jihyo. Tatapan Jihyo sama persis dengan tatapan Kyunghee saat terakhir kali dia menatapnya.

Jungsoo menggelengkan kepalanya keras berharap hal itu tidak nyata. Saat kembali menatap Jihyo, senyuman sinis dan tatapan tajam itu tak lagi terlihat. Saat ini hanyalah tatapan bingung Jihyo yang terlihat.

“Kau tidak apa-apa Jungsoo-ah?” Tanya Jihyo.

Jungsoo segera berdiri dan berlari meninggalkan tempat itu tanpa menjawab pertanyaan Jihyo.

 

#  #  #  #  #

 

Dalam kelas, guru Sungmin menerangkan rumus matematika yang begitu membosankan bagi murid-murid termasuk Luhan. Di kursi belakang Luhan mendengarkan penjelasan guru Sungmin dengan setengah hati. Bahkan pemuda itu tak dapat menahan kantuk hingga terkadang matanya terpejam tanpa diketahui guru Sungmin.

“Luhan…..”

Luhan begitu terkejut mendengar suara panggilan itu. Tiba-tiba mata Luhan begitu berat dan akhirnya menutup. Jiwa Luhanpun lagi-lagi keluar dari tubuhnya dan sampai di sebuah kamar mayat. Luhan melihat sekeliling tak ada satu orangpun yang ada hanyalah mayat-mayat yang tergeletak dan ditutupi kain putih.

CKLEK….

Sebuah pintu terbuka dan terlihat Jungsoo memasuki ruangan itu. Tatapan Luhan beralih pada papan diatas pintu itu bertuliskan ‘Kamar Mayat Rumah Sakit Bomin’.

“Rumah sakit Bomin? Bagaimana aku bisa di sini? Apa hal ini terjadi lagi?” Pikir Luhan.

Luhanpun menelusuri sekeliling dan melihat jam menunjukkan jam 1 siang.

Tiba-tiba pintu kembali terbuka dan seorang perawat menarik ranjang masuk ke dalam ruang mayat.

“Selamat siang Jungsoo-ssi.” Sapa perawat itu.

“Selamat siang suster Yoona. Jadi ada apa dengan pasien ini?”

“Kecelakaan dan meninggal di tempat. Keluarganya ingin mayat gadis ini dikremasi.”

“Baiklah akan aku lakukan.”

“Tapi Jungsoo-ssi, sebaiknya anda bersihkan dulu tubuhnya banyak sekali kaca yang menusuk kulit gadis ini.”

“Ne, terimakasih suster Yoona.”

“Ne.”

Suster itu segera meninggalkan Jungsoo untuk mulai mengerjakan tugasnya. Luhan kembali mengamati sekeliling dan diapun terkejut melihat sosok arwah wanita yang dilihatnya tempo hari muncul kembali. Wanita itu menatap balik Luhan membuat Luhan merasakan ketakutan. Wanita itu tidak menyerangnya seperti yang di lakukan wanita itu saat di perkemahan di justru tersenyum yang seolah-olah mengatakan pada Luhan ‘Lihatlah’.

Wanita itu menghampiri Jungsoo yang sedang mencabut kaca-kaca yang menusuk jasad gadis itu. Tubuh Luhan seakan tertahan tak bisa bergerak sedikitpun. Wanita itu membaringkan tubuhnya di atas jasad gadis itu dan seketika tubuh transparannya menghilang ke dalam jasad gadis itu. Seketika mata gadis itu terbuka membuat Jungsoo terlonjak kaget dan tanpa sengaja menjatuhkan peralatannya. Gadis itu terbangun dan turun dari ranjang. Gadis itu tersenyum sinis pada Jungsoo.

“Apa kau merindukanku Jungie Oppa?”

Tubuh Jungsoo mematung mendengar panggilan itu. Wajahnya seketika memucat melihat gadis yang berlumuran darah itu menatapnya tajam, tatapan yang sering dilihatmya dulu.

“Tidak… Itu tidak mungkin kau Kyunghee-ah… Kau sudah mati, itu tidak mungkin kau.”

“Memang siapa lagi yang memanggilmu Jungie Oppa selain aku Oppa?”

Mata Jungsoo membulat terkejut, diapun melangkah mundur. Tiba-tiba kakinya melemah tak bisa menahan tubuhnya hingga terjatuh ke lantai. Gadis yang sudah dirasuki Kyunghee itupun mendekati Jungsoo yang mulai ketakutan. Laki-laki itupun berusaha mundur menghindari gadis itu.

“Ma-mau apa kau Kyunghee?”

Kali ini Kyunghee menunjukkan senyum penuh kemenangan atas intimidasi yang dilakukamnya pada Jungsoo.

“Yang kuinginkan adalah kau merasakan sakit yang kurasakan atas perbuatanmu Oppa. Demi wanita bermarga Song itu kau tega menyingkirkanku bukan? Dan sekarang aku akan akan melakukan hal yang sama.”

Angin berhembus menerpa tubuh gadis itu dari belakang dan seketika semua serpihan kaca-kaca  keluar dari tubuh gadis itu. Jungsoo semakin ketakutan melihatnya.

“Jangan kau lakukan itu Kyunghee-ah aku mohon.”

“HUH? Dulu aku juga melakukan hal yang sama Oppa, aku memohon padamu untuk tak membunuhku tapi kau tetap melakukamnya.”

“Ma-Maafkan aku Kyunghee-ah… Aku mohon hentikan.”

Kyunghee menatap Jungsoo lalu tatapannya berubah melembut. Serpihan-serpihan kacapun jatuh ke lantai menimbulkan bunyi bergelinting. Jungsoo menatap gadis yang mendekatinya. Laki-laki itupun semakin ketakutan dan bergerak mundur namun sayang tubuhnya menabrak dinding membuatnya terpojok. Wajah Jungsoo semakin pucat dan terlihat sangat ketakutan.

“Kyunghee-ah….” Panggil Jungsoo lebih lembut.

