[ONESHOOT] Meant To Be

43cfb3a20920aa653bbadab55ca477f1 copy

Author : Deerdewi
Cast :
– Park Jimin (BTS)
– Kim Namjoo (APink)
Genre : Friendship, Romance
Length : Oneshoot
Author note :
Just like this couple lately ><
Ini ff paling ga jelas mohon dimaafkan ya..
Don’t bash if you don’t like, ok?
Synopsis :
Kim Namjoo, seorang gadis introvert yang merasa hidupnya tak berarti. Ia tak memiliki siapapun disinya, tak pernah benar melakukan apapun bahkan untuk dirinya. Suram! Kelam! Hitam! Dingin! Itulah dirinya. Namun apa yang membuatnya bisa bertahan menghadapi hidupnya yang keras?

Park Jimin, pria menyenangkan dengan kepribadian hangat. Populer dikalangan para gadis. Ia selalu bisa diandalkan dan orang-orang selalu ingin dekat dengannya. Cerah! Berwarna! Hangat! Adalah dirinya. Namun di kehidupannya yang menyenangkan ia tetap memiliki masalah, apa itu?

Dua orang berbeda sifat dipertemukan menjadi teman. Namjoo berhasil bertahan karena ibunya, ia ingin membantu ibunya keluar dari masalah, meskipun ia terlibat masalah yang tak ia pedulikan. Jimin memiliki masalah yang selalu ia pikirkan, yaitu bagaimana caranya kembali berteman dengan Namjoo. Bagaimana ia bisa mengembalikan Namjoo seperti dulu. Semua yang berkaitan dengan ‘Bagaimana Namjoo’ adalah masalahnya.

Ketika kau tak berarti bagi siapapun bagaimana caramu untuk tetap bertahan hidup?
Ketika kau tak memiliki tempat untuk berlabuh bagaimana caramu untuk tetap bertahan hidup?
Ketika kau tak memiliki siapapun disisimu bagaimana caramu untuk tetap bertahan hidup?

Jawabannya hanya satu….
Menemukan seseorang yang bisa melakukan segalanya untukmu!

=========================== MEANT TO BE =============================

Menatap langit yang menguning di tepi jendela kamar gelapnya, seorang gadis bersandar pada kusen yang menopang jendela tersebut dan memeluk kakinya. Hari mulai malam namun gadis itu tak melakukan apapun selama berjam-jam, bahkan untuk menyalakan lampu kamarnya pun tidak. Ia hanya diam dan mematung tanpa ekspresi dan suara menatap kosong keluar jendela kamarnya. Gadis itu adalah Kim Namjoo, gadis berusia 20 tahun yang sedang merantau dari kota asalnya untuk kehidupan lebih baik. Ia tak punya siapapun di kota besar ini, hanya sendiri dan kesepian. Dia bukan gadis yang menyenangkan, ia hanya seorang gadis yang introvert dan tak pandai bergaul. Ia memiliki dunianya sendiri, dunia dimana ia bisa tenang dan bahagia. Baginya dunia yang ia tinggali saat ini hanyalah ilusi dan ilusinya adalah nyata.

RING RING RING

Ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk. Ia mengecek nama yang tertera di layar ponselnya dan mengangkatnya.
“Namjoo-ya kau baik-baik saja? Kau sampai dengan selamat?” tanya seseorang dari sebrang telpon.
“Ne eomma” hanya itu jawabannya. Ia membiarkan ibunya terus berbicara dan ia hanya akan merespon dengan ‘ye’ ‘aniyo’ atau ‘hmm’. Mendengar suara ibunya cukup membuatnya senang walau selalu ada makna tersirat di dalamnya. Ya, ia bukan dari keluarga kaya. Ibunya hanya seorang koki di sebuah kedai ramen kecil, ayahnya hanya seorang kuli bangunan, dan ia memiliki dua orang adik laki-laki yang masih duduk di sekolah dasar dan menengah. Namjoo selalu sadar makna yang tersirat di kata-kata ibunya adalah ‘namjoo kau harus jadi anak membanggakan dan mengangkat derajat keluarga kita’. Namjoo tidak pernah mempermasalahkan kalimat itu sebelumnya hingga di tahun ketiganya berada jauh dari rumah ia merasa betapa berat beban yang dipikulnya sebagai anak tertua di keluarganya. Mungkin ia bukan tulang punggung, tapi ia adalah contoh, satu-satunya contoh bagi adik-adiknya dan satu-satunya harapan bagi kedua orang tuanya. Ia bersekolah di salah satu universitas ternama kota besar yang ia tinggali sekarang, jurusan yang ia ambil benar-benar melelahkan dan menguras tenaga bahkan pikirannya. Awalnya ia bisa menerimanya namun hari demi hari ia merasa ia tak sanggup untuk menjalani kehidupannya. Kegagalannya di semester lalu membuatnya terpuruk terus menerus. Ayahnya mengatakan bahwa dirinya sudah tidak bisa dibanggakan sebagai seorang anak, teman-temannya meninggalkannya, satu-satunya tempat ia bisa melupakan semua masalah pun sudah berubah menjadi tempat asing baginya. Sekarang dipikirannya hanyalah ‘aku bukan siapa-siapa’ dan ‘tidak ada tempat yang layak bagiku’. Semua orang meninggalkannya satu persatu dengan pasti membuat hidupnya yang berantakan semakin tak karuan, dan pribadinya yang anti-sosial semakin kesepian.

***

Gadis itu berjalan sendirian di pedestrian menuju kampusnya, tak ada kata atau gerstur berarti darinya. Ia hanya berjalan seraya menundukkan kepalanya. Malu? Merasa tidak berguna? Ya! Ia selalu berpikiran negatif tentang dirinya.
“Kau selalu seperti ini” ucap seorang pria yang tiba-tiba menghadang jalannya.
“Kau…” ucapnya mendongak untuk melihat pria itu.
“Kau menangis?” pria itu melihat dengan jelas mata gadis itu yang berair dan memerah. Gadis itu mengedipkan mata indahnya sekali hingga butiran air yang menggumpal di sudut matanya terjatuh.
tto? Kau selalu saja merahasiakan sesuatu dariku! Bukankah aku sudah bilang, aku akan ada disampingmu jika kau ada masalah kau harusnya mengatakan padaku. Bukankah selalu seperti itu sebelumnya?”pria itu melipat tangannya di depan dadanya tanda ia marah.
Mian… apa kau akan meninggalkanku juga?” tanya sang gadis.
“Kim Namjoo! Kau bercanda?” pria itu merubah ekspresi wajahnya. Ia benar-benar tak mengerti dengan gadis dihadapannya itu. “Jika aku meninggalkanmu, kau akan bagaimana? Apa kau masih bisa melanjutkan hidupmu?” ia menangis, Namjoo kembali menangis. Pria dihadapannya hanya menepuk punggungnya dalam diam. Ia tak ingin mengatakan ‘jangan menangis’ pada gadis itu sekarang karena ia tahu itu tak akan membantunya.

 

Park Jimin, pria itu bernama Park Jimin. Mereka adalah teman, hanya teman. Jimin adalah orang yang Namjoo temui saat ia masuk klub tari. Ya, Namjoo bahagia ketika ia menari dan merasa bahwa hanya dengan menari ia bisa melupakan semua masalahnya. Klub tari adalah satu-satunya tempat dimana ia bisa menjadi dirinya sebelum tempat itu menjadi asing baginya. Jimin orang yang bertolak belakang dengan Namjoo, ia adalah pria menyenangkan dengan kepribadian yang begitu hangat. Jika Namjoo adalah malam, maka Jimin adalah siang. Jika Namjoo adalah air, maka Jimin adalah api. Seperti itulah perbedaan mereka, namun Jimin menerima segala hal tentang Namjoo. Ia bersedia menjadi sapu tangan untuk menghapus air matanya, ia bersedia menjadi tongkat untuk menopangnya, ia bersedia menjadi payung untuk melindunginya, romantis? Ya! Namun jangan salah paham, mereka hanya teman tak lebih dari itu. Jimin pria yang cukup populer dikalangan para gadis di kampus mereka, selain kepribadiannya yang menyenangkan ia memiliki wajah yang bisa dibilang tampan. Walaupun dia tidak benar-benar tampan seperti pria pada umumnya namun ketika kau berada didekatnya kau pasti akan merasakan aura berbeda yang membuatmu ingin terus dekat dengannya. Ya, itulah Jimin.