Luhan bisa melihat tatapan Kyunghee melembut tidak menunjukkam hasrat untuk membunuhnya. Kyunghee mengulurkan kedua tangannya seakan ingin menangkup kedua pipi Jungsoo. Tiba-tiba tatapan Kyunghee kembali tajam dan kedua tangannya mencekik leher Jungsoo.

“Kyu…. Kyung… Hee…” Panggil Jungsoo tercekik.

Kaca-kaca yang semula jatuh kembali melayang dan mengarah ke arah laki-laki itu.

“Hentikan.” Cegah Luhan namun wanita itu hanya tersenyum sinis dan melepaskan cekikannya.

“Ingat apa yang kauperbuat padaku dulu Jungie Oppa?” Ucap Kyunghee berjalan mundur.

“Jangan Kyunghee kumohon.”

Serpihan-serpihan kaca itu dengan cepat menancap ketubuh Jungsoo membuat laki-laki itu merintih kesakitan. Luhan melihat Kyunghee tersenyum puas. Wajah Jungsoo berubah pucat dan tampak sangat kesakitan.

“Apa kau juga ingat tali ini Jungie Oppa?”

Entah bagaimana sebuah tali sudah berada di tangan Kyunghee. Luhan tak habis pikir tidakkah serpihan kaca itu sudah sangat menyiksa Jungsoo lalu apalagi yang wanita itu inginkan?

Jungsoo begitu kaget melihat tali ditangan Kyunghee. Laki-laki itu tahu persis tali apa itu.

“Dulu kau selalu mengikatku dengan ini bukan Oppa dan sekarang aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan.”

Luhan terkejut mendengar ucapan Kyunghee. Pemuda itu tak menyangka semasa wanita itu hidup Jungsoo tega mengikat wanita itu. Luhan begitu penasaran dengan apa yang terjadi namun dia tidak tahu bagaimana cara mengetahuinya.

“AAAHHHH…..” Teriakan Jungsoo menyadarkan Luhan.

Luhan melihat tubuh Jungsoo tengah dililit tali. Tali itu begitu kencang hingga membuat tubuhnya terasa remuk bagaikan dililit ular piton yang besar.

“CUKUP!!!” Tanpa sadar Luhan menjerit tidak tega melihat wajah Jungsoo yang sangat menderita.

Kali ini wanita itu menatap Luhan kesal. “Kau sangat mengganggu.”

Wanita itu hendak menyerangnya namun dengan cepat jiwa Luhan melesat ketubuhnya. Luhan menarik nafas saat kembali ketubuhnya. Berusaha mengisi sebanyak mungkin oksigen ke dalam paru-parunya.

Melihat hal itu Guru Sungmin memasang wajah kesalnya. Seluruh muridpun memandang Luhan bingung. Luhan masih berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Dia masih begitu terkejut dengan kejadian yang dilihatnya.

“Apa kau tertidur di pelajaranku Luhan?” Marah guru Sungmin.

Sikap diam Luhan menunjukkan tak mendengarkan kemarahan gurunya. Diapun bangkit berdiri dan berlari keluar kelas membuat guru Sungmin tampak Shock.

“Bocah itu….. Jeongmal….”

Saat hendak keluar mengejar Luhan, Minho dan Onewpun berdiri mendahului guru Sungmin.

“Biarkan kami yang mengejarnya seonsaengnim, kami pasti akan membawanya kembali.”

Guru Sungmin tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya guru itu menganggukan kepala mengijinkan Minho dan Onew mengejar Luhan. Segera Minho dan Onew mengejar Luhan. Mereka melihat Luhan berlari melintasi lapangan. Minho dan Onew mempercepat larinya hingga berhasil mengejar Luhan.

“Luhan-ah.” Panggil Onew menahan bahu Luhan.

Onew berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah karena jarang sekali berolahraga. Berbeda sekali dengan Minho yang terlihat masih biasa saja.

“Ada apa denganmu Luhan-ah, kenapa tiba-tiba kau meninggalkan kelas. Tidak tahukah kau Sungmin seonsaengnim mengamuk tadi?” Tanya Minho.

“Aku melihatnya lagi.”

“Melihat apa?” Bingung Onew.

“Arwah wanita penasaran yang menyerang Jihyo seonsaengnim tempo hari, dia menyerang seorang laki-laki dan ingin membunuhnya.”

“MWO?” Seru Minho dan Onew bersamaan.

“Apa kau melihat tempatnya?” Tanya Minho.

Luhan mengangguk. “Kamar mayat Rumah Sakit Bomin. Jam 1 siang.”

Minho melihat jam ditangannya memunjukkan pukul 12.30, berarti waktu yang mereka butuhkan hnyalah 30 menit untuk biaa menyelamatkan Jungsoo.

“Baiklah kita selamatkan dia sekarang, ayo….” Minho berlari diikuti Luhan dan Onew.

 

#  #  #  #  #

 

Jihyo membuka apartementnya dan dengan susah payah wanita itu membawa kantong penuh dengan belanjaannya. Gadis itu menendang pintu apartementnya hingga menutup. Dia meletakan kantong belanjaan di meja dapur dan melemparkan tasnya ke sofa. Wanita itupun beranjak menuju kamar mandi.

Dalam kamar mandi Jihyo membuka keran di bath-upnya yang mengeluarkan air hangat. Dengan satu tangan wanita itu melepaskan gelungan rambutnya. Tiba-tiba angin berhembus dan Jihyo merasakan bulu kuduk di lehernya berdiri. Jihyo mengelus tengkuknya dan berusaha berpikir positif.

Jihyo mulai melepaskan bajunya dan masuk ke dalam bath-up. Air yang hangat membuat tubuh Jihyo merasa rileks. Diapun menutup matanya menikmati kenyamanan itu. Angin kembali berhembus menggerakkan pintu membuat Jihyo terkejut dan membuka matanya. Matanya terbelalak saat melihat sosok Kyunghee berada di atas tubuhnya.