 

“Kau terus menghindar dariku, aku bingung bagaimana caranya bisa membantumu jika kau tak membiarkanku untuk dekat denganmu lagi” Jimin masih menepuk punggung Namjoo.
“Aku tak ingin merepotkanmu” ucap Namjoo.
“Kau tau aku tak pernah merasa direpotkan bukan?” tanya Jimin.
“Kau tau jika aku yang merasakannya bukan?” ucap Namjoo. Ia mengehentikan tangisannya dan menghapus air matanya. “Jimin-ah, gomawo… kau selalu bisa datang ketika aku membutuhkanmu. Tapi Jimin-ah, kau punya kehidupan yang harus kau jalani. Kau tidak bisa berada disisiku selamanya. Matahari tidak boleh tertutup awan gelap” Namjoo tersenyum dan meninggalkan Jimin.

‘Ungkapan itu lagi? Kapan kau sadar kalau kau bukan awan gelap bagiku?’

***

Namjoo selalu menjalani harinya dengan hal yang sama setiap harinya, berjalan sendirian menuju kampus dengan menunduk. Duduk dalam diam selama pelajaran dan pulang tanpa pamit. Ia bukan sesuatu yang patut diperhatikan. Kehadirannya dalam kelas tak pernah dianggap atau dirasakan oleh teman-teman sekelasnya. Ia hanya sebuah bangku kosong yang tak patut di dengarkan atau di temani.
“Kau tidak ikut klub tari lagi?” tanya Jimin saat menghadang Namjoo diperjalanan.
“Hmm aku akan keluar” ucap Namjoo.
“Ah bagaimana ini, Hoseok hyung bilang ia akan menjadikanmu bintang! Kau tau klub tari akan mengadakan pentas besar di untuk menyambut ASEAN GAMES di Incheon? Dan dia sudah memilih beberapa anggota untuk tampil, salah satunya adalah kau! Ah tidak! Hoseok hyung membuatmu menjadi lead dancer di penampilan kali ini. Bukan kah bagus?” Ucap Jimin.
“Jimin-ah! Kau tau kau tak pandai berbohong bukan? Klub tari sama saja seperti semua orang di kelasku, mereka tak pernah menganggapku ada! Sekeras apapun aku berusaha untuk menjadii sesuatu, namun pada akhirnya aku tidak akan menjadi apa-apa! Kau tak bisa membohongiku lagi. Aku tak pernah di daftarkan di acara itu dan yang menjadi lead dancernya bukan aku tapi Naeun eonni, benar kan? Sudahlah Jimin aku ingin pulang” ucap Namjoo.
“Setidaknya kau harus mencoba menyukai dirimu! Apa sulitnya menyukai dirimu? Kau pandai menari, kau cantik meskipun tidak untuk mayoritas tapi aku yakin ada beberapa orang yang menganggapmu cantik, kau orang yang menyenangkan setidaknya bagiku. Bisakah kau berhenti menjauh? Bisakah kita kembali menjadi teman yang baik seperti dulu? Menghabiskan waktu dengan menari bersama atau makan bersama? Bisakah kau mulai mengirimiku pesan-pesan menyebalkan seperti dulu? Bisakah setidaknya aku melihat senyummu lagi? Aku tak pernah melihat senyummu lagi sejak setahun lalu” ucapan Jimin menghentikan langkah Namjoo.
Aniya Jimin-ah…Namjoo yang seperti itu sudah mati” ucapnya meneruskan langkahnya.