“Kyunghee….” Takut Jihyo.

Sudut bibir Kyunghee terangkat membuat Jihyo semakin merinding. Tangan Kyunghee terulur dan mencekik leher Jihyo. Jihyo meronta berusaha melepaskan tangan Kyunghee namun tangan Kyunghee terasa seberat batu yang berton-ton ukurannya. Leher Jihyo mulai terasa sakit dan diapun kesulitan beranafas. Kaki Jihyo menghentak-hentak membuat air tumpah keluar.

“Kali ini tidak akan ada yang menolongmu.” Ucap Kyunghee sebelum akhirnya menenggelamkan kepala Jihyo ke dalam air.

Tangan Jihyo terus memukul-mukul tangan Kyunghee. Dari dalam air Jihyo bisa melihat Kyunghee tersenyum puas. Tubuh Jihyo mulai melemas karena pasokan oksigen yang mulai menipis di dalam paru-parunya. Pukulan-pukulan dan rontaan Jihyo mulai melemah hingga akhirnya tubuh Jihyo tak berdaya lagi. Meskipun tak lagi merasakan kehidupan dari tubuh Jihyo namun Kyunghee tak kunjung melepaskan cekikannya.

“Kau sudah merasakan apa yang kurasakan Song Jihyo.”

Kyungheepun menghilang meninggalkan tubuh Jihyo yang mengambang dalam bath up.

 

#  #  #  #  #

 

Luhan, Onew dan Minho berlari memasuki gedung rumah sakit Bomin. Mereka langsung menghampiri meja pendaftaran.

“Suster dimana kamar mayat rumah sakit ini?” Tanya Luhan seraya mengatur nafasnya.

“Mwo? Kamar mayat? Untuk apa kalian kesana?” Curiga suster itu.

“Saya….” Luhan hendak menjawab namun ucapannya terhenti saat Onew menarik seragamnya.

Onew menunjuk ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan jam 1 tepat.

“Suster saya harus segera ke ruang mayat, cepat katakan dimana tempat itu.” Panik Luhan.

“Saya tidak bisa mengatakannya, tidak sembarang orang boleh masuk dalam sana.” Larang suster itu membuat Luhan geram.

“Luhan-ah…. Lewat sini.” Panggil Minho setelah membaca denah rumah sakit.

Luhan dan Onew berlari mengikuti Minho.

“YA!! Kalian dilarang masuk.” Kejar suster itu.

Luhan, Minho dan Onew terus berlari tak memperdulikan suster yang memperingatkan di belakang mereka. Saat berlari Luhan melihat suster Yoona yang berjalan dari arah yang berlawanan.

“Itu dia.”Seru Onew menyadarkan Luhan.

Luhan melihat pintu bercat putih dengan tulisan ‘Kamar Mayat Rumah Sakit Bomin’ diatasnya. Dibelakang mereka suster bersama petugas lain juga mengejar mereka. Mereka sampai di depan pintu namun sayang Minho tak dapat membuka pintu itu. Luhan, Onew dan Minhopun saling berpandangan.

“AAAHHHHHH…..” Mereka terkejut mendengar rintihan yang sangat menderita itu.

“Kita dobrak.” Usul Luhan.

Mereka bertigapun mundur dan sedikit berlari lalu menabrakan tubuh mereka ke pintu hingga pintu itu roboh.

“Auucchh….” Ringis Onew dan Minho.

Sekilas Luhan bisa melihat Kyunghee mencekik leher Jungsoo namun segera menghilang sebelum Minho dan Onew melihatnya.

“OMMO!! Jungsoo-ssi?” Kaget suster menghampiri tubuh Jungsoo yang berlumuran darah.

Ketiga pemuda itupun juga ikut menghampiri Jungsoo. Luhan memandang Jungsoo cemas, bagaimana tidak cemas jika Luhan melihat sendiri arwah wanita itu membunuh Jungsoo? Dalam tubuh yang tak berdaya, Jungsoo melihat ke arah Luhan. Tampak jelas di mata laki-laki itu terpancar penyesalan yang membuat Luhan bingung.

“Mianhae Kyungsoo-ah….”

Tubuh Luhan mematung mendengar ucapan Jungsoo. Perkataan itu membuka kenangan lama yang sudah Luhan pendam di dalam pikirannya.

“Bantu aku membawa Jungsoo.” Perintah suster pada petugas yang mengikutinya.

Mereka segera membawa Jungsoo keluar dari ruangan itu.

“Kali ini kau benar lagi Luhan-ah.” Ucap Onew.

“Untung kita tidak terlambat.” Sahut Minho.

Onew dan Minho merasa aneh tak ada reaksi dari Luhan. Mereka melihat Luhan masih berada diposisi semula.

“Luhan-ah.”

Luhanpun tersadar mendengar panggilan kedua sahabatnya.

“Kau tidak apa-apa?” khawatir Minho.

“Ne. Ayo kita pergi.” Luhan berjalan mendahului kedua temannya.

Saat mereka hendak keluar tiba-tiba seorang suster membawa ranjang dengan mayat yang ditutup dengan kain putih.

“Dimana Jungsoo-ssi?” Tanya suster itu.

“Dia dibawa petugas untuk diberi perawatan.”

“Hadeuuh… Siapa yang akan mengotopsi mayat ini?” Gerutu suster itu berjalan keluar.

Meskipun sudah di tutup kain tapi tetap saja Onew bergidik ngeri melihat mayat itu.

“Sebaiknya kita pergi dari sini.” Ucap Onew melesat keluar terlebih dahulu.

“Onew benar ayo Luhan-ah.”

Minho menarik Luhan keluar. Mereka berdua segera menyusul Onew yang sudah meninggalkan mereka lebih dulu.

“YA!! Onew-ah, teganya kau meninggalkan kami?” Seru Minho melihat Onew berhenti berlari.

“Bukankah itu Siwon seonsaengnim?” Tanya Onew saat Minho dan Luhan menyusulnya.

Minho dan Luhanpun melihat ke arah yang ditunjukkan Onew. Mereka melihat guru Siwon yang masih mengenakan pakaian rapi tengah berbicara dengan suster yang ditemui mereka di kamar mayat itu. Wajah guru Siwon tampak terpukul membuat ketiga pemuda itu semakin penasaran. Merekapun mendekati guru Siwon segera setelah suster itu meninggalkannya

“Siwon seonsaengnim.” Panggil ketiga pemuda itu.

Guru Siwon begitu terkejut melihat Luhan, Minho dan Onew berdiri di hadapannya dengan masih mengenakan seragam sekolah.

“Kalian? Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah jam sekolah belum selesai?”

“Tadi ada urusan mendesak yang harus segera kamu tangani seonsaengnim. Apa seonsaengnim sakit? Kenapa berada di rumah sakit?” Jawab Minho dengan lihainya.

Wajah guru Siwon semakin sedih mengingat tujuannya ke rumah sakit itu.

“Tidak aku tidak sakit. Aku kemari karena mengantarkan Jihyo seonsaengnim.”

“Jihyo seonsaengnim? Apa yang terjadi dengan Jihyo seonsaengnim?” Tanya Luhan.

Guru Siwon menghela nafas berat.

“Aku menemukan Jihyo seonsaengmim dengan keadaan yang menggenaskan di bathupnya.”

Ketiga pemuda itu begitu terkejut mendengarnya.

“Bagaimana bisa terjadi seonsaengnim?” Luhan menatap guru Siwon dengan tatapan keingintahuan.

“Entahlah, tapi suster tadi mengatakan Jihyo seonsaengnim dibunuh, dilehernya ada bekas cekikan tapi polisi sedang menyelidikinya.”

“Apa kau juga melihatnya Luhan-ah?” Tanya Minho dan Luhanpun menggeleng.

“Tidak, aku tidak melihatnya.”

“Melihat apa maksud kalian?” Guru Siwon memandangi ketiga muridnya dengan bingung.

“Sebenarnya kami kemari untuk menyelamatkan seseorang seonsaengnim. Entah bagaimana saya bisa melihat arwah wanita yang ingin membalas dendam atas kematiannya.” Jelas Luhan.

“Apakah ini menjelaskan kau bisa datang ke perkemahan dan menolong Jihyo seonsaengnim?”

Luhan memgangguk.

“Apa menurutmu Jihyo seonsaengnim dibunuh oleh arwah itu?”

Lagi-lagi Luhan mengangguk. Guru Siwon tampak tak mempercayai ucapan Luhan tapi selama ini guru Siwon mengenal Luhan adalah anak yang baik dia tidak mungkin mengada-ada.

“Lebih baik kalian kembali ke sekolah, aku akan mengantar kalian.”

Ne seonsaengnim.”

 

#  #  #  #  #

 

Keluar disaat jam sekolah sangat dilarang di sekolah, karena itulah Luhan, Minho dan Onewpun harus membersihkan kelas sebagai hukumannya. Onew menata meja-meja, Minho tengah menyapu sedangkan Luhan menghapus papan tulis yang penuh dengan tulisan guru Sungmin.

Tanpa semangat Luhan menghapus tulisan demi tulisan. Meskipun tubuhnya sedang menjalankan hukuman namun pikirannya tak terfokus pada papan tulis di depannya. Bahkan dia terus menghapus ditempat yang sama. Ucapan Jungsoo tadi seakan mengalihkan semua perhatian Luhan. Minho dan Onew yang berada di belakangnya terus memandang Luhan bingung. Onew menatap Minho seakan meminta penjelasan atas perubahan sikap Luhan namun Minho hanya menggidikan bahunya.

“Luhan-ah.” Panggil Onew namun Luhan tak bereaksi.

Minho menghampirinya dan menepuk bahu pemuda itu mebuat Luhan terkejut.

“Luhan-ah, ada apa denganmu? Sejak tadi kau terus melamun.”

“Aku tidak apa-apa.” Luhan kembali mengerjakan hukumannya.

“Ayolah Luhan-ah, katakan ada apa? Oh ya Laki-laki tadi memanggilmu Kyungsoo, apa kau mengenalnya?” Tanya Onew.

Tangan Luhan yang sedang menghapus terhenti. Minho menatap sahabatmya itu dengan curiga.

“Benar kau mengenalnya kan Luhan. Jika tidak kau tak mungkin memikirkannya.” Terka Minho.

“Jadi siapa Kyungsoo itu Luhan-ah?” Tanya Onew kembali.

Luhan menghela nafas dan berbalik menghadap kedua temannya yang menunggu dirinya menceritakan kejadian masa lalunya.

“Kyungsoo…. Dia adalah sahabatku dulu.”

Ekspresi keterkejutan terlihat jelas di wajah Minho dan Onew.

“Dulu? Apa sekarang kau tak lagi bersahabat dengannya?” Minho menatap Luhan penuh tanya.

“Ne, aku tidak lagi bersahabat dengannya.”

Waeyo?” Sahut Onew.

“Kyungsoo sudah meninggal 1 tahun yang lalu.”

“Apa yang terjadi padanya Luhan-ah?”

“Kyungsoo memang terlihat layaknya pemuda biasa seperti kita tapi satu hal yang membedakan dia dan kita.”

Minho dan Onew terus mendengar cerita Luhan dengan antusias.

“Kyungsoo bisa melihat pembunuhan-pembunuhan yang akan terjadi seperti aku. Dia bisa melihat secara langsung para arwah penasaran yang hendak balas dendam. Kyungsoo selalu menggambar kejadian-kejadian itu dalam bukunya.”

“Lalu apa yang membuatnya terbunuh?” Tanya Minho kembali .

Luhanpun menerawang kejadian satu tahun yang lalu.