 

Jimin menatap punggung Namjoo yang menjauh. Ia menatap Namjoo seraya mengingat kembali masa-masa mereka pertama bertemu. Pertama kali dirinya melihat Namjoo adalah ketika dia menangis histeris karena melihat seekor anak anjing yang tertabrak. Ia mencoba meminta bantuan pada orang-orang namun tak ada yang melihatnya. Namjoo yang menangis karena mengkhawatirkan sesuatu yang kecil bahkan tak beguna bagi orang lain adalah kenangan pertama yang diingat Jimin tentang gadis itu. Ia bertemu Namjoo kembali di klub tari, Namjoo berada dalam satu kelompok dengannya di tari modern. Namjoo adalah gadis dengan senyum termanis yang pernah ia ingat berada di kelompok itu. Dia begitu menonjol diantara gadis-gadis lain di mata Jimin karena kepeduliannya yang tinggi pada teman dan kerja kerasnya dalam melakukan sesuatu. Senyum bahagia atas hasil yang ia dapat setelah memeras keringatnya adalah hal kedua yang ia ingat tentang Namjoo. Ia begitu ingin dekat dengan gadis itu, ada sesuatu dalam diri gadis itu yang menarik perhatian Jimin hingga ia memberanikan diri untuk memulai percakapan dengannya. Hari demi hari Jimin menjadi dekat dengan Namjoo. Gadis itu punya banyak teman disisinya, tanpa sadar Jimin selalu memperhatikan Namjoo bahkan ia seperti stalker yang tau segala hal tentang Namjoo tanpa perlu gadis itu mengatakan sesuatu. Jimin selalu mengkhawatirkannya dan selalu mengikutinya. Namun suatu hari gadis itu berubah, ia berhenti mengirimi pesan singkat untuk Jimin. Jimin tak mengerti, namun ia juga tak berani bertanya. Jimin hanya berpikir mungkin ia sedang sibuk. Lalu satu persatu teman dekat Namjoo yang Jimin tahu mulai menjauh, biasanya mereka selalu bersama seperti tak ada satupun hal yang bisa memisahkan mereka. Namun yang Jimin liat sekarang ini adalah Namjoo yang selalu sendirian ketika ia pergi kemanapun, saat ia makan di kantin, saat berangkat atau pulang kuliah ia hanya sendirian. Namjoo juga tak banyak bicara ketika mereka bertemu, biasanya Namjoo selalu tersenyum lebar dan memanggil namanya dengan bahagia kini jangankan menyebut namanaya bahkan seulas senyum pun tak nampak pada wajahnya. Gadis itu berhenti bicara, gadis yang cerewet mengenai dunia dan keadilan itu sekarang berhenti bicara. Senyum manis yang selalu hadir diwajahnya pun kini meninggalkannya, ya senyum manis diwajah gadis itu sekarang menghilang. Jimin tak mengerti, seberapa jauh mereka berpisah, berapa lama mereka tak berbicara sehingga Jimin kini tak lagi mengenali temannya lagi, ia sudah tak mengenali Kim Namjoo lagi.