 

~~~FLASHBACK~~~

 

“Kyungsoo-ah ayo kita ke kantin, aku sangat lapar.” Ajak Luhan.

Saat itu Kyungsoo tengah sibuk menggambar di bukunya tak memperdulikan ajakan Luhan.

“Kyungsoo-ah” Kali ini Kyungsoo tersadar mendengar panggilan Luhan.

Diapun tersenyum pada Luhan.

“Apa kau mendapatkan penglihatan lagi?”

“Ne apa kau mau melihatnya?”

Luhan mengangguk penuh antusias. Kyungsoopun menyerahkan bukunya pada Luhan. Saat Luhan melihat gambaran itu, tubuhnyapun membeku dan matanya terbelalak tak percaya. Dalam gambar itu tampak seorang wanita dengan wajah seram tengah menindih seorang laki-laki dan wanita itupun mengangkat pisau di tangannya. Namun yang membuat Luhan terkejut adalah gambar laki-laki itu. Laki-laki yang paling dekat dengannya. Laki-laki yang selalu dikagumi Luhan.

“Aku melihat wanita itu hendak membalas dendam karena laki-laki itu tega membakar rumah beserta wanita itu. Wanita itu mengatakan jika dia adalah wanita simpanan yang tak lagi dibutuhkan, benar-benar menggenaskan bukan?” Cerita Kyungsoo tanpa memperhatikan perubahan wajah Luhan.

Kedua tangan Luhan yang memegang bukupun terkepal menatap tak percaya gambar di buku itu. Kyungsoo menggambarnya dengan sangat detail sehingga terlihat seperti aslinya.

“Bohong….. Appaku tidak seperti itu. Dan kau jangan mengarang cerita yang tidak tidak tentang appaku.”

Luhan melemparkan buku itu dengan keras ke lantai dan Kyungsoopun hanya bisa melihat punggung Luhan menghilamg dari balik pintu.

 

~~~FLASHBACK END~~~

 

“Aku begitu membencinya sampai menyebarkan semua gambar-gambarnya. Hingga suatu hari banyak keluarga korban datang ke rumahnya dan menyebut dia penyihir jahat. Lalu…. Lalu mereka membakar rumah Kyungsoo.”

Minho dan Onew begitu serius mendengar cerita Luhan.

“Apa semua yang digambar Kyungsoo benar-benar terjadi Luhan-ah?” Tanya Minho.

“Iya. Seminggu setelah kejadian itu appaku ditemukan tewas persis seperti di gambar Kyungsoo dan tepat sesuai cerita Kyungsoo wanita itu adalah istri simpanan yang appaku bunuh. Aku begitu menyesal sudah berbuat jahat padanya hingga membunuhnya.”

Tanpa sadar Luhan menitikkan air matanya mengingat betapa dia menyesali perbuatannya. Jika saja dia tidak menyebarkan gambar itu, Kyungsoo pasti masih bersamanya.

Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Luhan membuat pemuda itu mendongak dan mendapati Onew tersenyum padanya. Entah mengapa Luhan seakan melihat senyuman Kyungsoo di wajah Onew.

“Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri Luhan. Itu hanya masa lalu.”

Tiba-tiba senyuman Onew berubah menjadi ekspresi bingung.

“Apa kalian sudah selesai?” Suara guru Sungmin mengagetkan mereka.

Mereka segera berbaris dan menunduk bersiap menerima amarah guru Sungmin. Benar saja melihat kelas yang belum selesai dibersihkan membuat guru Sungmin geram.

“Sudah satu jam dan kalian belum menyelesaikannya?”

Mianhamnida seonsaengnim.” Jawab mereka bersamaan.

“Kuberi 30 menit lagi jika tidak selesai kalian akan berada di sini sampai pagi. Arrasseo?”

Ne seonsaengnim.”

Guru Sungmin meninggalkan ketiga pemuda itu untuk menyelesaikan hukuman mereka.

 

#  #  #  #  #

 

Dalam kamar yang gelap, Luhan tengah tertidur pulas diatas ranjang namun kepulasan itu berubah terlihat jelas Luhan mengerutkan dahinya diapun menggerak-gerakkan kepalanya merasa tidak nyaman.

“Luhan… Luhan-ah….”

Luhan mendengar jelas panggilan itu.

“Luhan…..”

Luhanpun membuka mata dia begitu terkejut melihat sosok transparan di hadapannya.

“Kyu… Kyungsoo-ah.”

Kyungsoo tersenyum pada Luhan.

“Kyungsoo-ah. Mianhae aku sudah membunuhmu jika saja kejadian appaku terjadi lebih dulu aku pasti mempercayaimu, mianhae.”

“Luhan-ah, bukankah aku sudah mengatakan untuk tidak menyalahkan dirimu sendiri?”

“Jadi benar kau merasuki Onew?”

Kyungsoo mengangguk.

“Luhan-ah, aku butuh bantuanmu.”

“Bantuan?”

“Ne? Aku akan menunjukkan sesuatu padamu terlebih dahulu.”

Kyungsoo terbang ke arahnya dan menarik jiwa Luhan hingga mereka tiba di sebuah rumah.

“Dimana ini?” Tanya Luhan.

“Lihatlah.”

Pintu terbuka dan Luhan terkejut melihat laki-laki yang ditolongnya siang tadi masuk dan memeluk pinggang guru Jihyo.

“Bukankah itu laki-laki tadi?”

Kyungsoo hanya mengangguk menjawabnya.

“Aishhh… Oppa kau genit sekali?” Jihyo tersenyum saat Jungsoo mencium pipinya.

“Tapi kau menyukainya kan?”

Mereka berdua terus bercanda tawa hingga mendengar suara panggilan.

“Jungie Oppa.”

Wajah Jungsoo berubah marah mendengar suara itu.

“Apa kau masih memelihara wanita tak berguna itu Oppa?”

“Mau bagaimana lagi tidak ada yang memeliharanya. Tunggu bentar ya chagi.” Jungsoo mencium bibir Jihyo sekilas.