***

Jimin mengetuk pintu kayu berwarna coklat dihadapannya dengan lembut berharap sosok pemilik kamar kecil dibalik pintu ini menampakkan wajahnya. Sekali tak ada jawaban, dua kali masih tak ada respon, hingga berkali-kali Jimin mengetuk dan memanggil sang pemilik kamar namun tak ada sahutan. Jimin menyerah mengetuk pintu itu dan bersandar tepat di depan pintu. Tak ada kata keluar dari mulut Jimin, ia hanya menunduk menatap sepatunya hingga sepasang sepatu lain mendekatinya.
“Sedang apa disini?” tanya gadis pemilik sepatu itu.
“Namjoo!” wajah Jimin berubah cerah ketika melihat sepasang bola mata yang ia rindukan menatapnya. “Tidak dingin? Musim gugur tiba, seharusnya cuaca diluar sangat dingin” ucap gadis itu menghampiri pintu di belakang Jimin dan membukanya. Jimin membuka jalan untuknya lewat. “Masuk” ucapnya singkat. Kamar kecil ini sangat sederhana, hanya ada sebuah kasur dan kamar mandi serta dapur mini didalamnya.
“Rasanya kamar ini benar-benar berbeda dengan terakhir kali aku kesini, seperti dirimu yang menjadi dingin kamar hangat ini benar-benar terasa sangat sepi dan suram” ucap Jimin.
“Sudah makan?” tanya Namjoo mengalihkan pembicaraan. Jimin hanya menggeleng tanda ia belum menyentuh makanan ketika datang kesini. “Tak ada makanan yang layak, hanya ramen apa cukup?” tanya Namjoo lagi. Kali ini Jimin mengangguk tanda ia tak masalah dengan apa yang di tawarkan Namjoo. Jimin duduk di depan sebuah meja kecil di sebelah tempat tidur Namjoo, ia membuka jaketnya dan menyandarkan kepalanya di tepi ranjang.
“Sepertinya kau sudah tak merawat tempat ini lagi, harus kah kita merenovasi kamar ini? Seperti saat pertama aku membntumu pindah kesini dan menata tempat ini. Tidak ada yang berubah hanya sepertinya tempat ini diabaikan oleh pemiliknya” ucap Jimin. Namjoo hanya diam dan fokus dengan apa yang ia kerjakan. “Kau tak ingin cerita padaku? Tak ada hal yang ingin kau katakan?” tanya Jimin. Namjoo berbalik untuk menatap Jimin yang menatapnya. Tanpa kata yang benar-benar terucap Namjoo menyampaikan apa yang ia rasakan lewat matanya. Jimin tahu, ia bisa merasakannya hanya saja ia ingin Namjoo benar-benar mengatakan padanya. Mengatakan apa yang mengganggu pikirannya, mengatakan apa yang membuat hatinya terluka, mengatakan apa yang ia ingin katakan dari lubuk hatinya terdalam. Namjoo mengangkat panci berisi ramen dan meletakannya di atas meja kecil dihadapan Jimin, ia mengambil sumpit dan mangkok kecil serta beberapa minuman kaleng.
“Kau tahu bahwa Hayoung menyukaimu?” tanya Namjoo. Pertanyaan Namjoo saat ini adalah hal yang sangat tak terduga bagi Jimin. “Hayoung sahabatku, ia menyukaimu” Namjoo mengulangi kata-katanya.
“Hmm.. Eunji noona berusaha mengatur kencan buta untuk kami sebelumnya” jawab Jimin.
“Saat kau mengetahuinya, kau selalu menghabiskan waktu bersamanya kan? Hayoung, Eunji eonni dan kekasihnya Yoongi oppa. Kau tak pernah mengatakan apapun padaku, tapi aku tahu kalian sering menghabiskan waktu bersama. Benar kan?” tanya Namjoo menatap Jimin, namun Jimin mengunci mulutnya rapat. “Aku tahu hal ini dari Eunji eonni. Ia mengatakan padaku bahwa kau dan hayoung akan bersama. Kau yang pertama menghilang bukan aku!” ucap Namjoo seraya menatap makanan dihadapannya.