Jungsoo berjalan masuk ke dalam kamar. Luhan dan Kyungsoopun mengikutinya. Untuk kesekian kalinya Luhan terkekut melihat seorang wanita duduk di kursi roda. Wajah wanita itu sama dengan wajah arwah wanita yang hendak membunuh Jihyo dan Jungsoo hanya saja wajah wanita di depannya ini terlihat lebih hidup.

“Diamlah, kau sangat menganggu.” Ucap Jungsoo dingin.

“Oppa…” panggil Jihyo manja.

“Siapa itu Oppa? Apa kau bersama wanita lain?”

Jungsoo tersenyum sinis. “Tentu saja kenapa? Kau tidak bisa membuatku senang tentu saja aku mencari kesenangan lain.”

“Oppa kau lama sekali?” Manja Jihyo merangkul lengan Jungsoo.

Jihyo menatap dengan tatapan merendah ke arah Kyunghee.

“Lepaskan tanganmu.” Kyunghee menatap tajam Jihyo.

Wae? Apa kau iri aku bisa memeluk Oppa seperti ini?” Jihyo mengeratkan pelukannya membuat Kyunghee naik pitam.

“LEPASKAN!!!” Kyunghee turun dari kursi roda membuat tubuhnya terjatuh ke lantai. Wanita itu tak memperdulikan tubuhnya yang sakit karena hatinya lebih sakit lagi melihat penghinaan itu.

“Lihat Oppa peliharaanmu tidak berdaya. ” Hina Jihyo.

Kyunghee mengepalkan tangannya penuh emosi. Tatapannya tertuju pada gunting di bawah meja. Kyunghee mengambil gunting itu dan menggoreskan di kaki Jihyo.

“AAAHHHHHHH….” Rintih Jihyo kesakitan. Darahpun keluar dari luka gores itu.

“Dasar wanita sialan. Beraninya kau menyakitinya.” Marah Jungsoo.

Tanpa ampun Jungsoo menendang-nendang perut Kyunghee

“Hentikan Oppa sakit….. Aahh….” Kyunghee memegang perutnya yang sakit.

“Aku mohon hentikan Oppa.” Mohon Kyunghee namun Jungsoo tak berhenti.

Dahi Kyunghee berkerut merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya.

“Oppa….” Panggil Jihyo sukses menghentikan Jungsoo.

Jihyo mengulurkan tali pada Jungsoo dan laki-laki itupun tersenyum mengerti apa yamg dimaksud Jihyo. Jungsoo mengambil tali itu dan menghampiri Kyunghee yang sedang menahan sakit. Kyunghee menatap bingung melihat Jungsoo membawa tali.

“Oppa….. Apa yang akan kau lakukan?”

“Sudah cukup penderitaanku karenamu, sekarang lebih baik kau menghilang.”

Jungsoo melilitkan tali itu di tubuh Kyunghee. Wanita itu berusaha membebaskan diri namun sayamg karena kakinya lumpuh membuatmya tak bisa membebaskan diri.

“Oppa… Jungie Oppa… Lepaskan aku… Oppa… Sadarlah…” Panik Kyunghee.

Jungsoo tersenyum sinis.

“Aku sudah sadar Kyunghee-ah seharusnya aku melakukan ini sejak dulu.”

Jungsoo mengeratkan tali itu membuat Kyunghee menjerit kesakitan.

“Oppa tenggelamkan saja dia, bukankah kau ingin melenyapkannya?” Usul Jihyo tersenyum sinis.

“Oppa jangan dengarkan dia Oppa, dia adalah wanita iblis. Oppa ingatlah aku adalah istrimu.” Takut Kyunghee jika Jungsoo mengikuti ucapan Jigyo.

Namun ucapan Jihyo bagaikan sihir untuk Jungsoo, dia segera mengangkat tubuh Kyunghee dan berjalan kebelakang rumah yang terdapat sungai dengan aliran deras. Kyunghee begitu panik dia memukul-mukul dada Jungsoo agar suaminya itu bisa sadar.

“Jungie Oppa sadarlah ini aku istriku…. Aku mohon jangan lakukan ini Oppa ingat masih ada Kyungsoo yang membutuhkanku.”

Jungsoopun berhenti tepat dipinggir sungai. Dia menatap Kyunghee yang memohon padanya.

“Kau bukan lagi istriku Kyunghee-ah.”

BYYUURRR…….

Jungsoo melemparkan tubuh Kyunghee ke dalam sungai. Aliran sungai yang deras membawa Kyunghee mwnjauh dari Jungsoo.

“Opp… Pppa hmmppp…. Oppa….. HHhmmppp… To… Loong….” Teriak Kyunghee yang hampir tenggelam. Namun Jungsoo tak bergerak sedikitpun untuk menolong istrinya.

“Jadi mereka adalah orangtuamu?” Tanya Luhan menyimpulkan kejadian yang dilihatnya.

“Ne.”

“Dan arwah ibumu ingin membalas kematiannya?”

“Ne. Ayo kita pergi.” Kyungsoo menarik Luhan kembali.

Luhan berpikir dia akan kembali ke kamarnya yamg nyaman dan hangat tapi dia justru berada di kamar mayat.

“Kenapa kita ke sini?” Bingung Luhan.

“Lihatlah.”

BRAK…

Pintu terbuka kasar dan Jungsoo menarik masuk seorang anak kecil. Luhan menatap Kyungsoo seakan menanyakan anak laki-laki itu adalah dirinya. Mengerti tatapan itu Kyungsoopun mengangguk.

“Kau tunggu saja di sini wajahmu mengingatkanku pada eommamu.”

“Tapi appa, di sini kamar mayat aku … Alu takut.”

Jungsoo mengguncangkan bahu Kyungsoo dengan kasar.

“YA!! Kau itu namja, jangan menjadi lemah seperti yeoja. Kau sama saja dengan eommamu menyusahkan.”

Jungsoo meninggalkan Kyungsoo namun anak itu segera mengejarnya sayang pintu sudah tertutup.