“Karena itu kau tak menghilang dari sisiku?” tanya Jimin.
“Hmm… hanya tak ingin menjadi roda ketiga” jawab Namjoo. “Semua berjalan lancar bukan? Kau dan Hayoung?” tanya Namjoo.
“Hmm kami bersama” ucap Jimin singkat. “Apa itu mengganggumu? Bukankah kau temanku dan kau juga teman Hayoung? Kita masih bisa berteman bukan? Kita bertiga?” tanya Jimin.
Ani.. semua berubah Jimin” ucap Namjoo. “Kau tak sama, Hayoung tak sama, aku juga tak sama, hal yang berbeda tidak bisa bersatu” lanjutnya. Namjoo berhenti berbicara, Jimin masih menunggu Namjoo kembali berbicara. Keheningan diantara mereka berlangsung cukup lama hingga Namjoo membuka mulutnya lagi. “Karena dirimu aku mengurung diri selama dua bulan di kamar ini, aku tak bersosialisasi lagi dan menginggalkan semuanya. Meninggalkan kuliahku, temanku, dan klub tari. Setelah aku tahu apa yang kulakukan salah dan mencoba kembali semua tak sama. Seberapa kerasnya aku mencoba untuk kembali, mereka menolakku” ucap Namjoo. “Bahkan orang tuaku pun menolakku, mereka tak mempercayai aku dan hanya mendengarkan apa yang dikatakan orang tentang aku. Aku menjadi orang asing dalam hidupku sendiri sekarang. Tak ada yang menanyakan kabarku, tak ada yang menanyakan keeradaanku atau mencariku, mereka hanya akan menganggapku bayangan tak berguna. Bahkan ayahku…” Namjoo tersenyum getir mengingat bagaimana orang-orang mulai memperlakukannya seakan dirinya adalah benda tak kasat mata yang tak seharusnya bicara, ketika ia berbicara mereka akan memarahinya dengan kasar. Namjoo ingin menangis dihadapan mereka agar mereka senang dan puas melihatnya tampak seperti manusia tak berdaya, namun rasanya tak berguna. Orang-orang sudah menatap rendah dirinya, mereka hanya menganggap dirinya sampah yang menjijikan dan tak pantas untuk didekati. Tak ada ampun atau rasa kasihan baginya, ia bukan apa-apa lagi. Satu-satunya yang bisa membuatnya tenang adalah ketika ia berbicara dengan ibunya, namun akhir-akhir ini ibunya hanya menangis ditellinganya. Ayahnya membuat hidup ibunya menjadi lebih sengsara sekarang. Ia bahkan tak bisa berbuat apapun untuk membantu ibunya, hanya bisa mendengarkan tangisan ibunya. Lalu apa? Kepada siapa ia bisa mengeluh ketika tak ada yang mau mendengarkannya? Kepada siapa ia bisa bercerita ketika tak ada yang mengasihaninya? Kepada siapa ia bisa menangis melepas beban dipundaknya? Ia sendiri tak tahu, ia merasa dirinya tak punya tempat di komunitas ini. Tak ada yang menerimanya… tak ada satupun orang yang mau dekat dengannya lagi. “…Aku berusaha memperbaikinya, aku berusaha berubah, namun sepertinya tak ada kesempatan kedua bagiku” ucap Namjoo. “Habiskan makananmu lalu pergi, aku harap aku tak melihatmu lagi setelah ini. Bukan aku tak mau berteman lagi, tapi semua tak sama lagi Jimin-ah. Aku juga tak ingin Hayoung beranggapan hal yang salah tentang kita, lebih baik kau mempedulikannya. Ia lebih membutuhkanmu dari pada aku” jelas Namjoo.

‘Ani Namjoo-ya, kau lebih membutuhkanku daripada Hayoung’

 

Namjoo tidak tahu, ia tidak pernah peka… selama ini Jimin tak pernah meninggalkan Namjoo. Tak seharipun Jimin pernah meninggalkan Namjoo. Pria itu selalu berdiri dalam diam mengamati Namjoo, pria itu selalu berjalan dalam diam dibelakang Namjoo, pria itu selalu dalam diam mengkhawatirkan Namjoo, pria tu meskipun ia diam yang ada di kepalanya hanyalah Namjoo. Hanya Namjoo tak menyadari itu… ia bahkan sadar, ia tahu bahwa gadis itu menyukainya. Ia sadar Kim Namjoo menyukai dirinya, Park Jimin, bukan karena wajah yang Jimin miliki tapi karena Namjoo merasanya nyaman dan aman berada disisi Jimin. Ia merasa tenang bila Jimin berada didekatnya. Jimin tahu hal itu, karena itu Jimin tak pernah bersama Hayoung. Jimin tahu apa yang dikatakan Eunji pada Namjoo tentang dirinya dan Hayoung, tapi semua itu bohong. Setelah kencan buta itu, Jimin tak pernah menemui Hayoung lagi. Sesekali tanpa sengaja Jimin bertemu dengan Hayoung namun tak ada sesuatu yang lebih dari sekedar menyapa diantara mereka. Jimin berbohong pada Namjoo? Ya! Jimin tahu betapa besar luka dihati Namjoo saat ini, ia juga sadar ada bagian dari luka itu yang disebabkan olehnya. Saat ini Jimin tak bisa melakukan apapun untuk mengobatinya jadi ia berpikir lebih baik Namjoo tidak tahu. Jimin tak mengerti apa sebenarnya yang ia rasakan terhadap Namjoo. Ia hanya tahu bahwa ia tak bisa jauh dari gadis itu, dan otaknya tak bisa berhenti memikirkan gadis itu, Jimin membutuhkan Namjoo sama seperti Namjoo membutuhkan Jimin. Mereka berbeda, tapi mereka tak mungkin tak bisa bersatu. Bagi Jimin, perbedaan adalah sesuatu yang menutupi kekurangan. Mereka berbeda tapi mereka saling melengkapi. Jimin tahu itu, tapi Namjoo tidak….

***

Hari ini Jimin akan pergi ke Incheon, ia akan tampil sebagai grand opening Asean Games kali ini. Hayoung ada disana, Namjoo tahu itu. Hayoung masuk ke klub tari demi Jimin dan ia sangat berbakat dalam hal itu karena ia bisa langsung menjadi lead dancer dalam klub. Bahkan Namjoo yang selalu bekerja keras untuk mendapatkan posisi itu pun tak pernah mendekati atau bahkan sekali saja merasakan bagimana rasanya menari di tengah kelompok sebagai seorang lead. Namjoo sadar dirinya tak pantas dalam posisi itu meskipun ia mengabdi selama bertahun-tahun dan berlatih keras di klub tari. Namjoo melangkahkan kakinya keluar kamarnya untuk merasakan udara malam Kota Seoul. Ia berjalan menikmati dinginnya angin malam di musim gugur menuju sungai Han. Malam ini terasa begitu sepi, hanya sedikit orang yang berlalu lalang disana. Namjoo merapatkan jaketnya dan duduk di tepi Sungai Han. Melihat beberapa orang tertawa dan berlarian merupakan pemandangan indah yang tak mungkin ia rasakan.
Yeorobun!! Hari ini di tepi Sungai Han aku akan menari untuk kalian semua” Namjoo mendengar samar-samar suara pengumuman yang terdengar tak jauh dari tempatnya duduk. Karena penasaran ia menghampiri kerumunan orang yang bertpuk tangan dengan meriah. “Hari ini aku sengaja menari disini, malam ini, untuk menghibur seorang gadis” terdengar suara ‘booo’ disana sini. Namjoo berusaha melewati kerumunan untuk melihat siapa yang berbicara. Ia merasa mengenali suara itu namun dirinya tak yakin. Ia berhasil menerobos kerumunan hingga berada paling depan dan melihat siapa orang yang berbicara dengan speaker itu. Mata mereka bertemu, Namjoo membulatkan matanya tak percaya melihat sepasang bola mata yang ia kenali itu. “KIM NAMJOO AKU MENCINTAIMU!!” orang itu menunjuk dirinya sebelum menyalakan musik dan menari. Ya, dia adalah Jimin, Park Jimin temannya.