“Appa… Buka Appa…. Appa….” Teriak Kyungsoo kecil menggedor-gedor pintu.

Kyungsoo terdiam membuat Luhan bingung. Kyungsoo mengedarkan pandangannya mencari-cari sesuatu. Luhanpum mengikuti Kyungsoo kecil itu. Nafasnya tercekat melihat sosok laki-laki transparan menghampiri Kyungsoo dia membisikkan sesuatu di telinganya. Wajah anak itu seketika memucat sangat ketakutan hingga tubuhnya melemas dilantai dan menutupi telinga. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menyingkarkan bisikan-bisikan itu namun bukannya menghilang, Luhan melihat sosok-sosok transparan lain mendekati Kyungsoo.

“Itulah pertama kalinya aku bisa mendengar arwah-arwah yang ingin membalas dendam. Aku ingin kau percaya padaku Luhan, sejak kau meninggalkanku aku sudah berusaha meyakinkanmu bahwa aku bukan penyihir Luhan-ah. Aku tidak ingin kehilangan sahabatku Luhan-ah.”

“Aku tahu Kyungsoo-ah, mianhae.”

Kyungsoo tersenyum lalu diapun menarik Luhan kembali ke kamarnya. Luhan mengamati tubuhnya yang tampak tertidur pulas.

“Luhan-ah. Bisakah aku meminta bantuanmu? Ini adalah permintaan terakhirku sebelum aku bisa tenang.”

“Bantuan? Tentu saja Kyungsoo-ah, katakanlah.”

 

#  #  #  #  #

 

Luhan berlari menuju rumah sakit Bomin. Dia sudah menghubungi Minho dan Onew. Luhan sampai di belakang gedung rumah sakit Bomin tempat dia dan kedua temannya janji bertemu. Menunggu kedatangan Minho dan Onew, Luhanpun teringat ucapan Kyungsoo.

 

“Karena kematiannya yang begitu tragis membuat pikiran eomma hanya dipenuhi oleh balas dendam, karena itu eomma tidak mengingatku dia bahkan tidak mengetahui jika aku sudah menjadi sama dengannya. Malam ini eomma akan membunuh abeoji dirumah sakit. Maukah kau menyelamatkannya Luhan-ah.”

“Tapi bukankah dia….”

“Ne, dia memang jahat padaku tapi setelah menyadari eomma dan aku tiada, abeoji begitu terpukul. Eomma pernah mengatakan padaku, seberapapun jahatnya orang padaku, aku harus mengampuninya. Karena Tuhan pernah berkata ‘Kasihilah musuh dan berdoalah untuk orang yang menganiaya aku’ karena itu aku sudah memaafkannya.”

Luhan semakin menyesal sudah membuat temannya yang baik meninggalkannya.

“Aku pasti akan menolong abeojimu, Kyungsoo-ah.”

“Gomawo Luhan dan satu hal lagi.”

“Nde?”

“Saat melihat eommaku, bisakah aku meminjam tubuhmu?”

Luhan terkejut mendengarnya tapi dia tetap mengangguk. Paling tidak hal ini yang bisa dilakukannya untuk menebus kesalahannya. Kyungsoo tersenyum sebelum akhirnya menghilang.

 

“Luhan-ah….” Panggil Onew menyadarkan Luhan.

Minho dan Onew segera berlari menghampirinya.

“Jadi apa yang kalihat kali ini?” Tanya Onew penuh antusias

“Aku tidak melihatnya.”

MWO?” Kaget Onew.

“YA!!! Lalu untuk apa kau membangunkan kami malam-malam untuk datang kemari Luhan-ah?” Gerutu Minho.

“Aku sudah mengetahui semuanya, laki-laki yang hendak terbunuh tadi adalah ayah Kyungsoo.”

“Darimana kau tahu Luhan-ah?”

“Kyungsoo sendiri yang memberitahukannya padaku. Sebaiknya kita cepat menemukan kamar ayah Kyungsoo dirawat. Kyungsoo bilang ibunya akan membunuhnya.”

“Jadi arwah itu ibunya? Tapi bagaimana bisa ibunya membunuh ayahnya?” Bingung Onew.

“Aishhh… Apa kau ingin kita terlambat menolong ayah Kyungsoo karena pertanyaanmu Onew-ah.” Sahut Minho.

“Ayo.. ”

Luhan, Minho dan Onew mengendap-endap masuk ke dalam gedung rumah sakit itu. Mereka melihat nama-nama yang ada di pintu berusaha menemukan pasien bernama ‘Do Jungsoo’.

“Luhan-ah lantai 3” Luhan mendengar Kyungsoo berbisik.

“Kita ke lantai 3.”

” Nde? Bagaimana kau tahu?” Kaget Onew.

“Aisshh.. Sudahlah ikuti saja.”Minho menarik Onew mengikuti Luhan.

Agar tak diketahui penjaga rumah sakit merekapun menaikki tangga darurat. Tidak masalah untuk Minho dan Luhan tapi begitu melelahkan bagi Onew. Setelah bersusah payah menaiki satu persatu tangga merekapun sampai di lantai 3. Perlahan Luhan membuka pintu dan melihat sekeliling tampak sepi.

“Aman.” Isyarat Luhan lalu Minho dan Onewpun segera mengikuti.

Mereka menyusuri lorong lantai 3.

“Di sini Luhan.” Bisik Kyungsoo kembali tepat di depan pintu dengan tulisan nama ‘Do Jungsoo.’.

Luhan segera membukanya dan seketika nafas ketiga pemuda itu tercekat melihat tubuh Jungsoo terangkat dan tampak jelas Kyunghee mengangkat laki-laki itu dan mencekiknya. Tanpa pikir panjang ketiga pemuda itu menarik tubuh Jungsoo ke bawah. Wajah Jungsoo terlihat pucat karena hampir kehabisan nafas. Akhirnya ketiga pemuda itu berhasil menarik turun Jungsoo yang kemudian terbatuk dan mencari oksigen yang ada.

“Kalian pengganggu.” Kyunghee benar-benar murka dia mengangkat semua barang yang ada di dalam kamar itu dan melemparkan satu persatu pada mereka. Luhan menarik Jungsoo dan kedua temannya berlindung di bawah ranjang.

“Apa yang harus kita lakukan. Kita sudah membuat hantu itu murka.” Panik Onew.

Luhan berusaha berpikir. Dia ingat Kyunghee mengatakan jika pikiran Kyunghee hanya teringat untuk membalas kemartiannya bukan berarti dia melupakan permanen ingatan semasa hidupnya.

“Ahjushi, apa kau bisa membuat hantu itu mengingat masa-masa indah saat kalian bersama? Mungkin saja itu bisa meredakan kemarahannya.”

“Masa-masa indah? Tentu saja aku ingat.”

“Ceritakanlah padanya buat dia ingat kembali masa-masa itu.”

Jungsoo mengangguk.

“Heechan-ah. Hentikan, bukankah dulu kau selalu memintaku untuk memanggilmu seperti itu? Heechan-ah?”

Suara bantingan barangpun terhenti membuat merka saling berpandangan. Luhan menjulurkan kepalanya. Dilihatnya wajah Kyunghee tak lagi semurka dulu. Luhan memberi isyarat Jungsoo umtuk keluar.

“Kau ingat saat Kyungsoo lahir melengkapi keluarga kita? Kau begitu bahagia, akupun juga sangat bahagia Heechan-ah.”

Arwah Kyunghee turun menghadap Jungsoo.

“Jungie Oppa?”

Untuk pertama kalinya Luhan melihat Kyunghee tersenyum tulus bukan senyuman sinis yang biasa Luhan lihat.

“Tapi kecelakaan itu merubah segalanya Oppa.”

Kyunghee berubah kejam kembali dan mendorong tubuh Jungsoo keras hingga membentur dinding.

“Kau tak lagi mencintaiku seperti dulu Oppa. Tidak tahukah kau aku selalu kesepian Oppa. TAPI KAU TIDAK ADA UNTUKKU.”

Kyunghee kembali membenturkan tubuh Jungsoo kembali ke dinding. Darah segar keluar dari sudut bibir Jungsoo, perban lukanyapun mulai mengeluarkan darah. Kyunghee menghampiri Jungsoo dia menarik tubuh laki-laki itu hingga berdiri sejajar dengannya.

“Hentikan eomma.”

Ucapan itu menghentikan Kyunghee yang hendak membanting tubuh Jungsoo kembali. Tatapannya beralih melihat Luhan.

“Cukup eomma.” Luhan menatap Kyunghee dengan lembut dan penuh kerinduan.

“Kyungsoo? Kaukah itu?”

Luhan mengangguk.

“Ne eomma ini aku. Hentikan semua ini eomma, bukankah eomma selalu mengingatkanku Tuhan pernah berkata Kasihilah musuh dan berdoalah untuk orang yang menganiaya aku’.”

Kyunghee terdiam seakan bisa mengingat hal itu. Dirinya memang selalu mengingatkan putranya hal itu agar dia tak membenci ayahnya meskipun ayahnya begitu kejam menyiksanya.

“Eomma ikutlah denganku, kumohon.” Luhan mengulurkan tangannya.

Kyunghee menatap tangan Luhan lalu tatapannya beralih pada Jungsoo.

Mianhae Kyunghee-ah… Aku benar-benar sangat menyesal. Saranghae.” Ucap Jungsoo memahan sakit di seluruh tubuhnya.

Kyunghee melepaskan Jungsoo dan menatap kembali Luhan dan perlahan tangannya terulur menerima uluran tangan Luhan seketika arwah Kyungsoo keluar dari tubuh Luhan dan terbang menuju cahaya yang siap menerimanya. Tubuh Luhan ambruk ke lantai. Onew menghampiri Luhan sedangkan Minho menolong Jungsoo kembali ke ranjang. Perlahan Luhan terbangun.

“Apakah sudah selesai?” Tanya Luhan masih merasa lemah.

Onew menatap sekeliking yang begitu berantakan seperti kapal pecah. Benda-benada berhamburan akibat kemarahan Kyunghee.

“Sepertinya kita belum selesai.”

Merekapun tertawa bersama melihat Onew takut untuk membersihkan ruangan itu.

 

#  #  #  #  #

 

Siwon memandang tubuh Jihyo yang sudah dibersihkan. Kulitnya tidak terlihat pucat membuatnya terlihat seperti orang yang tertidur. Siwon membelai pipi Jihyo tanpa sadar air mata keluar membasahi kedua pipinya. Begitu sakit melihat orang yang akan menjadi istrinya meninggalkannya untuk selamamya.

“Oppa.”

Siwon tersentak mendengar suara Jihyo. Dia melihat Jihyo berdiri di sisi jasadnya. Dia tersenyum seperti yang dilakukannya.

“Jangan bersedih Oppa, aku yakin kau bisa melewati semua ini karena aku tahu kau orang yang kuat dan baik Oppa. Terkadang aku merasa tidak pantas mendapatkanmu Oppa. Aku tidak sebaik yang kau kira Oppa. Aku dulu adalah wanita jahat yang pernah membunuh seseorang. Dan sekarang aku sudah mendapat hukumanku Oppa.”

“Jihyo-ah.”

“Aku tidak punya waktu banyak Oppa, aku menemuimu untuk mengucapkan selamat tinggal. Terimakasih kau sudah memberikan kebahagiaan dalam hidupku Oppa. Selamat tinggal.”

“Jihyo-ah… Jihyo-ah…” Panggil Siwon namun Jihyo tetap meninggalkannya.

“Jihyo-ah.” Panggil Siwo berulang-ulang namun tetap tak dapat membangun tunangannya kembali.

 

~~~THE END~~~

7 thoughts on “[Oneshot] WISHPER!!!!

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s