 

Suara musik lembut terdengar ditelinga Namjoo, gerakan luwes Jimin mengiringi music itu. Namjoo selalu tahu Jimin bisa menari dengan baik namun tariannya kali ini benar-benar membuatnya takjub. Jimin mendekati Namjoo dan mengulurkan tangannya untuk mengajaknya menari bersama. Namjoo tak merespon hingga sorak sorai penonton yang memintanya menerima ajakan jimin memaksa. Namjoo menyambut tangan Jimin dan ikut menari bersamanya. Tarian pasangan ini adalah tarian yang seharusnya Jimin bawakan untuk acara pembukaan Asean Games malam ini bersama Hayoung tapi pria itu malah berada disini untuk menari dengannya. Jimin melepaskan tangan Namjoo dan musik berganti. Music ini memiliki tempo yang lebih cepat dari sebelumnya dan Namjoo tahu music ini. Ini adalah musik yang biasa Namjoo gunakan saat ia berlatih menari. Jimin membiarkan Namjoo menari solo. Semua orang tampak berdecak kagum dengan gerakan-gerakan indah Namjoo. Musik pun mendekati akhir, Jimin mengambil sebuket bunga mawar yang ia siapkan dan berlutut dihadapan Namjoo ketika ia menyelesaikan tariannya.
“Aku tak pernah bersama Hayoung, satu-satunya gadis di dalam kepalaku adalah dirimu. Aku tak bisa memikirkan gadis lain selain dirimu. Maaf aku tak berada disisimu saat kau membutuhkan diriku, tapi aku berjanji mulai hari ini aku akan selalu ada untukmu. Aku akan menghapus air matamu, aku akan mengobati lukamu, dan aku akan membantumu kembali berdiri. Kau tak perlu orang lain disisimu, jangan biarkan mereka mengganggu pikiranmu, hanya aku dan cukup aku disisimu. Apa kau ingin bersamaku? Apa kau ingin berada disisiku? Aku akan mencintaimu selama aku bisa dan aku tak akan membiarkanmu sendirian lagi, aku janji” ucap Jimin panjang lebar. Terdengar suara yang meminta Namjoo mengatakan ‘ya’ di lingkaran manusia itu.
“Aku… apa aku layak?” Namjoo membalas pernyataan Jimin dengan pertanyaan.
“Apakah kau harus bertanya?” Jimin bangkit dari posisinya dan mendekati Namjoo. Ia menarik Namjoo kepelukannya. “Kembalilah kesisiku dan menjadi Namjoo yang dulu, aku akan menyelamatkanmu” ucapnya sebelum mendaratkan kecupan lembutnya di bibir gadis itu. Tepuk tangan mengantar kebahagiaan mereka.

 

Ya benar, Jimin benar…
Namjoo tak perlu siapapun disisinya kecuali Jimin, karena Jimin adalah segalanya bagi dirinya. Seorang teman sejati akan selalu mengulurkan tangannya ketika melihat dirimu jatuh, Jimin melakukan itu untuk Namjoo. Seorang keluarga akan selalu memberi tempat bagimu ketika kau lelah dan harus beristirahat, Jimin melakukan itu untuk Namjoo. Seorang lelaki sejati tidak akan membiarkanmu menangis ia akan menghapus air matamu dan membuang kesedihanmu, Jimin melakukan itu untuk Namjoo. Seorang cinta sejati akan berkorban apapun demi dirimu asal kau bahagia, Jimin melakukan hal itu untuk Namjoo. Jimin segalanya, dia segalanya. Biasanya orang akan memiliki teman sejati dan cinta sejati yang berbeda, Namun beruntungnya Namjoo karena teman sejatinya adalah cinta sejatinya.
TAMAT

 

13 thoughts on “[ONESHOOT] Meant To Be

  1. MinJoo <3 another shipper from BangtanPink shipper
    sering2 bikin ff ttg mereka ya thor, kalau boleh request bikinin ff yg main cast nya Jungkook sama Hayoung donk. Itu juga favorite shipper aku, thank you :)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s